ABSTRAK
Pariwisata pantai merupakan kegiatan wisata yang memiliki daya tarik alam yang memikat, namun rentan dengan risiko dampak lingkungan yang timbul. Penelitian dilakukan pada dua lokasi, Pantai Kuta dan Pantai Ancol dengan membandingkan pengelolaan zona pesisir yang terintegrasi. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder berupa informasi-informasi dari berita online yang dideskripsikan dengan pendekatan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan terdapat beberapa persamaan dan perbedaan cara pengelolaan zona pesisir terintegrasi yang disesuaikan dengan karakteristik tipologi pantai dan dampak lingkungannya.
Kata kunci: karakteristik, dampak pariwisata pantai, Integrated Coastal Management (ICM).
PENDAHULUAN
Kawasan pesisir yang merupakan pertemuan dua karakteristik alam yang berbeda yaitu daratan dan perairan adalah destinasi pariwisata yang potensial. Pengalaman yang didapatkan para wisatawan pada kawasan ini memuaskan semua indrawi: indra penglihatan dengan keindahan dan karakteristik alamnya; indra pendengaran dengan desiran suara ombak dan suara hewan yang masih menetap di kawasan pesisir tertentu; indra penciuman dengan aroma laut atau perairan lainnya; serta indra peraba seperti hangatnya matahari, tiupan angin, lembutnya pasir pantai dan lain-lain. Wisatawan bersedia membayar mahal untuk menikmati akomodasi dan pemandangan pantai (White et al., 2010). Hal-hal tersebut yang menjadikan kawasan pesisir memiliki daya tarik wisata yang tidak akan lekang oleh waktu. Berbagai bentuk aktivitas dan pembangunan dilakukan guna meningkatkan dan menambah nilai wisata di kawasan pesisir.
Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.083 km dan merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Transisi antara daratan dan lautan membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia. Konsekuensi dari tekanan terhadap pesisir ini adalah masalah pengelolaan yang berasal dari konflik pemanfaatan yang timbul sebagai akibat dari berbagai kepentingan yang ada di kawasan pesisir. Dengan panjang garis pantai yang dimiliki Indonesia maka pengelolaan kawasan pesisir pun disesuaikan dengan pemanfaatan yang berlaku di atasnya, bergantung pada keunikan, potensi, fisik pesisir, serta dampak lingkungan yang timbul dan masyarakat lokalnya.
Kawasan pesisir yang kaya sumber daya alam dan ekosistem yang produktif menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik luar biasa untuk dimanfaatkan. Aktivitas pemanfaatan cenderung berlebihan dan merusak ekosistem yang ada sehingga semakin hari semakin rusak dan menurunkan kualitas fungsi ekosistem. Beberapa alasan terkait sifat sumber daya pesisir seperti: wilayah yang paling tertekan karena berbagai kegiatan pembangunan dan dampak pembangunan; wilayah yang kurang diperhatikan; dilihat dari ketersediaan sarana dan prasarana umum; paling mudah diakses secara geografis; paling mudah berubah karena sifat-sifat biofisiknya; pertambahan penduduk yang tinggi dan rendahnya kualitas penduduk di kawasan ini menjadikan tempat berkembangnya kriminalitas (Bengen, 2001).
Aktivitas pemanfaatan di kawasan pesisir harus diselaraskan dengan pengelolaannya agar pembangunan pariwisata di kawasan pesisir dapat berkelanjutan. Diperlukan pemahaman dan penguasaan kawasan pesisir sesuai dengan karakteristiknya, antara lain: ekosistem yang produktif (estuaria, daerah genangan, terumbu karang); kekayaan sumber daya hayati (mangrove, ikan, bahan tambang/mineral); pengaruh alam yang dinamis (erosi, akresi, badai gelombang, sedimentasi); kepadatan permukiman di pesisir; kawasan yang mudah dan cocok untuk dijadikan pelabuhan, fasilitas industri, pengembangan kota, pariwisata, penelitian, pertanian bahkan pembuangan limbah.
Pantai Ancol di Jakarta dan Pantai Kuta di Bali merupakan contoh beberapa pantai di Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara secara masif. Untuk itu dibutuhkan perhatian lebih dalam pengelolaan destinasi wisata sesuai prinsip wisata berkelanjutan. Pantai Ancol dikelola oleh PT. Taman Impian Jaya Ancol, yang memanfaatkan kegiatan wisata berdasarkan pembagian zonasi dan tapaknya, sedangkan Pantai Kuta dikelola oleh masyarakat adat Legian dan didukung penyediaan fasilitas oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Badung. Penyediaan fasilitas dan penanganan masalah merupakan respons terhadap masalah yang telah ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengelolaan pantai yang dikelola oleh pemangku kepentingan yang berbeda terhadap karakteristik pantai dan dampak lingkungannya.
Beberapa penelitian sebelumnya mengenai Pantai Ancol, antara lain Pengaruh Karakteristik Lingkungan dan Perilaku Pengunjung Lain Terhadap Persepsi Kesesakan dan Implikasinya Kepada Kepuasan Pengunjung di Pantai Ancol (Zidany, 2020), dan penelitian tentang
Dampak Pengunjung Kawasan Wisata terhadap Kelestarian Sumber Daya Pantai Ancol (Amelia, 2009). Begitu juga penelitian sebelumnya di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, yaitu Karakteristik dan Persepsi Kenyamanan Wisatawan Mancanegara di Pantai Kuta Bali (Bali, 2017). Namun belum dibahas bagaimana integrasi stakeholders mengelola dampak yang timbul dari kegiatan wisata pantai berdasarkan karakteristiknya melalui pendekatan ICM.
TINJAUAN PUSTAKA
Integrated Coastal Management (ICM)
Integrated Coastal Management (ICM) adalah proses berkelanjutan, dinamis, berulang, adaptif, dan partisipatif yang ditandai dengan strategi terpadu yang dikembangkan dan diterapkan untuk alokasi sumber daya lingkungan, sosial budaya, dan kelembagaan untuk mencapai konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari zona pesisir. Selain itu, ICM mempertimbangkan
perspektif budaya dan sejarah tradisional serta kepentingan dan penggunaan yang saling bertentangan (Westmacott, 2002; Château, 2015).
ICM mencakup siklus pengelolaan wilayah pesisir termasuk bagaimana mempersiapkan, memulai, mengembangkan, mengadopsi, melaksanakan, menyempurnakan dan mengkonsolidasikan program atau proyek. Siklus yang kompleks ini telah diringkas dan diilustrasikan pada Gambar 1 berdasarkan pengalaman dan pemahaman dari lokasi percontohan serta dari inisiatif nasional dan internasional lainnya (Cicin-Sain, 1993; Thia-Eng, 2002). Selanjutnya, siklus tersebut dapat direplikasi ke wilayah pesisir lainnya karena elemen penting dari proses ICM telah disempurnakan, diuji, dimasukkan dan dikemas ke dalam model kerja. Siklus tersebut dapat memberikan kemampuan untuk menilai kemajuan dan kinerja ICM.

Gambar 1 Siklus Pengembangan dan Implementasi Program ICM Sumber: Thia-Eng (2002)
Di wilayah pesisir yang padat penduduk, Integrated Coastal Management (ICM) berfokus pada sejumlah faktor yang meliputi:
- 1. Fungsi dan skala kegiatan ekonomi yang sedang terjadi dan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Sebagai contoh: potensi wilayah pesisir sebagai pelabuhan, lokasi produksi industri, lokasi sumber daya tak terbarukan (yaitu mineral) untuk pertanian, budidaya, dan pariwisata.
- 2. Peran nasional wilayah pesisir. Hal ini termasuk sejauh mana kawasan tersebut harus dipertahankan sebagai kawasan lindung, retensi atau untuk kegiatan pertanian, urbanisasi, keperluan militer, tujuan pariwisata, industri dan pengembangan kawasan multiindustri, atau multifungsi.
- 3. Peran pariwisata, keruangan, dan sumber daya yang dibutuhkannya terkait perekonomian wilayah pesisir.
- 4. Ekosistem pesisir termasuk keunikan, kerapuhan, kompleksitas, keberlanjutan dan kerentanannya terhadap perubahan, dan tingkat eksploitasi.
- 5. Pengelolaan limbah, pembuangan sampah dan limpasan pertanian, dan industri.
- 6. Aspirasi sosial dan ekonomi warga sekitar, baik saat ini maupun di masa depan. Hal ini meliputi kualitas air, transportasi, pekerjaan, polusi, dan akses ke layanan sosial.
- 7. Alokasi lahan untuk reservasi sebagai kawasan lindung.
- 8. Tata kelola termasuk koordinasi politik dan kebijakan ICM di lapangan.
- 9. Isu-isu masa depan termasuk perubahan iklim, meningkatnya kelangkaan air, minyak, perubahan pola konsumsi, penurunan tingkat kesuburan di sebagian besar negara maju, dan penyelesaian untuk ruang terbatas.
Bentuk dan Jenis Pariwisata Pesisir
Hall (2001) memberikan definisi terkait dengan wisata pesisir sebagai berikut:
'. . . the full range of tourism, leisure, and recreational activities that take part in the coastal zone and the offshore waters. These include coastal tourism development (accommodation, restaurants, food industry, and second homes), and the infrastructure supporting coastal development (e.g. retail businesses, marinas and activity suppliers). Also included are tourism activities such as recreational boating, coastal and marinebased ecotourism, cruises, swimming, recreational fishing, snorkeling and diving'
Berdasarkan penjabaran tersebut, Hall menggambarkan wisata pantai sebagai rangkaian kegiatan berwisata, bersenang-senang, dan berekreasi yang berlangsung di wilayah pesisir dan perairan lepas pantai. Hal ini termasuk pengembangan pariwisata pesisir (akomodasi, restoran, dan industri makanan), dan infrastruktur yang mendukung pengembangan pesisir (misalnya bisnis ritel, marina, dan pemasok aktivitas). Selain itu, wisata pantai meliputi kegiatan pariwisata seperti rekreasi berperahu, ekowisata berbasis pesisir dan laut, kapal pesiar, berenang, rekreasi memancing, snorkeling, dan menyelam.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan pariwisata pesisir yang sebelumnya hanya berfokus pada daerah pinggiran kemudian bergeser pada daerah perkotaan. Meskipun tidak mungkin ada pengurangan skala pariwisata di sektor resor, pantai tradisional yang berada di pinggiran, pariwisata di kota-kota pesisir ikut berkembang dan memungkinkan akan mengungguli jumlah pengunjung resor pantai secara signifikan. Di masa lalu, resor pantai dikembangkan sebagai respons terhadap peningkatan waktu luang, peningkatan pendapatan, dan keinginan untuk terlibat dalam aktivitas dengan suasana yang berbeda dengan rutinitas sehari-hari.
Di kota-kota zona pesisir yang sedang berkembang, faktor-faktor yang sama terus
dikembangkan, tetapi juga dilengkapi dengan faktor-faktor lain termasuk kesehatan, pendidikan, kunjungan pada teman dan kerabat, bisnis, belanja, dan berbagai kegiatan lainnya. Selanjutnya, di masa lalu hotel didirikan di sekitar terminal , kawasan bisnis, dan resor yang berdekatan dengan pantai. Sementara, pembangunan hotel-hotel di kota pesisir ini dipindahkan dari zona pantai ke lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk masuk ke kawasan bisnis, zona hiburan, bandara, dan kawasan perbelanjaan.
Prideaux (2009) mengilustrasikan tipologi yang mencakup jenis-jenis kota pesisir yang dianggap sebagai tujuan wisata yang dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa kota pesisir memiliki beberapa fungsi utama yang berbeda dan tidak semuanya berhubungan langsung dengan kegiatan pariwisata. Terdapat kota yang fungsi utamanya adalah sebagai kota pelabuhan, pusat administrasi, militer, hingga kota pesisir yang memiliki beberapa fungsi (multi-function). Selain itu, terdapat kota pesisir yang memang berfungsi sebagai kegiatan pariwisata yang terintegrasi atau yang mengubah fungsi utamanya menjadi fungsi pariwisata.
Selanjutnya, jika dikaitkan dengan kegiatan pariwisata di wilayah pesisir, kota pesisirdapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama
TABEL I TIPOLOGI DESTINASI WISATA PANTAI
| Fungsi Utama | Aktivitas | Contoh | ||
|---|---|---|---|---|
| Multi-function | Pelabuhan, manufaktur, administrasi, perdagangan, distribusi dan pariwisata | Hongkong, New York, Boston (USA), London, Singapore | ||
| Port | Perdagangan, maritim, kegiatan, dan manufaktur | Rotterdam (Netherlands), Antwerp (Belgium), Osaka (Japan) | ||
| Administrative Capital | Industri pelabuhan, administrasi | Port Moresby (PNG), Port Villa (Vanuatu) | ||
| Manufacturing centre | Berkaitan dengan manufaktur dan distribusi | Gladstone (Australia) | ||
| Traditional seaside town | Fokus pantai dilengkapi dengan berbagai kegiatan termasuk berbelanja, taman hiburan, dan dining | Brighton (UK), Blackpool (UK) | ||
| Service city | Termasuk keuangan, grosir, pendidikan Shenxeum and Zhongshan in the Pearl Delta China | |||
| Historic city | Maritime heritage | Dubrovnik (Croatia), Malacca (Malaysia) | ||
| Transport hub | Seringkali terletak di dalam zona pesisir dan dianggap sebagai pertukaran transportasi | Bristol (UK) | ||
| Military | Peran pertahanan | Gibraltar, Aden | ||
| Intregated coastal resort | Dirancang khusus sebagai resort wisata | Nusa Dua (Indonesia), Cancun (Mexico) | ||
| Transformed Fishing/ Port Village | Fungsi asli pelabuhan perikanan dan/ atau kargo diubah untuk kepentingan pariwisata | Cabo San Lucas (Mexico), Padstow (Cornwall, UK) | ||
| Sumber: Prideaux (2000) | ||||
Sumber: Prideaux (2009)
dan dalam setiap kategori dimungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai jenis kegiatan tertentu (Hall, 2001):
- 1. Urban (perkotaan)mengacu pada kegiatan yang berfokus pada kota seperti belanja, hiburan, rekreasi, kesehatan, kesejahteraan, dan heritage.
- 2. Resort(resor) berkaitan dengan empat S yaitu sea, sand, sun, dan sex, yang menjadi bagian penting dari industri pariwisata pantai global. Resort pantai akan terus bermunculan baik di negara berkembang maupun di negara maju dan memberikan pengalaman liburan dengan gaya massal.
- 3. Nature (alam), kegiatan yang termasuk dalam kategori ini sangat bervariasi seperti berjalan di atas pantai, bermain kano, berburu, berkemah, memancing, berperahu dan mengamati burung.
- 4. Marine (laut), kegiatan pada kategori ini dilakukan di permukaan atau pun di dalam laut seperti memancing di laut, berperahu, menyelam, snorkeling, dan berlayar.
Dampak Aktivitas Pariwisata Pesisir
Di balik dampak positif yang diberikan atas keberadaan kegiatan pariwisata pada kawasan pesisir khususnya pada perekonomian masyarakat sekitar, terdapat dampak berbahaya yang ditimbulkan terkait dengan lingkungan fisik dan laut (Baines, 1987; Hanna, 1992). Pengembangan pariwisata yang tidak direncanakan dan dikelola dengan buruk dapat menjadi faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam. Selain itu, penelitian sebelumnya juga menemukan dampak wisata di lingkungan tertentu atau pada spesies tertentu.
Damodaran (2006) menunjukkan bahwa peningkatan minat dalam pengembangan pariwisata melibatkan tantangan untuk menyeimbangkan tujuan konservasi dan keadilan sosial dengan pembangunan ekonomi. Damodaran (2006) mengamati bahwa pembangunan pada kawasan pesisir telah berkontribusi pada disintegrasi masyarakat pesisir yang telah menyebabkan rusaknya mata pencaharian masyarakat lokal yang bergantung pada kawasan pesisir. Selanjutnya, Ortiz-Lozano et al. (2005) menemukan bahwa ada sejumlah masalah sosial dan ekologi yang serius terkait dengan pengembangan pariwisata di zona pesisir. Hal ini termasuk tekanan pada sumber daya alam dari sejumlah besar resor pantai yang telah dibangun tanpa pertimbangan yang tepat dari dampaknya terhadap lingkungan sekitar, perusakan habitat, dan permasalahankualitas air. Burak et al. (2004) juga menyoroti dampak pembangunan pariwisata yang tidak terkendali terhadap ekologi pesisir. Terganggunya keseimbangan ekologi akibat pencemaran perairan pesisir telah menimbulkan eutrofikasi lokal, sedangkan pembangunan marina berdampak besar terhadap flora dan fauna pesisir. Di darat, permintaan yang berlebihan untuk reservoir air tanah telah menurunkan permukaan air pantai yang menyebabkan intrusi air laut ke akuifer pantai.
Secara keseluruhan Hall (2001) menjelaskan dampak lingkungan dan ekologi yang timbul dari kegiatan pariwisata yang meliputi:
- 1. degradasi dan pencemaran lingkungan,
- 2. kerusakan ekosistem,
- 3. hilangnya sumber daya pesisir dan laut,
- 4. pencemaran pantai, dan
- 5. pengalihan air tanah dan air permukaan.
Selain dampak negatif pada lingkungan pengembangan pariwisata di kawasan pesisir juga dapat berdampak pada sosial dan moral masyarakat yang meliputi:
- 1. hilangnya warisan binaan,
- 2. hilangnya mata pencaharian,
- 3. menurunnya ketahanan masyarakat lokal,
- 4. gangguan budaya, dan
- 5. meningkatnya kejahatan.
METODE
Penelitian ini bertujuan untuk melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang ada. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan studi kasus yang dideskripsikan secara kualitatif yang ditujukan untuk membandingkan suatu variabel (objek
penelitian), antara subjek yang berbeda. Selain itu, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan mengumpulkan berbagai informasi dari sumber-sumber lain secara online atau pasif yang kemudian dianalisis berdasarkan review literature yang telah dilakukan (Ballinger et al., 2010; Ehler, 2003; Pickaver et al., 2004; Trumbic et al., 1997; UNESCI-IOC, 2006).
Penelitian ini menggunakan beberapa elemen untuk membandingkan antar subjek penelitian yaitu elemen geomorfologi, Integrated Coastal Management (ICM), tipologi, kegiatan, dan dampak dari wisata pesisir yang diadaptasi dari Hall (2001). Subjek dalam penelitian ini adalah Pantai Kuta yang berada di Denpasar, Bali dan Pantai Ancol yang berada di Jakarta. Pendekatan ICM digunakan dalam penelitian ini karena komponen-komponen ICM yang digunakan mengarahkan adanya integrasi stakeholders secara efektif dalam pengambilan keputusan dalam menangani isu lingkungan di kawasan pesisir (Thia Eng, 2002; Stojanovic, 2008).
HASIL DAN PEMBAHASAN Pantai Kuta
Pantai Kuta adalah salah satu pantai terpopuler yang terpadat di Bali. Pantai ini berada di sebelah Barat Daya dari Pulau Bali tepatnya di Kelurahan
Kuta, Kecamatan Kuta. Pantai Kuta termasuk pantai landai yang memiliki kemiringan 0°-30° dan termasuk jenis pantai Resor.
Aktivitas yang dapat dilakukan di Pantai Kuta yaitu bersantai, berselancar, dan menikmati matahari terbenam, bermain di taman rekreasi air dengan wahana lengkap, menikmati hiburan malam, berfoto di Museum Foto Tiga Dimensi dan ruang terbalik, menikmati suasana kuliner romantis, sensasi berfoto dengan pakaian adat Bali, menyaksikan permainan sulap di Kuta Theater, dan berbelanja oleh-oleh khas Bali.
Adanya aktivitas pariwisata ini memberikan beberapa dampak negatif untuk lingkungan Pantai Kuta di antaranya sebagai berikut.
- 1. Sampah kiriman dan bangkai ikan setiap musim barat serta limbah yang disebabkan oleh faktor perbuatan manusia yang mempercepat terjadinya proses pemanasan global.
- 2. Abrasi yang terjadi disebabkan pembangunan fasilitas pariwisata yang tidak terencana dengan baik dan mendesak sempadan pantai, pembangunan krib (groin) yang tidak terencana dengan baik, serta pengikisan terhadap vegetasi alami yang ada di sepanjang pesisir Pantai Kuta. Selain itu, kenaikan muka air laut akibat
Gambar 2 Peta Kawasan Pantai Kuta (Sumber: SMPK)
- pemanasan global juga disinyalir menjadi penyebab abrasi.
- 2. Kondisi perairan yang kurang baik, zat kimia dan mikrobiologi telah melampaui ambang batas yang ditetapkan baik di musim hujan maupun musim kemarau.
Selain dampak lingkungan, aktivitas pariwisata yang mendatangkan wisatawan dari segala penjuru daerah bahkan negara memberikan dampak negatif juga terhadap aspek sosial dan budaya masyarakat sekitar Pantai Kuta, yaitu:
- 1. Overcrowding and loss of Amenities for residents merupakan hilangnya garis batas antara penduduk lokal di sekitar kawasan wisata dengan wisatawan yang terlalu banyak mengakibatkan hilangnya kenyamanan bagi penduduk. Hal ini akibat dari adanya pihak yang menginginkan peningkatan kunjungan wisatawan sehingga menimbulkan kawasan wisata ramai dan padat dengan berbagai aktivitas.
- 2. Cultural impacts merupakan akibat mengkomersilkan budaya yang dimiliki sebagai daya tarik wisata dan menyuguhkannya sesuai dengan keinginan wisatawan, tanpa disadari budaya tersebut dan sekitarnya mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perubahan
- daya tarik wisata yang dimiliki Bali, seperti gaya arsitektur, bentuk dan bahan material, dan fungsi bangunannya. Hal ini mengakibatkan warisan budaya yang dimiliki semakin terkikis keberadaannya, nilai historis pun semakin menghilang.
- 3. Social Problems merupakan budaya negatif yang timbul akibat adanya pariwisata, salah satunya yaitu budaya masyarakat yang berubah dan cenderung lebih berorientasi pada uang (money oriented) serta kecenderungan masyarakat berperilaku konsumtif.
Pantai Ancol
Pantai Ancol merupakan salah satu kawasan wisata yang popular di DKI Jakarta karena pantai ini terletak di dalam kota Jakarta, tepatnya berada di dalam kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol. Pantai ini dibangun berdasarkan konsep kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol. Pantai Ancol termasuk pantai landai yang memiliki kemiringan 0°-30° dan termasuk pantai jenis urban.
Aktivitas yang dapat dilakukan di Pantai Ancol antara lain menikmati keseruan wahana wisata bahari meliputi kayak, swan pedal boat, banana boat, dan donut boat, atau berenang di Pantai Beach Pool atau Ancol Lagoon. Salah satu pantai yang ada di Ancol ini memiliki dataran yang landai sehingga aman untuk berenang atau bersantai di bibir pantai.. Terdapat taman untuk bermain anak-anak, bersepeda ataupun berlarilari ringan sambil menikmati keindahan pantai untuk melihat matahari terbenam di dermaga cinta. Tersedia juga berbagai aneka wisata kuliner restoran maupun kafe yang bisa dinikmati pengunjung yang ingin bersantai. Pengunjung dapat menonton festival musik, adat, seni, budaya, dan perayaan hari besar, berbelanja, naik wahana wisata gondola, menikmati wisata pasar seni yang menawarkan berbagai macam hasil kerajinan karya seni,, Selain itu, terdapat akademi seni yang siap memberikan perlatihan kesenian kepada wisatawan dan wisata edukasi Faunaland untuk melihat hewan-hewan langka.
Aktivitas pariwisata di Pantai Ancol memberikan dampak positif bagi sektor perekonomian. Akan tetapi, banyaknya wisatawan yang berkunjung dapat memberikan dampak negatif di antaranya sebagai berikut. Peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun disertai dengan peningkatan jumlah volume sampah. Pengunjung yang datang akan turut menyumbangkan jumlah volume sampah yang terdapat di Pantai Ancol. Terdapat beberapa
industri yang membuang limbah ke aliran sungai di sekitar kawasan Ancol. Sebelah Utara Jakarta memiliki beberapa industri yang menghasilkan limbah yang terbawa oleh kali di sekitar Ancol. Limbah tersebut memengaruhi daerah Pantai Ancol, yang memiliki standar baku mutu yang berbeda dengan yang diperuntukkan untuk industri.
- 1. Beragam jenis kegiatan yang terdapat di Pantai Ancol mengakibatkan pembangunan yang terus berlanjut merusak kelestarian Pantai Ancol.
- 2. Kenaikan pola mass tourism dari desa ke kota sehingga terjadi overload carrying capacity pada Pantai Ancol terutama pada puncak musim liburan (high season).
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan terkait dengan perbandingan antara pengembangan wisata dan dampak yang disebabkan dari kegiatan wisata yang dilakukan pada Pantai Kuta dan Pantai Ancol, berikut merupakan ringkasan yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
TABEL II ANALISIS KOMPARASI WISATA PESISIR
| Kriteria | Spesifikasi | Pantai Kuta | Pantai Ancol |
|---|---|---|---|
| Geomorfologi | Landai / Tebing / Karang Natural / Buatan | Landai, Natural | Landai, Buatan |
| Integrated Coastal Management (ICM) | Penilaian Lingkungan Daya dukung Penegakan kebijakan Perhatian terhadap konservasi dan keberlanjutan ekonomi dan biologis | Fasilitas tersedia baik Pengunjung yang datang melebihi daya tampung Belum terimplementasi dengan baik Masih rendah | Fasilitas tersedia baik Pengunjung masih dibawah daya tampung Cukup terimplementasi dengan baik Masih rendah |
| Tipologi Destinasi | Integrated coastal resort | ||
| Kegiatan | Urban / Marine / Resort / Nature | Resort, Nature | Urban, Marine |
| Kriteria | Spesifikasi | Pantai Kuta | Pantai Ancol |
|---|---|---|---|
| Dampak | Penilaian lingkungan | Sampah kiriman dan bangkai ikan setiap musim barat. Terdapat pencemaran air yang ditandai telah terlampaui ambang batas kimia yang ditetapkan. Limbah cair yang berasal dari hotel dan pemukiman penduduk kawasan Kuta. Terjadi abrasi pantai. Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global. | Terjadi peningkatan volume sampah akibat kunjungan wisatawan. Kondisi perairan Pantai Ancol yang mengandung zat kimia berbahaya, yang telah melampaui daya dukung. Pembuangan limbah dari industri sekitar pantai. Terjadi abrasi pantai. Kenaikan muka air laut karena penurunan muka tanah Jakarta setiap tahunnya. |
| Penilaian sosial dan moral | Budaya masyarakat yang berubah cenderung lebih money oriented dan berperilaku konsumtif. Westernisasi yang mengakibatkan masalah sekular terhadap masyarakat lokal. Hilangnya batas antara penduduk lokal dengan wisatawan yang mengakibatkan hilangnya kenyamanan bagi penduduk. | Terjadi overload carrying capacity di Pantai Ancol terutama saat puncak musim liburan (high season). Standar hidup masyarakat khususnya di Jakarta Utara semakin tinggi sehingga mengakibatkan indikasi aktivitas illegal pun tinggi. |
(Sumber: Diolah oleh peneliti (2021))
SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan di balik daya tarik pesisir pantai yang begitu kuat, terdapat berbagai ancaman masalah akibat dampak dari aktivitas yang dilakukan. Tempat-tempat seperti yang telah disebutkan ditambah contoh studi kasus akan selalu didatangi pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Perlu ada gerak cepat untuk antisipasi terhadap ancaman dan dampak yang ditimbulkan dengan pengelolaan dan manajemen pesisir yang bersinergi dan saling terintegrasi.
Konsep ICM adalah pendekatan pengelolaan yang ditawarkan pada kawasan pesisir. Dengan mengintegrasikan potensi pesisir (daya tarik wisata), kerentanan ekosistem, regulasi yang mengatur, dan sosial budaya masyarakat lokal sehingga terwujud opsi-opsi strategi perencanaan untuk mempertahankan, membangun, dan melindungi kawasan wisata pesisir yang berkelanjutan. Selain itu, komponen penting dalam konsep ICM adalah partisipasi antarstakeholders (King & Hyder Consulting, 1999; Driessen et al., 2001) yang berbasis proses, hasil, dan pengguna sasaran (Laurian, 2008)
Hasil analisis menunjukkan terdapat beberapa persamaan dan perbedaan cara pengelolaan zona pesisir yang terintegrasi sesuai dengan karakteristik tipologi pantai dan dampak lingkungan yang terjadi. Kedua studi kasus menunjukkan belum efektifnya pengelolaan destinasi wisata dan penanganan dampak lingkungan karena belum terjalinnya integrasi partisipasi antarstakeholders. Perlu kerjasama antara pemerintah, pengelola destinasi dan masyarakat sekitar untuk turut aktif mengawasi, mengevaluasi perencanaan, dan pembangunan, serta mengendalikan aktivitas yang terjadi pada destinasi wisata agar ekosistem pesisir tetap terjaga dan meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
- Amelia, L. (2009). Dampak pengunjung kawasan wisata terhadap kelestarian sumberdaya pantai Ancol, Jakarta Utara.
- Baines GBK., Manipulation of islands and men: sand-cay tourism in the South Pacific, Ambiguous Alternative: Tourism in Small Developing Countries, Britton S, Clarke WC, eds., p. 16–24, 1987.
- Bali, W. M. D. P. K. Karakteristik dan persepsi kenyamanan. Jurnal IPTA p-ISSN, 5(1), 2017.
- Ballinger, R., Pickaver, A., Lymbery, G., & Ferreria, M. (2010). An evaluation of the implementation of the European ICZM principles. Ocean & Coastal Management, 53(12), 738-749.
- Bengen DG. (2001). Pedoman teknik pengenalan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Bogor: Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut IPB.
- Burak, S., Dogan, E., & Gazioglu, C., Impact of urbanization and tourism on coastal environment, Ocean and Coastal Management, 47, p. 515–527, 2004.
- Château, P. A., Huang, Y. C. A., Chen, C. A., & Chang, Y. C. (2015). Integrated assessment of sustainable marine cage culture through system dynamics modeling. Ecological Modelling, 299, 140-146.
- Cicin-Sain, B. (1993). Sustainable development and integrated coastal management. Ocean & coastal management, 21(1-3), 11-43.
- Damodaran, A., Coastal resource complexes of South India: options for sustainable management, Journal of Environmental Management, 79, 64–73, 2006.
- Driessen, P. P., Glasbergen, P., & Verdaas, C. (2001). Interactive policy-making–a model of management for public works. European Journal of Operational Research, 128(2), 322-337.
- Ehler, C. N. (2003). Indicators to measure governance performance in integrated coastal management. Ocean & Coastal Management, 46(3-4), 335-345.
- Hall CM., Trends in ocean and coastal tourism: the end of the last frontier? Ocean & Coastal Management, 44(9), 601–618, 2001.
- Hanna N & Wells S, Sea sickness. Focus (Tourism Concern), p. 4–6, 1992.
- King, G. (1999). Participation in the ICZM Processes: Mechanisms and Procedures needed. Thematic Study for the European Demonstration Programme on ICZM.
- Laurian, L., & Shaw, M. M. (2009). Evaluation of public participation: The practices of certified planners. Journal of planning education and research, 28(3), 293-309.
- Ortiz-Lozano, L., Granados-Barba, A., Solis-Weiss, V., & Garcia-Salgado, M., Environmental evaluation and development problems of the Mexican Coastal Zone, Ocean and Coastal Management, 48, p. 161–176, 2005.
- Pickaver, A. H., Gilbert, C., & Breton, F. (2004). An indicator set to measure the progress in the implementation of integrated coastal zone management in Europe. Ocean & Coastal Management, 47(9-10), 449-462.
- Prideaux, B., Resort destinations: Evolution, management and development, Routledge, 2009.
- Stojanovic, T., & Barker, N. (2008). Improving governance through local coastal partnerships in the UK. Geographical Journal, 174(4), 344-360.
- Thia-Eng, C., Coastal strategy: A holistic, integrative approach for sustainable coastal development, The Coastal Zone Asia Pacific conference (CZAP 2002), 2002.
- Trumbic, I., Hatziolos, M., Coccossis, H., Henocque, Y., Jeftic, L., Juhasz, F., & Kalaora, B. (1997). Assessment of integrated coastal area management initiatives in the Mediterranean: experiences from METAP and MAP (1988-1996). Athens: METAP/MAP/PAP. pp xiii, 58.
- UNESCO-IOC. (2006). A Handbook for measuring the progress and outcomes of integrated Coastal and Ocean Management.
- Westmacott, S., Where should the focus be in topical integrated coastal management? Coastal Management, 67-84, 2002.
- White, M., Smith, A., Humphryes, K., Pahl, S., Snelling, D., & Depledge, M. (2010). Blue space: The importance of water for preference, affect, and restorativeness ratings of natural and built scenes. Journal of Environmental Psychology, 30(4), 482- 293.
- Zidany, N. A. (2020). Pengaruh karakteristik lingkungan dan perilaku pengunjung lain terhadap persepsi kesesakan dan implikasinya kepada kepuasan pengunjung di pantai ancol (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia).
