1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

WACANA KESANTUNAN BAHASA SUNDA PADA MEDIA VISUAL DI WILAYAH PENGEMBANGAN GEOPARK PANGANDARAN:Kajian Sosiopragmatik

Abstract

Penelitian ini mengungkapkan strategi kesantunan berbahasa dalam mengungkapkan tuturan ajakan, imbauan dan permohonan melalui figure ilustrasi gambar yang mengungkapkan masing-masing tuturan tersebut. Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji wacana kesantunan berbahasa Sunda sebagai produk budaya daerah Jawa Barat melalui media visual papan imbauan, sekaligus sebagai sarana menjaga keasrian alam wilayah pengembangan Geopark kabupaten Pangandaran. Metode penelitian yang digunakan berdaasar pada analisis deskriptif dan observasi di lapangan dengan sumber data lokasi dan kondisi di Pangandaran. Teori yang digunakan adalah sosiopragmatik untuk mengkaji unsur sosial berkaitan dengan masyarakat, dan pragmatik untuk mengkaji implikatur tuturan tersebut.Hasil penelitian sementara mengungkapkan belum adanya media visual yang dilengkapi dengan kesantunan berbahasa Sunda dan Indonesia yang diperlukan sebagai sarana mengajak, menghimbau, dan memohon kepada pengunjung agar mengikuti apa yang telah dituturkan dalam media visual tersebut.

Keywords

PENDAHULUAN

Strategi kesantunan berbahasa dalam berbagai wacana, dewasa ini mulai sering digunakan yang mengarah pada etika berbahasa dalam masyarakat umum. Hal ini disadari sebagai bagian dari pendewasaan masyarakat yang mulai bergeser menjadi masyarakat yang santun, yang menghargai aturan-aturan bukan dengan keterpaksaan. Budaya dan filosofis Sunda perlu dijunjung sebagai upaya menumbuhkan kembali wacanawacana kesantunan Sunda sebagai

pedoman hidup masyarakat Jawa Barat yang sejak dahulu selalu ditanamkan dan mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehingga kesantunan wacana ini dapat dimplementasikan pada beragam bentuk salah satunya adalah budaya bertutur masyarakat Sunda dalam bentuk tuturan ajakan, imbauan, dan permohonan di papan media visual yang akan diletakkan di daerah wilayah pengembangan Geopark Pangandaran. Tuturan ini akan ditulis dalam bahasa Sunda dilengkapi terjemahannya dalam

bahasa Indonesia.

Pemasangan papan tersebut sekaligus juga sebagai media untuk melestarikan dan memasyarakatkan kembali bahasa Sunda yang mulai jarang digunakan oleh kalangan muda. Selain itu, memperkenalkan bahasa sunda sebagai bahasa daerah kepada pengunjung domestik dan mancanegara yang berkunjung ke wilayah pengembangan Geopark Pangandaran. Penelitian ini pun ingin mengungkapkan budaya dan filosofis Sunda yang perlu dijunjung sebagai upaya menumbuhkan kembali wacana-wacana kesantunan Sunda sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa Barat yang sejak dahulu selalu ditanamkan dan mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

Beragam strategi digunakan untuk menarik hati pembaca agar mengikuti apa yang dituturkan dalam media visual baik itu sebuah papan imbauan, ajakan maupun permohonan, seperti terlihat pada data di bawah ini;

(1) Hayu babarengan ngajaga kebersihan Cikapundung. 'Mari bersama-sama menjaga kebersihan

Pada gambar (1) terdapat tuturan permohonan ajakan dalam bahasa Sunda "hayu babarengan ngajaga". Sebetulnya tuturan tersebut merupakan implikatur, (Nadar, 2009) dari tuturan imperatif, yaitu jagalah kebersihan sungai Cikapundung, tetapi tuturan imperatif tersebut lesap dan yang tampak adalah tuturan ajakan yang mencerminkan bentuk budaya masyarakat Sunda yang saling bergotongroyong menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka. Hal ini akan terasa bagi pembaca yang melihatnya menjadi lebih nyaman dan santun karena penggunaan bahasa Sunda tersebut ditujukan bagi masyarakat umum tidak terbatas usia, status sosial, dan jender, sehingga menggunakan bahasa hormat keur ka batur atau bahasa hormat untuk

(Gambar1 Cikapundung. Sumber: Editbuku.wordpress.com 2016)

(Gambar 2 Pusat Studi Bahasa Jepang. Sumber: RLA, 2017)

orang lain (Yudibrata, 1989).5S no kunrenshimashou; seiri, seiton, seisou, seiketsu, shitsuke.

'Mari kita terapkan Kawasan 5 R, Ringkas, rapi, resik, rawat, rajin'

Data (2) mengungkapkan penggunaan tuturan ajakan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia karena sesuai dengan lokasi dan kondisi yang diinginkan adalah mengikuti ajakan untuk merawat taman yang berada di kawasan tersebut, dengan ringkas, yang bermakna selalu dipangkas rumputnya, tidak acak-acakan dan bersih dari sampah, serta rajin dalam merawat taman tersebut. Tuturan ajakan ini ditujukan bagi mahasiswa-mahasiswi yang datang dan lalu lalang di sekitar taman tersebut, serta mereka pengguna sarana tersebut sehingga kesantunan berbahasa yang sopan sangat diperhatikan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan media visual sebagai media komunikatif merupakan salah satu cara efektif dalam implementasi imbauan dan ajakan. Oleh karenanya, penelitian ini pun menggunakan media visual sebagai media persuasif dalam mengenalkan wacana kesantunan berbahasa Sunda kepada masyarakat yang berkunjung ke tempat wisata Geopark Pangandaran.

TUJUAN DAN METODE

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji wacana kesantunan bahasa Sunda pada media visual di wilayah pengembangan Geopark Pangandaran melalui tuturan ajakan, imbauan dan permohonan sekaligus memotivasi dan menumbuhkembangkan kembali bentukbentuk pelestarian budaya Sunda dalam bentuk wacana kesantunan bahasa Sunda terhadap generasi muda di wilayah Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Pangandaran.

Metode dan teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

  • 1) Langkah pertama yang dilakukan adalah survey guna pencarian data di wilayah Pangandaran melalui observasi dengan teknik sadap rekam foto.
    • Lokasi atau tempat tujuan pemasangan papan ditentukan berdasarkan hasil survey.
  • 2) Setelah mendapatkan data foto, langkah berikutnya adalah pencarian data tertulis melalui kuisioner dengan responden masyarakat Pangandaran. Tuturan pada data responden beragam, terdiri atas tuturan formal dan informal/akrab yang santun.
  • 3) Data tuturan yang didapatkan selanjutnya dikaji berdasarkan masukan dari pakar bahasa Sunda.

(Gambar 4 Understanding Comics, (McCloud, 1993)

  • 4) Data foto yang didapatkan diolah dengan menggunakan gaya visual karena audiens yang datang umumnya adalah turis dari luar daerah, sehingga perlu diberikan informasi yang ringkas terkait dengan aturan-aturan berwisata di Pantai Pangandaran. Perancangan Papan Imbauan ini menggunakan pendekatan visual dengan gaya animasi atau kartun. Gaya visual ini mempertimbangkan hubungan antara aspek komunikasi dengan audiens yang datang ke pantai Pangandaran. Menurut (McCloud, 1993), penggayaaan visual dibagi ke dalam beberapa wilayah dari realis sampai kartun sbb; Gaya kartun ada di kisaran jutaan. Dalam penggayaan realis, pemirsa cenderung lebih memperhatikan keindahan dan teknik pengerjaan berdasarkan keterampilan tinggi dibanding dengan pesan yang ingin disampaikan. Semakin kartun gaya visualnya, maka pemirsa diharapkan lebih fokus pada pesan yang ingin disampaikan. Hal ini dikarenakan gaya kartun mempunyai pendekatan visual dan pengerjaan teknik yang lebih sederhana dibanding realis, sehingga pemirsa tidak terlalu berpikir soal teknik pengerjaan ilustrasi tersebut.
  • 5) Dalam proses pengerjaan, ilustrasi dikerjakan secara digital menggunakan aplikasi berbasiskan gambar. Proses ini dipilih untuk pertimbangan kemudahan proses pengerjaan ilustrasi, dari mencari suasana ilustrasi yang cocok hingga revisi terkait pesan. Selain itu juga, proses pengerjaan digital memudahkan ilustrasi untuk dicetak ke dalam media-media lain, dalam hal ini papan imbauan.
  • 6) Pemasangan papan imbauan dan ajakan berdasarkan pada tuturan yang terdapat di dalam papan

tersebut disesuaikan dengan lokasi yang dituju.

Penerapan wacana kesantunan bahasa Sunda pada media visual melalui animasi.

Wacana menurut (Brown, 1995) menyelidiki pemakaian bahasa dalam konteks oleh penutur/penulis, dan lebih memperhatikan hubungan antara penutur dan ujarannya, pada kesempatan pemakaian yang tertentu, dan bukan relasi potensial antara satu kalimat dengan kalimat lainnya tanpa memandang pemakaiannya. Dengan kata lain, wacana mendeskripsikan apa yang dilakukan para penutur dan pendengar, dengan menggunakan referensi, implikatur, praanggapan dan inferensi. Menurut (Hashiuchi, 1999) wacana adalah danwa atau disukoosu, atau dapat pula disebut (1) Satuan bahasa yang lebih besar dari kalimat; (2) Penggunaan bahasa (gengou shiyou); (3) Tuturan (hatsuwa) dan (4) Teks (tekisuto). Danwa atau wacana percakapan-percakapan yang terdapat dalam data memiliki maksimmaksim yang mematuhi dan yang melanggar prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan, (Nadar, 2009). Prinsipprinsip tersebut mengindikasikan adanya tuturan yang mengurangi – mengurangi sedikit – mengurangi lebih banyak beban yang ditanggung petutur atau pembaca. Dengan semakin berkurangnya beban petutur dapat dianggap semakin terlihat politeness percakapan tersebut (Takiura, 2012) dan (Pon, 2004) .

Wacana kesantunan berbahasa Sunda yang dapat diterapkan di wilayah pengembangan geopark Pangandaran dapat dilihat pada ilustrasi data di bawah ini. Hal ini perlu dilakukan, mengingat Pangandaran adalah destinasi wisata handal bagi pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam beberapa lokasi sangat diperlukan pemasangan media visual tersebut, seperti berikut.

Membuang sampah pada tempatnya

(1) Hayu urang ciptakeun kaberesihan pantai. ameh urang sehat jeung betah 'yuk, kita buat pantai jadi bersih, biar kita sehat dan betah'

Pada data (2) merekam foto pantai Pananjung di beberapa tempat terdapat sampah menggunduk maka di lokasi ini diperlukan pemasangan media visual dalam bentuk animasi. Tuturan ajakan dalam bahasa Sunda ini berupa tuturan informal yang mengedepankan keakraban dalam pemilihan diksi "Hayu urang ciptakeun kaberesihan pantai. ameh urang sehat jeung betah" 'yuk, kita buat pantai jadi bersih, biar kita sehat dan betah', yang mengindikasikan

bahwa penutur yang berusia masih muda berusaha mengajak kepada pembaca agar menjaga kebersihan. Melalui tuturan ajakan ini yang berimplikatur "jagalah kebersihan", atau "buanglah sampah pada tempatnya", yang jika dituturkan langsung tentunya akan membebani pembaca dengan bentuk imperatif. Namun, jika dituturkan dengan tuturan ajakan, kemungkinan pembaca akan merasa lebih nyaman. Apalagi disertai dengan adanya saran bagi kesehatan tubuh. Hal ini terkait pada skalaskala pragmatik (Nadar, 2009), yaitu kesantunan yang memiliki derajat paling tinggi adalah tuturan tidak langsung yang mencerminkan budaya masyarakat dalam berkomunikasi secara sosial. Bahasa Sunda yang digunakan masih dalam ranah bahasa hormat standar yang komunikatif.

(Gambar 3 Pantai Pananjung. Sumber: RLA 2017) (Gambar 4 illustrator: Patra Aditia, 2017)

(Gambar 4 illustrator: Patra Aditia, 2017)

Tidak memberi makan satwa

(2) Teu kinten saena upami urang teu saraosna masihan parab ka sasatoan di dieu. 'Alangkah baiknya kalau kita tidak seenaknya memberi makan kepada satwa di sini.'

Makna dari tuturan "Teu kinten saena upami urang teu saraosna masihan parab ka sasatoan di dieu" 'Alangkah baiknya kalau kita tidak seenaknya memberi makan kepada satwa di sini', merupakan salah satu gaya metafora dari penutur dengan bentuk kesantunan yang lebih formal yang ditujukan kepada pembaca dengan tingkat usia dewasa. Implikatur dari tuturan ini tentunya adalah jangan memberi makan kepada satwa secara sembarangan.

Teknik sadap rekam foto serta gaya visual yang dilakukan pada data (3) adalah sama dengan data (2) namun lokasi berbeda sesuai dengan tujuan pada data (3), yaitu tidak memberi makan satwa secara sembarangan di cagar alam. Di lokasi ini banyak monyet dan rusa sehingga sesuai jika papan imbauan di letakkan di sini karena monyet-monyet tersebut berani mendekati pengunjung yang membawa tas yang berisi makanan. Hal ini disebabkan pengunjung sering memberi makanan para monyet dan rusa yang ada di situ sehingga mereka terbiasa dengan makanan di luar kodrat mereka. Hal ini yang memicu para binatang tersebut sakit atau berusaha mencari makanan di luar area cagar tersebut yang sebetulnya sudah tersedia dalam alam mereka, yaitu di cagar alam tersebut. Tuturan imbauan yang digunakan mencerminkan retorika persuasif (Halliday, 1985) sebagai upaya

agar pengunjung melakukan imbauan tersebut.

Fungsi gambar 8 atau figur yang terdapat pada papan imbauan tersebut turut berkontribusi menarik perhatian pengunjung, daripada hanya sebatas tulisan seperti yang terdapat pada Gambar 8, karena dengan gambar mudah dipahami apa yang tersirat dalam tuturan tersebut.

Tidak merusak pohon

(3) Tatangkalan oge boga rarasaan, tangtu teu ngeunah lamun awakna dinyenyeri 'Pohon pun punya perasaan, ga enak loh kalo badannya disakiti'

Gaya bahasa pada data (4), Tatangkalan oge boga rarasaan, tangtu teu ngeunah lamun awakna dinyenyeri merupakan gaya bahasa ironi, dengan menggunakan metafora benda (pohon) yang seakan-akan memiliki perasaan seperti manusia, dinyenyeri 'disakiti'. Tuturan ini berupa tuturan informal terlihat dari penggunaan diksi boga 'memiliki', teu ngeunah 'tidak enak', dan awakna 'badannya', yang masih mencerminkan keakraban.

Di lokasi ini diperlukan imbauan tersebut karena banyak pohon yang perlu dijaga kelestariannya untuk menjaga abrasi air laut yang dekat dengan lokasi cagar alam. Seperti data (4) terlihat sebuah pengumuman yang dipaku ke pohon, hal ini tentunya berpengaruh terhadap kehidupan pohon tersebut, yang kemungkinan akan mati apabila dipaku terus- menerus di samping memberikan contoh yang tidak baik. Melalui tuturan permohonan tersamar sebagai implikatur 'jangan merusak pohon', serta penggunaan gaya bahasa metafora diharapkan para pengunjung atau pembaca akan tersentuh.

(Gambar 5 hasil pemasangan data (2) Sumber foto: RLA 2017)

(Gambar 6 Cagar Alam. Sumber: RLA 2017)

(Gambar 7 illustrator: Patra Aditia, 2017)

(Gambar 8 Hasil Pemasangan data (3)

(Gambar 9 Cagar Alam. Sumber: RLA 2017)

(Gambar 10 illustrator: Patra Aditia, 2017)

(Gambar 11 Hasil pemasangan data 4)

SIMPULAN

Penelitian ini membahas mengenai wacana kesantunan berbahasa Sunda sebagai produk budaya daerah Jawa Barat melalui media visual papan imbauan sekaligus sebagai sarana menjaga keasrian alam wilayah Geopark Kabupaten Pangandaran. Simpulan yang didapatkan yaitu pengenalan tuturan bahasa Sunda yang digunakan pada papan imbauan ini dapat berupa tuturan formal dan informal dalam wacana kesantunan. Hal ini ditandai dengan penggunaan diksi ajakan dan imbauan dengan modus retorika persuasif. Pembaca papan imbauan tersebut terdiri dari beragam lapisan masyarakat yaitu wisatawan yang datang ke Cagar Alam dan Pantai Pananjung Pangandaran.

Media visual dalam penelitian ini digunakan sebagai strategi pengenalan penggunaan bahasa Sunda yang baik yang mencerminkan budaya masyarakat Jawa Barat. Selain itu pun, melalui media visual pembaca akan lebih tertarik dengan imbauan tersebut dan dapat menerapkannya. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pelestarian bahasa Sunda dan penanaman kebersihan serta

cinta pada alam.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
3th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Management 0.35
level 1
Sociology 0.34
level 0

Institution Network

References

  1. Halliday , M.A.K., 1985 - Language, Contact, And Text: Aspect of Language in Social Semiotic Perspective, Deakin University
  2. Hashiuchi, Takeshi. 1999. Deisukoosu: Danwa no Orinasu Sekai. Tokyo: Kuroshio.
  3. Yudibrata, Karna1989, Bagbagan Makena Basa Sunda. Bandung: Rahmat Cijulang
  4. Lyons, Jhon. 1977. Semantics 2. Cambridge: Cambridge University Press.
  5. Nadar, FX. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  6. Pon, Fei , 2004. Nihongo no Hairyo Hyougen ni kansuru Kenkyuu - Chuugoku to no Hikaku ni Okeru Shomondai, , Tokyo: Wazumi Shoin.
  7. Sunakawa, Yuriko. 2005. Bunpou to Danwa no Setten. Tokyo: Kuroshio Shuppan.
  8. Takiura, Masato 2012 Poraitonesu Nyuumon . Tokyo: Kenkyuusha
  9. Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angkasa.
  10. Yule, George dan Gillian Brown. 1995. Discourse Analysis. Cambridge University Press.