1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2021) Issue 3
  4. Articles

Analisis Keberlanjutan Dan Strategi Pengelolaan Tambak Udang Putih Sistem Intensif Di Pesisir Selatan Jawa Barat

Abstract

Keberadaan industri tambak udang putih (Litopenaeus vannamei) sistem intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat memiliki kontribusi yang signifikan memberikan manfaat terhadap kemajuan sektor akuakultur Indonesia, daerah, dan masyarakat sekitar. Meskipun pertumbuhannya sangat cepat, industri ini menghadapi beberapa kendala dalam keberlanjutannya seperti penurunan kualitas air, penyakit, dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan dan selanjutnya merumuskan strategi pengelolaan tambak udang putih sistem intensif untuk industri. Penelitian ini menggunakan metode RAPFISH-MDS (Rapid Appraisal for Fisheries"“Multidimensional Scaling) dan metode QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Responden ditentukan dengan cara purposive sampling. Berdasarkan hasil kajian keberlanjutan dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat sebesar 63,91. Penyusunan strategi pengelolaan menghasilkan 12 strategi alternatif dengan tahapan implementasi jangka pendek, menengah, dan panjang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa status keberlanjutan tambak udang putih adalah cukup berkelanjutan dan untuk meningkatkan status keberlanjutannya diperlukan strategi pengelolaan yang berfokus pada perbaikan sistem intensifikasi tambak udang dengan kepadatan tebar benur ditingkatkan, perbaikan kualitas air dengan monitoring yang kontinu, perbaikan manajemen penyakit, serta penggunaan probiotik yang tepat dengan tidak adanya bahan pencemar dan energi listrik yang tersedia.

Keywords

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara produksi udang putih ke-3 terbesar di dunia setelah China dan India dengan produksi sebesar 503.800 ton/ tahun pada sektor budidaya (FAO, 2017). Kawasan Pesisir Selatan Jawa Barat menjadi industri perusahaan tambak udang putih intensif yang terus tumbuh dengan total produksi sebesar 121.403 ton/tahun yang berarti produksi udang Jawa Barat menyumbang sebesar 23% dari produksi udang nasional dari sektor budidaya (KKP, 2018). Meskipun pertumbuhannya sangat cepat, industri ini menghadapi beberapa kendala dalam keberlanjutannya seperti penurunan kualitas air, penyakit, pencemaran lingkungan, terjadinya konflik, tidak adanya proteksi terhadap pekerja, dan teknologi yang digunakan kurang tepat sehingga produktivitas menurun (Cahyaningrum, 2017), ikut memperburuk situasi seperti pengelolaan tambak udang di pantai utara Jawa (Mirah Sjafrie, 2016).

Perikanan berkelanjutan harus menggunakan sumber daya alam dengan cara yang rasional dan tidak boleh merusak ekosistem yang dimasukkan. Aspek yang dikaji dalam perikanan berkelanjutan yaitu aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi (Valenti dkk., 2011). Prinsip perikanan berkelanjutan memiliki tiga aspek dimensi ekologi (kesesuaian lokasi budidaya, proteksi lingkungan, dan proteksi terhadap udang), dua aspek dimensi ekonomi (karakteristik internal usaha dan ketersediaan pasar), tiga aspek dimensi sosial (proteksi pekerja, potensi konflik, dan kualitas sumber daya pekerja), empat aspek dimensi teknologi (manajemen kualitas air, manajemen pakan, manajemen penyakit, dan pengkondisian awal dan panen. Kerangka interdisipliner ini harus dikaitkan dengan praktik manajemen oleh perusahaan tambak udang putih sistem intensif dan diperlukan identifikasi status keberlanjutannya. Oleh karena itu, sangat penting mengevaluasi praktik ini dengan mengintegrasikan empat dimensi keberlanjutan sehingga perusahaan dapat mengukur praktik budidaya tambak udang putih intensif untuk memperoleh keuntungan, sumberdaya manusia yang berkualitas, penggunaan teknologi yang tepat, dan berdampak pada lingkungan dalam jangka panjang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan dan strategi pengelolaan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat berdasarkan dimensi ekologi, skonomi, sosial, dan teknologi. Informasi tentang atribut sensitif digunakan untuk strategi pengelolaan tambak udang putih secara berkelanjutan.

METODE

Penelitian dilaksanakan selama tujuh bulan dari Juli 2019 sampai Januari 2020.

Pengumpulan data dilaksanakan selama dua bulan pada Desember 2019 dan Januari 2020 bertempat di Pesisir Selatan Jawa Barat dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini PT Dewi Laut Aquaculture (DLA), DW Bahari (DWB), PT Noerwy Aqua Farm (NAF), PT Bumi Cimandala Lestari (BCL), dan Nusawiru (NSWR) terlihat pada Gambar 1.

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

Gambar 1 Lokasi Penelitian (a) PT Bumi Cimandala Lestari (BCL), (b) PT Dewi Laut Aquaculture (DLA), (c) DW Bahari (DWB), (d) Nusawiru (NSWR), (e) PT Noerwy Aqua Farm (NAF) (Sumber: Google Maps, 2020)

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder dan bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data yang dikumpulkan berdasarkan acuan atribut tambak udang putih intensif yang berkelanjutan meliputi dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi.

Metode yang digunakan untuk mengkaji status keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat adalah metode kuantitatif yaitu RAPFISH-MDS (Rapid Appraisal for Fisheries - Muldimensional Scaling) yang dikembangakan oleh University of British Columbia untuk mengevaluasi perikanan secara multidisipliner (Kavanagh, 2001). Metode RAPFISH-MDS meliputi status keberlanjutan, analisis sensitivitas (Leverage analysis), dan analisis Monte Carlo untuk memperhitungkan ketidakpastian (Pitcher dan Kavanagh, 2004) berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi. Posisi status keberlanjutan akan didasarkan pada kategori di kisaran 0-100% (TABEL 1).

Metode dalam penyusunan strategi dilakukan dengan pendekatan metode QSPM (Quantitative Streategic Planning Matrix). Analisis terhadap matriks tersebut memungkinkan suatu evaluasi alternatif strategi secara objektif berdasarkan faktor keberhasilan internal dan eksternal yang telah diidentifikasi dari hasil analisis RAPFISH-MDS. Metode QSPM meliputi analisis matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan matriks EFE (External Factor Evaluation), analisis matriks SWOT (Streanght-Weakness-Opportunities-Theats) untuk menentukan strategi pengelolaan, dan matriks QSPM untuk menentukan strategi prioritas pengelolaan tambak udang putih intensif secara berkelanjutan.

TABEL 1 KATEGORI INDEKS KEBERLANJUTAN

NoIndeksKategori
10,00-25,00Tidak Berkelanjutan
225,01-50,00Kurang Berkelanjutan
350,01-75,00Cukup Berkelanjutan
475,01-100,00Sangat Berkelanjutan

Sumber: Cahyaningrum (2017) dan Rosmiati dkk. (2020)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran umum responden perusahaan tambak udang putih intensif meliputi legalitas, luas kolam budidaya, pekerja lokal, efisiensi pekerja, produksi, dan produktivitas udang (TABEL 2) yang mencerminkan posisi dan kinerja setiap perusahan tambak udang putih intensif.

TABEL 2 GAMBARAN UMUM RESPONDEN

Perusahaan
VariabelDLADWBNAFBCLNswr
LegalitasSPPL, SIUP,
SITU, TDP, IMB
SPPL, SIUP,
SITU, TDP,
IMB
AMDAL,
SIUP, SITU,
TDP, IMB
SPPL, SIUP,
SITU, TDP, IMB
SIUP,
SITU
Luas kolam
budidaya (%)
6050446050
Pekerja
lokal (%)
71,4380,0087,7275,0045,45
Efisiensi
pekerja (%)
7583737570
Produksi
(ton/siklus)
174555949931
Produktivitas
(ton/ha/siklus)
2925273322

AMDAL/SPPL=Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; SIUP= Surat Izin Usaha Perdagangan; SITU= Surat Izin Tempat Usaha; TDP= Tanda Daftar Perusahaan; IMB= Izin Mendirikan Bangunan

Analisis keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat dinilai berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi. Pada dimensi ekologi seluruh aspek penilaian berpengaruh terhadap status keberlanjutan yang meliputi kesesuaian lokasi budidaya, proteksi lingkungan, dan proteksi terhadap udang secara bersama- sama. Hal ini mempengaruhi status keberlanjutan sehingga berada dalam status cukup berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan sebesar 59,89 (Gambar 2.a). Hasil uji dengan aplikasi metode RAPFISH-MDS menunjukkan indeks keberlanjutan ekologi tersebut memiliki nilai stress sebesar 12,93% yang berada dalam kategori fair artinya baik (Simamora 2005). Nilai R2 dalam model tersebut 0,95 atau mendekati 1 sehingga dapat disimpulkan hasil analisis dapat mempresentasikan model dengan baik. Nilai stress dan R2 menunjukkan atribut-atribut yang digunakan akurat dalam mengkaji indeks keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat pada dimensi ekologi.

8

(a)

4

(b)

Gambar 2 Indeks Keberlanjutan (a) dan Analisis Sensitivitas (b) Dimensi Ekologi

Berdasarkan analisis sensitivitas, atribut yang memiliki nilai perubahan Root Mean Square (RMS) terbesar yaitu atribut luas tanaman sebesar 5,82% (Gambar 2.b). Luas tanaman pada area seluruh perusahaan memiliki persentase di bawah 30%. Hal ini terjadi karena lingkungan di Pesisir Selatan Jawa Barat tidak bisa ditumbuhi dengan tanaman mangrove seperti di pesisir utara Jawa Barat. Tanaman yang banyak tumbuh di Pesisir Selatan Jawa Barat yaitu tanaman pandan laut dan katang juga dapat menahan abrasi laut sehingga air laut tidak akan langsung masuk ke dalam kolam budidaya saat air laut pasang (Mirah Sjafrie, 2016).

Berdasarkan dimensi ekonomi, seluruh aspek penilaian terhadap status kelanjutan meliputi karakteristik internal usaha dan ketersediaan pasar secara bersama-sama. Hal tersebut mempengaruhi status keberlanjutan tambak udang di wilayah Pesisir Selatan Jawa Barat sehingga berada dalam status cukup berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan sebesar 62,86 (Gambar 3.b). Hasil uji dengan aplikasi RAPFISH-MDS menunjukkan indeks keberlanjutan ekonomi tersebut memiliki

nilai stress sebesar 14,20% yang berada dalam kategori fair artinya baik (Simamora 2005). Nilai R2 dalam model tersebut 0,94 atau mendekati 1 sehingga dapat disimpulkan hasil analisis dapat mempresentasikan model dengan baik. Nilai stress dan R2 menunjukkan atribut-atribut yang digunakan akurat dalam mengkaji indeks keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat pada dimensi ekonomi. Berdasarkan analisis sensitivitas, atribut yang memiliki nilai perubahan Root Mean Square (RMS) terbesar yaitu subsisdi pemerintah dan produktivitas tambak dengan masing-masing nilai perubahan Root Mean Square (RMS) sebesar 3,91% (Gambar 3.b). Produktivitas tambak sangat mempengaruhi pendapatan perusahaan secara langsung, sehingga diperlukan produktivitas yang tinggi untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi (Lailiyah dkk., 2018). Tidak adanya subsidi dari pemerintah membuat perusahaan tambak udang di Pesisir Selatan Jawa Barat menandakan tingkat kemandirian yang tinggi dan tidak ada ketergantungan dari pihak eksternal dalam menjalankan usaha (Wibowo dkk., 2015).

13

(a)

3

(b)

Gambar 3 Indeks Keberlanjutan (a) dan Analisis Sensitivitas (b) Dimensi Ekonomi

Berdasarkan dimensi sosial, seluruh aspek penilaian berpengaruh terhadap status kelanjutan yang meliputi aspek proteksi pekerja, potensi konflik, dan kualitas sumber daya manusia secara bersama-sama. Hal tersebut mempengaruhi status keberlanjutan tambak udang di wilayah Pesisir Selatan Jawa Barat sehingga berada dalam status cukup berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan sebesar 63,64 (Gambar 4.a). Hasil uji dengan aplikasi RAPFISH-MDS menunjukkan indeks keberlanjutan sosial memiliki nilai stress 13,50% yang berada dalam kategori fair artinya baik (Simamora 2005).

Nilai R2 dalam model tersebut 0,95 atau mendekati 1 sehingga dapat disimpulkan hasil analisis dapat mempresentasikan model dengan baik. Nilai stress dan R2 menunjukkan atribut-atribut yang digunakan akurat dalam mengkaji indeks keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat pada dimensi sosial.

Berdasarkan analisis sensitivitas, atribut lama waktu bekerja memiliki nilai perubahan Root Mean Square (RMS) terbesar yaitu atribut lama waktu bekerja sebesar 5,41% (Gambar 4.b). Lama waktu bekerja mendapatkan skor buruk karena waktu bekerja di tambak melebihi 40 jam/minggu. Hal ini dikarenakan International Labour Organization (ILO) menetapkan lama

waktu bekerja tidak kurang atau lebih dari 40 jam/minggu (Julia, 2017). Berdasarkan hal tersebut, perlu diperhatikan besaran upah yang diberikan kepada pekerja.

11 12 14

(b)

Gambar 4 Indeks Keberlanjutan (a) dan Analisis Sensitivitas (b) Dimensi Sosial

Berdasarkan dimensi teknologi, seluruh aspek penilaian dalam dimensi teknologi berpengaruh terhadap status keberlanjutan yang meliputi aspek manajemen kualitas air, manajemen pakan, manajemen penyakit, dan pengkondisian awal dan panen secara bersamasama. Hal ini mempengaruhi status keberlanjutan tambak udang di Pesisir Selatan Jawa Barat sehingga dikategorikan cukup berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan sebesar 69,30 (Gambar 5.a)

Hasil uji dengan aplikasi RAPFISH-MDS menunjukkan = indeks keberlanjutan teknologi tersebut memiliki nilai stress sebesar 13,58% yang berada dalam kategori fair artinya baik (Simamora, 2005). Nilai R2 dalam model tersebut 0,96 atau mendekati 1 sehingga dapat disimpulkan hasil analisis dapat mempresentasikan model dengan baik. Nilai stress dan R2 menunjukkan atribut-atribut yang digunakan akurat dalam mengkaji indeks keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat pada dimensi teknologi.

Berdasarkan analisis sensitivitas, atribut penanganan udang yang terserang penyakit memiliki nilai perubahan Root Mean Square (RMS) terbesar yaitu atribut penanganan udang terserang penyakit sebesar 5,12% (Gambar 5.b). Penanganan yang baik untuk udang yang terserang penyakit dilakukan dengan kombinasi perbaikan secara teknis dan biologis. Penanganan secara teknis dengan cara memperbaiki kualias air secara fisik dan kimiawi sedangkan penanganan secara biologis dengan cara memperbaiki kualiatas air kolam budidaya secara biologis seperti jumlah bakteri, vibro, dan plankton. Hal tersebut dilakukan agar kualitas air kolam budidaya dapat kembali pada kondisi optimum dan penyakit tidak kembali menyerang udang putih (Suantika dkk., 2018). Apabila kedua cara penanganan udang yang terserang penyakit diaplikasikan maka akan signifikan meningkatkan indeks keberlanjutan dimensi teknologi.

6 7

(a)

10

(b)

Gambar 5 Indeks Keberlanjutan (a) dan Analisis Sensitivitas (b) Dimensi Teknologi

Selisih antara indeks keberlanjutan RAPFISH-MDS dengan indeks keberlanjutan Monte Carlo pada seluruh dimensi kurang dari 1. Hal tersebut menunjukkan pengaruh kesalahan dalam analisis adalah kecil sehingga dapat disimpulkan pengaruh kesalahan dalam analisis pada setiap dimensi keberlanjutan adalah kecil, serta proses analisis yang dilakukan berulangulang relatif stabil. Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan RAPFISH-MDS seluruh dimensi (Gambar 6), status keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat sebesar 63,91 termasuk kategori cukup berkelanjutan.

4

Gambar 6 Diagram Layang Indeks Keberlanjutan Empat Dimensi

Tambak udang putih sistem intensif dapat dikatakan berkelanjutan pada dimensi ekologi apabila kualitas air kolam budidaya optimal, tidak terjadi kekeringan atau kebanjiran pada lokasi budidaya, energi listrik tersedia dan terpenuhi, pengelolaan lingkungan yang baik dengan luas tanaman yang proporsional tanpa adanya bahan pencemar yang masuk ke kolam budidaya, tersedia dan terpenuhinya pakan dan benur udang putih, kepadatan tebar yang tinggi, frekuensi penyerangan penyakit udang putih rendah (Cahyaningrum, 2017; Lailiyah dkk., 2018).

Pada dimensi ekonomi apabila layak secara finansial, terjadinya BEP, tidak adanya subsidi dari pemerintah, besaran upah pekerja sesuai dengan aturan yang berlaku, produktivitas dan penjualan udang stabil, memiliki target pasar dan mitra penjualan (Wibowo dkk., 2015; Cahyaningrum, 2017). Pada dimensi

sosial, apabila efisiensi tenaga kerja tinggi, persentase pekerja lokal tinggi, alokasi pekerja penuh waktu, lama waktu bekerja sesuai aturan ketenagakerjaan, seluruh pekerja mendapatkan asuransi kesehatan, tidak terjadi konflik, kepemilikan lahan mandiri, tingkat pendidikan dan pengetahuan pekerja tinggi, peraturan budidaya dijalankan, dan terdapat pelatihan bagi seluruh pekerja (Wibowo dkk., 2015; Cahyaningrum, 2017). Sedangkan pada dimensi teknologi apabila penggunaan kincir selama proses budidaya, penambahan molase dan probiotik sesuai kebutuhan, monitoring kualitas air yang berkelanjutan, pemberian pakan sesuai kebutuhan, penanganan udang terindikasi, terserang, dan identifikasi penyakit, proses aklimatisasi benur, dan proses pemanenan (Wigiani dkk., 2019).

Penyusunan strategi pengelolaan tambak udang dilakukan dengan membuat matriks IFE atau faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan EFE atau faktor eksternal (peluang dan ancaman). Faktor internal berdasarkan pembobotan menggunakan dasar nilai perubahan RMS yang dimiliki oleh setiap atribut dalam analisis RAPFISH. Jika diperoleh bobot tertinggi, faktor internal menjadi kekuatan dalam mempertahankan keberlanjutan tambak udang putih intensif adalah kepemilikan lahan mandiri dengan bobot 0,038 Bobot tertinggi faktor internal yang menjadi kelemahan adalah perbandingan luas tanaman dengan luas kolam budidaya belum proporsional dengan bobot 0,055.

Pada faktor eksternal, bobot tertinggi kategori peluang dalam mempertahankan keberlanjutan tambak udang putih intensif tersebut tidak adanyapencemar dari luar dengan bobot 0,140. Bobot tertinggi faktor eksternal yang menjadi ancaman dalam mempertahankan keberlanjutan tambak udang putih intensif tersebut frekuensi pemadalam listrik dengan bobot 0,136. Faktor internal dan eksternal digunakan untuk menyusun matriks SWOT sebagai perumusan strategi alternatif dalam meningkatkan status keberlanjutan sehingga diperoleh 12 strategi alternatif yang meliputi 2 strategi S-O, 3 strategi W-O, 3 strategi S-T, dan 4 strategi W-T (TABEL 3).

TABEL 3 MATRIKS SWOT STRATEGI PENGELOLAAN TAMBAK UDANG PUTIH INTENSIF BERKELANJUTAN

Kekuatan (S)

  • 1. Kepemilikan lahan mandiri
  • 2. Tingkat ketergantungan pekerja tinggi
  • 3. Manajemen pemberian pakan yang baik
  • 4. Alokasi waktu pekerja untuk tambak tinggi
  • 5. Ketersediaan pasar penjualan udang
  • 6. Pengaplikasian molase yang benar
  • 7. Profitabilitas tambak udang yang tinggi
  • 8. Sistem penjualan langsung ke industri
  • 9. Kelayakan finansial usaha tambak udang
  • 10. Penggunaan kincir yang optimal
  • 11. Tingkat penyerapan tenaga kerja tinggi
  • 12. Peraturan budidaya yang dijalankan
  • 13. Sistem pemanenan yang baik

Kelemahan (W)

  • 1. Perbandingan luas tanaman dengan kolam belum proporsional
  • 2. Waktu bekerja yang lebih lama
  • 3. Penanganan udang yang terserang penyakit kurang baik
  • 4. Pengaplikasian probiotik yang belum optimal
  • 5. Identifikasi penyakit udang kurang baik
  • 6. Asuransi kesehatan pekerja belum merata
  • 7. Produktivitas yang belum optimal
  • 8. Tingkat upah pekerja yang belum proporsional
  • 9. Tindakan apabila terindikasi penyakit yang belum tepat
  • 10. Pengelolaan lingkungan kurang baik
  • 11. Tingkat penjualan udang yang stabil
  • 12. Monitoring kualitas air belum efisien
  • 13. Aklimatisasi benur belum baik
  • 14. Tingkat pendidikan pekerja masih rendah
  • 15. Pengetahuan pekerja belum merata
  • 16. Kepadatan tebar yang kurang optimal
  • 17. Pelatihan bagi pekerja yang kurang merata
  • 18. Frekuensi udang terserang penyakit
  • 19. Persentase pekerja lokal belum proporsional
  • 20. Kualitas air kolam budidaya belum optimal

Peluang (O)

  • 1. Tidak adanya pencemaran dari luar
  • 2. Tidak adanya subsidi dari pemerintah
  • 3. Tidak terjadinya banjir
  • 4. Terpenuhinya energi listrik
  • 5. Tidak terjadinya kekeringan
  • 1. Pengembangan usaha dengan kepemilikan lahan mandiri tanpa adanya subsidi dari pemerintah dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi dengan pasar tersedia di lokasi tidak pernah banjir dan kekeringan agar memperoleh profitabilitas yang tinggi dan layak secara finansial (S1,S2,S4,S5,S8,S9,S11, O2,O3,05)
  • 2. Penggunaan teknologi berbasis IoT (Internet of Things) dengan manajemen pakan dan kualitas air yang real time dengan energi listrik yang terpenuhi agar tidak adanya pencemaran dari luar dengan sistem panen yang berkala (S3,S6,S7,S10, S12,S13,O1,O4)
  • 1. Merancang dan menerapkan Better Management Practice serta biosecurity yang sesuai dengan kondisi di kawasan tersebut untuk menjamin kualitas lingkungan dan hasil produksi agar tidak terjadi bencana (W1,W10,O3,O5)
  • 2. Perbaikan sistem intensifikasi tambak udang dengan kepadatan tebar benur ditingkatkan untuk meningkatkan produktivitas dan penjualan, perbaikan kualitas air dengan monitoring yang kontinu dan tindakan preventif, identifikasi, dan penanganan udang yang terserang penyakit, serta penggunaan probiotik dengan tidak adanya bahan pencemar masuk dan energi listrik yang tersedia (W3, W 4 , W 5 , W 7 , W 9 , W 11 , W12, W13, W16, W18, W20, O1, O4)
  • 3. Membuat peraturan formal untuk proteksi pekerja tambak udang seperti waktu bekerja, asuransi kesehatan, tingkat pendidikan, pekerja lokal diprioritaskan, adanya pelatihan untuk meningkatkan kualitas pekerja, dan upah yang proporsional agar kesejahteraan pekerja terjamin dengan tidak adanya subsidi dari pemerintah ( W 2 , W 6 , W 8 , W 1 4 , W15,W17,W19,O2)

Ancaman (T)

  • 1. Frekuensi terjadinya pemadaman listrik
  • 2. Frekuensi terjadinya konflik
  • 3. Ketersediaan pakan masih terbatas
  • 4. Ketersediaan benur masih terbatas
  • 1. Perusahaan tambak udang harus memiliki CSR (Corporate Social Responsibility) agar masyarakat sekitar merasa terbantu dengan adanya tambak udang kepemilikan mandiri dan akan menyerap tenaga kerja penuh waktu sehingga perusahaan mendapatkan profit dan layak secara finansial dengan tidak adanya konflik dan ketersediaan pasar yang masih besar (S1,S2,S4,S5,S7,S8,S9,T2)
  • 2. Perusahaan tambak udang harus memiliki pembangkit listrik sendiri sehingga penggunaan kincir dan operasional tambak dapat berjalan seperti penambahan molase, pemberian pakan, sesuai dengan peraturan budidaya yang ada (S3,S6,S10,S12,S13,T1)
  • 3. Pengembangan unit bisnis pembenihan benur udang dan pembuatan pakan udang pada perusahan tambak udang mampu membuat keberlanjutan usaha meningkat dan tingkat penyerapan tenaga tinggi (S11,T3,T4)

  • 1. Menyusun dokumen AMDAL bagi perusahaan dengan luas lebih dari 50 hektar dan jika kurang dari 50 hektar harus mempunyai dokumen pengelolaan lingkungan untuk meminimalisasi kejadian konflik lingkungan (W1,W10,T2)
  • 2. Membuat regulasi untuk pemberitahuan pemadaman listrik agar perusahaan tambak udang sudah mempersiapkan energi listrik dari pembangkit listrik dan proses budidaya tetap berjalan dengan baik (W3,W4,W5,W9,W12, W18,W20,T1)
  • 3. Menggunakan probiotik sebagai bahan campuran pakan dapat meningkatkan survival rate, FCR, meningkatkan produktivitas (W4,W7, W11,T3)
  • 4. Memperbaiki prosedur proses tebar benur udang dan meningkatkan kepadatan tebar benur dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (W2,W6,W8,W13,W14, W15,W16,W17,W19,T4)

Strategi-strategi alternatif tersebut kemudian dianalisis dengan pendekatan metode QSPM untuk mengetahui urutan prioritas strategi menggunakan nilai Root Mean Square

(RMS) yang sudah dikonversi dengan seluruh atribut. Hasil analisis menunjukkan terdapat 12 strategi altenatif (TABEL 4).

TABEL 4 MATRIKS QSPM STRATEGI PENGELOLAAN TAMBAK UDANG PUTIH INTENSIF BERKELANJUTAN

StrategiBobotASTASRank
Strategi S-O
1.Pengembangan usaha dengan kepemilikan lahan mandiri
tanpa adanya subsidi dari pemerintah dengan penyerapan
tenaga kerja yang tinggi dengan pasar tersedia di lokasi
tidak pernah banjir dan kekeringan agar memperoleh
profitabilitas yang tinggi dan layak secaca finansial (S1,S2
,S4,S5,S8,S9,S11,O2,O3,05)
0,12520,2506
2.Penggunaan teknologi berbasis IoT (Internet of Things)
dengan manajemen pakan dan kualitas air yang real time
dengan energi listrik yang terpenuhi agar tidak adanya
pencemaran dari luar dengan sistem panen yang berkala
(S3,S6,S7,S10, S12,S13,O1,O4)
0,09220,18411
Strategi W-O
1.
2.
Merancang dan menerapkan Better Management Practice
serta biosecurity yang sesuai dengan kondisi di kawasan
tersebut untuk menjamin kualitas lingkungan dan hasil
produksi agar tidak terjadi bencana (W1,W10,O3,O5)
Perbaikan sistem intensifikasi tambak udang dengan
0,06840,2723
kepadatan tebar benur ditingkatkan untuk meningkatkan
produktivitas dan penjualan, perbaikan kualitas air dengan
monitoring yang berkelanjutan dan tindakan preventif,
identifikasi,
dan
penanganan
udang
yang
terserang
penyakit, serta penggunaan
probiotik dengan tidak
adanya bahan pencemaran dan energi listrik yang tersedia
(W3,W4,W5,W7,W9,W11,W12,W13,
W16,W18,W20,
O1,O4)
0,14440,5751
3.Membuat
peraturan
formal
untuk
proteksi
pekerja
tambak udang seperti waktu bekerja, asuransi kesehatan,
tingkat pendidikan, pekerja lokal diprioritaskan, adanya
pelatihan
untuk
meningkatkan
kualitas
pekerja,
dan
upah
yang
proporsional
agar
kesejahteraan
pekerja
terjamin dengan tidak adanya subsidi dari pemerintah
(W2,W6,W8,W14,W15, W17,W19,O2)
0,08430,2535
Strategi S-T
1.Perusahaan tambak udang harus memiliki CSR (Corpotate
Social Responsibility) agar masyarakat sekitar merasa
terbantu
dengan
adanya
tambak
udang
kepemilikan
mandiri dan akan menyerap tenaga kerja penuh waktu
sehingga perusahaan mendapatkan profit dan layak secara
finansial dengan tidak adanya konflik dan ketersediaan
pasar yang masih besar (S1,S2,S4, S5,S7,S8,S9,T2)
0,08330,2487
2.Perusahaan tambak udang harus memiliki pembangkit
listrik sendiri sehingga penggunaan kincir dan operasioanl
tambak
dapat
berjalan
seperti
penambahan
molase,
pemberian pakan, sesuai dengan peraturan budidaya yang
ada (S3,S6,S10,S12,S13,T1)
0,06430,19210
3. Pengembangan unit bisnis pembenihan benur udang dan
pembuatan pakan udang pada perusahan tambak udang
mampu membuat keberlanjutan usaha meningkat dan
tingkat penyerapan tenaga tinggi (S11,T3,T4)
0,05730,17212
Strategi W-T
1.Menyusun dokumen AMDAL bagi perusahaan dengan
luas lebih dari 50 hektar dan jika kurang dari 50 hektar
harus mempunyai dokumen pengelolaan lingkungan
untuk
meminimalisasi
kejadian
konflik
lingkungan
(W1,W10,T2)
0,05440,2179
2.Membuat regulasi untuk pemberitahuan pemadaman
listrik
agar
perusahaan
tambak
udang
sudah
mempersiapkan energi listrik dari pembangkit listrik
dan
proses
budidaya
tetap
berjalan
dengan
baik
(W3,W4,W5,W9,W12, W18,W20,T1)
0,08630,2594
3.Menggunakan probiotik sebagai bahan campuran pakan
dapat meningkatkan survival rate, FCR, meningkatkan
produktivitas (W4,W7,W11,T3)
0,05740,2288
4.Memperbaiki
prosedur
proses
tebar
benur
udang
dan
meningkatkan
kepadatan
tebar
benur
dengan
meningkatkan
kualitas
sumber
daya
manusia
(W2,W6,W8,W13,W14,W15, W16,W17,W19,T4)
0,09140,3652

Pembenahan terhadap aspek keberlanjutan pada dimensi ekologi menjadi fondasi dalam menerapkan strategi pengelolaan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat sehingga status keberlanjutannya menjadi sangat berkelanjutan. Proses pembenahan

tersebut dibagi menjadi tiga tahapan implementasi yaitu tahapan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang (TABEL 5).

TABEL 5 TAHAPAN IMPLEMENTASI STRATEGI PENGELOLAAN TAMBAK UDANG PUTIH INTENSIF BERKELANJUTAN

TahapanFase
(Tahun ke-)
Strategi
S t r a t e g i
Ekologi
SP3:
Merancang dan menerapkan Better Management Practice serta biosecurity yang
sesuai dengan kondisi di kawasan tersebut untuk menjamin kualitas lingkungan
dan hasil produksi agar tidak terjadi bencana
S t r a t e g i
Ekonomi
-
J a n g k a
Pendek
P e r s i a p a nS t r a t e g i
Sosial
SP5:
Membuat peraturan formal untuk proteksi pekerja tambak udang seperti waktu
bekerja, asuransi kesehatan, tingkat pendidikan, pekerja lokal diprioritaskan,
adanya pelatihan untuk meningkatkan kualitas pekerja, dan upah yang
proporsional agar kesejahteraan pekerja terjamin dengan tidak adanya subsidi
dari pemerintah
(1-3)S t r a t e g i
Teknologi
SP1:
SP2:
SP8:
Perbaikan
sistem
Memperbaiki
prosedur
Menggunakan
probiotik
intensifikasi
tambak
proses tebar benur udang
sebagai
bahan
campuran
udang
dengan
dan
meningkatkan
pakan dapat meningkatkan
kepadatan
tebar
kepadatan tebar benur
survival rate, FCR,
benur
ditingkatkan
dengan
meningkatkan
meningkatkan produktivitas
untuk meningkatkan
kualitas
sumber
daya
produktivitas
dan
manusia
penjualan, perbaikan
kualitas air dengan
monitoring
yang
b e r k e l a n j u t a n ,
tindakan
preventif,
identifikasi,
dan
penanganan
udang
yang
terserang
penyakit,
serta
penggunaan probiotik
dengan tidak adanya
bahan pencemar dan
energi listrik tersedia
S t r a t e g i
Ekologi
SP9:
Menyusun dokumen AMDAL bagi perusahaan dengan luas lebih dari 50
hektar dan jika kurang dari 50 hektar harus mempunyai dokumen pengelolaan
lingkungan untuk meminimalisasi kejadian konflik lingkungan
S t r a t e g i
Ekonomi
-
J a n g k a
Pembenahan
Menengah
(4-5)
S t r a t e g i
Sosial
SP4:
SP7:
Membuat
regulasi
Perusahaan
tambak
udang
harus
memiliki
CSR
untuk pemberitahuan
(Corpotate Social Responsibility) agar masyarakat
pemadaman
listrik
sekitar merasa terbantu dengan adanya tambak udang
agar
perusahaan
kepemilikan mandiri dan akan menyerap tenaga kerja
tambak udang sudah
penuh waktu sehingga perusahaan mendapatkan profit
m e m p e r s i a p k a n
dan layak secara finansial dengan tidak adanya konflik
energi
listrik
dari
dan ketersediaan pasar yang masih besar
pembangkit
listrik
dan proses budidaya
tetap berjalan dengan
baik
S t r a t e g i
Teknologi
-
Pengembangan
(6-10)
S t r a t e g i
Ekologi
-
J a n g k a
Panjang
S t r a t e g i
Ekonomi
SP6:
SP10:
Pengembangan
usaha
Perusahaan
tambak
udang
harus
memiliki
dengan kepemilikan lahan
pembangkit listrik sendiri sehingga penggunaan
mandiri
tanpa
adanya
kincir dan operasioanl tambak dapat berjalan
subsidi dari pemerintah
seperti penambahan molase, pemberian pakan,
dengan
penyerapan
sesuai dengan peraturan budidaya
tenaga kerja yang tinggi
dengan pasar tersedia di
lokasi tidak pernah banjir
dan
kekeringan
agar
memperoleh profitabilitas
yang
tinggi
dan
layak
secaca finansial
S t r a t e g i
Sosial
-
Strategi
Teknologi
-
Pemapanan (11-
20)
S t r a t e g i
Ekologi
-
S t r a t e g i
Ekonomi
SP12:
Pengembangan unit bisnis pembenihan benur udang dan pembuatan pakan
udang pada perusahan tambak udang agar mampu meningkatkan keberlanjutan
usaha dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja
S t r a t e g i
Sosial
-
S t r a t e g i
Teknologi
SP11:
Penggunaan teknologi berbasis IoT (Internet of Things) dengan manajemen
pakan dan kualitas air yang real time dengan energi listrik yang terpenuhi agar
tidak adanya pencemaran dari luar dengan sistem panen yang berkala

SIMPULAN

Status keberlanjutan tambak udang putih intensif di Pesisir Selatan Jawa Barat cukup berkelanjutan. Status keberlanjutannya memerlukan strategi pengelolaan yang menitikberatkan pada perbaikan sistem intensifikasi tambak udang dengan kepadatan tebar benur ditingkatkan, perbaikan kualitas air dengan monitoring yang berkelanjutan, perbaikan manajemen penyakit, dan penggunaan probiotik yang tepat tanpa adanya bahan pencemar dan energi listrik yang tersedia.

SANWACANA

Terima kasih kepada perusahaan tambak udang putih sistem intensif yaitu PT. Dewi Laut Aquaculture, DW Bahari, PT. Noerwy Aqua Farm, PT. Bumi Cimandala Lestari, dan Nusawiru yang telah menjadi responden penelitian ini.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

7
Citations
2.34
FWCIfield-weighted
91th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251
20241
20234
20221

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.54
level 0
Forestry 0.35
level 1

Institution Network

References

  1. Cahyaningrum, D. C. (2017). Strategi pengelolaan tambak udang secara berkelanjutan (kasus di wilayah pesisir Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta). Bandung: Tesis Program Magister Institut Teknologi Bandung.
  2. Food and Agriculture Organization. (2017). Fishery and Aquaculture Statistics Aquaculture Production. Rome: FAO.
  3. Google Maps. (2020). Tambak Udang PT. Dewi Laut Aquaculture, DW Bahari, PT. Noerwy Aqua Farm, PT. Bumi Cimandala Lestari, dan Nusawiru. Dikutip dari: https://www.google.co.id/maps/place
  4. Julia, L. (2017). Jam kerja, cuti, dan upah. Jakarta: International Labour Organization.
  5. Kavanagh, P. (2001). Rapid appraisal fisheries (Rapfish) project rapfish software description (for Microsoft Excel). Canada: Fisheries Centre Vancouver.
  6. Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (2018). Validasi Nasional Satu Data. Jakarta: KKP.
  7. Lailiyah, U.S. Sinung, R. Maria, G.E. dan Mugi, M. 2018. Produktivitas Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Tambak Superintensif di PT. Dewi Laut Aquaculture Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan, 1(1): 1-11.
  8. Mirah Sjafrie, D.N. (2016): Jasa ekosistem pesisir. Oseana, 41(4), 25-40.
  9. Pitcher, T.J. dan Kavanagh, F. (2004). Implementing Microsoft Excel Software for RAPFISH a Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status. Colombia: The Fisheries Centre University of Colombia.
  10. Rosmiati, M., R. E. Putra, T. Lastini, E. Hernawan, Pujo, I. Rahmayunita, F. R. Maulana, F. Liesdiana, M. A. Nurdiansyah, dan A. Azis. (2020). Sustainability Analysis of Dairy Horticulture Integrated Farming System. The Journal of Agricultural Sciences - Sri Lanka, 15(2): 290-298.
  11. Simamora, B. (2005). Analasis multivariat pemasaran, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  12. Suantika G, Situmorang ML, Nurfathurahmi A, Taufik I, Aditiawati P, Yusuf N, dan Rizkiyanti, A. (2018). Application of Indoor Recirculation Aquaculture System for White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Growout Super-Intensive Culture at Low Salinity Condition. Journal Aquaculture Research Development, 9(4): 530-535.
  13. Valenti, W.C. Kimpara, J.M. Preto, B.L. (2011). Measuring aquaculture sustainability. World Aquaculture, 42(3): 26-30.
  14. Wibowo, A.B., Anggoro, S., dan Yulianti, B. (2015). Status keberlanjutan dimensi ekologi dalam pengembangan Kawasan minapolitan berkelanjutan berbasis perikanan budidaya air tawar di Kabupaten Magelang. Jurnal Saintek Perikanan, 10(2): 107-113.