ABSTRAK
Dalam penelitian ini dibahas produk kolaboratif dengan studi kasus penelitian berupa produk kolaboratif dari merek A dengan grup musik SK. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena pengumpulan data dilakukan dengan proses wawancara terhadap produsen merek sneakers A dengan tujuan untuk mengetahui keterkaitan antara hasil dan proses desain yang dilakukan pada produk kolaboratif. Dari hasil penelitian didapatkan proses desain dari produsen merek sneakers A serta peranan kolaborator dalam setiap tahapan proses desain. Analisis berupa perbandingan antara data yang didapat dari hasil wawancara dan literatur yang digunakan. Dari hasil penelitian ditemukan adanya perbedaan jenis sneakers dalam rangkaian produk kolaboratif tersebut serta beberapa hasil desain tidak sesuai dengan citra dari kolaborator yang menjadi personal dari grup musik rock SK. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi terhadap produsen maupun desainer dalam merancang produk kolaboratif. Di bidang akademis juga diharapkan menjadi pembuka penelitian-penelitian baru terkait dengan sneakers kolaboratif maupun produk-produk kolaboratif lainnya.
Kata kunci: sneakers kolaboratif, proses desain.
PENDAHULUAN
Sneakers merupakan produk alas kaki yang berkembang di tahun 1920 dan 1930-an, seiring dengan kemunculan merek-merek ternama dunia saat itu (Keyser, 2015). Saat ini sneakers kolaboratif menjadi salah satu produk yang ramai diperbicangkan dalam beberapa tahun ini. Tidak hanya dilakukan oleh merek-merek terkenal dunia, kolaborasi juga dilakukan oleh beberapa merek dari dalam negeri. Fenomena yang dinilai menarik karena di tahun 2018 terdapat sebuah merek sneakers dari dalam negeri yang melakukan re-branding dan menciptakan sebuah sneakers kolaborasi, merek tersebut ramai diperbicangkan di dunia maya disebabkan oleh harga jual yang meningkat berkali-kali lipat. Menjelang pertengahan tahun 2018 sebuah merek sneakers dalam negeri yang bernama 'A' merilis produk sneakers kolaboratif dengan salah satu grup musik legendaris dari dalam negeri bernama 'SK'. Dalam kolaborasi antara merek A dengan grup musik SK terdapat lima artikel produk sneakers yang mewakili masingmasing dari personal grup musik SK. Beberapa tahun terakhir banyak sekali perusahaan yang memulai kolaborasinya dengan musisi terkenal (Strahle, 2018).
Menurut (Strahle, 2018) tidak hanya musik yang memiliki relevansi terhadap gaya pakaian, namun artis dan musisi juga menjadikan pakaian sebagai alat yang bertujuan untuk menciptakan kesadaran atau mempertajam profil mereka. Dalam penelitian yang dilakukan, penulis memiliki asumsi berupa produk sneakers kolaboratif tersebut tidak menunjukan karakter yang sama dengan karakter personal sebagai musisi dari grup musik SK secara tampilan. Penelitian ini akan mengkaji proses desain dari produk kolaboratif antara merek A dengan grup musik SK. Hal tersebut didasarkan dari tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara hasil desain dengan yang terjadi pada saat proses desain yang dilakukan. Dalam penelitian ini kedua pihak yang melakukan kolaborasi dijelaskan dengan dengan merek A dan juga grup musik "SK", hal tersebut dilakukan sesuai dengan persetujuan antara penulis dengan pihak produsen yang dalam hal ini merek A.
Desain Kolaborasi
Menurut Sanders dan Stappers (2008) dalam (Steen dkk., 2011: 53-60), penggunaan terminologi co-creation mengacu pada aktivitas kreatif secara kolektif yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan co-design secara lebih spesifik berarti aktivitas kreatif dari dua orang atau lebih yang diterapkan secara menyeluruh dalam rentang proses desain. (Sanders dan Stappers, 2008) juga menjelaskan bahwa codesign bagian yang lebih spesifik dari cocreation, co-design dalam pengertian yang lebih luas merupakan aktivitas kreatif antara desainer dan orang-orang yang bukan desainer melakukan aktivitas bersama dalam proses pengembangan desain. Kolaboratif sendiri merupakan kata sifat dari kolaborasi yang berarti suatu bentuk kerja sama. Dapat dikatakan bahwa produk kolaboratif merupakan produk yang dihasilkan dari proses desain yang dilakukan secara kolaborasi antara dua pihak.
Profil Grup Musik SK
SK merupakan grup musik asal Jakarta yang secara resmi berdiri di tahun 1983. Grup musik SK sudah sering melakukan perubahan personal yang dalam situs resminya disebutkan bahwa sudah 14 kali grup musik tersebut melakukan perubahan formasi. Formasi SK yang ke-14 merupakan formasi terakhir yang bertahan hingga saat ini sejak tahun 1997. SK saat ini dapat dikatakan sebagai salah satu grup musik legendaris di Indonesia karena sudah berusia 37 tahun di tahun 2020 sekarang ini. Selain karena usia nya yang sudah cukup lama untuk sebuah grup musik, SK juga sudah sangat banyak menerima penghargaan di bidang musik untuk album-album yang telah di rilisnya. Grup musik tersebut juga dikenal memiliki penggemar fanatik yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia. Bahkan tidak jarang ditemukan dalam sebuah konser musik walaupun grup musik SK tidak ada dalam acara tersebut, ada dari sebagian penonton yang membawa bendera dengan logo SK. Kaho (2015) menyebutkan bahwa fenomena yang menyebabkan SK menjadi salah satu grup musik legendaris di Indonesia adalah adanya anggapan bahwa "apa pun konsernya, benderanya tetap SK".
Proses Desain Produk Alas Kaki
Proses desain produk alas kaki terbagi menjadi tiga tahapan secara garis besar, yaitu pengarahan, penelitian, dan pengembangan desain. (Pelizzari dalam Luximon, 2013) menyebutkan tahap ini menjadi penting karena dapat memberikan informasi yang penting bagi desainer tanpa membatasi kreativitasnya. Informasi berupa tujuan utama dari perusahaan dan identitas merek yang dimiliki. Pada tahap ini peran lebih banyak dilakukan oleh bagian pemasaran, terutama dalam dalam menentukan kunci utama sebuah merek yaitu: brand equity (bagaimana identitas dari sebuah merek dan penempatannya di pasaran?), brand positioning (sepatu seperti apa yang dicari konsumen?), dan target market positioning (value apa yang ditawarkan dari sebuah produk?).
Tahap tersebut mengidentifikasi kelompok konsumen tertentu dengan menentukan umur, status, pekerjaan, gaya hidup, minat, dan daya beli. Hal ini akan menjadi acuan dalam menentukan bahan. contoh: kulit, kain, warna, menentukan rata-rata harga jual.
Tahap riset atau penelitian dalam proses desain produk alas kaki sneakers seperti yang disebutkan oleh (Pelizzari dalam Luximon, 2013) terbagi menjadi dua tipe yaitu dari sisi tangible atau wujud dan fungsi, serta dari sisi inspirasi secara visual. Riset dalam bentuk tangible dapat berupa penelitian untuk bahan untuk produk sneakers yang akan dirancang, seperti; kain, tekstur dan permukaan, bentuk dan struktur, serta warna dan pola.
Selain menentukan aspek-aspek desain yang ada dalam desain sneakers, tahap penelitian ini juga tentang konsep serta gambaran secara umum yang mendasari desain yang akan dibuat. Desain yang baik adalah yang memperkuat identitas sebuah merek secara keseluruhan. Penelitian tentang sejarah akan menjadi sangat bernilai, karena dapat membantu dalam memahami asal usul dari desain yang sudah ada sebelumnya yang juga dapat menentukan konteks dari desain terbaru yang akan dibuat. Mempertahankan garis besar dari desain pada periode sebelumnya juga dibutuhkan, atau yang biasa dikenal dengan sebutan retro yang menjadi inspirasi dalam menghasilkan desain yang terbaru. Selain itu penelitian terhadap pasar mungkin perlu dilakukan untuk mengindentifikasi nilai-nilai dan gaya hidup dari segmen konsumen yang akan dituju, tentang aspirasi mereka dan juga preferensi. Yang terakhir dalam tahap penelitian adalah perlu mempertim-bangkan merek-merek kompetitor, fitur terbaru apa yang mereka tawarkan, dan apa yang membuat produk mereka menjadi sukses.
Dalam proses mengembang-kan desain sebuah produk alas kaki khususnya, proses awal yang dilakukan adalah melakukan sketsa kasar yang bertujuan untuk menginisiasi ide (Pelizzari dalam Luximon, 2013). Aspek-aspek ide dalam produk alas kaki seperti sneakers yang disampaikan melalui sketsa adalah bentuk, volume, tekstur, garis, pola, dan juga warna. (Pelizzari dalam Luximon, 2013) juga menyampaikan bahwa aspek-aspek dalam sketsa tersebut adalah untuk menggambarkan dimensi dan juga proporsi dari komponenkomponen dalam produk alas kaki. Komponen tersebut berupa; body, heel, insole, sole, dan juga platform. Dalam tahap ini desainer juga bekerja bersama dengan pembuat pola untuk hasil yang maksimal dari segi estetika dan struktur konstruksi pada sepatu atau sneakers. Desain yang dihasilkan juga harus dapat dipakai, stabil, dan nyaman saat digunakan.
Tahapan dalam proses desain produk alas kaki dijelaskan melalui Gambar 1.
Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui proses desain yang terjadi pada produk sneakers kolaboratif antara merek A dengan grup musik SK dan menjadi rekomendasi bagi merekmerek lain di dalam negeri terutama merek dari produsen dengan skala perusahaan yang lebih kecil.
METODE
Metode penelitian yang dilakukan berupa metode kualitatif. Pengumpulan data kualitatif dengan melakukan wawancara kepada produsen pakaian olahraga merek A. Proses wawancara yang dilakukan adalah wawancara nonstruktur yang bertujuan untuk menggali informasi secara mendalam dari narasumber. Namun, lingkup

Gambar 1 Proses Desain produk Alas Kaki Sumber : Dokumentasi penulis 2019, adaptasi dari (Pelizzari dalam Luximon, 2013)
pertanyaan akan tetap dibatasi sesuai dengan data yang akan diambil dalam penelitian. Analisis kualitatif dilakukan guna menemukan dan mengetahui proses desain yang ada pada sebuah perusahaan produsen pakaian olahraga A dalam merancang produk kolaboratif dengan grup musik SK. Selain itu juga dapat diketahui adakah perbedaan dalam merancang produk
kolaboratif dengan produk non- kolaboratif. Analisis yang dilakukan adalah mengidentifikasi proses desain yang dilakukan dengan masingmasing kolaborator dan juga menggali hasil akhir dari desain sneakers yang dibuat yang dipengaruhi dari proses desain yang dilakukan.
TABEL I DATA WAWANCARA DENGAN PRODUSEN SNEAKERS MEREK A
| Alasan kolaborasi dengan artis | Regenerasi yang dimiliki oleh para fans SK. SK merupakan band legendaris di Indonesia begitu juga dengan A yang sama sama memulai dari tahun 1980-an. SK terkenal dengan local pride dan kebanggaannya akan Indonesia. |
|---|---|
| Jumlah produksi dari produk kolaboratif | 1200 pcs per artikel (terdapat 5 artikel) Bersifat limited atau terbatas |
| Target pasar yang dituju | Penggemar grup musik SK Dibuat untuk kalangan anak muda terutama pelajar. |
| Peranan artis dalam proses kolaborasi | Desain Pemilihan warna Material |
| Proses desain dari produk kolaborasi | 1. Tim pemasaran 2. Brainstorming dengan artis. 3. Masing-masing dari personil mencoba artikel yang sudah ada dari produk 4. 3 di antaranya menggunakan platform produk yang sudah ada. Artis memberikan arahan sesuai keinginan dan seperti apa kebutuhannya. 5. 6. Memberikan logo-logo personal untuk diaplikasikan terhadap visual produk. 7. Sketsa 8. Digital desain 9. Cost dan material 10. Persetujuan artis dengan pihak produsen Sampel & prototype 11. 12. Produksi |
Platform produk
yang digunakan
Artikel : Kolaborator 1 : menggunakan existing model
Kolaborator 3 : menggunakan existing model Kolaborator 4 : menggunakan existing model
Kolaborator 2 : menggunakan desain baru yang belum ada sebelumnya. Kolaborator 5 : menggunakan desain baru yang belum ada sebelumnya.
Latar belakang dari hasil desain
Kolaborator 1:
- • Basic dari sepatu running, karena memiliki gaya hidup yang sehat.
- Menginginkan sepatu yang fleksibel dan nyaman.
- Dapat digunakan di panggung dan juga olahraga. Oleh karena itu menggunakan sedikit bahan yang glossy.
- Terdapat logo pribadi yang berbentuk kupu-kupu.
- Sangat menyukai binatang yaitu ikan hiu, dan terdapat ikon ikan pada bagian upper nya,
Kolaborator 2:
- Menginginkan desain yang lebih kasual dengan model vulcanized.
- Bagian upper dibuat unfinished dan pada bagian atasnya tidak dijahit.
- Bagian lining terdapat gambar yang dibuat oleh anaknya.
- Terdapat logo "R" yang merupakan inisial dari namanya.
- Terdapat slogan yang bertuliskan "peace is my religion" pada bagian luar dari outsole nya.
Kolaborator 3:
- Menginginkan sepatu yang ringan
- Produk existing yang dipilih menggunakan bahan pylon pada midsole-nya karena sesuai dengan keinginannya tersebut.
- Logo pribadi yang berbentuk mata terdapat di bagian lidah sepatu.
Kolaborator 4:
- • Basic sepatu lifestyle
- Menginginkan desain yang lebih ke arah casual sport.
- Terdapat logo dari kunci "F" yang merupakan kunci terendah pada bass.
Kolaborator 5:
- Menginginkan desain yang lebih kasual dan basic dengan model vulcanized.
- Terdapat logo di bagian sisi upper yang berarti "love and peace"
Sumber: Data Penulis 2019
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut ini merupakan analisis terhadap peranan kolaborator (personal grup musik SK) dalam proses desain produk. Produk kolaboratif
tersebut terdapat lima jenis model, dan dalam pembahasan dan tabel di bawah akan diberi nama Sneakers 1 sampai Sneakers 5.
TABEL II PERANAN KOLABORATOR 1 DALAM PROSES DESAIN
- 1. Produk existing yang di pilih oleh kolaborator 1 lalu dirancang ulang oleh produsen sesuai dengan brief yang diberikan.
- 4. Simbol ikan dari kolaborator 1 yang disederhanakan oleh desainer.
- 2. Penempatan logo pada velcro yang merupakan brief dari kolaborator 1.
- 5. Highlight warna aqua sea dipilih desainer berdasarkan karakteristik dan brief yang diminta oleh kolaborator 1.
- 3. Warna dan material ditentukan oleh desainer berdasarkan brief yang diberikan.
- 6. Simbol ikan yang sama pada bagian upper ditempatkan di bagian insole oleh desainer.
Sumber: Data Penulis
TABEL III PERANAN KOLABORATOR 2 DALAM PROSES DESAIN
- 1. Silhouette yang diminta oleh kolaborator divisualisasikan oleh desainer.
- 4. Penambahan ritsleting yang merupakan ide dari kolaborator 2.
- 2. Material menyesuaikan dengan jenis sneakers dan warna ditentukan berdasarkan brief dari kolaborator.
- 5. Ilustrasi pada lining yang dibuat oleh anak dari kolaborator 2.
- 3. Kutipan dari Ridho yang grafisnya dibuat oleh desainer.
- 6. Kantung pick gitar yang merupakan ide dan brief dari kolaborator 2.
Sumber: Data Penulis
TABEL IV PERANAN KOLABORATOR 3 DALAM PROSES DESAIN
- 1. Produk existing yang dipilih oleh kolaborator 3 lalu dirancang ulang oleh produsen sesuai dengan brief yang diberikan.
- 4. Detail di bagian upper berupa logo pribadi yang sudah ada sebelumnya.
- 2. Material tidak berubah dari produk existing, sementara warna mengikuti mayoritas warna yang digunakan, yaitu hitam.
- 5. Midsole dan outsole yang diberikan warna full black oleh desainer.
- 3. Detail dibagian insole berupa logo pribadi yang sudah ada sebelumnya dan tulisan sesuai brief dari kolaborator 3
- 6. Model slip-on dipilih desainer sesuai dengan brief dari kolaborator 3.
Sumber: Data Penulis
TABEL V PERANAN KOLABORATOR 4 DALAM PROSES DESAIN
- 1. Produk existing yang dipilih oleh kolaborator 4 lalu dirancang ulang oleh produsen sesuai dengan brief yang diberikan.
- 4. Detail di bagian back heel berupa logo pribadi yang sudah ada sebelumnya.
- 2. Material tidak berubah dari produk existing, sementara warna mengikuti mayoritas warna yang digunakan, yaitu; hitam. Untuk highlight warna biru tua dipilih oleh desainer.
- 5. Kutipan berupa dua kalimat di masingmasing sisi sneakers dan tanda tangan dari kolaborator diletakkan oleh desainer.
- 3. Detail di label pada bagian tongue ditempatkan oleh desainer, detail tersebut juga diberikan pada sneakers kolaborator lainnya.
Sumber: Data Penulis
TABEL VI PERANAN KOLABORATOR 5 DALAM PROSES DESAIN
- 1. Silhouette yang diminta oleh kolaborator divisualisasikan oleh desainer.
- 4. Detail grafis berupa dua kata yang masingmasing ditempatkan di bagian foxing oleh desainer.
- 2. Material menyesuaikan dengan jenis sneakers dan warna ditentukan berdasarkan brief dari kolaborator 5.
- 5. Kalimat kutipan yang dibuat kolaborator 5 melalui brief yang diletakkan oleh desainer di bagian insole.
- 3. Detail berupa logo pribadi kolaborator 5 yang ditempatkan di bagian upper oleh desainer.
Sumber: Data Penulis
Tabel II sampai dengan Tabel VI menjelaskan secara detail peranan personal grup musik SK sebagai kolaborator terhadap hasil akhir desain dari sneakers kolaboratif yang diciptakan. Dari segi proses desain produk
sepatu secara keseluruhan yang mengacu pada literatur yang ada di bagian pembahasan juga berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dijelaskan pada Gambar 3.

Gambar 2 Proses Desain Kolaborasi Sumber: Data Penulis, disadur dari (Pelizzari dalam Luximon, 2013) dan (Govella, 2019)

Gambar 3 Proses desain produk kolaboratif A dengan SK Sumber: Data Penulis
Dari segi proses dalam setiap perusahaan tentu memiliki tahapan masing-masing dalam merancang sebuah produk, namun secara garis besar proses yang dilakukan tetaplah sama. Dapat dilihat dari gambar di atas pada proses yang dilakukan saat perancangan produk kolaborasi. Antara produsen dan kolaborator telah melakukan tahapan proses secara bersamaan, namun hal utama yang tidak kalah penting terdapat pada elemen kolaborasi yang mempengaruhi setiap tahapan proses desain tersebut. Dalam salah satu elemen kolaborasi yaitu 'Pemahaman yang sama' produsen dan kolaborator tidak menerapkan hal tersebut. Terdapat dua jenis sneakers yang menghasilkan kesan yang berbeda dalam satu rangkaian produk kolaborasi. Penggunaan produk existing sah dilakukan dalam proses perancangan produk kolaborasi, namun dalam kasus A dengan SK keduanya dari segi citra yang ada di masyarakat merupakan kedua hal yang berbeda.
Berikut merupakan temuan yang didapatkan dari penelitian:
- a. Sebagian besar unsur visual yang ada pada sneakers ditentukan oleh kolaborator.
- b. Pemilihan jenis sneakers yang berbeda merupakan salah satu bentuk ketidaksamaan antara proses desain dan prinsip pada elemen kolaborasi, yaitu memiliki pemahaman yang sama.
- c. Terdapat produk yang dalam proses desainnya, desainer hanya memvisualkan kemauan kolaborator. Desain yang ada tidak berasal dari eksplorasi lebih lanjut terkait kolaboratornya dengan hanya mengaplikasikan logo pada upper. Contoh: SK 3
- d. Beberapa produk hanya memenuhi kebutuhan kolaborator dalam menggunakan sneakers. Misalnya pada SK 1 dengan kebutuhan untuk jogging dan panggung.
SIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa visual logo dari SK yang sudah melekat di benak penggemar maupun masyarakat dengan tingkat awareness yang tinggi tidak ditemukan dalam produk secara keseluruhan. Jenis sneakers berbeda yang digunakan pada produk kolaborasi merek A dengan grup musik SK memunculkan karakter yang berbeda, pada sneakers dengan silhouette runners sesuai dengan A sebagai merek sepatu olahraga dan canvas vulcanized yang sesuai dengan karakter grup musik SK. Beberapa produk dalam proses desainnya, desainer memvisualkan kemauan kolaborator. Desain yang ada tidak berasal dari eksplorasi lebih lanjut terkait kolaboratornya.
Pada paragraf sebelumnya dijelaskan dari sisi produsen-produsen sneakers lokal dalam negeri dapat menjadi salah satu rekomendasi dalam perancangan produknya, terutama untuk produk dengan pendekatan kolaborasi. Dari sisi bidang keilmuwan diharapkan penelitian ini dapat membuka penelitian-penelitian baru di masa yang akan datang. Terutama penelitian terkait dengan dampak dari produk kolaboratif terhadap sebuah merek dari segi penjualan, pengguna, dan juga citra produk dilihat dari sisi konsumen pada objek yang sama maupun produk-produk kolaboratif dalam negeri lainnya. Juga melihat masih sedikitnya jumlah penelitian terkait dengan produk-produk dalam negeri terutama sneakers, baik itu berupa sneakers kolaboratif maupun yang nonkolaboratif.
DAFTAR PUSTAKA
- Govella, A. (2019). Collaborative Product Design: Help Any Team Build a Better Experience. Sebastopol: O'Reilly Media.
- Kaho, J.R. (2019, Desember 10). 10 Alasan Ini Jadi Bukti Slank Bakal Tetap Melegenda Sampai Kapanpun. Dikutip dari: https:// www.brilio.net/life/10-alasan-ini-jadibukti-slank-bakal-tetap-melegendasampai-kapan-pun-150828t.html
- Keyser, A. (2015): Sneaker century : a history of athletic shoes, Minneapolis: Twenty-First Century Books.
- Luximon, A. (Ed.). (2013). Handbook of footwear design and manufacture. Elsevier.
- Sanders, E. B. N., & Stappers, P. J. (2008). Cocreation and the new landscapes of design. Co-design, 4(1), 5-18.
- Steen, M., Manschot, M., & De Koning, N. (2011). Benefits of co-design in service design projects. International Journal of Design, 5(2).
- Strähle, J. (2018): Springer Series in Fashion Business Fashion & Music, (J. Strähle, Ed.), 1 ed., Springer Singapore.
