Pendahuluan
Adat ketimuran sebagai pengikat budaya Indonesia, salah satunya adalah citra yang terbentuk dari cara berpakaian dan cara bersikap para wanita Indonesia.
Wanita indonesia yang selama ini dikenal mempunyai citra ketimuran, sopan, halus dan lembut, tidak terus terang dan tidak vulgar, terkenal dengan pakaian nasional kain-kebaya , kain yang menutupi hingga mata kaki dan kebaya yang menutupi hingga pergelangan tangan, belum lagi dengan rambut yang disanggul rapi tidak tergerai, menjadi pertanyaan apakah citra yang terbentuk masih demikian dengan melihat tampilan-tampilan wanita Indonesia di majalah-majalah terutama tampilan di majalah untuk pria dewasa. Budaya majalah untuk pria dewasa ini berasal dari luar negeri.
Majalah khusus pria dewasa selalu mengeksploitasi rasa ketertarikan pria kepada wanita, yang dinilai dari eksploitasi aspek fisik dan tergantung pada tipe-tipe wanita cantik menurut selera para pria. Ini sebabnya majalah pria selalu bertahan dari masa ke masa bahkan cenderung bertambah jumlahnya beredar di Indonesia, mulai dari majalah "De Lach" dari negeri Belanda tahun 1930an, hingga majalah "Playboy" yang membuka cabang Indonesia di tahun 2000an diringi berbagai majalah sejenis muncul di Indonesia.
Sekarang majalah-majalah pria dewasa ini sering menggunakan model berciri Indonesia dengan didandani tidak kalah menarik dengan model-model yang berasal dari luar negeri. Penampilan mereka pun berani dengan pakaian serba terbuka serta pose-pose yang menantang, biasanya mereka berpose menjadi pendukung artikel bergaya tulisan yang cenderung
vulgar, kontras dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas masih berpegang pada budaya timur yang tidak seterbuka budaya Barat, juga di Indonesia masih ramai dengan kontroversi undang-undang anti pornografi yang batasan dan penerapannya masih simpang-siur, sehingga fenomena visualisasi wanita Indonesia di dalam majalah pria dewasa ini menjadi menarik untuk diperhatikan.
Dari majalah-majalah yang beredar, terlihat visualisasi wanita dalam majalah pria dewasa tersebut berciri khas, wanita di dalam majalah pria dewasa digambarkan lebih sensual dari tampilan pada majalah lainnya. Bisa dilihat dari beberapa bagian tubuh wanita tersebut yang diberi penekanan, atau menjadi fokus dari foto yang ditampilkan. Maka pertanyaan penelitian adalah :
Bagaimana visualisasi dan citra wanita Indonesia yang ada di dalam majalah pria dewasa FHM dan ME yang beredar di Indonesia?
TEORI
Berdasarkan istilah psikoanalisis tentang tatapan mata, menurut Laura Mulvey cara memandang wanita dalam visualisasi majalah ini bisa digolongkan sebagai teori tatapan mata pria (Male Gaze).
Bahwa "wanita berperan sebagai subjek yang dipandang, sedangkan pria yang berperan sebagai subjek yang memandang." Male gaze ini mencerminkan ketidak seimbangan diantara objek yang dilihat dan subjek yang melihat, yaitu pria sebagai subjek cenderung 'merendahkan' wanita yang menjadi objek.
Pria tidak bisa menahan diri dari objektifitas yang mengundang hasrat, karena pria selalu
mengambil peran menjadi subjek (Rose, 2001:120).
Wanita yang tampil sebagai pemuas kebutuhan pria akan visualisasi yang indah tentang wanita sudah dibuktikan dalam tipikal lukisan-lukisan wanita telanjang yang berasal dari Eropa. Para pria yang berbusana serta menjadi 'penonton' lukisan-lukisan tersebut menjadi alasan utama kenapa wanita yang di dalam lukisan tidak memakai pakaian selembar pun. Hubungan yang tidak seimbang ini, tidak terbatas pada seni visual. Ini sudah mengakar pada budaya (Howells, Richard. 2003: 84).
Gestur adalah bentuk komunikasi nonverbal yang dilakukan dengan gerakan anggota tubuh. Gerakan yang dibuat oleh bagian tubuh untuk mengekspresikan arti atau emosi atau mengkomunikasikan instruksi, aksi yang ditujukan untuk mengkomunikasikan perasaan atau penekanan. (Encarta, 2003).
Visual culture: adalah kondisi sosial dan dampak dari obyek-obyek visual, menganalisanya terdiri dari tiga cara, pertama, ada suatu desakan bahwa gambar itu sendiri melakukan sesuatu, contohnya suatu gambar paling tidak mempunyai potensi dan kondisi melawan dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan, gambar mempunyai suatu misteri dan sesuatu yang menyenangkan, gambar dapat memiliki kekuatan seduktif.
Kedua, gambar-gambar dapat memvisualisasikan kondisi sosial, karena argumentasi dalam ilmu sosial adalah bahwa perubahan budaya tidaklah alami tetapi dikonstruksikan.
Ketiga, para penulis budaya visual
perhatiannya tidak hanya pada bagaimana gambar-gambar ini terlihat tetapi gambargambar ini dilihat sebagai apa. (Rose, 2001 : 10).
Teori ini digunakan untuk menganalisa bagaimana wanita-wanita dalam majalah pria dikonstruksikan dan direpresentasikan. Menurut Mariska Lubis (Kompasiana, www. mariskalubis.com), wanita dianggap lebih feminin bila memiliki pinggul yang besar, pinggang yang kecil, dan payudara yang besar.
Bagi kebanyakan pria, pantat menjadi bahan fantasi seksual yang tak kalah dibanding payudara. Bentuk tubuh langsing dan berlekuk lebih diinginkan daripada yang terlalu kurus atau gemuk. Pinggang ramping dan betis panjang dikagumi oleh mayoritas pria, ukuran dan bentuk payudara tergantung selera masing-masing pengamat.
Rambut yang panjang dinilai cenderung lebih menarik daripada rambut yang pendek. Warna kulit juga ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar, pria cenderung memilih wanita berkulit lebih terang daripada kulitnya sendiri, ini ada hubungannya dengan kebersihan.
Wanita yang disebut mempunyai tampilan wajah indo adalah para wanita yang memiliki wajah campuran ras Eropa dengan orang Indonesia asli. Hasil percampuran ras ini menghasilkan bentuk wajah yang unik, wajah berciri khas Indonesia asli tercampur dengan unsur khas ras Eropa seperti hidung mancung, kulit yang putih, mata yang coklat, rambut berwarna kemerahan, anggota badan panjang yang membuat proporsi tubuh tinggi. Wanita yang disebut mempunyai tampilan lokal adalah para wanita yang memiliki wajah Indonesia asli, atau seperti lazimnya ras Melayu, berambut lurus dan hitam dengan warna kulit sawo matang, warna mata hitam, ukuran hidung sedang, dan tinggi tubuhnya berkisar sekitar 160 cm dengan struktur tubuh yang padat.
Pengumpulan Data dan Analisis Konten
Studi Literatur, dengan mempelajari bahanbahan tertulis berupa buku-buku yang berkaitan dengan penelitian, serta kliping dari berbagai media yang membahas tentang tampilan wanita dan citra wanita dimata pria.
Selain itu melakukan observasi terhadap sampel yang dipilih yaitu majalah-majalah FHM serta ME yang terbit dari tahun 2003 – 2008. FHM merupakan franchise dari majalah luar negeri, aslinyanya majalah ini berasal dari Inggris dan mulai terbit di Indonesia pada tahun 2003.
Sedangkan majalah ME (Male Emporium) adalah majalah Indonesia untuk pria dewasa yang sering menampilkan model Indonesia atau Asia sejak tahun 1999. Sehingga dari majalah-majalah ini bisa dilihat bagaimana visualisasi wanita Indonesia pada majalah franchise dari Inggris dan majalah asli Indonesia. Untuk mendapatkan data dari pembaca dilakukan wawancara terstruktur kepada 20 konsumen majalah FHM dan ME Asia.
Content Analysis untuk menganalisis teks budaya sesuai dengan 'kuantifikasi ideal dan metodologi ilmu alamiah' adalah teknik penelitian untuk membuat reproduksi yang akurat dan mengambil kesimpulan yang valid dari data kepada konteksnya.
Caranya adalah menghitung frekuensi
Tabel 1. Skala keterbukaan tubuh/ketelanjangan
(tallying) dari visual elemen tertentu dalam definisi yang jelas dari sampel gambargambar dan kemudian menganalisa frekwensi itu. Setiap aspek dari proses ini memiliki persyaratan tertentu untuk mendapatkan hasil yang valid yaitu semua gambar-gambar relevan dengan pertanyaan penelitian, dan harus representatif dan signifikan. Karena dalam metoda ini frekuensi dapat menunjukkan nilai. (Rose, 2001:54). Dari metode ini bisa dilihat kecenderungan fisik seperti apakah yang biasanya muncul dalam visualisasi wanita Indonesia dalam majalah pria dewasa yang terbit di Indonesia.
Salah satu pertimbangan dalam rancangan undang-undang anti pornografi adalah masalah keterbukaan pakaian, karena ketubuhan atau ketelanjangan menjadi komoditas untuk menarik hasrat pembaca majalah pria dewasa, berdasarkan hasil pengamatan maka ketelanjangan itu diketegorikan menjadi prosentase keterbukaan yang dapat dikategorikan sebagai berikut: Jika seluruh tubuh tidak tertutup pakaian dimasukkan dalam kelompok keterbukaan 100%, jika tubuh tertutup hanya pada bagian vital seperti payudara dan kemaluan, dimasukkan dalam kelompok keterbukaan 75%. Sedangkan bila tubuh tertutup bagian payudara, perut, dan kemaluan, dimasukkan dalam kelompok keterbukaan 50 %. Yang terakhir, jika tubuh tertutup bagian payudara hingga lutut, dimasukkan dalam kelompok keterbukaan 25 %.
Selain keterbukaan tubuh juga diperhitungkan gestur, dalam penelitian ini foto-foto dalam majalah dikelompokkan dalam empat jenis gestur yang sering muncul dalam majalah sebagai berikut: Gestur frontal adalah tipe gestur yang menampilkan wanita yang secara frontal
menghadap kamera, sehingga bisa melihat seluruh anggota badan wanita dari sudut pandang depan secara utuh.
Gestur duduk menampilkan wanita yang sedang duduk atau bersimpuh, dianggap mempunyai keunggulan karena bisa menampilkan keindahan kaki ataupun menutupi kekurangan dalam anggota tubuh yang lain.
Gestur samping memperlihatkan siluet tubuh yang sangat khas wanita, yaitu siluet kelangsingan pinggang dan pinggul. Wajah pun ditampilkan tidak frontal menghadap kamera, dengan berpose wajah ¾ maka wajah akan terkesan lebih langsing. Kekurangan-kekurangan dalam wajah pun bisa disembunyikan.
Gestur tidur mempunyai kelebihan disamping gestur yang lain, gestur tidur mempunyai konotasi tertentu, yaitu mengajak para pembaca untuk turut tidur bersama dengan sang model. Meskipun tidak semua anggota tubuh bisa terlihat, tetapi ada siluet tubuh dan pose-pose yang dianggap lebih menarik ketika dilakukan sambil berpose tidur. Mengerling wajah memandang dengan tidak frontal, sehingga hitam bola mata tidak tepat ditengah, suatu sinyal yang diberikan sebagai tanda ketertarikan, karena seharusnya yang memandang sudah berlalu, tetapi masih berusaha memandang.
Untuk menganalisis kecenderungan tampilan wanita dalam majalah ME Asia dan FHM, maka dibuatlah tabel analisis dengan berbagai macam kriteria umum yang sering dipakai pria dalam menilai wanita secara fisik.
Penilaian dibuat bergantung pada seberapa banyak frekuensi foto dengan kriteria yang
Gambar 1. Tampilan wanita Indonesia dalam majalah pria dewasa, keterbukaan 50 %. Gestur duduk, berdiri, dan tidur.
telah disebutkan muncul dalam majalah ME dan FHM, kemudian menganalisis frekwensi dari tiap kelompok kriteria. Adapun kriteria yang di hitung frekwensi kemunculannya adalah : Tipe wajah pribumi atau indo; Bentuk payudara kecil, sedang atau besar; Rambut pendek, sedang atau panjang; Warna kulit terang atau gelap; Bagian-bagian badan seperti pantat, pusar, pinggang, paha, betis; Keterbukaan pakaian berupa prosentase keterbukaan. Selain frekuensi dengan kategori tersebut diatas kemunculan wanita juga dianalisis gestur yang mempengaruhi penampilan wanita tersebut, yang diperhitungkan adalah: Gestur frontal; Gestur duduk; Gestur samping; Gestur tidur; Gestur mengerling.
Temuan Riset
Tipe wajah lokal atau indo. Walaupun pada ME Asia wajah indo jumlah tampilannya lebih banyak, baik majalah ME Asia maupun FHM banyak menampilkan wanita-wanita dengan ciri wajah lokal. Ini disebabkan karena masih lebih banyak pembaca yang menyukai wajah-wajah lokal.
Wanita yang berwajah indo berkesan cantik dengan kulitnya yang terang dan rambutnya yang kecoklatan, dan cocok untuk para pria yang kebanyakan menyukai wajah "bule" tetapi ingin diberi sentuhan wanita lokal. Wanita indo mempunyai kekhasan tersendiri karena wajahnya yang unik dan seperti mewakili dua keturunan, yaitu keturunan Eropa atau Kaukasoid (yang sering disebut "orang bule") dan keturunan lokal. Wanitawanita berwajah lokal yang kesannya bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut para pria yang menganggap wanita lokal menarik, wanita lokal dianggap membuat suatu identitas sendiri dan membuat suatu terobosan. Karena biasanya wanita lokal cenderung jarang berpenampilan serba terbuka.
Bentuk payudara, kecil, sedang atau besar. Tampilan wanita dengan payudara berukuran sedang menduduki frekuensi tertinggi. Pria menyukai payudara yang berukuran sedang karena berkesan natural dan tidak dibuat-buat. Berbeda dengan payudara yang besar, mengundang orang untuk bertanya-tanya apakah payudara tersebut alami atau hasil dari operasi. Orang barat sering menampilkan wanita-wanita yang berpayudara besar dalam majalah pria dewasa, dan mereka cenderung

Tabel 2. Frekwensi tampilan wajah Indo dan wajah lokal
mengeksploitasi ukuran payudara tersebut. Ada wanita yang mengoperasi payudaranya supaya ukurannya berlipat-lipat lebih besar, tetapi malah berkesan tidak alami. Pria Indonesia kurang menyukai wanita yang berpayudara kecil, karena payudara kecil berkesan seperti pria dan kurang merangsang. Payudara berkesan merangsang apabila ukurannya pas, dan berkesan alami.
Rambut, pendek sedang atau panjang Penampilan wanita dengan rambut panjang sangat dominan, sedangkan penampilan wanita dengan rambut pendek sangat sedikit. Rambut panjang lebih menarik karena sesuai istilah "rambut adalah mahkota wanita", makin besar mahkotanya (dalam hal ini, rambut wanita yang panjang), maka makin menariklah dia. Rambut yang panjang tergerai berkesan seksi, apalagi bila rambut tersebut terawat dan berkilau.
Wanita dengan kulit terang lebih sering muncul dibandingkan dengan warna kulit
gelap. Perbedaannya bisa dilihat cukup signifikan, meskipun di beberapa edisi kemunculan wanita berkulit terang dan berkulit gelap mempunyai intensitas yang sama. Warna kulit yang terang juga melambangkan kecantikan, meskipun pada dasarnya wanita Indonesia memiliki kulit yang cenderung bernada coklat berkaitan dengan ras melayu, penduduk lokal Indonesia.
Dalam hal pemunculan anggota tubuh yaitu bagian-bagian badan pantat, pusar, pinggang, paha, betis yang diekspos dalam majalah pria dewasa ME Asia, ternyata yang paling sering dimunculkan adalah wanitawanita dengan busana atau gestur yang mengekspos lekukan pinggang serta bentuk pinggul dan pantat yang besar.
Setelah itu baru menyusul tampilan pusar, kaki yang jenjang (yang melingkupi paha dan betis yang terbuka), dan kerlingan mata. Biasanya, busana yang dipakai untuk mengekspos lekukan pinggang serta bentuk

Tabel 3. Frekuensi tampilan ukuran payudara
pinggul dan pantat adalah busana seperti pakaian renang, bikini, pakaian dalam, atau busana-busana dengan potongan yang ketat berbahan seperti satin atau renda. Lekukan pinggang dianggap menarik karena seperti sinyal bagi para pria untuk memeluk dan merangkul bagian tubuh tersebut. Serta bagian pinggul dan pantat yang besar dianggap menarik karena merupakan anggota tubuh yang paling besar dari para wanita. Lekukan pinggang dan pinggul memberi kesan yang langsing, serta adalah ciri khas dari tiap wanita.
Sama seperti majalah pesaingnya, ME Asia, dalam majalah FHM frekuensi yang tinggi adalah tampilan wanita yang menonjolkan lekukan pinggang serta wanita yang menonjolkan pinggul dan pantat. Tipe tampilan ini menjadi tipikal dalam majalah ME Asia dan majalah FHM. Berbeda dengan majalah FHM yang berasal dari negara penghasilnya yaitu Inggris, FHM Indonesia menyesuaikan diri dengan selera kebanyakan pria di Indonesia. Majalah FHM dari Inggris, menampilkan wanita yang disukai oleh pria dari Inggris sana, seperti contohnya selera orang barat terhadap wanita berpayudara besar.
Tampilan wanita dalam majalah FHM Indonesia disesuaikan dengan selera para pria Indonesia yang lebih banyak menganggap bahwa wanita dengan eksploitasi pada bagian pinggang, pinggul dan pantat lebih menarik dan seksi dibandingkan wanita dengan eksploitasi pada bagian tubuh yang lain.
Keterbukaan pakaian, prosentase keterbukaan pada majalah ME Asia, pakaian yang terbuka 75 % jumlahnya sedikit, yang menonjol adalah wanita berpakaian dengan keterbukaan 25% dan 50%. Ini suatu fenomena yang menarik, karena dalam bagan ini berarti ditunjukkan bahwa wanita dengan tingkat keterbukaan busana yang tinggi belum tentu lebih menarik. Seperti yang telah ditunjukkan dalam bagan sebelum (lihat: Tabel tentang Wajah Indo dan Wajah Lokal), ME Asia banyak menampilkan wanita berwajah indo, dan wanita-wanita indo ini memakai pakaian yang cenderung lebih tertutup, yaitu pakaian dengan keterbukaan hanya 25% dan 50% saja. Tetapi wanita-wanita ini dianggap menarik karena ada sisi lain yang ditonjolkan dalam foto-foto tersebut. Berkisar dari gestur, wajah yang cantik, sampai pada bahan busana yang dipakai oleh model.
Meskipun kebanyakan pakaian yang dipakai adalah pakaian dengan keterbukaan 25% dan 50%, tetapi bahan/material pakaian yang digunakan cenderung ketat dan transparan membentuk tubuh. Para pembaca ME Asia pun kebanyakan para pria dewasa dengan kehidupan pekerjaan yang secara ekonomi sudah mapan, sehingga barangkali seiring dengan pertumbuhan usia dan keterbukaan diri terhadap pengaruh luar yang masuk, terjadi pergeseran selera terhadap figur wanita. Yang tadinya ketika masih muda ketika melihat wanita yang berpakaian asal terbuka saja sudah menarik, maka seiring pertambahan umur, pengalaman melihat wanita pun berubah. Wanita tidak hanya asal berpakaian terbuka saja supaya bisa dibilang seksi, tetapi ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan, seperti misalnya wajah indo atau warna kulit yang terang.
Pada majalah FHM, yang menonjol adalah tampilan wanita dengan keterbukaan pakaian 75%, baru disusul dengan wanita dengan keterbukaan pakaian 50%, dan wanita dengan keterbukaan pakaian 25%. Seperti yang telah ditampilkan dalam baganbagan sebelumnya (lihat: Tabel 3.2 tentang

Tabel 5. Frekuensi tampilan keterbukaan tubuh
Wajah Indo dan Wajah Lokal), majalah FHM lebih banyak menampilkan wanita dengan wajah lokal dengan kulit lebih gelap serta bentuk hidung lebih pesek, dan ukuran tubuh yang lebih pendek daripada wanita indo yang jangkung dan kurus.
Yang menarik, wanita-wanita berwajah lokal ini ditampilkan lebih berani daripada wanita indo, pakaian yang dipakai lebih banyak pada keterbukaan 75%, yaitu hanya menutup bagian-bagian vital seperti payudara dan kemaluan saja. Jenis pakaian yang dipakai pun berkisar dari pakaian renang dan pakaian dalam. Wanita dengan jenis-jenis pakaian ini tentu saja menarik karena lebih banyak kulit yang ditampilkan, apalagi masyarakat masih beranggapan bahwa wanita lokal cenderung lebih pemalu untuk menampilkan tubuhnya.
Dengan adanya tampilan-tampilan wanita dengan keterbukaan 75% seperti ini dalam majalah FHM, maka seperti mendobrak anggapan masyarakat bahwa orang lokal harus pemalu dan tertutup. Dalam majalah FHM ditampilkan malah wanita berwajah
lokal yang lebih berani tampil terbuka, pose dan pakaian yang dipakai begitu minim sehingga menunjukkan bahwa wanita lokal juga mampu berbuat tidak kalah dengan wanita yang ada dalam majalah-majalah pria dewasa asal luar negeri.
Diskusi
Dari hasil persentase tampilan wanita dengan berbagai kriteria yang muncul dalam majalah ME Asia dan FHM, bisa dilihat bahwa majalah ME Asia lebih banyak menampilkan wanita berwajah indo dengan rambut panjang, berkulit terang, berpayudara sedang, memakai pakaian dengan keterbukaan 25% serta menampilkan bentuk lekuk pinggang. Sedangkan untuk majalah FHM ditampilkan wanita berwajah lokal dengan rambut panjang, berpayudara sedang, berkulit terang, memakai busana dengan keterbukaan 75% serta juga menampilkan lekuk pinggang sebanyak 44%.
Walaupun pada ME Asia wajah indo ditampilkan lebih banyak, baik dari majalah ME Asia maupun FHM mayoritas
menampilkan wanita-wanita dengan ciri wajah lokal. Ini bisa disebabkan oleh selera dari masing-masing pembaca majalah tersebut. Terlihat dari wanita yang ditampilkan majalah ME Asia yang diperuntukkan oleh pria dengan strata ekonomi lebih mapan dan usia yang lebih dewasa, mereka lebih menyukai wanita dengan wajah indo. Sedangkan majalah FHM dengan usia pembaca yang lebih muda, antara mahasiswa dan eksekutif muda, cenderung lebih menyukai wanita dengan wajah lokal. Untuk warna kulit, warna kulit terang masih menduduki peringkat pertama dibandingkan dengan wanita yang berkulit agak gelap. Menurut pria Indonesia, wanita dengan warna kulit lebih terang lebih diminati karena nampak lebih cantik dan sehat. Wanita berkulit gelap berkesan kusam dan kurang menarik. Sedangkan untuk rambut, majalah ME Asia maupun FHM sama-sama menampilkan lebih banyak wanita berambut panjang. Kemunculannya sangat dominan dibandingkan dengan wanita berambut pendek yang sangat sedikit. Dalam majalah ME Asia, wanita dengan pakaian yang terbuka 75% kemunculannya lebih sedikit dibandingkan dengan wanita yang memakai pakaian yang terbuka 50% dan 25%. ME Asia lebih menonjolkan foto wanita dari segi fotografis, seperti panorama latar belakang yang indah, ataupun baju yang dipakai oleh model. Berbeda dengan FHM yang tidak terlalu mementingkan panorama latar belakang model, majalah ini lebih memfokuskan bentuk tubuh dan wajah sang model dalam foto-foto yang ditampilkan.
Sementara itu dari foto yang terlihat, pria Indonesia menyukai wanita dengan ukuran payudara sedang. Wanita dengan ukuran payudara besar serta kecil kurang diminati. Yang menarik, berbeda dengan pria Barat yang lebih menganggap payudara besar adalah faktor utama untuk menentukan kemenarikkan wanita, pria Indonesia nampak lebih menyukai wanita yang menonjolkan lekukan pinggang yang kecil serta tonjolan pinggul dan pantat yang besar.
Visualisasi dengan Gestur Frontal, gestur yang secara frontal menghadap kamera dari sisi depan menarik karena dari gestur tersebut para pria bisa melihat secara utuh tubuh wanita tersebut. Dengan berpose frontal, akan lebih mudah menangkap kelebihan dan kekurangan dari tubuh wanita yang ditampilkan, karena pose ini mirip seperti bagan tubuh yang ditampilkan dalam skema-skema organ tubuh di bidang ilmu kedokteran, yaitu untuk menjabarkan apa saja yang terdapat di tubuh manusia. Tetapi di pose frontal dalam majalah pria dewasa, ada sesuatu yang diekspos, yaitu biasanya anggota tubuh yang menarik pria seperti payudara atau pinggang.
Gestur samping ¾ dianggap menarik karena mengundang rasa penasaran dari para pria. Berbeda dengan gestur frontal yang menampilkan seluruh tubuh wanita dari arah depan, gestur yang diambil dari samping memperlihatkan siluet tubuh yang sangat khas wanita, yaitu siluet kelangsingan pinggang dan pinggul. Area bagian torso dari bawah payudara, pinggang, sampai pinggul bisa diekspos dengan lebih bebas. Wajah yang secara tidak langsung secara frontal menghadap kamera pun bisa membuat wajah terkesan lebih tirus, dan kekurangan-kekurangan di wajah bisa disembunyikan. Gestur samping juga lebih mudah memperlihatkan panjang rambut dan siluet leher.
Visualisasi dengan Gestur Duduk menurut para responden, gestur dianggap menarik karena bisa menampilkan bagian tubuh wanita yang menarik selain payudara dan
Tabel 6. Tampilan wanita dalam gestur tidur
pinggul, yaitu kaki yang jenjang. Banyak pria yang beranggapan bahwa paha yang mulus juga penting dalam menentukan keseksian seorang wanita.
Visualisasi dengan Gestur Tidur menurut responden, gestur tidur dianggap menarik karena ada suatu pesan konotasi yang dibawa dalam gestur tersebut. Dengan melakukan gestur tidur, maka model tersebut seperti mengajak pembaca majalah yaitu para pria dewasa, untuk ikut tidur bersamanya. Gestur tidur juga berkesan seakan-akan takluk atau menyerah, dalam hal ini menyerah pada kekuasaan pria, maka pria sebagai pembaca akan berimajinasi lebih lanjut.
Visualisasi dengan Gestur Frontal seperti yang telah dijelaskan, gestur yang secara frontal menghadap kamera dari sisi depan menarik karena dari gestur tersebut para pria bisa melihat secara utuh tubuh wanita tersebut. Dengan berpose frontal, akan lebih mudah menangkap kelebihan dan kekurangan dari tubuh wanita yang ditampilkan.
Tampilan gestur wanita dalam majalah pria dewasa FHM dan ME Asia mempunyai variasi perbedaan tingkat keterbukaan pakaian di visualisasi modelnya. Rata-rata wanita yang ditampilkan memiliki appeal yang tinggi, baik dari aspek wajah serta bentuk dan ukuran tubuh, ditambah lagi dengan gestur dan cara memandang yang menambah daya pikat sehingga mempertinggi male gaze. Eksploitasi pada bagian tubuh tertentu juga menambah daya tarik para model, seperti misalnya eksploitasi pada bagian pinggang dan pinggul, serta payudara.
Dari hasil analisis, FHM cenderung mempunyai male gaze yang lebih tinggi daripada ME Asia. Tiap gambar dalam FHM cenderung mempunyai penggemar dengan tingkatan yang sama, tidak sebatas pada wanita dengan keterbukaan 75 % saja. Selain dikemas dalam keterbukaan busana, model-model dalam FHM juga mempunyai gestur yang lebih luwes dan menarik perhatian daripada ME. Semakin tinggi appeal penampilannya, didukung dengan keterbukaan busana serta gestur yang sensual, maka semakin tinggi pula male gaze yang didapat. Ini disebabkan visualisasi di dalam FHM disesuaikan dengan yang sudah dilakukan di negara asalnya, sehingga lebih matang dalam mengemas sensualitas.
Negara asal FHM sudah mempunyai budaya yang terbuka atas sensualitas, sehingga otomatis membentuk citra wanita yang ditampilkan sensual dan menggoda, seperti yang telah ditampilkan dalam majalah FHM. Inilah yang disebut dengan mitos dalam budaya, yang jika diserap oleh orang-orang yang membacanya di negara kita, membentuk konsep baru kepada pemahaman pria atas wujud wanita yang ideal dan sensual, yaitu berkiblat pada apa yang sudah ditampilkan dalam majalah FHM.
Kesimpulan
Untuk menarik perhatian para pembaca, majalah pria dewasa di Indonesia sering menggunakan wanita dari Indonesia sebagai model. FHM, yang merupakan majalah franchise dari Inggris, mendekati target pasar dengan menampilkan citra wanita yang berpakaian minim dan lebih berani daripada majalah ME Asia, yang diterbitkan di Indonesia. Dari analisis sampel majalah yang ada, FHM mengutamakan citra wanita yang lebih terbuka, ditunjukkan dengan cara berpakaian serta gestur yang cenderung lebih mengundang hasrat. Berbeda dengan majalah ME Asia, meskipun sama-sama menggunakan wanita Indonesia sebagai modelnya, cara berpakaian serta gestur yang ditampilkan cenderung lebih sopan dan prosentase keterbukaan pakaian lebih sedikit.
Perbedaan citra wanita dalam dua majalah ini terjadi karena asal negara majalah tersebut mempunyai perbedaan budaya yang cukup kentara. Inggris, sebagai tempat FHM berasal, tentu menganut budaya barat yang lebih bebas dan terbuka daripada ME Asia yang berasal dari Indonesia. Itulah sebabnya wanita Indonesia yang tampil dalam majalah FHM memakai pakaian yang lebih terbuka serta gestur yang lebih mengundang hasrat karena mengadaptasi dari apa yang telah ditampilkan dalam majalah FHM versi Inggris.
Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa pria-pria dewasa usia 21 tahun ke atas punya selera tersendiri tentang citra wanita Indonesia, dan kebanyakan berpendapat bahwa semakin banyak model yang ditampilkan berpakaian minim dalam sebuah majalah pria dewasa semakin baik, hal ini juga dilatarbelakangi oleh negara serta budaya mana majalah tersebut berasal. Maka konsep komunikasi dari dua majalah ini diangkat dari rasa ketertarikan pria Indonesia terhadap citra wanita. Bahwa "wanita berperan sebagai subjek yang dipandang, sedangkan pria yang berperan sebagai subjek yang memandang."
Pria memandang gambar atau representasi wanita berupa foto – foto yang ada dalam majalah untuk pria dewasa, wanita sebagai objek yang dipandang mempunyai peran menarik minat bahkan hasrat melalui penonjolan feminitasnya. Ratarata wanita yang ditampilkan memiliki daya tarik yang tinggi, baik dari aspek wajah serta bentuk dan ukuran tubuh, ditambah lagi dengan gestur dan cara memandang yang menambah daya pikat sehingga mempertinggi male gaze. Dalam representasi ini wanita-wanita tersebut ditampilkan dengan setting atau penataan sedemikian rupa, baik pada fisik wanita tersebut yaitu pakaian atau lebih tepat penutup badannya, serta latar belakang yang digunakan. Hal-hal ini jika dikaitkan dengan produksi kultural merupakan denotasi yang membentuk mitos tentang citra wanita yang di representasikan untuk kepentingan male gaze demi kesenangan visual yang dinikmati oleh pengamatnya yaitu para pria dewasa konsumen majalah ini.
Media, seperti yang kita ketahui sebagai instrumen komunikasi yang sangat vital dalam masyarakat, kini mempunyai peran yang signifikan. Kontak dengan media sudah menjadi kebutuhan utama. Sebagai perwujudan komunikasi, pasti kontennya dapat berkembang pada masyarakat. Dengan adanya dampak dari visualisasi wanita Indonesia dalam majalah ini, pasti mengundang kritik, serta opini, baik yang positif maupun yang negatif.
Visualisasi ini mempunyai kekuatan untuk memproduksi atau mengangkat mitos. Bahkan dengan sendirinya, akan membentuk citra wanita Indonesia yang ideal di mata pria dewasa. Dengan seringnya para pria Indonesia melihat wanita Indonesia berpose seronok dalam majalah, hal ini bisa menimbulkan mitos, yaitu gambaran ideal wanita Indonesia serta gambaran budaya Indonesia pada masa kini, yaitu wanita Indonesia tampil buka-bukaan.
Bisa disimpulkan, bahwa citra wanita Indonesia sekarang ditampilkan lebih terbuka dan cenderung meniru apa yang sudah ditampilkan dalam majalah pria dewasa di luar negeri. Tampilan wanitawanita dalam majalah-majalah ini adalah hasil setting untuk membentuk imajinasi dan asosiasi yang menarik minat dan hasrat pria yang menatap mereka. Para wanita ini diupayakan sedemikian rupa melalui denotasi–denotasi yang apabila di gabungkan membentuk mitos yaitu citra wanita pemikat dan pembangkit hasrat, padahal jika sedang tidak di setting, para wanita ini adalah manusia biasa.
Mitos-mitos ini diciptakan sesuai dengan selera atau impian ideal segmen pembacanya, pembaca di Indonesia di suguhi dengan tampilan wanita-wanita Indonesia yang direkayasa sedemikian rupa menyerupai perekayasaan tampilan wanita pada majalah-majalah tersebut di negara asalnya. Meskipun begitu, tidak ada persepsi yang dapat disalahkan, karena semua hanyalah bagian dari perbedaan cara menangkap pesan komunikasi.
Tampilan wanita pada majalah pria dewasa di Indonesia disesuaikan dengan selera pembacanya dengan perekayasaan seperti di negara asal majalah tersebut. Hal ini merupakan pemindahan ideologi dari negara asal majalah – majalah tersebut ke Indonesia, ini demi kepentingan bisnis media untuk menjaring sebanyak mungkin pembaca yaitu para pria dewasa di Indonesia. Ideologi tentang kebebasan mengekspresikan sensualitas dan sejenisnya turut merebak seiring dengan perkembangan peredaran majalah-majalah tersebut, sehingga membentuk citra wanita Indonesia sesuai dengan perekayasaan yang dibuat. Dan gejala ini menimbulkan timbal balik yang saling mempengaruhi, dan terus dikonsumsi oleh masyarakat.
Reaksi orang-orang terhadap visualisasi wanita berbeda-beda, begitupun dengan reaksi terhadap perpindahan ideologi yang disalurkan lewat media komunikasi seperti majalah pria dewasa ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Bagaimanapun tampilan wanita-wanita dalam majalah-majalah ini adalah hasil setting untuk membentuk imajinasi dan asosiasi yang menarik minat dan hasrat pria yang menatap mereka. Diperlukan wawasan yang tinggi serta keterbukaan atas informasi serta kemampuan untuk menyaring informasi supaya dapat menanggapi hal ini dengan bijaksana.
Daftar Pustaka
- 1. Howells, Richard (2003). Visual Culture. Blackwell Publishers LTD. Maiden, MA 02148 USA.
- 2. Microsoft Encarta Reference Library, 2003
- 3. Rose, Gillian (2001). Visual Methodologies: An Introduction to the Interpretation of Visual
- 4. Materials, SAGE Publications, London.
- 5. Thwaites, Tony, Davis, Lloyd and Mules, Warwick (1994). Tools for Cultural Studies: An Introduction, Macmillan Education Melbourne, Australia.
FHM, April 2005 FHM, Januari 2006 FHM, Maret 2005 FHM, Maret 2004 Male Emporium, November 2002 Male Emporium, Oktober 2003 Male Emporium, Oktober 2006
http://books.google.co.id/citra+wanita+ indonesia
http:// www.fhm.co.id(10-10-2009 17:40)
Kompasiana, www.mariskalubis.com; Rabu, 16 Desember 2009, 12:09 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni http://kosmo. vivanews.com/news/read/114301-5_ daya_tarik_wanita_di_mata_pria ; Rabu, 16 Desember 2009, 12:09 WIB.
