1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2020) Issue 1
  4. Articles

Teknologi Spiritual Terapi Penyembuhan Korban Narkoba Dan Peran Pondok Remaja Inabah (i) Malaysia Dalam Pengembangan Tqn Di Negeri Malaysia

Abstract

Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia adalah sebuah institusi yang bergerak dalam bidang perawatan dan penyembuhan korban narkoba dan penyalah gunaan obat-obat terlarang lainnya dengan menggunakan pendekatan tasawuf yakni Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah. Metode dan teknologi spiritual terapi penyembuhan tersebut diciptakan oleh mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya yakni KH. A. Shohibul Wafa Tajul Arifin yang biasa dipanggil Abah Anom. Metode dan teknologi terapi tersebut dibawa dan dikembangkan di Malaysia oleh Tuan Guru Ustaz Zuki bin Syafi as-Syuja, murid dan wakil talqin Abah Anom di Malaysia. Berdasarkan penelitian, teknologi spiritual terapi penyembuhan narkoba di Inabah Malaysia intinya adalah mengamalkan mandi taubat, talkin, menjalankan salat baik yang wajib maupun yang sunat muakkad, an-nawafil dan zikrullah secara istiqomah. Tingkat kesembuhan korban narkoba yang dirawat di Inabah sangat tinggi yakni hampir seratus persen. Sedangkan lama terapi penyembuhan rata-rata 60 hari, tergantung pada kondisi keparahan anak bina itu sendiri. Jika sangat parah bisa diperpanjang hingga dua kali lipat, bahkan sampai satu tahun. Inabah (1) Malaysia bukan hanya sebagai institusi penyembuhan dan perawatan korban narkoba tetapi juga sebagai pusat pengembangan TQN di Malaysia. Melalui Pondok Remaja Inabah (1) yang berada di negeri bagian Kedah Darul Aman, TQN menyebar ke seluruh negeri bagian Malaysia. Bermacam latar belakang masyarakat datang ke Pondok Inabah (1) Malaysia, tetapi pada ahirnya mereka belajar zikir yang merupakan inti ajaran TQN dan mengamalkannya di daerah maing-masing.

Keywords

PENDAHULUAN

Inabah atau yang biasa disebut Pondok Remaja Inabah adalah lembaga perawatan dan pemulihan korban narkoba dan penyalahgunaan obat-obat terlarang lainnya. Pada awalnya Inabah berdiri di Indonesia tepatnya di Suryalaya sebagai subsistem dari sistem pendidikan Pondok Pesantren Suryalaya. Proses perawatan korban narkoba di Pondok Remaja Inabah menggunakan pendekatan tasawuf, yakni amalan tarekat Qodiriyah wa an-Naqsyabandiyah karena pencipta metode ini adalah mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiayah TQN Pondok Pesantren Suryalaya yaitu KH. Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin. Metode ini diciptakan dan diimplementasikan di Pesantren Suryalaya pada tahun 1977 M dan terus dipergunakan dan dikembangkan hingga sekarang (Nurol Aen, 1990: 393). Metode inabah hakikatnya adalah pengamalan riyadhoh TQN dalam kehidupan sehari hari. Itulah sebabnya metode penyembuhan korban narkoba dan nafza tidak bisa lepas dari TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

Metode dan teknologi spiritual Inabah dibawa ke Malaysia, antara lain, oleh murid Abah Anom sendiri, Tuan Guru H. Mohd. Zuki bin Syafi as-Syuja' pada tahun 1980. Pada tahun tesebut Tuan Guru Zuki mendirikan Pondok Inabah di Pulau Bidin, Mukim Telaga Mas. Selama enam belas tahun Pondok Inabah di Pulau Bidin merawat dan menyembuhkan para santeri dengan telaten dan istikomah, meskipun anak bina atau santeri di Inabah ini belum banyak, yakni sekitar dua puluh orang saja, karena memang pasilitas masih

sangat terbatas, namun pembinaan berjalan dengan baik. Dalam perjalanannya Inabah Pulau Bidin kurang berkembang karena fasilitas tetap tidak memadai, lahan sempit, lingkungan kurang kondusif dan berbagai faktor penghambat lainnya, juga berdasar petunjuk Abah Anom, pada tahun 1996, Tuan Guru memindahkan Pondok Remaja Inabah ini ke Jabal Suf, suatu lahan luas yang berada di wilayah Kedah, tepatnya di Kampung Paya Mukim Padang Temak, 06300, Kuala Terang, Kedah Darul Aman.

Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia dari semenjak berdirinya hingga sekarang menjalankan fungsinya sebagai lembaga perawatan dan pemulihan korban narkoba dan obat-obat terlarang dengan cukup sukses dan gemilang. Masyarakat berdatangan dari berbagai daerah di Malaysia dengan tujuan ingin menyelamatkan putra-putrinya yang terjerumus ke barang haram itu agar kembali ke jalan yang benar, diridoi Allah, sehat wal 'afiat, lahir batin, cageur bageur.

Dalam perkembangan berikutnya Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia, bukan hanya sebagai tempat terapi penyembuhan korban narkoba dan obat-obat terlarang lainnya, melainkan berperan sebagai pusat pengembangan TQN Pondok Pesantren Suryalaya di Malaysia. Pengembangan itu berawal dari proses penalkinan korban narkoba, lalu diikuti oleh para keluarga, handai tolan, dan kerabat-kerabat dekatnya. Setelah mengikuti talkin, mereka melaksanakan amalan-amalan TQN di rumah masing-masing secara munfarid (sendiri) atau berjamaah bergabung ke tempat-tempat

khataman, dan manakiban TQN yang sudah ada terlebih dahulu, atau mereka langsung mengikuti amalan di Pondok Inabah (1) Malaysia.

Dalam setiap bulan orangorang yang sudah talkin zikir (belajar zikir) di Jabal Suf datang kembali ke Jabal Suf untuk mengikuti manakiban, suatu amalan bulanan dalam TQN pondok Pesantren Suryalaya. Dalam TQN Pondok Pesantren Suryalaya -seterusnya ditulis TQN, ada amalan harian yaitu zikrullah, amalan mingguan yaitu khataman (membaca aurod TQN sampai tamat), dan amalan bulanan yaitu manakiban (pengajian tasawuf, dan pembacaan sejarah spiritual syaikh Abdul Qodir al-Jilani). Di Inabah (1) Malaysia ketiga amalan ini dilaksanakan secara rutin, istikomah dan berjamaah. Oleh karena itu, tidak sedikit para ikhwan (sebutan bagi orang yang sudah ditalkin) mengikuti kegiatan ini di Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia secara tertib dan istikomah.

Inabah secara etimologis artinya kembali, dan yang dimaksud adalah kembali ke jalan Allah. Seorang yang yang terjerumus pada penggunaan narkoba atau obat-obat terlarang diibaratkan seperti orang yang berjalan di atas rel yang salah, maka ia harus segera diajak kembali ke rel yang benar (Islam) agar dapat mencapai tujuan hidupnya yaitu mardotillah. Secara terminologis "inabah" dalam tradisi TQN adalah nama bagi institusi yang berpungsi mengembalikan orang yang salah jalan agar kembali ke jalan yang lurus, jalan Allah. Kesalahannya itu karena ia menggunakan obat-obat terlarang yang biasa disebut narkoba tanpa alasan yang dibenarkan baik

secara medis maupun syar'i. Akibatnya, ia sakit rohani dan jasmaninya, ketagihan dan ketergantungan sehingga jika dibiarkan akan semakin parah penyakitnya. Institusi itu diberi nama "Pondok Remaja Inabah". Berdasar data dari Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, jumlah inabah yang telah didirikan adalah tiga puluh tiga buah, baik yang ada di dalam maupun di luar negri. Di Malaysia sendiri terdapat enam Inabah. Inabah yang paling representatif untuk dijadikan objek penelitian adalah Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia.

Dalam proses penyembuhan dan perawatan di Pondok Remaja Inabah, KH A. Sohibul Wafa Tajul 'Arifin (Abah Anom) menggunakan pendekatan keagamaan dan ketasawufan.. Metode dan teknologi tersebut disajikan dalam sebuah buku panduan yang diberi judul Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkoba dan Kenakalan Remaja diterbitkan oleh PT Mudawamah wa Rahmah Pondok Pesantren Suryalaya. Menurut Su'dan (Senior Medical Service Officer Arco) metode inabah yang diciptakan Abah Anom, cukup efektif dan tepat sekali dapat memulihkan rohani anak bina sehingga anak bina dapat dikategorikan sehat secara agamis, medis, psikologis, dan sosiologis. Pendekatan dimaksud intinya adalah mandi taubat, talkin zikir, salat baik yang wajib maupun yang sunat, zikir Jahar dan khafi, khotaman, dan manakiban.

Menurut Zakiah Darajat (1970, 14) setiap tindakan atau aktivitas keagamaan membawa pengaruh terhadap kesadaran

beragama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience) pada diri seseorang. Kesadaran beragama terhunjam dalam alam pikiran dan hati sanubari, sedangkan pengalaman agama wujud dalam perilaku yang positif sebagai akibat dari kesadaran yang ada di alam rohani.

Alumni Inabah dapat kembali berbaur di tengah masyarakat dalam profesi yang bermacam-macam, sesuai dengan potensi dan pengalaman hidupnya. Ada yang berprofesi pengusaha, guru, ustaz, karyawan perusahaan, pembina inabah, dan lain sebagainya.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik observasi, wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan penulis dengan cara berkunjung ke Pondok Inabah (1) Malaysia sebagai objek penelitian sekaligus penulis melakukan wawancara dengan para pengurus Inabah dan anak bina. Dalam kesempatan yang sama penulis juga melakukan pengamatan terhadap berbagai aspek yang ada kaitannya dengan peran Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia dalam pengembangan TQN PPS di Malaysia.

Studi dokumentasi dilakukan terhadap berbagai sumber informasi yang relevan, terutama data-data mengenai Pondok Remaja Inabah, TQN Pondok Pesantren Suryalaya, perkembangan TQN di Malaysia, amaliah ikhwan Malaysia terhadap TQN, dan aktivitas ikhwan dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh data yang telah terkumpul diolah dan dianlisis untuk menghasilkan gambaran tentang bagaimana metode dan teknik terapi penyembuhan koraban narkoba di Inabah (1) Malaysia. Dapat juga dilihat bagaimana peran Pondok Inabah terhadap pengembangan TQN Podok Pesantren Suryalaya di Malaysia.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sejarah Pondok Remaja Inabah Malaysia

Sebagaimana telah disinggung di bagian pendahuluan bahwa Pondok Remaja Inabah Malaysia didirikan pada tahun 1980 bertempat di Pulau Bidin, Mukim Telaga Mas, Alor Star Kedah Darul Aman. Dahulu dikenal dengan Inabah Pulau Bidin. Pendiri Pondok Inabah adalah Tuan Guru Haji Mohd Zuki bin Syafi as-Syuja. Paktor pendorong didirikannya Pondok Inabah di Pulau Bidin adalah permintaan masyarakat dari berbagai daerah di Malaysia yang merasa khawatir terhadap korbankorban narkoba dan kenakalan remaja. Pada awalnya proses penyembuhan dilakukan secara kekeluargaan dan dilaksanakan di rumah Tuan Guru sendiri. Fasilitas yang ada pada awal pendiriannya hanya dapat menampung sekitar dua puluh orang anak bina saja.

Menurut Tuan Guru, pada tahun 1991 Inabah didaftarkan ke PEMADAM sebagai Badan Hukum Kerajaan (NGO) dan diberi nama Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia. Pihak pemerintahan Malaysia tertarik atas usaha gigih Tuan Guru dengan Inabahnya dalam membina dan menyembuhkan anak-anak bina agar kembali kepada kehidupan yang normal, sehat, dan produktif. Itulah

sebabnya timbalan Menteri dalam Negeri saat itu yaitu Tan Sri Haji Megat Junaid bin Megat Ayob bersedia menjadi penasihat dan pelindung Pondok Remaja Inabah tersebut.

Pada tahun 1996, Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia dipindahkan oleh Tuan Guru atas petunjuk Abah Anom, dari Pulau Bidin ke tempat yang lebih baik, luas, dan asri yang kemudian tempat itu diberi nama oleh Abah Anom menjadi "Jabal Suf". Terletak di kampung Paya Mukim Padang Temak, Kuala Nerang Kedah Darul Aman. Tempat yang sangat strategis dan nyaman berjarak sekitar 35 km dari Bandaraya Alor Star, (Ibu Kota Negara Bagian Kedah Darul Aman).

Metode dan teknik perawatan dan pemulihan anak bina di Inabah dapat meyakinkan masyarakat dan pemerintah sehingga semakin banyaklah masyarakat menitipkan keluarganya yang terlibat penyalahgunaan narkoba ke Inabah ini. Demikian juga dukungan penuh datang dari berbagai pihak khususnya Kerajaan Negeri Kedah, PEMADAM, dan Agensi Anti Dadah (AADK), masyarakat setempat, pihak keluarga serta anak-anak bina sendiri. Karena itu, sarana prasarana Inabah dibangun; masjid, asrama anak bina, kantor, tempat pengajian, rumah tamu, rumah kediaman Tuan Guru, dapur umum, ruang makan, dan rumah para pegawai yang melaksanakan urusan Inabah ini.

Pada tahun 1998 Pondok Inabah (1) Malaysia didaftarkan ke Kementerian dalam Negeri sebagai pusat pemulihan korban dadah yang diselenggarakan oleh perseorangan (swasta). Kerajaan mengi'tiraf Pondok Remaja Inabah ini dengan berdasar atas undang-undang AADK/KDN berkaitan urusan pemulihan dadah (Sumber: Data Grafik Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia, 2017).

Pada tahun 2017, Pondok Remaja Inabah mengembangkan fasilitas dengan membangun asrama putera yang bisa menampung sekitar 250 orang anak bina. Penambahan asrama ini bertujuan untuk menampung keperluan masyarakat yang semakin banyak menitipkan anaknya atau keluarganya ke Inabah ini. Menurut Pak Guru, (sebutan Ustaz Zuki bin Syafi), setelah asrama putera selesai akan segera dibangun asrama puteri, karena banyak juga masyarakat yang bermaksud menitipkan anak-anak puterinya yang menjadi korban penyebaran narkoba, hendak dititipkan di Inabah ini.

TABEL 1. VISI DAN MISI PONDOK REMAJA INABAH (1) MALAYSIA

Visi:Misi:
Melahirkan Insan kamil yang mengamalkan
prinsip lima B, berilmu, beramal, beriman,
bertakwa, dan berjihad
Membina dan membimbing mangsa penagihan
dadah dan kenakalan remaja yang mengalami
ketidaktenteraman jiwa agar kembali ke jalan
yang benar menurut perintah Allah. Juga
sebagai tempat membantu pembinaan akhlak
yang mulia (akhlakul karimah).

Menjadi pusat pendidikan ilmiah dan amaliah dalam bidang usuluddin, syari'ah, al-Quran, tasawuf. Objektif khusus untuk anak bina melanjutkan pelajaran. Objektif sebagai pusat pendidikan bagi orang awam dalam upaya melahirkan masyarakat berilmu, berkemahiran, berketerampilan, dan berwawasan

Membantu lebih banyak masyarakat Malaysia yang memerlukan bantuan kembali ke jalan yang diridhai Allah.

Pondok Inabah Malaysia menjadi sangat penting keberadaannya dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang sebagian remaja, pelajar, dan anak dewasanya telah terjerumus pada penyalahgunaan narkoba dan obatobat terlarang. Keberadaan Pondok Inabah, menurut Pak Guru, disiapkan terutama untuk memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  • 1. Memenuhi visi dan misi kerajaan untuk membebaskan rakyat Malaysia dari penyalahgunaan narkoba, khususnya kerajaan negeri Kedah Darul Aman yang hendak menjadikan Kedah sebagai negeri bebas dadah dan narkoba.
  • 2. Sebagai tempat remaja bermasalah mendapatkan bantuan dan penanganan masalah mereka sendiri, mendapatkan bimbingan sekaligus pemulihan.
  • 3. Sebagai outlet/ one stop center untuk remaja, ayah bunda dan keluarga, serta masyarakat pada umumnya untuk mendapatkan rujukan, khidmat, mauizhah, nasihat, bantuan dan bimbingan dalam menangani segala permasalahan yang berkaitan
  • dengan isu penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja.
  • 4. Membimbing anak bangsa agar mampu merancang kehidupan yang lebih baik dan diridoi Allah Swt dalam menjalani kehidupan normal bebas narkoba dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat secara umum.

Pondok Remaja Inabah (I) Malaysia menyediakan khidmat (pengabdian) perawatan dan pemulihan sebagai berikut:

  • 1. Program Rawatan, mulai dari pola rawatan harian, mingguan, dan bulanan
  • 2. Program terapi Keluarga
  • 3. Program Pengayaan diri
  • 4. Program Kerjaya
  • 5. Program kemasyarakatan
  • 6. Program bina lanjut. (Sumber Data di Inabah1 Malaysia, 2015))

Melalui penghidmatan yang diberikan Pondok Remaja Inabah ini, diharapkan anak-anak bina lahir memiliki jati diri dengan prinsip 5 B yaitu berilmu, beramal, beriman, bertakwa, dan berjihad untuk menjadi insan kamil dan produktif berguna bagi pembangunan agama, nusa, dan bangsa serta terus bebas narkoba dan penyalahgunaan obat terlarang lainnya.

Menurut Ustaz Zaki bin H. Hasyim, salah seorang pengurus Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia, bahwa jumlah anak bina yang sekarang sedang dalam proses pemulihan adalah sembilan puluh orang. Mereka datang dititipkan orang tuanya dari negeri-negeri yang ada di Kerajaan Malaysia. Jika dibuat persentase, hitungannya adalah sebagai berikut: Negeri Johor 2%, Negeri Kedah 49%, Negeri Kelantan 2%, Negeri Melaka 1%, Negeri Sembilan 4%, Negeri Pahang 7%, Negeri Perak 9%, Negeri Perlis 6%, Pulau Pinang 13 %, Sabah 2%.

Anak bina rata-rata dapat dipulihkan dalam waktu yang relatif singkat yaitu enam bulan. Jika dipersentasekan, ada 94% anak bina dirawat di Inabah Malaysia selama enam bulan, sedangkan sisanya yakni hanya 6% anak bina dipulihkan di Inabah (1) Malaysia dalam waktu sekitar 7 sampai 12 bulan. Usia anak bina jika dilihat dari segi umur maka persentasenya adalah sebagai berikut:

  • 1. Anak bina Inabah (1) usia antara 16-19 tahun berjumlah sekitar 5 %
  • 2. Anak bina yang berumur antara 20-29 tahun sekitar 60 %
  • 3. Anak bina yang berumur antara 30 – 39 tahun sekitar 26 %
  • 4. Anak bina yang berumur antara 40- 49 tahun sekitar 5 %
  • 5. Anak bina yang berumur 50 tahun ke atas sekitar 4 %

Metode Perawatan Korban Narkoba di Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia

Kurikulum dan metode inabah yang dipergunakan di Pondok

Remaja Inabah (1) Malaysia adalah kurikulum dan metode yang diciptakan oleh KH. A. Sohibul Wafa Tajul Arifin, sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya dan mursyid tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah. Secara teknis ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh anak bina (korban narkoba) dalam upaya penyembuhan dirinya lahir dan batin, tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • 1) Pertama, bangun pukul 02.00 malam (dini hari), terapi yang dilakukan adalah mandi taubat satu kali, salat sunat syukrul wudhu dua rokaat, salat sunat tahiyyatul masjid dua rokaat, salat taubat dua rakaat, salat sunat tahajjud dua belas rakaat, salat tasbih empat rakaat, dan diakhiri dengan salat witir sebanyak tiga sampai sebelas rakaat. Amalaiah berikutnya yaitu zikrullah minimal 165 kali.
  • 2) Kedua, pukul 04.00-06. 00 menjelang salat subuh, terapi yang dilakukan adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat qobla subuh (qobla fajar) dua rakaat, salat sunat lidaf'il bala dua rokaat, salat subuh dua rakaat dengan berjamaah, zikir Jahar, dan khofi minimal 165 kali.
  • 3) Ketiga, pukul 06.00- 07.00 terapi yang dilaksanakan anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat isyraq dua rakaat, salat sunat isti'azah dua rakaat, salat sunat istikharah dua rakaat, diakhiri dengan zikrullah minimal 165 kali.
  • 4) Keempat, ketika waktu menunjukan pukul 12.00-13.00, terapi yang dilaksanakan adalah salat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat qobla zhuhur dua

  • rakaat, salat zhuhur empat rakaat dengan berjamaah, salat sunat bada zhuhur dua rakaat dilanjutkan dengan zikrullah minimal sebanyak 165 kali.
  • 5) Kelima, pukul 15.00-16.00 terapi yang dikerkajan anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat qobla asyar dua rakaat, salat ashar empat rakaat secara berjamaah, dilanjutkan dengan zikrullah minimal 165 kali serta khotaman satu kali.
  • 6) Keenam, ketika waktu menunukan pukul 18.00-19.00, terapi yang dilakukan anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat qobla magrib dua rakaat, salat magrib tiga rakaat berjamaah, zikir Jahar dan khofi sebanayk 165 kali. Amalaliah berikutnya salat sunat ba'da magrib dua rakaat, salat sunat awwabin dua rakaat, salat sunat taubat dua rakaat, salat sunat birrul waalidaini dua rakaat, salat sunat lihifzhil iman dua rakaat, dan salat sunat syukrun ni'mah dua rakaat.
  • 7) Ketujuh, pukul 19.00-20.00 terapi yang dilaksanakan anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat qobla isya dua rakaat, salat isya empat rakaat dengan berjamaah, salat sunat ba'da isya dua rakaat dan diakhiri dengan zikrullah sebanyak 165 kali.
  • 8) Kedelapan, pukul 21.00-22.00, terapi yang diikuti anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat mutlak dua rakaat, salat istikharah dua rakaat, salat sunat hajat dua rakaat, dilanjutkan dengan zikrulloh minimal 165 kali.

Itulah teknis terapi penyembuhan sufistik yang dilaksnakan di Inabah (1) Malaysia. Amaliah itu terus dilaksanakan setiap hari dan setiap malam di bawah bimbingan para guru dan pengawasan Pak Guru Zuki bin Syafi as-Suja'. Sebagai landasan atas teknik terapi tersebut adalah al-Quran, sunnah, ijma dan qiyas. Secara garis besar proses perawatan diarahkan terhadap pengamalan tarekat Qodiriyah wa naqsyabandiyah yaitu zikrullah.

Teknikologi Spritual Terapi Penyembuhan Korban Narkoba dengan Pendekatan Tasawuf di Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia

Anak bina datang ke Pondok Inabah Malaysia diantar oleh orang tuanya atau anggota keluarga yang lainnya. Guru yang ditugaskan membina santeri melakukan pendataan secara administratif serta pemeriksaan kondisi kesehatan, sejauh mana keparahan korban narkoba dalam diri anak bina. Setelah data yang diperlukan sudah diketahui dan dicatat, anak bina masuk ke asrama dan ditempatkan di kamar sendiri-sendiri, belum dibaurkan dengan teman-teman yang lainnya. Pembauran boleh dilakukan kalau kondisi jiwa anak bina sudah mulai membaik dan sehat secara medis. Ada anak bina yang langsung ditalkin oleh Pak Guru (belajar zikir), ada juga yang belum bisa ditalkin saat datang di Inaba sehingga talkin dilakukan setelah kondisi dan kesehatan jiwa anak bina agak membaik.

Seperti telah diuraikan di atas bahwa teknik terapi penyembuhan itu pertama, anak bina dibangunkan pada pukul 02.00 dini hari WIB, kegiatan

diawali dengan mandi taubat, sebelum masuk ke kamar mandi, anak bina dibimbing berdoa, begitu air kena ke anggota badan berdoa "Rabbii anzilnii munzalan mubaarokaa wa Anta Khairul Munziliin" sehabis mandi keluar dari kamar mandi anak bina berdoa dengan doa "alhamdulillahillazi azhaba anni al-aza wa 'Afaani".

Setelah berpakaian bersih, rapih, dan sehat anak bina masuk ke masjid lalu melakukan salat syukrul wudlu dua rokaat, tahiyyatu masjid dua rokaat, solat taubat dua rokaat, lalu salat sunat tahajjud dua belas rokaat, salat tasbih dua rokaat, diakhiri dengan salat witir sebelas rokaat, dilanjutkan dengan berzikir secara jahr (suara keras) sebanyakbanyaknya, minimal 165 kali.

Langkah kedua, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB, anak bina masih berada di masjid, para pembina dan para santeri Inabah melaksanakan amalan berikutnya yaitu salat qobla fajar dua rokaat, salat lidafil bala dua rokaat, baru kemudian semua anak bina melaksanakan solat subuh dengan berjamaah. Semua aktivitas terapi penyembuhan anak bina dipandu oleh beberapa guru Pembina. Selesai salat subuh diteruskan mengamalkan zikrullah kalimah thayyibah minimal 165 kali.

Pada pukul 06.00 WIB anak bina dibimbing melaksanakan salat sunat isyraq (setelah matahari terbit) sebanyak dua rakaat, dilanjutkan dengan salat isti'azah (mohon perlindungan) sebanyak dua rakaat, diakhiri dengan salat istikharah (mohon pilihan terbaik dalam kehidupan) sebanyak dua rakaat. Kegiatan berikutnya anak bina

melakukan olah raga, kemudian sarapan pagi, mandi lalu mereka melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang membaca, belajar, menonton TV, istirahat, dan lain-lain.

Sewaktu jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, anak bina dibimbing melaksanakan salat duha delapan rokaat, dilanjutkan dengan salat kifaratil baol (kifarat atas ketidak sesuaian bersuci najis kencing dengan yang semestinya) sebanyak dua rokaat.

Teknik amalan siang hari pada pukul 12.00 WIB anak bina siap-siap melaksanakan salat dhuhur secara berjamaah. Diawali dengan salat qobla dhuhur dua rokaat diteruskan salat dhuhur secara berjamaah dan seusai berjamaah dilanjutkan dengan amalan zikrullah sebanyak 165 kali. Selesai zikir anak bina melakukan salat ba'da dhuhur dua rakaat. Selesai amaliah anak bina makan siang bersama, minum, makan buahbuahan, lalu istirahat siang sambil menunggu riadoh berikutnya.

Ketika waktu asar tiba, kirakira jam menunjukkan pukul 15.00. WIB. anak bina dibimbing memasuki masjid untuk melaksanakan salat qobla ashar dua rakaat dan salat ashar empat rakaat dengan berjamaah, dilanjutkan dengan zikrullah sebanyak 165 kali dan khataman (membaca aurod TQN sampai selesai). Orang yang memimpin ibadah adalah pembina atau salah seorang anak bina yang telah mencapai kesembuhan yang sangat baik.

Pada waktu magrib, kirakira pukul 18.00 WIB anak bina dibimbing Pembina Ibadah masuk ke masjid, untuk melaksanakan salat qobla magrib dua rokaat, dilanjutkan

solat mabrib dengan berjamaah tiga rakaat dilanjutkan amalan zikrullah sebanyak 165 kali. Selesai zikir lalu anak bina melakukan salat ba'da magrib dua rokaat, solat awwabin enam rakaat, salat birrul waalidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dua rakaat, salat li hifzhil iman (menjaga iman) dua rakaat, dan salat li syukr an-ni'mah (mensyukuri nikmat) dua rakaat.

Pada pukul 19.00 WIB (waktu salat isya), anak bina masuk kembali ke masjid, bahkan sebagian besar masih berada di masjid, melaksanakan salat qobla Isya dua rokaat secara munfarid lalu melaksanakan salat isya dengan berjamaah sebanyak empat rakaat, dilanjutkan salat ba'da isya dua rokaat kemudian melaksanakan amalan zikrullah secara jahar secara berjamaah sebanyak 165 kali. Selesai riyadhoh, anak bina secara tertib makan malam bersama dengan menu yang telah ditentukan. Siang dan malam menu makan beganti-ganti sesuai dengan kebutuhan.

Langkah berikutnya, pada pukul 21.00 amaliah anak bina adalah salat sunat syukrul wudhu dua rakaat, salat sunat mutlak dua rakaat, salat istikharah dua rakaat, salat hajat (memohon dipenuhi segala keperluan) dua rakaat dilanjutkan dengan zikrullah minimal 165 kali. Sebelum tidur anak bina membaca doa yaitu membaca asmaul husna "Ya Lathif ya Lathif" sebanyakbanyaknya sampai tertidur. Pukul 02.00 dini hari, anak bina dibangunkan kembali lalu membaca doa bangun tidur "Alhamdulillahi allazi ahyaana ba'ba ma amaatanaa wa ilia an-Nusyuur" dilanjutkan dengan amalan mandi taubat, salat

tahajud dan seterusnya. Di sela-sela riadoh sebagai teknologi terapi penyembuhan narkoba, keperluan anak bina terhadap makanan, minuman, istirahat, dan olah raga amat diperhatikan oleh Pondok Inabah sehingga secara fisik anak bina pun sehat dan setelah mengikuti riadoh secara rohani pun sehat.

Itulah teknikologi spiritual yang dijalankan di Inabah (1) Malaysia dalam upaya penyembuhan korban narkoba. Teknologi spiritual termaksud disusun oleh Abah Anom serta secara utuh telah dibuat sebagai panduan yang baku bagi semua para Pembina yang terlibat dalam proses perawatan dan penyembuhan korban narkoba di Inabah (1) Malaysia khususnya dan di semua Inabah pada umumnya.

Analisis terhadap Proses Penyembuhan Korban Narkoba dan Napza di Lingkungan Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia

Jika diperhatikan secara saksama ternyata teknologi spiritual penyembuhan korban penyalahgunaan narkoba dan napza yang dilaksanakan di Inabah (1) Malaysia adalah riyadoh yang ada dalam TQN, dimulai dengan mandi taubat, melaksanakan salat-salat wajib, salat-salat sunat dan zikrullah yang diawali dengan talkin dari Pak Guru Zuki bin Syafi As-Suja. Amalan tambahan sebagaimana dikemukakan oleh Sobarudin kelihatannya merupakan sarana berlatih bagaimana anak bina setelah sembuh dapat menyatu dan berbaur dengan masyarakat sekitar, tidak minder, punya peran, dan punya keterampilan sehingga ketika pada saatnya mereka harus kembali kepada keluarga dan masyarakatnya sudah terbiasa; pandai berkomunikasi, dapat beradaptasi, mempunyai peran, dan dapat memengaruhi kehidupan positif masyarakat, juga telah memiliki keterampilan.

Teknologi terapi Penyembuhan yang Pertama adalah Mandi (hydro therapy)

Mandi dalam Agama Islam merupakan bagian dari cara bersuci yang fungsinya menghilangkan kotoran dan najis yang ada di badan secara lahir. Secara batin mandi adalah suatu cara (kaefiyyat) bagaimana menghilangkan hadas besar agar manusia dapat melaksanakan ibadah, khususnya salat, tawaf dan i'tikaf. Dari segi kesehatan, mandi sudah sejak lama dipandang sebagai salah satu cara menyehatkan jasmani manusia. Menurut Simon Baruch, seperti dikutip Haryanto), air memiliki daya penenang jika suhu air sama dengan suhu badan, jika suhu lebih rendah atau lebih tinggi akan memiliki daya stimulasi atau merangsang. Lebih jauh, efek terapi air bagi kesehatan dijelaskan Haryanto yang ia kutip dari Effendy, 1987 sebagai berikut.

  • 1. Berendam dalam air hangat dan mandi di pancuran air air hangat dalam waktu pendek berkhasiat menghilangkan rasa lelah dan ketegangan.
  • 2. Berendam dan atau menyeka tubuh dengan air dingin berefek mendinginkan dan merangsang tubuh, khususnya jika diikuti dengan pijatan. Air dingin akan mengerutkan pembuluh darah kapiler.
  • 3. Menyeka dengan air dingin dan air hangat secara bergantian akan

  • merangsang sistem kardiovaskuler.
  • 4. Berendam dalam air atau mandi di pancuran yang hangat berkhasiat melemaskan semua otot di tubuh.
  • 5. Mandi air hangat akan melemaskan jaringan dan berefek pada kapiler-kapiler di kulit karena banyak darah dari jaringan yang akan ditarik ke arah kulit serta dapat mengurangi rasa nyeri.
  • 6. Mandi dan menyeka dengan air dingin dan air hangat akan menjinakan saraf kulit dan saraf organ-organ intern, yaitu organorgan yang berkorespondensi secara sarafi dengan kulit yang dihangati.

Juhaya S Praja, (1995), menyatakan bahwa mandi tidak hanya berpengaruh bagi kebersihan fisik, tetapi memberikan dampak positif pada segi ruhani. Mandi tidak hanya mampu membantu penyembuhan penyakit fisik, tetapi juga penyakit batin. Alloh berfirman yang artinya "Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup" (Al-Anbiya: 30).

Lebih jauh Su'dan (1987) menyatakan mandi di Inabah dilakukan pada dini hari dan dalam udara pegunungan yang dingin, hal ini akan menyebabkan pembuluh darah kulit menyempit. Penyempitan pembuluh ini akan memperlancar aliran darah ke otak, jantung, paruparu hati dan ginjal sehingga organorgan tersebut memperoleh darah lebih banyak daripada biasanya. Dengan demikian, kerja hati lebih lancar, yaitu memusnahkan racun narkotika yang ada dalam tubuh dan akan segera dibuang oleh ginjal.

Setelah anak bina dimandikan atau mandi sendiri, biasanya anak bina dihadapkan kepada Pak Guru untuk ditalkin. Talkin maknanya proses penanaman nur nubuwwah dalam hati anak bina. Intinya bagaimana anak bina memahami kaefiyat berzikir dengan kalimah toyyibah, agar anak bina dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah ditalkin, anak bina dibawa ke Asrama untuk mengikuti pembinaan selanjutnya.

Teknologi Terapi Spiritual yang Kedua adalah Salat

Salat yang dilaksanakan di Inabah tentu saja salat wajib, salat sunat muakkad dan ada salat-salat sunat yang disebut an-nawafil. Nabi bersabda: "Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku bertaqorrub kepada-Ku, dengan an-nawafil (salatsalat sunat) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya, yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya, yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan, Akupun akan melindunginya" (H. R. Bukhari).

Alloh berfirman: "Ingatlah dengan zikir kepada Alloh (salat) hati menjadi tenang" (ar-Ro'du: 28). Dalam ayat yang lain Alloh berfirman: "Salatlah kamu agar kamu dapat mengingat-Ku" (Thaha: 14). Dalam hadis Nabi yang lain, dinyatakan bahwa salat adalah tiang agama, barang siapa melaksanakan salat berarti ia mendirikan agama dan barang siapa meninggalkan salat berarti ia menghancurkan agama (H. R. Muslim). Dalam pandangan psikologi Agama, hakikatnya orang yang terjerumus ke penyalah gunaan narkoba dan nafza adalah karena jiwa orang itu sakit, paktor penyebabnya antara lain karena ia selalu mengikuti nafsu, dan jauh dari Alloh. Salat adalah teknik untuk mendekatkan diri kepada Alloh agar rohani menjadi sehat.

Dilihat dari aspek batin salat adalah proses bermuwajah, bermunajat bertasbih dan bertahmid seorang hamba kepada Rabnya. Tidak ada kondisi yang paling dekat antara seorang abdi dan Tuhannya kecuali dalam salat, sedangkan dari aspek lahir salat adalah gerakan- gerakan yang mengandung hikmah positif bagi kesehatan jasmani. Sebagaimana dikatakan Saboe (1987) hikmah yang diperoleh dari gerakan-gerakan salat tidak sedikit artinya bagi kesehatan jasmani dan dengan sendirinya membawa efek pula pada kesehatan rohani. Setiap sikap, setiap perubahan dalam gerakan dan sikap tubuh pada waktu melaksanakan salat adalah paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh.

Salat mempunyai sifat isotorik, mengandung unsur badan dan jiwa serta akan menghasilkan bioenergi dan akan mempunyai efek mengurangi kecemasan yang lebih nyata dan lebih besar dibandingkan dengan olahraga biasa yang bersifat isometric, terutama yang menyangkut unsur badan saja dan mengeluarkan energi (Adi, 1985).

Teknologi Spiritual dengan Zikrullah.

Teknologi spiritual ketiga yang spesifik dalam upaya

penyembuhan korban narkoba, dalam tradisi tasawuf adalah zikrullah. Mengapa dengan zikrullah orang yang terlibat penyalahgunaan narkoba dan nafza dapat sembuh karena memang banyak ayat dan hadis yang menjelaskan hal itu. Di antaranya:

"…yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh, ketahuilah dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram" (ar-Ra'du: 28).

"Berzikirlah kamu kepada-Ku, niscaya Kami akan mengingatmu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu kufur kepada-Ku" (al-Baqarah: 152).

Zikir adalah cara dan alat agar iman kita semakin bertambah. Iman manusia bisa bertambah bisa berkurang. Cara efektif untuk memperkuat, menambah dan memperbaharui iman adalah dengan zikrullah. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda "Perbaharuilah iman kamu sekalian, ditanyakan kepada Rasululloh, bagaimana cara memperbaharui iman itu ya Rasululloh? Rasul menjawab dengan memperbanyak mengucapkan Laailaahaillalloh "Tidak ada Tuhan selain Alloh" (H.R. Baehaqi).

Dalam hadis yang lain Rasululloh bersabda: "Ingat kepada Alloh adalah obat untuk segala penyakit hati" (H. R. Thabrani). Rasululloh bersabda: "Sesungguhnya setiap segala sesuatu itu ada obatnya, sedangkan obat penyakit hati adalah zikrullah" (Ibnu Hibban). Dalam pandangan agama, mengapa orang terjerumus ke narkoba dan napza. Jawabannya tentu saja karena hati orang itu sakit. Hati yang sakit harus

diobati agar sembuh, sehat dan normal, sedangkan cara penyembuhannya ialah dengan berzikir kepada Alloh secara istiqomah.

Zikir yang menjadi obat penyembuh rohani adalah zikir yang diajarkan oleh ahlinya. Yang dimaksud ahli di sini adalah guru mursyid (guru tarekat), atau wakil yang ditunjuk oleh guru mursyid yang biasa disebut wakil talkin atau khalifah. Cara mengajarkan zikir kepada murid disebut talkin atau disebut bai'at spiritual. Zikir dalam tasawuf (TQN) terbagi dua, jahr dan khafi. Jahr artinya zikir dengan suara keras dengan cara tertentu, sedangkan khafi adalah berzikir dengan isbat saja dan di laksanakan di dalam hati, mengucapkan di hati (Alloh) terus menerus dengan khusu.

Menurut Su'dan (1987), "waktu berzikir dimulai dengan mengisap udara secara maksimal yaitu pada waktu mengucapkan "laa" ditarik dari bawah pusar terus ke atas sampai ke kepala, sambal membusungkan dada dan perut. Kemudian menurunkan kepala ke kanan sambal mengucapkan "Ilaaha", seluruh paru-paru kanan dikempiskan sempurna, udara akan habis tidak tersisa. Selanjutnya kepala diturunkan ke kiri sambal mengucapkan "Illalloh" sekuat-kuatnya dengan mengeluarkan seluruh udara di paruparu kiri sampai tidak tersisa sama sekali. Dengan demikian zat asam arang (CO2) yang bersifat racun terbuang".

Orang yang secara intensif melaksanakan zikrullah akan muncul dari dirinya tujuh karakter positif sebagai berikut:

  • 1. Kemampuan memecahkan masalah dari mulai masalah pribadi, karir, politik, ekonomi, dan lain-lain. Masalah-masalah yang kompleks yang tidak terpecahkan dapat membawa dampak pada gangguan kejiwaan, seperti stress, insomania, ingin bunuh diri, atau bahkan sudah menjurus ke arah gangguan jiwa;
  • 2. Ketahanan emosional yang tinggi, meskipun mengalami berbagai situasi yang menyedihkan atau mengecewakan. Dilihat dari sudut pandang psikologi, ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam proses "katarsis", yaitu pelepasan beban emosional;
  • 3. Ketenangan batin, tidak merasa cemas atau waswas dalam menghadapi situasi yang tidak menentu. Masyarakat modern ditandai dengan munculnya berbagai kondisi yang mencemaskan (the age of anexiety). Dalam kondisi semacam ini orang yang mengamalkan TQN yakni zikrullah akan tetap tetang.
  • 4. Pengendalian diri yang baik (control diri), tidak terbawa arus ke mana pun pergi. .
  • 5. Pemahaman terhadap diri sendiri secara baik.
  • 6. Menemukan jati dirinya, atau dalam istilah "individuasi" karena mampu menemukan dirinya, ia pun mampu menemukan Tuhannya.
  • 7. Kesadaran "supernormal" (bukan para normal), yang pada umumnya dimiliki oleh orang yang berwawasan spiritual atau memiliki tingkat kerohanian tinggi (Subandi, 2015).

Teknologi spiritual lainnya, selain mandi, salat, dan zikir, adalah khataman, dan manakiban. Khataman dilakukan minimal satu kali dalam seminggu, sementara manakiban minimal satu kali dalam sebulan dan yang menjadi ukuran adalah bulan qomariah. Inti khotaman adalah zikir, doa dan salawat, sedangkan inti manakiban adalah tabarruk (mengharap barokah) dan menambah ilmu, khususnya ilmu tasawuf dan tarekat untuk diamalkan dalam kehidupan.

SIMPULAN

Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia dibangun sebagai pusat penyembuhan dan pembinaan para korban penyalahgunaan narkoba, napza dan obat-obat terlarang lainnya, dengan menggunakan metode dan teknik yang diciptakan oleh Abah Anom. Metode dan teknik terapi penyembuhan korban narkoba di Inabah (1) Malaysia, pada dasarnya sama dengan metode dan teknik yang dipergunakan di Inabah Suryalaya yaitu dengan mengamalkan ajaran tasawuf (TQN). Inti ajaran tasawuf dimaksud adalah mandi taubat dengan segala syarat rukun dan doadoanya, amaliah ibadah salat wajib dengan selalu berjamaah, salat sunat muakkad dan an-nawafil, ditambah dengan zikrulloh yang diawali dengan talkin dari guru mursyid atau wakilnya.

Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia di samping sebagai pusat penyembuhan korban narkoba, dengan sendirinya juga berperan sebagai pusat penyebaran dan pengembangan dakwah TQN di Malaysia. TQN masuk ke semua negeri bagian Malaysia dan diamalkan oleh para Ikhwan di masing-masing negeri. Antara lain Kuala Lumpur, Kelang, Bangi,

Selangor, Kedah sendiri, Negeri Sembilan, Kelantan, Pulau Pinang, Trengganu, Sabah, dan Serawak.

Teknologi spiritual yang dilakukan di Inabah (1) Malaysia sama seperti di Pesantren Suryalaya yakni mandi, salat dan zikir, khataman, serta manakiban. Teknikologi spiritual yang dijalankan di Inabah (1) Malaysia dalam upaya penyembuhan korban narkoba. Teknologi spiritual termaksud disusun oleh Abah Anom serta secara utuh telah dibuat sebagai panduan yang baku bagi semua para Pembina yang terlibat dalam proses perawatan dan penyembuhan korban narkoba di Inabah (1) Malaysia khususnya dan di semua Inabah pada umumnya.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
7th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.31
level 1

Institution Network

References

  1. Alba, Cecep, (2014). Tasawuf dan Tarekat Dimensi esoteris Ajaran Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya.
  2. -------------, (2003). Zikrullah Urgensinya dalam Kehidupan, Bandung: Rosdakarya.
  3. -------------, (2003). Menjaga Kesucian Qolbu, Bandung: Rosdakarya.
  4. -------------, (2015). Epistemologi Tafsir Sufi, Tasikmalaya: Latifah Press.
  5. ------------- dkk. (2005). Satu Abad Pondok Pesantren Suryala Perjalanan dan Pengabdian 1905-2005. Tasikmalaya: PT. Remaja Rosdakary
  6. Aqib, Kharisudin, (1999). Al-hikmah Memahami Teosofi Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Surabaya: Dunia Ilmu.
  7. Tajul Arifin, Shohibulwafa, (2011). Miftahus-Shudur. Diterjemahkan oleh Ading Mujahidin, dengan judul Kunci Pembuka Hati. Jakarta : PT. Laksana Utama.
  8. -----------------, (1969). Miftah Al-Sudur. Diterjemahkan Oleh Abu Bakar Atjeh. Sukabumi: Kuta Mas.
  9. -----------------, (1975). Uqud Al-Juman. Jakarta: Kopontren Hidmat, Suryalaya.
  10. -----------------, (1983). Akhlaq al-Karimah. Suryalaya: Kuta Mas Ofset.
  11. -----------------, (2005). Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan remaja, Tasimlaya: PT Mudawamah wa Rahmah PPs Suryalaya.
  12. Faqih, Sodikin, (1992). Dialog tentang Ajaran Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Bandung: Wahana Karya Grafika.
  13. Sekretariat Pondok Pesantren Suryalaya, 2010, Kumpulan Maklumat Syaikh Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Tasikmalaya: Sekertariat Pondok Pesantren Suryalaya.
  14. As-Sya`Rani, Abdul Wahab, (2011). Al-Anwarul Qudsiyyah Fii Ma`Arifati Qawaa-Idish Shuufiyah. Diterjemahkan oleh H. Ali Bin H. Muhammad, dengan judul Sistem dan Pola Pendidikan Sufi. Ajid Thohir (Ed.). Tasikmalaya: PT Mudawamah Warohmah.
  15. Arief Ichwani, (1990). Berbagai Pandangan dan Berita tentang TQN, dalam Harun Nasution (ed), Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah: Asal Usul dan Perkembangannya, (Tasikmalaya: IAILM).
  16. Adi, A.W., (1985). Hubungan antara Keteraturan Menjalankan salat dengan Kecemasan pada Siswa Kelas II SMA Muhammadiyah Magelang. Skripsi. Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.
  17. Effendy, E. Wudhu untuk Efisiensi Kerja. Amanah nomor 29, tanggal 14-27 Agustus.
  18. Efendi, Usman, 1982. Penelitian IAIN Bandung, Inabah menyembuhkan korban Narkoba dengan pendekatan tasawuf.
  19. Nasution, Harun (Ed.). (1990). Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah : Asal-usul dan Perkembangannnya, Tasikmalaya: IAILM.
  20. Praja, Juhaya S. (1990). Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah: Asal-usul dan Perkembangannya pada masa Abah Anom (1950.1990) dalam Harun Nasution (Ed.), Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah: Asal-Usul dan Perkembangannya. Tasikmalaya: IAILM.
  21. ---------------, (1995). Model Tasawuf menurut Syari
  22. ----------------, (1990). Pengaruh TQN di dalam dan luar Negeri, dalam Harun Nasution (Ed). Thoriqoh Qodiriyyah wa Annaqsyabandiyah, Tasikmalaya, IAILM.
  23. Suhrowadi, (2025). Syihabudin, Bidayatussalikin: Belajar Ma`Rifat kepada Allah. Tasikmalaya: PT Mudawamah Warohmah.
  24. Purwanto, Yedi, (2019). Salman Mosque as a Center of Islamic Da.wah and Spiritual Laboratory for Campus Community, Jurnal for Homiletic studies, volume 13 Nomor 1 1-24. UIN Bandung.
  25. Sunarjo, Unang, (1995). Menelusuri Perjalanan Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya Pusat Pengembangan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Abad Ke Dua Puluh. Tasikmalaya: YSB Pondok Pesantren Suryalaya.
  26. Tafsir, Ahmad, (2010). Thoriqoh dan Perkembangan Tasawuf, Dalam Harun Nasution (Ed.) .
  27. Zaki, Mohamad dkk., (2010). Profil Pondok Remaja Inabah (1) Malaysia Cawangan Pondok Pesantren Suryalaya, Pusat Pemulihan Dadah Persendirian, Kedah Darul Aman.
  28. Nurol Aen, (1990). Inabah, dalam Harun Nasition (Ed), Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyah, Tasikmalaya: IAILM.
  29. Muhtar, (2014). Pendekatan Spiritual dalam Rehabilitasi social Korban Penyalahgunaan Narkoba di Pesantren Inabah Surabaya, dimuat dalam Jurnal Informasi, vol 19, no 3, 2014), hal. 250.
  30. Haryanto, sentot, (1999). Terapi Religius Korban Penyalahgunaan Nafza di Inabah Pondok Pesantren Suryalaya, Buletin Psikologi, tahun VII, NO 1, Juni.
  31. -------------, Terapi Religius Korban Penyalahgunaan Napza di Inabah PP Suryalaya, Makalah tanpa tahun.
  32. Su