PENDAHULUAN
Di Indonesia, galeri tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan seni. Manajemen seni diwadahi dalam empat kegiatan demi menunjang kelangsungan kegiatan; hal yang harus diperhatikan adalah perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (motivating), dan pengendalian (controlling) (Indratmo & Handayani, 2014). Perkembangan galeri yang baik memiliki sistem manajemen yang baik untuk keberlangsungan galerinya yang dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Dan sebaliknya sistem manajemen dan pengelolaan yang tidak baik akan memengaruhi keberlangsungan sebuah galeri (Susanto, 2004). Kinerja sebuah galeri dapat dikatakan optimal jika galeri tersebut dapat menjalankan sistem manajemennya sebaik mungkin dan selalu mengoreksi kekurangan dan meningkatkan sistem manajemennya.
Situasi yang berkaitan dengan kemunculan dan kemunduran galeri di Indonesia menjadi persoalan yang menarik untuk di teliti. Kemunculan sebuah galeri seni berkaitan dengan semakin meningkatnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap suatu karya seni. Tetapi diperlukan juga manajemen yang baik supaya bisa bertahan dan bersaing dengan galeri lainnya.
Di antara banyak galeri, hanya beberapa galeri yang masih terus bertahan hingga saat ini. Parameter bertahannya galeri antara lain masih aktif mengadakan pameran kesenian secara rutin dan berkala, memberi pengaruh pada paradigma dan progresifitas dalam kondisi medan sosial seni saat ini, bangunan galerinya memiliki standar dan mengikuti aturan, memiliki fungsi galeri, serta mempunyai struktur organisasi yang jelas. Berikut ini galeri-galeri yang masih bertahan dan terdapat di kota Bandung di antaranya: NuArt Sculpture Gallery, Lawangwangi Art and Space, Galeri Soemardja, Selasar Soenaryo, dan Griya Seni Popo Iskandar (GSPI). Galeri-galeri ini termasuk galeri yang masih aktif di medan seni Bandung.
Griya Seni Popo Iskandar atau disingkat GSPI ini tidak hanya berfungsi sebagai sebuah museum yang memajang koleksi karya Popo, tetapi juga sebagai galeri seni rupa yang dijadikan
tempat untuk ruang pameran galeri temporer. Berdirinya GSPI memang dimaksudkan untuk mendokumentasikan dan merekonstruksi aktivitas seni serta merestrukturisasi dan mengonservasi karya-karya Popo Iskandar (Mamannoor, 1998). Hingga kini GSPI telah berdiri selama 40 tahun. Hal ini setidaknya berhubungan dengan manajemen galeri mereka yang cukup memadai serta dapat membaca kondisi terkini dan bertahan di atas keadaan perekonomian yang tidak menentu. Namun masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam manajemen galeri GSPI, karena belum adanya perkembangan yang cukup signifikan.
Penelitian ini mengkaji bagaimana sistem manajemen galeri yang diterapkan di dalam Griya Seni Popo Iskandar sehingga masih bertahan sampai 2019. Analisis sistem manajemen yang akan diteliti adalah manajemen galeri pada periode menjadi Griya Seni Popo Iskandar (tahun 2000-an) tetapi rentang waktu yang diambil untuk penelitian yaitu dari tahun 2016-2019 dengan pertimbangan dalam periode tersebut kegiatan pameran di GSPI memperlihatkan frekuensi yang tinggi. Manajemen yang dibahas oleh peneliti lebih kepada manajemen galerinya, yaitu yang berhubungan dengan sistem produksi, konsumsi dan distribusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan memahami sistem manajemen galeri di GSPI sehingga masih dapat bertahan sampai 2019, dan untuk mengetahui kekhasan manajemen di GSPI. Manfaat penelitian adalah untuk mengetahui sistem manajemen galeri seni rupa yang baik dalam kaitannya dengan keberlangsungan sebuah galeri serta sistem manajemen galeri yang khas yang diaplikasikan pada sebuah galeri. Manfaat lainnya adalah menambah wawasan dan mengetahui hubungan manajemen seni dengan manajemen pengelolaan yang diaplikasikan pada sebuah galeri.
METODE
Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif yaitu mengumpulkan data, menyajikan data, menganalisis data dan menginterpretasikannya. Teknik-teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:
Studi Pustaka
Mengadakan penelitian dengan cara mengumpulkan data dari buku-buku di perpustakaan dan internet yang berhubungan dengan objek tersebut.
Dokumentasi
Mengambil dan merekam secara langsung berupa foto-foto dan ruang pamer GSPI.
Triangulasi Data
Wawancara dilakukan terhadap pihak-pihak yang memiliki wawasan tentang manajemen galeri, dan kepada pihak-pihak penting di GSPI yang tahu akan sistem manajemen galerinya masing-masing dan keluarga Popo Iskandar.
Angket
Teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setiap organisasi pasti memiliki visi dan misi ke depan . Visi dan misi ini harus bisa berjalan demi keberlangsungan organisasi. Visi GSPI adalah menjadi salah satu rumah perkembangan seni rupa di Indonesia dan secara bersamaan menjadi salah satu tempat kajian seni rupa. Sedangkan misi GSPI adalah melestarikan karya-karya Popo Iskandar dan menampilkan berbagai kesenian rupa kepada publik serta khalayak masyarakat.
Penulis menggunakan teori manajemen seni dari Giep Hagoort (Hagoort, 2000) yang di gabung dengan manajemen ekonomi dari Hendry Fayol (Priyono, 2007), berikut bagan teorinya:

Gambar 1 Bagan penggabungan dua teori manajemen (sumber: Gabungan teori oleh Eka Andriyana (2019)
Penulis juga menganalisis manajemen GSPI menggunakan teori PAM triangle yang terdiri dari aesthetic production, audiens dan means dari Hans Van Maanen (Maanen, 2009). Berikut bagan teorinya:
Peneliti berusaha untuk menggabungkan beberapa teori yang sudah dikemukakan di atas. Manajemen galeri merupakan turunan dari disiplin ilmu manajemen seni. Untuk mengetahui bagaimana GSPI bertahan sampai sekarang
Gambar 2 The PAM Triangle (Sumber: Hans Van Maanen, How to Study Art Worlds (2009))
penelitian ini menggunakan teori Hendry Fayol dan teori Giep Hagoort yang telah digabung oleh peneliti karena saling melengkapi. Teori ini membahas manajemen secara internal maka dibutuhkan untuk membedah sistem/regulasi yang ada di dalam GSPI, dalam teori tersebut ada 4 prinsip yaitu planning (budaya organisasi), organization (struktur dan fungsi), strategy dan kepemimpinan (pengarahan dan pengendalian).
Selanjutnya GSPI sebagai infrastruktur, peneliti membedah dengan menggunakan teori dari Hans Van Maanen yang di dalamnya membahas proses produksi, distribusi dan konsumsi. Berikut gabungan beberapa teori yang sudah dilakukan oleh peneliti:
pengawas dan pengurus. Setelah pendirinya meninggal, pembina dipegang dan dikelola oleh keluarga PI agar merasa menjiwai dan memiliki serta posisi penting dalam struktur GSPI dipegang oleh keluarga inti tetapi hampir 80% kegiatan di GSPI diatur dan dipegang oleh Anton Susanto selaku kurator dan manajer di GSPI. Harry Nugraha, S.H. sebagai direktur dan formalitas saja.
GSPI juga menggunakan strategi dalam manajemennya yaitu sebagai galeri perantara untuk seniman-seniman emergence. Adanya GSPI membantu seniman-seniman emergence untuk bisa berpameran dan memiliki pengalaman

Gambar 3 Teori untuk analisis (Sumber: Penulis dari berbagai sumber (2019)
Berdasarkan teori-teori tersebut, penulis menemukan bahwa GSPI melakukan perencanaan pameran, GSPI juga membuat program pameran regular pertahun dari bulan ke bulan dan terkadang bersifat fleksibel. GSPI juga membuat jaringan dengan universitas UPI, pemda setempat, seniman dari universitas dan seniman dari masyarakat umum. Ada juga acara pendukung dalam GSPI yaitu diskusi, workshop dan kajian seni yang menjadi salah satu visi GSPI.
Dalam organisasi, GSPI mempunyai chart organization yang terdiri dari pembina, karena tidak semua galeri mau menerima seniman-seniman yang belum punya nama di medan sosial seni. Akan tetapi dengan banyaknya seniman emergence yang pameran di GSPI tanpa proses seleksi yang ketat menyebabkan GSPI menjadi galeri level menengah sehingga kurang menarik bagi seniman-seniman yang menjual karyanya secara kormesil.
Berdasarkan aesthetic production yaitu seniman, seniman yang sering berpameran di GSPI adalah seniman dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), selanjutnya dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Universitas
Maranatha, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Seniman di GSPI juga memamerkan karya yang beragam (fleksibel) dan di dominasi oleh karya kontemporer. Di samping itu, GSPI memamerkan karya Popo Iskandar sebagai daya tarik bagi pengunjung. Berdasarkan Audiens yaitu pengunjung yang mengapresiasi karya di GSPI berasal dari berbagai segmen terdiri dari kolektor, akademisi, curator, dan pengunjung umum. Terdapat beragam tingkat pengetahuan mereka terhadap kesenirupaan. Berdasarkan means yang berkaitan dengan fasilitas GSPI, letak GSPI tidak berada di jalan utama sehingga menjadi salah satu kendala bagi keperluan logistik seniman dan pengunjung yang datang. Interior GSPI sendiri tidak terfokus pada gaya arsitektur tertentu, pengaturan tata letak masih memberikan kesan bangunan rumah.
SIMPULAN
Melalui pemaparan di atas, manajemen GSPI yang dikelola oleh keluarga dan meminimalkan staf manajemen mengakibatkan penumpukan kerja pada curator. Perlu dilakukan evaluasi penambahan staf agar manajemen galeri dapat menjadi optimal. Berdasarkan analisis PAM pihak manajemen perlu memfokuskan target audiens yang dibidik, sehingga GSPI memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya, dengan mempertegas sebagai galeri Pendidikan. Hal ini sesuai dengan kondisi saat ini dan di sisi lain Popo Iskandar memang seorang pendidik. Karya yang dipamerkan dapat saja difokuskan pada karya-karya kontemporer sehingga menjadi
sejalan dengan perkembangan pendidikan seni saat ini. Faktor terakhir yang berkaitan dengan means adalah memperbaiki interior maupun eksterior GSPI menjadi satu gaya yang menyatu. Hal tersebut akan mempertegas karakter yang ingin disampaikan. Pihak manajemen perlu lebih kreatif dalam menjaring audiens mendatangi GSPI, salah satunya dengan mengaktifkan cafe yang tersedia dan menata menjadi tempat yang nyaman serta layak ditampilkan di media sosial
SANWACANA
Ucapan terima kasih Penulis sampaikan kepada: Para Pembimbing: Dr. Nuning Yanti Damayanti, Dipl. Art, Dr. Ira Adriati, S.Sn, M.Sn. serta kedua orang tua dan juga untuk Anton Susanto sebagai kurator di GSPI.
DAFTAR PUSTAKA
- Hagoort, G. (2000). Art Management Entrepreneurial Style. University of California.
- Indratmo, E., & Handayani, L. (2014). Studi Manajamen Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa di Bentara Budaya. Brikolase.
- Maanen, H. Van. (2009). How to Study Art World.
- Mamannoor. (1998). Citra dan Pemikiran Popo Iskandar (Y. M. Media (ed.)).
- Priyono. (2007). Pengantar Manajemen. Zifatama.
- Susanto, M. (2004). Menimbang Ruang dan Menata Rupa.
