1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2020) Issue 2
  4. Articles

Perilaku eksternalisasi anak rumah susun sederhana Leuwigajah Cimahi dalam optimalisasi ruang terbuka hijau

Abstract

Penelitian perilaku externalizing anak berkaitan pemanfaatan optimalisasi ruang terbuka hijau di rumah susun sederhana Leuwigajah Cimahi. Mayoritas anak beraktivitas di selasar rumah susun dengan kondisi ruang minimalis. Sesekali mereka memanfaatkan ruang terbuka hijau, namun bagi anak yang tinggal di lantai 2 dan 3 sangat jarang mengoptimalkan ruang tersebut. Hipotesis yang diajukan partisipan akan menunjukkan perilaku externalizing: (1) perilaku melanggar aturan, mengganggu (delinquent behavior), (2) perilaku agresif (aggressive behavior). Sebagai subjek,  penelitian ini melibatkan 42 anak usia 6-12 tahun yang tinggal di rumah susun dengan berbagai latar belakang orang tua. Metode penelitian yang digunakan ialah metode observasi, metode wawancara dan pemberian kuesioner CBCL (Child Behavior Checklist). Setelah orang tua mengisi kuesioner, peneliti melakukan pengamatan pada anak yang biasa hanya bermain di seputar selasar rumah lalu berinteraksi di ruang terbuka hijau dengan teman sebaya. Hasil penelitian memberi konfirmasi bahwa 20 anak pada kategori normal, 5 anak kategori borderline, 17 anak kategori klinis dan hanya 11 anak memanfaatkan ruang terbuka hijau. Kata kunci: Perilaku Externalizing, Rusuna Cimahi, Ruang terbuka hijau.

Keywords

PENDAHULUAN

Masalah perilaku merupakan faktor resiko utama bagi anak dan remaja yang dipandang sebagai akibat timbulnya kenakalan remaja, kejahatan dewasa, dan kekerasan. Perilaku externalizing anak dan kenakalan semakin dipandang sebagai masalah di dalam masyarakat (Campbell, et al., 2000). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat semester pertama tahun 2018 kasus anak yang dilaporkan berjumlah 1084 kasus terdiri atas 504 kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH), 325 kasus anak dengan orang tua bercerai dan 255 kasus anak terlibat cyber crime. Dari 504 kasus ABH, tercatat 229 anak terlibat pembunuhan, tawuran dan geng kejahatan, 120 anak kasus pencurian, 89 anak terlibat narkoba, dan 66 anak terlibat tindak asusila. KPAI menyatakan hal ini terjadi karena lemahnya keterlibatan orang tua dalam pola asuh, pengaruh lingkungan, adanya niat, dan kesempatan. Ditinjau dari latar belakang, sebagian besar ABH tinggal di lingkungan kumuh (slum areas) dengan kondisi sosial orang tua berpenghasilan rendah. Penelitian tentang slum areas menyatakan bahwa faktorfaktor determinan penyebab terjadinya perilakuperilaku agresif pada lingkungan kumuh dapat berupa keluarga atau orang tua, teman sebaya, lingkungan sosial/tetangga, media massa dan kondisi internal (Badrun Susantyo, 2016). Selain itu, kualitas dan karakteristik lingkungan fisik sangat berperan dalam memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, sosial, fisik, dan perilaku anak. Penelitian perkembangan dan kesejahteraan anak, bahwa fasilitas kebutuhan anak yang seharusnya difasilitasi secara fisik oleh lingkungan sering diabaikan oleh kelompok dominan yang relevan, terutama dalam proses perencanaan dan pembaruan alam atau lingkungan buatan (Ismail, K. H., et al 2017).

Perilaku pada anak yang melibatkan emosi, kognitif pada individu, yang dimanifestasikan sebagai perilaku antisosial, agresif yang bertentangan dengan otoritas, norma sosial dan sering melanggar hak orang lain disebut perilaku externalizing (eksternalisasi). Frick, P. J., et al (2012) mengatakan apabila perilaku eksternalisasi terjadi pada masa anak-anak, maka berisiko akan memiliki perilaku yang menjadi semakin parah saat dewasa. Perilaku eksternalisasi memiliki tanda perilaku yang mengarah pada ke luar diri. Sebagai contoh agresivitas, over aktivitas, impulsivitas, dan. ketidakpatuhan Achenbach, T. M., et al (2001) berpendapat bahwa externalizing berkaitan erat dengan emosi dan perilaku yang mengarah ke luar seperti halnya agressive behavior dan delinquent behavior

Kemampuan mengatur emosi akan berdampak terhadap kemampuan sosial anak. Seseorang anak dapat disebut mengalami gangguan perilaku jika anak tersebut memiliki karakteristik yang jika sudah diamati sudah ia alami dalam kurun waktu yang lama, sebagai contoh ketidakmampuan untuk belajar namun terjadi bukan karena faktor intelektualitas, faktor kesehatan, alat indra ketidakmampuan untuk memelihara atau membangun kepuasan dalam menjalin hubungan dengan pendidik ataupun teman, memiliki perasaan yang di bawah keadaan normal atau tipe perilaku yang tidak sesuai, gampang terbawa suasana hati (memiliki emosi yang labil), depresi, merasa tidak bahagia, dan memiliki kecenderungan mengembangkan gejala-gejala fisik atau rasa takut yang berasosiasi dengan permasalahanpermasalahan sekolah atau pribadi. Gejala externalizing behavior dan gangguan emosi berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung kepada orang lain, biasanya kategori perilaku tersebut ditampilkan anak dalam bentuk-bentuk perilaku agresif, tidak patuh, mencuri berbohong, membangkang dan kurang mampu mengendalikan diri. Hal ini memiliki efek yang buruk yang sama dengan kegagalan dalam perkembangan anak dalam tahap usia sekolah. Jika hal ini dibiarkan atau tidak ditangani dengan baik, maka problem emosi akan menjadi semakin buruk dan mengganggu (Harland, P., et al 2002).

Teori psikologi memperkuat adanya peran lingkungan fisik maupun sosial dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh anak. Kurt Lewin dengan teori medan kognisi membuat rumusan tingkah laku, yaitu (B = behavior) menunjukkan fungsi

keadaan seseorang (P = person). Selain itu, ada kondisi lingkungan (E = environment) sehingga rumusan tingkah laku memiliki persamaan B = f (P,E). Dalam psikologi, Perspektif behaviorisme juga memandang seorang individu sebagai makhluk reaktif atau mahluk yang memberikan respon-respon terhadap lingkungan. Perilaku manusia dapat dianalisis melalui sesuatu yang tampak, dapat diukur, dilukiskan, diramalkan, dan dapat dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu, tingkah laku dapat dikatakan dipengaruhi oleh kondisi seseorang dan lingkungan (Alwisol, 2018).

Anak-anak mempelajari perilaku melalui proses pengamatan pada orang lain. Proses pengamatan ini disebut Modeling. Proses pengamatan ini melibatkan adanya penambahan atau pengurangan pada tingkah laku yang teramati sebagai generalisasi dari berbagai pengamatan yang diakukan secara sekaligus dengan melibatkan adanya proses kognitif (Bandura, A., 2010). Apabila stimulasi yang diperoleh anak melalui lingkungan kurang baik, anak akan mengalami hambatan tertentu dalam mencapai tugas perkembangan sehingga anak akan mendapatkan perasaan inferior. Krisis psikososial dalam tahap perkembangan anak menurut Erikson (Santrock, 2015) adalah industry-inveriority. Apabila inferioritas yang dialami anak terlalu tinggi, dapat menghambat produktivitas anak dan merusak perasaan yang dimilikinya untuk mengembangkan kompetensi yang dimiliki pada masa depan. Tidak jarang anak-anak yang mengalami perasaan inferior akan cenderung melakukan hal-hal yang melanggar norma dan berakibat pada tindakantindakan yang tidak diinginkan. Bentuk-bentuk pelanggaran yang ditampilkan oleh seorang anak dapat memiliki karakteristik dan kategorisasi yang beragam mulai dari yang tergolong ringan hingga berat dan dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Perilaku nonverbal misalnya, dapat terlihat ketika anak-anak cenderung menentang perintah, merusak, mengigit, memukul, membolos, melanggar aturan, dan menampilkan bentuk-bentuk perilaku lain yang diarahkan ke luar dari dirinya (externalizing).

Lingkungan turut berperan dalam membentuk persepsi dan penilaian seorang anak. Salah satu bentuk lingkungan buatan adalah perumahan. Rumah yang ditinggali oleh anak dapat berkontribusi dalam menstimulasi tumbuh kembang anak khususnya dalam berinteraksi secara sosial. Dalam bidang keilmuan perencanaan arsitektur, hubungan antara lingkungan, manusia dan tingkah laku adalah hubungan yang bersifat timbal balik, saling terkait, saling memengaruhi dan merupakan satu unit yang tidak berdiri sendiri. Hasil penelitian Dayaratne, R. (2002) menunjukkan bahwa disiplin ilmu arsitektur, lingkungan, dan perilaku manusia telah berevolusi menjadi ilmu utama dan menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan. Ruang dalam Arsitektur adalah seni dan ilmu perancangan yang selalu melibatkan fungsi, nilai-nilai estetika, dan teknologi dalam proses perancangannya

Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin rumit dan kompleks telah membuat perilaku manusia semakin menjadi diperhitungkan dalam proses perancangan yang dalam ilmu arsitektur disebut juga dengan pengkajian lingkungan perilaku. Perilaku menunjukkan manusia ketika melakukan aksi. Hal ini berkaitan erat dengan segala aktivitas manusia baik secara fisik, yaitu berupa interaksi manusia dengan sesame manusia maupun interaksi manusia dengan lingkungan fisiknya (Tandali, A. N., & Egam, P. P. (2011)). Dalam sebuah perancangan, arsitek menjadikan asumsi sebagai pengandaian tentang kebutuhan manusia. Selain itu, arsitek juga memperkirakan bagaimana manusia bergerak dan berperilaku dalam lingkungannya kemudian memberikan keputusan bagaimana sebuah bangunan yang dibangun olehnya dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi penggunanya.

Lingkungan telah menjadi wadah untuk manusia. Hal ini seiring dengan bertambahnya populasi penduduk yang dikaitkan dengan kepadatan, industri, dan infrastruktur yang dapat Hasil penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 menyatakan bahwa jumlah populasi penduduk Indonesia pada saat itu telah

mencapai angka dua ratus enam puluh lima juta jiwa. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan jumlah rumah semakin meningkat sehingga menyebabkan terjadinya backlog atau selisih antara pasokan rumah dan jumlah kebutuhan. Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2017, backlog yang terjadi di Indonesia mencapai 11,38 juta unit (BPS, 2017). Jawa Barat tercatat memiliki backlog tertinggi di Indonesia pada tahun 2017 (Properti, 2018) mencapai 2,3 juta ruta (rumah tangga).

Sejak tahun 2002, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Perumahan Permukiman & Prasarana No: 403/KPTS/M/2002 mengenai ketersediaan membangun Rumah Susun Sederhana (RUSUNA). Permukiman dan Perumahan tidak lagi dilihat sebagai sarana kebutuhan hidup untuk penduduk namun juga dilihat sebagai proses menciptakan tatanan hidup masyarakat. Konsep pembangunan rumah dengan ketersediaan lahan terbatas bagi masyarakat dilakukan dengan membangun RUSUNA, yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Salah satu syarat di dalam perencanaan rumah susun adalah ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) bagi penghuni. Sesuai dengan Undang-Undang No. 26/2017 pada Pasal 29 ayat (2). Luas lahan untuk fasilitas ruang terbuka, berupa taman sebagai penghijauan, tempat bermain anak-anak, dan atau lapangan olah raga seluas-luasnya 30% dari luas lahan fasilitas lingkungan. Fungsi RTH sangat penting bagi perkembangan anak dalam hal berinteraksi sosial. Samsudi (2010), menyatakan bahwa perencanaan RTH di kawasan rusuna diharapkan memberikan manfaat bagi penghuninya, yaitu sebagai sarana rekreasi serta interaksi sosial, bagi anak, remaja dan dewasa. Ruang Terbuka Hijau atau Green Open Space (GOS) merupakan bagian dari regulasi pemerintah yang merupakan bagian perencanaan kota yang di dalamnya dapat menunjang bidang ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan menimbulkan keindahan (Juwito, J. & Poerwoningsih, D., 2017). Penelitian Chawla et al., (2014) bahwa anak usia sekolah yang lebih banyak memanfaatkan ruang terbuka hijau menunjukkan tingkat stress, kemarahan, dan perilaku bermasalah yang rendah. Dalam studi kuasi-eksperimental, Carrus et al., (2015) pada anak usia sekolah menunjukkan lebih banyak pengaruh positif dan interaksi prososial bagi anak yang sering berada di ruang terbuka hijau taman sekolah. Studi cross-sectional kuantitatif Corraliza, et al. (2012) menemukan bahwa anakanak yang memiliki akses dekat dengan alam seperti tinggal di lingkungan rumah yang asri, sekolah dengan lingkungan taman-taman yang baik, ruang-ruang yang memiliki jendela untuk melihat pemandangan, melaporkan memiliki tingkat stress yang dirasakan lebih rendah. Studi cross-sectional lain menunjukkan bahwa anak yang tinggal 500 meter dari ruang terbuka hijau memiliki lebih sedikit perilaku bermasalah dibandingkan dengan anak yang letaknya jauh dari ruang terbuka hijau (Markevych, et al., 2014). Dapat dicermati bahwa ruang terbuka hijau sangat diperlukan untuk stimulasi anak dalam proses perkembangan. Apabila anak memperoleh stimulasi yang baik, perkembangan anak menjadi lebih optimal, begitu pula sebaliknya apabila stimulasinya buruk, pekembangan menjadi terhambat.

Fokus penelitian ini, adalah anak rentang usia sekolah dasar (middle childhood) atau anak berusia 6 sampai 12 tahun (Santrock, 2015). Menurut Wong (2008), anak usia sekolah menjadikan sekolah sebagai pengalamanpengalaman inti pada dirinya. Pada periode ini, anak dianggap mulai mampu bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan, teman sebaya, orang tua mereka dan juga orang lain. Usia sekolah adalah masa untuk anak mendapatkan pengetahuan dasar sebagai penentu keberhasilan dalam penyesuaian diri pada saat dewasa dan masa untuk memperoleh skill tertentu. Tahapan dengan usia ini disebut juga sebagai usia kelompok (gangage), yaitu masa ketika anak mulai mengalihkan perhatian dan hubungan terhadap keluarga secara intim, bekerja sama dengan teman sebayanya dan sikap-sikap pada pekerjaan atau pada cara belajar (Gunarsa, 2009).

Usia sekolah adalah usia anak pada saat masuk ke tahap sekolah formal, yaitu masa pada saat anak mulai dituntut agar dapat sekolah dengan mandiri, mampu menyelesaikan tugas tanpa bantuan orang lain, mulai mampu belajar sendiri, mampu berhitung, membaca, menulis dalam usahanya mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah. Hal yang sangat penting untuk dimiliki anak dimasa usia sekolah tidak hanya mencakup kecerdasan, kemampuan berbahasa, dan keterampilan motorik namun juga harus mampu memiliki hal lainnya seperti halnya mampu menerima peran tokoh selain orang tuanya, memiliki kesadaran akan tugastugasnya, taat dan patuh terhadap aturan-aturan, dan mampu mengendalikan emosi (Gunarsa, 2009).

Di usia sekolah, anak-anak sering berusaha melakukan perbandingan diri dengan temannya, di saat ini juga seorang anak mudah dihinggapi rasa takut terhadap kegagalan dan ejekan dari teman-temannya. Jika pada masamasa ini seorang anak sering mengalami kegagalan dan sering merasakan kecemasan, maka akan memicu berkembangnya perasaan rendah diri pada anak tersebut. Sebaliknya, jika anak tersebut tahu mengenai hal yang perlu dikerjakan dan tahu bagaimana untuk bersikap ketika dia menghadapi tuntutan dari masyarakat dan kemudian anak tersebut berhasil melaluinya dengan baik dan juga mampu mengatasi masalah dengan teman maupun prestasi di sekolahnya, maka akan timbul motivasi yang tinggi terhadap karyanya dan akan terbentuk suatu karakteristik yang disebut sebagai industry (Gunarsa, 2009). Havighurst (2009), anak usia sekolah juga memiliki karakteristik di antaranya usia bermain. Usia bermain ialah masa ketika anak senang melakukan berbagai bentuk permainan bersama-sama dengan temannya. Selain itu, pada masa ini, mereka juga senang bermain dengan mainan yang mereka miliki. Anak pada usia sekolah memiliki minat bermain yang luas, terlepas dari kuantitas atau jumlah waktu yang banyak untuk bermain. Bagi anak-anak, bermain adalah serangkaian kegiatan atau aktivitas untuk bersenang-senang. Apapun bentuk kegiatan yang dilakukan oleh anak, selama itu terdapat unsur kesenangan atau kebahagiaan akan disebut sebagai aktivitas bermain. Oleh karena itu, pada masa usia sekolah diharapkan dapat

menjadi masa yang paling bahagia bagi anak karena masa ini adalah dasar yang menjamin keberhasilan di usia dewasa kelak. Hal ini meliputi perkembangan kognitif, fisik, emosi, Bahasa, sosial, spiritual, dan kepribadian (Bredekamp, S., & Coople, C. 2007). Salah satu fasilitas yang dapat mendukung tercapainya hal tersebut dengan menyediakan lingkungan buatan dengan ruang yang cukup bagi anak-anak untuk dapat bermain.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat optimalisasi ruang terbuka hijau yang terdapat pada RUSUNA di Kota Cimahi. Selain itu, tujuan penelitian ini juga untuk melihat perilaku externalizing yang muncul pada anak saat berinteraksi dengan teman sebaya dan lingkungan sekitar rumah susun sederhana.

Gambar 1 Site Plan Rusuna Leuwigajah Cimahi (Sumber: UPTD Rusuna Kota Cimahi)

Gambar 2 Perspektif Rusuna Leuwigajah Cimahi (Sumber: UPTD Rusuna Kota Cimahi)

Gambar 3 Green Open Space Rusuna Leuwigajah Cimahi (Sumber: UPTD Rusuna Kota Cimahi)

METODE

Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif noneksperimental dengan melakukan metode survey untuk menggambarkan pemikiran, pendapat, dan perasaan individu. Pengambilan data dilakukan pada orang tua anak dengan menggunakan kuesioner dan teknik wawancara. Pengambilan data juga dilakukan pada anak dengan teknik observasi naturalistik (naturalistic observation). Hal ini dilakukan untuk mendeskripsikan perilaku yang umumnya muncul dan melakukan pemeriksaan hubungan antar variabel (Shaughnessy, J. J., et al 2012). Peneliti dalam hal ini bertindak sebagai pencatat pasif atas peristiwa yang muncul secara alamiah dan tidak diatur secara khusus untuk tujuan pengamatan perilaku.

Pada penelitian ini, variabel yang akan digambarkan adalah externalizing behavior terhadap anak usia 6-12 tahun yang tinggal di RUSUNA, Leuwigajah Cimahi. Rumah susun sederhana adalah gedung bertingkat yang terletak dalam suatu lingkungan yang terbagi secara structural berupa bagian-bagian fungsional, baik secara horizontal atau vertikal. Rumah susun sederhana merupakan terdiri atas satuan-satuan yang masing-masing dapat digunakan secara terpisah atau dimiliki. Salah satu persyaratan yang perlu dipenuhi oleh RUSUNA seperti yang tercantum pada UU Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang bahwa luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah 30% dari luas lahan yang tersedia. Jika Rusuna telah memiliki ruang terbuka hijau sesuao dengan undang-undang maka dapat disebutkan bahwa RUSUNA tersebut telah mengikuti peraturan pemerintah dan telah sesuai standar.

Externalizing behavior (eksternalisasi) adalah gangguan mental yang ditandai dengan perilaku maladaptive yang diarahkan pada lingkungan individu dan menyebabkan gangguan fungsi kehidupan yang dapat menimbulkan masalah. Konstruksi masalah perilaku eksternal mengacu pada pengelompokan masalah yang dimanifestasikan dalam perilaku lahiriah anak dan mencerminkan anak melakukan tindakan negatif pada lingkungan eksternal (Eisenberg, et al., 2001; Campbell, Shaw, & Gilliom, 2000). Masalah externalizing behaviour pada anak menurut penelitian yang dilakukan Hinshaw (1987) terdiri atas perilaku yang mengganggu /kenakalan, hiperaktif, dan perilaku agresif yang dengan istilah lain disebut sebagai perilaku bermasalah, antisosial, dan tidak terkontrol. Perilaku-perilaku tersebut dapat dijadikan prediktor yang cukup kuat terhadap kejahatan dan kekerasan. Bentuk-bentuk perilaku tersebut yang kemudian diamati oleh peneliti pada saat anak berinteraksi dengan lingkungan

sosial di ruang terbuka hijau (RTH) sehingga perilaku yang mencerminkan kecenderungan pada tindakan antisosial dapat diamati. Studi menunjukkan bahwa agresi anak-anak adalah prediktor kuat kejahatan dan kekerasan saat dewasa.

Penelitian ini menggunakan alat ukur melalui kuesioner menggunakan Child Behavior Checklist (CBCL) for Ages (6-18) yang dikembangkan oleh Thomas M. Achenbach, Rescorla, & Leslie (2001). CBCL merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengukur serta mengidentifikasi competence scale, problem scales, permasalahan berkaitan dengan emosi, dan perilaku anak berdasarkan sudut pandang orang tua. CBCL mencakup juga informasi tentang kegiatan sosial, fungsi dan kinerja akademik anak. Salah satu fokus utama CBCL adalah externalizing behavior, yaitu mengukur masalah emosi berikut juga dengan perilaku mengarah ke luar diri dari individu tersebut. Aspek yang diukur CBCL mencakup dua dimensi, yakni perilaku melanggar aturan, menggangu (delinquent behavior) dan perilaku agresif (agressive behavior) yang terdiri atas 33 pertanyaan. Setiap pertanyaan perilaku yang muncul terdiri atas 3 jawaban yang diberi nilai 0 = tidak muncul; 1 = kadang-kadang muncul; 2 = sering muncul.

Penelitian dengan menggunakan CBCL telah banyak dilakukan seperti yang dilakukan oleh Huguet, A. (2019) berjudul "Deficient Emotional Self-Regulation in Children with Attention Deficit Hyperactivity Disorder: Mindfulness as a Useful Treatment Modality"; Penelitian oleh Salcedo, et al (2018) berjudul "Diagnostic efficiency of the CBCL thought problems and DSM-oriented psychotic symptoms scales for pediatric psychotic symptoms"; Penelitian dari Kahfi, et al. (2017) berjudul "Studi perbandingan Child Behavior Checklist pada anak dengan autis spectrum disorder dan typical developing"; Penelitian oleh Riyana, M., & Riza, M. (2017) berjudul "Penilaian Gangguan Perilaku Anak Talasemia Mayor dengan Menggunakan The Child Behavior Checklist"; Penelitian oleh Hartini, et al. (2015) berjudul "Verifying the Indonesian version of the Child Behavior Checklist"; Penelitian oleh Mazefskya, et al. (2011) berjudul "Child Behavior Checklist Scores for School-Aged Children with Autism: Preliminary Evidence of Patterns Suggesting the Need".

Data yang diperoleh dari 42 orang subjek dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan software IBM SPSS Statistics 24 untuk mendapatkan perhitungan ukuran gejala pusat (rata-rata), skor total untuk seluruh item pada masing-masing dimensi, dan skor total untuk kedua dimensi. Gambaran externalizing behavior pada subjek diperoleh dengan mengategorikan skor total kedua dimensi (deliquent behavior & aggressive behavior) dengan penormaan dari tabel konversi Achenbach (2001) untuk menentukan apakah externalizing behavior yang ditunjukkan oleh subjek berada pada kategori normal, borderline, atau klinis. Peneliti juga menggambarkan dan menganalisis aktivitas anak ketika bermain atau berinteraksi sosial dengan cara observasi untuk melihat seberapa sering anak mengoptimalkan ruang terbuka hijau. Beberapa ruang yang sering dipakai anak adalah ruang terbuka hijau, fasilitas umum, aktivitas anak di luar rusuna, dan di dalam rusuna.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan proses analisis data yang sudah dilakukan, diperoleh gambaran statistika deskriptif berupa ukuran gejala sebagai berikut.

TABEL 1 STATISTIKA DESKRIPTIF DIMENSI & EXTERNALIZING BEHAVIOUR

DimensiNMinMaxMean
Deliquent
Behavior420183,81
Aggressive
Behavior4203111,24
Externalizing
Behavior4214015,05

(Sumber: Olah data & Achenbach (2001))

Tabel 1 diketahui bahwa dimensi variabel deliquent behavior, aggressive behavior dan externalizing berjumlah 42, skor dimensi deliquent behavior nilai minimal 0 dan maksimal 18 dengan nilai rata-rata 3,81. Sedangkan untuk dimensi aggressive behavior nilai minimal 0 dan maksimal 31 dengan nilai rata-rata 11,24. Berdasarkan hasil penjumlahan untuk skor total dari kedua dimensi (deliquent behavior & aggressive behavior) diperoleh skor externalizing behavior mempunyai nilai minimal 1 dan maksimal 40 dengan nilai ratarata 15,05.

Total untuk externalizing behavior kemudian dibandingkan dengan penormaan dari tabel achenbach agar dapat diperoleh kategorisasi perilaku pada anak. Penormaan tabel achenbach sebagai berikut.

TABEL 2 PENORMAAN ACHENBACH (2001)

Kategori Externalizing
Behavior
Total Skor
Normal0 – 14
Borderline15 – 17
Klinis18 – 66

(Sumber: Achenbach (2001))

Jika total skor dimensi deliquent behavior dan aggressive behavior ada di antara nilai 0 - 14 maka dikategorikan perilaku normal; jika nilai 15 - 17 kategori borderline; dan jika nilai 18 - 66 kategori klinis. Berdasarkan norma skor tersebut, diperoleh kategorisasi externalizing behavior sebagai berikut.

TABEL 3 KATEGORI EXTERNALIZING BEHAVIOR

KategoriFrekuensiPersentase
Normal2047.62%
Borderline511.90%
Klinis1740.48%
Total42100.0%

(Sumber: Olah data & Achenbach (2001))

Tabel 3 menunjukkan externalizing behavior terdapat 20 anak kategori normal, 5 anak kategori borderline, dan yang sangat menarik 17 anak sudah menunjukkan tanda externalizing behavior kategori klinis. Selain itu, melalui observasi dalam optimalisasi ruang terbuka hijau di lingkungan rumah susun diperoleh profil optimalisasi dari 4 kategori ruang yang banyak digunakan anak-anak untuk bermain, berinteraksi sosial dengan teman sebaya dan beraktivitas di lingkungan rumah susun sebagai berikut.

TABEL 4 KATEGORI EXTERNALIZING BEHAVIOR

Optimalisasi
Ruang
Externalizing Behavior
FrekuensiPersentase
Ruang Terbuka
Hijau
1126.20%
Fasilitas Umum1330.95%
Didalam Rumah511.90%
Diluar Rusun1330.95%
Total42100%

(Sumber: Olah data )

Tabel 4 tersebut menunjukkan anak yang tinggal di rumah susun Leuwigajah Cimahi, terdapat 11 anak menggunakan ruang terbuka hijau (RHT), 13 anak yang memiliki kecenderungan bermain di fasilitas umum, 13 anak memilih berinteraksi sosial di luar rumah susun, dan 5 anak cenderung memilih tinggal di dalam rumah.

Ruang terbuka hijau sebagai sarana untuk berinteraksi sosial pada anak yang tinggal di rusuna sangat penting keberadaannya untuk menunjang proses perkembangan anak. Apabila stimulasi yang diterima anak dari lingkungan baik, perkembangan anak menjadi optimal. Namun, sebaliknya jika stimulasi yang diperoleh anak tidak baik, perkembangan anak menjadi berkurang. Optimalisasi penggunaan ruang di rumah susun dari hasil observasi menunjukkan 11 anak atau 18,2 % yang memanfaatkan ruang terbuka hijau. Hal yang menarik dalam

penelitian ini anak lebih senang berinteraksi secara kelompok saat bermain dengan memanfaatkan fasilitas umum, terdapat 13 anak atau 15,4%. Area tersebut seperti tangga, selasar di depan pintu keluar unit bangunan rumah tinggal sehingga mengganggu penghuni dan area tersebut menjadi sesak.

Hal ini terutama terlihat pada anak yang tinggal di lantai tiga dan lantai empat, observasi menunjukkan anak memiliki kecenderungan tidak mengoptimalkan area ruang terbuka hijau karena fasilitas ruang terbuka hijau berada di lantai dasar. Anak memiliki kecenderungan kurang aktif, malas, lamban dan kurang energik, ini tentu akan memengaruhi proses perkembangan anak. Terdapat 13 anak atau 15,4% memilih melakukan aktivitas di luar rumah susun. Keberadaan lapangan olah raga milik sekolah yang berdekatan dengan rusuna dimanfaatkan oleh anak dalam melakukan kegiatan interaksi sosial dengan teman sebaya. Anak yang melakukan aktivitas di luar rusuna dalam keseharian berbaur dengan masyarakat secara heterogen, dengan berbagai karakter dan kelompok usia yang beragam.

Berdasarkan hasil penelitian, anakanak yang bertempat tinggal di RUSUNA Leuwigajah Cimahi menurut hasil kategorisasi, yang menarik 17 anak menunjukkan tanda externalizing behavior secara klinis. Temuan ini dapat dicermati oleh keberadaan rumah susun Leuwigajah, dengan luas lahan = 4.000 m2 , dan untuk luas ruang terbuka hijau adalah 1.000 m2 . Berdasarkan Undang-Undang RI No.26 Tahun 2007 menyebutkan bahwaa Luas RTH dalah 30% dari Luas lahan (RTH/LH x 100%) = 25%. RTH di rumah susun Leuwigajah Cimahi tidak memenuhi standar hingga anak kekurangan space untuk beraktivitas secara fisik. Kepadatan di ruang terbuka hijau menimbulkan externalizing behavior saat anak berinteraksi dengan teman sebaya, kondisi ruang terbuka hijau yang tidak ideal menyebabkan anak menunjukkan perilaku yang mengganggu maupun melangar aturan. Perilaku yang ditunjukkan seperti sikap iri hati dalam berebut alat permainan karena terbatasnya alat permainan. Anak masih sangat sulit berbagi dengan temannya hingga menimbulkan ekspresi

emosi yang berlebihan muncul pada anak yang membuat anak menangis meraung-raung. Terkadang muncul perilaku anak menendang, memukul, mencubit, dengan teman sebaya saat berebut mainan. Ada kecenderungan anak merusak barang mainan yang bukan menjadi miliknya, dengan diikuti mengeluarkan katakata mencemooh, hingga terjadi pertengkaran pada anak dengan saling mengejek. Anak dengan masalah perilaku eksternalisasi tidak hanya dapat berdampak negatif terhadap dunia di luar mereka, tetapi secara psikologis akan menderita secara internal. Penelitian yang dilakukan McCormick, R. (2017) memberikan ulasan sistematis bahwa kesejahteraan mental dan perkembangan kognitif anak-anak dipengaruhi oleh akses anak ke ruang terbuka hijau. Hinshaw (1987) menunjukkan bahwa anak agresif dapat mengalami kecemasan dan anak depresi dapat menimbulkan perilaku bermasalah sebagai cikal bakal gangguan yang serius saat tumbuh menjadi remaja.

Lingkungan keluarga, teman sebaya, masyarakat, dan tempat tinggal anak merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap perkembagan perilaku anak dan mendukung terhadap perkembangan. Peristiwa-peristiwa yang dialami anak dalam lingkungan masyarakat tempat anak tinggal akan memengaruhi perilaku dan kepribadian anak.

SIMPULAN

Pola aktivitas anak berusia 6-12 tahun yang bertempat tinggal di rumah susun bermain sesuai dengan usianya baik dilakukan secara individual maupun secara berkelompok. Anakanak tersebut melakukan permainan-permainan dengan menguji kemampuan, mengembangkan konsep aturan bermain, bereksperimen dengan peran dan mengekspresikan emosi mereka. Penelitian ini mampu menjawab tujuan utama bahwa externalizing behavior pada anak penghuni rumah susun sederhana Leuwigajah di Cimahi, kerap kali muncul saat anak mengoptimalkan ruang terbuka hijau dengan hipotesis menunjukkan adanya perilaku melanggar aturan (delinquent behavior) dan perilaku agresif (aggressive behavior).

Dalam penelitian ini faktor standardisasi ruang terbuka hijau juga menjadi pengaruh munculnya externalizing behavior pada anak karena besaran ruang menimbulkan kepadatan di area tersebut. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat externalizing behavior pada anak di rumah susun sederhana yang terstandar. Externalizing behavior pada anak adalah konstruksi penting dalam menentukan perilaku di masa depan, dan mengembangkan pengetahuan untuk mengurangi perilaku tersebut.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.46
FWCIfield-weighted
73th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Psychology 0.69
level 0
Humanities 0.48
level 1

Institution Network

References

  1. Achenbach, T. M., & Rescorla, L. A., (2001). Manual for the ASEBA school-age forms and profiles: an integrated sytem of multi-informant assessment. University of vermont, research centre for children youth, and families. Burlington, V.T.
  2. Alwisol. (2018). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press.
  3. Badan Pusat Statistik Indonesia. (2018). Jumlah penduduk Indonesia. https://databoks. Katadata.co.id/datapublish/2018/05/18/2018 jumlah-penduduk indonesia-mencapai-265-juta-jiwa.
  4. Badrun Susantyo. (2016). The determinant factors of aggressive behavior among addolessence who lives in slums area in Bandung. Jurnal Sosio Konsepsia, 6(1), 1-17.
  5. Bandura, A. (2010). Self-efficacy. dalam D. Matsumoto (Ed), Cambridge dictionary of psychology. New York: Cambridge University Press.
  6. Bredekamp, S., & Copple, C. (2007). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs. (Revised Edition). National Association for the Education of Young Children, 1509 16th Street, NW, Washington, DC 20036-1426.
  7. Campbell, S.B., Shaw D. S, Gilliom M. (2000). Early externalizing behavior problems: Toddlers and preschoolers at risk for later maladjustment. Development and Psychopathology.PubMed, 12(3).
  8. Carrus, G., Passiatore, Y., Pirchio, S., & Scopelliti M. (2015). Contact with nature in educational settings might help cognitive functioning and promote positive social behavior. Psyecology, 6: 191-212. doi:10.1080/2015.1026079. DOI: 10.1080/2015.1026079
  9. Chawla, L., Keena, K., Pevec, I., & Stanley, E. (2014). Green schoolyards as havens from stress and resources for resilience in childhood and adolescence. Pub.Med. 28:1-13.doi:10.1016/j.healthplace.2014. 03 .001. DOI: 10.1016/j.healthplace.2014
  10. Corraliza, J. A., Collado, S., & Bethelmy, L. (2012). Nature as a moderator of stress in urban children. Procedia social & behovioral sciences. 38:253-263. DOI: 10.1016/j.sbspro.2012.03.347
  11. Dayaratne, R. (2002). Environment-behavior research and the practise of architecture: paradigms and paradoxes. Built-Environment Sri Lanka, 3(1).
  12. Frick, P. J., & Nigg, J. T., (2012). Current issues in the diagnosis of attention deficit hyperactivity disorder, oppositional defiant disorder, and conduct disorder. Annual Review of Clinical Psychology. 8:77-107.doi:10.1146/annurev-clinpsy-032511-143150. DOI: 10.1146/annurev-clinpsy-032511-143150
  13. Gunarsa, S. D. (2009). Dari anak sampai usia lanjut: Bunga rampai psikologi perkembangan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
  14. Harland, P., Reijneveld, S. A., Brugman, E., Verloove-Vanhorick, S. P., & Verhulst, F. C. (2002). Family factors and life events as risk factors for behavioral and emotional problems in children. Europe Child Adolescent Psychiatry, PubMed. 11(4): 176-84. doi:10.1007/s00787-002-0277-z. DOI: 10.1007/s00787-002-0277-z
  15. Hartini, S., Hapsara, S., Herini, S. E., & Takada, S. (2015). Verifying the Indonesian version of the child behavior checklist. Journal of the Japan pediatric society, 57: 936-941. DOI: 10.1111/ped.12669
  16. Havighurst, Robert J. (Ed.). (2009). Human Development and Education. New York: Longmans Green and Co.
  17. Hinshaw, S. P. (1987). On the distinction between attentional deficits/hyperactivity and conduct problems/aggression in child psychopathology. Psychological bulletin, 101:443-463. DOI: 10.1037/0033-2909.101.3.443
  18. Huguet, A., Eguren, J. I., Ruiz, D. M., Valles, X. V., & Alda, J. A. (2019). Deficient emotional self-regulation in children with attention deficit hyperactivity disorder: mindfulness as a useful treatment modality. Pub.Med. J. Dev. Behavior Pediatri, 40(6):425-341.doi:10.1097/ DBP. 0000000000000682. DOI: 10.1097/dbp.0000000000000682
  19. Ismail, K. H., Badayai, A. R. A., & Kulasingam, K. R. (2017). Children development & well-being: A review of environmental stressors in children physical environment. Journal of social science and humanities, 14(5): 1-10.
  20. Juwito, J., & Poerwoningsih, D. (2017). International conference sustainable development goals 2030 challenges and Its Solutions: Challenges of green open space (Its roles, forms and functions) in the era of sustainable development goals. Magister of architecture, graduate school, University of Merdeka Malang, 1(1).
  21. Kahfi, M., Irwanto, Irmawati, M., Febriyana, N., & Budiono. (2017). Studi perbandingan Child Behavior Checklist pada anak dengan autism spectrum disorder dan typical developing. Masters thesis, Universitas Airlangga Surabaya. http://repository.unair.ac.id/id/eprint/65125
  22. Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2018). Data Laporan kasus anak berhadapan dengan hukum. http ://www.kpai.go.id/ berita/kpai-4885kasus-pelanggaran-hak-anak-terbanyak-abh.
  23. Markevych, I., Tiesler, C. M. T., Fuertes, E., Ramonas, M., Dadvand, P., Nieuwenhuijs en, M. J., et al. (2014). Access to urban green spaces and behavioural problems in children: results from the GINIplus and LISAplus studies. Journal Environment International, 71:29-35.doi: 10.1016/j. envint.2014.06.002. DOI: 10.1016/j
  24. Mazefsky, Carla A., Anderson, R., Conner, C.M., & Minshew, Nancy. (2011). Child behavior checklist scores for school-aged children with autism: Preliminary evidence of patterns suggesting the need for referral. J Psychopathol Behavior, 33(1): 31-37. doi:10.1007/s10862-010-9198-1. DOI: 10.1007/s10862-010-9198-1
  25. McCormick, R. (2017). Does access to green space impact the mental well-being of children: A systematic review. J. Pediatr. Nurs, 37: 3-7. doi: 10.1016/j.pedn.2017 .08.027. DOI: 10.1016/j.pedn.2017
  26. Properti Indonesia. 2018. Backlog tertinggi di Indonesia. https://www.propertyindonesia.co.id/
  27. Riyana, M., & Riza, M. (2017). Penilaian gangguan perilaku anak talasemia mayor dengan menggunakan the child behavior checklist. Sari pediatri, 19(3): 127-30.
  28. Salcedo, S., Rizvi, S. H., Freeman, L. K., Youngstrom, J. K., Finding, R. L., & You ngstrom, E. A.(2018).Diagnostic efficiency of the CBCL thought problems and DSM-oriented psychotic symptoms scales for pediatric psychotic symptoms. Eur child adolesc psychiatry, 27(11): 1491-1498. doi: 10.1007/s00787-018-1140-1. DOI: 10.1007/s00787-018-1140-1
  29. Samsudi (2010). Ruang terbuka hijau kebutuhan tata ruang perkotaan kota Surakarta. Journal of rural dan development, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 1(1).
  30. Santrock, J. W., (2015). Life Span Development 14th. Edition. New York: McGraw Hill Education, 2 Penn Plaza, New York, NY 10121
  31. Shaughnessy, J. J., Zechmeister, E. B., & Zechmeister, J. S. (2012). Research Methods in Psychology. 9th edition. McGraw-Hill 1221 Avenue of the Amiricas, NY, 10020.
  32. Tandali, A.N., & Egam, P. P. (2011). Arsitektur Berwawasan Perilaku (behaviorisme). Media Matrasain, 8(1).
  33. Wong, D. L., Huckenberry M. J., (2008). Wong