1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2020) Issue 1
  4. Articles

DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA GAGRAK SURAKARTA DALAM PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SECARA MATEMATIS

Abstract

Rumah sakit merupakan kawasan kompleks yang sering terjadi kepanikan. Sebagai rujukan nasional, RSUP Dr. Hasan Sadikin belum memiliki signage yang dapat mengurangi kepanikan terutama dalam mencari ruangan, sebab informasi yang ditampilkan terlalu banyak dan belum memiliki kesatuan satu sama lain sehingga belum efektif. Untuk menambah efektivitas dalam mencari ruangan, fitur navigasi ditambah pada aplikasi RSHS Mobile yang telah dimiliki RSUP Dr. Hasan Sadikin. Tulisan ini merupakan suatu kasus studi. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, kuesioner dan wawancara. Adapun analisis data dengan menggunakan matriks perbandingan, analisis konten serta tabulasi silang untuk hasil kuesioner. Perancangan signage dan tampilan antarmuka fitur navigasi dibuat dengan menggunakan kalimat yang padat, jelas dan ditambah piktogram. Konsep perancangan mengambil tema sederhana, bersih, dan mengacu pada identitas visual logo yang dimiliki RSUP Dr. Hasan Sadikin berupa transformasi bentuk plus/ tambah. Diharapkan perancangan ini dapat memudahkan pengunjung untuk lebih cepat menemukan ruangan di RSUP Dr. Hasan Sadikin dengan bantuan signage yang terintegrasi dengan fitur navigasi pada aplikasi smartphone yang informatif, efektif dan menarik.Kata Kunci: aplikasi, navigasi, petunjuk arah, rumah sakit, signage

Keywords

Keywords: Arjuna, shadow play, differentiation, wanda

PENDAHULUAN

Beberapa tokoh utama dalam wayang kulit memiliki beberapa bentuk ekspresi yang disebut dengan wanda yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan lakon dalam pertunjukan wayang kulit. Penciptaan wanda tokoh banyak muncul dalam wayang kulit gagrak Surakarta, terutama pada tokoh Pandawa. Suwarno mencatat dalam temuannya

bahwa Pandawa memiliki 107 wanda dengan 34 buah wanda di antaranya adalah wanda Arjuna (2015: 15). Penciptaan wanda Arjuna lebih sedikit daripada wanda Bima (37 buah wanda), namun terdapat konsensus yang ketat dalam menciptakan wanda Arjuna agar tidak mengubah atau menambah terlalu banyak elemen pada wanda Arjuna (Wiratama, wawancara pribadi, 15

Maret 2018). Elemen-elemen di luar tubuh Arjuna berjumlah sangat minimal jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Arjuna hanya mengenakan sumping, anting-anting, kain, manggar, cincin, dan kalung sederhana berupa keratan yang tidak disungging, tanpa mengenakan kelat bahu, gelang, mahkota, atau gelang kaki seperti tokoh-tokoh wayang lain. Kesederhanaan ini membatasi penciptaan wanda-wanda Arjuna namun pada kenyataannya Arjuna memiliki banyak wanda (Wiratama, wawancara pribadi, 15 Maret 2018).

Penciptaan Arjuna menekankan pada bentuk dan posisi elemen-elemen tubuh, dengan perbedaan satu atau dua millimeter saja dapat memunculkan ekspresi yang berbeda pada tokoh Arjuna. Pengenalan antara satu wanda dengan wanda lain tidak mudah dilakukan, kecuali oleh mereka yang memahami dengan baik jenis wanda-wanda Arjuna yang ada. Pada observasi awal yang telah dilakukan, diketahui bahwa cara yang dianggap terbaik oleh informan untuk membedakan antarwanda adalah dengan mengenali bentuk dan menggunakan rasa. Penelitian yang disampaikan pada artikel ini melangkah lebih jauh dari sekedar rasa dengan mengukur dan menghitung secara matematis untuk mencari diferensiasi antarwanda dan membaca pola dari diferensiasi tersebut. Langkah ini dilakukan agar identifikasi elemen-elemen pada setiap wanda dapat dibedakan dengan penjelasan yang lebih terukur daripada sekedar rasa.

Wanda yang dipilih untuk menjadi fokus penelitian berjumlah tiga wanda yang dianggap penting dalam perkembangan dan pertunjukan wayang kulit yaitu wanda Kedhu, Kinanthi, dan Muntap. Pemilihan wanda ini didasarkan atas hasil konsultasi dengan Bambang Suwarno (seorang dalang, ahli wanda, dan peneliti dalam bidang wanda) yang menyebut bahwa tiga wanda tersebut merupakan wanda yang paling penting dalam pertunjukan wayang kulit dan memiliki karakteristik bentuk yang berbeda (Suwarno, wawancara pribadi pada tanggal 17 Maret 2018). Alasan lain wanda Kedhu dipilih karena merupakan wanda tertua yang menjadi induk wanda-wanda selanjutnya, sementara pemilihan wanda Kinanthi didasarkan atas popularitasnya, dan wanda Muntap sebagai wanda paling baru. Sebagai wanda yang paling awal diciptakan, wanda Kedhu digunakan sebagai patokan dalam mencari diferensiasi antara wanda Kinanthi dan Muntap. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan sepuluh garis bantu aspek seni rupa wayang (Haryoguritno, 1996) dan saran-saran pengukuran yang disampaikan oleh Bambang Suwarno pada wawancara pribadi tanggal 15 November 2018. Keduanya menjadi pijakan awal dalam pengembangan teknik pengukuran dan penghitungan elemen-elemen tubuh Arjuna.

METODE

Tahap awal penelitian ini dilakukan dengan cara pendokumentasian wanda-wanda Arjuna yang menjadi obyek penelitian, yaitu wanda Kedhu, Kinanthi, dan Muntap. Objek yang telah didokumentasikan dalam bentuk foto kemudian diubah dalam bentuk vektor untuk memudahkan dalam

pencarian diferensiasi bentuk dan posisi wanda-wanda Arjuna. Pengukuran dan penghitungan yang dilakukan pada penelitian ini dikembangkan dari sepuluh garis bantu aspek seni rupa wayang oleh Haryoguritno. Beberapa penyesuaian dilakukan untuk menambah komprehensivitas pengukuran, yang didasarkan pada saran-saran pengukuran yang disampaikan oleh Bambang Suwarno pada wawancara pribadi tanggal 18 November 2018.

Haryoguritno (1996) menarik sepuluh garis bantu yang ditarik dari arah posisi kepala (A), leher (B), pundak (C), dada (D), pinggul depan (E), paha depan (F), kaki depan (G), pinggul belakang (H), kaki belakang (I), dan telapak kaki belakang (J). Sepuluh garis ini dapat dilihat pada Gambar 1, namun tidak seluruh garis

digunakan untuk pengukuran dan penghitungan difrensiasi antarwanda. Beberapa garis yang tidak digunakan adalah garis pinggul depan (E), paha depan (F), dan pinggul belakang (H) karena wayang Arjuna mengenakan kain yang menutupi bagian paha. Dengan demikian, garis-garis ini tidak dapat didefinisikan. Bagian dada yang diwakili dengan garis D diukur lebih detail melalui garis-garis yang ditarik pada dada bagian depan dan punggung. Garis leher (B) diukur tidap pada as (bagian tengah), namun bagian belakang leher. Garis kaki depan (G) dan kaki belakang (I) dilanjutkan untuk mencari titik potong antara keduanya. Pengukuran dilakukan dengan menghitung jumlah garis grid di bagian belakang gambar, dengan setiap kotak grid memiliki nilai 1x.

Gambar 1 Sepuluh Garis Bantu pada Arjuna Wanda Kedhu (kiri), Kinanthi (tengah), Muntap (kanan)

Strukturalisme dan Diferensiasi pada Wanda-wanda Arjuna

Wayang kulit Arjuna dibentuk dari elemen-elemen yang tidak berdiri sendiri, namun terkait satu sama lain dan membentuk sebuah struktur. Jadi, hai ini dapat dipahami dengan strukturalisme. Piliang mengatakan bahwa strukturalisme merupakan cara untuk memahami

korelasi antara elemen-elemen sebuah entitas dengan unsur-unsur relasi lain secara keseluruhan (2018, 33). Hubungan antarrelasi tersebut perlu dipahami untuk membaca diferensiasi antara ketiga wanda. Saussure mengusulkan adanya dua macam struktur, yaitu paradigmatik dan sitagmatik (2013, 356-351), yang juga terlihat pada elemen-elemen pada setiap wanda Arjuna wayang kulit. Pada wayang kulit Arjuna struktur sintagmatis terlihat dari hubungan antara elemen-elemen yang membentuknya seperti kepala, sanggul, pundak, dada, punggung.. Elemen-elemen tersebut memiliki khas yang tidak dapat digantikan oleh bentuk-bentuk lain agar tetap dapat dikenali. Aturan dalam hal ini masih mengikat dan aturan semacam ini berlaku dalam keseluruhan sistem wanda wayang kulit Arjuna, namun jelas terdapat diferensiasi. Jadi, tiaptiap bentuk dapat ditandai.

Uraian di atas menunjukkan bahwa diferensiasi terkait erat dengan strukturalisme karena perbedaan secara struktural berhubungan dengan elemen lain dalam sebuah sistem. Pengertian diferensiasi pada dasarnya adalah sesuatu yang dapat dibedakan di antara dua hal yang empiris, yang dapat dilakukan dengan membandingkan dengan hal yang lain, Namun, juga dapat dibedakan sendiri secara intrinsik (Deleuze, 2001, 28). Diferensiasi memiliki beberapa prinsip yang menjelaskan jenis-jenis diferensiasi, yaitu diferensiasi yang berupa oposisi biner, triadik, hierarki, dan kontinum (Piliang, 2018, 38). Oposisi biner adalah perbedaan yang bersifat berlawanan satu sama lain, yang merupakan teknik oposisi yang tradisional, yang terdiri dari dua titik yang berlawanan namun saling berhubungan. Diferensiasi triadik muncul dari konsep Peirce tentang synechism, yaitu sebuah perspektif holistik bahwa dalam hal yang mendasar tidak ada yang terpisah, namun terhubung satu sama lain (Bogue, 1991, 69). Diferensiasi hierarki didasarkan pada pengaturan

sistematis secara bertingkat yang berkaitan dengan kriteria tertentu berdasarkan hubungan kekuasaan, pengaruh, atau kontrol (Pumain, 2006, 1).

Diferensiasi kontinum (continuum) dapat dibahas secara psikologis, matematis, atau mekanis, tetapi kata kontinum secara etimologis mengambil bentuk netral dari continuus (berkesinambungan) yang berarti serangkaian elemen yang mirip dengan elemen yang berada di dekatnya. Akan tetapi, elemen tsb. berbeda dengan elemen yang jauh. Terdapat dua karakteristik dasar pada kontinum yang linear, yaitu (Anapolitanos, 1999, 70): (1) Kepadatan, di antara titik A dan B terdapat titik C yang berbeda dari A dan B, namun berada di antaranya. Jadi, A<C dan C<B. (2) Sekuensial, memiliki deretan intruksi yang runut, seperti A1, A2,…, An,…, dan seterusnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Arjuna sebagai ideal masyarakat Jawa memiliki posisi kepala yang sangat luruh, terutama pada Arjuna wanda Kedhu. Seiring dengan waktu dan perkembangan pertunjukan wayang, terdapat diferensi posisi kepala Arjuna. Perubahan posisi kepala Arjuna diikuti dengan perubahan posisi elemen-elemen lain pada wandawanda Arjuna wayang kulit sehingga menimbulkan diferensiasi. Pengukuran dan penghitungan wanda-wanda Arjuna dilakukan pada sudut kemiringan leher dan posisi dahi untuk melihat posisi menunduk kepala Arjuna, bentuk tubuh (dilihat dari posisi bahu, panjang pundak, lebar perut, tinggi dada, tinggi badan, dan panjang punggung), serta posisi kaki. Hasil pengukuran dan penghitungan elemen-elemen pada wanda-wanda Arjuna wayang kulit dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil pengukuran dengan menggunakan rumus matematika ini memberi parameter yang lebih terukur dalam mencari diferensiasi yang muncul antara wanda-wanda yang menjadi objek penelitian. Dalam penelitian awal yang dilakukan, para dalang, seniman pembuat wayang kulit, dan penikmat wayang kulit menjelaskan diferensiasi berdasarkan ukuran rasa. Beberapa poin yang dapat disarikan dari pengukuran dan penghitungan tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1. Posisi leher Arjuna wanda Kinanthi dan wanda Muntap sedikit lebih naik daripada wanda Kedhu (selisih 3º).
  • 2. Selisih nilai antara bidang wajah yang terpotong pada Arjuna wanda Kedhu lebih tinggi senilai 1,5x daripada pada wanda Kinanthi dan senilai 3,25x lebih tinggi daripada wanda Muntap. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kepala Arjuna wanda Kedhu paling menunduk jika dibandingkan dengan wanda Kinanthi dan Muntap, dengan posisi kepala wanda Muntap yang lebih mendongak.
  • 3. Posisi kemiringan pundak pada Arjuna wanda Kedhu memiliki nilai paling besar dan bernilai positif (4º) yang menunjukkan bahwa kemiringan berlawanan dengan arah jarum jam. Hal ini menunjukkan bahwa pundak Arjuna yang sejajar dengan gelung (disebut pundak belakang) posisinya lebih tinggi daripada bagian pundak yang
  • sejajar dengan wajah (pundak depan). Posisi miring ini mengikuti arah kepala sehingga pundak turut menunduk pada saat kepala menunduk. Terangkatnya posisi kepala pada wanda Kinanthi dan Muntap juga turut memengaruhi posisi pundak sehingga pada wanda Kinanthi yang posisi kepalanya lebih naik daripada Kedhu, posisi pundaknya membentuk sudut yang lebih kecil (1,5º). Hal yang sama berlaku pada Arjuna wanda Muntap yang kepalanya lebih mendongak daripada kedua wanda yang lain memiliki kemiringan pundak senilai -4º sehingga pundak depan lebih tinggi daripada pundak belakang.
  • 4. Kemiringan pundak sedikit memengaruhi panjang pundak dan terlihat pola bahwa semakin tinggi pundak bagian belakang, makan semakin pendek jarak antar pundak, begitu pula sebaliknya.
  • 5. Panjang badan keseluruhan ketiga wanda menunjukkan bahwa badan Arjuna wanda Kedhu dan Kinanthi berukuran sama, lebih tinggi 1x daripada badan Arjuna wanda Muntap.
  • 6. Lebar dada ketiga wanda menunjukkan pola serupa dengan nilai hasil pengukuran dan penghitungan bagian kepala, tampak gradasi nilai pada lebar dada wanda Kedhu, Kinanthi, dan Muntap. Pengukuran yang dilakukan menghasilkan nilai bahwa lebar dada Arjuna wanda Kedhu lebih lebar daripada wanda Kinanthi, dan dua kali lebar dada Arjuna wanda Muntap. Pola yang sama juga

  • tampak pada panjang punggung ketiga wanda Arjuna, namun panjang punggung Arjuna wanda Kedhu paling pendek. Wanda Muntap memiliki garis punggung paling panjang, dan panjang garis punggung wanda Kinanthi mengantarainya.
  • 7. Badan ketiga wanda Arjuna yang terbentuk dari dada, perut, dan punggung memiliki istilah yang berbeda, yaitu lemo untuk Arjuna wanda Kedhu yang berarti gemuk, lugas untuk wanda Kinanthi yang berarti tegap, dan weweg kenceng untuk wanda Muntap yang berarti tegap dan berotot. Badan lemo pada Arjuna wanda Kedhu memiliki dada yang lebih lebar daripada wanda yang lain, perut yang lebih tinggi, dan punggung yang lebih pendek. Apabila dibandingkan dengan wanda Kedhu, badan lugas Arjuna wanda Kinanthi yang lebih tegap memiliki lebar dada sedikit lebih sempit, bagian
  • perut yang lebih pendek dan ramping, namun bagian dada sedikit lebih panjang, serta garis punggung yang lebih panjang. Sementara, wanda Muntap yang disebut berbadan tegap berotot memiliki lebar dada paling sempit, tinggi keseluruhan badan (perut dan dada) lebih pendek, namun garis punggungnya lebih panjang.
  • 8. Kombinasi kemiringan posisi kedua kedua kaki dan jarak antar kaki menghasilkan nilai yang sama apabila garis pada as kaki ditarik ke atas hingga berpotongan. Arjuna wanda Kedhu memiliki nilai titik potong as kedua kaki paling jauh di atas kepala, yaitu 43x, sementara wanda Kinanthi dan Muntap memiliki titik potong senilai 36x. Titik potong yang tinggi pada Arjuna wanda Kedhu menunjukkan Arjuna kondisi spiritualismenya.

TABEL I DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA

ElemenWanda KedhuWanda KinanthiWanda MuntapKeterangan
Sudut
kemiringan
leher,
dihitung
dari garis leher
atas dan ujung
pundak
di
dekat wajah
Sudut antara
h1 dan h2 = 15 º
Sudut antara
h1 dan h2 = 18 º
Sudut antara
h1 dan h2 = 18 º
Sudut
kemiringan
leher
diketahui
dengan
mengukur
sudut yang
terbentuk dari
garis h1 yang
ditarik
mengikuti
garis leher
dan garis h2
yang ditarik
horisontal dari
ujung luar
bahu.
Semakin besar
sudut yang

terbentuk dari perpotongan garis h1 dan h2 menunjukkan bahwa posisi leher semakin mendongak, sementara semakin besar sudut yang terbentuk maka posisi leher semakin menunduk.

Semakin besar

Posisi kepala, dilihat dari perpotongan bagian wajah dengan sudut pundak

Jarak h1 ke h2 = 5x

Jarak h1 – h2 = 3,5x

Jarak h1 – h2 = 1,75x

Posisi kemiringan pundak, diukur dari sudut yang terbentuk antara pundak dan garis horisontal

Kemiringan pundak = 1,5º

Kemiringan pundak = -2º

nilai x dari hasil pengukuran jarak antara garis h1 yang ditarik horisontal dari ujung hidung dan garis h2 yang ditarik dari sudut garis leher dan bahu, semakin menunduk posisi kepala. Semakin kecil nilai x menunjukkan bahwa kepala Arjuna semakin terangkat ke atas pada posisi yang lebih longok.

Semakin besar sudut kemiringan pundak yang dihitung dari garis horisontal yang diambil dari ujung luar pundak yang berada bersisian dengan wajah

1

TABEL II DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA (LANJUTAN)

ElemenWanda KedhuWanda KinanthiWanda MuntapKeterangan
PanjangPanjang pundak =Panjang pundakPanjang pundak =Panjang keseluruhan
keseluruha32,5x= 33,25x33,6xpundak diukur dari
n pundakpanjang garis yang
menghubungkan antara
titik terluar kedua ujung
pundak.
TinggiApabila dilihat dari
perut,keseluruhan tinggi
diukur daribadan seperti yang
batastertera pada baris
lengkungkeenam tabel ini, tubuh
dada danwanda Arjuna Kedhu
titik tubuhdan Kinanthi tidak
palingTinggi perut =Tinggi perut = 6xTinggi perut = 6xberbeda yaitu senilai
bawah6,5x22x, namun tinggi perut
Arjuna wanda Kedhu
senilai 6,5x. Hal ini
mengurangi ukuran
dada Arjuna wanda
Kedhu menjadi lebih
pendek sehingga
menghasilkan kesan
badan wanda Kedhu
lebih gemuk.
LebarLebar perut =Lebar perut =Lebar perut = 5,5xTinggi perut Arjuna
perut,5,25x4,6xwanda Kinanthi lebih
diukur daripendek meyebabkan
batas atastinggi dadanya
perut kebertambah tubuh
arah
punggung.
Arjuna tampak lebih
tegap dan berotot.
Kesan lebih berotot
dihasilkan pada Arjuna
wanda Muntap yang
Tinggi
dada,
dikukur
dari batas
atas perut
ke arah
pundak
Tinggi dada =
15,5x
Tinggi dada =
16x
Tinggi dada = 15xtinggi tubuhnya lebih
pendek dengan tinggi
perut senilai wanda
Kinanthi dan ukuran
perut yang lebar.
Namun lebar dadanya
sempit karena posisinya
Tinggi
badan,
dihitung
dari tinggi
dada dan
perut.
Tinggi badan
= tinggi perut +
tinggi dada
= 6,5x + 15,5x
=22x
Tinggi badan
= tinggi perut +
tinggi dada
= 6x + 16x
=22x
Tinggi badan
= tinggi perut +
tinggi dada
= 6x + 15,5x
=21x
yang membusung.
Arjuna wanda Kedhu
tampak gemuk karena
dadanya tebal sebagai
akibat posisi tubuhnya
yang membungkuk dan
perutnya lebar.
Sementara Arjuna
wanda Kinanthi tampak
tegap, ramping karena
lebar perutnya paling
kecil di antara Kedhu
dan Muntap.
Lebar dada,
dihitung
dari titik di
atas puting
Lebar dada = 3xLebar dada =
2,75x
Lebar dada = 1,5x

TABEL III DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA (LANJUTAN)

ElemenWanda KedhuWanda
Kinanthi
Wanda MuntapKeterangan
Panjang
punggung,
diukur dari
titik awal
pinggang
hingga
ketiak.
Panjang
punggung
= p1 + B + p2
= p1 + a/360
(2πr) + p2
=7,1x + 88/360
(2 x 22/7 x
21,5x) + 9x
= 16,1x + 0,24
(135,14x)
= 16,1x +
32,43x
= 48,53x
Panjang
punggung
= p1 + B + p2
= p1 + a/360
(2πr) + p2
= 7,1x + 90/360
(2 x 22/7 x
21,5x) + 7,6x
= 17,6x + 0,25
(135,14x)
= 17,6x +
33,785x
= 51,385x
Panjang punggung
= p1 + B2+ B1 +p2
= p1 + a2/360 (2πr)
+ a1/360 (2πr) + p2
=3,25x + 30/360 (2
x 22/7 x 21,5x) +
87/360 (2 x 22/7 x
21,5x) + 7,5x
=10,75x + 0,08
(135,14x) + 0,24
(135,14x)
= 10,75x + 10,81x
+ 32,43x
= 53,99x
Semakin
panjang
punggung
menunjukkan
bahwa posisi tubuh
semakin
membusung,
sementara
semakin
pendek
panjang
punggung
menunjukkan
bahwa posisi tubuh
semakin
membungkuk.
Panjang
punggung
berkaitan
dengan
panjang
pundak
yang
disampaikan
pada
baris
kedua
tabel
ini.
Panjang
punggung
ini turut
dibentuk
oleh
panjang
pundak
yang
diaplikasikan

untuk mengakomodasi posisi tubuh yang membusung.

TABEL IV DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA (LANJUTAN)

ElemenWanda KedhuWanda KinanthiWanda MuntapKeterangan
Titik
temu
kedua as
kaki
Semakin tinggi
nilai x
menunjukkan
bahwa paduan
antara
kemiringan kaki
kanan dan kiri
serta jarak
antarkaki
menghasilkan
kesan bahwa
jarak antarkaki
semakin rapat.
Sementara
semakin rendah
titik nilai x
menghasilkan
kesan bahwa
jarak antarkaki
semakin jauh.
Titik temu = 43xTitik temu = 36xTitik temu = 36x

Diferensiasi elemen-elemen pada ketiga wanda seperti tampak pada Tabel 1 menunjukkan bahwa tiga ciri khas pada setiap wanda. Pertama, posisi kepala Arjuna wanda Muntap paling mendongak, sementara posisi kepala wanda Kinanthi lebih menunduk daripada wanda Muntap, namun lebih tegak daripada wanda Kedhu. Kedua, pundak Arjuna wanda Muntap turun, diikuti dengan pundak yang lebih panjang sehingga dadanya tampak membusung. Sikap tubuh membusung tersebut membuat dadanya lebih mundur sehingga terlihat tipis dan ukuran perutnya lebih pendek. Namun, punggungnya menjadi jauh lebih panjang daripada

wanda Kedhu. Pundak Arjuna wanda Kinanthi sejajar antara bagian kanan dan kiri sehingga panjang pundaknya menyesuaikan (tidak sepanjang wanda Muntap, tetapi lebih panjang daripada wanda Kedhu). Dadanya tegap, tidak membusung sehingga dadanya tampak lebih tebal daripada wanda Muntap, dan punggungnya tidak terlalu panjang. Ketiga, kaki depan dan belakang Arjuna wanda Muntap mirip dengan wanda Kedhu. Akan tetapi, jarak antarkakinya lebih lebar sehingga titik temu kedua as kaki lebih rendah. Ciri khas ini apabila diringkas seperti yang tampak pada Gambar 2 akan menunjukkan pola gradasi.

Wanda Kedhu Kepala luruh / tubuh membungkuk / posisi titik as kaki jauh di atas kepala

Wanda Kinanthi Kepala kurang luruh / tubuh tegap / posisi titik as tidak terlalu jauh di atas kepala

Wanda Muntap Kepala agak longok / tubuh membusung / posisi titik as tidak terlalu jauh di atas kepala

Gambar 2 Pola Diferensiasi Arjuna

Pola diferensiasi Arjuna yang menunjukkan bahwa gradasi dapat lebih terbaca melalui penyederhanaan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 sehingga tampak bahwa: 1. Posisi luruh kepala Arjuna wanda Kedhu > wanda Kinanthi > wanda Muntap. 2. Posisi tubuh membungkuk Arjuna wanda Kedhu > wanda Kinanthi > wanda Muntap. 3. Tinggi posisi titik perpotongan garis as kaki pada Arjuna wanda Kedhu > wanda Kinanthi dan Muntap. Pola ini menunjukkan bahwa tipe diferensiasi kontinum dengan wanda Muntap sebagai titik akhir penilaian secara gradual perbedaan dari wanda Kedhu yang menjadi titik awal (patokan), dengan wanda Kinanthi yang mengantarainya.

Diferensi yang muncul terlihat drastis pada Arjuna wanda Muntap yang merupakan wanda paling baru dari seluruh wanda yang ada. Arjuna wanda Muntap memiliki posisi kepala mendekati longok yang membuat seluruh wajahnya turut lebih terangkat mengikuti posisi kepalanya. Sanggulnya berubah bentuk menjadi lonjong dan besar, posisi badannya tampak agresif, dan posisi kakinya bersiap untuk menyerang. Ekspresi Arjuna wanda Muntap dapat dimaknai dinamis dalam pertempuran yang sengit namun juga amarah. Hal ini tidak lagi

mencerminkan teguhnya pengendalian diri dan ketenangan batin yang jelas termaknai pada Arjuna wanda Kedhu yang menjadi wayang induk dalam penciptaan wanda. Sedikit ekspresi marah pada tokoh Arjuna mementahkan konsep penciptaan Arjuna sebagai ksatria pandhita yang mampu melepaskan dirinya dari nafsu duniawi, yang membuatnya memiliki kemampuan dalam pengendalian diri yang tinggi. Namun, kebutuhan pertunjukan wayang kulit saat ini tidak lagi untuk menyampaikan pesan moral dan konsep-konsep kemasyarakatan seperti pada awal masa perkembangannya hingga masa supremasi keraton. Pertunjukan wayang kulit setelah masa kemerdekaan cenderung menjadi hiburan bagi penonton yang umumnya merupakan kaum urban. Soeparno menyebutkan bahwa pertunjukan wayang saat ini telah menjadi seni popular, penonton tidak mementingkan nilai estetik, tetapi pertunjukan yang menghibur dan mudah dicerna (Suparno, 2009: 81). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hauser bahwa penonton seni popular membutuhkan hiburan, relaksasi, tontonan ringan, bahkan berubahubah yang turut membentuk seni popular. Akan tetapi, hal ini menjadi bagian dari pelestarian dan pembaharuan (Hauser, 1982, 581). Penyimbolan pada tokoh wayang kulit seperti yang terdapat pada Arjuna tidak lagi dilihat sebagai pesan-pesan moral leluhur, namun alat untuk menyampaikan cerita.

SIMPULAN

Analisis diferensiasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara detail elemen-elemen yang berbeda pada setiap wanda sehingga memberi penjelasan yang lebih dalam daripada sekedar rasa. Diferensi yang muncul umumnya terlihat drastis pada Arjuna wanda Muntap yang merupakan wanda paling baru dari seluruh wanda yang ada. Arjuna wanda Muntap memiliki posisi kepala yang jauh lebih mendongak dan elemen-elemen lain secara sistematik turut berubah, terutama bentuk dan posisi badannya. Diferensiasi kontinum seperti yang terlihat pada wanda-wanda Arjuna menunjukkan bahwa suatu pola yang dapat digunakan untuk memperkirakan arah penciptaan wanda berikutnya. Beberapa pengukuran yang telah dilakukan dapat menjadi kunci dalam proses reproduksi atau penciptaan wanda baru bagi seniman wayang, terutama terkait dengan bagian posisi kepala, leher, posisi bahu, dan panjang punggung.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
4th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Art 0.39
level 0
level 0
Humanities 0.36
level 1

Institution Network

References

  1. Anapolitanos, D. (1999). Leibniz: Representation, continuity and the spatiotemporal. New York, USA: Springer-Science + Business Media, B.V.
  2. Bagoue, R. (1991). Mimesis in contemporary theory an interdisciplinary approach, volume 2: mimesis, semiosis, and power. Philadelphia, USA: John Benjamins Publishing Company.
  3. Deleuze, G. (2001). Difference and repetition. London, UK: Continuum.
  4. Haryoguritno, H. (1996). Wayang purwa gagrak Surakarta ditinjau dari aspek seni rupanya, Makalah. Pekan Wayang 1996.
  5. Piliang, Y. & Jaelani, J. (2018). Teori budaya kontemporer - penjelajahan tanda dan makna. Yogyakarta, Indonesia: Aurora (Kelompok Cantrik Pustaka).
  6. Pumain, D. (2006). Hierarchy in natural and social sciences, Dordrecht, The Netherlands: Springer.
  7. Saussure, F. de, & Harris, R. (2013). Course in general linguistics. London, UK: Bloomsbury Academic.
  8. Suwarno, B. (2015). Wanda wayang purwa tokoh Pandawa gaya Surakarta: Kajian bentuk, fungsi, dan pertunjukan, Rangkuman Disertasi Program Pascasarjana, Universitas Gajah Mada Yogyakarta.