PENDAHULUAN
Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya, begitulah sebuah pepatah latin kuno menjelaskan antara waktu dan perubahan. Menurut Sutrisno dan Hendar (2005), waktu berubah dan cara-cara manusia mengekspresikan dirinya, orang lain, dan masyarakat juga berubah. Dalam perubahan zaman ini, budaya akan ikut berubah. Hal ini erat kaitannya dengan 3 wujud kebudayaan yang pernah disampaikan Koentjaraningrat. Budaya berubah, maka wujudnya juga tentu berubah. Wujud artefak adalah wujud yang paling mungkin untuk diamati perubahannya.
Salah satu contoh wujud budaya artefak adalah rumah adat. "Rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku atau masyarakat" (Arimbi, 2017, p. vii). Uma Mentawai (rumah komunal suku mentawai) merupakan salah satu rumah adat yang menjadi aset budaya yang memiliki keunikan dan menarik untuk diamati. Namun, ketika melihat Uma yang dulu dari berbagai literatur, terdapat perbedaan yang signifikan dengan kondisi Uma saat ini. Perbedaan ini menimbulkan indikasi adanya perubahan pada beberapa elemen pembentuknya sebagai salah satu respon dari perubahan masyarakat yang terjadi.
Berdasarkan fakta di atas, menarik untuk mencari tahu apa saja yang berubah pada elemen-elemen arsitektur dan interior Uma Mentawai, apa penyebabnya, serta bagaimana dampaknya bagi masyarakat Mentawai. Dari latar belakang di atas, didapatkan beberapa pertanyaan penelitian yang akan dibahas lebih khusus dalam tulisan ini.
- 1. Bagaimana perubahan yang terjadi pada masyarakat Mentawai?
- 2. Elemen-elemen arsitektur dan interior apa saja yang berubah pada Uma Mentawai?
- 3. Bagaimana pengaruh perubahan elemen-elemen arsitektur dan interior Uma Mentawai terhadap kehidupan masyarakatnya?
Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan transformasi elemen-elemen arsitektur dan interior pada Uma Mentawai, perubahan apa yang terjadi, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik gabungan, observasi dan wawancara untuk data primer dan tinjauan pustaka serta penjelahan internet untuk data sekunder. Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah Uma dan masyarakat di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Objek ini dipilih karena Desa Matotonan adalah desa yang berada paling hulu di Kecamatan Siberut Selatan. Kondisi ini membuat budaya di desa tersebut masih terjaga lebih baik dibandingkan desa-desa lainnya. Observasi dilakukan secara terstruktur dan non-partisipatif sebanyak dua kali. Observasi dirancang untuk mengamati aktifitas dan interaksi masyarakat di sekitar Uma agar mendapatkan gambaran menyeluruh tentang pengalaman setiap individu dengan objek utama penelitian, Uma.
Wawancara dilakukan secara mendalam kepada dua kelompok. Pertama adalah kelompok penghuni Uma, dan kedua adalah kelompok tokoh. Wawancara terhadap penghuni Uma dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai aktifitas kesehariannya untuk melihat relasi antara Uma dan penghuni. Sedangkan kelompok tokoh yang terdiri dari tetua adat, sikerei, antropolog, ketua desa, dan tokoh masyarakat lainnya dilalukan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi Uma yang dulu, bagaimana perubahan terjadi, bagaimana dampaknya, dan bagaimana masyarakat menghadapinya.
Literatur dan penjelajahan internet dibagi dalam dua klasifikasi kajian. Pertama yang berhubungan dengan antropologi masyarakat Mentawai sebagai objek penelitian, dan kedua yang berhubungan dengan elemen-elemen arsitektur dan interior.
Penelitian ini dimulai dengan mencari tahu kehidupan masyarakat Mentawai dan kondisi Uma yang dulu. Masyarakat dan Uma dulu ditetapkan sebagai kondisi yang berlangsung dalam rentang tahun 1979 sampai dengan 1986.
Waktu ini ditetapkan sejak masuknya Stefano Coronese ke Pulau Siberut hingga beliau menerbitkan buku Kebudayaan Suku Mentawai. Penetapan ini didasarkan pada ketersediaan dan kelengkapan informasi.
Setelah menetapkan dan mengetahui kondisinya, dilakukan observasi lapangan dengan cara live in di Desa Matotonan selama total 26 hari. Observasi ini bertujuan untuk mengumpulkan data tentang kondisi masyarakat dan Uma saat ini. Selain itu, pada observasi lapangan juga dilakukan wawancara mendalam terhadap tetua untuk mengkonfirmasi kondisi masyarakat dan Uma yang dulu. Setelah mendapatkannya, dilakukan analisis dengan cara membandingkan masyarakat dan Uma dulu dengan sekarang. Sketsa digital digunakan untuk memperlihatkan perbedaan Uma yang dulu dengan yang sekarang. Setelah itu, hasil analisis disampaikan secara deskriptif.
Transformasi
Kata transformasi sepadan dengan kata pemalihan, yang artinya perubahan dari benda asal menjadi benda jadiannya, baik perubahan yang sudah tidak memperlihatkan kesamaan, maupun yang masih menunjukkan petunjuk benda asalnya (Prijotomo, 2000) Perubahan dalam transformasi menggambarkan dua hal, benda asal atau kondisi pra perubahan, dengan benda jadi atau kondisi pasca perubahan. Menurut Kuntowijoyo (2006) transformasi adalah konsep ilmiah atau alat analisis untuk memahami dunia. Jadi, transformasi dapat menjelaskan perubahan yang terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat saat ini dan nanti. Yunus (2013, p. 70) juga menambahkan bahwa "transformasi merupakan usaha yang dilakukan untuk melestarikan budaya lokal agar tetap bertahan dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya ..."
Kebudayaan
Menurut J. J. Honigmann (dalam Koentjaraningrat, 1990) terdapat 3 gejala kebudayaan, yaitu: ideas, activities, dan artifacts. Menanggapi hal tersebut, kebudayaan memiliki 3 wujud, yaitu: (1) sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya (culture system); (2) sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan manusia dalam masyarakat (social system); dan (3) sebagai benda-benda hasil karya manusia (physical system) (Koentjaraningrat, 1990). Ketiga wujud kebudayaan tersebut dalam kenyataannya di masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain, mereka adalah satu kesatuan yang utuh.
Kebudayaan memberikan arah terhadap pikiran, tindakan, dan hasil karya suatu masyarakat. Hal ini menjelaskan bahwa ada kaitan yang sangat erat antara nilai yang dianut masyarakat, pola aktivitas atau tindakan, dengan transformasi yang terjadi pada Uma. Masyarakat berubah dengan wujud ide dan aktifitasnya, maka wujud artefaknya seperti Uma juga berubah, begitu juga sebaliknya.
Menurut Koentjaraningrat (1990), disebutkan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia, yakni: (1) Bahasa; (2) Sistem pengetahuan; (3) Organisasi sosial; (4) Sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) Sistem mata pencaharian hidup; (6) Sistem religi; dan (7) Kesenian. Ketujuh unsur ini akan membantu menjelaskan kondisi masyarakat Mentawai secara utuh.
Emile Durkheim (dalam Mudji et al., 2005) mengatakan bahwa ada 4 hal yang menjadi pilar utama pendukung masyarakat budaya, yaitu the sacred, klasifikasi, ritus, dan solidaritas. Durkheim mempersepsi masyarakat sebagai satu kesatuan yang dirangkai secara internal oleh keempat hal tersebut. Masyarakat terikat pada sebuah nilai (the sacred) yang membuat mereka hidup dalam lingkaran kehidupan yang relatif sama. Hal ini dijaga oleh sebuah klasifikasi masyarakat yang sangat jelas. Dilestarikan dalam ritus, dan dijaga bersama oleh sebuah solidaritas yang sangat tinggi dari kelompok tersebut. Dalam kaitannya dengan transformasi, hal ini dapat menjelaskan cara masyarakat menanggapi perubahan serta dampak yang terjadi pada kehidupan budaya masyarakat.
Berdasarkan jenis transformasi dalam desain, kajian ini tergolong pada transformasi typologic, yaitu transformasi yang dimulai dari mental image yang telah baku (ditetapkan) dari bentuk-bentuk bangunan yang telah dikenal, dengan menyertakan fakta budaya sebagai bagian dari mental image tersebut. "Suatu desain akan mengalami transformasi typologic ketika desain tersebut memiliki kaitan budaya suatu daerah, memberikan image tentang daerah atau budaya tertentu (Solong, 2013, p. 1).
Elemen-Elemen Arsitektur dan Interior Rumah Tradisional
Elemen-elemen arsitektur dan interior tradisional merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Patandianan (2005) mengatakan bahwa elemen-elemen arsitektur berhubungan dengan tampilan bentuk bangunan yang dapat memberikan suatu tipe bangunan secara spesifik. Elemen tersebut dapat berupa dinding, kolom, plafon, lantai, tangga, pintu dan jendela (Krier, 1988). Pada penelitian ini, elemen yang akan dikaji adalah elemen yang berwujud seperti yang disampaikan Patandianan, yaitu dinding, kolom, lantai, tangga, pintu dan jendela, ditambah dengan denah untuk meggambarkan perubahan pada tata ruang Uma.
HASIL DAN PEMBAHASAN Masyarakat dan Uma Mentawai Menurut Stefano Coronese
J. R. Logan (dalam Coronese, 1986) menyebutkan tipe masyarakat Mentawai adalah berbadan kuat, kekar, sehat, dan tidak berbulu. Tingginya tidak melebihi 167 cm. berperawakan baik dan menarik. Umumnya orang Mentawai baik hati, ramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka ditato. Tuntutan adatnya sederhana. Kalau membuat rumah sederhana sekali, dibuat secara darurat, tetapi lebar dan kuat.
"Orang Mentawai termasuk penganut animisme, yang percaya kepada roh-roh alam." (Coronese, 1986, p. 5). Masyarakat hidup dari pemberian alam. Sagu, keladi, dan pisang merupakan makanan pokok.
Masyarakat Mentawai tidak mengenal pembagian kasta atau golongan, tidak ada kepemimpinan yang otoriter, semuanya sederajat. Dalam mencari nafkah, masyarakat tidak berlebihan, tapi secukupnya saja.
Masyarakatnya sering mengadakan pesta untuk mempererat persaudaraan serta melihat bakat dan kreatifitas seseorang. Masyarakat menggunakan bahasa Mentawai dalam kesehariannya.
Istilah Uma mempunyai arti "tempat", yang didiami beberapa ratus manusia yang masih berhubungan satu sama lain dalam hal keturunan, menjadi pusat kehidupan masyarakat adat, yang memperhitungkan dan mempersatukan (Coronese, 1986). Meskipun mereka mendirikan rumah lain di tempat yang jauh, namun komunikasi dengan Uma tetap ada, karena Uma merupakan rumah induk, tempat penginapan bersama, serta tempat menyimpan warisan pusaka. Uma juga menjadi tempat suci untuk persembahan dan penyimpanan tengkorak binatang buruan.
Gambar 1 berikut ini adalah denah dan pembagian area pada Uma menurut

Gambar 1. Denah Uma menurut Stefano Coronese (Sumber: (Coronese, 1986, p. 112))
Coronese: Masyarakat Mentawai Sekarang
Secara fisik, masyarakat Mentawai khususnya Desa Matotonan sama dengan yang digambarkan oleh J. R. Logan (dalam Coronese, 1986). Meski desa ini terletak paling hulu, masyarakat sudah berpapasan dengan modernisasi. Akses semakin terbuka, program percepatan semakin banyak. Masyarakat mulai menjalankan syariat agama. Sebelumnya, masyarakat Matotonan masih menjalankan sistem kepercayaan Arat Sabulungan. Sistem pengetahuan juga sudah berkembang pesat. Desa sudah terhubung koneksi internet. Hal ini membuat akses informasi dan komunikasi menjadi lebih
terbuka. Hadirnya lembaga pendidikan formal juga menggiring pemahaman masyarakat bahwa sumber pengetahuan yang utama adalah sekolah.
Gelombang modernisasi ini juga mengubah sistem teknologi, ekonomi, sosial masyarakat. Barang-barang dari luar semakin banyak berdatangan. Yang memiliki uang bisa merasakannya, namun yang tidak, tetap harus menggunakan peralatan tradisional. Desakan untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang dari luar ini menimbulkan pekerjaan-pekerjaan baru di masyarakat. Misalnya, membuka warung, menjadi aparat desa, guru, membuat kelompok ternak, dan pekerjaan lainnya. Di sosial masyarakat, muncul klasifikasi baru seperti kepala desa, kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ustadz, dan klasifikasi formal lainnya. Masyarakat masih menggunakan bahasa mentawai dicampur dengan bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia digunakan secara formal di sekolah dan jika ada tamu dari luar yang datang.
Uma Mentawai Sekarang
Uma di masyarakat Mentawai secara nilai, kedudukannya masih sama. Menurut data Desa Matotonan, jumlah Uma di pemukiman pada tahun 2016 adalah 11 unit dengan total suku besar sebanyak 24 suku. Ukuran Uma sekarang bervariasi, yang paling besar adalah 18,55 m x 6,65 m. Uma hanya dihuni oleh satu kepala keluarga atau paling banyak dua.
Dinding Uma Suku Samoan Bailoi ditutupi dengan papan. Namun yang menariknya adalah dinding papan ini masih ditarah (proses
tradisional). Untuk kolom (tonggak) dibagi menjadi dua, kolom utama (uggla) dan kolom biasa. Uggla diambil dari kayu ribbu yang biasa tumbuh di daerah hulu Alimoi (nama sebuah sungai di Matotonan). Tonggak utama bisa digunakan hingga lebih tiga kali pembangunan Uma.
Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3, pola lantai pada Uma terbagi menjadi tiga, yakni kiri, tengah, dan kanan. Tiga bagian ini dipisahkan oleh sebuah balok kayu pembatas yang disebut tubbuk.
Bagian kanan dan kiri, yang diambil dari batang ribbing, disebut ariribuk. Sedangkan yang tengah ditutup oleh papan yang ditarah, biasanya diambil dari kayu taingorut atau nakkat. Lantai tidak dipaku sehingga akan berbunyi ketika dipijak.
Gambar 3. Lantai Uma (Sumber: sketsa pribadi hasil observasi)

Gambar 2. Denah Uma Suku Samoan Bailoi (Sumber: sketsa pribadi hasil observasi)
Gambar 4. Tangga (orat) (Sumber: foto pribadi hasil observasi)
Gambar 4 menunjukkan tangga yang biasanya dibuat dari batang nangka (pegu) yang dicoak. Lebar orat biasanya 20 hingga 30 cm, tergantung besarnya diameter batang pegu yang digunakan.
Jumlah pintu pada Uma ada 4. Satu pintu utama pada sekat yang memisahkan area depan dan belakang dengan ukuran 180x90 cm. Dua pintu menuju gare samping dengan ukuran 145x65 cm, dan satu pintu menuju gare belakang dengan ukuran 160x80 cm.
Sedangkan jendela ada satu atau dua pada bagian kiri dan kanan dengan ukuran 80x50 cm.
Gambar 5. Posisi pintu dan jendela Uma (Sumber: sketsa pribadi hasil observasi)
Bangku (tobbongan) pada Uma dipasang di area depan pada sisi kiri, kanan, dan depan. Selain sebagai tempat duduk, bangku ini juga menjadi batas pada lantai bagian luar. Lebar dudukan 30 cm dengan tinggi juga 30 cm.
Gambar 6. Sketsa bangku (tobbongan) (Sumber: foto pribadi hasil observasi)
Perbandingan Perilaku Masyarakat Mentawai Dulu dan Sekarang
Secara umum, masyarakat Mentawai mengalami perubahan perilaku. Perubahan ini tergambar dalam kehidupan sehari-hari dari aktivitas, peralatan yang digunakan, dan sistem perekonomian.
Perubahan ini diakibatkan oleh keterbukaan masyarakat terhadap orang baru dan dunia luar yang membuat pengaruh dari luar cepat berkembang di dalam masyarakat. Berikut tabel analisis terhadap masyarakat Matotonan dilihat dari unsur-unsur budaya universalnya.
TABEL 1 MENUNJUKKAN DATA PERUBAHAN YANG TERJADI PADA MASYARAKAT MENTAWAI ANTARA DULU DAN SEKARANG.
| No. | Unsur Budaya Universal | Dulu | Sekarang | |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Bahasa | Bahasa Mentawai | Bahasa Mentawai. Masyarakat mulai fasih berbasa Minang dan Bahasa Indonesia | |
| 2 | S i s t e m pengetahuan | Secara lisan, melalui cerita saat malam dan pagi hari di perapian atau saat pelaksanaan ritus | Sudah ada sekolah dasar dan guru, sudah mengenal tulisan dan buku, penyampaian ilmu secara lisan di Uma mulai berkurang | |
| 3 | O r g a n i s a s i sosial / Sistem kemasyarakatan | Klasifikasi secara budaya. Seperti adanya kepala suku, kepala uma, sikerei, dll | Timbul klasifikasi baru yang bersifat formal, seperti kepala desa, kepala dusus, ketua bpd, dll | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 4 | Sistem peralatan hidup dan teknologi | Tradisional. Dibuat dari bahan-bahan alam. | Mulai menggunakan peralatan dan perlengkapan dari luar, seperti kompor minyak, dll | ||
| 5 | Sistem mata pencaharian hidup / Sistem ekonomi | Barter. Semua kebutuhan diambil dari alam, sehingga tidak butuh alat pembayaran | Uang sudah dibutuhkan sebagai alat pembayaran yang sah. Muncul profesi baru yang formal dan informal, seperti guru dan aparatur desa (formal), tukang kayu, warung, dagang ikan (informal) | ||
| 6 | Sistem religi | Sudah punya agama tapi Ajaran agama mulai dijalankan sehingga tetap menjalankan Arat Arat Sabulungan mulai ditinggalkan Sabulungan | |||
| 7 | Kesenian | Ekspresif, tergambar pada artefak seperti ornamen pada Uma dan tato | Berkurang, ekspresi terhadap Uma sudah tidak ada dan tato sepi peminat | ||
Perbandingan Elemen Arsitektur dan Interior Uma Mentawai Dulu dan Sekarang Beserta Penyebabnya
Perbandingan ini dilakukan pada hasil observasi penulis (Uma Mentawai sekarang) terhadap Coronese dan penjelasan tetua kampung (Uma Mentawai dulu).
Tabel 2A yang menunjukkan perubahan elemen-elemen arsitektur dan interior pada Uma Mentawai, meliputi perubahan pada denah, dinding, kolom, lantai, tangga, pintu dan jendela
Tabel 2B menunjukkan data perubahan pada unsur denah, dinding, tangga, pintu, bangku, fasad, dan system sambungan secara visual.
TABEL 2A PERBANDINGAN UMA MENTAWAI DULU DAN SEKARANG
| No | Elemen yang Dilihat | Perubahan | Keterangan | Penyebab | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Ya | Tidak | |||||
| 1 | Denah | o | Terjadi penghilangan dan penambahan pada beberapa titik. Ukuran Uma sekarang juga mengalami pengecilan | Respon terhadap perubahan jumlah penghuni dan kebutuhan terhadap aktivitas baru | ||
| 2 | Dinding | o | Perubahan dari kulit kayu menjadi papan | Efektivitas dan efisiensi pengerjaan | ||
| 3 | Kolom | o | Tetap | - | ||
| 4 | Lantai | o | Tetap | - | ||
| 5 | Tangga | o | Tetap. Beberapa Uma ada yang menambahkan pegangan di salah satu sisinya | Alasan keamanan | ||
| 6 | Pintu Jendela | dan | o | Pintu berubah dari sau-sau menjadi pintu "tukang" | Pintu "tukang" lebih praktis dan lebih aman | |
TABEL 2B PERBANDINGAN UMA MENTAWAI DULU DAN SEKARANG (VISUAL)
No. Elemen / Keterangan Dulu Sekarang 1 Denah – Garis merah menunjukan perbedaan pada pembagian ruang, dan beberapa elemen seperti bangku, dinding pembatas, dan posisi gare. 2 Dinding – Uma dulu menggunakan kulit kayu (karai) sebagai material dindingnya, sedangkan Uma sekarang menggunakan papan yang sudah diolah secara modern. Beberapa Uma masih mengolah papannya secara tradisional menggunakan proses tarah. 3 Tangga – Uma dulu tidak menggunakan pegangan, sementara beberapa Uma sekarang menambahkan pegangan untuk alasan keamanan. 4 Pintu – Pintu utama sekaligus membagi ruangan depan dan belakang. Pada Uma dulu pintu terbuat dari kulit kayu dan berjumlah tiga buah, sedangkan Uma sekarang terbuat dari kayu dan berjumlah satu buah. 5 Dinding pembatas – Perubahan pintu berpengaruh pada visual dinding pembatas antara ruang depan dan belakang. 6 Bangku – Dulu, Uma tidak memiliki bangku (tobbongan), orang-orang duduk di lantai dan terpusat pada Abut Kerei yang berada di tengah. Uma sekarang, semua ada bangku, dan posisi duduk orang jadi menyebar. 7 Fasad - Penambahan bangku pada area depan berpengaruh terhadap fasad bangunan. Dengan adanya bangku, fasad Uma menjadi seperti segi lima yang sempurna.
8 Sistem sambungan – Dulu sistem sambungan pada Uma menggunakan sistem pasak dan ikatan, tidak menggunakan paku. Sekarang berubah hampir semua Uma sudah menggunakan paku, beberapa memadukan antara paku dengan pasak atau ikatan.
Dampak Transformasi Elemen-Elemen Arsitektur dan Interior Uma Mentawai Terhadap Kehidupan Masyarakat
Elemen pada Uma sangat erat kaitannya dengan perubahan yang terjadi pada masyarakat, begitu juga sebaliknya. Dua hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dari perubahan yang terjadi seperti yang dijelaskan di atas, berikut dampaknya terhadap kehidupan masyarakat:
- 1. Berkurangnnya penghuni Uma dan jarangnya penghuni Uma berada di Uma membuat kesan bahwa Uma sekarang hanya menjadi tempat upacara saja, bukan tempat tinggal bersama lagi. Beberapa faktor lain yang menyebabkannya adalah keberadaan "rumah sosial", larangan beternak babi di kampung, dan hadirnya Taman Nasional.
- 2. Penggantian beberapa material dan bentuk pada Uma mengisyaratkan kepraktisan yang diinginkan oleh penghuninya. Namun kepraktisan tersebut ada harganya. Hal ini yang membuat perhatian masyarakat untuk merawat Uma semakin berkurang sehingga Uma terlihat tidak terawat dan kondisinya semakin buruk.
- 3. Pindahnya beberapa kegiatan ke "rumah sosial". Misalnya diskusi masalah keluarga dan ritual pengobatan. Intensitas kegiatan di Uma menjadi berkurang. Uma tidak lagi menjadi pusat interaksi sosial dalam suku.
- 4. Dengan adanya bangku, proses penyampaian nilai secara oral story yang dulu biasa dilakukan perlahan juga hilang. Abut Uma pun sudah jarang ditemukan.
SIMPULAN
Dalam empat dekade terakhir, masyarakat Mentawai khususnya desa Matotonan mengalamai perubahan. Hal ini dikarenakan
semakin terbukanya akses transportasi dan komunikasi melalui program percepatan pembangunan dari pemerintah. Berdasarkan hasil analisis, Uma yang merupakan salah satu wujud budaya berubah sebagai dampak dari perubahan masyarakat. Perubahan terjadi dalam waktu yang panjang dan sejajar dengan perubahan masyarakat.
Uma-uma dulu, seperti kondisi yang digambarkan Coronese dan cerita para tetua kampung, Uma yang sekarang mengalami transformasi pada beberapa elemen arsitektur dan interiornya. Transformasi tersebut meliputi: (1) Terjadi penghilangan dan penambahan di beberapa titik pada denah. Ukuran Uma menjadi lebih kecil. (2) Penambahan bangku (tobbongan) pada ruangan depan. Perubahan ini berdampak pada fasad bangunan. (3) Perubahan material pada dinding, dari kulit kayu (karai) menjadi papan. (4) Penambahan pegangan (railing) pada tangga (orat). (5) Perubahan pintu depan, dari sau-sau menjadi pintu tukang. Perubahan ini juga mempengaruhi visual dinding pembatas. (6) Perubahan sistem sambungan dari pasak dan ikatan menjadi pasak dan paku atau paku saja.
Dampak transformasi elemen-elemen arsitektur dan interior Uma Mentawai terhadap kehidupan masyarakat adalah: (1) Timbulnya kesan bahwa Uma sekarang hanya menjadi tempat upacara saja, bukan tempat tinggal bersama lagi; (2) Perhatian masyarakat untuk merawat Uma semakin berkurang; (3) Intensitas aktifitas berkurang, uma tidak lagi menjadi pusat interaksi sosial dalam suku; (4) Kebiasaan melingkar di perapian menjadi hilang, abut uma semakin sulit ditemukan
Uma Mentawai sebagai artefak Suku Mentawai memegang peran penting dalam kehidupan masyarakatnya. Keberadaannya semakin sedikit dan kemampuan suku semakin
melemah untuk membangun sebuah Uma yang baru. Sedangkan elemen-elemen arsitektur dan interior terus mengalami transformasi meskipun dalam waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu penelitian lanjutan perlu dilakukan, khususnya dalam keilmuan arsitektur dan desain.
SANWACANA
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hariadi Kerei, salah seorang pemimpin suku yang bersedia menjadi narasumber, Bapak Jonas Salemurat beserta keluarga, Bapak Rinaldi Sagoilok beserta keluarga, dan Bapak Rusman Wahyu beserta keluarga, yang telah menerima dan membantu penulis selama penelitian di Mentawai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Maskota Delvi dan Dr. Bambang Rudito atas bantuannya selama penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Buku/Thesis
- Arimbi, K. R. (2017). Berselancar ke 34 Rumah Adat Indonesia Yuk! Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6. Jakarta Timur: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Coronese, S. (1986). Kebudayaan Suku Mentawai. Jakarta: PT Grafidian Jaya.
- Hendraningsih, dkk. (1982). Peran, Kesan dan Pesan Bentuk-Bentuk Arsitektur. Penerbit Djambatan.
- Hernawati, T. (2007). Uma: Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam. Padang: Yayasan Citra Mandiri.
- Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. (Edisi Baru. Cetakan ke-8). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
- Koentjaraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.
- Krier, R. (1988). Architectural Composition. New York: Rizzoli.
- Kuntowijoyo. (2006). Budaya dan Masyarakat. (Edisi Paripurna). Yogyakarta: Tiara Wacana.
- MF, Fatris. (2015). Catatan Perjalanan, Merobek Sumatra. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
- Rudito, B. (2013). Bebetei Uma. Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi. Bandung: Gading, ICSD.
- Sutrisno, M. dan Hendar P. (2005). Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
- Patandianan, M. V. (2005). Perubahan Fungsi dan Bentuk Rumah Tradisional Toraja (Tongkonan). (Tesis). Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
- Prijotomo, J. (2014). Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara. Jakarta: PT. Propan Raya.
- Schefold, R. (1991). Mainan Bagi Roh: Kebudayaan Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka.
- Tim Ekskursi Arsitek UI. (2013). Ekskursi Arsitek UI 2012, Mentawai Guratan Identitas. Jakarta: Hima Arsitektur UI.
Jurnal online
- Andriani, P. dan Nurhasanah. (2012). Pengaruh Wujud Kebudayaan Suku di Indonesia Terhadap Layout dalam Rumah Tinggal, (Studi Kasus: Penerapan Wujud Budaya Suku Mentawai di Rumah Adat Uma). Jurnal Dimensi Seni Rupa Vol 9 No 2 Sept 2012.
- Yunus, R. (2013). Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Jurnal Penelitian Pendidikan LPPM Universitas Pendidikan Indonesia Vol 13 No 1 2013.
Artikel Online
Solong, M. M. (2013). Arsitektur dan Desain. Diakses 1 April 2020, dari https://www. scribd.com/doc/267218488/Arsitektur-Dan-Desain
