1. Home
  2. Archives
  3. Vol 20 (2021) Issue 2
  4. Articles

INOVASI LINGKUNGAN: PEMBERDAYAAN SOSIAL MASYARAKAT KAMPUNG PERKOTAAN (STUDI KASUS DI SURABAYA)

Abstract

The leading kampung in the city of Surabaya has become a self-supporting social entity with a hybrid organizationalfunction. This has made Surabaya one of the Global Green Cities in 2017. These kampungs in Surabaya carry outcommunity empowerment independently in their function to complement or balance the government functions. Theempowerment puts forward social functions based on environmental innovation in creating commercial goals that provide benefits for its members. This study aims to find the determinants of environmental innovation resulting from social empowerment of urban village communities with a qualitative approach. The researcher acts as an instrument withsix sources from five selected leading kampungs: Mangrove Kampung, Bratang Binangun Kampung, Grudo Kampung,Maspati Kampung, and Jambangan Kampung. Data were collected through field observations and document searches forapproximately two months from August to September 2019. The analysis and validation were processed by triangulation,checking group members, and rich descriptions of the essence of environmental innovation in the city of Surabaya.

Keywords

ABSTRAK

Kampung unggulan di Kota Surabaya telah menjadi entitas sosial masyarakat yang berswadaya dengan fungsi organisasi hibrida. Hal ini telah menjadikan Surabaya sebagai salah satu Global Green City pada tahun 2017. Kampung-kampung di Surabaya ini menjalankan pemberdayaan masyarakat secara mandiri dalam fungsinya sebagai pelengkap atau penyeimbang atas fungsi pemerintah. Pemberdayaan tersebut mengedepankan fungsi sosial berbasis inovasi lingkungan dalam menciptakan tujuan komersial yang memberikan manfaat bagi para anggotanya. Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor penentu inovasi lingkungan yang dihasilkan dari pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan dengan pendekatan kualitatif. Peneliti berperan sebagai instrumen dengan enam narasumber dari lima kampung unggulan terpilih: yakni Kampung Mangrove, Kampung Bratang Binangun, Kampung Grudo, Kampung Maspati, dan Kampung Jambangan. Data dikumpulkan melalui pengamatan lapangan dan penelusuran dokumen selama kurang lebih dua bulan, yakni Agustus s.d. September 2019. Proses analisis dan validasi dilakukan dengan cara triangulasi, pengecekan anggota kelompok, dan deskripsi atas esensi inovasi lingkungan di Kota Surabaya juga turut disajikan.

Kata kunci: pemberdayaan sosial, inovasi lingkungan, kampung perkotaan

PENDAHULUAN

Kegiatan inovasi ekologis yang biasa dikenal juga sebagai inovasi lingkungan tidak hanya dimotivasi oleh aspek keprihatinan terhadap minimnya sumber daya alam karena perilaku industri (Ko & Jin, 2017), melainkan juga oleh dorongan ekonomi, sebagai aspek daya saing dalam praktik hijau atau ramah lingkungan (Ashton et al., 2017; Hamann et al., 2017; Wibowo, 2016). Kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk mulai mengubah gaya hidup dalam mengurangi degradasi lingkungan dan pemanasan global adalah aspek sosial yang juga mendorong kemunculan inovasi lingkungan (Gürlek & Tuna, 2018).

Ketiga latar belakang di atas dalam kenyataannya belum cukup kuat untuk mendorong terjadinya perubahan yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh aspek kepentingan ekonomi suatu entitas, baik dalam skala pemerintah maupun industri. Selama kebijakan prioritas pembangunan ekonomi di Asia, termasuk Indonesia adalah lebih kepada investasi infrastruktur ekonomi dibandingkan dengan pengeluaran sosial dan lingkungan, sehingga kapasitas industri-industri akan cenderung mengikuti kebijakan pemerintah tempat industri tersebut beroperasi (Martinez, 2017).

Namun, fenomena yang kemudian muncul seakan mencoba mendobrak kondisi-kondisi mapan tersebut. Hal tersebut di antaranya adalah terpilihnya Kota Surabaya dari Indonesia sebagai Global Green City, selain Mannheim dari Jerman dan Zhejiang Province dari Tiongkok oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 31 Oktober 2017 (Hakim, 2018). Surabaya diakui oleh internasional sebagai salah satu kota yang unggul dalam menciptakan 1) penataan permukiman kumuh menjadi asri; 2) menghijaukan kota melalui taman-taman atau ruang terbuka hijau yang memadai, dan 3) karena didukung pula oleh pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat kotanya melalui kampungkampung unggulan yang mengedepankan isu peduli terhadap lingkungan (Berty, 2017; Dharma, 2017).

Fenomena Surabaya ini seakan membuka jalan bahwa inovasi lingkungan ternyata mampu dihasilkan justru dari pemberdayaan aspek sosial yang tinggi secara mandiri dengan menggunakan lingkungan untuk menciptakan aspek ekonomi bagi keberlanjutan para anggota masyarakat itu sendiri. Fenomena ini juga menunjukkan bukti bahwa fungsi sipil masyarakat dalam kampung perkotaan di Kota Surabaya mengedepankan fungsinya sebagai pelengkap dan penyeimbang atas fungsi pemerintah untuk bertahan hidup (Sari et al., 2018).

Apabila fenomena ini dibandingkan dengan hasil penelitian Martinez (2017) bersama penelitian terdahulu (Gürlek & Tuna, 2018; Huang & Li, 2017; Tantayanubutr & Panjakajornsak, 2017), peran industri dengan mengikuti kebijakan pemerintah adalah yang mampu melakukan inovasi lingkungan sebagai daya saing, maka di sinilah letak kesenjangan sekaligus keterbaruan penelitian akan didapatkan. Pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan di Surabaya ternyata juga mampu untuk memberikan daya saing dalam basis inovasi lingkungan dengan mengandalkan organisasinya untuk berfungsi secara hibrida, yakni beraspek sosial lingkungan dengan tujuan ekonomi. Organisasi hibrida sendiri adalah organisasi yang berfungsi campuran, yakni berorientasi profit sekaligus berorientasi sosial, dalam makna sebagai organisasi komersial bersubsidi yang bertransaksi dengan kelompok penerima manfaat (Defourny & Nyssens, 2017; Eldar, 2017; Mongelli et al., 2017).

Dengan demikian, rumusan masalah penelitian ini terletak pada inovasi lingkungan yang seperti apa yang telah dihasilkan oleh pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan ini, yang menjadikan organisasinya tetap bertahan hidup dalam fungsinya secara sosial sekaligus profit. Untuk menjawab permasalahan ini maka beberapa tujuan dan manfaat penelitian dikembangkan sebagai berikut:

1. Mendapatkan tema atau faktor penting inovasi lingkungan yang dimotivasi dari pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan;

  • 2. Faktor-faktor strategis inovasi lingkungan ini diharapkan juga menjadi rujukan teoritis yang siap diujikan secara empirik dalam memperoleh konsep yang mampu digeneralisasi. Hal ini tentunya bermanfaat untuk menjadikan Surabaya akhirnya mampu sebagai raw model bagi kota-kota lainnya yang berpotensi sama.
  • 3. Mendapatkan makna esensial pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan yang berperan menghasilkan inovasi lingkungan itu sendiri.

METODE

Penelitian ini didesain untuk menggali secara eksploratif deskriptif dalam tujuannya membangun konsep baru atas apa yang disebut inovasi lingkungan dari sosial masyarakat kampung perkotaan di Surabaya. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan kedalaman esensi konsep yang hendak dicari dan itu dilakukan dengan melibatkan peneliti menjadi bagian di dalam entitas sosial masyarakat tersebut.

Lokasi Penelitian

Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan mengambil fenomena di hanya 5 dari 14 kampung unggulan yang ada di Surabaya. Hal ini ditetapkan dengan mempertimbangan karakteristik inovasi lingkungannya yang bisa mewakili beberapa kampung unggulan lainnya.

Lima kampung unggulan tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1. Kampung Mangrove, yang berdomisili di Desa Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya Timur dengan karakteristik unggul di bidang konservasi hutan mangrove.
  • 2. Kampung Bratang Binangun, yang berdomisili di Kelurahan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya Timur dengan karakteristik unggul di pengelolaan air limbah & manajemen lingkungan.
  • 3. Kampung Grudo, yang berdomisili di Kelurahan Dr. Sutomo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya Pusat dengan karakteristik unggul di manajemen lingkungan rumah susun.

  • 4. Kampung Maspati, yang berdomisili di Kecamatan Bubutan, Surabaya Pusat dengan karakteristik unggul di konservasi bangunan lama.
  • 5. Kampung Jambangan, yang berdomisili di Kecamatan Jambangan, Surabaya Selatan dengan karakteristik unggul di manajemen lingkungan dan ruang terbuka hijau.

Pengumpulan Data

Pengambilan data penelitian eksploratif kualitatif ini dilakukan dalam rentang waktu Agustus s/d September 2019 melalui teknik purposive sampling dengan cara wawancara lisan, berpartisipasi aktif sebagai pengamat di dalam lingkungan kampung, mendapatkan dokumen pendukung lainnya dari informasi narasumber dan juga mengambil data secara audiovisual.

Hal esensial yang dikembangkan dalam menggali data dari para narasumber yang terutama adalah apa yang dimaksud dengan inovasi lingkungan hijau dalam kontekstual mereka sebagai bagian dari pemberdayaan sosial masyarakat di kampungnya.

Beberapa narasumber yang terlibat dan atas kesediaannya bagi kepentingan riset dan akademis adalah sebagai berikut:

  • 1. Bapak Suratno adalah narasumber di Kampung Mangrove. Beliau sehari-harinya berprofesi sebagai petani tambak dan berperan penting sebagai Ketua Kelompok Petani Tambak Trunojoyo di desa Mangrove. Pemikiran dan sumbangsihnya yang secara langsung mengajak para petani lainnya serta masyarakat sekitar untuk mulai peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah plastik di sungai dan membantu proses pembibitan, penanaman kembali sampai dengan pemeliharaan pohon mangrove adalah alasan tepat yang mendorong peneliti untuk menempatkannya sebagai narasumber di kawasan konservasi Kampung Mangrove.
  • 2. Ibu Nanik Rahayu adalah juga narasumber di Kampung Mangrove. Beliau sehariharinya adalah ibu rumah tangga dengan keahlian tambahan adalah sebagai pembatik
dengan motif mangrove. Pemikiran dan sumbangsihnya yang turut mengajak ibuibu di lingkungan sekitar untuk sadar secara ekonomi dalam turut mendukung kegiatan konservasi melalui pemanfaatan tema lingkungan sekitar mangrove sebagai bagian dari pengembangan berkelanjutan menjadikannya potensial sebagai narasumber di kawasan konservasi Kampung Mangrove.

  • 3. Mbak Feni dan Pak Lukman adalah narasumber dari Kampung Lawas, Maspati. Mbak Feni dan Pak Lukman sehari-harinya adalah menjadi kader lingkungan yang juga dipercaya warga untuk menjaga stan kuliner di salah satu sudut gang Kampung Lawas, Maspati. Beliau berdua efektif dalam hal sebagai motor di lingkungan RT masing-masing dalam membantu Bapak Sabar yang ketua RW sekaligus kepala dari gerakan kampung wisata Kota Surabaya.
  • 4. Ibu Sukiyat adalah narasumber dari Kampung Cincau, Jambangan. Ibu ini sehari-harinya adalah pengusaha telur asin di kampungnya dan sekaligus sebagai kader lingkungan yang bersama ibu-ibu PKK lainnya mengedepankan tanaman cincau sebagai media penghijauan di kampungnya dan menggagas berbagai kegiatan pelatihan masyarakat untuk membangkitkan masyarakat dari keterpurukan ekonomi melalui pemberdayaan sosial dengan menyumber kepada lingkungan.
  • 5. Bapak Ibnu Musa adalah juga narasumber dari Kampung Cincau, Jambangan. Bapak ini adalah ketua RT di kampung ini dan yang mendukung seluruh kegiatan para kader di lingkungannya. Perannya sebagai fasilitator kegiatan dan ketersediaan Taman sebagai fasilitas publik untuk mendiskusikan keberlanjutan kampung Cincau, Jambangan.
  • 6. Bapak Sunarwa dari Bratang Binangun adalah narasumber dari Kampung Bratang Binangun. Beliau dulunya adalah pekerja yang kemudian menjadi fokus
untuk mengedepankan kampungnya agar menjadi lebih baik. Diawali oleh bau menyengat akibat sistem sanitasi air limbah rumah tangga yang buruk, beliau terpanggil untuk membenahi kampungnya dengan menjadi fasilitator sistem instalasi pengolah air limbah.

Analisis Data

Setelah memperoleh data dari berbagai sumber, baik dari skrip wawancara, pengamatan, maupun dokumentasi, maka analisis adalah kegiatan selanjutnya yang dilakukan dengan memeriksa dan menyoroti "pernyataan penting", kalimat, kutipan, maupun kata-kata kunci dari hasil interpretasi peneliti. Semua ini adalah atributatribut penting yang digunakan narasumber dan menentukan pandangan mereka tentang bagaimana mereka mengalami fenomena seturut konteksnya.

Selanjutnya, atribut-atribut tersebut direduksi menjadi koding yang memiliki kesamaan makna dan kemudian dikelompokkan menjadi tema-tema. Tema-tema ini adalah bahan untuk deskripsi tekstural dan struktural yang apabila digabungkan akan membangun "esensi" fenomena berdasarkan pengalaman narasumber (Creswell & Poth, 2018). Deskripsi tekstural digunakan untuk menjawab kepada penafsiran atas "apa" dari suatu fenomena. Sedangkan deskripsi struktural digunakan untuk menjawab atas "bagaimana" suatu fenomena dialami. Penyajian esensi pengalaman para narasumber ini dapat berupa tabel, gambar ataupun pembahasan.

Validitas Penelitian

Untuk validitas penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan tiga jenis verifikasi atas proses dan hasil penelitian yang diperoleh, di antaranya dengan:

1. Proses triangulasi data, yakni dengan membandingkan data yang diperoleh peneliti dari tiga sumber berbeda, diantaranya hasil wawancara, pengamatan, dan sumber dokumentasi yang dikumpulkan.

  • 2. Teknik pengecekan oleh anggota kelompok peneliti, yang dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh dari wawancara, pengamatan lapangan, maupun tingkat kecocokannya dengan sumber dokumen lainnya yang telah diperoleh masingmasing anggota.
  • 3. Teknik lainnya adalah deskripsi yang kaya dengan penjelasan. Penjelasan tersebut cukup detail, jelas, logis dan rasional disajikan kepada para pembaca perihal hasil temuan, sehingga secara eksternal mewakili akuntabilitas peneliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pengalaman fenomenal dari 6 narasumber berikut hasil pengamatan di lapangan dan penelusuran dokumen atas lima kampung unggulan di Surabaya, maka dapat dipetakan tema inovasi lingkungan kampung perkotaan di Surabaya terbagi atas dua tema penting, seperti pada tabel I.

Produk Kampung Hijau

Produk kampung hijau didefinisikan dengan produk akhir atas kemampuan masing-masing kampung unggulan yang berbasis lingkungan

ini mengembangkan inovasinya. Beberapa hasil yang dapat dikategorikan sebagai produk kampung hijau dapat dikelompokkan menjadi tujuh kelompok seperti pada tabel.

1. Tabungan Bank Sampah

Kampung Jambangan adalah salah satu kampung perintis dalam hal Bank Sampah dan pada saat memulai pemberdayaan lingkungan dan ekonominya adalah pada tahun 2003 dengan cara hanya mengumpulkan sampah an-organik dan kemudian menjualnya sebagai pendapatan. Semua kampung saat ini telah hampir menjalankan Bank Sampah ini.

Tabungan yang diperoleh di setiap kampung cukup bervariasi, tergantung kepada jumlah KK yang difasilitasi. Kampung Rusun Grudo rata-rata menghasilkan Rp. 300 ribu per bulannya dengan jumlah 96 KK. Hal ini hampir sama dengan kampung Bratang Binangun. Sementara, Kampung Jambangan yang setiap RT nya hanya sekitar 50 KK mampu menghasilkan tabungan Bank Sampah hanya sekitar Rp. 2 juta per tahun atau sekitar Rp. 167 ribu per bulan.

TABEL I TEMA INOVASI LINGKUNGAN KAMPUNG PERKOTAAN DI SURABAYA

TEMAKODE
PRODUK KAMPUNG HIJAU1.
Tabungan Bank Sampah
2.
Kompos untuk Pupuk
3.
Air Olahan Limbah & APAL
4.
Produk Kerajinan dari Limbah
5.
Produk Olahan Tanaman & Herbal
6.
Luaran Wisata Kampung Kota
7.
Ruang Terbuka Hijau atau Taman Warga
DAMPAK /MANFAAT BAGI
KAMPUNG HIJAU
1.
Kesejahteraan Warga Kampung
2.
Warga Kreatif dan Inovatif
3.
Penghargaan
4.
Kesadaran Masyarakat menjaga Lingkungan

Sumber: Dokumentasi Penelitian (2019)

2. Kompos untuk Pupuk

Dengan proses daur ulang limbah organik menjadi kompos, maka limbah ini mempunyai nilai tambah lagi sebagai pupuk alami bagi kebutuhan penghijauan dan pelestarian di internal kampung, bahkan untuk komersial eksternal. Teknologi yang sudah dimiliki pada saat ini oleh kampung-kampung unggulan diantaranya adalah proses komposting sampah organik, dari mulai proses sederhana dengan takakura, tanah dan air, sampai dengan teknik maggoter yang mampu mempercepat proses komposting hingga separuh waktu.

Gambar 1. Hasil Pengolahan Kompos untuk Pupuk Sumber: Dokumentasi Penelitian)

Proses komposting dilakukan biasanya di satu lokasi dengan Bank Sampah, mengingat proses pengumpulan sampah yang harus terlokalisasi di suatu kampung. Komposting sampah organik dengan takakura, tanah dan air serta proses pematangan selama 3 hingga 4 minggu adalah teknologi yang umum digunakan. Hasilnya dapat dilihat pada gambar 1 di halaman selanjutnya.

Teknologi terbaru maggoter ditemukan di Kampung Jambangan dengan menggunakan Maggot atau larva lalat dari jenis Black Soldier Fly. yang hanya membutuhkan 12 hari saja.

3. Air Olahan Limbah dan APAL

Air olahan dari limbah rumah tangga biasanya digunakan untuk tanaman dan cuci kendaraan. Hal ini dihasilkan dari kegiatan pengolahan dengan APAL (Alat Pengolahan Air Limbah) yang diberdayakan di Kampung Bratang Binangun. Teknologi APAL yang terdiri atas 3 filter, yakni pasir, batu kerikil, batu apung atau serat nanas sebagai desinfektan dan kapasitas yang mampu disesuaikan untuk memenuhi rumah tangga sampai dengan sepuluh keluarga untuk setiap APAL.

4. Produk Kerajinan dari Limbah

Sampah-sampah anorganik yang pada umumnya adalah sampah plastik, seperti bungkus makanan/minuman seperti kopi, botol plastik, dan gelas plastik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, seperti dompet, bros, tas, vas bunga, pakaian dan tempat sampah. Kampung Grudo dan kampung Bratang Binangun menjalankan keahlian ini.

Sementara, Kampung Jambangan mampu mengembangkan kerajinan kain dan syal ecoprint dari sampah daun-daun kering, suatu sampah organik yang mampu menjadi inspirasi kerajinan. Hal ini mirip juga dengan yang dilakukan di kampung Mangrove yang merujuk pada daun mangrove sebagai dasar inspirasi kerajinan batik warganya.

Kerajinan gelas plastik yang menjadi keranjang atau tas dijual sekitar Rp. 70.000/ buah. Bungkus kopi menjadi dompet rata-rata mampu dijual dari Rp. 5 ribu s/d 20 ribu per buah. Setiap kali pameran kerajinan limbah yang difasilitasi Pemkot Surabaya, para pengrajin ini paling minimal membawa keuntungan bersih Rp. 500 ribu. Sementara, ecoprint kain dan syal dari limbah daun kering bermerk Lestari mampu menjual 30-40 potong pada saat musim kunjungan di kampung Jambangan. Padahal untuk syal harganya mencapai Rp. 100 ribu s/d 200 ribu per potong dan untuk kain mencapai Rp. 400 ribu per potong.

5. Produk Olahan Tanaman dan Herbal

Pengolahan tanaman toga dan juga beberapa makanan/minuman herbal juga mampu dikembangkan di beberapa kampung. Kampung Bratang Binangun mengembangkan minuman herbal seperti beras kencur, pokak, dan sinom yang menyehatkan. Kampung Lawas Maspati menjalankan olahan buah markisa, lidah buaya, jahe dan cincau. Sementara, kampung Jambangan juga mengembangkan cincau yang memang efektif untuk pelestarian alam, penghijauan dan bisa dimanfaatkan sebagai makanan.

Olahan produk makanan dan minuman serta herbal seperti Sirup Markisa, Selai Markisa dengan rumput laut, Cincau, Beras Kencur, Pokak, Sinom adalah komoditi yang punya nilai komersial. Olahan minuman bisa dijual sampai dengan Rp. 28 ribu per botol 350 ml. Sementara, kalau dihidangkan sebagai minuman per gelasnya sekitar Rp. 8 ribu.

6. Luaran Wisata Kampung Kota

Kampung Lawas Maspati biasanya menerima kunjungan rombongan wisatawan sebesar Rp.2 juta per sekali kunjungan. Sementara, dalam setiap musim kunjungan, kampung ini mampu menerima pendapatan Rp. 6 juta s/d 8juta per bulannya. Kampung Lawas sendiri memiliki keunggulan dalam bangunan lama sebagai pemukiman peninggalan Belanda. Di lokasi ini, tepatnya di RT 01 berada rumah lama (lawas) yang sering menjadi tempat berkumpul atau diskusi, sehingga kemudian dikembangkan menjadi Cafe Rumah Lawas. Di sisi lokasi yang masih di sekitarnya juga disiapkan sarana pengalaman bermain atau dolanan anakanak bagi pengunjungnya. Suasana kampung disajikan dengan penuh warna namun bersih (Lihat gambar 2).

Sementara, kampung Bratang Binangun yang karena asrinya dengan dipenuhi dominan pohon mangga dan tanaman bunga-bunga lainnya, maka akrab disebut kampung Flora Park.

7. Ruang Terbuka Hijau atau Taman Warga

Gambar 2. Suasana penuh warna Kampung Lawas Maspati (Sumber: Dokumentasi Peneliti)

Penciri utama kampung-kampung unggulan berbasis lingkungan ini pada akhirnya dapat diamati dengan adanya lokasi khusus yang di dalamnya hadir fasilitas Bank Sampah, pengumpulan sampah, proses pemilahan dan pemilihan dan kesemuanya hadir dalam balutan lahan terbuka hijau atau taman kampung yang dipenuhi tanaman yang asri sebagai penciri kampung, misalnya daun cincau, pohon mangga, kamboja Jepang, jati Belanda, ataupun jarak.

Keberadaannya sebagai taman ditunjang juga fungsinya sebagai fasilitas publik berkumpul dan belajar sebagai "Taman Warga". Keberadaannya ditemukan di kampung Rusun Grudo yang difasilitasi Taman Bacaan dan Broadband Learning Center (BLC) yang dilengkapi oleh Pemkot Surabaya. Kampung Lawas Maspati mengandalkan Taman Bacaan bagi anak-anak dan warga masyarakat sebagai donasi dari Pelindo.

Sementara, Kampung Jambangan, Kampung Mangrove, dan kampung Bratang Binangun mengandalkan pondok-pondok swadaya di taman kampung atau pun di bangkubangku kecil depan rumah sebagai sarana bantu untuk saling diskusi dan belajar bersama.

Dampak/Manfaat bagi Kampung Hijau

Dampak kampung hijau yang dimungkinkan dialami oleh warga dan masyarakat sekitar serta pemangku kepentingan lainnya dapat dikelompokkan seperti di bawah ini.

1. Kesejahteraan Warga

Hasil Bank Sampah yang berhasil dikumpulkan, biasanya disepakati bersama oleh seluruh warga untuk membiayai rekreasi atau liburan warga beserta keluarganya. Kampung Bratang Binangun biasanya menikmatinya setiap enam bulan .

2. Warga Kreatif dan Inovatif

Kemampuan mengembangkan teknologi dengan menempatkan sumberdaya yang tepat untuk selalu berinovasi dilakukan melalui proses yang terus dikembangkan. Beberapa cara yang unik adalah pendekatan personal secara informal sesuai topik dan kondisi budaya sosial, memulai dengan contoh, selalu berkompetisi, dan menunjukkan gagasan baru dengan pamer secara positif di media sosial Whatsapp Group.

3. Penghargaan

Dampak lainnya yang tidak kalah penting adalah semakin dikenal luasnya kampung-kampung unggulan ini, tidak hanya secara nasional, melainkan juga secara internasional. Kelima kampung unggulan ini juga menjadi langganan juara dalam program lomba Surabaya Green and Clean (SGC) serta menjadi tujuan studi banding lingkungan, baik dari dalam negeri maupun internasional.

4. Kesadaran Masyarakat

Beberapa bukti yang mendasari terjadinya perubahan ini adalah menurunnya jumlah sampah Kota Surabaya, yang semula pada 2014 sekitar 1400 ton/hari, maka pada 2019 ini menjadi sekitar 1100 ton/hari (Yohanes, 2019).

Penyajian pembahasan akan terbagi atas inovasi lingkungan dan makna pemberdayaan sosial masyarakat yang berhasil mewujudkan inovasi lingkungan itu sendiri.

Inovasi Lingkungan

Eko-inovasi atau inovasi lingkungan dapat dianggap sebagai segala bentuk inovasi yang bertujuan pada kemajuan yang signifikan dan dapat dibuktikan ke arah tujuan pembangunan berkelanjutan, melalui pengurangan dampak terhadap lingkungan atau mencapai penggunaan sumber daya alam yang lebih efisien dan bertanggung jawab. Dengan demikian, inovasi lingkungan membahas dimensi ekonomi dan lingkungan, sementara inovasi berkelanjutan mencakup dua dimensi yang lebih luas: sosial dan etika (Hojnik, 2017). Hal ini senada juga dalam beberapa penelitian yang lainnya yang memberikan arah bahwa inovasi lingkungan secara praktis adalah yang berorientasi untuk mencegah terjadinya reduksi terhadap lingkungan, namun di satu sisi memberikan implikasi pada aspek ekonomi (Ahmed et al., 2012; Dong et al., 2014; Horbach et al., 2012).

Inovasi yang dikaitkan dengan makna keberlanjutan atau kesinambungan, dapat didefinisikan sebagai upaya-upaya pengembangan, proses, dan/atau sistem dengan pengelolaan baru, di mana tujuan lingkungan, sosial, dan ekonomi menjadi pondasinya (Behnam et al., 2018). Dalam pengertian yang berbeda, dimana inovasi lingkungan adalah juga yang menyangkut perubahan di aspek ekonomi, lingkungan dan sosial, beberapa definisi dapat disajikan sebagai berikut:

  • 1. Inovasi lingkungan bisa menjadi barang atau jasa baru, proses, perubahan organisasi, atau metode pemasaran dalam sebuah entitas, tetapi juga perubahan yang lebih luas dengan implikasi sistemik terhadap lingkungan, ekonomi dan social. Hal ini sejalan dengan Wilts et al. (2013).
  • 2. Eko-inovasi atau inovasi lingkungan terletak pada efek menguntungkannya bagi lingkungan, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan sosial. Sejalan dengan Pereira & Vence (2012),
konsep ini mencoba untuk menyoroti kesesuaian antara sosial dan lingkungan yang secara tradisional bertentangan, namun dipergunakan untuk meningkatkan daya saing ekonomi

Dengan mempertimbangkan hasil temuan penelitian yang memetakan pada produk kampung hijau dan dampak sebagai manfaat yang diterima bagi kampung hijau, maka nilainilai aspek lingkungan dan pemberdayaan sosial cenderung lebih kuat, selain juga masih mempertimbangkan aspek ekonomi.

Apabila dijabarkan lebih teliti, produk kampung hijau tidak hanya berisi hasil akhir, melainkan juga menekankan juga, misalnya 1) selain tabungan Bank Sampah, seyogyanya ditemukan manajemen Bank Sampah; 2) selain ada air olahan, semestinya ditemukan alat pengolahan air limbah (APAL); 3) selain ada pupuk kompos, sebaiknya ditemukan ada teknologi pengolah pupuk, dan 4) manajemen wisata kampung kota, mengingat ada kegiatan wisata kampung kota. Hal ini berarti novasi lingkungan hakekatnya juga meliputi kinerja produk dan kinerja proses yang sama-sama berorientasi untuk mencegah terjadinya reduksi pada lingkungan (Huang & Li, 2018; Nanath & Pillai, 2017).

Mempertimbangkan makna dampak atau manfaat bagi kampung hijau sebagai kinerja inovasi lingkungan adalah menunjuk kepada penelitian Pereira dan Vence (2012) serta Wilts et al (2013). Pereira dan Vence (2012) menekankan terjadinya peningkatan kesejahteraan sosial atas inovasi lingkungan yang dilakukan. Kecenderungan penyesuaian kontekstual yang terjadi antara perubahan sosial masyarakat kampung dengan lingkungannya dilakukan sebagai upaya bertahan hidup pada awalnya. Seiring waktu hal ini pada akhirnya menjadikan kampung menjadi lebih berdaya dan memiliki posisi tawar dalam aspek ekonomi di tengah persaingan hidup di tengah kota besar. Masyarakat kampung hijau dengan keberadaan para kadernya dan anggota-anggota yang peduli memilih menentukan nasibnya sendiri dan menggunakan haknya sebagai

kolaborator bersama dengan pemerintah Kota Surabaya untuk menjadikan kotanya tetap hidup berkesinambungan. Inilah implikasi sistemik dalam tiga fondasi lingkungan, sosial, dan ekonomi yang dimaksud oleh Wilts et al (2013) dan Behnam et al (2018).

Pemberdayaan Sosial Masyarakat

Pemberdayaan sosial masyarakat dalam bangunan penelitian sebelumnya adalah sebuah proses dan juga tujuan (Sumolang et al., 2018). Sebagai proses, pemberdayaan hadir dalam bentuk serangkaian upaya atau program untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan suatu kelompok masyarakat yang lemah. Hal ini berarti juga adalah pembangunan sumber daya manusia atau masyarakat itu sendiri untuk digali kemampuan, kreatifitas, kompetensi dan daya pikir serta tindakannya menjadi lebih baik dari sebelumnya (Ahmad, 2019).

Selanjutnya, sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada suatu kondisi atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, meski tidak menutup kemungkinan perubahan dalam aspek ekonomi dan aspek lainnya.

Proses pemberdayaan yang dapat dikembangkan dan menjadi intisari kesuksesan inovasi lingkungan masyarakat kampung perkotaan di Surabaya berdasarkan temuan penelitian adalah:

  • 1. Meningkatkan kesadaran kritis dari beberapa agen perubahan: kader lingkungan, Ketua RT dan Ketua RW, serta kelompok kaderisasi dari karang taruna ataupun anak-anak warga. Prinsip keswadayaan para penggerak utama sangat diharapkan tumbuh di tahapan ini (Iryana, 2018).
  • 2. Meningkatkan partisipasi para warga dengan pendekatan personal secara informal sesuai topik dan kondisi budaya sosial, memulai dengan contoh, selalu berkompetisi, dan menunjukkan gagasan baru sebagai ajang pamer secara positif di media sosial warga. Prinsip partisipatif dan mengutamakan aksi sosial sangat diutamakan di tahapan ini (Iryana, 2018; Marzuki, 2017; Nugraha, 2019).

  • 3. Meningkatkan kapasitas warga masyarakat yang dilakukan dengan membuat basis isu strategis sebagai tujuan bersama dan dilakukan secara mandiri. Upaya itu diantaranya dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk disertakan dalam lomba kejuaraan kampung hijau dan juga membangun fasilitas serta membuat produk-produk hijau karya khas kampung, baik untuk dikonsumsi maupun dikomersialkan. Prinsip kearifan lokal, kesetaraan, dan pendekatan organisasi sangat penting di tahapan ini (Agussani, 2020; Iryana, 2018; Marzuki, 2017).
  • 4. Meningkatkan keberlanjutan program yang muncul atas inisiatif warga. Hal ini dilakukan dengan adanya RT Kecil ataupun kader lingkungan anak-anak, dan modal sosial lainnya, seperti menjaga kepercayaan, dan nilai-nilai sosial bersama (pembagian manfaat sesuai kontribusinya, keuntungan akhir untuk rekreasi warga, dan sebagainya). Pemanfaatan modal sosial menjadi penting dalam menjaga keberlanjutan pemberdayaan sosial di tahapan ini (Iryana, 2018; Syahli & Sekarningrum, 2017).

SIMPULAN

Faktor-faktor utama penentu inovasi lingkungan yang dilakukan oleh para warga kampung perkotaan di Surabaya pada akhirnya adalah produk hijau, proses hijau, dan bahkan dampak hijau bagi kampung itu sendiri. Produk hijau adalah dimensi inovasi lingkungan yang dapat digambarkan sebagai hasil akhir, meliputi tabungan Bank Sampah, kompos untuk pupuk, air olahan limbah, produk kerajinan dari limbah, produk olahan tanaman dan herbal, kegiatan wisata, dan taman warga. Dalam perkembangan selanjutnya, ditemukan juga proses hijau yang juga dapat menjadi indikator inovasi lingkungan, yakni manajemen Bank Sampah, teknologi Alat Pengolah Air Limbah (APAL), teknologi komposting, dan manajemen wisata kampung kota.

Selanjutnya, inovasi lingkungan juga mampu diindikasikan oleh dampak atau manfaat yang diperoleh kampung unggulan ini, diantaranya adalah kesejahteraan sosial ekonomi, kemampuan warga yang semakin kreatif dan inovatif, penghargaan, serta kesadaran masyarakat yang tinggi. Faktor-faktor yang terkandung dalam kategori produk hijau, proses hijau dan dampak hijau yang dilakukan oleh para warga masyarakat kampung unggulan inilah yang menentukan seberapa sukses dan berhasilnya suatu program inovasi lingkungan dijalankan.

Sedangkan, pemberdayaan sosial masyarakat kampung perkotaan di Surabaya hakikatnya dapat dipandang sebagai proses dan juga hasil. Dalam hal hasil pemberdayaan, dampak atau manfaat inovasi lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat kampung perkotaan di Surabaya dipandang sebagai hasil pemberdayaan sosial masyarakat karena ditemukannya perubahan sosial dalam bentuk perubahan kesejahteraan warga, kemampuan warga menjadi lebih kreatif dan inovatif, meningkatnya apresiasi dari pihak eksternal, dan kesadaran warga yang meningkat untuk tetap menjaga keberlanjutan inovasi lingkungan melalui kaderisasi.

Proses pemberdayaan sosial masyarakat perkotaan di Surabaya yang menghasilkan inovasi lingkungan berkelanjutan ini mengupayakan secara bertahap: peningkatan kesadaran kritis agen perubahan sebagai penggerak utama, peningkatan partisipasi warga melalui pendekatan personal agen perubahan, peningkatan kapasitas warga, dan pemanfaatan modal sosial untuk menjamin keberlanjutan. Beberapa prinsip pemberdayaan yang diperhatikan dalam setiap tahapnya adalah keswadayaan, partisipatif, aksi sosial, kearifan lokal, kesetaraan, pengorganisasian, dan keberlanjutan.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka beberapa masukan yang layak menjadi pertimbangan semua pihak dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan dalam keilmuan akademis yang mengembangkan teori sumber daya, teori organisasi,

  • manajemen strategik, topik-topik kajian inovasi berbasis sosial masyarakat, aspek lingkungan, aspek ekonomi maupun pembangunan berkelanjutan.
  • 2. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan untuk dapat diuji kembali tentang faktorfaktor penentu konsep inovasi lingkungan menjadi konsep yang berlaku umum dalam bidang pembangunan berkelanjutan.
  • 3. Penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk dapat diuji kembali tentang temuan faktorfaktor penentu proses dan hasil konsep pemberdayaan sosial masyarakat untuk menjadi konsep yang berlaku umum dalam bidang ilmu sosial kemasyarakatan.
  • 4. Bagi para pelaku praktis pemberdayaan sosial masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirator yang mampu menggali lebih dalam keberadaan potensi produk hijau, proses hijau, dan dampak hijau yang diharapkan bagi konstituennya.
  • 5. Bagi para pengambil kebijakan di tingkat wilayah kota, penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memetakan pola potensi faktor-faktor apa saja yang tersimpan di dalam sosial masyarakatnya

SANWACANA

Tim peneliti mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung dan membantu pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada para narasumber kampung unggulan Kota Surabaya, dan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN atas pendanaan Penelitian Dasar Anggaran 2020 serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Widya Kartika Surabaya.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
20th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Institution Network

References

  1. Buku
  2. Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2017). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. SAGE Publications.
  3. Hojnik, J. (2017). In Pursuit of Eco-innovation. UPP Monograph Series.
  4. Martinez, F. (2017). Toward Inclusive Economic, Social and Environmental Progress in Asia: An Introduction. In The Role of Corporate Sustainability in Asian Development (pp. 1-9). Springer. DOI: 10.1007/978-3-319-45160-2_1
  5. Rhee, C. (2012). Asian development outlook 2012: Confronting rising inequality in Asia. Asian Development Bank.
  6. Sari, M. M. K., Jatiningsih, O., & Listyaningsih, M. (2018). Green and Clean as Issue on Women DOI: 10.2991/icss-18.2018.47
  7. Jurnal Ilmiah
  8. Angelo, F. D., Jabbour, C. J. C., & Vasconcellos, S. (2012). World Journal of Entrepreneurship, Management and Sustainable Development. Development, 8(2/3), 113-121.
  9. Ashton, W., Russell, S., & Futch, E. (2017). The adoption of green business practices among small US Midwestern manufacturing enterprises. Journal of Environmental Planning and Management, 60(12), 2133-2149. DOI: 10.1080/09640568.2017.1281107
  10. Behnam, S., Cagliano, R., & Grijalvo, M. (2018). How should firms reconcile their open innovation capabilities for incorporating external actors in innovations aimed at sustainable development? Journal of Cleaner Production, 170, 950-965.
  11. Bong Ko, S., & Jin, B. (2017). Predictors of purchase intention toward green apparel products: A cross-cultural investigation in the USA and China. Journal of Fashion Marketing and Management; Bradford, 21(1), 70-87. DOI: 10.1108/jfmm-07-2014-0057
  12. Defourny, J., & Nyssens, M. (2017). Fundamentals for an international typology of social enterprise models. VOLUNTAS: International Journal of Voluntary and Nonprofit Organizations, 28(6), 2469-2497. DOI: 10.1007/s11266-017-9884-7
  13. Dong, Y., Wang, X., Jin, J., Qiao, Y., & Shi, L. (2013). Research on effects of eco-innovation types and regulations on firms
  14. Eldar, O. (2017). The role of social enterprise and hybrid organizations. Colum. Bus. L. Rev., 92.
  15. G1/4rlek, M., & Tuna, M. (2018). Reinforcing competitive advantage through green organizational culture and green innovation. The Service Industries Journal, 38(7-8), 467-491.
  16. Hamann, R., Smith, J., Tashman, P., & Marshall, R. S. (2017). Why do SMEs go green? An analysis of wine firms in South Africa. Business & Society, 56(1), 23-56.
  17. Horbach, J., Rammer, C., & Rennings, K. (2012). Determinants of eco-innovations by type of environmental impact"The role of regulatory push/pull, technology push and market pull. Ecological Economics, 78, 112-122. DOI: 10.1016/j.ecolecon.2012.04.005
  18. Huang, J., & Li, Y. (2017). Green Innovation and Performance: The View of Organizational Capability and Social Reciprocity. Journal of Business Ethics: JBE; Dordrecht, 145(2), 309-324. http://dx.doi.org/10.1007/s10551-015-2903-y DOI: 10.1007/s10551-015-2903-y
  19. Huang, J.-W., & Li, Y.-H. (2018). How resource alignment moderates the relationship between environmental innovation strategy and green innovation performance. Journal of Business & Industrial Marketing, 33(3), 316-324.
  20. Mongelli, L., Rullani, F., & Versari, P. (2017). Hybridisation of diverging institutional logics through common-note practices-an analogy with music and the case of social enterprises. Industry and Innovation, 24(5), 492-514. DOI: 10.1080/13662716.2017.1302793
  21. Nanath, K., & Pillai, R. R. (2017). The influence of green is practices on competitive advantage: Mediation role of green innovation performance. Information Systems Management, 34(1), 3-19.
  22. Pereira, ., & Vence, X. (2012). Factores empresariales clave para la eco-innovacion: Una revision de estudios empricos recientes a nivel de empresa. Cuadernos de Gestion, 12(3), 73-103.
  23. Tantayanubutr, M., & Panjakajornsak, V. (2017). Impact of green innovation on the sustainable performance of Thai food industry. Business and Economic Horizons; Prague, 13(2), 192-209. http://dx.doi.org/10.15208/beh.2017.15 DOI: 10.15208/beh.2017.15
  24. Wibowo, E. A. (2016). Mencapai Performa Bisnis Unggul dengan Menerapkan Green Marketing pada Perusahaan di Indonesia. OPINI, 1(4).
  25. Wilts, H., Dehoust, G., Jepsen, D., & Knappe, F. (2013). Eco-innovations for waste prevention"Best practices, drivers and barriers. Science of the Total Environment, 461, 823-829. DOI: 10.1016/j.scitotenv.2013.05.096
  26. Website
  27. Berty, Teddy T.S. (2017, November 23). Wali Kota Surabaya Terima Penghargaan Lingkungan dari PBB. Liputan6.Com. http://global.liputan6.com/read/3146856/wali-kota-surabaya-terima-penghargaan-lingkungan-dari-pbb
  28. Dharma, Silviana. (2017, November 23). Selamat! Surabaya Jadi Satu-satunya Kota di Indonesia yang Terima Penghargaan Green Cities dari PBB: Okezone News. Https://News.Okezone.Com/. https://news.okezone.com/read/2017/08/04/519/1750084/selamat-surabaya-jadi-satu-satunya-kota-di-indonesia-yang-terima-penghargaan-green-cities-dari-pbb
  29. Hakim, Abdul. (2018, February 16). Surabaya raih penghargaan "Global Green City" PBB. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/662428/surabaya-raih-penghargaan-global-green-city-pbb