1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2020) Issue 2
  4. Articles

Pengembangan desain becak listrik sebagai upaya pelestarian transportasi becak di kota Yogyakarta

Abstract

Yogyakarta city in the era of globalization has been developing without losing its historical and cultural values, which are owned as regional identity. This identity makes Yogyakarta city has a tourist attraction value both for domestic and international tourists. Electric pedicab is one of alternative transportations in Yogyakarta that is able to support tourism activities. In the development of city transportation, electric pedicab is the result of the transformation of traditional pedicab, one of the cultural heritages in Yogyakarta. The purpose of transformation effort is to preserve pedicab transportation and to respond issues related to sustainability threat. Design has also become one of the aspects that needs to be considered in developing pedicab transportation. This study reviews and analyzes various factors that can influence the design of an electric pedicab, so that it can be a reference in further design development. This research use qualitative approach and supported by observation and purposive sampling interviews. The result of this study is a new electric pedicab design concept, without losing the design characteristics of the traditional Yogyakarta pedicab.Keywords: electric pedicab, transportation, tourism, Yogyakarta

Keywords

PENDAHULUAN

Transportasi memiliki sejarah panjang dalam membantu aktivitas manusia terutama dalam hal mobilitas. Berbagai jenis transportasi baik darat, laut maupun udara diciptakan oleh manusia untuk meningkatkan aksesibilitas menuju suatu wilayah.

Di era modern, di beberapa daerah di Indonesia masih menggunakan berbagai jenis transportasi tradisional, salah satunya adalah becak. Meskipun keberadaannya telah tergeser oleh transportasi modern, namun hingga kini becak tradisional masih layak dan mampu melayani kebutuhan masyarakat.

Menurut (Suranny, 2016: 219) terdapat beberapa hal yang menjadi keunggulan becak sebagai salah satu transportasi tradisional, di antaranya ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar, memiliki biaya pembuatan dan operasional yang ekonomis serta sebagai sarana pelestarian budaya nenek moyang yang unik. Keunggulan yang dimiliki oleh becak tradisional telah menjadi sorotan bagi beberapa daerah untuk senantiasa melestarikan transportasi tradisional, seperti yang terjadi di Kota Yogyakarta.

Dalam prinsip pembangunan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki tiga landasan yaitu pendidikan, budaya dan pariwisata seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Pola Pengembangan Transportasi Wilayah. Perda tersebut menjelaskan bahwa upaya pengembangan sistem transportasi yang berkelanjutan harus dapat melestarikan dan memilih moda transportasi tradisional yang ramah lingkungan, salah satunya becak untuk meningkatkan citra transportasi daerah.

Pengesahan Perda mengenai pengembangan transportasi wilayah menjadi bukti nyata Provinsi DIY dalam mengawali upaya pelestarian becak tradisional. Keberadaan becak tradisional kemudian secara komprehensif diatur dalam Perda DIY Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Moda Transportasi Tradisional Becak dan Andong. Perda tersebut mengatur berbagai aspek yang mampu mendukung keberlangsungan becak tradisional meliputi

aspek penyelenggaran, aspek penataan, aspek pelestarian, dan aspek keselamatan.

Keseriusan Pemerintah DIY dalam melestarikan becak bukan tanpa alasan. Becak tradisional menjadi salah satu bagian dari identitas daerah Yogyakarta, seperti yang dinyatakan oleh pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (dalam Pramudia, 2013) becak tradisional dapat dijadikan ciri penanda budaya jawa sehingga harus senantiasa dijaga keberadaannya.

Dalam upaya mewujudkan pariwisata berbasis budaya, becak tradisional telah dimanfaatkan sebagai transportasi wisata. Hal tersebut semakin mendukung potensi wisata yang dimiliki oleh Kota Yogyakarta. Selain menjadi ibu kota Provinsi DIY, Kota Yogyakarta merupakan pusat sejarah dan ikon keistimewaan Yogyakarta. Kota Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun internasional. Keberadaan becak tradisional dapat menjadi transportasi alternatif yang dapat digunakan oleh para wisatawan untuk bepergian mengunjungi berbagai tempat wisata dalam lingkup kota.

Kondisi Terkini

Perda DIY Nomor 5 Tahun 2016 mendefinisikan becak sebagai Moda Transportasi Tradisional beroda 3 (tiga) yang digerakkan oleh tenaga orang. Adapun becak tradisional yang dimaksud dalam Perda tersebut adalah transportasi becak yang menggunakan sistem pedal dan masih dijalankan dengan cara dikayuh.

Seiring dengan perkembangan teknologi, becak tradisional telah mengalami modifikasi sehingga lebih mudah digunakan oleh manusia. Kini di wilayah Kota Yogyakarta semakin banyak bermunculan betor (becak motor). Penggunaan mesin motor pada betor memberikan dampak perubahan rangka dan bentuk becak tradisional. Selain itu, sistem pembakaran pada mesin membuat betor dapat menghasilkan polusi suara dan udara. Keberadaan betor menimbulkan polemik karena keberadaannya yang tidak sesuai dengan kebijakan dan arah pengembangan transportasi ramah lingkungan. Namun, di sisi lain betor menjadi solusi alternatif bagi para pengemudi becak yang telah kesulitan mengayuh

karena faktor usia.

Kemunculan betor berdampak pada berkurangnya jumlah becak tradisional yang beroperasi di wilayah DIY. Data Dinas Perhubungan (Dishub) DIY (dalam Risdiyanto, Koenti, & Hasanah, 2015:93) menunjukkan pada tahun 2015 jumlah becak tradisional mencapai 8.000 unit. Pada tahun 2016 Dishub DIY melakukan pendataan kembali dan diketahui terjadi penurunan jumlah hingga 5.080 unit. Dalam Laporan Akhir Penanganan Kajian Angkutan Tradisional oleh Dishub DIY, diketahui pada tahun 2017 jumlah becak tradisional terus berkurang hingga 3.415 unit. Hingga tahun 2018 jumlah becak tradisional mencapai 3.325 unit (Rusqiyati, 2018).

Berkurangnya jumlah becak tradisional menjadi salah satu ancaman dalam upaya melestarikan transportasi tradisional. Pengurangan jumlah becak berdampak pada keberlangsungan becak tradisional dan nasib pengemudi becak. Data yang dirilis oleh Dishub DIY dalam Laporan Akhir Penanganan Kajian Angkutan Tradisional tahun 2017, menunjukkan sebesar 85% dari total 325 responden pengemudi becak yang ada di wilayah DIY memiliki status pekerjaan tetap. Hal tersebut menunjukkan masih banyak pengemudi becak yang menggantungkan hidup dengan mencari nafkah melalui becaknya. Kekhawatiran tersebut menjadi sebuah fenomena yang menuntut berbagai upaya penanganan yang melibatkan banyak pihak untuk melestarikan becak.

Fenomena yang terjadi dalam upaya melestarikan becak tradisional ditanggapi oleh Pemerintah Yogyakarta. Dinas Perhubungan (Dishub) DIY melakukan inovasi berupa becak bertenaga listrik yang diberi nama "Belia" dan "Bregada" untuk membantu para pengemudi dalam menjalankan becaknya (Gambar 1 sisi kiri). Becak dipasangkan dinamo listrik pada bagian roda belakang (Gambar 1 sisi kanan) serta aki berkapasitas 350W dan baterai 48V 20Ah. Sistem penggerak berupa pedal masih tetap dipertahankan sehingga jika tenaga listrik habis, pengemudi becak masih dapat mengayuhnya. Jika becak tidak dikayuh sama sekali, becak mampu menempuh jarak hingga 40 kilometer dalam sekali isi daya (charge). Namun, jarak tempuh dapat lebih jauh jika sambil dikayuh (Syaifullah, 2018). Durasi pengisian daya listrik membutuhkan waktu 1 hingga 2 jam (Anshori, 2018).

Becak tradisional dalam eksistensinya telah didukung oleh kebijakan daerah yang bersifat melindungi dan mengarahkan dengan jelas tujuan upaya pelestarian. Sebagai bagian dari rencana pembangunan daerah, becak tradisional dimanfaatkan untuk transportasi alternatif yang mampu mendukung sektor pariwisata. Selain itu, pengembangan becak listrik dilakukan demi mempertahankan prinsip becak sebagai transportasi ramah lingkungan. Studi terkait desain becak Yogyakarta dibutuhkan guna memperjelas bagian ciri khas

Gambar 1 Becak Listrik Yogyakarta, Belia dan Bregada (sumber: https://otomotif.tempo.co/read/1149056/belia-becak-listrik-asal-yogya-punya-segudang-kelebihan)

transportasi yang dapat digunakan sebagai acuan dasar bagi pengembangan desain selanjutnya, terutama pada becak listrik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis desain becak khas Yogyakarta yang mampu memengaruhi desain becak listrik. Merujuk pada teori Marvin Bartel (1999) terdapat 6 elemen pembentuk visual yaitu: 1) warna, 2) garis, 3) bentuk, 4) tingkat kecerahan, 5) tekstur, dan 6) volume. Garis, tingkat kecerahan, tekstur dan volume merupakan elemen yang mampu membentuk warna dan bentuk. Oleh karena itu, penentuan ciri khas becak tradisional Yogyakarta difokuskan pada elemen warna dan bentuk.

METODE

Becak tradisional menjadi salah satu bagian dari identitas Kota Yogyakarta yang membangun citra daerah terutama dalam sektor pariwisata. Namun, di sisi lain faktor usia pengemudi yang semakin menua menjadikan becak tradisional mengalami transformasi bentuk. Berdasarkan fenomena tersebut, diperlukan upaya pengembangan desain becak dengan mempertimbangkan ciri khas desain pada becak tradisional Yogyakarta.

Dengan mengadaptasi teori elemen pembentuk visual Marvin Bartel, penelitian ini mengidentifikasi ciri khas desain pada warna dan bentuk becak tradisional khas Yogyakarta. Melalui ciri khas yang telah teridentifikasi, maka dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan desain becak listrik khas Yogyakarta.

Pendekatan secara kualitatif digunakan dalam penelitian ini dan didukung oleh studi literatur terhadap fenomena terkait. Pembuktian secara empiris di lapangan dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara kepada tiga orang pengemudi becak, di antaranya satu orang pengemudi becak kayuh tradisional dan dua orang pengemudi becak listrik. Observasi dilakukan di Kawasan Malioboro, sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Yogyakarta. Selain itu, menjadi pusat konsentrasi sejumlah becak tradisional.

Pengamatan difokuskan pada aspek desain, meliputi warna dan bentuk becak yang beroperasi di kawasan Malioboro. Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan ciri khas desain pada becak tradisional. Oleh karena itu, pengambilan sampel dilakukan pada beberapa becak yang memiliki warna dan bentuk berbeda sebagai perbandingan.

Berbagai data telah diperoleh melalui studi literatur sebagai data primer, lalu dianalisis dan diuraikan secara deskriptif. Adapun pembahasan diawali dengan topik terkasit ciri khas desain pada becak tradisional Yogyakarta, lalu proses pengembangan desain becak listrik. Hasil observasi terkait desain becak ditampilkan dalam bentuk gambar, sedangkan untuk memudahkan analisis dan komparasi desain becak, maka data ditampilkan dalam bentuk tabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Khas Desain Becak Tradisional Yogyakarta

Becak tradisional di Kota Yogyakarta termasuk jenis becak Jawa. Becak di Pulau Jawa umumnya memiliki konstruksi dengan 2 roda di depan sedangkan 1 roda di belakang. Posisi pengemudi berada di belakang kursi penumpang yang mampu mengangkut 2 penumpang. Becak digerakkan dengan cara dikayuh (Bafadal, 2018), sehingga masih sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia.

Data INSTRAN (Institut Studi Transportasi) tahun 2012, menyebutkan bahwa becak tradisional memiliki bobot kosong sebesar 120kg dan kecepatan maksimal 20 km/jam.

Bagian yang membedakan bentuk becak tradisional Yogyakarta dengan daerah lain, khususnya di Pulau Jawa adanya sepatbor atau penutup roda samping kiri dan samping kanan yang berbentuk melengkung. Selain itu, bagian atap becak terdapat engsel yang terhubung dengan badan becak, sehingga atap dapat dibuka atau ditutup sesuai kebutuhan.

Berdasarkan hasil observasi, tampilan visual setiap sepatbor berbeda antara becak satu dengan lainnya. Visual sepatbor tersebut dapat dibagi menjadi 5 jenis, seperti yang tampak pada Tabel I.

TABEL I TAMPILAN SEPATBOR PADA BECAK TRADISIONAL KHAS YOGYAKARTA

No.Jenis Tampilan SepatborFoto Sepatbor
1Nama dan logo perusahaan. Tampak pada
foto logo dan nama salah satu hotel.
2Gambar pemandangan
3Polos atau tanpa gambar
4Representasi identitas Yogyakarta. Tampak
pada foto tulisan "Malioboro" dan lambang
Keraton Yogyakarta.
5Ornamen atau motif

Sepatbor merupakan satu-satunya bagian yang diberi hiasan pada becak (Yogya, 2011:20). Sepatbor menjadi media ekspresi para pengemudi becak, umumnya dilukis dengan gambar pemandangan atau kalimat yang mewakili pandangan hidup pengemudi becak atau filosofi Jawa. Menurut Sri Sultan Hamengkubuwono IX becak tidak hanya sekadar alat transportasi, namun memiliki filosofi kebudayaan Yogyakarta yang tertuang pada tampilan sepatbor becak tersebut (Ose, 2012).

Bagian sepatbor tidak hanya digunakan sebagai sarana visual, melainkan memiliki nilai komersial. Berdasarkan hasil wawancara kepada para pengemudi becak, beberapa pengemudi becak menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan pendapatan. Sebagai contoh di Kawasan Malioboro yang didominasi oleh tempat perbelanjaan dan penginapan. Daya tarik wisata yang dimiliki oleh Kawasan Malioboro telah memberikan peluang bisnis di kalangan para pengemudi becak.

Beberapa perusahaan menjalin kerja sama dengan para pengemudi becak atau paguyuban becak. Perusahaan memanfaatkan becak sebagai transportasi yang mampu mendatangkan pelanggan. Oleh karena itu, dalam menawarkan jasa transportasi becak para pengemudi juga menawarkan atau memberikan informasi kepada para wisatawan untuk mengunjungi perusahaan terkait, khususnya mereka yang sedang mencari penginapan atau oleh-oleh. Atas dasar usaha tersebut, pengemudi becak mendapatkan komisi dari perusahaan karena telah mendatangkan pelanggan. Pada aspek desain, kerja sama yang terjalin antara perusahaan dengan para pengemudi becak dapat mudah diidentifikasi melalui tampilan warna atau motif pada becak. Bagi pengemudi becak yang menjalin kerja sama, bagian sepatbor becak miliknya menampilkan logo atau nama perusahaan terkait seperti hotel, tampak pada Tabel I nomor 1.

Ciri khas desain becak tradisional Yogyakarta terletak pada bagian sepatbor dan dimensi kendaraan yang tidak berubah hingga kini. Hal tersebut diakui oleh para narasumber yang mengungkapkan bentuk dan dimensi becak tidak berubah sejak dahulu. Sejarah mencatat bahwa becak tradisional masuk ke Yogyakarta pada saat era kependudukan Jepang di Indonesia.

Bentuk tubuh dan dimensi becak tradisional khas Yogyakarta telah diatur dalam Peraturan Daerah DIY Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Moda Transportasi Tradisional Becak dan Andong (Gambar 3).

Seiring dengan perkembangan zaman, becak tradisional di Kota Yogyakarta mengalami perubahan sistem penggeraknya. Salah satu faktornya usia pengemudi yang semakin menua sehingga kemampuan fisik semakin terbatas dan sulit untuk mengayuh becaknya. Awalnya becak menggunakan sistem kayuh berubah menggunakan mesin motor. Upaya modifikasi tersebut telah mengubah desain becak tradisional sehingga betor memiliki bentuk berbeda dari regulasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan

Gambar 3 Desain becak tradisional khas Yogyakarta (Sumber: Perda DIY Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Moda Transportasi Tradisional Becak dan Andong)

pengamatan langsung di kawasan Malioboro, terdapat beberapa desain becak yang dapat dijadikan contoh karena memiliki bentuk dan rangka berbeda. Perbedaan desain dapat secara jelas dilihat pada Tabel II.

Berdasarkan Tabel II, becak pada nomor 1 merupakan prototype becak listrik yang dirancang oleh Dishub DIY. Prototype tersebut menjadi acuan perbandingan desain karena memiliki bentuk sesuai dengan regulasi. Tampak pada gambar nomor 1, becak memiliki sepatbor pada bagian depan. Sedangkan pada gambar nomor 2 memiliki bentuk yang sama dengan becak nomor 1. Namun, tidak memiliki sepatbor. Becak nomor 3 dan 4 memiliki susunan rangka yang berbeda sehingga memiliki bentuk yang tidak sama dengan becak nomor 1. Becak nomor 1, 2, 3 dan 4 menggunakan sistem penggerak pedal untuk menjalankannya. Berbeda dengan becak pada nomor 5 merupakan betor, hasil modifikasi becak kayuh. Pada bagian rangka berbeda, terdapat ruang tambahan untuk meletakkan mesin motor.

Berdasarkan analisis di atas maka dapat dijelaskan bahwa transportasi becak Yogakarta memiliki beberapa variasi desain. Terdapat becak yang tidak memiliki sepatbor sebagai salah satu bagian penting dalam mencerminkan becak khas Yogyakarta. Selain itu, terdapat becak yang memiliki sepatbor namun konstruksi rangkanya berbeda. Perbedaan bentuk juga terjadi pada becak kayuh yang dimodifikasi menjadi betor. Penambahan komponen berupa mesin motor menjadikan rangka pada becak mengalami perubahan.

Desain becak yang berbeda-beda mengakibatkan becak yang memiliki desain khas Yogyakarta kurang mampu menunjukkan identitasnya sebagai transportasi tradisional khas daerah. Selain itu, kemunculan betor di Yogyakarta mampu merusak citra becak tradisional sebagai transportasi yang ramah lingkungan. Sebagai salah satu warisan budaya daerah yang dilestarikan, maka dalam upaya pengembangan desain becak khusus wilayah Yogyakarta harus memperhatikan bagian ciri khas pada transportasi.

TABEL II PERBEDAAN DESAIN BECAK YANG BEROPERASI DI KAWASAN MALIOBORO

No.Foto DokumentasiPenyederhanaan
Rancang dan Bentuk
1
2
3

Becak Listrik Khas Yogyakarta

Pemanfaatan tenaga listrik mampu meringankan pekerjaan para pengemudi dalam mengayuh becak. Secara desain, pemanfaatan sistem penggerak tenaga listrik tetap mampu mempertahankan bentuk transportasi. Becak listrik yang sudah beroperasi memiliki bentuk yang menyerupai becak tradisional khas Yogyakarta. Namun, hal tersebut menimbulkan permasalahan baru. Kemiripan desain dengan becak tradisional memberikan dampak pada sulitnya mengidentifikasi keberadaan becak listrik. Para pengemudi becak listrik yang menjadi narasumber menjelaskan bahwa keberadaan becak listrik kurang dikenal oleh para wisatawan di Kawasan Malioboro. Pada kasus tersebut, becak listrik kurang menunjukkan perbedaan sebagai sebuah transportasi yang telah memanfaatkan tenaga listrik. Sebagai wujud pengembangan transportasi terbarukan becak listrik tidak hanya menjadi solusi dalam menciptakan transportasi modern dan ramah lingkungan, melainkan menjadi harapan bagi para pengemudi becak agar mengalami peningkatan dalam hal perolehan penumpang.

Perlunya identitas atau ciri khas mampu menunjukkan becak listrik membutuhkan upaya pengembangan, salah satunya aspek desain. Berdasarkan analisis terkait ciri khas desain becak tradisional Yogyakarta, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan desain becak listrik di antaranya sebagai berikut.

  • 1. Sepatbor merupakan bagian khas desain becak tradisional Yogyakarta yang difungsikan sebagai media ekspresi visual para pengemudi becak dan kepentingan komersial.
  • 2. Warna pada becak tradisional khas Yogyakarta, terutama pada bagian sepatbor muncul dari gambar yang ditampilkan seperti nuansa pemandangan, nama atau logo suatu perusahaan, representasi identitas Yogyakarta, dan motif.
  • 3. Perda DIY Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Moda Transportasi Tradisional Becak dan Andong, dapat dijadikan acuan dalam merancang rangka maupun bentuk transportasi becak Yogyakarta.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dapat diusulkan pengembangan desain becak listrik khas Yogyakarta seperti yang tampak pada Gambar 4.

Pada Gambar 4, desain becak listrik mengadaptasi dari rancang dan bentuk becak tradisional khas Yogyakarta. Bagian sepatbor becak tetap dipertahankan sebagai bagian desain khas becak tradisional Yogyakarta. Kedua roda depan menggunakan penutup sedangkan pada roda belakang lebih tertutup dengan adanya tambahan sepatbor (Gambar 4 ditunjukkan oleh abjad A). Hal tersebut ditujukan untuk memuat lebih banyak ruang visualisasi pada becak baik untuk merepresentasikan identitas m budaya maupun kepentingan komersial. Selain itu, Becak dilengkapi dengan fitur keamanan seperti lampu malam (B), lampu isyarat berbelok, lampu rem (C), indikator kecepatan dan kapasitas baterai serta spion (D). Berdasarkan analisis terkait warna pada becak tradisional, warna dapat ditimbulkan berdasarkan objek gambar yang ada pada becak dan berbeda-beda bergantung penggunanya. Contoh desain visual alternatif yangd diterapkan pada becak listrik dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 4 Konsep Desain Becak Listrik Khas Yogyakarta

Gambar 5 Desain Visual pada Becak Listrik Khas Yogyakarta

SIMPULAN

Becak tradisional di Provinsi DIY menjadi salah satu warisan budaya yang dilestarikan. Demi mendukung keberlangsungan becak tradisional, maka Pemerintah Daerah menerbitkan peraturan daerah sebagai penentu arah pengembangan dan mengatur penyelenggaraan transportasi baik secara teknis maupun operasional. Di era modern, becak tradisional memiliki peranan sebagai transportasi alternatif pendukung kegiatan wisata khususnya di Kota Yogyakarta.

Kemunculan betor mengawali langkah upaya pengembangan transportasi becak. Polemik yang timbul akibat keberadaan betor membuktikan bahwa transportasi becak di Kota Yogyakarta harus dikembangkan dengan memperhatikan ciri khas desain yang dimiliki. Adapun yang menjadi penanda khas dari becak tradisional Yogyakarta adalah bagian sepatbor. Sepatbor tidak hanya difungsikan sarana ekspresi visual saja, melainkan memiliki nilai komersial terutama bagi pengemudi becak yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan untuk mendatangkan pelanggan. Oleh karena itu tampilan sepatbor antara becak satu dengan lainnya dapat berbeda. Terdapat lima jenis tampilan sepatbor pada becak yaitu: 1) nama dan logo perusahaan, 2) gambar pemandangan, 3) polos atau tanpa gambar, 4) representasi identitas Yogyakart, dan 5) ornamen atau motif.

Keberadaan becak listrik dapat menjadi penerus becak tradisional di era modern ini. Becak listrik menjadi salah satu solusi kebutuhan transportasi becak yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan. Namun, tetap mempertahankan ciri khas desain dari becak

tradisional Yogyakarta. Meskipun demikian, becak listrik membutuhkan suatu penanda atau ciri khas khusus untuk menjadi identitas yang dapat membedakannya dari becak tradisional. Pada usulan desain alternatif, penanda khas tersebut dibuktikan dengan penambahan sepatbor untuk bagian roda belakang dan penutup roda depan yang dapat difungsikan sebagai ruang tambahan visual. Selain itu, terdapat fitur pendukung keamanan seperti spion, lampu malam, lampu isyarat berbelok, lampu rem, indikator kecepatan serta kapasitas baterai. Usulan terkait desain baru tersebut dapat digunakan sebagai salah satu referensi bagi pengembangan transportasi becak listrik khas Yogyakarta selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anshori, R. (2018). Berkenalan dengan Bregada dan Belia di Kota Gudeg. Diakses 4 Juni 2019 dari https://www.tagar.id/ berkenalan-dengan-bregada-dan-belia-dikota-gudeg

Bafadal, I. (2018). Inilah Jenis-Jenis Becak yang Dapat Kalian Temui di Indonesia, Sudah Pernah Naik? Diakses 20 Mei 2019 dari https://www.goodnewsfromindonesia. id/2018/01/21/inilah-jenis-jenis-becakyang-dapat-kalian-temui-di-indonesiasudah-pernah-naik

Bartel, M. (1999). Some Ideas About Composition and Design Elements, Principles, and Visual Effects. Diakses 4 Juli 2020 dari https://www.bartelart.com/ arted/Compose.htm#elements

  • Institut Studi Transportasi. (2012). Proposal Pembuatan Becak Desain Baru Angkutan Tidak Bermotor yang Ramah Lingkungan dan Tanpa BBM. Diakses 19 Oktober 2019 dari http://www.instran.org/index. php/in/home/2463-apa-sih-programmodernisasi-becak
  • Laporan Akhir Kajian Penanganan Angkutan Tradisional 2017. Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Ose. (2012). Becak Akan Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia. Diakses 21 Mei 2019 dari http://jogja.tribunnews.com/2012/11/13/ becak-akan-diusulkan-jadi-warisanbudaya-dunia
  • Peraturan Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Pola Pengembangan Transportasi Wilayah. Diunduh dari https://peraturan.bpk.go.id/ Home/Details/11705
  • Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Moda Transportasi Tradisional Becak dan Andong. Diunduh dari https://peraturan. bpk.go.id/Home/Details/11569
  • Pramudia, H. (2013). Tingkat Kepuasan Wisatawan Terhadap Kualitas Pelayanan Becak Wisata Kota Yogyakarta. Tesis Program Kajian Pariwisata, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

  • Risdiyanto, Koenti, I. J., & Hasanah, E. U. (2015). Karakteristik Pengemudi, Layanan, Serta Fisik Becak Dan Andong Di DIY. Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil V, (55), 91–99.
  • Rusqiyati, E. A. (2018). Dishub Yogyakarta: jumlah becak kayuh makin berkurang. Diakses 7 April 2019 dari https://www. antaranews.com/berita/733582/dishubyogyakarta-jumlah-becak-kayuh-makinberkurang
  • Suranny, L. (2016). Moda Transportasi Tradisional Jawa (Traditional Transportation Equipment in Java). Jurnal Penelitian Arkeologi Papua, 8(2), 217–231. Diakses dari https://jurnalarkeologipapua. kemdikbud.go.id/
  • Syaifullah, M. (2018). Belia Becak Listrik asal Yogya, Punya Segudang Kelebihan Diakses 4 Juni 2019 dari. https://otomotif.tempo. co/read/1149056/belia-becak-listrikasal-yogya-punya-segudang-kelebihan/ full&view=ok
  • Yogya, H. Van. (2011). The Becak Way, Ngudoroso Inspiratif di Jalan Becak. Solo: Metagraf.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.28
FWCIfield-weighted
66th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Related Research

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Institution Network