1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

STANDARDISASI DESAIN SERAGAM SEKOLAH SISWA TAMAN KANAK-KANAK

Abstract

ABSTRAK Pendidikan formal di Indonesia identik dengan kebutuhan seragam dan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah. Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan awal jalur formal juga telah menerapkan aturan berseragam bagi siswanya meski belum tercantum dalam peraturan pemerintah. Seragam siswa TK yang termasuk dalam kategori busana anak memiliki karakteristik desain khusus agar sesuai dengan fisiologis dan aktivitas anak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik desain seragam sekolah yang ideal dan sesuai dengan aktivitas sehingga dapat menjadi rekomendasi standar seragam siswa TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi. Penelitian ini melihat seragam sekolah dari aspek pengguna dan konsumen untuk mendapatkan rekomendasi desain yang memenuhi kedua aspek tersebut. Observasi dilakukan pada 3 (tiga) sekolah TK di Bandung untuk mendapatkan data aktivitas dari aspek pengguna. Data preferensi dari aspek konsumen (orang tua siswa) diambil menggunakan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa preferensi desain seragam sekolah berdasarkan konsumen sebagian besar dapat memenuhi standar desain untuk seragam sekolah TK dan menyetujui penerapan aturan wajib berseragam sekolah TK.

Keywords

PENDAHULUAN

Pendidikan Tman Kanak-kanak atau disingkat TK merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang berperan penting untuk mengembangkan kepribadian anak dan mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. TK menjadi pendidikan awal anak pada jalur formal sebelum menempuh tingkat pendidikan selanjutnya yaitu Sekolah Dasar (SD).

Di Indonesia, pendidikan jalur formal identik dengan kebutuhan berbusana seragam. Penggunaan seragam sekolah di Indonesia mulai gencar diterapkan pada masa pendudukan Jepang di tanah air (Budi, 2016). Aturan berseragam sekolah bagi peserta didik telah diatur dalam Permendikbud RI Nomor 45 Tahun 2014 Tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Aturan tersebut di antaranya penggunaan seragam sekolah putih-merah untuk tingkat sekolah dasar, putih-biru untuk tingkat sekolah menengah pertama, dan putihabu untuk tingkat sekolah menengah atas. Meskipun tidak ada aturan baku dari pemerintah mengenai kewajiban berseragam di tingkat pendidikan TK, pada praktiknya, sekolah TK di Indonesia telah menerapkan penggunaan seragam bagi siswanya. Seragam siswa TK di Indonesia memiliki desain yang beragam sesuai dengan ciri khas dan kebijakan setiap sekolah.

Ketiadaan aturan atau rujukan baku mengenai desain busana seragam siswa TK mengakibatkan adanya ketidaksesuaian desain seragam sekolah dengan kebutuhan fisiologis pengguna. Seragam sekolah siswa TK yang termasuk dalam busana anak seharusnya dirancang sesuai dengan karakteristik busana anak. Busana anak memiliki karakteristik khusus dibandingkan jenis busana lainnya (Hasanah, 2010). Hal ini terjadi karena anak memiliki kebutuhan menyesuaikan busana dengan keadaan fisiologisnya yaitu bentuk fisik dan aktivitasnya.

Selain dari sisi pengguna yaitu anak, konsumen seragam sekolah yaitu orang tua siswa dan pihak sekolah juga perlu diperhatikan kebutuhannya. Orang tua siswa yang setiap hari mempersiapkan anak-anak untuk sekolah, membutuhkan desain yang dapat memudahkan mereka memakaikan dan melepaskan seragam. Orang tua siswa memandang faktor penghematan waktu sebagai faktor penting yang harus ada dalam seragam sekolah (Wilken dan Van Aardt, 2012). Bagi pihak sekolah penggunaan seragam harus dapat memberikan tampilan yang akademis dan memberikan rasa aman bagi siswa dari persaingan busana (fashion war) yang kemungkinan dapat muncul dalam kelompok. Oleh karena itu, perlu adanya standar seragam siswa

TK untuk diterapkan di sekolah-sekolah formal sehingga ada satu desain yang dapat mewakili siswa TK secara umum.

Anak usia TK yaitu 4-6 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik yang pesat. Selain itu, aktivitas fisik anak usia tersebut sangat tinggi. Busana dengan desain yang baik akan menunjang aktivitas fisik anak pada saat bermain dan berolahraga. Oleh karena itu, seragam siswa TK harus dirancang dengan baik untuk memberikan kenyamanan saat digunakan seharian oleh anak. Selain mengutamakan kenyamanan, desain seragam sekolah harus dapat menunjukkan identitas sekolah TK.

Berdasarkan faktor tersebut perlu adanya standar desain seragam sekolah siswa TK sehingga dapat menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah TK. Melalui penelitian ini penulis akan mengkaji aspek desain seragam siswa taman kanak-kanak secara deskriptif. Hasil analisis ini kemudian dijadikan standar rujukan perancangan busana seragam untuk siswa TK sesuai dengan karakteristik busana anak yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan konsumen yaitu orang tua dan pihak sekolah.

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan analisis isi. Data didapatkan dari hasil observasi, data kepustakaan, hasil wawancara dan kuisioner, serta temuan untuk menemukan hasil yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Objek penelitian adalah seragam formal siswa TK (bukan seragam olahraga) yang diseleksi berdasarkan jenis sekolah sampel yaitu TK Bunda Ganesa dan TK Kemala Bhayangkari sebagai sekolah TK umum, dan TK Darul Hikam sebagai sekolah TK berbasis keagamaan Islam. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan variasi data karakteristik busana sesuai

3

Gambar 1 Tahapan Penelitian (Sumber: Olahan Peneliti, 2018)

dengan aktivitas sekolah sekaligus membatasi masalah pada satu jenis seragam yang akan dibuat rekomemdasi desainnya.

Identifikasi objek berupa tampilan visual seragam meliputi model dan warna busana akan dianalisis atribut-atribut desainnya. Atribut-atribut seragam sekolah TK kemudian divisualisasi dengan model kerah, lengan, busana atas, busana bawah (celana dan rok), busana terusan (dress), busana luar, bukaan busana (closure), busana pelengkap, dan warna busana.

Selanjutnya, wawancara dilakukan peneliti untuk mendapatkan data dari ahli PAUD, ahli busana anak, dan orang tua siswa. Wawancara dilakukan terpisah menggunakan pedoman wawancara terstruktur. Selanjutnya peneliti melakukan observasi di sekolah TK yang menjadi sampel untuk mendapatkan data aktivitas siswa ketika mengenakan seragam sekolah. Fokus observasi adalah aktivitas dan atribut desain yang langsung terkait dengan seragam sekolah.

Atribut-atribut desain seragam

sekolah hasil dari proses identifikasi objek dan wawancara divisualisasi dan dinilai melalui kuesioner yang dibagikan kepada 45 orang tua siswa TK sebagai konsumen seragam sekolah. Hasil yang didapatkan ditampilkan dalam bentuk diagram dan tabel. Selanjutnya dilakukan komparasi dengan aktivitas siswa TK berdasarkan kompetensi yang telah dirumuskan untuk mendapatkan pemetaan kebutuhan orang tua siswa sebagai konsumen seragam siswa TK. Hasil analisis berupa rumusan standar-standar seragam sekolah ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan desain busana seragam siswa TK yang sesuai dengan karakteristik busana anak dan aktivitas anak sebagai siswa sekolah TK.

Seragam Sekolah TK dan Busana Anak

Seragam siswa TK di Indonesia memiliki desain yang beragam sesuai dengan ciri khas dan kebijakan setiap sekolah. Dalam seminggu, siswa TK memiliki tiga hingga lima jenis seragam yang digunakan pada hari yang ditentukan sekolah. Pada umumnya

seragam sekolah TK terdiri atas seragam formal, seragam olahraga, seragam batik, dan seragam tematik. Seragam sekolah TK dapat dikategorikan sebagai busana anak dilihat dari usia penggunanya yaitu 4-6 tahun. Busana anak adalah segala sesuatu yang dipakai anak-anak mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Busana anak memiliki karakteristik khusus dibandingkan jenis busana lainnya (Hasanah, 2010). Sebagian besar aktivitas anak adalah bermain dan aktivitas fisik lainnya. Oleh karena itu, busana anak harus memperhatikan kenyamanan dan kepraktisan modelnya. Persyaratan mutlak model busana anak adalah sederhana dan longgar sehingga dapat memberikan keleluasaan anak dalam bergerak.

Selain dari aspek pengguna yaitu anak, seragam sekolah TK perlu diperhatikan dari aspek konsumennya yaitu orang tua siswa dan pihak sekolah. Berdasarkan konsumen, seragam sekolah memiliki fungsi-fungsi yang penting baik untuk siswa maupun untuk konsumen (orang tua siswa dan pihak sekolah). Fungsi seragam sekolah dapat dilihat pada paparan berikut ini.

a. Fungsi Sosial

Seragam akan menghindarkan siswa dari kesenjangan sosial dan dapat menghindarkan siswa dari tindakan bullying karena status sosial yang berbeda. Berdasarkan data survei ketika semua siswa berpakaian sama, persaingan antara siswa dalam hal pilihan berbusana yang lebih murah atau kurang modis dapat berkurang (NAESP, 2013). Mengenakan busana seragam juga dapat memberikan rasa saling memiliki dan rasa diterima secara sosial dalam kelompok (Jacobson, 2006).

b. Fungsi Ekonomi

Selain dapat menghemat biaya pengeluaran busana bebas untuk anak bersekolah (karena adanya

aturan berseragam), aturan wajib berseragam ini berdampak positif kepada orang tua dalam mempersiapkan anak-anak di pagi hari. Berseragam sekolah dapat menciptakan penghematan waktu pagi hari (NAESP, 2013). Oleh karena itu, seragam harus didesain dengan model sederhana agar memenuhi fungsi ini.

c. Tampilan dan Fungsionalitas

Dengan menggunakan seragam, akan tercipta suasana akademis dan memberikan kepantasan pada anak sebagai siswa sekolah. Seragam sekolah juga harus mudah dicuci dan digunakan lagi dalam waktu yang cepat karena digunakan setiap hari. Selain itu seragam sekolah harus mudah digunakan dan dilepaskan oleh anak, misalnya dengan menggunakan closure dengan posisi di depan dan model yang sederhana. Hal ini agar anak dapat belajar mandiri dalam mengenakan dan mengganti busananya.

d. Fungsi Keamanan

Seragam sekolah dapat mencegah kejahatan dan meningkatkan keamanan siswa. Sekolah yang menerapkan kebijakan penggunaan busana seragam akan terhindar dari penyusup sehingga memberikan rasa aman kepada siswa (Gavin, 2011). Akan lebih mudah mengenali seseorang yang bukan bagian dari sekolah ketika anggota sekolah berpakaian sama. Oleh karena itu, desain seragam harus dapat terlihat saat dalam keramaian misalnya menggunakan warna dengan visibilitas yang tinggi.

Warna merah mudah membuat fokus pada mata. Warna orange memiliki sifat berpijar lebih tinggi dibandingkan merah. Oleh karena itu, dbandingkan merah, orange lebih jelas terfokuskan oleh mata dan cocok untuk bidang bersudut dan detail halus. Warna kuning, merupakan warna dengan daya visibilitas paling tinggi dalam spektrum warna. Warna ini sangat tajam dan berkesan berpijar (Birren, 1969). Warna kuning, orange, merah, merupakan beberapa warna utama yang dapat dipilih untuk seragam sekolah siswa TK karena memiliki daya keterlihatan yang tertinggi (high visibility) dalam spektrum warna dibandingkan dengan warna lainnya.

a. Fungsi Perilaku

Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk melatih kedisiplinan anak. Kedisiplinan dimulai dari menaati tata tertib yang berlaku di sekolah seperti tata cara penggunaan busana seragam yang berlaku. Setiap siswa diwajibkan mengikuti aturan berseragam yang telah ditentukan sekolah sehingga siswa dapat diuji kedisiplinannya dalam berbusana. Sekolah yang menerapkan busana seragam kepada siswanya mengalami peningkatan dalam tingkat kehadiran dan kelulusan siswanya (Draa, 2005).

Karakteristik dan Aktivitas Anak

Siswa TK sama halnya dengan anak-anak pada umumnya dengan usia 4 sampai 6 tahun. Karakteristik perkembangan fisik siswa TK ditandai dengan tumbuh kembang fisik baik dari berat dan tinggi badan yang pesat. Dengan tumbuh kembang tersebut, siswa TK memiliki karakteristik penuh semangat, banyak energi (enerjik), dan ingin menggunakannya dalam aktivitas fisik seperti melompat, berlari, dan memanjat. Selanjutnya, siswa TK mengalami perkembangan sosial dan emosional yang khas dari usia 4-6 tahun. Pada tahapan usia TK, siswa terus belajar mengatur emosi dan interaksi sosial

mereka. Mereka dalam tahap kerja keras untuk melawan rasa rendah diri dalam perkembangan sosial dan emosi (Erikson dalam S. Morison, 2012). Oleh karena itu, penggunaan seragam akan sangat bermanfaat untuk menghindarkan anak dari tekanan sosial misalnya kesenjangan sosial karena busana yang dikenakan.

Aktivitas siswa dalam sehari tersebut diatur oleh sekolah dan tersusun dalam jadwal kegiatan siswa. Penyusunan jadwal kegiatan ini merujuk pada Kurikulum 2013 Pendidikan Usia Dini agar siswa dapat mencapai kompetensi-kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Kegiatan pembelajaran TK yang didominasi dengan kegiatan bermain ini, selain melatih kognitif anak juga melibatkan kemampuan motorik kasar dan motorik halus. Berkaitan dengan aktivitas dan seragam sekolah, kompetensi inti keterampilan, dan pengetahuan akan digunakan dalam penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas harian siswa berkaitan dengan penggunaan seragam sekolah. Berdasarkan observasi, peneliti mengelompokkan aktivitas fisik yang sama dan terdapat pada semua kelas. Aktivitas ini merupakan aktivitas yang terkandung dalam kompetensi dasar keterampilan dan pengetahuan serta berpengaruh langsung terhadap seragam sekolah yang dikenakan siswa. Aktivitas siswa TK berdasarkan observasi dibagi menjadi 5 aktivitas utama yaitu:

  • a. Aktivitas belajar di kelas
  • b. Aktivitas hidup sehat (mencuci tangan, sikat gigi bersama)
  • c. Aktivitas makan bersama
  • d. Aktivitas bermain
  • e. Aktivitas toilet training

Selanjutnya berdasarkan desainnya, seragam sekolah dari 3 (tiga)

sekolah yang menjadi sampel, dapat teridentifikasi kesamaan pola bentuk busana yang digunakan di setiap sekolah yaitu bentuk busana setelan formal, busana gaun terusan, dan busana sporty. Atribut busana dalam seragam sekolah

TK tersebut dibagi menjadi 9 (sembilan) bagian yaitu model kerah, lengan, busana atas, busana bawah (celana dan rok), busana terusan (dress), busana luar, bukaan busana (closure), busana pelengkap, dan warna busana.

TABEL I AKTIVITAS SISWA

NoJenisFoto aktivitas
aktivitasTK Bunda GanesaTK Kemala BhayangkariTK Darul Hikam
aBelajar
di kelas
(duduk
dengan
kursi
dan meja
serta
duduk
melantai)
bHidup
sehat
cMakan
bersama
dBermain
eToiletKegiatan toilet training ini berhubungan dengan kemudahan
trainingmembuka, melepaskan, dan memasang kembali busana bagi anak
saat buang air. Siswa perempuan dengan bentuk seragam rok dan
gaun terusan lebih mudah saat melakukan buang air dibandingkan
dengan anak laki-laki dengan bentuk seragam celana. Bentuk
celana dengan kancing dan zipper ini pada hasil pengamatan akan
membutuhkan bantuan dari guru untuk melepas dan memasangnya
lagi, terutama bagi siswa yang belum terampil.

TABEL II ANALISIS PREFERENSI DESAIN SERAGAM SISWA TK

noAtribut busanaPreferensi konsumenAnalisis
1KerahKerah kelasi
Kerah Middy
Dapat diterapkan pada ser
agam sekolah TK
Kerah RebahDetail pita/ dasi (khusus
kerah kelasi) yang terlalu
panjang
bisa
menggang
gu / terkena air/ terkena
makanan
2LenganLengan licin pendekLengan bersifat unisex
Lengan button tabSederhana dan dapat men
Lengan kemeja panjangdukung 5 aktivitas utama
siswa (Tabel I)
3Busana atasPolo Shirtmemberikan kenyamanan
dan keleluasaan bergerak
T-shirt
Raglan T-shirt
Kemeja lengan pendek
mendukung 5 aktivitas
utama siswa (Tabel I)
memberikan tampilan
casual (T-shirt), formal
(kemeja), semi formal
(polo shirt), dan sederhana
untuk seragam sekolah.
4Busana bawahCelanaCelana
pendek dan
panjang
berpinggang
elastis
pinggang
elastis
praktis
dikenakan dan dilepaskan.
Ukuran
pinggang
anak
yang tidak standar ukuran
nya dapat teratasi dengan
penggunaan elastis
RokRok pendeksiluet A dan rok sebatas
box pleated,
lingkaran,
kerut, dan
wrap skort
lutut memberikan kelelua
saan anak dalam bergerak.
Wrap skort atau celana rok
ini
memberikan
tampilan
feminim
sekaligus
dapat
melindungi
bagian
paha
saat beraktivitas.
6Busana gaun teru
san (dress)
Dress berlengan dan ber
kerah dengan variasi pleats

model bukaan busana (clo
sure) di bagian depan

dapat
memudahkan
anak
saat belajar menggunakan
baju sendiri
7Busana luarKnitted vest
memiliki bahan yang tebal
namun elastis

dapat memberikan kehan
gatan dan berfungsi untuk
menahan angin dan udara
dingin pada penggunanya.

Knitted vest yang praktis
dikenakan dan dilepaskan
dan fleksibel terhadap uku
ran tubuh anak.
8Busana Peleng
kap
topi
melindungi
kepala
dan
wajah anak dari sengatan
matahari
dan
angin
saat
beraktivitas di ruangan ter
buka seperti saat bermain di
playground.
9Bukaan busana
(closure)
Posisi closure di bagian
depan busana

posisi
closure
di
depan
memudahkan
konsumen
dalam memasangkan dan
membuka
busana
teruta
ma saat menyiapkan anak
berangkat sekolah di pagi
hari.

memudahkan
anak
untuk
belajar menggunakan bu
sana secara mandiri atau
minimal bantuan dari orang
dewasa.
10WarnaWarna pastel
dilihat dari tingkat visibili
tas nya warna –warna pas
tel kurang tepat diterapkan
pada seragam sekolah anak.

warna kuning, oranye, dan
merah
direkomendasikan
karena dapat memberikan
energi positif dan memiliki
visibilitas tinggi.
3

Diagram 1 Tingkat Persetujuan Responden terhadap Fungsi Seragam

Berdasarkan gambaran pada tabel I, permasalahan desain seragam sekolah yang berkaitan dengan aktivitas siswa ada pada model kerah, lengan, panjang busana, model busana atas dan bawah, dan jenis bukaan busana (closure). Model busana rok yang dikenakan siswa perempuan menjadi masalah khusus saat melakukan aktivitas bermain, makan bersama, dan aktivitas kelas saat duduk di kursi dan lesehan yaitu bagian paha dapat terlihat (dilingkari merah). Panjang lengan dan model lengan juga menjadi masalah saat melakukan aktvitas makan dan mencuci tangan. Model bukaan busana (closure) menjadi perhatian saat aktivitas toilet training.

Selanjutnya, hasil data kuesioner menunjukkan responden yang merupakan konsumen seragam sekolah TK menyatakan setuju dengan adanya aturan wajib berseragam sekolah di tingkat TK.

Sebanyak 85.33% responden merasakan fungsi sosial dari seragam sekolah yaitu dapat mengatasi kesenjangan sosial dan menghindari persaingan berbusana baik di kalangan orang tua maupun siswa (diagram 1).

Dilihat dari preferensi desain atribut seragam sekolah yang ditampilkan, desain yang paling banyak dipilih oleh responden adalah desain seragam dengan posisi bukaan di bagian depan, berlengan pendek, rok dan celana pendek, serta bentuk kerah dan lengan yang sederhana serta warna pastel. Berikut pada tabel II ini adalah analisis atribut busana dalam desain seragam yang menjadi preferensi konsumen.

Dari hasil analisis desain seragam sekolah berdasarkan aktivitas pengguna dan preferensi konsumen, dapat direkomendasikan desain seragam sekolah TK pada gambar 2 dan gambar 3.

10

Gambar 2 Ilustrasi Rekomendasi Desain untuk Seragam Siswa TK Laki Laki (Sumber: Olahan Peneliti, 2017)

Gambar 3 Ilustrasi Rekomendasi Desain untuk Seragam Siswa TK Perempuan (Sumber: Olahan Peneliti, 2017)

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik seragam sekolah TK yang ideal dari segi pengguna adalah busana dengan desain yang dapat mendukung aktivitas siswa saat beraktivitas di sekolah. Berdasarkan data observasi, aktivitas siswa TK yang berpengaruh langsung pada busananya adalah aktivitas yang didasari oleh kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Beberapa aktivitas siswa TK tersebut yaitu aktivitas belajar di kelas, aktivitas hidup sehat, aktivitas makan bersama, toilet training, dan aktivitas bermain.

Karakteristik seragam sekolah TK yang ideal dari segi konsumen adalah busana dengan desain yang dapat mengakomodasi kebutuhan konsumen yang dilihat dari berbagai fungsi seragam yaitu fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi keamanan, fungsi perilaku, dan fungsi tampilan dan fungsionalitas. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan, aturan wajib berseragam sekolah bagi siswa

TK dapat terus diterapkan karena mendapatkan respon positif yang dirasakan konsumen dari segi sosial, ekonomi, keamanan, perilaku, dan tampilan dan fungsionalitas, terutama dari segi sosial.

Hasil penelitian ini merupakan rekomendasi dan awalan dari pembuatan standardisasi desain seragam sekolah siswa TK. Penelitian ini masih terbatas pada 2 (dua) aspek tampilan visual pada busana yaitu model busana dan warna. Aspek lainnya seperti aspek material dan tekstur busana belum dikaji secara mendetail dalam penelitian ini. Penelitian lanjutan mengenai aspek tersebut perlu dilakukan sehingga dapat melengkapi dan menyempurnakan pembuatan standar desain seragam sekolah siswa TK. Penelitian ini selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode eksperimental produk dan diujikan pada pengguna sehingga akan didapatkan data dari aspek kenyamanan, ketahanlamaan, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Birren, F (1969). Color Psychology and Color Therapy. University Books: New York, 143, 170-173
  • Budi,A. (2016). Menilik Sejarah Penggunaan Seragam Sekolah di Indonesia. https://www. goodnewsfromindonesia. id/2016/08/12/menilik-sejarahpenggunaan-seragam-di-indonesia diakses 19 Desember 2017
  • Draa, V.A.B. (2005). School Uniforms in Urban Public High School. Disertasi Youngstown State University, Ohio
  • Gavin, J.A. (2011) Schools Find Stricter Rules, Uniforms Can Lessen Bullying. http://archive.northjersey. com/news/schools-find-stricterrules-uniforms-can-lessen-bullying-1.209423?page=all , diakses 6 Mei 2017
  • Hasanah, U. (2011). Membuat Busana Anak. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya
  • Jacobson, A. (2006). Should Students Have to Wear School Uniforms?. https://school-uniforms.procon.org// diakses 19 Desember 2017
  • Kemdikbud. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Usia Dini. Jakarta
  • Kemdikbud. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no. 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta
  • NAESP (2013), National Survey of School Leaders Reveals 2013 School Uniform Trends. https://www.naesp. org/national-survey-school-leadersreveals-2013-school-uniform-trends ,
  • diakses 6 Mei 2017
  • S. Morrison, G. (2012). Dasar-Dasar Pendidikan Usia Dini Edisi Kelima. PT. Indeks: Jakarta
  • Wilken,I. dan Van Aardt,A. (2012) School Uniforms: Tradition, Benefit or Predicament?. Education as Change, vol 16 no 1, 166-167

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
2th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.71
level 1
Psychology 0.37
level 0
Art 0.25
level 0

Institution Network