PENDAHULUAN
Technology (teknologi), Culture (budaya), dan Religion (agama) adalah tiga entitas penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia dewasa ini. Secara esensial, teknologi, budaya, dan agama adalah tiga entitas yang berbeda satu sama lain; namun pada perkembangannya saat ini, ketiga entitas tersebut menjadi berinterrelasi (berhubungan) secara integral. Mengamati fenomena tersebut, maka lahirlah istilah khusus yang dibuat Penulis untuk menyebut keterhubungan antara teknologi, budaya, dan agama, yaitu "Tekno-Kultur-Religi". Istilah tersebut pada dasarnya merupakan akronim dari nama Technology, Culture, dan Religion. Berkenaan dengan Revolusi Industri 4.0, Klaus Schwab (2017: v) dalam The Fourth Industrial Revolution, secara historis menjelaskan perjalanan umat manusia dari revolusi industri pertama sampai dengan revolusi industri keempat.
Revolusi Industri 1.0 (pertama) dipicu oleh penemuan mesin uap. Sejak itu pekerjaan yang tadinya mengandalkan tenaga manusia dan hewan, berubah jadi pekerjaan mesin. Halhal yang mustahil dilakukan oleh manusia, bisa dilakukan oleh mesin. Mesin bekerja dengan tenaga besar, mampu mengerjakan pekerjaan dalam skala besar. Revolusi Industri 2.0 (kedua) ditandai dengan menguatnya peran teknologi pada sistem produksi. Tersedianya listrik menjadi satu komponen penting masa revolusi ini, sistem produksi massal menghasilkan produk dalam jumlah yang sangat besar. Revolusi Industri 3.0 (ketiga) ditandai dengan dipakainya mesin-mesin otomatis yang dikendalikan oleh komputer. Tenaga manusia semakin sedikit digunakan. Satu pabrik bisa beroperasi tanpa satu manusiapun yang mengoperasikannya. Revolusi Industri 4.0 (keempat) ditandai dengan semakin menguatnya peran komputer dalam sistem industri. Artificial Intelligent (AI) memainkan peranan penting pada era ini. Sejumlah profesi akan menyusut kebutuhannya, bahkan mungkin akan hilang. E-Money (uang elektronik) misalnya, telah membuat jumlah pekerjaan di bagian keuangan sebuah perusahaan menurun drastis, karena pembukuan, perhitungan, dan pelaporan bisa dilakukan secara otomatis (Schwab, 2017: v).
Fenomena lain dari adanya Revolusi Industri 4.0 ini adalah ketergantungan masyarakat dengan teknologi digital yang semakin masif. Masyarakat banyak menggunakan media teknologi dalam aspek kesehariannya baik untuk aktivitas sosial, aktivitas akademik, maupun aktivitas religi (keagamaan). Hal ini tentu terjadi juga terlebih di kalangan mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang tidak bisa dipisahkan dari sejumlah media teknologi yang cukup maju. Fenomena yang cukup menarik untuk diamati, ialah penggunaan media teknologi oleh kalangan mahasiswa untuk aktivitas keagamaan.
Berkenaan dengan realitas penggunaan media teknologi tersebut, dikaji dari berbagai perspektif, entitas "media teknologi" mempunyai definisi dan fungsi yang lebih luas, dari pada sekedar "peralatan". Media teknologi, secara sosiologis dapat membawa perubahan sosial; sedangkan secara antropologis, media teknologi juga dapat membentuk budaya baru (Ngafifi, 2006: 5). Perubahan sosial dan budaya yang dipicu oleh berkembangnya media teknologi ini sering disebut dengan istilah cyberculture. Cyberculture, secara teoretis merupakan sistem dialektis, di mana tindakan-tindakan dan struktur-struktur kultural menjadi online (Fuchs, 2008: 300).
Menurut Fakhruroji (2017: 96), cyberculture dapat dipahami sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari yang muncul di dalam dan melalui (media teknologi) internet atau media digital lainnya, sehingga berpeluang bagi terciptanya ruang imajinatif, namun memiliki dampak pada eksistensi manusia secara fisik. Secara praktis, cyberculture dapat didefinisikan dengan pelaksanaan sejumlah aktivitas kultural (seperti belajar, bertransaksi, berbelanja, menonton film, mendengarkan musik, mencari referensi, sampai praktik keagamaan) dilakukan secara online melalui teknologi internet. Mahasiswa ITB yang menggunakan media teknologi internet dalam berbagai aktivitas kehidupannya, telah membuat mereka menjadi bagian dari cyberculture yang cukup masif pada zaman milenial era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini.
Media digital ini secara teknis, dapat membuat informasi semakin mudah dimanipulasi, bersifat jejaring, padat, dapat disingkat, dan tidak bersifat parsial (Gane dan Beer, 2008: 7). Media digital juga, secara realistis dapat mengubah kehidupan manusia dari masyarakat sosial menjadi masyarakat digital. Entitas perubahan tersebut, berdampak juga pada para mahasiswa ITB yang mayoritas menggunakan media digital secara masif dalam kehidupan kesehariannya, termasuk dalam hal keagamaan. Para mahasiswa ITB ini bertransformasi dari masyarakat sosial, menjadi masyarakat digital.
Apabila dianalisis dari perspektif sosiologi, terbentuknya masyarakat digital merupakan bukti empiris terjadinya perubahan sosial dan kultural akibat kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi, dalam kontek dinamika sosial dan kultural, merupakan perubahan sosial yang bersifat progress di satu sisi, namun bersifat regress di sisi lainnya. Dinamika sosial ini berimbas juga pada masyarakat digital yang direpresentasikan oleh mahasiwa ITB yang aktif dan produktif menggunakan media teknologi digital. Penggunaan teknologi tersebut, di satu sisi memudahkan mahasiswa ITB untuk mengakses berbagai ilmu pengetahuan, termasuk juga ilmuilmu agama Islam, tetapi di sisi lain, membuka kemungkinan mahasiswa ITB menjadi enggan untuk mendatangi kajian-kajian keilmuan atau kajian-kajian keislaman, karena akses informasi ilmu-ilmu agama Islam dapat diakses kapanpun dan di manapun, tanpa harus datang ke majelismajelis ilmu.
Hampir seluruh kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari media digital, khususnya smartphone. Banyak fitur dan aplikasi Islami yang tersedia di platform smartphone. Aplikasi Muslim Pro yang berdasarkan survei pendahuluan merupakan aplikasi yang paling banyak digunakan oleh para mahasiswa ITB. Mereka yang menggunakan aplikasi Muslim Pro banyak mendapatkan informasi dan ilmu agama Islam tanpa harus belajar langsung kepada Ustadz atau mendatangi majelis kajian keislaman. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro, jika memerlukan suatu yang berkaitan dengan ilmu agama Islam, hanya tinggal mengakses aplikasi tersebut.
Dianalisis dari perspektif religious studies dinamika dan fenomena cyberreligion ini adalah entitas yang menarik dan penting untuk diteliti, karena aktivitas keagamaan mahasiswa ITB dengan menggunakan aplikasi Muslim Pro pada smartphone-nya akan berimplikasi dan berpolarisasi pada pemikiran keagamaan mereka. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro, merupakan representasi dari masyarakat digital yang mengalami determinisme teknologi (Piliang, 2014: 78) dan sebagai salah satu wujud dari interrelasi teknologi, budaya, dan agama.
Melakukan riset tentang pemikiran keagamaan tidak bisa dilepaskan dari teori yang dikemukakan oleh Joachim Wach dalam The Comparative Study of Religion. Wach, dalam bukunya ini menguraikan tentang "Hakikat dan Bentuk Pengalaman Keagamaan". Ia menyatakan bahwa ada tiga bentuk pokok pengalaman keagamaan, yakni: pemikiran, perbuatan, dan persekutuan (Wach, 1984: 98).
Berlandaskan teori Joachim Wach tersebut, riset ini memusatkan fokus kajiannya terhadap pengalaman keagamaan dalam bentuk pemikiran (theoretical expresion) dengan beragam macamnya. Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, riset ini akan menggali dan mengeksplorasi interrelasi teknologi, kultur, dan religi, melalui corak pemikiran keagamaan dari mahasiswa ITB yang menggunakan aplikasi Muslim Pro pada smartphone-nya.
METODE
Jenis penelitian dalam riset ini adalah kualitatif. Secara praktis, dipilihnya jenis penelitian kualitatif dalam riset ini berdasarkan tiga entitas berikut: Pertama, jenis penelitian kualitatif dalam penelitian ini, membantu mengetahui pemahaman, konsep diri, interaksi sosial, pemikiran keagamaan, mahasiswa ITB yang menggunakan aplikasi Muslim Pro pada smartphone masing-masing. Kedua, data penelitian ini berupa tentang kata-kata lisan ataupun tertulis tentang corak pemikiran keagamaan mahasiswa ITB yang menggunakan aplikasi Muslim Pro. Ketiga, penelitian ini adalah bagian dari penelitian sosial yang secara spesifik merupakan penelitian sosiologi dan antropologi agama pada bidang studi agamaagama (religious studies) dan memiliki relevansi dengan bidang sosioteknologi.
Riset ini menggunakan metode penelitian etnografi secara online atau yang lebih dikenal dengan etnografi virtual/netnografi. Pada praktiknya, netnografi adalah metode etnografi yang digunakan untuk mengungkap realitas, baik yang tampak maupun yang tidak, dari komunikasi termediasi komputer di antara entitas (anggota) komunitas virtual di internet. Etnografi virtual dapat dikelompokkan sebagai metode riset bidang kualitatif yang diadaptasi dari teknik riset etnografi klasik yang mempelajari artefak, seperti budaya dan komunitas (Nasrulah, 2017).
Ada dua teknik pengumpulan data dalam riset ini, yaitu: Interview dan Dokumentasi. Interview kepada narasumber dalam proses pelaksanaan riset ini dilakukan secara online dengan menggunakan media Google Docs dan wawancara langsung; Sedangkan dokumentasi yang menjadi data dalam riset ini berupa studi kepustakaan, pengamatan, dan hasil survei yang didapatkan dari para informan yang berasal dari mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro.
Secara teoretis, riset ini berlandaskan pada teori dari Joachim Wach tentang pengalaman keagamaan, yang secara spesifik akan berfokus pada ungkapan pengalaman keagamaan dalam bentuk pemikiran keagamaan. Wach (1984) menjelaskan bahwa ada tiga cara dalam mengungkapkan pengalaman keagamaan dalam bentuk pemikiran, yaitu: mitos, doktrin, dan teks. Ketiga bentuk pemikiran keagamaan tersebut merupakan fokus penelitian dalam riset ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Interrelasi Tekno-Kultur-Religi
Berdasarkan hasil telaah yang telah dilakukan, secara sistematis interrelasi Tekno-Kultur-Religi dapat dibagi kepada dua hal utama, yaitu Interrelasi Teknologi dan Budaya serta Interrelasi Teknologi dan Agama.
Pertama, Interrelasi Teknologi dan Budaya. Akhir-akhir ini banyak produk budaya yang berkembang secara cepat karena arus teknologi yang semakin masif. Misalnya pada generasi muda dinamika budaya K-Pop semakin sporadis (menjamur). K-Pop sebagai produk budaya, dengan gampang dan mudah diakses oleh generasi muda di seluruh dunia karena dukungan teknologi di negara masing-masing. Ada keprihatinan di sisi lain berkenaan dengan mudahnya 'budaya luar' masuk ke Indonesia, yakni 'budaya asli' Indonesia sudah mulai dilupakan, dan bahkan banyak generasi muda yang tidak tahu budaya bangsanya sendiri.
Problematika tersebut, sangat penting untuk dikaji secara teoretis dan praktis. Berkenaan dengan masalah teknologi dan budaya, untuk menganalisis secara jelas tentang keterhubungan dua entitas tersebut digunakan Cultural Norm Theory dari Melvin DeFleur sebagai landasan teori untuk menarasikan realitas interrelasi teknologi dan budaya. Teori Norma Budaya (Cultural Norm Theory), secara praktis menggambarkan bahwa teknologi mempengaruhi budaya dalam tiga aspek, yaitu: (1) Teknologi Memperkuat Budaya; (2) Teknologi Mengubah Budaya; (3) Teknologi Menciptakan Budaya (DeFleur, 2010: 258). Kenyataannya, apa yang dikemukakan oleh DeFleur tersebut, sangat terasa dan relevan dengan kehidupan generasi milenial saat ini. Contoh nyata dari problematika teknologi dan budaya dengan mengacu pada DeFleur tersebut diuraikan di bawah ini. Kemungkinan pertama (Teknologi Memperkuat Budaya) ialah dengan disampaikan dan disajikannya produk-produk kebudayaan melalui berbagai media teknologi akan mendukung dan memperkuat identitas budaya suatu bangsa, termasuk di Indonesia.
Kemungkinan kedua (Teknologi Mengubah Budaya) ialah dengan mudah diaksesnya produk budaya dari luar negeri yang masuk ke Indonesia, lambat laun akan menggeser dan menggantikan budaya Indonesia. Generasi muda kekinian yang seluruh kehidupannya bergantung pada teknologi, secara tidak sadar akan mengikuti beberapa budaya yang terus disuguhkan.
Kemungkinan ketiga (Teknologi Menciptakan Budaya) ialah dengan disajikannya produk budaya pada setiap lini teknologi, bisa jadi ini akan menciptakan budaya tersendiri yang sifatnya baru dan menggeser budaya yang telah ada. Budaya baru yang terkonstruk oleh teknologi tersebut oleh John Fiske dalam Cultural and Communation Studies disebut dengan "Budaya Pop" (Fiske, 1990: 10) dengan tiga ciri utama mengacu pada Jan Van Dick yaitu: digital network, timeless time, and space of flows (Dick, 2003: 20).
Demikian tiga kemungkinan yang dapat muncul karena problematika persinggungan antara teknologi dan budaya. Diharapkan dengan ditemukannya tiga kemungkinan tersebut, dapat menjadi upaya untuk meng-counter budaya yang sifatnya desktruktif dan berpotensi menghapus identitas bangsa Indonesia.
Selanjutnya yang kedua adalah Interrelasi Teknologi dan Agama. Albert Borgmann (dalam Philip Brey), meyakini bahwa janji-janji teknologi modern telah dirumuskan sejak awal masa Renaissance oleh tokoh-tokoh penting, seperti Francis Bacon dan Rene Descartes. Rumusan ini menyatakan bahwa teknologi akan mengantarkan umat manusia menuju kebebasannya dari belenggu perbudakan dan kesulitan hidup. Teknologi menjadi tumpuan harapan bagi manusia dalam memberikan kebebasan, otonomi, dan kebahagiaan. Janjijanji ini terus diulang-ulang di sepanjang zaman modern.
Mengutip penjalasan Brogmann tentang "janji-janji teknologi di masa modern", Philip Brey dalam New Media and The Quality of Quality, menyatakan bahwa ada tiga implikasi keterhubungan antara teknologi dan agama, yaitu: (1) Teknologi Melayani Agama; (2) Teknologi Menguasai Agama; (3) Teknologi Mengaliansi Agama (Brey, 2007: 9-10). Tiga implikasi yang dikemukan oleh Brey tersebut, dijadikan dasar teori untuk menguraikan problematika teknologi dan agama yang terjadi pada saat ini.
Pada implikasi pertama (Teknologi Melayani Agama), teknologi menjadi alat untuk melakukan aktivitas keagamaan. Hal yang paling nyata, misalnya dalam teknologi transportasi. Moda transportasi udara sebagai produk teknologi membantu umat Islam dari seluruh dunia untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah di Arab Saudi.
Dalam implikasi kedua (Teknologi Menguasai Agama), teknologi memonopoli, bahkan cenderung mengkomersialisasi aktifitias keagamaan. Fenomena komersialisasi entitas keagamaan di dalam media massa sebagai salah satu bentuk teknologi, disebut oleh Idi Subandi Ibrahim dengan istilah "Komodifikasi Agama dalam Media" (Ibrahim, 2014: x). Contoh nyata komodifikasi agama dalam media di Indonesia, ialah banyaknya program dakwah Islam yang disiarkan oleh televisi, tetapi program tersebut bukan berorientasi pada nilai keislaman dan pesan keagamaan (value oriented) melainkan hanya sekedar berorientasi pada keuntungan dan rating semata (profit oriented).
Dalam implikasi ketiga (Teknologi Mengalienasi Agama) yang paling mengkhawatirkan, dinyatakan bahwa teknologi dapat mengaliansi (memisahkan) antara manusia dengan dengan agama. Melalui berbagai gempuran teknologi yang memudahkan hidup manusia, lama kelamaan manusia cenderung dibuat lalai kepada kehidupan sosial dan agama. Bahkan tak jarang, manusia sangat bergantung sekali pada teknologi. Manusia sekarang akan sangat gelisah jika dijauhkan dengan aksesakses teknologi; tetapi menjadi biasa ketika manusia tersebut justru jauh dari Tuhan.
Demikian tiga implikasi yang ditimbulkan teknologi pada agama. Setelah diketahui tiga implikasi tersebut, hendaknya adanya teknologi yang bisa dioptimalkan sebagai alat atau media untuk memudahkan aktivitas keagamaan. Jangan sampai manusia dibuat lalai dari Tuhan dengan beragam kemudahan hidup yang difasilitasi oleh teknologi. Karena itulah selanjutnya penelitian ini difokuskan pada Implikasi Tekno-Kultur-Religi melalui corak pemikiran keagamaan pengguna aplikasi Muslim Pro di kalangan Mahasiswa ITB.
b. Penggunaan Aplikasi Muslim Pro di Kalangan Mahasiswa ITB
Melalui hasil observasi dan wawancara pada informan yang berasal dari kalangan mahasiswa ITB, didapatkan hasil persentase sejumlah 95 persen mahasiswa ITB pengambil matakuliah Agama dan Etika Islam pada semester genap
tahun ajaran 2018/2019, aktif menggunakan aplikasi religi pada smartphone-nya. Observasi tersebut dilakukan selama empat bulan, dalam rentang waktu Februari sampai dengan Mei Tahun 2019. Jumlah keseluruhan informan dalam penelitian ini adalah 304 mahasiswa ITB. Sebanyak 289 informan dari jumlah keseluruhan informan, menyatakan bahwa mereka aktif menggunakan aplikasi religi pada smartphonenya.
Beragam aplikasi religi yang digunakan oleh mahasiswa ITB, namun berdasarkan hasil observasi aplikasi religi yang paling banyak diunduh, diinstall dan digunakan oleh mahasiswa ITB adalah Aplikasi Muslim Pro. Hasil survei online pada Mei 2019 yang diisi oleh 304 mahasiswa ITB sebagai informan, ditemukan Pengguna aktif Aplikasi Muslim Pro sebanyak 186 mahasiswa (61,2 persen) dan 103 mahasiswa (33,9 persen) menyatakan pernah menggunakan Muslim Pro pada smartphonenya. Temuan awal tersebut yang mendasari penelitian ini menjadikan pengguna aplikasi Muslim Pro sebagi objek kajian.
Gambar 1 Survei Penggunaan Muslim Pro
Gambar 2 Tampilan Muslim Pro
Aplikasi Muslim Pro pertama kali terbit yakni pada bulan Agustus tahun 2010. Pada saat itu, aplikasi Muslim Pro hanya ada di Apple App Store atau dengan kata lain hanya dapat digunakan pada telepon genggam berbasis iOS. Aplikasi Muslim Pro merupakan sebuah aplikasi Islam yang dicetuskan oleh pengembang asal Singapura yakni Bitsmedia Pte Ltd. sebagai negara dengan mayoritas penduduk Islam, ketika itu aplikasi Muslim Pro optimis mampu merambah pasar yang cukup besar di Indonesia. Namun hal tersebut terkendala akibat penggunaan telepon genggam berbasis iOS di Indonesia masih terlalu rendah.
Di satu sisi, aplikasi Muslim Pro justru berkembang pesat di negara-negara maju dengan minoritas penduduk Islam seperti Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat (Mace: 2016). Adapun fitur-fitur yang terdapat dalam aplikasi Muslim Pro di antaranya sebagai berikut: (1) Waktu Shalat; (2) Adzan; (3) Penunjuk Arah Kiblat; (4) Komunitas; (5) Tasbih; (6) Masjid Terdekat; (7) Tempat Halal Terdekat; (8) Kalender Hijriyah; (9) Asmaul Husna; (10) Bacaan Syahadat; (11) Kalkulator zakat; (12) Inspirasi harian; (13) Berita dan Media Islami; (14) Do'a; (15) Pesan; (16) Live Makkah; (17) Ayat Populer; (18) Al-Qur'an dan Terjemahan; (19) Pelacak Pribadi; (20) Panduan Haji dan Umroh; (21) Perjalanan Haji; (22) Liburan dengan Halal Booking; (23) Penerbangan.
Setelah dianalisis dari sisi desain frontpage dan menunya, dapat disimpulkan bahwa aplikasi Muslim Pro ini sangat komprehensif dan mudah digunakan. Aplikasi ini memiliki 23 menu pilihan yang dibutuhkan pengguna seharihari, sehingga setelah mengunduh aplikasi ini tidak lagi membutuhkan aplikasi religi lainnya, kecuali bagi yang ingin menambah wawasan keagamaan secara mendalam. Menurut analisis penulis inilah yang secara umum menjadi alasan mengapa Muslim Pro menjadi pilihan aplikasi yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa ITB pada smartphone-nya.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data observasi dan interview dari informan, ditemukan dua motif utama tentang alasan penggunaan aplikasi Muslim Pro pada smartphone di kalangan mahasiswa ITB, yakni: motif teknis dan motif agamis. Pertama, motif teknis. Secara teknis, aplikas Muslim Pro memiliki ukuran kurang lebih 12 MB (Mega Byte), hal ini menjadikan aplikasi Muslim Pro lebih tepat digunakan pada smartphone dengan ukuran memori atau daya simpan kecil. Beragam fitur dengan ukuran yang kecil, menjadi keunggulan tersendiri bagi aplikasi Muslim Pro. Muslim Pro, berbeda dengan aplikasi religi lain yang memiliki ukuran cukup besar seperti aplikasi MyQuran (20 MB) atau Quran Pro (42 MB).
Kedua, motif agamis. Motif lain yang mendasari informan mengunduh dan menggunakan aplikasi Muslim Pro, yakni adanya beragam fitur religi dalam satu aplikasi. Melalui berbagai keterangan dari para informan, diketahui bahwa adanya fitur jadwal shalat dan teks al-Qur'an menjadi alasan utama dari penggunaan aplikasi ini pada kalangan mahasiswa ITB. Mahasiswa ITB yang disibukan dengan berbagai aktivitas akademis, sangat dibantu oleh adanya fitur jadwal shalat sebagai pengingat bahwa telah waktunya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Selain itu, fitur al-Qur'an dan terjemahannya, sangat membantu bagi para mahasiswa ITB agar selalu dapat menyempatkan waktu untuk membaca al-Qur'an di tengah kesibukannya.
c. Corak Pemikiran Keagamaan Pengguna Aplikasi Muslim Pro
Berkenaan dengan corak pemikiran keagamaan yang dikonstruksi oleh aplikasi religi, Joachim Wach menyatakan dalam The Comparative Study of Religion (1984) bahwa bentuk ungkapan pemikiran keagamaan terdiri dari: mitos, doktrin, dan teks.
(a) Dinamika Pemikiran Keagamaan tentang Mitos
Menurut Mircea Eliade (1964:21-40), ada lima tipologi mitos, yaitu: (1) Mitos Kosmogini; (2) Mitos Asal-Usul; (3) Mitos tentang Dewa dan Makhluk Ilahi; (4) Mitos Androgini; (5) Mitos Akhir Dunia. Kelima tipologi mitos yang diklasifikasikan oleh Eliade tersebut, digunakan untuk menganalisis pemikiran keagamaan
mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro pada smartphone-nya dalam hal mitos. Uraian hasil analisis pemikiran keagamaan mahasiswa ITB pengguna aplikasi religi tentang mitos tersebut dibahas secara rinci dalam lima point utama, yaitu: (1) Pemikiran tentang alam; (2) Pemikiran tentang manusia; (3) Pemikiran tentang malaikat; (4) Pemikiran tentang Tuhan; (5) Pemikiran tentang hari akhir. Kelima uraian tentang pemikiran mahasiswa ITB sebagai masyarakat digital tentang "mitos" tersebut, dipaparkan sebagai berikut:
Pertama, Pemikiran tentang Alam. Ketika ditanyakan tentang isu dan wacana yang berkembang saat ini, yakni ada yang menyatakan bahwa bumi diciptakan oleh Allah SWT tidaklah bulat, melainkan berbentuk datar. Dalam hal ini ada tiga ayat al-Qur'an yang sering kali dijadikan rujukan yaitu Q.S. Nuh (71):19-20, Q.S. an-Naba (78):6, dan Q.S. as-Syams (91):6. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah Swt menciptakan bumi sebagai "hamparan". Tiga ayat tersebut dianggap mendukung pernyataan bahwa bumi diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk datar (terhampar), walau pernyataan ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah maupun secara agama, karena hanya mengutip beberapa ayat al-Qur'an tanpa memperhatikan dan mempelajari ayat yang lain.
Mahasiswa ITB sebagai masyarakat digital yang sudah melek ilmu pengetahuan dan teknologi, mempunyai pandangan dan pemikiran tersendiri tentang wacana "bumi datar" ini. Berdasarkan analisis hasil wawancara kepada sejumlah informan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya mahasiswa ITB menolak atau tidak sepemikiran terhadap pernyataan bahwa bumi itu datar. Informan tersebut tetap menyakini bahwa Allah SWT menciptakan bumi ini berbentuk bulat. Keyakinan terhadap bumi diciptakan Allah SWT berbentuk bulat ini, berdasarkan hasil pengkajian terhadap ayat-ayat al-Qur'an, maupun pembuktian dari perspektif ilmu pengetahuan modern yang sudah established.
Kedua, Pemikiran tentang Manusia. Membahas pemikiran tentang manusia, tidak bisa dilepaskan dari mitos dan sejarah penciptaan
manusia yang pertama, yaitu Nabi Adam As. Sejarah penciptaan manusia pertama ini sudah menjadi mitos di berbagai agama. Agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) meyakini bahwa Nabi Adam As. adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan dari tanah. Namun belum ada penjelasan secara komprehensif, tanah apa yang dimaksud.
Berdasarkan hasil wawancara dari informan yang berasal dari mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro dan aplikasi religi lainnya pada smartphone-nya, seorang mahasiswa ITB Prodi Geologi, bahwa tanah yang dijadikan entitas oleh Allah untuk menciptakan Nabi Adam sangatlah bervariasi serta telah mengalami proses yang sangat panjang. Mahasiswa Prodi Geologi angkatan 2016 tersebut menerangkan, berdasarkan hasil yang selama ini ia pelajari bahwa tanah yang dijadikan bahan untuk meciptakan Nabi Adam yang secara spesifik disebut dengan turob atau dalam istilah Geologi dikenal dengan top soil. Turob atau top soil ini terbentuk dari tanah yang telah melewati beberapa proses yang cukup lama yakni dari mulai tanah gembur, lumpur hitam, tanah liat, tanah pelapukan, tanah keras, dan saripati tanah bumi. Berdasarkan proses tersebut, maka mitos penciptaan Nabi Adam dalam al-Qur'an bukanlah cerita sederhana yang selama ini dilegendakan. Bukan hanya sekedar dari gumpalan tanah yang dibentuk seperti boneka, kemudian diucapkan 'kun', maka jadilah manusia. Meskipun Allah SWT memang bisa melakukan apa saja yang dikehendaki, namun dengan adanya berbagai macam jenis tanah itu semuanya dapat dijelaskan lebih mendalam secara sains.
Ketiga, Pemikiran tentang Malaikat. Allah memasukkan malaikat sebagai unsur keimanan karena mereka menjadi utusan Allah dalam menyampaikan wahyu dan mengerjakan sejumlah urusan. Sehingga jika seseorang tidak mengimani malaikat, maka akan terjadi missing link pada keimanannya terhadap kitab suci. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa malaikat adalah makhluk gaib tak kasat mata dari langit ketujuh. Apa dan bagaimana kondisi langit ketujuh itu, tentu akan memunculkan pertanyaan
skeptis. Namun bagi mahasiswa ITB yang sehari-harinya mengikuti perkembangan sains, tentulah mereka sudah tahu informasi terkini dalam bidang kosmologi. Menurut mahasiswa dari Prodi Astronomi, langit ini sangat mungkin tidak tunggal sebagai 'universe', melainkan terdiri dari banyak langit yang disebut sebagai 'multiverse'. Seperti konsep yang dikemukakan oleh M-Theory tentang keberadaan langit berlapis tujuh berdimensi sebelas. Malaikat adalah makhluk Allah yang hidup di langit berdimensi sebelas atau langit ketujuh itu. Sebagai makhluk dari dimensi paling tinggi di alam semesta mereka bisa turun ke langit-langit yang berdimensi lebih rendah, yakni langit keenam, lima, empat, tiga, dua, dan satu di mana manusia hidup.
Keempat, Pemikiran tentang Tuhan. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung pengguna aplikasi Muslim Pro yang dijadikan informan penelitian ini, meyakini bahwa Tuhan adalah Allah. Mereka juga menyatakan bahwa Allah adalah Dzat yang mengetahui seluruh niat, pikiran dan perasaan mereka yang paling dalam. Mereka sangat meyakini bahwa Allah adalah penggerak setiap gerakan dalam kehidupan mereka. Pernyataan para mahasiswa tersebut tentang keyakinan mereka bahwa Tuhan adalah Allah tentu tidak terlepas dari ruang yang menyelimuti mereka. Keimanan kepada Allah SWT di zaman digital mengisyaratkan pemahaman tentang eksistensi Tuhan dan ketuhanan-Nya secara logis dan rasional. Bahwa Allah itu ada, dan menjadi sumber segala eksistensi di alam semesta.
Kelima, Pemikiran tentang Hari Akhir. Sejumlah informan pengguna aplikasi Muslim Pro menyatakan bahwa mereka yakin akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka di dunia kepada Allah di akhirat nanti. Ada dua hal pokok yang berkaitan erat dengan pembuktian keimanan dalam Islam, yaitu uraian yang berkaitan dengan pembuktian tentang keesaan Allah Swt, dan uraian pembuktian tentang hari akhir. Keimanan kepada Allah tidak sempurna kecuali dengan keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal
perbuatan baru sempurna motivasinya dengan keyakinan tentang adanya akhirat.
Mahasiswa ITB sebagai masyarakat digital yang cenderung logis dan rasional tentu selalu membutuhkan bukti konkrit tentang segala sesuatu termasuk tentang keniscayaan adanya hari akhir. Seperti pertanyaan adakah bukti tentang adanya hari akhir? Sudahkah semua orang melihat dan merasakan akibat perbuatan-perbuatannya yang didasarkan oleh kehendak dan pilihannya selama ini? Sudahkah yang berbuat baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah yang berbuat jahat menerima nista perbuatannya? Jelas jawabannya tidak atau belum. Bahkan alangkah banyak manusia baik yang dicambuk oleh kehidupan dengan cemeti-Nya, dan alangkah banyak pula orang jahat yang disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-Nya. Oleh karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing yaitu akhirat. Secara rasional, menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah kematiannya, (lebih mudah bagi Allah) daripada menciptakan alam raya yang sebelumnya tidak pernah ada.
(b) Pemikiran Keagamaan tentang Doktrin dan Dogma sebagai Sumber Normatif (Divine Norm)
Mircea Eliade dalam The Encyclopedia of Religion (1987: 384) mendefinisikan istilah doktrin pada dua aspek: Pertama, sebagai penegasan suatu kebenaran (a truth). Kedua, berkaitan dengan ajaran (teaching). Keduanya tidak dapat dipisahkan sebab menegaskan tentang kebenaran adalah melalui ajaran, sedangkan yang diajarkan biasanya dengan kebenaran. Dengan demikian, doktrin berarti berisi tentang ajaran kebenaran yang sudah tentu memiliki dimensi filosofis. Doktrin mempunyai tiga macam fungsi yang berbeda: (1) Penegasan dan penjelasan iman; (2) Pengaturan hidup normatif dalam melakukan pemujaan dan pelayanan; (3) Fungsi pertahanan iman serta penegasan hubungannya dengan ilmu pengetahuan (apologetik) (Dhavamony, 1973: 150). Doktrin
sebagai sebuah ajaran lebih bersifat praktis. Oleh karena itu istilah doktrin keagamaan (religious doctrines) cenderung dicirikan oleh intensitas praktis.
Dalam konteks agama Islam, aqidah merupakan bagian dari doktrin, yakni sebagai suatu kepercayaan kepada Tuhan, suatu ikatan, kesadaran dan penyembahan secara spritual kepada-Nya. Sebagai suatu aqidah, agama memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang dituangkan dalam bentuk doktrin. Pada dasarnya doktrin tentang kebenaran memiliki sifat ganda, yaitu mutlak dan relatif. Kemutlakan dapat dilihat dari esensinya, sedangkan kerelatifan terletak pada penyikapan terhadap esensi itu (Ghazali, 2000).
Ada dua cara memperoleh kebenaran agama, yakni melalui pendekatan teologis dan pendekatan teoretis. Pendekatan teologis bersumberkan pada wahyu yang memiliki nilai mutlak, sedangkan pendekatan teoretis bersumberkan pada kenyataan empiris, yang memiliki nilai relatif. Dalam pendekatan teoretis, kebenaran yang diperoleh bukan untuk menggugat kebenaran agama yang secara teologis sudah diyakini kebenarannya, tetapi untuk menjelaskan kebenaran wahyu tersebut menurut pandangan empirik, sebab mempelajari agama berarti mempelajari manusia (Ghazali, 2011). Doktrin ajaran Islam yang menjadi objek penelitian dalam riset ini meliputi: Ibadah Mahdah, Doa, dan Kurban. Berikut ini, secara representatif disajikan pandangan informan riset terhadap ibadah dalam Islam yang termasuk pada pemikiran tentang doktrin:
Pertama, Pandangan tentang Ibadah. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro sebagai informan, memandang bahwa ibadah mahdah yang tidak ada dasar hukum dan contohnya dari nabi Muhammad adalah sesuatu yang tertolak. Mahasiswa ITB menghindari pengamalan ibadah mahdah yang tidak jelas asal-usulnya dan sandaran hukumnya. Mahasiswa ITB hanya melakukan praktik ibadah mahdah yang sudah jelas dasar hukumnya, dan berpegang pada prinsip "hukum dasar dalam ibadah mahdah adalah haram dan batal kecuali ada dalil yang memerintahkannya".
Kedua, Pandangan tentang Doa. Berdasarkan keterangan dari mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro, bahwa berdoa itu bukan hanya dipandang dari aspek religi, tapi juga dari aspek yang lain, seperti komunikasi, dan ekspresi. Lebih jauh dari itu, mengacu pada uraian tentang fungsi doa tersebut, maka dapat diketahui bahwa ada delapan pandangan mahasiswa ITB terhadap doa, yaitu doa sebagai aspek: religi, ekspresi, kognisi, komunikasi, solusi, kuratif, konstruktif, dan preventif.
Ketiga, Pandangan tentang Kurban. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro berpandangan bahwa ibadah kurban bukan hanya memiliki dimensi ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi ibadah sosial. Maka dapat disimpulkan, bahwa pandangan mahasiswa ITB terhadap ibadah kurban ini secara menyeluruh memiliki empat esensi yang saling terhubung, yakni: sakral, ritual, spritual, dan sosial.
(c) Pemikiran Keagamaan dalam Bentuk Teks (Sacred Writing)
Mircea Eliade dalam The Sacred and The Profane menjelaskan bahwa theofany adalah perwujudan tuhan (penyingkapan Ilahi) dalam suatu eksistensi dalam duniawi (Eliade: 1964). Mengacu pada penjelasan Eliade tersebut al-Qur'an dalam konteks agama Islam merupakan bentuk sacred writing yang paling nyata bagi umat muslim, pada dasarnya merupakan teofani (penyingkapan ilahi) Allah SWT yang termanifestasi dalam teks-teks suci berupa ayatayat dalam al-Qur'an.
Joachim Wach (1948) mengutip Dobschutz menyatakan, teks suci sama halnya seperti sebuah kitab undang-undang formal, memerlukan penafsiran sebagai cara untuk menjembatani jurang pemisah di antara perkembangan kehidupan yang progresif dan tulisan yang sudah mapan dalam agama maupun dalam hukum. Dari pernyataan tersebut, bahwa secara teoretis dan praktis dalam menguraikan teks suci sebagai ungkapan pemikiran keagamaan memerlukan studi penafsiran (W. Poesprodjo, 2007).
Dalam tradisi teks suci agama Islam, Ignaz Goldziher (2006: 64) mengungkapkan bahwa tradisi penafsiran teks suci pada kaum
muslimin pada mulanya adalah suatu cara untuk menentukan pengertian yang sebenarbenarnya dan otentik dari teks-teks kitab suci dan kemudian berkembang menjadi sebuah teori yang dianggap sempurna (ilmu tafsir).
Dalam riset ini, objek studi yang berkenaan dengan pemikiran agama dalam bentuk teks suci, yaitu: (1) Al-Qur'an; (2) Hadis; (3) Ilmu Tafsir. Berikut ini akan diuraikan sikap informan riset tehadap entitas yang menjadi bentuk dari pemikiran keagamaan yang terwujud dalam teks suci:
Pertama, pandangan terhadap al-Qur'an. Al-Qur'an dalam konteks agama Islam merupakan bentuk sacred writing yang paling nyata bagi umat muslim. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro berpandangan sama dengan umat Islam pada umumnya, memandang mushaf al-Qur'an sebagai entitas yang sakral. Pandangan sakral terhadap mushaf al-Qur'an tersebut berimplikasi pada pandangan dan cara umat muslim dan mahasiswa ITB memperlakukan al-Qur'an yang cenderung berbeda dengan buku atau kitab lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara mendalam ditemukan bahwa perlakuan mahasiswa ITB kepada mushaf al-Qur'an sangat sakral dan penuh penghormatan (ta'dzimul qur'an).
Pernyataan tersebut seperti keterangan yang diberikan oleh informan salah satu mahasiswa semester lima pengguna aplikasi Muslim Pro, ia berpandangan bahwa walaupun hanya berbentuk mushaf, namun esensi di dalamnya ada kalamullah yang harus dijaga setiap kesucian dan kemurniannya. Umat muslim mempunyai kewajiban bersuci ketika berinteraksi dengan mushaf al-Qur'an.
Namun ketika ditanyakan tentang keberadaan al-Qur'an digital khususnya pada aplikasi religi Muslim Pro yang sedang mereka gunakan, mereka memiliki pandangan yang berbeda. Ternyata proses digitalisasi al-Qur'an tidak hanya merubah bentuk al-Qur'an yang awalnya berbentuk mushaf, kini berubah menjadi bentuk digital atau file, melainkan juga merubah tata cara memperlakukan al-Qur'an. Hal tersebut tecermin dari beberapa pandangan
informan pengguna aplikasi Muslim Pro ketika menggunakan al-Qur'an di dalam aplikasi tersebut. Beberapa di antaranya mengganggap bahwa bersuci tidak perlu dilakukan dengan anggapan al-Qur'an yang digunakan bukanlah berbentuk mushaf.
Emile Durkheim (2017), menjelaskan bahwa manusia tidak akan memiliki hubungan apa-apa dengan yang sakral kalau dia tidak melangkahi batas yang biasanya mendindingi dia dengan yang sakral. Dengan demikian, ritus bersuci/berwudhu' merupakan bentuk transisi ke dalam dunia yang sakral guna mendekatkan diri dengan al-Qur'an yang sakral. Semakin hilangnya ritual bersuci/wudhu' sebelum membaca ataupun memegang al-Qur'an menjadi hal yang dapat mengaburkan batasan antara yang sakral dan profan. Fenomena inilah yang kelihatannya terjadi pada mahasiswa ITB pengguna al-Qur'an digital di smartphone-nya.
Kedua, pandangan terhadap Hadis. Pandangan Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro terhadap hadis Sahih dan Dhai'f ialah lebih meyakini hadis sahih. Keyakinan tersebut didasarkan pada beberapa definisi dan kriteria hadis sahih yang menurut mereka memiliki sandaran yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Dari aspek pengamalan, mahasiswa ITB juga cenderung melakukan praktik-praktik dan amalan-amalan yang sesuai dengan tuntuan hadis sahih. Mahasiswa ITB menghindari bahkan menolak hadis dhaif, karena kurang dapat dipertanggungjawabkan baik secara keilmuan maupun metode ilmiah. Maka dari itu, mahasiswa ITB menghindari hadis dhaif untuk dijadikan rujukan keilmuan maupun praktik pengamalan.
Sedangkan pandangan terhadap Hadits Tasy'iriyah dan Ghairu Tasy'iriyah. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro bersikap bahwa yang harus diamalkan dan dipraktikkan dalam ibadah dan kehidupan adalah sunnah tasy'iriyah. Sunnah tasy'iriyah tersebut mengandung amalan yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Saw, yang bisa dijadikan pedoman untuk berprilaku dan bertindak sesuai sunnah Rasul. Sedang sunnah ghairu tasy'iriyah merupakan sunnah yang tidak harus diamalkan
sama persis dengan apa yang dilakukan Nabi, karena sunnah ghairu tasy'iriyah merupakan kebiasaan Nabi secara pribadi dan sebagai bagian dari budaya Arab.
Ketiga, pandangan terhadap penafsiran al-Qur'an maupun Hadis. Dalam khazanah ilmu tafsir dikenal istilah ayat muhkam dan mutasyabih: Pertama, muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, lafal atau ayat yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena pengertiannya masuk akal sehingga dapat langsung diamalkan. Kedua, mutasyabih adalah ayat yang hanya diketahui maksudnya oleh Allah sendiri. Lafalnya mengandung banyak arti, samar, dan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.
Berdasarkan pemaparan tentang ayat muhkam dan mutasyabih, maka mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro berpandangan bahwa ayat muhkam adalah ayat-ayat tentang hukum yang tidak bisa diberi penafsiran lagi, sudah mutlak terikat dengan hukum Allah, karenanya setiap muslim wajib mempercayai dan mengimaninya; sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat yang bisa ditafsirkan ulang secara kaidah dan ilmiah, misalnya ayat tentang kosmos, sains, dan teknologi.
Ketika ditanyakan tentang Hadis Tekstual dan Kontekstual. Mayoritas mahasiswa ITB yang menggunakan aplikasi Muslim Pro berpandangan bahwa dalam hal ibadah mahdah harus dilakukan berdasarkan pemaknaan tekstual, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari mereka lebih memilih pemaknaan hadis secara kontekstual. Mahasiswa ITB sudah lebih selektif untuk memilih hadis yang bisa diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan akademis maupun sosial.
SIMPULAN
Berdasarkan uraian hasil riset, ditemukan bahwa teknologi, budaya, dan agama memiliki interrelasi yang sangat erat. Secara praktis keterhubungan ketiga entitas tersebut dapat dibuktikan dengan penggunaan media internet yang semakin masif dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam kehidupan beragama.
Penggunaan aplikasi Muslim Pro di kalangan mahasiswa ITB berimplikasi dan berpolarisasi pada corak pemikiran keagamaan penggunanya.
Pemikiran keagamaan mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro tentang mitos, doktrin, dan teks, memiliki corak pemikiran keagamaan yang khas, yaitu: Pertama, pemikiran keagamaan yang ilmiah. Karakteristik umum dari corak pemikiran keagamaan ilmiah ini terlihat dari pandangan informan mahasiswa ITB terhadap mitos dalam keyakinan beragama. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro, mempunyai pandangan bahwa mitos bukan lagi menjadi suatu hal yang misteri, cukup diyakini saja, dan tidak dapat dijangkau oleh akal sehat, tetapi dewasa ini mitos-mitos yang ada bisa dikaji dan dipelajari dengan menggunakan pendekatan ilmiah berbasis ilmu pengetahuan dan sains. Seperti yang telah diuraikan pada bahasan hasil penelitian, bahwa mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro sangat rasional dan logis memandang suatu mitos.
Kedua, pemikiran keagamaan yang literal. Literal dalam konteks ini ialah suatu sikap yang sangat menjunjung tinggi dan mengedepankan literatur-literatur yang dapat dipertanggung jawabkan. Karakteristik dasar dari corak pemikiran keagamaan ini ialah dinamisnya budaya literasi dalam hal pemikiran dan kehidupan keagamaan. Corak pemikiran ini sangat terlihat jelas pada aspek ritual ibadah keagamaan. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro menghindari doktrin dan dogma agama yang tidak jelas rujukan dalil dan sandaran hukumnya. Mahasiswa ITB menyandarkan rujukan dalil hukum suatu ibadah ritual pada literatur sumber hukum primer dalam Islam, yakni al-Qur'an dan Sunnah Sahihah. Jika di dalam literatur al-Qur'an dan Sunnah yang sahih tidak ada dalil hukum yang menyuruh untuk melaksanakan ibadah mahdhah tersebut, maka mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro cenderung untuk meninggalkannya. Mahasiswa ITB, pada praktiknya sangat literatural dan referensial dalam melakukan ibadah ritual.
Ketiga, pemikiran keagamaan yang kontekstual. Berkelanjutan dengan corak pemikiran keagamaan yang bersifat ilmiah dan literal, mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro memiliki corak pemikiran keagamaan yang kontekstual. Walaupun mereka menempatkan teks suci (sacred writing) dalam hal ini al-Qur'an sebagai sesuatu yang sangat sakral dalam semua tempat dan kondisi, namun mereka sangat terbuka dalam hal penafsirannya (kontekstual). Karakteristik utama corak pemikiran kontekstual ini sangat jelas terlihat dalam aspek penafsiran dan pemaknaan terhadap teks suci (sacred writing) dalam agama. Secara praktis, corak pemikiran konteksual ini ialah menyesuaikan makna penafsiran al-Qur'an dan as-Sunnah dengan kondisi zaman dewasa ini. Mahasiswa ITB pengguna aplikasi Muslim Pro lebih menerima makna al-Qur'an dan as-Sunnah menggunakan pendekatan ilmiah yang sesuai dengan konteks kekinian namun tetap tidak mengabaikan penafsiran mu'tabarah ulama terdahulu.
