PENDAHULUAN
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menyatakan di dalam Nawa Cita mengenai pentingnya meraih ketahanan pangan bagi masyarakat Indonesia. Sama halnya, pemerintah Indonesia secara tegas menuangkan amanah ketahanan, kedaulatan dan kemandirian pangan di dalam Undang-Undang RI Nomor tahun 2012 tentang Pangan. Meskipun demikian, ketahanan pangan tidak bisa diartikan sebagai kecukupan atas pangan saja. Menurut Michael Carolan (2012), seorang sosiolog pertanian dan pangan di Amerika Serikat, definisi yang lebih luas dari ketahanan pangan adalah terbangunnya ketahanan masyarakat (dalam hal kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan hidup) melalui pangan, yang dalam hal ini juga merujuk pada ketahanan pangan berbasis komunitas (community food security).
Di berbagai literatur di seluruh dunia, telah ditunjukkan bahwa sistem pangan modern saat ini sangat rentan terhadap krisis lingkungan dan ekonomi, serta tidak selalu berujung pada terbangunnya ketahanan dan kesejahteraan masyarakat. Sistem pertanian global disinyalir menjadi penyebab utama krisis pangan dunia (Rosin dkk., 2012). Di banyak kasus, investasi asing yang menjadi pendorong sistem pangan global mengarah pada pertanian skala besar yang atas dasar efisiensi, mengedepankan mekanisasi dan justru mengurangi terbukanya lapangan kerja (Hendrickson & Heffernan, 2002). Pertanian berorientasi ekspor (high value crops) juga menggantikan banyak pertanian subsisten (untuk pemenuhan kebutuhan sendiri), yang menyebabkan petani sangat bergantung pada pasar dan kehilangan kemandiriannya (Goetz, 1993; Govereh & Jayne, 2003). Di sisi lain, kestabilan harga di pasar internasional diketahui sangat rentan terhadap berbagai dinamika global, seperti peta geo-politik, harga bahan bakar fosil, dan kestabilan finansial. Krisis pangan global di tahun 2008 (Rosin dkk. 2012) memberikan contoh atas lemahnya pasar pangan internasional terhadap berbagai krisis. Banyak studi yang mengangkat sistem pangan lokal sebagai satu bentuk alternatif untuk memitigasi dampak-dampak dari sistem pangan global tersebut (Hinrichs, 2003; Allen dkk., 2003; Carolan, 2012; Dwiartama & Piatti, 2016).
Atas dasar logika di atas, artikel ini bertujuan mendokumentasikan dan memetakan potensi sistem pangan lokal sebagai bentuk ekonomi alternatif yang digerakkan oleh masyarakat sipil dan komunitas di tingkat lokal, dengan menggunakan metropolitan Bandung (Kota Bandung dan kabupaten/kota di sekitarnya) sebagai studi kasus. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran akan pangan lokal di berbagai kota besar di negara maju. Kota Bandung saat ini sedang mengalami proses pertumbuhan serupa. Berbagai gerakan akar rumput, bisnis-bisnis sosial dan komunitas minat dan hobi yang terkait dengan penyediaan pangan sehat, lokal, dan ramah lingkungan tumbuh subur di Kota Bandung. Idealnya, Kota Bandung yang dilabeli kota kreatif dapat menjadi model dalam pemenuhan ketahanan pangan di tingkat perkotaan di Indonesia, bahkan di dunia. Meskipun demikian, gerakangerakan yang ada masih tumbuh sporadis dan tidak bersinergi satu sama lain. Belum ada studi yang mendokumentasikan pertumbuhan ini dan mendorong suatu kesinergian yang mampu membawa perubahan di tingkat komunitas dan kebijakan. Oleh karena itu, artikel ini berupaya menjadi salah satu studi awal di dalam pendokumentasian inisiatif pangan alternatif ini.
KAJIAN LITERATUR
Literatur telah mengindikasikan bahwa sistem pangan lokal merupakan salah satu solusi untuk memitigasi dampak dari sistem pangan global (Hinrichs, 2003; Allen dkk., 2003). Alih-alih mendorong petani untuk menanam produk-produk ekspor bernilai tinggi untuk bersaing dengan produk impor. Sistem pangan lokal mengisyaratkan dikuatkannya ekonomi lokal melalui produksi pangan yang berkualitas untuk masyarakat itu sendiri. Penting untuk dicatat bahwa dalam kondisi ekonomi pasar bebas saat ini, produksi pangan lokal, khususnya di daerah perkotaan (urban agriculture), mungkin tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan di Indonesia. Meskipun demikian, sistem pangan lokal perlu diposisikan sebagai alternatif dan komplemen dalam mengawal dampak-dampak negatif dari sistem pangan global dan perdagangan bebas, serta membangun ketahanan melalui pangan bagi masyarakat.
Penelitian di dalam tulisan ini mengacu pada penelitian-penelitian serupa di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia tentang Gerakan Pangan
Lokal sebagai suatu gerakan penciptaan ruang-ruang alternatif atas sistem ekonomi tunggal berbasis kapitalisme (Gibson-Graham, 1996). Di dalam bukunya, The End of Capitalism (As We Knew It), J.K Gibson-Graham memaparkan, baik secara teoretis maupun praktis, bagaimana masyarakat dapat membuat perubahan yang tidak lagi bersifat frontal terhadap kapitalisme global, melainkan melalui terciptanya ruang-ruang alternatif yang bersifat lokal, baik di dalam aspek transaksi (pasar), buruh (upah) dan bentuk perusahaan (Tabel I). Berbeda dengan negara-negara maju yang menuntut formalisasi unit usaha, contoh ekonomi alternatif di Indonesia banyak muncul dari usaha-usaha informal seperti pedagang kakilima, asongan, warung lokal, dan kerja bakti. Di sisi lain, di Indonesia juga mulai tumbuh gerakan-gerakan yang terpengaruh oleh negara-negara maju, seperti wirausaha sosial (social entrepreneurs), pasar berkeadilan, dan bisnis lingkungan (green business). Ruang-ruang alternatif ini secara empiris terbukti menjadi tulang punggung ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia di saat krisis finansial 1998 dan di negaranegara Timur Tengah saat terjadi krisis pangan di tahun 2008 (Rosin dkk., 2012). Penelitian ini melihat gerakan pangan lokal yang sedang berkembang di Kota Bandung sebagai salah satu bentuk ruang alternatif tersebut.
TABEL I BENTUK EKONOMI YANG BERANEKARAGAM
| Pasar | Upah buruh | Sistem perusahaan | |
|---|---|---|---|
| Pasar alternatif: | Pengupahan alternatif: | Kapitalisme alternatif: | |
| Penjualan barang publik | Bekerja sendiri | Perusahaan negara | |
| Pasar etis / berkeadilan | Koperasi | Kapitalisme hijau | |
| Sistem perdagangan lokal | Pembayaran dengan tenaga | Perusahaan sosial | |
| Mata uang alternatif | (reciprocal labor) | Nirlaba | |
| Pasar bawah tanah | In-kind | ||
| Barter dan tukar-menukar | Kerja untuk kemanusiaan | Nonkapitalisme: | |
| Pasar informal | Komunal | ||
| Nonpasar: | Nonupah: | Mandiri | |
| Aliran barang di rumah | Kerja rumah tangga | Sistem feudal | |
| tangga | Merawat keluarga | perbudakan | |
| Pemberian hadiah | Kerja bakti | ||
| Alokasi dan penyitaan oleh | Relawan | ||
| negara | Kerja perbudakan | ||
| Berburu dan meramu | |||
| Pencurian | |||
(diterjemahkan dari: Gibson-Graham, 1996)
Clare Hinrichs (2003), seorang peneliti sosial di bidang sistem pangan lokal, menjabarkan empat dimensi sistem pangan lokal dalam kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Lokal dalam dimensi ekonomi menunjukkan perannya dalam memotong rantai pemasaran dan menguatkan ekonomi lokal. Lokal dalam dimensi sosial berperan membangun kebersamaan komunitas dan mewujudkan ketahanan pangan. Lokal dalam dimensi ekologis berperan dalam mengurangi dampak lingkungan dari pertanian intensif skala besar dan penggunaan bahan bakar fosil untuk pengangkutan hasil panen ke berbagai belahan dunia. Lokal dalam dimensi politik menunjukkan perlawanan atas hegemoni perusahaan multi-nasional (MNCs) dan tekanan perdagangan bebas. Hal ini senada dengan studi yang dilakukan oleh Hendrickson dan Heffernan (2002) tentang bagaimana sistem pangan lokal/alternatif bermaksud membuka ruang-ruang baru di tengah himpitan sistem
pangan global dan perusahaan multinasional.
Beberapa Bentuk Inisiatif Pangan Lokal dan Alternatif
Di banyak kota dan desa di belahan dunia, sistem pangan alternatif/lokal tumbuh dalam berbagai bentuk. Beberapa contoh aktivitas pangan lokal tersebut meliputi: pasar petani (farmers' market), pertanian berbasis komunitas (community-supported agriculture), kebun komunitas (community gardens), pertanian kota, skema kotak sayur (vegetable box scheme), permakultur, pertanian organik dan lain sebagainya (Dwiartama & Piatti, 2016; Piatti & Dwiartama, 2013; Carolan, 2012). Beberapa bentuk gerakan pangan alternatif yang mendunia mencakup gerakan organik yang diusung oleh IFOAM sebagai respons terhadap kerusakan lingkungan akibat Revolusi Hijau (Luttikholt, 2007), gerakan perdagangan berkeadilan (Fair trade movement) sebagai bentuk alternatif dari jalur distribusi global yang bertujuan untuk mengangkat kesejahteraan petani di tingkat lokal (Hutchens, 2009), Slow Food Movement yang bertujuan melestarikan makanan tradisional, mengembalikan rasa kebersamaan (conviviality) di dalam memproduksi dan mengkonsumsi makanan lokal dan sehat, serta mendorong petani untuk mempraktekkan pertanian yang lebih sesuai dengan karakteristik sosio-ekologis lokal (Petrini, 2003), Farmers' market sebagai alternatif terhadap pasar modern yang memutus hubungan antara produsen dan konsumen (Alkon, 2007), permakultur yang mengedepankan desain lansekap pertanian yang sifatnya lebih permanen dan sesuai dengan karakteristik ekosistem lokal (Mollison & Holmgren, 1978), serta Community-supported Agriculture (CSA) ketika konsumen membeli pangannya langsung dari petani dengan membayar di awal musim tanam untuk produk yang ingin mereka pesan (Henderson & Van En, 2007).
Gerakan-gerakan tersebut tumbuh dan bersinergi satu sama lain sehingga titik tempat beberapa kota di dunia mengadopsi gerakan-gerakan ini sebagai bagian dari kebijakan kota. Di kota-kota seperti Bristol (Inggris), Cardiff (Inggris), Roma (Italia), Vancouver (Kanada), dan Santa Barbara (Amerika Serikat), sistem pangan lokal ini telah dapat dipetakan dan diintegrasikan ke dalam kebijakan kota (Allen dkk., 2003; Hinrich, 2003; Carolan, 2012 sebagai contoh). Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah pangan dan mengantisipasi dampak perdagangan bebas dan pasar global.
Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya di Selandia Baru (Piatti & Dwiartama, 2013; Dwiartama & Piatti, 2016) telah berhasil memetakan potensi sosial dan aktor-aktor yang berperan di dalam sistem pangan lokal di Kota Dunedin. Hasil penelitian partisipatif tersebut adalah dua pertemuan besar antara para pemangku kepentingan (2012 dan 2013) yang disebut Local Food Forum dan pembentukan lembaga sosial yang disebut Our Food Network, yang melibatkan universitas, pengusaha, petani, peminat/pemerhati, LSM dan organisasi masyarakat. Di dalam forum tersebut dibahas bagaimana mengintegrasikan praktik-praktik sistem pangan lokal ke dalam kebijakan pemerintah kota. Di akhir studi ini, pemerintah Kota Dunedin telah mampu mengintegrasikan gerakan ini di dalam kebijakannya melalui pembentukan Food Council.
Di Indonesia, dan Bandung khususnya, belum terlihat upaya yang terintegrasi untuk mewujudkan sistem pangan lokal tersebut. Meskipun demikian, langkah-langkah proaktif telah dilakukan oleh pemerintah kota, pihak pengusaha dan wirausahawan sosial (social entrepreneurs), dan masyarakat (melalui gerakan akar rumput) untuk mempersiapkan hal ini.
METODE
Studi ini dilakukan di Kota Bandung dan kawasan penyokong di sekitarnya. Penekanan diberikan pada Kota Bandung karena Kota Bandung tempat aktivitas gerakan pangan lokal ini berpusat, melalui titik sentuh produsen, konsumen dan komunitas. Meskipun demikian, beberapa
narasumber yang berperan sebagai produsen juga mengelola lahan pertanian di luar Kota Bandung (Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi) sehingga lingkup penelitian ini meluas ke wilayah metropolitan Bandung yang mencakup tiga
kabupaten/kota di sekitarnya. Secara spesifik, lokasi penelitian ditentukan berdasarkan domisili dan pusat-pusat aktivitas dari inisiatif pangan yang dikaji, yang distribusinya dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Sebaran Spasial Beberapa Inisiatif Pertanian-Pangan Di Kota Bandung (Sumber: diolah dari Googlemap)
Penelitian dilakukan melalui pendekatan paradigma konstruktivisme sosial (Lincoln dkk., 2011), yang berarti bahwa realita sosial dibangun berdasarkan kesepakatan-kesepakatan antara anggota masyarakat. Karena itu, studi ini menekankan pada metodologi
penelitian kualitatif dan eksploratif. Studi ini secara spesifik mengambil pendekatan partisipatif (participatory action research; lihat Reason & Bradbury, 2008). Narasumber, bersama dengan peneliti, juga terlibat secara aktif dalam pengembangan sistem pangan alternatif. Koleksi data
dilakukan melalui penelusuran dokumen/data sekunder, wawancara terbuka/semi-terstruktur, Focus Group Discussions (FGDs) dan observasi langsung (participant observation) (Lincoln dkk., 2011; Reason & Bradbury, 2008).
Narasumber wawancara ditentukan berdasarkan purposive sampling method untuk narasumber awal (Lincoln dkk., 2011), dilanjutkan dengan snowballing sampling method. Narasumber berikutnya ditentukan dari rekomendasi narasumber terdahulu. Di dalam studi ini, kami mewawancarai 30 narasumber yang aktif di dalam inisiatif penyediaan pangan, berkisar dari petani, artisan lokal, outlet, pengelola pasar lokal alternatif dan penggerak masyarakat. Inisiatif-inisiatif pangan lokal ini dikategorikan berdasarkan karakteristik dari aktivitasnya, yang meliputi: (1) kebun organik dan permakultur, (2) artisan lokal, (3) outlet dan pasar, (4) pusat edukasi dan wisata, serta (5) kebun komunitas. Kategorisasi ini didasarkan pada penelitian terdahulu (Dwiartama & Piatti, 2016) dan rentang bentukbentuk inisiatif pangan alternatif yang berkembang di dunia saat ini (seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya). Tentunya, kategorisasi ini bersifat arbitrer dan satu inisiatif mungkin dapat melingkupi lebih dari satu kategori. Di setiap kategori tersebut, penulis melakukan penelusuran mendalam dan mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan dari masingmasing inisiatif: (1) nilai-nilai apa yang mendasari arah gerak mereka, (2) bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terlibat, (3) siapa target konsumen yang mereka tuju, dan (4) perubahan seperti apa yang inisiatif ini harapkan. Data dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis isi (content analysis; Lincoln dkk., 2011), dengan transkripsi verbatim hasil wawancara dikodifikasi sesuai tema yang telah ditentukan dan temuan yang teridentifikasi di lapangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung memiliki dinamika yang sangat menarik dalam konteks pertumbuhan gerakan pangan lokal. Bandung memiliki luas 167,31 km2 di dataran setinggi 666-891 meter di atas permukaan laut, di lahan berbentuk mangkok raksasa atau cekungan yang semula adalah kawah dari Gunung Sunda Purba. Hal ini berarti Bandung dikelilingi oleh pegunungan vulkanik yang subur. Secara administratif, cekungan ini terletak di lima daerah administrasi kabupaten/kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan lima kecamatan yang termasuk Kabupaten Sumedang. Diperkirakan terdapat sekitar 2.503.710 jiwa yang mendiami atau menetap di Kota Bandung, dengan kepadatan rata-rata mencapai 14.960 jiwa/Km2 (BPS, 2019).
Hal yang juga menarik dari Bandung adalah usia penduduk muda (di dalam kelompok umur 15-44 tahun) yang mencapai hampir 50% dari total penduduk kota, dengan projeksi pertumbuhan yang memungkinkan tercapainya bonus demografi. Anak-anak muda di Kota Bandung dikenal karena kreativitasnya, baik dalam hal seni maupun kreasi pangannya. Meskipun
demikian, sektor lapangan usaha pertanian hanya berkontribusi sebesar 0,14% dari total PDRB Kota Bandung, sementara penyediaan makanan dan minuman hanya mencapai 4,63%, dengan penyumbang PDRB utama berupa perdagangan besar dan eceran (BPS, 2019).
Kepemudaan di Kota Bandung dapat dilihat sebagai salah satu faktor pendorong munculnya gerakan pangan lokal. Berawal dari Bandung Creative City Forum yang dirintis oleh WaliKota Bandung waktu itu Ridwan Kamil, gerakan Bandung Berkebun tumbuh menjadi gerakan berskala nasional dengan wadah yang disebut Indonesia Berkebun (Antara Jawa Barat, 2015). Meskipun gerakan ini kemudian terhenti, ini menjadi pemicu munculnya gerakan lain yang berasal dari akar rumput. Penulis telah membangun jejaring dengan para pemangku kepentingan tersebut melalui simpul-simpul seperti Bandung Creative City Forum dan komunitas peduli Bandung. Di antara berbagai komunitas yang ada, penulis sejauh ini tergabung di dalam forumforum dan komunitas penyediaan pangan lokal yang digerakkan oleh Komunitas 1000 Kebun dan Agripreneur Ganesha. Dua komunitas ini dibangun atas dasar kesamaan minat dalam menyediakan pangan alternatif yang sehat, aman dan ramah lingkungan melalui berbagai bentuk: pertanian organik, hidroponik
perkotaan, pasar sehat dan pasar petani, serta tukar menukar bibit lokal (seed exchange). Komunikasi di dalam komunitas ini terutama dibangun melalui media sosial, meskipun sesekali diadakan kopi darat di kebun komunitas atau lahan salah satu anggota. Saat ini, Komunitas 1000 Kebun terdata memiliki sekitar 300 anggota, sementara Agripreneur memiliki 255 anggota dari berbagai kelompok profesi.
Potensi pemetaan komunitas serupa masih sangat tinggi, dan langkah perubahan serta inovasi yang diangkat di setiap komunitas cukup bervariasi. Sebagai gambaran, saat ini terdapat lebih dari 40 inisiatif pangan lokal yang tersebar di Kota Bandung. Inisiatif ini terhubung dalam satu payung organisasi besar yang disebut Komunitas 1000 Kebun. Di samping itu, inisiatif ini terhubung juga dengan payung lain seperti Komunitas Organik Indonesia dan Komunitas Hayu Hejo. Pada kegiatan insidental seperti Pasar Sehat yang diselenggarakan oleh Komunitas 1000 Kebun dan Pasar Hejo oleh Komunitas Hayu Hejo, inisiatifinisiatif ini berkumpul menjajakan produk-produk dan konsepkonsepnya ke masyarakat luas. Beberapa inisiatif tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Berikut ini adalah ulasan tentang masing-masing kategori inisiatif pangan lokal di Kota Bandung.
Gambar 2 Beberapa Inisiatif Pangan Di Kota Bandung (Sumber: Media Promosi Pasar Sehat 1000 Kebun)
Kebun Organik
Kebun Organik umumnya tumbuh di kawasan penyangga Kota Bandung, khususnya di daerah subur dataran tinggi seperti Lembang, Parongpong, dan Ciburial (di utara Bandung) atau Banjaran, Ciwidey, dan Pangalengan (di selatan Bandung). Setiap Kebun memiliki cerita yang unik dan ini mendasari bagaimana gerakan pangan lokal ini dibangun. Dari sejumlah pemilik kebun organik yang diwawancarai, hampir seluruhnya adalah masyarakat kota yang tidak memiliki pengalaman bertani sama sekali. Di satu sisi, para petani ini harus belajar ekstra untuk bisa mencapai hasil pertanian yang baik, terkadang melalui proses jatuhbangun dan berbagai pengalaman pahit. Di sisi lain, para petani ini layaknya kertas putih yang belum 'dikotori' oleh cara bertani konvensional gaya Revolusi Hijau yang menerapkan pupuk dan pestisida secara intensif. Mereka belajar dari berbagai sumber: buku, internet, Youtube, atau berguru ke petani organik lain yang lebih berpengalaman.
Satu petani organik besar di daerah Cikalong Wetan, Bandung Barat, adalah rujukan bagi banyak petani organik lainnya di sekitar Bandung. Pak Nahum semula adalah manajer di sebuah perusahaan multinasional, yang setelah bekerja selama puluhan tahun, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memulai hidup baru sebagai petani organik. Hal ini juga dilandasi oleh kesadaran bahwa pangan yang diperoleh dari pertanian konvensional di Indonesia dipenuhi oleh racun yang membuat keluarga dan temantemannya menderita banyak penyakit. Menurutnya, cara bertani saat ini layaknya meracuni tanah dengan narkotika, membuat tanah pertanian menjadi sangat bergantung pada pupuk sintetis dan sedikit demi sedikit 'membunuh' tanah tersebut. Pak Nahum merevolusi cara bertani di Cikalong Wetan melalui konsep organik yang ia pelajari sendiri. Melalui itu, sayur-mayurnya kini menyuplai banyak konsumen di daerah Jakarta dan sekitarnya.
Hal serupa juga dialami petani organik besar lainnya seperti Pak Suparwan, di Cisarua, yang memulai karirnya sebagai sarjana teknik elektro. Atas kesadarannya tentang gaya hidup dan pangan sehat, Pak Suparwan mengembangkan kebun organik memenuhi standar pertanian organik sebagaimana tertera dalam dokumen IFOAM. Tidak hanya itu, beliau juga membantu membangun kesadaran atas pertanian organik
melalui buku-buku yang ia tulis, serta sarana-sarana produksi pertanian yang ia jual untuk para perintis pertanian organik di Bandung. Pak Utju, di sisi lain, semula adalah pegawai di perusahaan besar milik negara, yang juga memutuskan untuk mengundurkan diri dan menjadi petani penuh waktu di lahan pertaniannya di Ciapus, Banjaran. Di sana, Pak Utju beserta rekanrekannya membeli beberapa petak lahan sawah dan mengembangkan pertanian padi dengan sistem SRI-Organik. Menyadarkan petani untuk mempraktikkan organik, menurutnya, tidaklah mudah. Akan tetapi, hasilnya tidak mengecewakan. Dengan peningkatan produktivitas padi melalui SRI-Organik, Pak Utju menjual beras organik premium ke jejaringnya, dan kini juga mengembangkan berbagai pelatihan dan pencetakan sawah organik ke banyak kelompok tani di berbagai tempat di Indonesia.
Satu hal yang menjadi benang merah di antara para petani organik ini adalah bahwa mereka muncul dari kelas menengah di perkotaan yang sadar akan pentingnya gaya hidup dan pangan sehat dan ramah lingkungan bagi dirinya dan masyarakat luas. Baik dengan membeli lahan baru di pedesaan, menyewa lahan pertanian atau bekerja sama dengan petani lokal, mereka merintis pertanian organik dari nol, mengalami naikturunnya produksi, gagal panen, serangan hama, dan penolakan dari petani sekitar. Meskipun demikian, keteguhan mereka mendorong terbangunnya reputasi dan jejaring pasar yang kuat untuk produk premium organik yang mereka hasilkan.
Artisan Lokal
Cerita artisan pangan adalah cerita yang tidak asing lagi di Kota Bandung. Berbagai bentuk inovasi pangan telah muncul dari Kota Bandung sejak lama, sebut saja batagor, siomay, surabi, hingga makanan kontemporer seperti brownies kukus, molen, keripik pedas, dan seblak. Meskipun demikian, ada yang berbeda dari para artisan ini. Inisiatif produsen olahan pangan yang diwawancarai memiliki orientasi pangan yang lokal, sehat, dan ramah lingkungan, serta ini menjadi karakter khas artisan generasi baru di Kota Bandung. Anak-anak muda yang memulai usahanya sebagai artisan sering memperoleh inspirasinya dari inovasi-inovasi pangan di negaranegara maju. Informasi yang membludak di internet begitu mudahnya diterjemahkan sebagai satu bentuk inovasi pangan, khususnya pangan yang sehat. Devi dan rekan-rekannya memulai usaha Cornrice sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti beras dari bahan baku jagung. Ide dasarnya sederhana, bahwa jagung telah banyak digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif sejak zaman dahulu di berbagai tempat di Jawa, bahkan menjadi sumber pangan utama di timur Indonesia. Seiring dengan meluasnya konsumsi beras di Indonesia, imaji bahwa 'kalau belum makan nasi, belum makan' menjadi sangat kental di berbagai kalangan masyarakat. Permasalahannya, indeks glikemik yang tinggi pada beras membuatnya menjadi salah satu sumber penyebab diabetes di Indonesia. Beras jagung yang ditawarkan oleh Cornrice diposisikan
sebagai pengganti beras dengan rasa dan tekstur yang hampir sama, dengan resiko diabetes yang lebih rendah. Inovasi lain yang berasal dari luar telah dikembangkan oleh Indokombucha, produk teh fermentasi dari Jepang dengan beragam jenis rempah-rempah. Pemilik Indokombucha awalnya bekerja di bidang IT, yang kemudian bersinggungan dengan Kombucha melalui tulisan-tulisan di internet. Mulanya, pemilik hanya menulis tentang kombucha melalui blog-nya, tetapi saat lingkungan kerja tidak mendukung, pemilik memutuskan untuk berbisnis penuh waktu mengembangkan Indokombucha, dengan pemasaran meliputi area yang luas di Pulau Jawa melalui jasa kurir. Di sisi lain, kejadian personal ketika ibu mertuanya terkena penyakit dan setelah mengkonsumsi kombucha dapat sembuh dengan cepat mendorong beliau untuk lebih serius bergerak di bisnisnya.
Cerita lain berasal dari Bu Ayu yang mengangkat kembali jamu tradisional melalui brand-nya, Rahsa Nusantara. Produk dari Rahsa Nusantara adalah minuman jamu yang diracik dari berbagai jenis rempah-rempah lokal. Inisiatif ini tidak memiliki struktur organisasi khusus karena masih berupa usaha keluarga. Segala bentuk kegiatan baik dari manajemen, produksi, hingga marketing ditangani oleh pemilik yang merupakan pasangan suami istri dan beberapa bantuan dari tiga orang mahasiswa yang melakukan internship. Inisiatif ini tidak memiliki kantor khusus, segala jenis kegiatan mulai dari produksi hingga marketing dilakukan dari rumah pribadi. Dalam satu bulan produksi jamu dapat
mencapai 175 liter. Untuk resep jamu yang diproduksi, pemilik mendapat ide dan teknologi melalui internet dan melalui trial and error. Brand Rahsa Nusantara berdiri pada tahun 2014 di Kota Bandung melalui eksperimen racikan minuman untuk menemukan cita rasa yang baru, dengan harapan agar rempah-rempah lokal mampu diangkat untuk bersaing dengan rempah-rempah luar yang sering dianggap memiliki cita rasa yang lebih baik. Sebagai contoh, Bu Ayu mencoba menggunakan kapulaga lokal sebagai bahan baku minuman, menyaingi kapulaga dari India. Melalui jatuh-bangunnya membangun pasar di Kota Bandung, dengan bantuan Komunitas Organik Indonesia dan simpul-simpul komunitas lainnya, usaha Rahsa Nusantara kini bisa berjalan dengan stabil.
Hal ini berbeda dengan Bu Ruri yang menyalurkan produkproduk madu hutan yang diproduksi oleh para artisan tradisional di Suku Baduy Dalam, Banten. Bu Ruri memulai usahanya setelah keluar dari posisinya sebagai pegawai bank. Awalnya, beliau hanya menjual produk-produk madu umum yang ditawarkan oleh saudaranya. Kecewa dengan produk yang ada, Bu Ruri diperkenalkan dengan produk lokal yang dikembangkan oleh Suku Baduy Dalam di Banten. Madu hutan yang diolah oleh suku Baduy Dalam ini diperoleh dari bunga-bunga alami di hutan, diproses tanpa menggunakan campuran lain, dan diolah secara alami dan berkelanjutan. Bu Ruri memiliki dua harapan atas usahanya. Di satu sisi, masyarakat perkotaan kelas menengah menjadi lebih sadar akan nilai lebih dari madu hutan lokal dan mau membayar lebih untuk produk lokal dan sehat. Di sisi lain, hasil penjualan madu hutan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Baduy Dalam, khususnya agar mereka selalu mau mengelola lingkungan hidupnya secara lestari, di tengah tekanan ekonomi yang sering mendorong terjadinya eksploatasi berlebih atas sumber daya hutan.
Membangun Pasar
Hal yang tidak kalah penting dari produk-produk organik dan artisan adalah pasar. Pertumbuhan pasar untuk produk pangan lokal semakin meningkat di dalam lima tahun terakhir. Pengalaman penulis dalam merintis produk pangan lokal di tahun 2005 mengungkap kenyataan bahwa kesadaran masyarakat di Kota Bandung atas pangan sehat jauh lebih tinggi saat ini ketimbang sepuluh tahun ke belakang. Di tahun 2014, sekelompok anak muda dari berbagai universitas memulai usahanya yang disebut Agritektur, yang salah satunya adalah membantu mengangkat pertanian dan petani sebagai sosok yang penting di kalangan anak muda di Kota Bandung. Melalui konsep yang mereka sebut Parappa, atau Pasar Para Petani, anak-anak muda ini mengajak satu petani untuk menjual produk sayuran dan rempah-rempah di satu pojok di Car Free Day, setiap hari minggu di Bandung. Di Parappa, konsumen dapat berinteraksi langsung dengan sang petani, bertanya tentang bagaimana produknya dihasilkan, seberapa sehat produknya, dan sebagainya – atau setidaknya itu harapan mereka. Selama satu tahun Parappa berjalan, mereka menemukan bahwa minat
masyarakat pengunjung Car Free Day berbeda dengan ekspektasi mereka, dan masyarakat ini lebih mementingkan memperoleh sayur dengan harga yang murah. Parappa pun pada akhirnya berhenti.
Satu tahun kemudian, agaknya ide tentang pasar untuk petani mulai menyebar di kalangan pemerhati pangan sehat. Beberapa inisiatif pangan (petani dan artisan) yang tergabung dalam Komunitas 1000 Kebun mendirikan payung yang disebut Pasar Sehat. Konsep dasar Pasar Sehat tidak berbeda dengan Parappa, yaitu memperkenalkan para petani dan artisan pangan lokal dan sehat ke masyarakat umum. Hal yang berbeda adalah bahwa apabila Parappa melibatkan satu orang petani, Pasar Sehat membawa hingga lebih dari 50 pengisi stand yang terlibat langsung dalam pengurusan kegiatannya. Pasar Sehat dimaksudkan sebagai kegiatan insidental, mengambil tempat di sekolah-sekolah atau tempat-tempat komunitas. Animo masyarakat cukup tinggi dengan segmen spesifik, berbeda dengan Car Free Day tempat berbagai kelompok masyarakat datang. Hal ini berarti para pengunjung adalah orang-orang yang memang memiliki kesadaran akan hidup sehat, atau setidaknya tertarik untuk memahami lebih dalam tentang apa itu pangan sehat. Sambutan yang baik ini diikuti oleh berbagai bentuk pasar serupa dari simpul komunitas yang berbeda, seperti melalui Pasar Hejo dari Komunitas Hayu Hejo, Pasar Kecil dari CreativeNet, Pasar Organik dari Komunitas Organik Indonesia, hingga kegiatan besar seperti Festival Kuliner Keuken yang telah dua tahun terakhir ini diadakan di Bandung. Bahkan, pemerintah Kota Bandung menggelar kegiatan serupa yang disebut Bandung Agri Market (BAM), menanggapi pertumbuhan minat masyarakat akan pangan sehat tersebut.
Meskipun demikian, pasarpasar fisik yang dibangun masih bersifat insidental. Penyelenggaraan pasar seperti ini, tanpa infrastruktur permanen dari pemerintah, membutuhkan effort dan waktu yang sangat besar. Bentuk pasar yang tidak kalah pentingnya adalah pasar virtual, mengikuti perkembangan tren teknologi informasi dan media sosial yang mewarnai dinamika anak muda di kota-kota besar di Indonesia. Beberapa inisiatif pangan menangkap hal ini. Warung 1000 Kebun, sebagai contoh, yang dikelola oleh Pak Aris, memfasilitasi para petani dan artisan yang ingin menyalurkan produkproduknya ke lingkaran komunitas. Beberapa anak muda mengembangkan aplikasi telepon pintar untuk membantu menyalurkan produk-produk pertanian komunitas, seperti Kebunesia, Limakilo.id, dan Gerai Hijau Online. Platform seperti ini di masa depan akan menjadi sarana penghubung komunitas yang kuat dan pemicu terbangunnya gerakan pangan lokal yang lebih terstruktur.
Di sisi lain, outlet berupa restoran, café, dan kantin sehat juga menjadi faktor penting. Beberapa outlet pangan sehat seperti Serasa, Salam Sehat dan Salad Corner menjadi contohnya. Penulis mewawancarai Fitri, pemilik dan pengelola Café Serasa yang memulai usahanya bersama adiknya. Fitri menjual makanan dan minuman dengan sebisa mungkin
menggunakan bahan-bahan dari para petani lokal. Sayurannya untuk salad diperoleh dari para petani organik di sekitar Bandung. Minumannya adalah produk-produk buatan para artisan yang dititipkan di tokonya. Fitri tidak pernah mau melabeli café-nya dengan label organik atau lokal. Baginya, menarik pengunjung untuk mau mengonsumsi makanan sehat seperti sayur-sayuran adalah satu pencapaian tersendiri, dan melabeli sayurannya dengan label organik justru akan menjauhkan banyak orang dari konsep pangan sehat. Berbeda dengan Fitri, Caecilia mengelola Café Salam Sehat di rumah pribadi milik Bu Cynthia di Jalan Salam. Bu Cynthia sendiri adalah petani organik dan penganut gaya hidup sehat dan holistik, yang semula mengembangkan lahan pertanian organiknya di daerah Parongpong untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Salam Sehat berkembang melalui blend produk-produk makanan tradisional Indonesia dan barat, tetapi menggunakan bahan-bahan lokal, organik dan sehat. Dua contoh outlet ini mendorong terbangunnya tren gaya hidup sehat di kalangan konsumen, yang pada akhirnya akan mendorong pula engagement masyarakat dengan produk-produk segar dari petani dan artisan di pasarpasar yang diceritakan di atas.
Pusat Wisata dan Edukasi
Sementara aktivitas ekonomi seputar pemenuhan kebutuhan pangan sehat dan lokal telah dikerjakan oleh para petani, artisan, dan penyedia pasar, membangun pasar juga berarti membangun kesadaran masyarakat atas pangan sehat tersebut. Beberapa inisiatif yang memulai usahanya dari lahan pertanian kini beralih menjadi pengelola pusat wisata dan edukasi, khususnya di daerah yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat umum. Peralihan ini tidak semata karena masalah produktivitas, tetapi karena nilai tambah dapat diperoleh di level lahan itu sendiri. Satu contoh pusat wisata yang berkembang adalah yang dijalankan oleh Pak Dandi di Tani Kota. Tani Kota bermula dari beberapa hektar lahan kosong di sekitar pemukiman padat di Kota Bandung. Lahan yang semula akan dikembangkan sebagai pemukiman tidak memperoleh izin dari pemerintah, dan Pak Dandi melihat ini sebagai kesempatan untuk mengelola wisata tani di tengah kota. Atas seizin pemilik lahan, kawasan pertanian berbasis organik dijalankan. Satu tahun pertama merupakan tahap yang berat. Di satu sisi, lahan wisata mensyaratkan setidaknya terdapat variasi dari komoditas yang dikembangkan, sehingga pengelola tidak bisa mengandalkan bandar untuk menjual produknya. Di sisi lain, orientasi wisata tani yang berkembang di Kota Bandung adalah mengunjungi lahan pertanian di daerah pedesaan di tepian Bandung yang asri, sejuk, dan jauh dari hingar bingar kota. Di Tani Kota, hal tersebut tidak diperoleh. Saat bertani, kita masih bisa menyaksikan apartemen-apartemen besar mengelilingi kebun, dan suara kendaraan masih sayup-sayup terdengar lalu lantas. Upaya Pak Dandi meningkatkan animo masyarakat dilakukan dengan menyelenggarakan Festival Tani Kota, bekerja sama dengan komunitas-komunitas di Kota
Bandung, dan mengundang sekolahsekolah untuk berkunjung. Dengan mempertahankan lahan sebagai area pertanian, tidak hanya Pak Dandi mampu menyediakan sarana pembelajaran untuk anak-anak muda di Kota Bandung, tetapi juga mempertahankan ruang terbuka hijau di tengah desakan lahan pemukiman.
Di tempat lain, Kebun Belajar memang sejak awal dimaksudkan sebagai sarana belajar bagi anak-anak usia dini. Seiring waktu, Bu Ramalis dan rekan-rekan di Yayasan Pilar Tunas Nusa menyadari bahwa membangun pusat belajar membutuhkan proses yang tidak sebentar. Alhasil, Kebun Belajar kemudian difungsikan sebagai sarana pembelajaran dan wisata bagi siapa pun yang tertarik. Bu Ramalis mengemas Kebun Belajar melalui isu pemekaran kota (urban sprawling) dan pengurangan lahan sawah. Pengunjung diajak untuk mengikuti proses belajar dengan menaiki kereta api ekonomi dari Bandung ke daerah Rancaekek di daerah timur, sambil menyaksikan perubahan tata kota dan ancaman yang ada bagi kawasan penghasil pangan di daerah selatan dan timur Bandung. Kebun Belajar sendiri didesain untuk menyediakan pangan yang bervariasi bagi pengelola. Di lahan seluas kurang dari 2000 m, yang di dalam agronomi dikategorikan sebagai lahan pertanian subsisten, kebun permakultur mengelilingi lahan sawah padi yang disusun atas lebih dari 200 jenis tanaman pangan. Kombinasi pohonpohon buah, rempah-rempah, sayuran dan tanaman pangan diestimasi mampu menyediakan pangan bagi satu rumah tangga secara bervariasi sepanjang tahun. Diversifikasi
pangan ini juga membantu saat terjadi kegagalan panen dari satu komoditas tertentu. Bu Ramalis juga mengajarkan cara mengolah produkproduk pertanian tersebut menjadi berbagai variasi makanan, seperti es krim, selai, atau teh.
Sementara kedua inisiatif ini mengangkat isu alih fungsi lahan sebagai faktor pendorongnya, Pak Luky dan Rumah Kayu Permakultur sepenuhnya menekankan pada isu kesehatan diri dan lingkungan. Di lahan di tepian Bandung, Pak Luky membangun kawasan terpadu berbasis permakultur bagi siapa pun yang ingin belajar tentang pertanian dan gaya hidup sehat. Konsep serupa lebih dulu dikembangkan di Yayasan Bumi Langit di Imogiri, Yogyakarta, tempat pertanian permakultur yang dikembangkan menjadi atraksi wisata dan pusat pembelajaran bagi anakanak muda, terkadang juga dari luar negeri. Rumah Kayu mengundang anak-anak muda pemerhati pertanian dan pangan untuk terlibat dan mengembangkan bersama berbagai bentuk teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hal yang mendorong Pak Luky untuk membangun ini karena penyakit yang dideritanya. Sejak divonis menderita Lupus, Pak Luky yang semula bekerja di sektor swasta, memutuskan untuk belajar secara mendalam tentang pangan dan cara hidup sehat. Orientasi Rumah Kayu bukanlah komersial belaka, dan lahan pertaniannya tidak dikelola untuk menghasilkan keuntungan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat baginya dan para relawan di dalamnya. Sama halnya dengan Rumah Kayu, Eco Camp yang dijalankan oleh Yayasan Sahabat
Lingkungan Hidup juga membangun sebuah wadah pembelajaran tentang gaya hidup holistik dan organik melalui arsitektur hijau, pertanian organik, dan kedai vegetarian.
Kebun Komunitas
Bentuk terakhir dari inisiatif pangan lokal yang ada dalam kategori penulis adalah kebun komunitas, yang didefinisikan sebagai lahan pertanian yang berada di lahan publik (atau lahan privat yang dipinjamkan) dan dikelola bersama-sama oleh anggota masyarakat secara komunal. Kebun komunitas menjadi tren yang berkembang di Bandung dan Indonesia secara umum, khususnya ketika dipopulerkan oleh Ridwan Kamil di dalam gerakan Indonesia Berkebun. Di Bandung, Walikota menetapkan program yang disebut RW Berkebun, setiap RW diminta (dan didanai) untuk mengelola satu petak lahan pertanian untuk kebutuhan pangan masyarakat. Kebun komunitas tidak dimaksudkan untuk memenuhi 100% kebutuhan pangan tentunya, tetapi setidaknya mampu membangun kesadaran dan rasa kebersamaan di antara anggota masyarakat. Dalam dua tahun sejak program ini berjalan, pada akhirnya hampir tidak ada lagi RW yang masih terlibat di dalam lahan pertanian komunalnya.
Salah satu di antara RW yang masih menjalankan kebun komunitas adalah Cibunut, yang dibina oleh Bu Tini dari Gerakan Sehat Selalu Ikhlas (GSSI). Cibunut adalah daerah padat penduduk di tengah Kota Bandung yang berdekatan dengan tekanan pembangunan. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, daerah ini telah bertransformasi menjadi sebuah
kawasan kreatif yang dimotori oleh anak-anak muda. Pertanian bukanlah aktivitas utama, tetapi menjadi salah satu pemicu terbangunnya rasa kebersamaan, tidak hanya di antara anak-anak muda, tetapi juga ibu-ibu dan bapak-bapak di dalam RW tersebut. Contoh lain RW yang sukses dalam membangun kebun komunitas adalah di Arcamanik, tempat beberapa tokoh masyarakat merupakan pendiri dan aktivis di dalam Komunitas 1000 Kebun.
Diskusi
Narasi tentang inisiatif pangan lokal di Bandung di atas didirikan oleh beberapa kesamaan, dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang mendasari inisiatif tersebut, karakteristik dari orang-orang yang bergerak di dalamnya, target konsumen atau masyarakat yang disentuh, serta bentuk perubahan yang diharapkan. Tabel 2 merangkum kesamaan-kesamaan tersebut di inisiatif pangan lokal di Bandung. Beberapa hal yang berulang adalah bahwa inisiatif pangan lokal ini mengangkat nilai-nilai yang koheren, seperti regenerasi lingkungan, pangan dan gaya hidup sehat, pemberdayaan masyarakat lokal, serta upaya untuk mengedukasi masyarakat perkotaan tentang nilai-nilai tersebut. Di dalam kerangka sistem pangan lokal yang dibangun oleh Hinrichs (2003), nilainilai ini bersentuhan dengan empat dimensi lokal, yaitu lingkungan (terkait dengan pemulihan ekosistem lokal), sosial (pemberdayaan masyarakat lokal), ekonomi (memotong rantai pasok dan mempertemukan petani dan konsumen), serta, dalam tingkat tertentu, dimensi politik, melalui upaya membangun ruang-ruang alternatif. Satu hal yang juga berulang diangkat di dalam inisiatif pangan lokal adalah dimensi kesehatan, yang jarang diangkat di dalam diskusi tentang sistem pangan lokal.
TABEL II KARAKTERISTIK INISIATIF PANGAN LOKAL DI BANDUNG
| Kategori | Nilai-nilai | Karakteristik | Target | Bentuk |
|---|---|---|---|---|
| dasar | penggerak | konsumen | perubahan | |
| Kebun | Regenerasi | Tokoh senior | Masyarakat | Kesadaran |
| organik | lingkungan | yang | kelas | masyarakat |
| Menghasilkan | menemukan | menengah | akan pangan | |
| pangan sehat | titik balik | yang peduli | sehat dan | |
| kesehatan | kelestarian | |||
| lingkungan | ||||
| Artisan | Menghasilkan | Anak muda | Anak muda | Kesadaran |
| lokal | pangan sehat | dengan ide | dan | masyarakat |
| Pemanfaatan | inovatif | penduduk | akan pangan | |
| sumberdaya | senior yang | sehat dan | ||
| lokal | peduli | kelestarian | ||
| Pemberdayaan | kesehatan | lingkungan | ||
| petani lokal |
| Outlet & | Pemberdayaan | Anak muda | Masyarakat | Penghargaan |
|---|---|---|---|---|
| pasar | petani lokal | dengan ide | kelas | masyarakat |
| Edukasi | inovatif | menengah | terhadap | |
| konsumen | yang peduli | petani dan | ||
| kesehatan | produk lokal | |||
| Pusat | Antisipasi alih | Tokoh senior | Sekolah, | Kesadaran |
| edukasi | fungsi lahan | yang | komunitas, | masyarakat |
| dan wisata | Edukasi | menemukan | anak muda | tentang |
| masyarakat | titik balik | yang tertarik | perubahan | |
| Penerapan | dengan | lingkungan | ||
| gaya hidup | wisata | dan 'kembali | ||
| sehat | lingkungan | ke alam' | ||
| Kebun | Penguatan dan | Tokoh senior | Anggota | Kohesi |
| komunitas | pemberdayaan | penggerak | masyarakat | komunitas, |
| komunitas | masyarakat | (ibu-ibu, | kesadaran | |
| lokal | bekerjasama | anak muda) | masyarakat | |
| Edukasi | dengan anak | lokal | atas isu-isu | |
| masyarakat | muda yang | sosial / | ||
| inovatif | lingkungan |
Inisiatif pangan lokal dibangun sebagai ruang alternatif atas sistem konvensional yang dianggap tidak lagi efektif. Ruang-ruang alternatif ini setidaknya sejalan dengan beberapa kategori yang ditawarkan oleh Gibson-Graham (1996), seperti pasar berkeadilan (ketika harga tidak dibangun sepenuhnya oleh fungsi supply dan demand), pasar perdagangan lokal, pasar informal (ketika institusi pasar dan regulasi pemerintah tidak berperan), dan kerelawanan. Hal yang menarik di dalam kasus inisiatif pangan lokal ini adalah bahwa faktor penggerak kerelawanan ini adalah ide-ide inovatif yang dibawah oleh anak-anak muda yang dikombinasikan dengan konsistensi, jejaring, dan kekuatan modal sosial dari warga senior yang lebih berpengalaman. Hal ini serupa dengan gerakan pangan alternatif di kota-kota di negara lain seperti di
Selandia Baru (Dwiartama & Piatti, 2016).
Lokalitas dari inisiatif pangan di Kota Bandung jelas berbeda dengan gerakan-gerakan alternatif bertaraf internasional seperti IFOAM, Fair Trade, Slow Food atau CSA International, sebagaimana dibahas di kajian literatur. Meskipun demikian, karakteristik perubahan yang didorong oleh inisiatif pangan lokal ini dapat dikatakan mampu merepresentasikan semangat yang dibawa oleh gerakan pangan alternatif dunia. Pertanian organik dan permakultur lokal jelas terinspirasi oleh organisasi besar seperti IFOAM yang bertujuan untuk meregenerasi tanah dan lingkungan hidup, meskipun standar organik yang dipakai bisa jadi sedikit berbeda. Di sisi lain, rantai pasok pendek di pasar lokal dan perubahan yang dibawa oleh artisan lokal selaras dengan semangat perdagangan berkeadilan (fair trade), yang tujuannya adalah memberdayakan produsen dan membangun hubungan antara produsen dan konsumen. Terakhir, kebun komunitas menerapkan sistem yang sejalan dengan prinsip-prinsip Slow Food Movement yang bertujuan membangun kebersamaan dalam menghasilkan pangan.
Dari semua inisiatif pangan lokal ini, perubahan mendasar yang ingin dicapai terutama adalah membangun kesadaran masyarakat atas pangan lokal dan sehat serta memberdayakan masyarakat untuk menyediakan dan memilih pangannya sendiri melalui cara-cara yang juga memberdayakan petani kecil dan lokal. Menurut Carolan (2012), perubahan ini menjurus pada konsep ketahanan komunitas (melalui) pangan yang sehat. Secara statistik, inisiatif pangan lokal ini masih jauh dari kontribusinya terhadap ketahanan pangan di tingkat regional Bandung. Meskipun demikian, dalam tingkat rumah tangga dan komunitas, ketahanan pangan (yang didefinisikan sebagai kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan yang sehat untuk kehidupan masyarakat yang aktif) dapat terbangun melalui inisiatif-inisiatif yang berjejaring sebagai sebuah gerakan. Hal yang perlu dilakukan kemudian adalah memperluas skala dan pengaruh dari inisiatif pangan lokal ini untuk menjangkau lebih banyak anggota masyarakat dan menyentuh kebijakan penyediaan lokal di tingkat kota.
SIMPULAN
Penelitian ini telah berhasil mendokumentasikan secara mendalam setidaknya 30 inisiatif pangan lokal yang ada di Kota
Bandung dan kawasan penyokongnya, yang termasuk ke dalam lima kategori inisiatif. Setiap inisiatif ini digerakkan oleh nilai-nilai dasar yang sama, seperti regenerasi dalam lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, pemanfaatan sumber daya hayati lokal, penyadaran akan pangan dan gaya hidup sehat, dan penguatan komunitas lokal. Semua nilai ini selaras dengan gerakan pangan alternatif di tempat lain di dunia dan menjadi fondasi di dalam membangun gerakan yang berpotensi mendorong arah kebijakan yang lebih kondusif untuk pemenuhan ketahanan pangan lokal di tingkat komunitas. Dari paparan di atas, dapat ditarik setidaknya dua pembelajaran: (1) setiap inisiatif tidak dapat mencapai posisinya sekarang tanpa adanya jejaring kerja sama antarinisiatif tersebut dan (2) setiap inisiatif memberikan kontribusi terhadap terbangunnya ketahanan pangan di Kota Bandung.
Di sisi lain, tulisan ini juga menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dicapai melalui kebijakan tunggal di level pemerintah. Ketahanan pangan adalah agregasi berbagai bentuk upaya, tidak hanya di dalam definisi pertanian yang sempit, tetapi di dalam satu sistem pertanian-pangan (agrifood system) yang luas. Pemuda secara khusus dapat mengambil peran di sepanjang spektrum sistem tersebut dan ini jelas ditunjukkan di dalam penelitian ini. Hal yang menjadi tantangan adalah bagaimana inovasiinovasi di berbagai rantai pangan dapat secara nyata dipraktikkan dan diterima oleh masyarakat, dan bagaimana inovasi-inovasi tersebut berjalan beriringan satu sama lain.
