1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2020) Issue 1
  4. Articles

KOMPETENSI PEDAGOGIK DOSEN DALAM MENGGUNAKAN PENDEKATAN INTEGRATIF AGAMA DAN SAINS PADA PENGAJARAN AGAMA DAN ETIKA ISLAM UNTUK MENCAPAI ABET LEARNING OUTCOMES DI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (2019-2020)

Abstract

Latar belakang pada penelitian ini adalah diawali dengan kebijakan dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Tinggi (Dikti) tentang mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di PTU diajarkan menggunakan pendekatan integratif yakni perpaduan agama dan sains sehingga mahasiswa tidak hanya menangkap ajaran agama Islam secara doctrinal-normatif-subjektif tetapi menangkap pula sisi rasional-objektif-ilmiahnya, hal ini pula yang dituntut oleh pihak PTU. Pada kenyataannya di lapangan, upaya integrasi ini belum terlaksana dengan baik, pendidikan agama Islam yang diberikan masih cenderung doktrinal, bahkan lebih mengarah kepada pengajaran fiqih atau jurisprudensi Islam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi dosen Agama Islam di ITB dalam menggunakan pendekatan integratif guna mencapai ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology) learning outcomes. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, studi dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 – 2020, dosen agama Islam di ITB telah melakukan pendekatan integratif agama dan sains untuk mencapai ABET outcomes learning, namun hasilnya belum maksimal

Keywords

PENDAHULUAN

Pada hakikatnya pendidikan Islam (PI) adalah proses untuk mendorong, membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan mengembangkan peserta didik dengan segala potential capacity yang dibawanya menjadi manusia yang berkembang sehingga mencapai actual ability (kemampuan nyata) secara optimal dengan tetap berada pada sifat dasarnya yakni fitrah 'suci' dan hanief 'lurus' (Ausop, 2014). Pendidikan Islam merupakan induk dari Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat 1a UU No. 20/2003 ditegaskan bahwa pada setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan apa pun wajib memuat pendidikan agama termasuk untuk mahasiswa Perguruan Tinggi Umum (PTU) dan wajib lulus (Muhaimin, 2009).

Selanjutnya, menurut Undangundang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 3, Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Mahasin, 2009). PAI diharapkan dapat berkonstribusi kuat dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Tujuan mata kuliah PAI yang esensinya terdapat dalam aqidah, syariah dan akhlaq (1) consciousness, yakni membangun kesadaran peserta didik tentang perlunya memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, (2) character building, yakni membangun karakter insan yang berpengetahuan luas tentang ajaran Agama Islam dalam membangun ketaqwaan, (3) personality, yakni membentuk kepribadian peserta didik yang berakhlaq mulia (Yudiprahara, 2009).

Mata kuliah PAI diampu oleh dosen agama yang profesional. Profesionalitas dosen diatur oleh UU no 14 tahun 2005. Salah Satu kompetensi dosen Agama memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan integratif agama dan sains. Penerapan pendekatan integratif diharapkan dapat mencapai learning outcome, baik dalam aspek professional responsibility, social impacts, maupun contemporary issues. Akan tetapi, berdasarkan hasil pengamatan Machasin, selaku direktur Pendidikan Tinggi Islam dan Mohammad Ali, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama serta Amin Abdullah, selaku penanggung jawab pelaksanaan PAI, pelaksanaan mata kuliah PAI di PTU belum sesuai harapan pemerintah, dalam hal ini kementerian Pendidikan Tinggi (DIKTI) dan Kementerian Agama. Indikatornya antara lain penyampaian materi kuliah masih bersifat doktrinal-normatif-subjektif, kurang memperlihatkan sisi objektifrasional-ilmiah, pengajaran agama Islam kurang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis-analitis-reflektif dan kontekstual sehingga tidak mampu melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi pemikiran. Padahal substansi ajaran Islam mendorong untuk berfikir progresif, metodologi

pengajaran lebih dipenuhi narasi ceramah. Semestinya mahasiswa dibiasakan untuk berdiskusi tentang contemporary issues atau persoalan kekinian dan kedisiplinan.

Selanjutnya, agar PAI benarbenar berfungsi dan efektif dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, PAI harus dikelola dengan baik. Tiga tahapan yang harus dijalankan. Pertama, organizing strategy, yakni melakukan strategi pengorganisasian. Kedua, delivering strategy, yakni strategi penyampaian yang akan digunakan, misalnya dengan diskusi kelas. Ketiga, managing strategy yakni pengelolaan pengajaran, mulai persiapan hingga evaluasi berkelanjutan (Wena, 2013). Pendapat lain, yang paling menentukan adalah instructional problem dan classroom management. (Kartanegara, 2005).

Menurut Mujamil Qamar strategi lainnya (1) berbobot, materi pembelajaran memiliki kedalaman yang signifikan, (2) relevan, materi yang disajikan sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran yang ditetapkan, (3) kontekstual, materi pelajaran apa pun harus ditarik kepada kehidupan nyata yang memiliki nilai kekinian, (4) elabolaratif, bahan ajar harus detail dan jelas walaupun waktu yang tersedia relatif terbatas, (5) metodologis, menggunakan metode belajar yang beragam sesuai dengan sifat dan watak setiap materi, (6) integralistik, menggunakan pendekatan pengajaran yang integratif yang memadukan agama dan sains, (7) objektif, menyajikan pendidikan agama Islam berbasis dalil naqli, pemikiran rasional, serta bukti-bukti empirik, (8). wisdom, berusaha menggali hikmah di balik pesan tertulis (Qomar, 2012).

Dalam menggunakan paradigma Student Centered Learning (SCL) mahasiswa kurang didorong untuk berani mengkritik pendapat para ulama seakan pendapat ulama sudah menjadi kebenaran absolut dan final. Pengajaran agama Islam kurang melakukan levelisasi dan hierarki antara Islam normatif-doktrinal, Islam produk sejarah, dan Islam hasil ijtihad. Akibatnya, mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan nilai agama yang qath'y (mutlak) dan dhanny (nisbi) untuk mencari solusi atas persoalan-persoalan diniyah kontemporer. Penelitian ini mengusung dua isu pokok (main issues), yaitu tentang kompetensi dosen menggunakan pendekatan integratif agama dan sains dalam pengajaran mata kuliah PAI serta efektivitas penggunaan pendekatan integratif dalam pencapaian ABET learning outcomes.

Penelitian ini dilandasi oleh grand theory, middle range theory, lalu dilanjutkan dengan applied theory. Grand theory pada penelitian ini mengacu kepada firman Allah SWT ayat 190-191. Menurut Wahbah Zuhaily di dalam tafsir al-Munir jilid IV halaman 206, pada malam ayat ini turun Rasulullah mentadabburinya lantas beliau menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya (Zuhaliy, 1991). Berdasarkan semangat ayat ini disusunlah paradigma makroteologis penelitian ini, yakni paradigma "unity of universe". Suatu penegasan tentang sejumlah keyakinan dan nilai bahwa antara alam material sinergetik dengan alam spiritual informatik bersifat terpadu. Paradigma makro ini berfungsi sebagai payung besar penelitian yang akan memengaruhi seluruh konstalasi kerangka berikir, worldview, teori, metode, prinsip, dan teknik aplikasi.

Paradigma makro kedua yaitu paradigma makropedagogis, yakni paradigma sistem pembelajaran. Paradigma makro sistem pembelajaran yang digunakan ialah paradigma student centered learning yang menggantikan paradigma lama yang sudah berlaku berabad-abad, yakni paradigma teacher centered learning. Perubahan paradigma ini terjadi bukan hanya pada sistem pembelajaran, melainkan dalam banyak bidang keilmuan termasuk ilmu alam, misalnya peralihan dari paradigma geocentris yang sekian abad dipegang oleh otoritas gereja di Barat kepada paradigma heleocentris dari Covernicus Gelelio. Perubahan paradigma ini telah mengubah worldview atau cara pandang Barat tentang pusat perputaran planet di Galaksi Milky Way, bahkan selanjutnya mengubah banyak teori bidang astronomi.

Dalam paradigma student centered learning posisi dosen menjadi berubah banyak. Dosen hanyalah salah satu, bukan satu-satunya sumber informasi; Dosen berfungsi sebagai motivator agar peserta didik benarbenar memiliki semangat kuat untuk belajar, mencari dan menemukan materi pokok bahasan pada banyak sumber seperti internet; Dosen hanya mengarahkan mahasiswa agar mereka bisa secara cepat dan tepat mencari

sumber yang dapat dipercaya di media daring.

Paradigma makro teologis diturunkan kepada paradigma mikro (middle range theory) sebagai payung kecilnya. Paradigma mikro teologis penelitian ini diinspirasi oleh firman Allah di dalam QS. Fushilat [41]: 53: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru (langit dan bumi) dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Quraish Shihab di dalam tafsir Al-Misbah, jilid 12 halaman 90-91 menyatakan yang dimaksud "fi al-afaq" adalah di segala penjuru langit dan bumi (Shihab, 2009). Pembuktian, proving atau proses empirisasi ayat-ayat Alquran melalui sains akan terus terjadi. Menurut Wahbah Zuhaily dalam tafsir al-Munir lafadz "hatta yatabayyna lahum annahu al-haq' pada ayat tersebut maksudnya hatta yadzharu lahum anna al-qurana hua al-haq (Zuhaliy: 2009) sehingga sangat jelas bagi mereka sesungguhnya al-Quran itu adalah benar. Paradigma mikro (middle rang theory) yang dipetik adalah unity of sciences atau bisa juga disebut teori undikotomi. Paradigma ini menegaskan keyakinan dan nilai-nilai bahwa antara agama dan sains itu terpadu, mustahil bertentangan. (Ausop, 2014)

Selanjutnya, setelah middle theory diturunkan menjadi applied theory. Teori-teori tentang integrasi agama dan sains ini relatif banyak. Pertama, model integrasi dari Ian Barbour, terdapat empat tipologi

integrasi ilmu dengan agama tetapi ia pesimis untuk bisa memadukan agama dengan sains. Dalam hal ini Ian mencoba membangun theology of nature bukan natural theology (Barbour, 1990).

Kedua, model konfirmasi dari John F. Haught yang menjelaskan perjalanan integrasi ilmu dan agama melalui empat tahap, yakni konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi. Haught hanya berani sampai batas konfirmasi (Haught, 1995). Ketiga, model etika dari Fazlur Rahman yang menekankan perlunya pembekalan etika kepada saintis bukan mengislamkan ilmu pengetahuan.

Keempat, Model revitalisasi dari Bambang Sugiharto yang menekankan perlunya revitalisasi agama dengan bantuan filsafat dan sains sehingga agama menjadi logis rasional dan hati-hati Agama dapat membantu sains dalam menjelajahi wilayah adikodrati dan supranatural (Sugiharto, 2005). Sains harus lebih membela nilai-nilai kemanusiaan daripada sekadar mengejar kemajuan teknologi.

Kelima, model konstruksi dari Ismail Al-Faruqi yang menekankan perlunya Islamisasi ilmu pengetahuan. Keenam, model tauhidisasi dari Naquib Al-atas yang menekankan perlunya upaya spiritualisasi atas setiap objek yang akan diteliti dengan cara memberikan landasan tauhid. Ketujuh, Model klasifikasi dari Zaghlul an-Najar yang menekankan perlunya islamisasi ilmu pengetahuan dengan cara melakukan analisis secara filosofis trans-sindental terhadap aspek ontologi, epistemologi, dan aspek aksiologi sains.

Selanjutnya, model integralistik-interkoneksi dari Amin Abdulah sebagai reaksi akademis atas pemisahan sains dengan agama. Dia memulai pokok-pokok pikirannya dengan menjelaskan hubungan antara ilmu bayani, 'irfani, dan burhani. Dengan mengutip pendapat Muhammad Abid Al-Jabiri, ia menyatakan hubungan antara ketiga epistimologi ilmu tersebut adalah parallel, linier dan sirkular. (Abdullah, 2006)

Terakhir, model integralisme Islam dari Armahedi Mahzar yang menyatakan sistematika sains modern terdapat empat level. Pertama, Alam sebagai objek sains berada pada posisi level paling bawah, sebab dia hanya berkedudukan sebagai objek. Kedua, Fakta eksperimental sebagai hasil penelitian berada pada posisi level dua di atas objek sains. Fakta eksperimental ini bersifat objektif dan empiris yang diperoleh dengan metode statistika induktif. Ketiga, di atas fakta, terdapat teori matematika yang sifatnya rasional diperoleh dengan metode logika deduktif. Keempat, di atas semua itu adalah paradigma sebagai landasan filosofis. (Mahzar, 1918)

Untuk kepentingan penelitian ini penulis menggunakan dua teori terakhir, yaitu teori terapan integralistik-interkoneksi dari Amin Abdulah dan teori integralisme Islam dari Armahedi Mahzar. Tujuan penelitian ini (1) untuk mengetahui sejauh mana kompetensi dosen menggunakan pendekatan integratif agama dan sains dalam pengajaran mata kuliah agama Islam di ITB, (2) untuk memperoleh gambaran tentang pendekatan integratif agama dan sains dalam menunjang ketercapaian learning outcomes, (3) mendeskripsikan faktor lain di luar kompetensi pendekatan integratif agama dan sains yang dapat mempengaruhi pencapaian learning outcomes pada mata kuliah PAI di ITB.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan, ada beberapa penelitian sejenis dalam spektrum tesis dan disertasi yang membahas tentang paradigma integralistik dalam pendidikan, antara lain sebagai berikut.

  • 1. Murtadho Ali (2015), Keilmuan Integralistik Berwawasan Lingkungan Pada Lembaga Pendidikan Islam, IAIN Raden Intan Lampung. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa mewujudkan kampus yang berwawasan lingkungan (eco campus) di tengah-tengah tantangan milenium ketiga merupakan suatu keniscayaan sebagai wujud keikutsertaan dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
  • 2. Yu'timaalahuyatazaka (2014), Pendidikan Agama Berparadigma Integratif, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa implementasi integrasi keilmuan merupakan salah satu bentuk solusi tepat dalam mengatasi kesenjangan antara idealita dan realita.
  • 3. Rima Umaimah (2017), Pendekatan Integralistik Pendidikan Agama pada Sekolah (Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam), Universitas Islam Negeri

  • Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian ini adalah pendekatan integralistik dalam pendidikan agama pada sekolah melalui pendekatan secara terpadu dengan mencari hubungan fungsional maupun komplementer dari semua komponen yang terlibat dalam suatu proses.
  • 4. Zuly Qodir (2016), "Mempertimbangkan Metode Integralistik; Sosiologi untuk Kajian Islam dan Sosial", Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Simpulannya adalah bahwa tradisi keilmuan yang berkembang tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang terjadi di masyarakatnya.
  • 5. Syafruddin Syam (2012), Studi Islam Integralistik; Antara Normativitas dan Historisitas (Mencari Format Studi Islam yang Utuh). Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara. Konklusi hasil penelitian menunjukkan bahwa studi Islam harus dilakukan secara integral bukan parsial.

Penelitian yang akan penulis lakukan belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya sehingga memiliki perbedaan dan nilai kebaruan (1) objek kajian, pendekatan integralistik transdisiplin dalam pengajaran mata kuliah agama dalam mencapai learning outcomes, (2) variabel penelitian, pendekatan integratif transdisiplin, kompetensi dosen dalam menggunakan integralistik transdisiplin, dan variable learning outcomes, (3) pendekatan yang digunakan, multi pendekatan (transdisiplin) kesejarahan, teologis, filosofis, sosiologis, psikologis, dan scientific (sains, teknologi), (4) terdapat

paradigma makro (grand theory), unity of universe, paradigma makro (middle theory) unity of sciences, dan applied theory, yakni integratif-interkoneksitas dari Amin Abdullah dan teori integralisme dari Armahedi Mahzar, (5) metode penelitian menggunakan metode kualitatif, (6) terdapat komputasi dan pemodelan, penelitian ini memiliki keluaran integrasi agama dan sains model baru, yakni lima Dimensions of Religion and Science Integration. Jadi, kontribusi kebaruan penelitian ini ada pada beberapa level (1) level epistimologi paradigma makro atau grand theory, (2) level paradigm mikro atau middle theory, dan (3) level pemodelan intergasi agama dan sains yang baru. Inilah state of the art (SOTA) penelitian ini.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di Institut Teknologi Bandung dengan populasi 1.500 mahasiswa yang sedang mengampu mata kuliah PAI dan peneliti dengan sampel penelitian berjumlah 100 mahasiswa. Alasan peneliti menjadikan ITB sebagai lokasi penelitian, karena ITB merupakan salah satu kampus di Indonesia yang sudah memberlakukan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology).

HASIL DAN PEMBAHASAN Kompetensi Dosen Agama Islam di ITB dalam Mengintegrasikan Agama dan Sains

Berdasarkan data kualitatif yang diperoleh terkait kompetensi dosen PAI dalam mengintegrasikan agama dan sains dapat dijelaskan bahwa dosen PAI di ITB sudah memiliki kompetensi yang sangat mempuni, memiliki pemahaman dan wawasan kependidikan yang komprehensif dalam melaksanakan pembelajaran. Dari tahap perencanaan pembelajaran dosen telah menyiapkan komponenkomponen pembelajaran dengan baik sehingga pembelajaran sesuai dengan karakteristik mahasiswa ITB. Penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan integratif agama dan sains, mahasiswa menjadi tahu dibalik ketidaktahuannya. Dosen memberikan kasus untuk dikaji dan diteliti lebih mendalam dari perspektif agama dan sains, seperti pembahasan janin dalam kandungan seorang ibu yang dijelaskan dalam Alquran. Hal tersebut dijelaskan secara komprehensif dan sangat berdampak pada pengetahuan mahasiswa, yang awalnya hanya mengetahui berdasarkan aspek sains, bertambah pengetahuan dari aspek agama. Pada akhir pembelajaran di kelas, dosen mengantarkan mahasiswa untuk memiliki kesadaran terhadap Allah SWT dengan penyampaian informasi yang menarik yang menghubungkan aspek agama dan sains.

Pendekatan Integratif dalam Menunjang Ketercapaian Learning Outcomes Mata Kuliah PAI di ITB

Berdasarkan data kualitatif yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa secara keseluruhan dosen PAI di ITB menerapkan pendekatan intergratif dengan sangat baik dan mencapai kategori maksimal. Pentingnya pembelajaran agama akan memudahkan kesuksesan kehidupan mahasiswa. Hal tersebut karena materi pembelajaran agama dapat sesuai dengan nilai etika profesi dan menjadikan individu yang bertanggung jawab juga menumbuhkan kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat.

Selanjutnya, capaian dari pendekatan ini terkait kemampuan mahasiswa untuk mengindentifikasi isu-isu global dan kontemporer, lalu mahasiswa dapat menganalisis dan memecahkan hal-hal tersebut sesuai dengan ajaran Agama Islam. Hasil capaian ABET learning outcomes untuk mata kuliah PAI di ITB dapat dilihat dari grafik berikut.

3

Grafik 1 Ketercapaian ABET Learning Outcomes (Sumber: data ketercapaian ABET Learning Outcomes mata kuliah PAI tahun akademik 2019-2020)

Faktor-Faktor yang Menunjang Ketercapaian Learning Outcomes.

Faktor lain yang menunjang ketercapaian learning outcomes (1) kemampuan intelektual mahasiswa ITB di atas rata-rata dibandingkan dengan mahasiswa di perguruan tinggi lain di Indonesia, (2) pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, kampus bahkan teman sejawat, (3) kondisi pembelajaran di dalam kelas yang kondusif, (4) kegiatan

kokurikuler seperti ITB spiritual camp dan mentoring. Berdasarkan hasil angket yang dibagikan kepada mahasiswa, diperoleh hasil bahwa faktor yang paling mendominasi adalah lingkungan di dalam kelas dengan persentase sebesar 35 persen. Faktor lain, yaitu kemampuan intelektual hanya 18 persen, kondisi pembelajaran 24 persen dan ITB SC (spiritual camp) serta mentoring hanya 23 persen.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • 1. Kompetensi dosen PAI di ITB dalam mengintegrasikan agama dan sains dimulai dari paradigma makro teologis atau grand theory penelitian ini adalah "Unity of Universe" dan paradigma makro pedagogis, yakni "Student Centered Learning". Dalam hal ini, para dosen agama Islam ITB telah memahami kedua paradigma ini dengan kuat sehingga memengaruhi
  • 2. Paradigma mikro, kerangka bepikir, worldview, teori, prinsip-prinsip dan kerangka kerja mereka sebagai dosen agama Islam dalam mengampu mata kuliah PAI di ITB.
  • 3. Pendekatan integratif agama dan sains dalam menunjang ketercapaian learning outcomes mata kuliah PAI di ITB baik dalam aspek professional responsibilities, social impacts dan contemporary issues.
  • 4. Dari hasil studi lapangan dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian learning outcomes, faktor yang paling dominan adalah lingkungan dengan persentase 35%.

Saran-saran

Saran yang disampaikan antara lain (1) SMART principles:

penilaian mata kuliah PAI harus berdasarkan prinsip specific, measureable, attainable, relevant, dan timely, (2) critical thinking, mengupayakan agar mahasiswa melakukan critical thinking yang meliputi open mind, open heart, dan open will. (3) pronesis, mengambil pelajaran dari pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan (wisdom) yang diperoleh dari praktik-praktik lapangan dosen senior, (4) action research, melakukan riset-riset kecil untuk mencari solusi atas beragam problema perkuliahan PAI di ITB.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
7th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.76
level 1
level 0
Philosophy 0.20
level 0

Institution Network

References

  1. Ausop, A. Z. (2014). Islamic Character Building, Membangun Insan Kamil Cendikia Berakhlaq Qurani. Bandung : PT. Grafindo Media Pratama.
  2. Mahasin. (2009). Materi Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Departemen Agama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
  3. Muhaimin. (2009). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi Umum. Bandung: PT. Raja Grafindo Persada.
  4. Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.
  5. Sugiharto, B. (2005). Ilmu dan Agama dalam Kurikulum Perguruan Tinggi. Bandung: Mizan.
  6. Zuhaliy, W. (1991). Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syariah wa al-Manhaj (Vol. IV). Suriah: Dar Al-Fikr.
  7. Zuhaliy, W. (2009). Tafsir Al-Munir (Vol. 13).