INFO ARTIKEL
Kata kunci:
komunikasi dental hypnosis, ansietas dental, dental hypnosis, linguistik hypnosis
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis hubungan linguistik dengan dental hypnosis dengan membandingkan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan a scoping review yang berpedoman pada Joana Briggs Institute, 2020. Pencarian artikel menggunakan database elektronik (Pubmed, google scholar, clinicalkey) dengan memasukkan kata kunci sesuai topik yang diteliti, yaitu "dental anxiety", "dental hypnosis", "communication for dental hypnosis", dan "linguistic for hypnosis". Artikel yang dikumpulkan adalah artikel yang terbit pada 2000-2020. Pengumpulan artikel dilakukan pada 20 – 27 Februari 2021. Pada pencarian data awal diperoleh 249 artikel. Artikel diseleksi dan direduksi dengan memerhatikan kelengkapan isi artikel, yaitu berisi tanggal dan nama penulis, metode penelitian yang digunakan, sampel, hasil penelitian yang sesuai dengan topik penelitian, dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelusuran tersebut menghasilkan sepuluh artikel yang berkaitan langsung dengan penelitian. Sepuluh artikel yang telah dianalisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara terapi dental hypnosis dengan linguistik.
Pendahuluan
Ansietas dental memiliki prevalensi yang tinggi. Hal ini menyebabkan pasien yang mengalami ansietas dental takut mengunjungi dokter gigi (Hmud & Walsh, 2018). Di Indonesia, sebuah penelitian yang dilakukan pada responden dengan rentang usia 16-43 tahun melaporkan 65,5% mengalami kecemasan saat melakukan perawatan gigi (Albicans, 2017). Beberapa penelitian menemukan prevalensi ansietas dental pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria (Hmud & Walsh, 2018). Untuk itu, salah satu perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi ansietas dental adalah dengan melakukan perawatan nonfarmakologi. Perawatan nonfarmakologi yang dapat mengatasi ansietas dental pada pasien adalah hypnosis.
Sebuah disertasi menghasilkan pengujian tingkat ansietas dental secara nonfarmakologi (Yubiliana, 2016). Pengukuran tingkat ansietas dental dilakukan dengan intervensi Dental Hypnosis-Komunika Hipnodontik dan pengukuran kualitas hidup dengan Oral Health Related Quality of life-23 (OHRQoL-23) dengan biomarker kadar kortisol saliva (Yubiliana, 2016). Komunika hipnodontik merupakan hasil luaran disertasi tersebut yang didalamnya merupakan rangkaian kata yang dirangkai menjadi kalimat yang bertujuan sebagai media yang akan membawa subjek menjadi rileks atau santai (Yubiliana, 2016). Penelitian ini menunjukkan Intervensi Dental Hypnosis-Komunika Hipnodontik efektif menurunkan kadar saliva sebagai biomarker ansietas dental (p<0,05) (Yubiliana, 2016).
Dental hypnosis merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang dapat membuat pasien merasakan relaksasi dan membantu pasien dalam mengurangi ansietas dental (Schreiber, 2010). Dalam proses hypnosis, terdapat lima tahapan, yaitu Induction, Deepening, Suggestion, Post Hypnotic-Suggestion, dan awakening (Anthonappa et al., 2017). Dalam proses hypnosis, tidak seluruh tahapan diperlukan. Dental hypnosis memiliki beberapa manfaat. Bagi pasien, dental hypnosis dapat mengurangi kekhawatiran. Pada proses anestesi, hypnoanestesia dapat digunakan sebagai pengganti atau tambahan chemo anesthesia, sehingga dapat mengurangi penggunaan jarum suntik, ampul, dan inhalan lainnya. Bagi dokter gigi, dental hypnosis berperan untuk kelancaran prosedur perawatan yang dilakukan dalam membangun hubungan saling percaya dengan pasien. Dokter gigi harus melakukan pendekatan langsung pada pasien dengan melakukan komunikasi. Komunikasi dokter gigi dan pasien menggunakan kata yang dapat dipahami dan menghindari kalimat negatif (Anthonappa et al., 2017). Komunikasi dikatakan efektif jika pesan diterima dan dimengerti sesuai maksud pengirim pesan, lalu pesan diproses dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan (Hardjana, 2003). Proses hypnosis akan efektif jika komunikasi antara dokter gigi dan pasien memiliki kesamaan pemahaman bahasa. Hal ini menunjukkan komunikasi hypnosis harus menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dan dipahami oleh kedua pihak (Rijal, 2015). Proses komunikasi yang efektif dapat membantu keberhasilan dalam menyelesaikan masalah pasien (Indonesia, 2006). Media utama komunikasi dental hypnosis adalah bahasa. Ilmu bahasa disebut juga dengan linguistik (Rijal, 2015).
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan komunikasi dokter gigi pada pasien adalah perbedaan budaya (Kewas & Darmastuti, 2020). Cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil komunikasi yang efektif adalah dengan mengenali sasaran komunikasi (pendidikan, gaya hidup norma) dan pemilihan media komunikasi (Kewas & Darmastuti, 2020). Dalam menyampaikan bahasa hypnosis kepada pasien, pemilihan kata ataupun kalimat sangat penting. Kalimat yang berbeda dengan makna yang sama berpengaruh pada respons pasien. Untuk itu, strategi bahasa yang digunakan dalam pemberian sugesti penting dilakukan karena memengaruhi keberhasilan dan konsistensi dokter gigi dalam melakukan terapi dental hypnosis (Destiarlisa et al., 2020).
Penggunaan dan pemilihan bahasa dalam dental hypnosis sangat diperlukan, sehingga peneliti dapat melakukan penelitian untuk mengkaji dan menganalisis hubungan linguistik dengan terapi dengan cara membandingkan penelitian-penelitian sebelumnya.
Metode
Cakupan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode a scoping review yang berpedoman pada Joanna Briggs Institute, 2020 (Peters et al., 2017). Metode skrining artikel atau jurnal menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses extension for Scoping Reviews (the PRISMA-ScR) (Liberati et al., 2009). A Scoping review merupakan metode penelitian untuk melakukan identifikasi, evaluasi, dan interpretasi terhadap hasil penelitian topik/ fenomena tertentu yang menjadi perhatian peneliti (Lockwood et al., 2019). Tujuan scoping review untuk memetakan literatur yang ada pada bidang yang menarik dalam hal volume, sifat, dan karakteristik dari penelitian utama yang diteliti dengan langkah menyusun, meringkas, dan melaporkan hasil yang memberikan ringkasan deskriptif dan numerik dari data dan analisis tematik jurnal terpilih (Lockwood et al., 2019). Pada metode ini, timeframe- dilakukan lebih dari 12 bulan dan dipengaruhi beberapa faktor dengan tidak terbatas pada kualitas dan kuantitas literatur serta sumber daya yang tersedia (Peters et al., 2017). A scoping review menggunakan konsep PCC (Population, Concept, Context) dalam menetukan kriteria yang sesuai dengan penelitian (Lockwood et al., 2019). Pada penelitian ini menggunakan Participant (P): Pasien yang mengalami ansietas dental; Concept (C): mencari hubungan dental hypnosis dengan linguistik; Context (C): pemetaan dengan menggunakan original article. Penelitian a scoping review berisi penjelasan mengenai metode penelitian, sampling/teknik pengumpulannya, analisis data, dan cara penafsirannya (Peters et al., 2017).
Penelitian a scoping review dilakukan dengan menggunakan media pencari data seperti Pubmed, Google Scholar, ClinicalKey. Dalam penelitian ini, peneliti menelaah hubungan linguistik dengan dental hypnosis. Untuk variabel independen diperlukan keterampilan linguistik. Variabel dependen yang digunakan adalah dental hypnosis. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang membahas penelitian tentang linguistik dan dental hypnosis, ansietas dental, penanganan ansietas dental secara nonfarmakologi. Artikel berbahasa Inggris atau Indonesia yang dipublikasikan pada 2000-2021 serta artikel yang dipublikasikan sebagai artikel penuh. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang membahas penanganan ansietas dental yang dilakukan secara farmakologi, artikel yang terdiri atas abstrak saja, artikel yang tidak membahas ansietas dental, linguistik, dan dental hypnosis, serta artikel yang dipublikasikan di bawah tahun 2000.
Kajian Literatur
Penelitian ini dilakukan dengan a scoping review yang berpedoman pada Joana Briggs Institute, 2020. Pencarian artikel menggunakan database elektronik (Pubmed, Google Scholar, ClinicalKey) dengan memasukkan kata kunci sesuai topik yang diteliti, yaitu "dental anxiety", "dental hypnosis", "communication for dental hypnosis", dan "linguistik for hypnosis". Selain itu, pencarian dilakukan dengan menambahkan kata kunci berbahasa Indonesia, yaitu komunikasi dental hypnosis, ansietas dental, dental hypnosis, linguistik hypnosis. Artikel yang dikumpulkan merupakan artikel yang terbit pada 2000 – 2020.
Pengumpulan artikel dilakukan pada 20 – 27 Februari 2021. Setelah itu, seluruh referensi dimasukkan ke mendeley untuk mengecek duplikasi.
Ekstraksi dan Pemetaan Data
Artikel yang terkumpul sudah memenuhi kelengkapan untuk direview, berisi tanggal dan nama penulis, metode penelitian yang digunakan, sampel, dan hasil penelitian yang sesuai dengan topik penelitian tentang hubungan terapi dental hypnosis dengan aspek linguistik. Artikel yang diambil harus full text. Setelah itu, dianalisis dan dibandingkan hubungan di antara jurnal tersebut.
Hasil
Pada pencarian menggunakan mesin pencari (Pubmed, Google Scholar, ClinicalKey) diperoleh 249 artikel, 19 artikel diperoleh dari Pubmed, 237 artikeldari Google Scholar, dan 93 artikel dari ClinicalKey. Pada proses skrining yang pertama dilakukan pengecekan duplikasi danditemukan 15 artikel yang sama, sehingga dikeluarkan dari total artikel. Kemudian dilakukan skrining kedua dengan melihat judul dan abstrak yang sesuai kriteria eksklusi dan inklusi, lalu dikeluarkan 188 artikel sehingga tersisa 46 artikel. Pada tahap skrining yang ketiga, dilakukan pegecekan artikel full text yang sesuai dengan topik yang diteliti, 36 artikel dianggap tidak berhubungan dengan topik yang diteliti, sehingga tersisa 10 artikel yang akan di-review pada penelitian ini.

Gambar 1 Analisis Bagan Prisma ScR
Tabel I Tabel Hasil Pemetaan
| Penulis (tahun) | Judul | Sampel penelitian | Lokasi | Metode penelitian | Instrumen/ alatukur yang dipakai | Teknik/ teori analisa bahasayang dipakai | Simpulan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kevser Tutunculer Sancak, DDS andUmit Kıymet Akal, DDS, PhD (Sancak & Akal, 2019) | Effect of Verbal and Written Information and Previous Surgical Experience on Anxiety During Third Molar Extraction | N=66 orang yang sudah melakukan pencabutan molar 3 berusia 18- 80 tahun | Turki | Metode kualitatif dan kuantitatif | Spielberger State Anxiety Inventory (STAI-S), Dental Fear Scale (DFS), Modified Dental AnxietyScale (MDAS),dan visual analog scale (VAS) | SPSS for Windows, versi 17 (IBM Corp,Armonk, NY) | Informasi yang disampaikan secara tertulis maupun verbalakan memengaruhi efek kecemasan pada pasien. |
Hubungan Terapi Dental Hypnosis Dengan... | Windi, Gilang, Nani
| Darmayanti, N., Ekawati, D., & Zulkifli Mahmud, E (Darmayanti et al., 2018a). | Language Aspects in Hypnosis Dental Therapy: Pragmatic and Stylistic Studies | Data hasil percakapan dokter gigi dan pasien | Indonesia | Metode kualitatif | N.A | ICOT (Involved Conversation Observation Technique) | Seluruh strategi bahasa yang digunakan oleh dokter bertujuan untuk mengurangi rasa sakit yang diterima pasien ketika dalam perawatan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Helen Rodd, Laura Timms, Fiona Noble, Sarah Bux , Jenny Porritt and Zoe Marshman (Rodd et al., 2019). | Message to Dentist: Facilitating Communication with Dentally Anxious Children | N=105 anak berumur antara 9-16 tahun | United Kingdom | Metode kualitatif dan kuantitatif | Modified Child Dental Anxiety Scale | MTD (Message To Dentist) dengan thematic analysis | MTD menjadi sarana yang efektif dalam memfasilitasi komunikasi dokter gigi dengan pasien. |
| H. T. Van der Molen, A. A. M. Klaver and M. P. M. A. Duyx (Van Der Molen et al., 2004). | Effectiveness of a communication skills training programme for the management of dental anxiety | N=34 mahasiswa pascasarjana | United Kingdom | Pre-test-post test-control group design | Knowledge test, a behavioural role-play test and a learner report | N.A | Komunikasi berpengaruh terhadap pengetahuan dan perilaku pasien. |
| Erlina Zulkifli Mahmud, Nani Damayanti, Dian Ekawati, Wagiati (Zulkifli Mahmud et al., 2016) | Penggunaan berbagai jenis kalimat pada praktik terapi dental hypnosis : sebuah kajian sintaksis | Data hasil percakapan antara dokter gigi dan pasien | Indonesia | Metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif | N.A | Teori Sintaksis : Teori Chaer (2011) , Teori Soedjito dan Saryono (2014), Teori Djajasudarma (1999) | Terdapat empat jenis kalimat yang digunakan saat proses dental hypnosis, yaitu kalimat berita, kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat seru |
| G Yubiliana, A Abdurrochman, A Hamdani, L Luthfiah and R S Primarti (Yubiliana et al., 2020) | Acoustic parameters used in dental hypnosis practices | N=4 pasien 2 pria dan 2 wanita. | Indonesia | Metode kualitatif | Parameter Akustik | Metode Principal Component Analysis menggunakan perangkat Praat | Durasi dan intensitas merupakan parameter akustik yang lebih dominan memberikan keefektifan dalam dental hypnosis |
| Nani Damayanti, Jatmika Nurhadi, Gilang Yubiliana (Darmayanti et al., 2014) | Tipe tindak tutur dalam komunikasi dental hypnosis : suatu kajian pragmatik | Data hasil percakapan dokter gigi dan pasien | Indonesia | Metode kualitatif | N.A | Teori Pragmatik : Teori Austin(1962), Yule(1996), Wijana(1996), Leech (1983), Ibrahim(1993) | Dokter gigi menggunakan pemarkah linguistik yang bersistem dalam melakukan dental hypnosis |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Aulia Maharani Destiarlisa, Gilang Yubiliana, Andri Abdurrochman, Nani Darmayanti (Destiarlisa et al., 2020) | Pola intonasi tindak tutur direktif berdasarkan parameter akustik suara dalam praktik dental hypnosis | data sekunder tahun 2016 dengan pasien 4 orang yang terdiri dari 2 wanita dan 2 pria | Indonesia | Metode kualitatif dan kuantitatif | Parameter Akustik | N.A | Terdapat pola intonasi berupa naik turunnya nada dan intensitas pada tindak tutur direktif. |
| Rooroh Fenesia Mariska, Hendri Opod, Bernat S.P. Hutagalung (Mariska et al., 2016) | Hubungan komunikasi interpersonal dengan tingkat kecemasan pasien sebelum tindakan pencabutan gigi di RSGM FK UNSRAT. | Data diperoleh dari total sampling di departemen bedah mulut RSGM FK UNSRAT | Indonesia | Metode deskriptif analitik dengan menggunakan cross sectional study | HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) | Analisis uji alternatif Kolmogorov Smirnov dengan SPSS | Komunikasi interpersonal memengaruhi tingkat kecemasan sebelum tindakan pencabutan gigi di RSGM FK UNSRAT. |
| Giath Gazal, Ahmed W. Tola, Wamiq M. Fareed, Ahmad A. Alnazzawi, Muhammad S. Zafar (Gazal et al., 2016a) | A randomized control trial comparing the visual and verbal communication methods for reducing fearvand anxiety during tooth extraction | N= 64 orang pasien Laki- laki berusia 17- 60 tahun | Saudi Arabia | A randomized control trial | VAS (Visual Analog Scale) | N.A | Pemberian informasi kepada pasien secara visual lebih efektif dibandingan secara verbal. |
Metode
Dari 10 penelitian yang dianalisis, terdapat penelitian yang menggunakan metode kualitatif (n=3), metode kualitatif dan kuantitatif (n=4), dan sisanya merupakan penelitian yang menggunakan metode randomized control trial (n=1), metode Pre-test-post-test-control group design (n=10), dan metode deskriptif-analitik dengan menggunakan cross sectional study (n=1).
Untuk tahun publikasi, terdapat satu penelitian yang terbit 2000-2010, yaitu penelitian yang terbit 2004 (n=1), dan penelitian yang terbit 2011-2020 terdiri atas 9 artikel, di antaranya 2014 (n=1), 2016 (n=2), 2018 (n=2), 2019 (n=2), dan 2020 (n=2). Persebaran lokasi penelitian dilakukan di area Asia dan Eropa. Persebaran lokasi penelitian di Saudi Arabia (n=1), Turki (n=1), United Kingdom (n=2), dan Indonesia (n=6).
Sampel Penelitian
Pada pengumpulan data, beberapa data penelitian diambil dari hasil percakapan antara dokter gigi dan pasien (n=3). Beberapa penelitian melakukan interaksi langsung dengan pasien (n=5), sisanya menggunakan data sekunder (n=1) dan total sampling (n=1).
Instrumen atau Alat Ukur yang Digunakan
Pada hasil pemetaan dapat dilihat alat ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan dental hypnosis. Beberapa alat ukur bertujuan untuk menilai tingkat ansietas dental pada pasien sebelum dan sesudah perawatan. Alat ukur yang digunakan, yaitu Spielberger State Anxiety Inventory (STAI- S) dan Dental Fear Scale (DFS) (n=1), Modified Dental Anxiety Scale (MDAS)(n=2), visual analog scale (VAS)(n=2), dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) (n=1) (Sancak & Akal, 2019), (Rodd et al., 2019), (Gazal et al., 2016b). Sisanya merupakan alat ukur untuk menilai komunikasi antara dokter gigi dan pasien serta bahasa yang digunakan dalam proses komunikasi melalui Knowledge test, a behavioural role-play test and a learner report (n=1), dan parameter akustik (n=2) (Destiarlisa et al., 2020; G. Yubiliana et al., 2020).
Teknik dan Teori Analisis Bahasa yang Dipakai
Berbagai teknik dan teori digunakan untuk menganalisis bahasa yang digunakan dalam komunikasi dental hypnosis. Salah satu penelitian menggunakan teknik ICOT (Involved Conversation Observation Technique), penelitian lain menggunakan ,analisis dengan MTD (Message To Dentist) dengan thematic analysis, metode Principal Component Analysis dengan menggunakan perangkat Praat, analisis uji alternatif Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan SPSS, dan analisis menggunakan SPSS for Windows, versi 17 (IBM Corp, Armonk, NY)(Sancak & Akal, 2019). Beberapa penelitian menggunakan teori untuk menganalisis setiap bahasa yang dipakai dalam proses komunikasi dokter gigi dan pasien antara lain teori sintaksis dan pragmatic (Zulkifli Mahmud et al., 2016).
Pembahasan
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan linguistik dengan terapi dental hypnosis dengan membandingkan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini berisi tahun dan lokasi penelitian, metode penelitian, instrumen atau alat ukur yang digunakan untuk menilai keefektifan bahasa, teknik atau teori yang digunakan untuk mengumpulkan data dan menganalisis bahasa, dan simpulan yang diperoleh dari artikel inklusi. Terdapat empat penelitian yang berfokus pada komunikasi antar dokter gigi dan pasien dalam proses dental hypnosis dan enam penelitian yang berfokus pada aspek bahasa dalam hypnosis, seperti jenis bahasa dan pola intonasi.
Untuk menilai keberhasilan komunikasi dental hypnosis digunakan alat ukur pada sejumlah penelitian. Dari beberapa penelitian, Modified Dental Anxiety Scale (MDAS) (n=2) dan visual analog scale (VAS) (n=2) menjadi alat ukur yang banyak digunakan untuk menilai tingkat ansietas dental sebelum maupun sesudah mendapat terapi dental hypnosis (Sancak & Akal, 2019). Pada alat ukur (VAS) skor 0 menunjukkan tidak ada ansietas dental dan skor 100 menunjukkan tingkat ansietas dental yang parah. Alat ukur lain yang sering digunakan, yaitu Spielberger State Anxiety Inventory (STAI-S) dan Dental Fear Scale (DFS) serta Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) (Sancak & Akal, 2019), .
Parameter akustik adalah alat ukur yang digunakan untuk melihat pengaruh bahasa pada proses terapi dental hypnosis. Sebuah penelitian menunjukkan intonasi (nada dan intensitas) menjadi parameter akustik yang efektif dalam proses dental hypnosis (Destiarlisa et al., 2020). Pola intonasi menunjukkan kalimat direktif memiliki nada dan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kalimat lainnya (Yubiliana et al., 2020)
Teknik dan teori yang digunakan untuk menganalisis bahasa dalam komunikasi dental hypnosis cukup beragam. Teknik ICOT (Involved Conversation Observation Technique) merupakan teknik mengamati data prospektif dan dilanjutkan dengan teknik menulis (Darmayanti et al., 2018b). Teknik
ini merupakan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil percakapan antara dokter gigi dan pasien untuk selanjutnya dianalisis. Beberapa penelitian melakukan analisis dengan menggunakan perangkat. Perangkat yang digunakan adalah SPSS for Windows, versi 17 (IBM Corp, Armonk, NY), dan analisis uji alternatif Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan SPSS (Sancak & Akal, 2019). Analisis uji alternatif Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan SPSS menunjukkan nilai p = 0,00 (0,00 < 0,05) yang menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi dokter gigi pada pasien dengan penurunan ansietas dental (Mariska et al., 2016).
Teori yang digunakan untuk analisis bahasa ada dua, yaitu teori sintaksis dan teori pragmatik (Darmayanti et al., 2014). Teori sintaksis meliputi teori Chaer (2011), teori Soedjito dan Saryono (2014), dan teori Djajasudarma (1999). Teori sintaksis merupakan teori yang berhubungan dengan jenisjenis kalimat yang digunakan dalam komunikasi terapi hypnosis (Zulkifli Mahmud et al., 2016). Teori pragmatik meliputi Teori Austin (1962), Yule (1996), Wijana (1996), Leech (1983), dan Ibrahim (1993). Teori Pragmatik merupakan teori yang berhubungan dengan tindak tutur (Darmayanti et al., 2014).
Bahasa menjadi media komunikasi yang penting dalam proses dental hypnosis. Sejumlah penelitian menunjukkan proses dental hypnosis membutuhkan strategi bahasa agar dapat berjalan efektif (Destiarlisa et al., 2020; Darmayanti et al., 2018b; Rodd et al., 2019; Zulkifli Mahmud et al., 2016). Tiga penelitian ini menunjukkan jenis kalimat yang digunakan dalam proses komunikasi dental hypnosis, yaitu asertif atau representatif, direktif, ekspresif (Destiarlisa et al., 2020; Darmayanti et al., 2018a; dan Zulkifli Mahmud et al., 2016).Terdapat dua penelitian yang menyimpulkan dalam pemakaian bahasa pada proses hypnosis, kalimat berita berubah menjadi kalimat yang sering digunakan oleh dokter gigi diikuti oleh kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat seru (Zulkifli Mahmud et al., 2016; Darmayanti et al., 2014). Hanya ada satu penelitian yang melampirkan majas yang digunakan dalam komunikasi dental hypnosis, yaitu majas paralelisme, majas klimaks, majas repetisi, dan majas antitesis (Darmayanti et al., 2018b).
Beberapa penelitian berfokus pada susunan kata dari kalimat dental hypnosis, sementara penelitian lainnya berfokus pada pengelompokan makna. Susunan kata dalam kalimat yang digunakan dental hypnosis menggunakan susunan kebakuan kalimat dalam bahasa Indonesia. Kalimat baku yang digunakan dalam komunikasi dental hypnosis mengikuti susunan kalimat lengkap yang terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan (waktu, tempat) (Destiarlisa et al., 2020; Darmayanti et al., 2018b; Zulkifli Mahmud et al., 2016; Darmayanti et al., 2014).
Proses hypnosis merupakan interaksi antara fungsi verbal dan analitik dari otak kiri dan fungsi kreatif dan nonverbal dari otak kanan (Nani Darmayanti et al., 2018, 2014; G. Yubiliana et al., 2020) Dua Penelitian menunjukkan pada saat proses hypnosis, otak menghasilkan gelombang Alpha, Betha, Tetha, dan Delta (Nani Darmayanti et al., 2018; G. Yubiliana et al., 2020). Salah satu penelitian menunjukkan bagian parietal otak menjadi bagian yang paling terpengaruh karena berfungsi sebagai sentral sensori utama, yaitu indera penglihatan dan pendengaran (Yubiliana et al., 2020). Beberapa penelitian menunjukkan setiap tahapan hypnosis menggunakan tipe kalimat yang berbeda. Proses dental hypnosis dibagi menjadi dua, yaitu pendahuluan dan tindakan. Pada tahap pendahuluan, tipe kalimat asertif (menyatakan) menjadi tipe yang sering digunakan. Sementara pada tahap tindakan, tipe kalimat yang sering digunakan, yaitu kalimat ekspresif dan direktif (Nani Darmayanti et al., 2018; Zulkifli Mahmud et al., 2016; N Darmayanti et al., 2014).
Beberapa penelitian menunjukkan perbedaan cara berkomunikasi memengaruhi keberhasilan proses dental hypnosis. Dua penelitian menunjukkan audiovisual dan audioanalog lebih efektif daripada komunikasi verbal secara langsung (Yubiliana et al., 2020; Gazal et al., 2016b). Tiga penelitian lainnya menunjukkan komunikasi langsung dengan pasien terbukti dapat menurunkan ansietas dental pada pasien. Komunikasi secara lisan lebih efektif dibandingkan dengan komunikasi secara tulisan (Sancak & Akal, 2019; Van Der Molen et al., 2004; Mariska et al., 2016). Beberapa penelitian menyebutkan terdapat faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan komunikasidental hypnosis (Rodd et al., 2019; Mariska et al., 2016; Gazal et al., 2016b). Sebagian penelitian menunjukkan komunikasi antara dokter dan pasien dalam proses komunikasi dental hypnosis dipengaruhi oleh usia (Rodd et al., 2019; Mariska et al., 2016; Gazal
et al., 2016b). Pasien anak-anak lebih responsif terhadap komunikasi nonverbal dibandingkan dengan komunikasi verbal. Bentuk komunikasi visual analog dalam bentuk video lebih signifikan diterima oleh pasien anak-anak (Rodd et al., 2019; Gazal et al., 2016).
Mayoritas penelitian membahas pemilihan dan pengaruh bahasa dalam proses dental hypnosis. Hanya ada satu penelitian yang membahas tentang intonasi dan masih terkhusus pada kalimat direktif, sehingga perlu diteliti kembali hubungan intonasi pada kalimat asertif atau representatif, ekspresif, komisif, dan deklarasif dalam proses dental hypnosis. Selain itu, penelitian berikutnya perlu meneliti mengapa pasien anak-anak lebih responsif terhadap komunikasi nonverbal daripada komunikasi verbal dan sebaliknya? Penelitian selanjutnya perlu meneliti lebih lanjut faktor lain yang memengaruhi keberhasilan dalam komunikasi dental hypnosis. Beberapa penelitian hanya membahas secara singkat mengenai gelombang yang dihasilkan otak ketika komunikasi dental hypnosis berlangsung, sehingga penelitian selanjutnya perlu meneliti proses kerja otak dalam mengolah kata-kata yang digunakan saat proses komunikasi dental hypnosis dan faktor yang memengaruhi keberhasilan otak dalam mengolah bahasa. Kemudian, terdapat satu penelitian yang melampirkan majas, sehingga peneliti berikutnya perlu menambahkan majas-majas yang digunakan dalam bahasa dental hypnosis.
Simpulan
Berdasarkan hasil studi literatur yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara terapi dental hypnosis dengan linguistik. Hasil tersebut diperoleh dari 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan pemetaan yang melampirkan tahun publikasi artikel, lokasi, metode penelitian yang digunakan, instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam menilai tingkat keberhasilan dental hypnosis dan teknik dalam menganalisis bahasa.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Prof.Dr. drg. Hj. Williyanti Suwondo,Sp.Ped, drg Rosiliwati Wihardja, MDSc, dan Drg Farah Asnely Sp.BM selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan dalam proses pembuatan artikel penelitian ini.
Daftar Pustaka
- Albicans, C. (2017). Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi.
- Anthonappa, R. P., Ashley, P. F., Bonetti, D. L., Lombardo, G., & Riley, P. (2017). Non-pharmacological interventions for managing dental anxiety in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2017(6). https://doi.org/10.1002/14651858.CD012676
- Darmayanti, N., Ekawati, D., & Erlina, W. (2018a). Language Aspects in Hypnosis Dental Therapy: Pragmatic and Stylistic Studies. International Journal of Language & Linguistics, 5(2). https://doi. org/10.30845/ijll.v5n2a10
- Darmayanti, N., Ekawati, D., & Erlina, W. (2018b). Language Aspects in Hypnosis Dental Therapy: Pragmatic and Stylistic Studies. International Journal of Language & Linguistics, 5(2). https://doi. org/10.30845/ijll.v5n2a10
- Darmayanti, N., Nurhadi, J., & Yubiliana, G. (2014). Tipe Tindak Tutur dalam Komunikasi Dental Hipnosis : Suatu Kajian Pragmatik. Ranah, 3(1), 135–142. https://doi.org/10.26499/rnh.v3i2.44
- Destiarlisa, A. M., Yubiliana, G., & Abdurrochman, A. (2020). Pola Intonasi Tindak Tutur Direktif Berdasarkan Parameter Akustik Suara dalam Praktik Dental hypnosis. Padjadjaran Journal of Dental Researcher and Student, 4(April), 1–8. https://doi.org/10.24198/pjdrs.v3i2.21989
- Gazal, G., Tola, A. W., Fareed, W. M., Alnazzawi, A. A., & Zafar, M. S. (2016a). A randomized control trial comparing the visual and verbal communication methods for reducing fear and anxiety during tooth extraction. Saudi Dental Journal, 28(2), 80–85. https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2015.11.001
- Gazal, G., Tola, A. W., Fareed, W. M., Alnazzawi, A. A., & Zafar, M. S. (2016b). A randomized control trial comparing the visual and verbal communication methods for reducing fear and anxiety during tooth extraction. Saudi Dental Journal, 28(2), 80–85. https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2015.11.001
- Hmud, R., & Walsh, L. J. (2018). Clinical Dental Anxiety : Causes , Complications and Management Approaches. International Dentistry, 9(5), 6–14.
- Indonesia, K. kedokteran. (2006). Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. 1–38.
- Kewas, G. S., & Darmastuti, R. (2020). Strategi Komunikasi Antarbudaya Dokter Kepada Pasien Dalam Proses Pelayanan Kesehatan Di Rsu Raffa Majenang. Scriptura, 10(2), 60–76. https://doi. org/10.9744/scriptura.10.2.60-76
- Liberati, A., Altman, D. G., Tetzlaff, J., Mulrow, C., Gøtzsche, P. C., Ioannidis, J. P. A., Clarke, M., Devereaux, P. J., Kleijnen, J., & Moher, D. (2009). The PRISMA statement for reporting systematic reviews and meta-analyses of studies that evaluate health care interventions: explanation and elaboration. In Journal of clinical epidemiology (Vol. 62, Issue 10). https://doi.org/10.1016/j. jclinepi.2009.06.006
- Lockwood, C., Dos Santos, K. B., & Pap, R. (2019). Practical Guidance for Knowledge Synthesis: Scoping Review Methods. Asian Nursing Research, 13(5), 287–294. https://doi.org/10.1016/j. anr.2019.11.002
- Mariska, R. F., Opod, H., & Hutagalung, B. S. P. (2016). Hubungan Komunikasi Interpersonal Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Sebelum Tindakan Pencabutan Gigi Di Rsgm Fk Unsrat. Pharmacon, 5(4), 33–39. https://doi.org/10.35799/pha.5.2016.13971
- Peters, M., C, G., P, M., Z, M., AC, T., & Khalil, H. (2017). 2017 Guidance for the Conduct of JBI Scoping Reviews Chapter 11 : Scoping Reviews Scoping Reviews. Understanding Scoping Reviews: Definition, Purpose, and Process, September.
- Rijal, S. (2015). Hipnolinguistik: Bahasa Alam Bawah Sadar. Jurnal Pendidikan Progresif, 5 No (2)(1), 190–198.
- Rodd, H., Timms, L., Noble, F., Bux, S., Porritt, J., & Marshman, Z. (2019). 'Message to dentist': Facilitating communication with dentally anxious children. Dentistry Journal, 7(3), 1–10. https:// doi.org/10.3390/dj7030069
- Sancak, K. T., & Akal, Ü. K. (2019). Effect of Verbal and Written Information and Previous Surgical Experience on Anxiety During Third Molar Extraction. Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 77(9), 1769.e1-1769.e7. https://doi.org/10.1016/j.joms.2019.05.014
- Schreiber, E. H. (2010). Reintroducing Hypnosis in Paediatric Dentistry. 38(1), 44–51.
- Van Der Molen, H. T., Klaver, A. A. M., & Duyx, M. P. M. A. (2004). Effectiveness of a communication skills training programme for the management of dental anxiety. British Dental Journal, 196(2), 101–107. https://doi.org/10.1038/sj.bdj.4810907
- Yubiliana, G. (2016). THE EFFECTIVENESS OF DENTAL HYPNOSIS KOMUNIKA HIPNODONTIK TO SALIVARY CORTISOL HORMONE LEVELS AS DENTAL ANXIETY BIOMARKER AND ITS CORRELATION WITH QUALITY OF LIFE.
- Yubiliana, G., Abdurrochman, A., Hamdani, A., Luthfiah, L., & Primarti, R. S. (2020). Acoustic parameters used in dental hypnosis practices. Journal of Physics: Conference Series, 1568(1). https://doi. org/10.1088/1742-6596/1568/1/012020
- Zulkifli Mahmud et al. (2016). Penggunaan Berbagai Jenis Kalimat pada Terapi Dental Hypnosis (pp. 171–175).
