ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi keterlekatan generasi milenial dengan internet dalam aktivitas sehari-hari dan pendidikan di tingkat lokal. Penelitian ini menggunakan metode campuran konkuren dengan strategi survei dan wawancara secara bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan keunikan keterlekatan generasi milenial Banten dengan internet: (i) informan belajar menggunakan internet lebih banyak secara otodidak; (ii) penggunaan lebih banyak untuk media sosial; (iii) mereka masih menyukai dan lebih sering belanja dan menggunakan moda transportasi konvensional; (iv) sebagian besar dari mereka tidak dapat menjalani aktivitas keseharian tanpa internet; (v) aktivitas keseharian dijalani tanpa agenda namun memiliki target tertentu. Selanjutnya pada interaksi antara teknologi dengan pendidikan ditemukan: (i) teknologi berkaitan dengan pencarian informasi bagi generasi milenial; (ii) mereka lebih memilih mencari informasi melalui browsing; (iii) hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki sikap belajar eksperimental; (iv) mayoritas generasi milenial memandang bahwa eksistensi guru masih menjadi faktor kunci dalam pembelajaran.
Kata Kunci: keterlekatan internet, pembangunan manusia, generasi milenial, teknologi, pendidikan
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi komunikasi memiliki potensi besar dalam perkembangan kehidupan sosial (Roza, 2020). Mulai dari arus informasi yang lebih cepat, pengelolaan organisasi dan lainnya yang lebih efisien, sampai dengan pembelajaran yang lebih luas. Namun demikian pemanfaatan teknologi informasi juga sering kali tidak bertujuan positif dalam mengembangkan kapabilitas ataupun potensi diri individu maupun masyarakat secara sosial. Situasi yang membuat internet acap kali disebut sebagai perkembangan merugikan yang menyebabkan perubahan interaksi sosial maupun tradisi dalam pendidikan dan kebudayaan secara luas. Selain itu, terjadi juga perubahan bentuk relasi antara guru dengan siswa yang diakibatkan perkembangan teknologi yang pesat (Setiawan & Kuntari, 2018).
Kompetisi kultural yang masif dan ketat secara linier memosisikan lembaga pendidikan sebagai titik pusat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia suatu negara. Pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kompetensi sosial, ekonomi, maupun penguatan kultur dalam masyarakat melalui sosialisasi nilai dan norma sosial pada generasi penerus. Lembaga pendidikan sebagai saluran utama yang merawat kebudayaan masyarakat juga melakukan beragam upaya dan senantiasa berinovasi untuk mengimbangi laju perubahan yang tak terelakkan pada semua masyarakat di sepanjang sejarah, yang dalam hal ini termasuk juga globalisasi di era digital. Pemerintah bersama-sama dengan lembaga pendidikan, pakar pendidikan dan masyarakat secara luas berupaya terus menerus meningkatkan kualitas pendidikan dengan tujuan untuk menyiapkan generasi yang percaya diri, kapabel, dan kompetitif di bidang keahliannya. Penguatan ini diupayakan dengan tujuan agar generasi muda tidak terlindas arus globalisasi, namun justru sebaliknya: mampu bersaing dengan warga negara lain di tengah semakin terbukanya pasar tenaga kerja lintas negara.
Beberapa kontribusi nyata pemerintah adalah melalui alokasi dana pendidikan sebanyak 20 persen APBN, perubahan kurikulum sesuai dengan tantangan dunia nyata dan menekankan pada penanaman karakter. Meskipun dalam anggaran pendidikan tersebut juga masih terkandung gaji pegawai, tidak meratanya pendanaan, dan juga terdapatnya ketidakselarasan dalam penganggaran APBD, upaya ini setidaknya telah membawa perubahan positif terhadap sarana prasarana pendidikan di sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud) juga senantiasa melakukan perubahan kurikulum. Pada saat ini kurikulum yang berlaku secara nasional adalah revisi kurikulum 2013 yang disebut juga dengan kurikulum nasional, di mana kurikulum ini menggunakan pendekatan ilmiah dan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran.
Besarnya perhatian Indonesia terhadap perkembangan teknologi terutama terlihat dari dua hal. Pertama ialah dibangunnya infrastruktur internet yang diistilahkan Presiden sebagai "tol langit" dengan nama Palapa Ring. Sebagaimana diungkap presiden RI Joko Widodo melalui akun twitter resminya pada 14 Oktober 2019, bahwa Palapa Ring adalah jaringan kabel optik yang tersebar di 514 kabupaten/kota yang menghubungkan seluruh wilayah Indonesia, yang diibaratkan sebagai jalan tol untuk internet kecepatan tinggi (Widodo, 2019). Kemudian yang kedua ialah terpilihnya Nadiem Makarim, mantan CEO Gojek menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Indonesia Maju di tahun 2019 (Prabowo, 2019).
Namun demikian, ketika melihat secara dekat bagaimana berbagai kelompok menggunakan internet, tampak bahwa terjadi kesenjangan digital yang lebih dari sekadar akses. Sebagaimana DiMaggio et al., (2001) yang berpendapat bahwa untuk mengurangi kesenjangan digital memerlukan pelatihan, di samping pengembangan infrastruktur. Tetapi karena teknologi internet telah berevolusi dengan cara yang sesuai dengan pembagian sosial offline, bahkan pelatihan semacam itu dapat memberikan pemulihan terbatas untuk jenis-jenis ketidaksetaraan yang muncul secara daring. Tanpa restrukturisasi masyarakat yang mendasar, dan juga restrukturisasi internet, upaya mewujudkan struktur peluang yang setara sangatlah terbatas. Untuk "memperbaiki"
ketidaksetaraan internet, kita harus mengatasi lebih dari sekadar masalah infrastruktur dan akses, karena internet telah memperkuat dan, sampai batas tertentu, memperburuk pola ketidaksetaraan yang ada. Individu tidak hanya memiliki tingkat akses terhadap internet yang berbeda, namun juga tingkat literasi dan keterampilan yang berbeda, motivasi yang berbeda, dan kebutuhan yang berbeda terhadap internet. Tiap individu juga memiliki berbagai tingkat pemahaman tentang privasi digital dan berbagai tingkatan dalam World Wide Web. Perbedaan-perbedaan ini bergabung dengan struktur internet tertentu untuk mengistimewakan beberapa pengguna internet di atas yang lain (Witte & Mannon, 2010).
Penelitian keterlekatan internet dalam aktivitas keseharian dan pendidikan generasi milenial ini memiliki urgensi sebagai data aktual dengan menyajikan data terbaru dari hasil penelitian di tingkat lokal sebagai salah satu upaya untuk mempertimbangkan ulang perumusan karakteristik generasi baru.
METODE
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi mengenai bagaimana aktivitas keseharian generasi milenial dalam hal pencarian pengetahuan, penggunaan internet, aktivitas terstruktur, dan pada akhirnya mengenai bagaimana peran guru dan teknologi dalam pendidikan dari sudut pandang mereka. Diharapkan dengan mengetahui interaksi antara generasi milenial dengan teknologi pada tingkatan lokal, dapat disusun sejumlah perlakuan dan intervensi sosial yang tepat untuk dapat mendukung perkembangan mereka.
Era generasi milenial sebenarnya menurut banyak ahli telah usai. Howe & Strauss (2000) mendefinisikan generasi milenial sebagai generasi yang terlahir antara tahun 1982 sampai dengan tahun 2000, Lancaster & Stillman (2002) mendefinisikan generasi milenial sebagai generasi yang terlahir antara tahun 1981 sampai dengan tahun 1999, Martin & Tulgan (2002) mengelompokkan generasi milenial sebagai generasi yang terlahir antara tahun 1978 sampai dengan tahun 2000, sedangkan Oblinger dan
Oblinger (2005) mendefinisikan generasi milenial sebagai generasi yang terlahir antara tahun 1981 sampai dengan tahun 1995 (Oh & Reeves, 2014). Namun demikian, sebagaimana Setiawan (2020), Fajriani & Sugandi (2019), penelitian ini melihat bahwa eksistensi generasi milenial baru muncul di tahun 1995, karena pada rentang waktu tersebut internet mulai populer di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode campuran konkuren (concurrent mixed methods), yang berarti bahwa peneliti melakukan prosedur-prosedur yang di dalamnya peneliti mempertemukan atau menyatukan data kualitatif dan data kuantitatif untuk memperoleh analisis komprehensif atas masalah penelitian (Creswell, 2010). Dengan demikian penelitian ini menggunakan strategi survei dan wawancara secara bersamaan. Sementara instrumen studi berupa panduan wawancara semiterstruktur yang di dalamnya terdiri atas pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup yang dikembangkan berdasarkan pada tinjauan pustaka, penelitian sebelumnya dan pendapat ahli. Selain itu peneliti juga menggunakan perekam digital guna memudahkan saat melakukan transkripsi kata demi kata. Instrumen terutama dibangun dari karakteristik generasi net yang dikemukakan Oblinger dan Oblinger (2005) yang berupa keterhubungan dengan internet; memprioritaskan kecepatan; memiliki sikap eksperimental dan memprioritaskan prestasi melalui kegiatan terencana.
Penentuan informan penelitian menggunakan non probability sampling dengan stratifikasi dan purposive sampling yang dikembangkan melalui proses dua langkah. Pertama, peneliti meminta biodata siswa ke pihak sekolah maupun dengan pengumpulan biodata siswa secara langsung. Kedua, peneliti melakukan identifikasi biodata siswa yang sesuai dengan karakteristik khusus yang ditetapkan sesuai dengan tujuan penelitian berupa: (i) lokasi tempat tinggal selama lima tahun terakhir; (ii) jenjang pendidikan; (iii) keaktifan dalam organisasi; (iv) prestasi akademik; (v) jenis kelamin; (vi) penghasilan orang tua; dan (vii) pekerjaan orang tua.
Hasilnya didapatkan 68 siswa yang menjadi informan melalui pertimbangan proporsi representasi dan tujuan penelitian dengan komposisi sebagai berikut: (i) telah menetap minimal selama 5 tahun di Kabupaten Tangerang sebanyak 26,5 persen, Kab. Serang sebanyak 26,5 persen, Kota Serang sebanyak 23,5 persen, dan Kota Cilegon sebanyak 23,5 persen; (ii) jenjang pendidikan berada di kelas XI SMA sebanyak 45,6 persen dan XII SMA sebanyak 54,4 persen; (iii) aktif berpartisipasi sebagai pengurus organisasi sebanyak 52,9 persen dan tidak aktif berorganisasi/hanya sebagai anggota sebanyak 47,1 persen; (iv) masuk peringkat 10 besar sebanyak 48,5 persen dan tidak termasuk peringkat 10 besar sebanyak 51,5 persen; (v) jenis kelamin laki-laki sebesar 45,6 persen dan perempuan sebesar 54,4 persen; (vi) orang tua memiliki penghasilan <3 juta sebanyak 32,4 persen, 3 juta-6 juta sebanyak 47,1 persen dan > 6 juta sebanyak 20,6 persen, dan; (vii) pekerjaan orang tua PNS sebanyak 20,6 persen, karyawan sebanyak 30,9 persen, pekerja mandiri sebanyak 30,9 persen dan pengusaha sebanyak 17,6 persen.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara eksplorasi pada satu waktu selama tiga bulan, yaitu pada Agustus sampai Oktober 2018. Wawancara eksplorasi dalam perumusan dan pengembangan akhir dari instrumen bertujuan agar instrumen dapat menyentuh "realitas" sebagaimana yang dirumuskan pendiri metode survei sosiologis, Lazersfeld dan Wagner (Corbin & Strauss, 1998). Analisis dilakukan peneliti dengan menggunakan Microsoft Windows 10 secara sistematis membuat transkrip wawancara dengan Word dan dilanjutkan dengan koding transkrip dengan Excel untuk mengidentifikasi, mengategorisasi, dan mengurutkan konsep-konsep kunci. Selanjutnya peneliti mengelompokkan kode menjadi tema dan hubungan yang muncul setelah membaca data secara berulang kali.
Hasil analisis studi ini berupa data angka maupun hasil wawancara yang terbagi ke dalam pembahasan mengenai keterlekatan
internet (penggunaan perangkat digital dan sambungan internet) dalam aktivitas keseharian, serta bagaimana interaksi pendidikan dengan teknologi informasi dalam sudut pandang generasi milenial yang didukung beberapa pokok pikiran. Pertama perihal teknologi informasi pada aktivitas keseharian generasi milenial yang didukung dua pokok pikiran, yaitu: (i) keterlekatan internet dalam keseharian generasi milenial; dan (ii) bagaimana generasi milenial merencanakan aktivitas keseharian. Kedua perihal interaksi teknologi dan pendidikan, yang didukung tiga pokok pikiran: (i) fungsi internet dalam pendidikan, yang menggambarkan bagaimana fungsi internet bagi generasi milenial dalam kaitannya dengan pendidikan; (ii) cara belajar generasi milenial, yang menyajikan data mengenai teknik pencarian informasi dan pengetahuan yang digunakan generasi milenial beserta dengan bagaimana sikap eksperimental dalam penggunaan sesuatu yang baru; dan (iii) pandangan generasi milenial terhadap eksistensi guru dalam perkembangan teknologi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Teknologi Informasi pada Aktivitas Keseharian Generasi Milenial
Pembahasan mengenai teknologi informasi pada aktivitas keseharian generasi milenial ini terdiri dari dua pokok pikiran, yaitu: (i) keterlekatan internet dalam keseharian generasi milenial dan (ii) bagaimana generasi milenial merencanakan aktivitas keseharian.
Bagian pertama mengenai keterlekatan internet dalam keseharian terdiri dari bagaimana generasi milenial pertama kali belajar menggunakan internet, hal yang dilakukan pertama kali ketika terhubung dengan internet, aktivitas belanja dan transportasi, hal yang tidak disukai ketika menggunakan internet, dan bagaimana generasi milenial dengan dan tanpa internet. Bagian kedua penelitian ini adalah bagaimana generasi milenial merencanakan aktivitas keseharian, terutama mengenai bagaimana generasi milenial menyusun agenda dan target dalam kehidupannya.
a. Keterlekatan Internet dalam Keseharian Generasi Milenial
Sebagaimana ditunjukkan diagram, sebagian besar generasi milenial belajar menggunakan internet secara mandiri/otodidak (55 persen), diikuti dengan teman (16 persen), dengan orang tua (15 persen), dengan guru (7 persen) dan dengan penjaga warung internet (7 persen). Selanjutnya, ketika diberikan pertanyaan mengenai apa yang menjadi tujuan ketika menggunakan internet, mereka dihadapkan pada dua pilihan, antara pengetahuan atau teman baru, sebanyak 96 persen informan menjawab mereka bertujuan untuk memperoleh informasi
baru, dan hanya 4 persen yang memiliki tujuan untuk mendapatkan teman baru.
Sementara itu, aktivitas yang dilakukan pertama kali ketika terhubung dengan internet ialah menggunakan media sosial (63 persen), bermain game online (16 persen), mengerjakan tugas sekolah (12 persen), googling/searching (9 persen), dan tidak ada yang menjawab untuk belanja online. Ketika didalami, mereka yang melakukan searching adalah untuk; (i) mengerjakan tugas sekolah; (ii) pengetahuan baru; dan (iii) hal lain yang berkaitan dengan pelajaran yang belum dimengerti.

Diagram 1 Bagaimana Generasi Milenial Pertama Kali Belajar Menggunakan Internet Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)

Diagram 2 Hal yang Dilakukan Pertama Kali ketika Terhubung dengan Internet Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
TABEL 1 AKTIVITAS BELANJA DAN TRANSPORTASI GENERASI MILENIAL
| Aktivitas | Belanja | Transportasi | ||
|---|---|---|---|---|
| Toko | Internet | Massal | Online | |
| Lebih menyukai | 84 % | 16 % | 75 % | 25 % |
| Lebih sering | 81 % | 19 % | 79 % | 21 % |
Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
Selanjutnya ketika diberikan pertanyaan terbuka berupa "Apa yang paling kamu benci ketika terhubung dengan internet?", ditemukan tiga kategori utama jawaban informan berikut: (i) sambungan internet yang lambat atau tidak stabil; (ii) muncul terlalu banyak iklan; dan (iii) informasi yang tidak benar.
Sambungan internet yang lambat atau tidak stabil. Salah satu karakteristik generasi milenial yaitu mengutamakan kecepatan sesegera mungkin. Karakteristik ini juga nampak dari hasil penelitian yang menunjukkan sebanyak 32 dari 68 informan mengungkapkan bahwa ia merasakan ketidaknyamanan ketika memiliki koneksi internet yang lambat atau tidak stabil. Sebagaimana diungkap salah satu informan:
"Saya paling benci ketika jaringan internet lelet, alias lemot lola (loading lama) yang membuat saya harus menunggu buffering. Lebih benci lagi kalau terputus atau error yang juga bikin baterai cepet lowbat (Low Battery/Baterai lemah). Apalagi kalau baru aja beli kuota. (Wawancara, Oktober 2018)
Muncul terlalu banyak iklan. Sebanyak 33 siswa mengungkap bahwa mereka membenci iklan yang banyak muncul ketika berselancar di internet. Sebagaimana diungkap informan:
"Yang paling saya benci adalah ketika banyaknya iklan-iklan online yang muncul jika terhubung dengan internet, soalnya sangat mengganggu. Tapi saya tau itu yang membantu situs itu karena dapet bayarannya dari situ, tapi jangan sebegitunyalah". (Wawancara, Oktober 2018)
Dari informan yang membenci iklan tersebut, terdapat 13 informan yang membenci iklan yang menurutnya tidak pantas untuk dilihat remaja. Sebagaimana diungkapkan salah satu informan:
"Saya paling benci itu terkadang terdapat konten-konten vulgar atau iklan tertentu yang bahkan terdapat gambar atau video dewasa mengandung unsur pornografinya yang kadang suka muncul sendiri menutupi
layar. Karena banyak anak kecil atau di bawah umur yang melihat. Jaman sekarang bukannya majalah anak seperti saya dulu bacaannya malah HP. Anak umur 8 tahun udah ngerti instagram upload instastory." (Wawancara, Oktober 2018)
Informasi yang tidak benar. Sebanyak tiga informan mengungkap bahwa mereka membenci informasi yang tidak benar ketika terhubung dengan internet. Seperti yang diungkap informan:
"benci ketika banyak berita hoax, kadangkadang kalau dari internet tidak benar. dan ketika saya ngebuka link di internet yang muncul terkadang tidak sesuai dengan yang saya harapkan terus terkena virus yang bisa bikin ga konek internet lagi." (Wawancara, Oktober 2018)
Sebagai penutup mengenai keterlekatan internet dalam keseharian generasi milenial, akan disajikan kehidupan mereka dengan dan tanpa internet. Sebagian besar (63 persen) generasi milenial Banten tidak dapat hidup tanpa internet. Alasan informan yang memiliki pandangan bahwa internet memegang peranan penting dalam kehidupannya sehingga mereka tidak dapat hidup tanpa internet ialah sebagai berikut:
- (i) kemudahan akses karena saat ini menggunakan internet cukup dengan telepon pintar;
- (ii) karena telah terbiasa menggunakan internet, internet telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan keseharian;
- (iii) internet memiliki fungsi sebagai pengisi luangnya waktu sehingga tidak membosankan;
- (iv) perkembangan informasi yang pesat membuat ketiadaan internet menyebabkan kudet (kurang update). Internet membuka wawasan yang lebih luas terhadap dunia di era globalisasi. Informan menyatakan bahwa ia selalu membaca berita setiap saat agar tidak ketinggalan informasi, terutama informasi luar negeri;
- (v) internet (terutama media sosial whatsapp) menjadi saluran komunikasi utama dalam aktivitas keseharian. Baik dalam komunikasi dengan teman, orang tua maupun lainnya sehingga menyebabkan kuper (kurang pergaulan);
- (vi) Internet menjadi saluran utama pencarian informasi dan pengetahuan baru yang paling efisien. Informan senantiasa menggunakan internet dalam aktivitas mengerjakan tugas sekolah, pembelajaran mandiri, maupun dalam mencari jawaban atas keingintahuan dan penyelesaian permasalahan keseharian. Pencarian informasi dan pengetahuan melalui internet akan lebih mudah dan cepat ketimbang media lainnya (seperti televisi, buku, dan sebagainya).
Sementara itu terdapat 37 persen informan yang mengungkap bahwa ia dapat hidup tanpa internet. Terdapat tiga alasan yang muncul dari informan yang mengungkap bahwa ia dapat hidup tanpa internet:
- (i) karena informan tidak memiliki interaksi yang intens melalui internet baik karena tidak memiliki smartphone secara personal, tidak memiliki cukup uang untuk membeli kuota internet, mengalami pembatasan waktu penggunaan smartphone oleh orang tua dan guru, sampai dengan wilayah tempat tinggal yang tidak tercakup jaringan internet yang stabil;
- (ii) informan pernah mengalami kondisi tidak memiliki akses terhadap internet selama beberapa waktu. Yaitu ketika mengikuti kegiatan tertentu seperti pesantren kilat, pelatihan, dan lainnya, ataupun pada suatu
- momen tertentu pergi ke tempat yang tidak tercakup jaringan internet, juga saat smartphone rusak dan tidak dapat membeli yang baru selama beberapa waktu;
- (iii) informan memiliki pandangan bahwa informasi tak melulu hanya bersumber dari internet, namun dapat melalui beragam media lainnya seperti buku, koran, televisi, radio ataupun bisa bertanya teman, guru dan orang tua.
b. Agenda dan Target Generasi Milenial
Salah satu ciri generasi net menurut Oblinger dan Oblinger (2005) ialah berorientasi prestasi dengan aktifitas terstruktur. Namun demikian karakteristik ini tidak ditemukan pada generasi muda Banten yang menjadi informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (71 persen) generasi milenial Banten beraktivitas tanpa agenda yang terperinci. Hanya 29 persen informan yang menggunakan agenda, dengan rincian: agenda harian sebanyak 19 persen), agenda mingguan sebanyak 6 persen, agenda semester/6 bulan sebanyak 3 persen dan hanya 1 persen yang menggunakan agenda bulanan.
Selanjutnya mengenai perangkat yang paling sering digunakan generasi milenial untuk membuat agenda dan target ialah telepon pintar (40 persen), buku (32 persen), tablet (1 persen), komputer/laptop (1 persen), sementara 24 persen sisanya tidak memiliki agenda maupun target sehingga tidak memerlukan perangkat.
Namun demikian, meski beraktivitas tanpa menggunakan agenda, generasi milenial memiliki target dalam menjalani aktivitasnya. Hanya 26 persen yang tidak memiliki target, sementara sebanyak 74 persen informan memiliki target dengan rincian: target harian (31

Diagram 3 Rencana/Agenda Aktivitas Generasi Milenial Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
persen), target semester/6 bulanan (24 persen), target bulanan (18 persen), dan target mingguan (3 persen).
Target yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: (i) terkumpulnya keuangan (tabungan), yang ditujukan untuk membeli sesuatu yang diinginkan, biaya melanjutkan pendidikan, sampai dengan untuk dipergunakan sebagai modal usaha nantinya; (ii) target berkisar pada kewajibannya sebagai pelajar, yaitu memahami materi tertentu, penyelesaian tugas di sekolah dan di rumah, sampai dengan peningkatan nilai ujian; (iii) melakukan aktivitas olahraga secara rutin dengan tujuan hobi, kesehatan, sampai dengan prestasi di bidang olahraga; (iv) target untuk menjalani aktivitas organisasi seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); (v) target untuk membantu pekerjaan rumah baik yang bersifat pribadi maupun keluarga; (vi) target yang sangat umum seperti berbuat baik, liburan bersama keluarga sampai dengan terwujudnya cita-cita untuk menjadi profesi tertentu.
Uniknya, sebagian besar informan setuju dengan peribahasa "alon-alon asal kelakon (pelan-pelan yang penting terwujud)" yaitu sebanyak 91 persen. Hanya 9 persen saja yang menyatakan tidak setuju. Mereka yang setuju beralasan bahwa: (i) Jika terburu-buru, apalagi dengan sistem pengerjaan SKS (sistem kebut semalam) khawatir hasilnya kurang baik, lebih baik pelan-pelan dengan harapan dapat mengerjakan dengan fokus dan mendapat tujuannya tercapai dengan hasil yang maksimal dan memuaskan; (ii) menghargai proses dalam pekerjaan, karena menurutnya suatu pekerjaan pasti memiliki makna tertentu; (iii) mengerjakan sesuatu dengan kesabaran akan lebih memiliki arti; (iv) pekerjaan tertentu memiliki alur dan langkah-langkah tertentu yang wajib diikuti meskipun memakan waktu. Sementara mereka yang tidak setuju memiliki alasan sebagai berikut: (i) jika berlama-lama mengerjakan sesuatu justru nanti akan lupa mengenai pekerjaan tersebut; (ii) lebih menyukai pekerjaan yang diselesaikan dengan cepat dibarengi dengan hasil yang baik; (iii) tidak semua pekerjaan mendapatkan waktu yang diinginkan, namun begitu semua pekerjaan harus diselesaikan.
2. Interaksi Teknologi dan Pendidikan
Papanis et al., (2010) melihat adanya kontribusi internet ke dalam pembelajaran, yang secara khusus dilihatnya sebagai pembelajaran informal. Internet menyediakan jenis pembelajaran informal yang didasarkan pada alat komunikasi dan alat untuk mengakses informasi. Keefektifan komunikasi sumber informasi, kemungkinan untuk navigasi dan pencarian informasi dengan cepat, serta pengamatan dan diskusi tanpa batas waktu membuat internet dapat memiliki fungsi spesial dalam kualitas pembelajaran. Internet mengkolaborasi teknologi dengan informasi dari berbagai sumber dengan pengalaman virtual, pekerjaan dan rekreasi, serta hubungan sosial, yang mendorong peserta didik untuk menjadi lebih kreatif dan fleksibel.
Pembahasan mengenai interaksi teknologi dan pendidikan pada penelitian ini terdiri dari tiga pokok pikiran: (i) fungsi internet dalam pendidikan, yang menggambarkan bagaimana fungsi internet bagi generasi milenial dalam kaitannya dengan pendidikan; (ii) cara belajar generasi milenial, yang menyajikan data mengenai teknik pencarian informasi dan pengetahuan yang digunakan generasi milenial beserta dengan bagaimana sikap eksperimental dalam penggunaan sesuatu yang baru; dan (iii) pandangan generasi milenial terhadap eksistensi guru dalam perkembangan teknologi.
a. Fungsi Internet dalam Pendidikan
Hasil penelitian ini menemukan bahwa informan memiliki pandangan bahwa untuk memajukan pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman modern di mana teknologi terutama yang terkoneksi dengan internet telah merambah ke segala bidang. Teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, di mana informan melihat bahwa jika tidak mengikuti jaman yang serba canggih akan ketinggalan informasi dan mengalami "penjajahan modern". Fungsi teknologi internet dalam pendidikan yang didapat dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:
(i) Menjadi Sumber Awal Pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sering kali generasi milenial Banten memperoleh pengetahuan baru yang berasal dari internet. Semakin pesatnya perkembangan globalisasi di era internet ditambah dengan aksesibilitas tinggi dari perangkat smartphone membuat segala macam pengetahuan dan informasi menjadi lebih mudah dijangkau oleh semua orang di manapun ia berada.
- (ii) Menjadi Sarana Memperdalam dan Memperluas Informasi. Perpaduan antara teknologi digital dengan koneksi internet juga meningkatkan aksesabilitas terhadap sumber informasi yang lebih beragam. Informan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa teknologi merupakan sarana utama pendukung pembelajaran yang digunakan ketika mengalami kesulitan dalam memahami suatu pengetahuan maupun ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Teknologi mengisi kekurangan pembelajaran tatap muka dengan guru yang memiliki kekurangan berupa terbatasnya pengetahuan guru, keterbatasan waktu, dan lainnya. Teknologi juga mengatasi keterbatasan sarana prasarana, seperti mengatasi keterbatasan ketersediaan buku sekolah dan perpustakaan dengan menyediakan akses terhadap beragam pengetahuan dan informasi yang menambah referensi. Teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan yang diperoleh dari sumber dalam negeri ataupun luar negeri serta perkembangan pengetahuan.
- (iii) Menjadi Sarana Pembaruan Pengetahuan. Perkembangan ataupun perubahan suatu pengetahuan senantiasa terjadi setiap waktu, yang membuat pembaruan pengetahuan dalam pendidikan tak terelakkan. Sementara itu sekarang ini proses pembelajaran yang hanya bersumber dari buku atau guru saja dipandang tak lagi cukup, karena teknologi menyediakan kemudahan dan kecepatan yang lebih baik terhadap wawasan pengetahuan baru yang
"Maksudnya pendidikan sekarang sama jaman dulu tidak ada yang berubah padahal jaman sudah berubah, seperti belajar duduk di kelas dan lain-lain. Seperti hp aja sih, kan dulu hp seperti walkie talkie yang gede itu sekarang dengan hp tipis dan lebar pun udah bisa buat segala macem. Masa teknologi berubah dari waktu ke waktu tapi pendidikan gini-gini aja ya." (wawancara, Oktober 2018)
(iv) Menjadi Sarana Verifikasi Informasi. Teknologi juga mendukung keberhasilan pendidikan dengan mempermudah verifikasi pengetahuan dalam pembelajaran. Sebagaimana diungkap salah satu informan:
"Karena untuk mencari informasi yang lebih jelas, jadi teknologi sebagai sarana pembelajaran. Tapi kadang informasi yang salah didapatkan dari internet seperti informasi dari sumber blog yang salah, sehingga informasi yang kita dapat malah jadi salah materi. ada juga kan blog yang ternyata isinya sama saja dengan blog lainnya, mungkin karena isi blognya hanya copy-paste punya orang. Tapi masih ada blog yang isinya dibuat dengan hasil karya sendiri, saya juga pernah menemuinya di internet dan ternyata dapat dilihat dari bahasanya yang berbeda." (wawancara, Oktober 2018)
b. Cara Belajar Generasi Milenial
Perkembangan teknologi informasi yang pesat ditunjukkan oleh hasil penelitian mengenai bagaimana generasi milenial Banten mencari sesuatu yang tidak ia mengerti. Sebanyak 49 persen informan memilih untuk browsing di internet, sementara 42 persen informan memilih

Diagram 3 Teknik Pencarian Informasi dan Pengetahuan Generasi Milenial Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
untuk bertanya kepada seseorang (kepada teman sebanyak 31 persen, kepada guru sebanyak 7 persen, dan kepada orangtua sebanyak 4 persen) dan yang mencari tahu dengan membaca di perpustakaan hanya 9 persen. Namun begitu, hasil tersebut merupakan pilihan prioritas yang pertama kali dipilih informan, karena pada umumnya mereka akan melakukan lebih dari satu tindakan dalam mencari informasi maupun pengetahuan.
Mereka yang memilih untuk mencari jawaban melalui internet karena internet lebih cepat dan lebih mudah dijangkau dari mana saja dan kapan saja untuk mendapatkan informasi. Informasi melalui internet juga dianggap lebih praktis karena jawaban yang dicari dengan segera akan didapatkan dengan waktu yang sangat singkat. Namun begitu, informan juga tetap menjaga kebenaran informasi dengan mencarinya melalui sumber-sumber internet yang terpercaya. Hal yang sama berlaku jika dilihat dari alasan yang diungkap informan, dalam hal pengetahuan seputar pembelajaran dicari tahu informan melalui buku pelajaran yang dimilikinya.Informan yang menjawab memilih untuk bertanya kepada teman berpandangan bahwa bertanya ke teman sebaya akan lebih mudah karena lebih dapat leluasa dan bersifat informal sudah cukup, dibandingkan dengan bertanya pada orang yang lebih tua usianya.
Generasi milenial yang memilih untuk bertanya pada guru berpandangan bahwa guru memiliki akurasi pengetahuan maupun pengalaman yang lebih baik jika dibandingkan dengan pilihan lainnya. Termasuk juga mereka berpikir bahwa informasi internet yang dilihat tidak sepenuhnya benar. Di luar dari informan yang menjawab bertanya pada guru, ketika jawaban lain diperdalam ditemukan juga bahwa ketika informan mencari tahu melalui internet, teman dan lainnya dan merasa bahwa informasi yang didapat tidak cukup atau juga diragukan kebenarannya, mereka kemudian akan mencari tahu dengan bertanya kepada guru.
Alasan informan yang memilih untuk mencari informasi dengan bertanya pada orangtua mirip dengan informan yang bertanya pada guru, yaitu mereka berpandangan bahwa orangtua ialah individu yang paling dapat dipercaya kebenaran informasinya karena telah mengalami serangkaian proses sosial maupun berbagai jenjang pendidikan sehingga lebih dapat dipercaya.
Mereka yang memilih untuk mencari informasi dengan membaca buku di perpustakaan memiliki alasan karena mereka berpandangan bahwa informasi yang berasal dari buku sangat akurat. Meskipun jumlah informan yang memilih perpustakaan cukup minor, ketika didalami alasannya ialah bukan karena mereka
tidak membaca buku, namun karena mereka juga memiliki buku paket yang menurutnya sudah mencakup pengetahuan yang diperlukan dalam menjalani proses pembelajaran.
Selanjutnya mengenai sikap eksperimental generasi milenial, yang dalam hal ini ialah dalam penggunaan barang yang belum pernah digunakan sebelumnya, belum menunjukkan sikap eksperimental (belajar dengan melakukan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak generasi milenial yang membaca petunjuk ketika penggunaan barang baru yang belum pernah ia gunakan sebelumnya, yaitu sebanyak 27 persen. Sementara informan yang langsung menggunakan barang tersebut sebanyak 22 persen, mencari tahu dengan googling/menonton youtube sebanyak 29 persen, dan bertanya pada orang lain sebanyak 22 persen.
Salah satu alasan generasi milenial memilih cara eksperimental sebagaimana diungkap salah satu informan:
"Saya lebih memilih menggunakannya secara langsung. Karena terkadang saya bisa mengetahuinya dengan sendiri tanpa bertanya kepada orang lain lagi. Tapi saya masih memerlukan membaca petunjuk yang berkaitan dengan barang tersebut sebelum menggunakan barang tersebut."

Diagram 4 Cara Menggunakan Barang Yang Belum Pernah Digunakan Sebelumnya Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
Sementara alasan informan yang memilih untuk bertanya kepada orang lain ialah karena ia memiliki pandangan bahwa penjelasan orang lain yang sudah menggunakan barang tersebut tentu akan mudah karena sudah melakukan praktik.
Kemudian pada pengutamaan keterlibatan dalam pengalaman ditunjukkan dari pertanyaan apakah subjek mempercayai ucapan seseorang tentang sesuatu yang belum pernah orang tersebut lakukan. Mayoritas informan tidak percaya akan ucapan seseorang mengenai sesuatu yang belum pernah orang tersebut lakukan, yaitu sebesar 93 persen. Informan mengungkapkan bahwa ia mesti menelusuri terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut. Seperti dengan melalui internet, bertanya kepada orang yang lain, sampai dengan keharusan pembuktian langsung secara nyata. Beberapa informan bahkan menyebutkan bahwa ia harus terlebih dahulu mengenal seseorang secara personal untuk mengetahui asal usul, karakter dan sikap keseharian seseorang untuk dapat mempercayai perkataannya.
Pandangan Generasi Milenial terhadap Eksistensi Guru dalam Perkembangan Teknologi

Diagram 5 Percaya pada Ucapan Seseorang tentang Sesuatu yang Belum Pernah Orang Tersebut Lakukan Sumber: Diolah dari hasil penelitian (2018)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika generasi milenial Banten dihadapkan dengan pertanyaan yang mendikotomikan antara guru dengan teknologi, mayoritas dari mereka (63 dari 68 informan) masih melihat guru sebagai unsur pokok pendidikan yang tidak tergantikan oleh teknologi. Hanya kurang dari 10 persen siswa (6 dari 68 informan) yang menjawab bahwa peranan guru tak lagi penting dalam pendidikan. Alasan informan yang melihat bahwa guru dapat digantikan oleh teknologi ialah karena informasi dan perkembangan masyarakat secara luas dan pengetahuan secara khusus dapat mereka dapatkan secara cepat, mudah dan murah jika dibandingkan dengan guru yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tidak seragam. Sebagaimana diungkap salah seorang informan:
"... Saya lebih memilih teknologi. Walau tergantung gurunya juga, karena guru tidak semuanya tahu mengenai apapun. Tapi kalaupun tau juga pasti nggak tahu semuanya. Guru hanya sebagai pemantau saat kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kalau informasi suka kurang lengkap, nggak kaya kita mencarinya di internet yang tentang apapun pasti ketemu..." (Wawancara, Oktober 2018)
Sementara mayoritas informan melihat bahwa guru masih menjadi peran kunci proses belajar mengajar. Pandangan ini didukung oleh beragam alasan yang secara umum karena kepercayaan (trust) yang tinggi terhadap guru karena dipandang lebih memiliki banyak ilmu pengetahuan dan memiliki pengalaman dalam menyikapi informasi. Kelebihan guru yang menurut informan tak mungkin digantikan oleh teknologi adalah sebagai berikut:
(i) proses belajar secara tatap muka langsung masih menjadi preferensi utama masyarakat karena materi dapat lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami. Dengannya siswa dapat menanyakan secara langsung atas sesuatu yang belum dipahami dari materi tertentu maupun yang sulit untuk ditemukan di internet
- sehingga akan lebih mudah mendapatkan jawaban. Dengan kata lain, pembelajaran dengan guru dianggap lebih efektif dan efisien jika diperbandingkan dengan hanya penggunaan teknologi;
- (ii) informan menempatkan guru sebagai individu yang dapat dijadikan panutan bukan hanya di sekolah namun juga di masyarakat secara lebih luas. Dengannya selain mengajarkan pengetahuan, guru juga melakukan proses pendidikan yang membentuk karakter serta mengarahkan akhlak dan perilaku siswa menjadi lebih baik sebagaimana moral, etika, dan hukum yang berlaku di masyarakat. Pandangan ini disandarkan oleh kepercayaan informan yang kuat bahwa guru menguasai sepenuhnya pengetahuan yang diajarkan serta memiliki pengalaman hidup yang sangat berpengaruh dalam penyampaian pengetahuan di kelas, melakukan aktivitas profesi dan aktivitas keseharian, maupun hal lainnya. Selain itu guru juga mendorong informan untuk aktif dalam pencarian pengetahuan maupun dalam membangun relasi dengan individu seusianya;
- (iii) guru menjalani peran memberikan bantuan terhadap individu untuk mengenal potensi diri dan memberikan bimbingan dan motivasi untuk mendorong informan mengejar harapan dan cita-cita;
- (iv) guru diperlukan untuk mendukung suasana belajar yang lebih menyenangkan dengan variasi media, metode, model dan hal lain terkait dengan pembelajaran. Dengan pembelajaran yang menarik dan tidak monoton, minat belajar informan akan meningkat.
Kemudian di sisi lainnya, posisi guru dapat dilihat dari titik awal diperolehnya pengetahuan dapat menjadi jendela pengetahuan maupun sebagai pembimbing atas pengetahuan yang didapat informan dari internet. Pada posisi guru sebagai jendela pengetahuan, guru dipandang memiliki peran sebagai titik awal yang menjadi acuan siswa, sementara teknologi memiliki posisi
sebagai alat untuk memfasilitasi pendidikan dengan menunjang sarana dan prasarana proses pembelajaran yang membantu dalam rangka memperluas dan memperdalam pengetahuan dan wawasan. Dengan begitu, ketika guru dapat menjelaskan secara rinci dan jelas yang membuat siswa menjadi paham, internet relatif tidak dibutuhkan lagi. Sementara pada posisi guru sebagai pembimbing pengetahuan yang didapat dari internet, teknologi informasi sebagai titik awal dalam pencarian informasi dan proses pembelajaran terhadap pengetahuan. Sebagaimana diungkap salah seorang informan:
"walaupun sejelas-jelasnya suatu informasi dapat dipaparkan di internet, tapi masih diperlukan suatu penjelasan kembali dari guru. Seperti pelajaran matematika yang memerlukan penjelasan cara mengerjakannya lebih jauh biar paham. Sejarah atau materi lainnya yang perlu dijelaskan kembali, dan masih banyak lagi. Karena hanya membaca saja kan tidak cukup. Karena guru gudangnya pendidikan, sedangkan teknologi bisa saja informasi yang didapatkan tidak benar." (wawancara, Oktober 2018)
SIMPULAN
Temuan hasil penelitian lapangan ini menunjukkan keunikan keterlekatan generasi milenial Banten dengan internet yang diindikasikan dari: (i) mayoritas generasi milenial belajar menggunakan internet secara otodidak; (ii) mayoritas penggunaan adalah untuk media sosial; (iii) mereka masih menyukai dan lebih sering untuk belanja dan menggunakan moda transportasi konvensional; (iv) sebagian besar dari mereka tidak dapat menjalani aktivitas keseharian tanpa internet; (v) mereka melakukan aktivitas keseharian dengan tidak menggunakan agenda namun memiliki target tertentu.
Selanjutnya pada interaksi pendidikan dengan teknologi ditemukan bahwa: (i) teknologi sangat berkaitan dengan pencarian pengetahuan dan informasi bagi generasi milenial; (ii) mereka lebih memilih untuk mencari informasi dan pengetahuan melalui browsing di internet; (iii)
hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki sikap belajar eksperimental; (iv) mayoritas generasi milenial memandang bahwa eksistensi guru saat ini tetap menjadi peran kunci dalam implementasi pendidikan.
