PENDAHULUAN
Salah satu sarana lingkungan dengan kawasan kompleks yang sering terjadi kepanikan adalah rumah sakit. Khususnya di rumah sakit, kecepatan dan ketanggapan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan sehingga diperlukan suatu layanan tersendiri yang bersifat mandiri untuk memenuhi kebutuhan pengunjung atau pasiennya dalam menenemukan arah tujuan yang dimaksud. Fasilitas signage dapat membantu meminimalisir kepanikan untuk kawasan yang kompleks. Signage merupakan sistem tanda grafis yang diperlukan masyarakat dalam mencari lokasi dan informasi lain yang berkaitan (Calori dan Vanden-Eynden, 2015). Signage dan wayfinding terbagi menjadi beberapa jenis klasifikasi serta fungsi berdasarkan konten informasi yang disampaikan pada signage tersebut di antaranya identifikasi, petunjuk arah, peraturan dan larangan, serta orientasi (Gibson, 2009: 47).
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung memiliki area kurang lebih sembilan hektar, berada di bawah naungan Kementrian Kesehatan Indonesia. Terletak di Jalan Pasteur No. 38, Kota Bandung, Jawa Barat, rumah sakit ini merupakan Rumah Sakit Umum (RSU) Kelas A yang menjadi pusat rujukan daerah Jawa Barat dan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UNPAD (Universitas Padjajaran). Dengan demikian, terdapat banyak pengunjung, pasien, dosen dan mahasiswa yang berasal dari Bandung dan luar daerah Bandung. Oleh sebab itu, penting
akan signage yang informatif dan efektif mengingat pengguna dari rumah sakit yang memiliki berbagai latar belakang. Dengan adanya signage, akan membantu pengunjung atau pasien (audiens utama) untuk lebih cepat menemukan tempat tujuan yang dimaksud. Signage pun dapat membantu efektivitas kinerja dari para dokter, perawat, dan staff rumah sakit (audiens sekunder).
Signage yang tersedia belum berfungsi sebagaimana fungsinya sehingga dapat disebut belum informatif. Ditambah lagi belum terdapat keselarasan antara signage satu dengan yang lainnya. Masih terdapat perbedaan material dan penempatan layout elemen grafis dalam signage yang ada. Di samping itu, identitas visual yang diterapkan pada signage yang sudah tersedia masih kurang kuat karena hanya menggunakan satu identitas warnanya yaitu warna jingga. Berdasarkan pengamatan empiris, beberapa signage yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung belum memenuhi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi. Faktorfaktor tersebut antara lain seperti pencahayaan sekitar, garis penglihatan, dan latar belakang tanda (Puspitasari & Darmawan, 2013).
Hal tersebut diperoleh dengan beberapa bukti sebagai berikut. Berdasarkan observasi, pengguna masih membutuhkan banyak waktu untuk membaca informasi yang ditampilkan pada signage sebab informasi yang ditampilkan terlalu padat. Selain itu, masih belum terdapat kesatuan pada signage yang ada, seperti terdapatnya perbedaan material; yaitu ada signage yang bermaterial akrilik dan ada pula bermaterial kayu dan kaca. Terdapat pula perbedaan penempatan elemen grafis di dalam signage yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin, yaitu terdapat signage yang hanya bertuliskan nama gedung, namun ada pula signage yang terdiri dari logo kesehatan, logo rumah sakit, dan nama gedung.
Berdasarkan wawancara kepada sekuriti, setiap harinya sekitar ratusan hingga ribuan pengunjung masih menanyakan lokasi tertentu di RSUP Dr. Hasan Sadikin kepada sekuriti atau petugas rumah sakit terdekat mengenai lokasi tempat yang akan dituju. Hal ini mengindikasikan kebingungan pengunjung atau pasien, terlebih lagi jika pengunjung atau pasien tersebut baru pertama kali datang ke RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Berdasarkan pengalaman pribadi, tidak jarang beberapa petugas kesehatan atau sekuriti yang ada pun kurang hafal mengenai lokasi yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sehingga masih sering terjadi salah mengunjungi lokasi yang dituju kemudian harus bertanya lagi kepada petugas terdekat.
Cara yang dapat dilakukan ialah dengan memperbaiki fasilitas
petunjuk arah agar lebih efektif. Pelayanan petunjuk arah tersebut dapat dimaksimalkan dengan merancang signage yang informatif, efektif dan terintegrasi dengan media pendukung yang dapat diakses dengan mudah oleh pengunjung. RSUP Dr. Hasan Sadikin sendiri telah memiliki aplikasi yang bernama RSHS Mobile namun sebatas fitur reservasi rawat jalan, contact center, dan jadwal pelayanan beserta dokter yang bertugas. Oleh karena itu, pembuatan fitur navigasi pada aplikasi RSHS Mobile, yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat yang kini mayoritas telah memiliki smartphone, dapat menjadi terobosan baru dalam pemecahan solusi yang dapat memaksimalkan pelayanan petunjuk arah. Smartphone merupakan perangkat yang mudah dibawa-bawa dan bersifat personal. Perangkat ini sering digunakan dalam beraktivitas keseharian seseorang, dari berkomunikasi, hiburan, aktivitas bisnis, informasi, transaksi, dan sebagainya menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup generasi modern (Widyaharsana, 2010: 72- 74).

Gambar 1 Kerangka Pemikiran (Sumber: dokumentasi penulis)
Gambar 1 menunjukkan kerangka pemikiran perancangan signage yang terintegrasi fitur navigasi pada aplikasi. Diasumsikan, dalam menyusun signage dan wayfinding yang baik harus memperhatikan sistem grafis berupa layout, tipografi, piktogram dan warna yang terdapat di dalam signage dan wayfinding tersebut. Sistem hardware seperti ergonomi, penempatan serta pemasangan dan apa material yang sesuai dengan kondisi perlu pula dipertimbangkan. Untuk terintegrasi dengan Mobile Apps Navigasi, User Interface (UI) aplikasi seperti elemen layout, tipografi, warna, iconografi, layout dan positioning harus diperhatikan; demikian halnya dengan User Experience (UX) Aplikasi untuk memahami target audiens.
METODE
Proses perancangan ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan pengamatan secara langsung objek yang diteliti ke lokasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, baik itu signage dan wayfinding serta audiens utama yang terdapat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Dokumentasi dilakukan dengan merekam gambar dari projek signage, wayfinding, dan aplikasi terdahulu yang telah dimiliki RSUP Dr. Hasan Sadikin.
Wawancara dilakukan kepada narasumber pakar bidang signage serta bidang perancangan user interface aplikasi dengan proses tatap muka secara langsung dan menggunakan alat perekam suara. Wawancara dilakukan juga kepada pihak manajemen dan sekuriti RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Adapun kuesioner yang disebar meliputi pertanyaan seputar pemahaman signage serta mobile application. Kuesioner disebarkan langsung secara offline kepada 50 audiens utama (pengunjung, tamu, pasien) dan 50 audiens sekunder (dokter, perawat, staff rumah sakit) yang berada di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Profil responden ditunjukkan pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2 Profil Responden (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Data sekunder menggunakan studi pustaka dengan menggumpulkan data dan mengadakan penelaahan terhadap buku, literatur, jurnal serta laporan secara cetak maupun digital yang berkaitan mengenai topik objek yang diteliti.
Analisis data menggunakan metode analisis matriks yang terdiri dari kolom dan baris yang berisi perbandingan data penulisan dan kumpulan informasi lain dengan poin teori (Soewardikoen, 2013: 50). Data yang dianalisis adalah data dokumentasi perekaman gambar signage dan wayfinding serta tampilan aplikasi yang dimiliki RSUP Dr. Hasan Sadikin, serta RSUP Dr. Sardjito dan RS Hermina Pasteur Bandung sebagai perbandingan. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dipilih sebagai pem-banding karena memiliki kesamaan berupa Rumah Sakit Umum Kelas A, serta memiliki smartphone application sendiri yang bernama Pendaftaran Online Sardjito. RS Hermina Pasteur Bandung dipilih karena merupakan salah satu Rumah Sakit Swasta yang memiliki 25 jaringan rumah sakit di seluruh Indonesia serta telah memiliki smartphone application. Analisis matriks yang dilakukan yaitu menggunakan sampel beberapa karya visual yang relevan dengan objek yang diteliti yaitu signage dan wayfinding serta aplikasi rumah sakitnya. Kemudian dilakukan penarikan simpulan dari rangkuman beberapa analisis matriks tersebut.
Analisis isi kualitatif ini merupakan perpaduan analisis isi objektif dengan observasi partisipan, sehingga periset berinteraksi dengan material-material dokumentasi atau bahkan melakukan wawancara
mendalam sehingga pernyataanpernyataan yang spesifik dapat diletakkan pada konteks yang tepat untuk dianalisis (Kriyantono, 2008: 249). Analisis isi kualitatif dilakukan terhadap data yang diperoleh dari wawancara mendalam dengan narasumber ahli bidang signage dan aplikasi, pihak manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin, serta sekuriti yang bertugas di RSUP Dr. Hasan Sadikin.
Analisis data kuesioner menggunakan CrossTab (tabulasi silang) untuk menampilkan kaitan antara dua atau lebih variabel, hingga menghitung apakah terdapat kekuatan hubungan antara baris (sebuah variabel) dengan kolom (sebuah variabel yang lain). Ciri penggunaan analisis ini adalah data input berskala nominal atau ordinal, seperti tabulasi antara gender seseorang dengan tingkat pendidikan orang tersebut atau pekerjaan seseorang dengan sikap orang tersebut dengan suatu produk tertentu dan contoh lainnya (Santoso, 2009 : 214). Analisis crosstab digunakan untuk menghitung apakah terdapat hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain; seperti, apakah terdapat pengaruh usia atau gender dengan kekurangan signage yang terdapat di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan hubungan variabel lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan observasi, disimpulkan bahwa signage yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin membutuhkan sisi point of interest yaitu warna yang lebih mencolok yang tidak memicu sakit mata serta dibutuhkan benang merah pada setiap desain dan meterial. Diperlukan pula Orientation Signs dengan ukuran yang besar yang diletakkan di tiap titik alur pintu masuk audiens.
Berdasarkan data wawancara, dapat disimpulkan bahwa diperlukan riset yang kuat sebelum mendesain signage seperti mengenali lebih dalam siapa target audiensnya, jarak pandang, alur/flow pengunjung, material dengan spesifikasi rendah ke tinggi untuk dipasang di indoor atau outdoor untuk meminimalisasi budget. Dalam merancang signage haruslah informatif, efektif dan menarik. Pembaharuan signage diperlukan sebab banyak ruangan yang telah berubah. Penyusunan arah signage sebaiknya didasarkan pada ruangan terdekat dari signage yang bersangkutan. Pengembangan konsep perancangan signage yang bersangkutan dengan tema rumah sakit perlu dikembangkan. Dalam eksekusi perancangan, tetap perlu memerhatikan identitas visual pada logo dan bangunan rumah sakit. Dalam pembuatan aplikasi, User Experience perlu diperkuat agar User Interface yang dihasilkan baik dan benar.
Terdapat komponen penting untuk merancang User Experience Design, diantaranya Information Architecture (IA), Interaction Design, Usability, Prototyping, dan Visual Design (Ngai, 2017). Tidak lupa aspek grid, identitas korporat hingga elemen grafis lainnya perlu
diperhatikan dalam perancangan User Interface. User interface design memiliki tujuan yaitu merancang tampilan muka yang efektif dan siap digunakan serta sesuai dengan kebutuhan pengguna untuk sistem perangkat lunak (Proboyekti, 2012: 1).
Berdasarkan data hasil kuesioner, tardapat salah satu faktor tertinggi di antara berbagai pilihan pada setiap nomor. Hal itu menunjukkan pilihan mayoritas dari responden yang akan dijadikan pedoman dalam perancangan visual. Responden sebagian besar berusia 25-35 tahun yang kebanyakan bekerja sebagai karyawan dan berpendidikan terakhir sarjana. Lebih dari 50% responden masih bertanya kepada satpam saat mencari ruangan. Responden mayoritas mengatakan bahwa signage yang ada sudah menarik namun mereka masih kurang cepat dalam memahami signage terebut disebabkan tiga faktor, yaitu tidak adanya gambar, terlalu banyak informasi dan kurang tepatnya lokasi pemasangan signage. Padahal menurut teori, tanda sebagai pengantar atau penyampai pesan sebaiknya dapat dilihat sepersekian detik saja (Puspitasari & Darmawan, 2013). Untuk tampilan signage, dari empat pilihan yang disediakan, terdapat dua mayoritas tampilan yang dipilih responden (Gambar 3).
Gambar 3 Desain Signage yang Dipilih Responden (kiri a dan kanan b) (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Lebih dari 90% responden setuju akan adanya media lain untuk memudahkan mereka mencari ruangan di RSUP Dr. Hasan Sadikin. 97% responden sudah memiliki smartphone android atau iOS, dan hampir 100% responden setuju akan
adanya tambahan fitur navigasi di aplikasi RSHS Mobile. Untuk tampilan fitur navigasinya, 50% lebih responden lebih memilih tampilan sebagaimana diilustrasikan pada gambar 4.
Gambar 4 Tampilan Fitur Navigasi yang Dipilih Responden (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Dengan menggunakan analisis crosstab, dapat diketahui hubungan antar satu variabel dengan variabel lainnya. Setelah dilakukan perhitungan terhadap variabel pendidikan terakhir dengan tingkat kecepatan pemahaman signage, tidak ditemukan hubungan di antara keduanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden, tidak menunjukkan semakin mudah dalam memahami signage yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Berbeda halnya dengan hubungan antara usia dengan pemilihan tampilan signage. Mayoritas usia 17-25 tahun memilih tampilan b. Namun usia 25-35 lebih memilih a dan 35-50 memilih b (Gambar 3). Maka terdapat pengaruh antara usia dengan pilihan tampilan signage di mana semakin dewasa memilih tampilan yang lebih sederhana.
Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa saat mencari ruangan di RSUP Dr. Hasan Sadikin, audiens masih bertanya kepada satpam dan kurang mengandalkan signage, sebab signage tersebut tidak ada gambar/ piktogram, terlalu banyak informasi dan lokasi penempatannya tidak tepat. Audiens pun setuju dengan adanya fitur tambahan di aplikasi RSHS Mobile untuk mengarahkan ke lokasi tujuan dengan tampilan Gambar 4.
Signage dan Wayfinding Conventional
Tabel I memaparkan analisis data projek signage terdahulu di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan projek Sejenis pada RSUP Dr. Sardjito dan RS Hermina Pasteur Bandung.
TABEL I ANALISIS PROJEK SIGNAGE TERDAHULU
| RSUP Dr. Hasan Sadikin | RSUP Dr. Sardjito | RS Hermina Pasteur Bandung | |
|---|---|---|---|
| Layout | Panah lebih besar dari tipografi, posisi stacked, dan ada jarak antar elemen grafis terlihat cukup jelas. | Panah berukuran sama dengan tipografi, posisi side-by-side, grafis terlalu dekat sehingga membuat bingung saat dibaca. | Smbol angka lebih besar dari tipografi, posisi side by-side, perlu jarak antar elemen grafis |
| Tipografi | Jenis huruf sans serif dengan light bold rounded. | Jenis huruf sans serif kurus tinggi dengan huruf besar semua. | Jenis huruf sans serif kurus tinggi dengan light bold dan huruf besar semua. |
| Warna | Huruf kontras dengan background dan cukup menggambarkan identitas visual dimana menggunakan warna oranye yang diambil dari logo. | Huruf kontras dengan background, piktogram warna lebih muda sehingga mudah terlihat dan menggambarkan identitas visual | Huruf kontras dengan background, dan meng gambarkan identitas visual dimana menggunakan warna hijau yang diambil dari logo. |
| Piktogram | Menggunakan panah. | Menggunakan panah. | Tidak memakai pictogram |
| Pemasangan | Freestanding. | Flat wall-mounted. | Flat wall-mounted. |
| Material | Besi dengan lapisan cat dan huruf timbul akrilik | Material menggunakan akrilik berlaminasi doff. | Material menggunakan akrilik berlaminasi doff. |
| RSUP Dr. Hasan | RSUP Dr. Sardjito | RS Hermina Pasteur | |
|---|---|---|---|
| Sadikin | Bandung | ||
| Layout | Simbol lebih besar | Simbol lebih besar dari | Simbol sama besar dengan |
| dari-pada | pada tipografi; posisi | tipografi; posisi stacked; ada | |
| tipografi; posisi | stacked; ada jarak antar | jarak antar elemen grafis; | |
| stacked; ada jarak | elemen grafis | namun antarkalimat dalam | |
| antar elemen grafis | tipografi masih terlalu dekat. | ||
| Tipografi | Sans serif dengan | Jenis huruf sans serif | Jenis huruf sans serif kurus |
| sedikit light bold | kurus tinggi dengan huruf | tinggi bold dan huruf besar |
| rounded huruf | besar semua. | semua. | |
|---|---|---|---|
| besar semua. Memakai kode | Memakai kode warna | Memakai kode warna | |
| Warna | |||
| warna | |||
| Piktogram | Simbol dan | Simbol dan keterangan | Simbol dan keterangan |
| keterangan tulisan | tulisan di bawahnya. | tulisan di bawahnya | |
| di bawahnya. | |||
| Pemasangan | Flat wall-mounted. | Freestanding. | Flat wall-mounted. |
| Material | Akrilik. | Aluminium. | Kertas dilaminasi. |
| RSUP Dr. Hasan Sadikin | RSUP Dr. Sardjito RS Hermina | ||
| Pasteur | |||
| Bandung | |||
| (Tidak | |||
| Tersedia) | |||
| Layout | Diagram kurang | terlihat Diagram denah terlihat. | - |
| jelas; tulisan masih terlalu | posisi stacked; | ada jarak | |
| kecil; posisi | side-by-side; antarelemen grafis | ||
| ada jarak antarelemen grafis | |||
| Tipografi | Jenis huruf sans serif. | Jenis huruf sans serif. | - |
| Warna | Biru sebagai identitas visual | Diagram | kontras dengan - |
| namun warna diagram denah | background; | menggunakan | |
| belum kontras dan color | identitas visual | serta tetap | |
| coding belum konsisten | memerhatikan color coding | ||
| Piktogram | Berupa diagram. | Berupa diagram. | - |
| Pemasangan | Flat wall-mounted. | Freestanding. | - |
| Material | Kertas di dalam akrilik. | Aluminium. | - |
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Berdasarkan analisis di atas, media signage yang akan diterapkan dalam perancangan ini yaitu conventional signage pada umumnya yang merupakan suatu penanda untuk memberikan informasi, baik itu arah hingga suatu peraturan, dengan tampilan diam dan memiliki material tertentu berwujud padat. Conventional signage ini dipilih dengan pertimbangan target sasaran RSUP Dr. Hasan Sadikin masih belum semuanya paham teknologi dan belum paham betul mengenai menghargai fasilitas terbuka, serta pertimbangan kondisi cuaca Kota Bandung dan biaya produksi.
Konsep perancangan ini mengadopsi makna logo RSUP Dr.
Hasan Sadikin yaitu metamorfosa/ transformasi bentuk dari palang bersudut lancip ke palang bersudut tumpul dengan warna yang berbeda. Metamorfosa/ transformasi bentuk merupakan transformasi dari dunia eksak (pendidikan) ke dunia pelayanan yang lembut, ramah dan manusiawi. Bentuk tersebut membangun kesan profesionalisme, beserta sifat-sifat positif dari modernisasi, seperti efektivitas, efisien, akuntabel, transparan/ keterbukaan. Dengan mengadopsi logo, bentuk signage mengambil acuan dari metamorfosa/ transformasi sudut dari lancip, tumpul hingga setengah lingkaran.
Gambar 5 Proses kreasi bentuk signage (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Konsep bentuk tersebut yang mengadopsi logo diterapkan juga pada perancangan piktogram. Piktogram berfungsi sebagai penyampai informasi kata-kata yang diterjemahkan melalui gambar (Calori, 2007). Bentuk piktogram mengambil tema sederhana dengan menggabungkan elemen-elemen grafis garis, titik, bentuk, ruang dan warna. Gambar 6 berikut merupakan hasil perancangan piktogram yang akan diterapkan baik pada signage maupun pada User Interface RSHS Mobile.
Gambar 6 Tampilan Fitur Navigasi yang Dipilih Responden (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Logo RSUP Dr. Hasan Sadikin memiliki tiga warna. Warna biru melambangkan pendidikan. Warna hijau sebagai gambaran dunia inovasi dan ide segar. Warna jingga kemuning/ oranye mengungkapkan pelayanan yang hangat, ramah dan bersemangat. Hal ini dikonfirmasi oleh Swasty (2017:75), yang menyatakan bahwa warna biru yang terdapat pada logo perusahaan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut membangun citra yang dapat dipercaya oleh target sasarannya.
Begitu pula warna hijau yaitu membangun citra peduli lingkungan sekitar dan warna oranye yang ingin menimbulkan kesan kuat dan hangat.
Warna-warna yang digunakan dalam perancangan signage dan fitur navigasi aplikasi RSHS Mobile mengambil referensi warna logo RSUP Dr. Hasan Sadikin dan warna netral seperti putih dan abu-abu sebagai perlambangan warna rumah sakit. Color coding tidak lupa diperhatikan sebagai pembeda pesan.
Warna sebagai pesan akan diterapkan pada regulatory sign seperti "dilarang merokok", "tanpa tanda pengenal diarang masuk", "bahaya tegangan", "waspada jalan licin", "area wajib menggunakan alat pelindung", dan sebagainya. Color coding pun diterapkan sebagai pembagian zoning ketika area rumah sakit dibagi ke dalam tiga zona: sayap barat dengan warna biru, wilayah tengah warna hijau, dan sayap timur warna oranye/jingga kemuning (Gambar 7).
Gambar 7 Zoning rumah sakit menggunakan color coding (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Layout signage dan wayfinding RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menerapkan posisi side-byside, simbol dan panah diletakkan sejajar secara horizontal dengan tipografi, untuk meminimalisasi white
space serta agar keterbacaan jelas dan efektif. Berdasarkan konsep bentuk, warna dan layout yang telah dijabarkan di atas, Gambar 8 berikut adalah hasil rancangan signage RSUP Dr. Hasan Sadikin.
Gambar 8 Hasil perancangan signage (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Fitur Navigasi Wayfinding
Dari fenomena yang mana masih banyak pengunjung RSUP Dr. Hasan Sadikin (baik tamu atau pasien) yang masih kesulitan dalam menemukan lokasi, diperlukan media pendukung yang terintegrasi dengan signage. RSUP Dr. Hasan Sadikin telah memiliki aplikasi, namun belum dengan aplikasi navigasi. Untuk itu, fitur navigasi akan ditambahkan ke dalam aplikasi yang telah ada, dan terintegrasi dengan signage menggunakan QR Code. Aplikasi
Layout Format grid yang memperlihatkan berbagai ikon
RSHS Mobile ditargetkan pada audiens yang memiliki dan paham mengenai cara meng-operasikan smartphone berbasis Android. Pengguna dapat memindai barcode (QR Code) pada signage tertentu menggunakan gawai android yang nantinya akan langsung terarahkan ke aplikasi RSHS Mobile.
Tabel II memaparkan analisis data User Interface (UI) aplikasi terdahulu di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan projek sejenis pada RSUP Dr. Sardjito dan RS Hermina Pasteur Bandung.
Format grid dengan berbagai ikon dan tulisan di bagian
TABEL II ANALISIS TAMPILAN USER INTERFACE PROJEK SEJENIS
Format list, berupa tulisan hingga bagian terbawah
| dengan tulisan di bawah ikon tersebut. | ada tombol pendaftaran online. | atas dan bawah ikon tersebut. | |
|---|---|---|---|
| Tipografi | Sans serif dengan tipe align text center. | Sans serif dengan tipe align text justify. | Sans serif huruf besar semua dengan tipe align text center. |
| Fitur | 1. Fitur Telepon, menam pilkan nomor contact center dan instalasi gawat darurat. 2. Fitur Jadwal dokter yang bertugas 3. Fitur Pilihan, menam pilan fasilitas dan pelayanan yang dimil iki 4. Fitur Bantuan, sebagai reservasi dan chat dengan admin mengenai keluhan atau hal yang perlu ditan yakan. | 1. Lihat Jadwal Dokter, menampilkan pen carian poliklinik, dok ter, dan hari; serta jad wal dokter yang bertu gas. 2. Lanjutkan Proses Pen daftaran, berfungsi un tuk melakukan pen daftaran online dengan mengisi nomor rekam medis dan tanggal la hir kemudian dit ampilkan proses selan jutnya | 1. Contact & Location, menampilkan lokasi 25 cabang RS Hermina beserta contact cen ternya.Register & Login, sebagai pengis ian data pendaftaran online. 2. Poli Reguler, sebagai reservasi online pela yanan reguler. 3. Poli Eksklusif, sebagai reservasi online pela yanan eksklusif. |
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Analisis Tabel II dijadikan acuan dalam perancangan fitur navigasi pada RSHS Mobile. User interface merupakan tampilan muka yang terdapat di layar monitor sebagai penghubung komunikasi manusia dengan sistem (Pratondo, 2008 : 4). Terdapat empat hal utama yang perlu diperhatikan pula saat merancang user interface mengenai penataan layout dan positioning antara lain komponen diletakkan dengan mengikuti penggunaan sistem grid; informasi sebagai komponen utama dan pendukung ditentukan; faktor scalability (ukuran font pada masing-masing header atau subheader) perlu dipertimbangkan; serta layout untuk berbagai kondisi perlu dipersiapkan (Hariwijaya, 2017).
Layout tampilan awal aplikasi RSHS Mobile akan menerapkan sequence dari kiri ke kanan dengan fitur navigasi pada sebelah kanan agar dalam keadaan yang membutuhkan kecepatan, hal tersebut dapat teratasi dengan maksimal. Sebab saat memegang smartphone, mayoritas pengguna menggunakan tangan kanan untuk memegang dan jempol untuk mengetuk layar. Color coding sebagai pesanpun diterapkan pada tampilan fitur navigasi aplikasi RSHS Mobile, yaitu pada diagram navigasi lokasi gawat darurat, call center darurat, dan sebagainya. Gambar 9 menunjukkan rancangan User Interface RSHS Mobile.
Gambar 9 Hasil Perancangan User Interface Fitur Navigasi RSHS Mobile (Sumber: Dokumentasi Penulis)
SIMPULAN
Studi ini bertujuan untuk merancang ulang signage conventional yang terintegrasi dengan fitur navigasi pada aplikasi RSHS Mobile. Dalam merancang sistem grafis signage, hal yang harus diperhatikan yaitu layout (proporsi, posisi, spacing), tipografi, warna dan piktogram dengan berpedoman pada identitas visual yang ada serta memiliki benang merah satu sign dengan sign lainnya. Signage yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin kurang efektif terbukti dengan masih banyaknya audiens yang belum memahami secara cepat tanda-tanda yang ada. Hal ini disebabkan sistem grafisnya tidak memuat gambar (piktogram) dan terlalu banyak informasi yang disampaikan. Dapat disimpulkan bahwa perancangan
ulang signage diperlukan sesuai standardisasi dengan pertimbangan ergonomi manusia dan adanya penambahan identitas visual RSUP Dr. Hasan Sadikin untuk membantu pengunjung menemukan lokasi yang ingin dituju di kawasan tersebut. Elemen grafis lain sebagai pelengkap perlu ditambahkan agar desain tidak terlalu polos.
Dalam merancang signage, selain sistem grafis, perlu diperhatikan pula ergonomi manusia yang berhubungan dengan penempatan dan pemasangan serta material yang akan digunakan. Sebagai contohnya, Orientation Signs dengan ukuran yang besar sebaiknya diletakkan di tiap titik alur pintu masuk audiens. Dari segi penempatan lokasi, signage yang telah ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin masih kurang efektif karena
belum menjangkau beberapa titik yang seharusnya terdapat signage. Dari segi material pun harus tetap memiliki korelasi satu sign dengan sign yang lain. Flow atau alur audiens perlu diperhatikan sehingga didapatkan titik-titik penting untuk dipasang signage yang disesuaikan kondisi lapangan atau ruangan. Dalam mengatasi penempatan signage harus memerhatikan alur audiens, kondisi lapangan, serta faktor ergonomi manusia.
Melalui user interface yang baik, interaksi akan optimal. Untuk itu, dibutuhkan desain yang tepat dengan memerhatikan layout, warna, tipografi, ikonografi dan prinsip user interface. Ikon pada fitur RSHS Mobile yang ditampilkan belum tersistem. Layout pada jendela jadwal dokter masih terlihat berantakan dan tidak mengikuti grid. User Experience perlu diperkuat agar User Interface yang dihasilkan baik dan benar. Dari kuesioner terungkap bahwa responden memilih tampilan navigasi pada aplikasi dengan bentuk bangunan yang terlihat seperti 3D. Bentuk bangunan 3D pada fitur navigasi ini memang terlihat lebih realistis sehingga memudahkan pengguna dalam memahami ruang. Grid perlu memperhatikan ukuran layar smartphone dan ikon yang digunakan juga harus tersistem. Perancangan UI harus didukung dengan data yang lengkap dan riset UX yang mendalam untuk menghasilkan tampilan yang sesuai dengan kebutuhan audiens.
