PENDAHULUAN
Pendidikan Tman Kanak-kanak atau disingkat TK merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang berperan penting untuk mengembangkan kepribadian anak dan mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. TK menjadi pendidikan awal anak pada jalur formal sebelum menempuh tingkat pendidikan selanjutnya yaitu Sekolah Dasar (SD).
Di Indonesia, pendidikan jalur formal identik dengan kebutuhan berbusana seragam. Penggunaan seragam sekolah di Indonesia mulai gencar diterapkan pada masa pendudukan Jepang di tanah air (Budi, 2016). Aturan berseragam sekolah bagi peserta didik telah diatur dalam Permendikbud RI Nomor 45 Tahun 2014 Tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Aturan tersebut di antaranya penggunaan seragam sekolah putih-merah untuk tingkat sekolah dasar, putih-biru untuk tingkat sekolah menengah pertama, dan putihabu untuk tingkat sekolah menengah atas. Meskipun tidak ada aturan baku dari pemerintah mengenai kewajiban berseragam di tingkat pendidikan TK, pada praktiknya, sekolah TK di Indonesia telah menerapkan penggunaan seragam bagi siswanya. Seragam siswa TK di Indonesia memiliki desain yang beragam sesuai dengan ciri khas dan kebijakan setiap sekolah.
Ketiadaan aturan atau rujukan baku mengenai desain busana seragam siswa TK mengakibatkan adanya ketidaksesuaian desain seragam sekolah dengan kebutuhan fisiologis pengguna. Seragam sekolah siswa TK yang termasuk dalam busana anak seharusnya dirancang sesuai dengan karakteristik busana anak. Busana anak memiliki karakteristik khusus dibandingkan jenis busana lainnya (Hasanah, 2010). Hal ini terjadi karena anak memiliki kebutuhan menyesuaikan busana dengan keadaan fisiologisnya yaitu bentuk fisik dan aktivitasnya.
Selain dari sisi pengguna yaitu anak, konsumen seragam sekolah yaitu orang tua siswa dan pihak sekolah juga perlu diperhatikan kebutuhannya. Orang tua siswa yang setiap hari mempersiapkan anak-anak untuk sekolah, membutuhkan desain yang dapat memudahkan mereka memakaikan dan melepaskan seragam. Orang tua siswa memandang faktor penghematan waktu sebagai faktor penting yang harus ada dalam seragam sekolah (Wilken dan Van Aardt, 2012). Bagi pihak sekolah penggunaan seragam harus dapat memberikan tampilan yang akademis dan memberikan rasa aman bagi siswa dari persaingan busana (fashion war) yang kemungkinan dapat muncul dalam kelompok. Oleh karena itu, perlu adanya standar seragam siswa
TK untuk diterapkan di sekolah-sekolah formal sehingga ada satu desain yang dapat mewakili siswa TK secara umum.
Anak usia TK yaitu 4-6 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik yang pesat. Selain itu, aktivitas fisik anak usia tersebut sangat tinggi. Busana dengan desain yang baik akan menunjang aktivitas fisik anak pada saat bermain dan berolahraga. Oleh karena itu, seragam siswa TK harus dirancang dengan baik untuk memberikan kenyamanan saat digunakan seharian oleh anak. Selain mengutamakan kenyamanan, desain seragam sekolah harus dapat menunjukkan identitas sekolah TK.
Berdasarkan faktor tersebut perlu adanya standar desain seragam sekolah siswa TK sehingga dapat menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah TK. Melalui penelitian ini penulis akan mengkaji aspek desain seragam siswa taman kanak-kanak secara deskriptif. Hasil analisis ini kemudian dijadikan standar rujukan perancangan busana seragam untuk siswa TK sesuai dengan karakteristik busana anak yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan konsumen yaitu orang tua dan pihak sekolah.
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan analisis isi. Data didapatkan dari hasil observasi, data kepustakaan, hasil wawancara dan kuisioner, serta temuan untuk menemukan hasil yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Objek penelitian adalah seragam formal siswa TK (bukan seragam olahraga) yang diseleksi berdasarkan jenis sekolah sampel yaitu TK Bunda Ganesa dan TK Kemala Bhayangkari sebagai sekolah TK umum, dan TK Darul Hikam sebagai sekolah TK berbasis keagamaan Islam. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan variasi data karakteristik busana sesuai

Gambar 1 Tahapan Penelitian (Sumber: Olahan Peneliti, 2018)
dengan aktivitas sekolah sekaligus membatasi masalah pada satu jenis seragam yang akan dibuat rekomemdasi desainnya.
Identifikasi objek berupa tampilan visual seragam meliputi model dan warna busana akan dianalisis atribut-atribut desainnya. Atribut-atribut seragam sekolah TK kemudian divisualisasi dengan model kerah, lengan, busana atas, busana bawah (celana dan rok), busana terusan (dress), busana luar, bukaan busana (closure), busana pelengkap, dan warna busana.
Selanjutnya, wawancara dilakukan peneliti untuk mendapatkan data dari ahli PAUD, ahli busana anak, dan orang tua siswa. Wawancara dilakukan terpisah menggunakan pedoman wawancara terstruktur. Selanjutnya peneliti melakukan observasi di sekolah TK yang menjadi sampel untuk mendapatkan data aktivitas siswa ketika mengenakan seragam sekolah. Fokus observasi adalah aktivitas dan atribut desain yang langsung terkait dengan seragam sekolah.
Atribut-atribut desain seragam
sekolah hasil dari proses identifikasi objek dan wawancara divisualisasi dan dinilai melalui kuesioner yang dibagikan kepada 45 orang tua siswa TK sebagai konsumen seragam sekolah. Hasil yang didapatkan ditampilkan dalam bentuk diagram dan tabel. Selanjutnya dilakukan komparasi dengan aktivitas siswa TK berdasarkan kompetensi yang telah dirumuskan untuk mendapatkan pemetaan kebutuhan orang tua siswa sebagai konsumen seragam siswa TK. Hasil analisis berupa rumusan standar-standar seragam sekolah ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan desain busana seragam siswa TK yang sesuai dengan karakteristik busana anak dan aktivitas anak sebagai siswa sekolah TK.
Seragam Sekolah TK dan Busana Anak
Seragam siswa TK di Indonesia memiliki desain yang beragam sesuai dengan ciri khas dan kebijakan setiap sekolah. Dalam seminggu, siswa TK memiliki tiga hingga lima jenis seragam yang digunakan pada hari yang ditentukan sekolah. Pada umumnya
seragam sekolah TK terdiri atas seragam formal, seragam olahraga, seragam batik, dan seragam tematik. Seragam sekolah TK dapat dikategorikan sebagai busana anak dilihat dari usia penggunanya yaitu 4-6 tahun. Busana anak adalah segala sesuatu yang dipakai anak-anak mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Busana anak memiliki karakteristik khusus dibandingkan jenis busana lainnya (Hasanah, 2010). Sebagian besar aktivitas anak adalah bermain dan aktivitas fisik lainnya. Oleh karena itu, busana anak harus memperhatikan kenyamanan dan kepraktisan modelnya. Persyaratan mutlak model busana anak adalah sederhana dan longgar sehingga dapat memberikan keleluasaan anak dalam bergerak.
Selain dari aspek pengguna yaitu anak, seragam sekolah TK perlu diperhatikan dari aspek konsumennya yaitu orang tua siswa dan pihak sekolah. Berdasarkan konsumen, seragam sekolah memiliki fungsi-fungsi yang penting baik untuk siswa maupun untuk konsumen (orang tua siswa dan pihak sekolah). Fungsi seragam sekolah dapat dilihat pada paparan berikut ini.
a. Fungsi Sosial
Seragam akan menghindarkan siswa dari kesenjangan sosial dan dapat menghindarkan siswa dari tindakan bullying karena status sosial yang berbeda. Berdasarkan data survei ketika semua siswa berpakaian sama, persaingan antara siswa dalam hal pilihan berbusana yang lebih murah atau kurang modis dapat berkurang (NAESP, 2013). Mengenakan busana seragam juga dapat memberikan rasa saling memiliki dan rasa diterima secara sosial dalam kelompok (Jacobson, 2006).
b. Fungsi Ekonomi
Selain dapat menghemat biaya pengeluaran busana bebas untuk anak bersekolah (karena adanya
aturan berseragam), aturan wajib berseragam ini berdampak positif kepada orang tua dalam mempersiapkan anak-anak di pagi hari. Berseragam sekolah dapat menciptakan penghematan waktu pagi hari (NAESP, 2013). Oleh karena itu, seragam harus didesain dengan model sederhana agar memenuhi fungsi ini.
c. Tampilan dan Fungsionalitas
Dengan menggunakan seragam, akan tercipta suasana akademis dan memberikan kepantasan pada anak sebagai siswa sekolah. Seragam sekolah juga harus mudah dicuci dan digunakan lagi dalam waktu yang cepat karena digunakan setiap hari. Selain itu seragam sekolah harus mudah digunakan dan dilepaskan oleh anak, misalnya dengan menggunakan closure dengan posisi di depan dan model yang sederhana. Hal ini agar anak dapat belajar mandiri dalam mengenakan dan mengganti busananya.
d. Fungsi Keamanan
Seragam sekolah dapat mencegah kejahatan dan meningkatkan keamanan siswa. Sekolah yang menerapkan kebijakan penggunaan busana seragam akan terhindar dari penyusup sehingga memberikan rasa aman kepada siswa (Gavin, 2011). Akan lebih mudah mengenali seseorang yang bukan bagian dari sekolah ketika anggota sekolah berpakaian sama. Oleh karena itu, desain seragam harus dapat terlihat saat dalam keramaian misalnya menggunakan warna dengan visibilitas yang tinggi.
Warna merah mudah membuat fokus pada mata. Warna orange memiliki sifat berpijar lebih tinggi dibandingkan merah. Oleh karena itu, dbandingkan merah, orange lebih jelas terfokuskan oleh mata dan cocok untuk bidang bersudut dan detail halus. Warna kuning, merupakan warna dengan daya visibilitas paling tinggi dalam spektrum warna. Warna ini sangat tajam dan berkesan berpijar (Birren, 1969). Warna kuning, orange, merah, merupakan beberapa warna utama yang dapat dipilih untuk seragam sekolah siswa TK karena memiliki daya keterlihatan yang tertinggi (high visibility) dalam spektrum warna dibandingkan dengan warna lainnya.
a. Fungsi Perilaku
Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk melatih kedisiplinan anak. Kedisiplinan dimulai dari menaati tata tertib yang berlaku di sekolah seperti tata cara penggunaan busana seragam yang berlaku. Setiap siswa diwajibkan mengikuti aturan berseragam yang telah ditentukan sekolah sehingga siswa dapat diuji kedisiplinannya dalam berbusana. Sekolah yang menerapkan busana seragam kepada siswanya mengalami peningkatan dalam tingkat kehadiran dan kelulusan siswanya (Draa, 2005).
Karakteristik dan Aktivitas Anak
Siswa TK sama halnya dengan anak-anak pada umumnya dengan usia 4 sampai 6 tahun. Karakteristik perkembangan fisik siswa TK ditandai dengan tumbuh kembang fisik baik dari berat dan tinggi badan yang pesat. Dengan tumbuh kembang tersebut, siswa TK memiliki karakteristik penuh semangat, banyak energi (enerjik), dan ingin menggunakannya dalam aktivitas fisik seperti melompat, berlari, dan memanjat. Selanjutnya, siswa TK mengalami perkembangan sosial dan emosional yang khas dari usia 4-6 tahun. Pada tahapan usia TK, siswa terus belajar mengatur emosi dan interaksi sosial
mereka. Mereka dalam tahap kerja keras untuk melawan rasa rendah diri dalam perkembangan sosial dan emosi (Erikson dalam S. Morison, 2012). Oleh karena itu, penggunaan seragam akan sangat bermanfaat untuk menghindarkan anak dari tekanan sosial misalnya kesenjangan sosial karena busana yang dikenakan.
Aktivitas siswa dalam sehari tersebut diatur oleh sekolah dan tersusun dalam jadwal kegiatan siswa. Penyusunan jadwal kegiatan ini merujuk pada Kurikulum 2013 Pendidikan Usia Dini agar siswa dapat mencapai kompetensi-kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Kegiatan pembelajaran TK yang didominasi dengan kegiatan bermain ini, selain melatih kognitif anak juga melibatkan kemampuan motorik kasar dan motorik halus. Berkaitan dengan aktivitas dan seragam sekolah, kompetensi inti keterampilan, dan pengetahuan akan digunakan dalam penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas harian siswa berkaitan dengan penggunaan seragam sekolah. Berdasarkan observasi, peneliti mengelompokkan aktivitas fisik yang sama dan terdapat pada semua kelas. Aktivitas ini merupakan aktivitas yang terkandung dalam kompetensi dasar keterampilan dan pengetahuan serta berpengaruh langsung terhadap seragam sekolah yang dikenakan siswa. Aktivitas siswa TK berdasarkan observasi dibagi menjadi 5 aktivitas utama yaitu:
- a. Aktivitas belajar di kelas
- b. Aktivitas hidup sehat (mencuci tangan, sikat gigi bersama)
- c. Aktivitas makan bersama
- d. Aktivitas bermain
- e. Aktivitas toilet training
Selanjutnya berdasarkan desainnya, seragam sekolah dari 3 (tiga)
sekolah yang menjadi sampel, dapat teridentifikasi kesamaan pola bentuk busana yang digunakan di setiap sekolah yaitu bentuk busana setelan formal, busana gaun terusan, dan busana sporty. Atribut busana dalam seragam sekolah
TK tersebut dibagi menjadi 9 (sembilan) bagian yaitu model kerah, lengan, busana atas, busana bawah (celana dan rok), busana terusan (dress), busana luar, bukaan busana (closure), busana pelengkap, dan warna busana.
TABEL I AKTIVITAS SISWA
| No | Jenis | Foto aktivitas | ||
|---|---|---|---|---|
| aktivitas | TK Bunda Ganesa | TK Kemala Bhayangkari | TK Darul Hikam | |
| a | Belajar di kelas (duduk dengan kursi dan meja serta duduk melantai) | |||
| b | Hidup sehat | |||
| c | Makan | |||
| bersama | ||||
| d | Bermain | |||
| e | Toilet | Kegiatan toilet training ini berhubungan dengan kemudahan | ||
| training | membuka, melepaskan, dan memasang kembali busana bagi anak | |||
| saat buang air. Siswa perempuan dengan bentuk seragam rok dan gaun terusan lebih mudah saat melakukan buang air dibandingkan | ||||
| dengan anak laki-laki dengan bentuk seragam celana. Bentuk | ||||
| celana dengan kancing dan zipper ini pada hasil pengamatan akan | ||||
| membutuhkan bantuan dari guru untuk melepas dan memasangnya | ||||
| lagi, terutama bagi siswa yang belum terampil. | ||||
TABEL II ANALISIS PREFERENSI DESAIN SERAGAM SISWA TK
| no | Atribut busana | Preferensi konsumen | Analisis | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kerah | Kerah kelasi Kerah Middy | • | Dapat diterapkan pada ser agam sekolah TK | |
| Kerah Rebah | • | Detail pita/ dasi (khusus kerah kelasi) yang terlalu panjang bisa menggang gu / terkena air/ terkena makanan | |||
| 2 | Lengan | Lengan licin pendek | • | Lengan bersifat unisex | |
| Lengan button tab | • | Sederhana dan dapat men | |||
| Lengan kemeja panjang | dukung 5 aktivitas utama siswa (Tabel I) | ||||
| 3 | Busana atas | Polo Shirt | • | memberikan kenyamanan dan keleluasaan bergerak | |
| T-shirt | |||||
| Raglan T-shirt Kemeja lengan pendek | • | mendukung 5 aktivitas utama siswa (Tabel I) | |||
| • | memberikan tampilan casual (T-shirt), formal (kemeja), semi formal (polo shirt), dan sederhana untuk seragam sekolah. | ||||
| 4 | Busana bawah | Celana | Celana pendek dan panjang berpinggang elastis | • | pinggang elastis praktis dikenakan dan dilepaskan. |
| • | Ukuran pinggang anak yang tidak standar ukuran nya dapat teratasi dengan penggunaan elastis | ||||
| Rok | Rok pendek | • | siluet A dan rok sebatas | ||
| box pleated, lingkaran, kerut, dan wrap skort | lutut memberikan kelelua saan anak dalam bergerak. | ||||
| • | Wrap skort atau celana rok ini memberikan tampilan feminim sekaligus dapat melindungi bagian paha saat beraktivitas. | ||||
| 6 | Busana gaun teru san (dress) | Dress berlengan dan ber kerah dengan variasi pleats | • model bukaan busana (clo sure) di bagian depan |
| • dapat memudahkan anak saat belajar menggunakan baju sendiri | |||
| 7 | Busana luar | Knitted vest | • memiliki bahan yang tebal namun elastis |
| • dapat memberikan kehan gatan dan berfungsi untuk menahan angin dan udara dingin pada penggunanya. | |||
| • Knitted vest yang praktis dikenakan dan dilepaskan dan fleksibel terhadap uku ran tubuh anak. | |||
| 8 | Busana Peleng kap | topi | • melindungi kepala dan wajah anak dari sengatan matahari dan angin saat beraktivitas di ruangan ter buka seperti saat bermain di playground. |
| 9 | Bukaan busana (closure) | Posisi closure di bagian depan busana | • posisi closure di depan memudahkan konsumen dalam memasangkan dan membuka busana teruta ma saat menyiapkan anak berangkat sekolah di pagi hari. |
| • memudahkan anak untuk belajar menggunakan bu sana secara mandiri atau minimal bantuan dari orang dewasa. | |||
| 10 | Warna | Warna pastel | • dilihat dari tingkat visibili tas nya warna –warna pas tel kurang tepat diterapkan pada seragam sekolah anak. |
| • warna kuning, oranye, dan merah direkomendasikan karena dapat memberikan energi positif dan memiliki visibilitas tinggi. |

Diagram 1 Tingkat Persetujuan Responden terhadap Fungsi Seragam
Berdasarkan gambaran pada tabel I, permasalahan desain seragam sekolah yang berkaitan dengan aktivitas siswa ada pada model kerah, lengan, panjang busana, model busana atas dan bawah, dan jenis bukaan busana (closure). Model busana rok yang dikenakan siswa perempuan menjadi masalah khusus saat melakukan aktivitas bermain, makan bersama, dan aktivitas kelas saat duduk di kursi dan lesehan yaitu bagian paha dapat terlihat (dilingkari merah). Panjang lengan dan model lengan juga menjadi masalah saat melakukan aktvitas makan dan mencuci tangan. Model bukaan busana (closure) menjadi perhatian saat aktivitas toilet training.
Selanjutnya, hasil data kuesioner menunjukkan responden yang merupakan konsumen seragam sekolah TK menyatakan setuju dengan adanya aturan wajib berseragam sekolah di tingkat TK.
Sebanyak 85.33% responden merasakan fungsi sosial dari seragam sekolah yaitu dapat mengatasi kesenjangan sosial dan menghindari persaingan berbusana baik di kalangan orang tua maupun siswa (diagram 1).
Dilihat dari preferensi desain atribut seragam sekolah yang ditampilkan, desain yang paling banyak dipilih oleh responden adalah desain seragam dengan posisi bukaan di bagian depan, berlengan pendek, rok dan celana pendek, serta bentuk kerah dan lengan yang sederhana serta warna pastel. Berikut pada tabel II ini adalah analisis atribut busana dalam desain seragam yang menjadi preferensi konsumen.
Dari hasil analisis desain seragam sekolah berdasarkan aktivitas pengguna dan preferensi konsumen, dapat direkomendasikan desain seragam sekolah TK pada gambar 2 dan gambar 3.

Gambar 2 Ilustrasi Rekomendasi Desain untuk Seragam Siswa TK Laki Laki (Sumber: Olahan Peneliti, 2017)
Gambar 3 Ilustrasi Rekomendasi Desain untuk Seragam Siswa TK Perempuan (Sumber: Olahan Peneliti, 2017)
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik seragam sekolah TK yang ideal dari segi pengguna adalah busana dengan desain yang dapat mendukung aktivitas siswa saat beraktivitas di sekolah. Berdasarkan data observasi, aktivitas siswa TK yang berpengaruh langsung pada busananya adalah aktivitas yang didasari oleh kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Beberapa aktivitas siswa TK tersebut yaitu aktivitas belajar di kelas, aktivitas hidup sehat, aktivitas makan bersama, toilet training, dan aktivitas bermain.
Karakteristik seragam sekolah TK yang ideal dari segi konsumen adalah busana dengan desain yang dapat mengakomodasi kebutuhan konsumen yang dilihat dari berbagai fungsi seragam yaitu fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi keamanan, fungsi perilaku, dan fungsi tampilan dan fungsionalitas. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan, aturan wajib berseragam sekolah bagi siswa
TK dapat terus diterapkan karena mendapatkan respon positif yang dirasakan konsumen dari segi sosial, ekonomi, keamanan, perilaku, dan tampilan dan fungsionalitas, terutama dari segi sosial.
Hasil penelitian ini merupakan rekomendasi dan awalan dari pembuatan standardisasi desain seragam sekolah siswa TK. Penelitian ini masih terbatas pada 2 (dua) aspek tampilan visual pada busana yaitu model busana dan warna. Aspek lainnya seperti aspek material dan tekstur busana belum dikaji secara mendetail dalam penelitian ini. Penelitian lanjutan mengenai aspek tersebut perlu dilakukan sehingga dapat melengkapi dan menyempurnakan pembuatan standar desain seragam sekolah siswa TK. Penelitian ini selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode eksperimental produk dan diujikan pada pengguna sehingga akan didapatkan data dari aspek kenyamanan, ketahanlamaan, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
- Birren, F (1969). Color Psychology and Color Therapy. University Books: New York, 143, 170-173
- Budi,A. (2016). Menilik Sejarah Penggunaan Seragam Sekolah di Indonesia. https://www. goodnewsfromindonesia. id/2016/08/12/menilik-sejarahpenggunaan-seragam-di-indonesia diakses 19 Desember 2017
- Draa, V.A.B. (2005). School Uniforms in Urban Public High School. Disertasi Youngstown State University, Ohio
- Gavin, J.A. (2011) Schools Find Stricter Rules, Uniforms Can Lessen Bullying. http://archive.northjersey. com/news/schools-find-stricterrules-uniforms-can-lessen-bullying-1.209423?page=all , diakses 6 Mei 2017
- Hasanah, U. (2011). Membuat Busana Anak. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya
- Jacobson, A. (2006). Should Students Have to Wear School Uniforms?. https://school-uniforms.procon.org// diakses 19 Desember 2017
- Kemdikbud. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Usia Dini. Jakarta
- Kemdikbud. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no. 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta
- NAESP (2013), National Survey of School Leaders Reveals 2013 School Uniform Trends. https://www.naesp. org/national-survey-school-leadersreveals-2013-school-uniform-trends ,
- diakses 6 Mei 2017
- S. Morrison, G. (2012). Dasar-Dasar Pendidikan Usia Dini Edisi Kelima. PT. Indeks: Jakarta
- Wilken,I. dan Van Aardt,A. (2012) School Uniforms: Tradition, Benefit or Predicament?. Education as Change, vol 16 no 1, 166-167
