1. Home
  2. Archives
  3. Vol 4 (2015) Issue 1
  4. Articles

Evaluasi Desain Media Sosialisasi Kebencanaan Ditinjau dari Kemampuan Literasi Visual (Studi Kasus Media Sosialisasi Tsunami Kabupaten Bantul Yogyakarta)

Abstract

There society requires an adequate understanding of disaster risk in order to react appropriately to save themselves. The role of disaster media socialization as one source of information is an important element in disaster management. Understanding disaster media socialization reflects community level preparedness in an area. This research is the study of visual literacy measured to evaluate the tsunami socialization media given to the coastal districts of Bantul, Yogyakarta. From the research facts about the level of literacy communities are affected by the social and cultural environment. Based on the results the easy disaster media needed to be found in relation to daily in order to foster disaster preparedness.

Keywords

1. PENDAHULUAN

Rentetan bencana alam besar sering menimpa Indonesia dalam interval waktu yang relatif pendek. Hal ini tidak lepas dari posisi Indonesia yang dikelilingi oleh lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik yang aktif bergerak sehingga membuat Indonesia sering dilanda bencana gempa yang juga berpotensi untuk terjadi tsunami, dibutuhkan manajemen bencana untuk mengelola bencana tersebut sehingga dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya. Manajemen bencana adalah upaya sistematis dan komprehensif untuk menanggulangi semua kejadian bencana secara cepat, tepat dan akurat untuk menekan korban dan kerugian yang ditimbulkan (Ramli, 2010;11). Pentingnya manajemen bencana tersebut membutuhkan kesiap-siagaan serta peran aktif dari warga masyarakat. Dalam kesiap-siagaan tentunya membutuhkan pengetahuan yang baik mengenai resiko bencana yang dapat terjadi.

Letak Kabupaten Bantul yang rawan gempa dan tsunami menjadi perhatian khusus, pasca gempa bumi tahun 2006 kesadaran akan potensi bencana tsunami mulai tumbuh. Berbagai macam bentuk sosialisasi kebencanaan telah diberikan oleh lembaga terkait kebencanaan, salah satunya adalah melalui media grafis berupa poster, komik, booklet, dan signage. Seluruh media sosialisasi hanya dapat berfungsi apabila dapat dengan mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat. Pemahaman yang baik terkait literasi visual dalam media grafis yang komunikatif dibutuhkan dalam pengembangan media sosialisasi kebencanaan. Dengan kemampuan literasi visual tersebut dapat diuji seberapa besar tingkat pemahaman masyarakat dalam menginterpretasi media yang telah diberikan lembaga terkait kebencanaan.

Gambar 1. Komponen Literasi Visual Sumber : Avgerinou dan Petterson (2011)

Gambar 2. Model Proses Komunikasi Massa Sumber : Davis Foulger (2004)

1.1 Lliterasi Visual

Literasi visual mengacu pada visi dan kompetensi manusia yang dapat berkembang dengan melihat dan mengintegrasikan pengalaman inderawi lainnya. Kemampuan tersebut merupakan dasar pembelajaran manusia normal yang memungkinkan seseorang untuk membedakan dan menafsirkan informasi visual berupa objek, simbol alam atau buatan manusia yang ditemui di lingkungannya (John Debes, 1969;27 dalam Avegerinou Presentation). Literasi visual berfokus pada penafsiran gambaran secara visual oleh seseorang yang juga terkait dengan konsep literasi secara umum, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Avegerinou dan Peterrson (2011;5) memetakan komponen dari literasi visual meliputi : bahasa visual, komunikasi visual, pembelajaran visual, berpikir visual, dan persepsi visual yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

1.2 Efektivitas Media

Media memainkan peran dalam proses komunikasi, terdapat berbagai strategi yang digunakan untuk mencapai keberhasilan dalam proses komunikasi. Suatu komunikasi dapat dikatakan efektif apabila pesan yang dibuat oleh komunikator dapat diterima oleh komunikan dengan jelas, sehingga maksud dan tujuan dari komunikasi yang diinginkan oleh komunikator dapat tercapai. Bentuk komunikasi yang terjadi dalam sebuah proses sosialisasi adalah jenis komunikasi massa, yaitu komunikasi yang melibatkan sejumlah masyarakat yang sangat besar dengan cakupan wilayah yang sangat luas. Komunikasi massa pada umumnya memiliki sifat sebagai berikut : (1) Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis; (2) Bersifat satu arah, cenderung tidak ada interaksi langsung antara komunikator dan komunikan; (3) Bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada publik dan tidak terbatas; (4) Mempunyai publik yang secara geografis tersebar (Elzabeth-Noelle Neuman dalam Irfan;5).

Berdasarkan sifat media massa tersebut, efektifitas pesan yang disampaikan melalui media teknis harus memiliki : (1) Kemampuan untuk dapat dilihat dan ditemui oleh pengamat, faktor penempatan serta teknis publikasi pesan berpengaruh dalam penerapannya; (2) Kemampuan untuk dapat diinterpretasi dengan benar terkait inti pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan; (3) Kemampuan keterbacaan media yang terkait dengan faktor budaya serta kemampuan kognitif pembaca serta kualitas dari bahasa yang disampaikan melalui media.

Visualisasi desain merupakan salah satu strategi yang digunakan dalam proses

Tabel 1. Analisa Media

MediaKriteria
- Komposisi bahasa visual dominan dari bahasa verbal.
- Ilustrasi digambarkan dengan bahasa rupa modern, ruang dan
waktu digambarkan perspektif (bird-eye-view).
- Judul menggunakan kalimat positif.
- Dimensi media (85 cm x 120 cm).
- Tipografi jenis Serif.
- Publikasi dengan dibagikan kepada masyarakat, dan
ditempelkan di area publik.
- Komposisi bahasa visual dan bahasa verbal seimbang.
- Ilustrasi digambarkan tiap sequence secara berurutan dan
saling berkaitan, ruang dan waktu digambarkan datar.
- Judul menggunakan kalimat positif.
- Dimensi media (14 cm x 21 cm).
- Tipografi jenis San Serif.
- Menggunakan bahasa Jawa.
- Publikasi dengan dibagikan kepada masyarakat.
- Komposisi bahasa visual dan bahasa verbal seimbang.
- Ilustrasi digambarkan dengan ikon analogik.
- Dimensi media (90 cm x 45 cm).
- Tipografi jenis San Serif dengan Kapital dan Bold yang kontras
dengan warna dasar bambu.
- Warna dasar yang digunakan terang.
- Publikasi dengan ditempatkan di area publik.
- Komposisi bahasa visual dan bahasa verbal seimbang.
- Ilustrasi digambarkan tiap kejadian berurutan dan tidak saling
berkaitan, ruang dan waktu dan waktu digambarkan secara
perspektif.
- Dimensi media (18 cm x 25 cm).
- Tipografi jenis San Serif yang kontras dengan warna dasar
booklet.
- Publikasi dengan dibagikan kepada masyarakat.
- Komposisi bahasa verbal dominan dari bahasa visual.
- Bahasa verbal yang digunakan cenderung ilmiah untuk
masyarakat tradisi.
- Ilustrasi digambarkan dengan fotografi sebagai elemen
dekoratif.
- Dimensi media (85 cm x 120 cm).
- Tipografi jenis dekoratif dengan warna yang tidak kontras
dengan latar belakang poster.
- Warna dasar poster cenderung gelap
- Publikasi melalui media web dan ditempelkan di area publik.
1

Gambar 3. Variabel Penelitian

komunikasi agar lebih fungsional, efektif dan estetis. Dalam prakteknya seorang desainer harus mempertimbangkan audience yang akan dituju sebagai penerima pesan, karena visualisasi desain didasarkan pada sebuah persepsi bukan dari fenomena fisik sehingga faktor kognisi dan penglihatan manusia sangat berpengaruh dalam menginterpretasi pesan visual. Pemahaman terhadap persepsi merupakan kunci dalam keberhasilan pesan visual, dalam ranah bahasa rupa kemampuan atau cara pandang dalam gambar dibagi menjadi bahasa rupa modern Natural-Perspektif-Monopname (NPM), dan bahasa rupa tradisi Ruang-Waktu-Datar (RWD). Dimana keduanya memiliki grammer yang sama berupa interpretasi atas pesan visual berupa objek gambar (Tabrani, 2005;v).

Beberapa media sosialisasi grafis yang diberikan oleh stakeholder terkait manajemen bencana di Kabupaten Bantul diantaranya adalah : Poster tsunami oleh GTZ dan BNPB, Booklet tsunami oleh GTZ, Komik tsunami oleh LIPI dan signage tsunami oleh RISTEK.

2. METODE

Penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan metode evaluasi yang merupakan jenis summative evaluation yaitu mengevaluasi program atau kegiatan, dalam penelitian ini berupa kegiatan sosialisasi kebencanaan yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu, indikator yang dipakai adalah efektifitas media sosialisasi. Target dari penelitian ini adalah masyarakat pesisir Kabupaten Bantul yang bertempat tinggal di tiga kecamatan yang termasuk wilayah rawan bencana gempa bumi dan tsunami, meliputi : Kecamatan Kretek, Kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan. Penelitian akan mengkaji kemampuan masyarakat dalam memahami pesan yang bersifat visual berupa poster, komik, booklet dan signage berdasarkan kondisi lingkungan sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.

Variabel dalam penelitian yang digunakan didasarkan pada komponen literasi visual dan efektifitas media. Kelima komponen literasi visual tersebut dihubungkan dengan pertanyaan kuesioner yang mewakili beberapa aspek parameter efektifitas media yang meliputi visibility bagaimana pesan tersebut mudah untuk ditemui atau dilihat, legibility bagaimana pesan dalam media tersebut dapat diinterpretasi dengan benar dan readability bagaimana media tersebut dapat mudah dibaca. Faktor pengalaman dalam berinteraksi dengan media sosialisasi merupakan hal penting dalam proses pembelajaran, maka dari itu variabel pengalaman dimasukan dalam komponen literasi visual terkait pembelajaran visual sedangkan dari aspek media, faktor pengalaman tersebut dimasukan dalam variabel visibility atau kemudahan untuk dilihat dan ditemui.

2.1 Karakteristik Masyarakat

Sebagai bagian dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, budaya yang berkembang di wilayah Kabupaten Bantul adalah budaya Jawa. Pengaruh kesultanan Yogyakarta memberi peran dalam kehidupan sosial

Tabel 2. Persentase Tingkat Pendidikan Masyarakat Kabupaten Bantul Tahun 2007 Sumber : Badan Pusat Statistik Pemerintah Kabupaten Bantul (2008)

NoPendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan
Persentase
1Tidak/belum pernah sekolah
2Tidak/belum tamat SD10,88
3Sekolah Dasar6,32
4SLTP Umum5,22
5SLTA Umum3,49
6SLTA Kejuruan-
7D1/D26,05
8Akademi/D3-
9D4-S3-
10Tidak Sekolah lagi68,03
Jumlah100

dan budaya masyarakatnya. Manusia Jawa memandang hidup sebagai hubungan yang harmonis antara makro kosmos (jagad besar) dan mikro kosmos (jagad kecil).

Dalam hal komunikasi, secara verbal masyarakat Jawa menggunakan bahasa Jawa dengan tingkatan bahasa tertentu yang dikaitkan dengan lapisan sosialnya. Sedangkan secara visual, masyarakat Jawa mengenal aksara hanacaraka yang membedakan dengan kebudayaan lain. Kemampuan dalam berkomunikasi ini akan mempengaruhi tingkat pendidikan dan "melek" huruf terkait kemampuan baca tulis masyarakat dalam menanggapi informasi. Tingkat "melek" huruf merupakan salah satu indikasi kemajuan suatu masyarakat. Dengan kemampuan baca dan tulis, masyarakat mampu menyerap informasi yang mereka temui di lingkungannya. Angka "melek" huruf didasari pada kemampuan baca tulis secara latin, bukan baca tulis secara tradisional yang juga dimiliki pada masyarakat Jawa.

Data Badan Statistik Pemerintah Kabupaten Bantul menyebutkan bahwa masih banyak penduduk Bantul yang berpendidikan SD kebawah yakni dengan persentase 10,88% sedangkan yang tidak lagi sekolah memiliki persentase 68,03%. Faktor pendidikan ini sangat mempengaruhi tingkat pemahaman masyarakat akan literasi visual. Selain faktor pendidikan, faktor ekonomi juga turut mempengaruhi perkembangan manajemen kebencanaan di suatu wilayah, mayoritas masyarakat Kabupaten Bantul

Tabel 3. Angka "Melek" Huruf Masyarakat Kabupaten Bantul 2006-2009 Sumber : Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bantul 2011-2015

Uraian2006200720082009
Jumlah Melek Huruf (orang)789.575815.913902.166709.499
Persentase Melek Huruf (%)98,3498,7199,1599,60
Jumlah Penduduk
seluruhnya (orang)
802.894826.546909.812712.351

bekerja di sektor pertanian, perdagangan dan pariwisata. Bagaimana kapasitas suatu wilayah dalam menghadapi bencana tentunya juga tergantung pada sarana dan prasarana yang terdapat di wilayah tersebut dan banyaknya jumlah keluarga miskin.

Berdasarkan data tersebut, dapat dianalisa bahwa meskipun persentase tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Bantul rendah, namun angka "melek" huruf masyarakat Kabupaten Bantul mengalami peningkatan tiap tahunnya yang mengindikasikan peningkatan mutu sumber daya manusia.

Dalam kesiap-siagaan menghadapi bencana tentunya juga dibutuhkan pengetahuan dan kesadaran. Dari hasil kuesioner serta wawancara dengan masyarakat di tiga kecamatan rawan gempa dan tsunami di Kabupaten Bantul didapatkan fakta bahwa masyarakat Kabupaten Bantul lebih perhatian terhadap ancaman bencana gempa bumi dibandingkan bencana tsunami. Hal ini dikarenakan pengalaman terhadap bencana gempa bumi pada tahun 2006 yang banyak mengakibatkan korban jiwa serta kerugian harta benda masih membekas diingatan masyarakat, sedangkan untuk bencana tsunami sendiri meskipun berpotensi terjadi namun belum pernah dialami pada masa generasi mereka.

3. ANALISIS

1. Poster GTZ

Faktor teknik publikasi poster GTZ yang dibagikan pada masyarakat mempengaruhi tingkat keterlihatan media. Faktor lain yang mempengaruhi keterlihatan media adalah adanya perhatian terhadap bencana tsunami dan ketersedian ruang publik seperti adanya papan pengumuman tempat poster tersebut dipublikasikan. Penggunaan headline atau judul poster yang positif mempengaruhi interpretasi pesan, selain itu teknik ilustrasi dengan penggambaran suatu kejadian tsunami secara keseluruhan melalui penggunaan bahasa rupa modern ruang dan waktu dibuat perspektif juga berpengaruh terhadap interpretasi media poster. Dari segi keterbacaan media dipengaruhi oleh komposisi bahasa visual yang lebih dominan menuntut kemampuan masyarakat membaca serta mengkritisi bahasa gambar.

2. Poster BNPB Poster BNPB yang dipublikasikan melalui

Tabel 4. Tingkat Efektifitas Poster GTZ

Tabel 5. Tingkat Efektifitas Poster BNPB

Tabel 6. Tingkat Efektifitas Booklet GTZ

4

media internet / web mempengaruhi tingkat keterlihatan terkait interaksi masyarakat dengan teknologi informasi dan komunikasi. Inti pesan yang ingin disampaikan lebih dominan menggunakan bahasa verbal melalui penggunaan teks berpengaruh terhadap kejelasan pesan yang secara langsung juga akan mempengaruhi tingkat keterbacaan media terkait penggunaan jenis tipografi serta kontras warna dengan latar belakang media.

3. Booklet GTZ

Booklet merupakan cetakan ulang dari poster GTZ yang dibuat lebih detail dengan potongan 19 kejadian yang ada di poster dijelaskan dengan menambahkan bahasa verbal berupa tulisan yang menarasikan gambar. Berbeda dengan poster GTZ yang ditempelkan di area publik, booklet ini hanya dibagikan kepada masyarakat yang mengikuti kegiatan sosialisasi sehingga faktor pengalaman mengikuti kegiatan sosialisasi berpengaruh terhadap variabel keterlihatan media. Komposisi bahasa verbal dan bahasa visual yang seimbang

akan mempengaruhi tingkat kejelasan dan keterbacaan media, dibutuhkan kemampuan untuk membaca dan mengkritisi gambar dan teks yang terdapat dalam media.

4. Komik LIPI

Komik tsunami yang diproduksi oleh LIPI ditujukan kepada segmen pelajar dengan tujuan memberikan pengetahuan mengenai fenomena alam terkait bencana tsunami. Ketersediaan sarana pendidikan mempengaruhi pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan komik ini. Sedangkan dalam hal kejelasan inti pesan dipengaruhi oleh teknik visualisasi yang menggunakan bahasa rupa tradisi, ruang dan waktu digambarkan secara datar memungkinkan untuk terjadi dualisme interpretasi. Pendekatan budaya digunakan sebagai strategi media dengan penggunaan bahasa Jawa yang berpengaruh terhadap aspek kejelasan dan keterbacaan pesan yang terkait juga dengan penggunaan jenis tipografi serta kontras warna dengan latar belakang media.

7

Tabel 7. Tingkat Efektifitas Komik LIPI

1

Tabel 8. Tingkat Efektifitas Signage RISTEK

5. Signage RISTEK

Media signage penunjuk arah evakuasi tsunami merupakan media yang telah distandarisasikan oleh RISTEK sebagai sistem tanda tsunami yang berlaku di Indonesia. Faktor penempatan media signage berpengaruh terhadap tingkat keterlihatan media terkait pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dikehidupan sehari-hari. Dalam hal kejelasan inti pesan, dibutuhkan kemampuan untuk membaca dan mengkritisi pesan baik pesan visual yang berupa ikon, maupun pesan verbal berupa petujuk arah serta lokasi yang dituju untuk menyelamatkan diri. Terkait urgenitas fungsinya untuk menyelamatkan diri, aspek keterbacaan pesan menjadi hal penting yang juga akan berkaitan dengan ukuran media, penggunaan jenis tipografi, serta kontras warna.

Visualisasi memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dalam hal ini kegiatan sosialisasi kebencanaan terkait tsunami. Peran visualisasi tersebut adalah sebagai sarana dalam memberikan referensi yang konkrit kepada masyarakat Kabupaten

Bantul tentang bencana tsunami yang belum pernah mereka alami namun sewaktuwaktu berpotensi terjadi di wilayah tempat tinggal mereka.

Secara keseluruhan tingkat efektifitas media sosialisasi kebencanaan tsunami di Kabupaten Bantul mengindikasikan bahwa media signage penunjuk arah evakuasi tsunami dari RISTEK menjadi media yang paling efektif dengan tingkat persentase 72%. Nilai persentase dari keseluruhan media rata-rata hanya berkisar 60%, masyarakat Kabupaten Bantul lebih perhatian terhadap bencana gempa bumi meskipun mereka memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bencana tsunami.

Beragamnya kebudayaan akan menghasilkan kemampuan literasi yang bervariasi dengan kemampuan kognitif serta kebiasaan membaca suatu masyarakat, budaya dan kelompok masyarakat yang berbeda akan menjadikan kemampuan literasi yang berbeda (Heath,1980; Sticht;1975;Swed,1981 dalam Kirsch,2001;6). Masyarakat Kabupaten

Tabel 2. Analisa Data

Stakeholder dan Media Sosialisasi
Kabupaten Bantul
Gempa Bumi
Tsunami
GTZBNPBGTZLIPLIBMGRISTEKV
E
R
A
G
Faktor
Sosial-Ekonomi-Budaya
Tingkat Literasi Visual
Kec.MediaKeterlihatan42%30%42%10%50%34,8%Tingkat ekonomi : 9 Lembaga keuangan
(perdagangan dan pariwisata)
Aspek visual learning terkait pengalaman berinteraksi dengan
media sosialisasi sangat kurang
8 2Kejelasan50%65%65%70%70%64%Tingkat pendidikan : 41 Lembaga pendidikan
(TK, SD,SMP,SMU)
Aspek visual thinking dan visual perception dalam menanggapi
media sosialisasi cukup balk
BfektiffKeterbacaan70%60%77%65%65%67,4%Tingkat Kesehatan :14 Fasilitas Kesehatan
(89 tenaga kesehatan)
Aspek visual language dan visual communication dalam
membaca pesan media balik
Kec.MediaKeterlihatan52%56%58%55%70%58,2%Tingkat ekonomi : 9 Lembuga kesangan
(perdagangan dan pertanian)
Aspek visual learning terkait pengalaman berinteraksi dengan media sosialisasi cukup balk
4Kejelasan69%60%58%68%83%67,6%Tingkat pendidikan : 61 Lemboga pendidikan
(TK, SD,SMP,SMU)
Aspek visual thinking dan visual perception dalam menanggapi
media sosialisasi balk
EfektifitKeterbacaan63%60%62%62%84%66,2%Tingkat Kesehatan :11 Fasilitas Kesehatan
(63 tenaga kesehatan)
Aspek visual language dan visual communication dalam
membaca pesan media balik
Kec.MediaKeterlihatan50%43%53%38%65%49,8%Tingkat ekonomi : 15 Lembaga keuangan
(perdagangan dan pertanian)
Aspek visual learning terkait pengalaman berinteraksi dengan media sosialisasi masih kurang balk
5Kejelasan77%73%68%73%81%74,4%Tingkat pendidikan : 39 Lembaga pendidikan
(TK, SD,SMP,SMU)
Aspek visual thinking dan visual perception dalam menanggapi media sosialisasi balik
EfektifiKeterbacaan73%68%71%68%81%72,2%Tingkat Kesehatan : 8 Fasilitas Kesehatan
(32 tenaga kesehatan)
Aspek visual language dan visual communication dalam
membaca pesan media balik
Rata-rata Tingkat pengetahuan dan kesadaran terhadap bencana gempa dan Isunami: 1. Kecamatan Srandakan 2. Kecamatan Sanden 3. Kecamatan Kretek-rata60,6%57,2%61.5%56%72,1%Berdasarkan faktor sosial dan
budaya, Kecamatan Kretek lebih
Bentuk visualisasi analogic dengan menggunakan ikon
yang memiliki kemiripan dengan kejadian yang
sebenarnya meriadi focus atention.
Tingkat elektifitas media sosialisasi : Faktor-faktor yang mempengaruhi : 1. Signage RISTEK 1. Penempatan media (mudah / tidaknya ditemui) 2. Booklet GTZ 2. Penggunaan warna 3. Poster GTZ 3. Keterbacaan 4. Poster BNPB 4. Bahasa 5. Komik LIPImajemuk dengan tingkat
perekonomian yang berkembang
disektor pariwisata, banyak
pendatang mempengaruhi tingkat
sosial dan budaya.
Penggunaan bahasa keseharian lebih dimengerii dengan
wama yang terang dan kontras dengan backiground med
orang luar / stakeholder tidak terfalu berpenganuh dalam
sosialisasi, kemandirian dalam mencari informasi
kebencanaan telah dimiliki oleh masyarakat.

Bantul yang sebagian besar dilatarbelakangi oleh budaya Jawa memiliki bahasa tersendiri baik secara verbal dan tulisan. Kemampuan encoding dan decoding pesan berpengaruh terhadap tingkat literasi, standar umum "melek" huruf masyarakat yang sudah cukup baik menentukan kualitas intelektual penduduk. Namun "melek" huruf saja tidak menjamin wawasan masyarakat terkait bencana tsunami menjadi luas, "melek" huruf baru menjamin satu hal yaitu kemampuan mengenali abjad dan membaca secara latin, sementara untuk kemampuan literasi sendiri dibutuhkan kemampuan untuk mengkritisi pesan dengan cara mengidentifikasi dan memahami inti pesan yang selanjutnya diolah dan dikomunikasikan kembali kepada komunitasnya.

Faktor sosial dan budaya lain yang mempengaruhi tingkat literasi visual

masyarakat Kabupaten Bantul diantaranya adalah tingkat perekonomian dan ketersediaan fasilitas umum seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan. Perkembangan manajemen kebencanaan juga akan dipengaruhi oleh tingkat perekonomian suatu wilayah. Seperti misalnya Kecamatan Kretek yang tingkat perekonomiannya didominasi oleh sektor perdagangan dan pariwisata mejadikan kemajemukan masyarakat akibat interaksi yang lebih intens dengan penduduk luar yang tentunya juga akan mempengaruhi perkembangan kebudayaan wilayah tersebut.

Analisa penelitian kemudian dilanjutkan pada tingkat literasi visual responden dalam menanggapi media sosialisasi yang telah diberikan. Konsep literasi visual mengacu pada visi dan kompetensi manusia dalam mengintegrasikan pengalaman sebagai dasar pembelajaran manusia untuk membedakan

1

Pengaruh Literasi Visual terhadap Efektifitas Media

Gambar 4. Pengaruh Literasi Visual terhadap Efektifitas Media dan menafsirkan informasi visual berupa objek, simbol alam atau buatan manusia yang ditemui di lingkungannya. Parameter yang digunakan meliputi komponen literasi visual yang saling berkaitan, meliputi : (1) Bahasa visual, terkait kemampuan responden dalam mengekspresikan diri dengan pesan visual; (2) Komunikasi visual, terkait kemampuan responden dalam berkomunikasi secara visual; (3) Pembelajaran visual, terkait kemampuan responden untuk mengorganisasikan pesan visual; (4) Berpikir visual, terkait kemampuan responden untuk membedakan makna dari tanda-tanda visual; (5) Persepsi visual, terkait kemampuan responden dalam menginterpretasi makna yang terdapat dalam pesan visual. Untuk menganalisa tingkat literasi visual tersebut digunakan software SPSS yang akan melihat hubungan antar variabel terhadap efektifitas pesan visual. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi Rank Spearman yang berguna untuk mengukur keeratan / kekuatan hubungan antara variabel literasi visual dengan efektifitas media. Sehingga didapatkan hasil seperti pada gambar 4.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian mengenai tingkat

literasi visual masyarakat pesisir Kabupaten Bantul yang diwakili oleh Kecamatan Kretek, Sanden dan Srandakan dalam menanggapi media sosialisasi kebencanaan tsunami, tingkat literasi visual masyarakat berada pada kategori "cukup baik" dengan rata-rata persentase 62% masyarakat telah mampu menginterpretasi pesan visual dengan tepat dan benar. Tingkat literasi visual tersebut tidak sebanding dengan kesadaran masyarakat akan bahaya tsunami, belum adanya pengalaman menghadapi bencana tsunami pada masa generasi mereka menjadi faktor kurangnya kesadaran terhadap bencana tsunami. Namun demikian pengetahuan akan bencana tsunami telah cukup baik, masyarakat mengetahui penyebab dan tanda-tanda bencana tsunami. Pengetahuan tersebut didapatkan melalui kemandirian mendapatkan informasi baik melalui media cetak maupun media elektronik seperti halnya internet / web. Hal ini dibuktikan dengan hasil korelasi antar variabel, komponen literasi visual yang berpengaruh terhadap efektifitas media adalah komponen bahasa visual yang mengindikasikan kemampuan masyarakat untuk mengekspresikan diri dengan pesan visual, dengan besarnya kontribusi 72%.

Sedangkan komponen pembelajaran visual menjadi komponen yang memberi kontribusi paling sedikit dengan besar persentase 21% mengindikasikan media yang telah diberikan oleh stakeholder tidak berhasil memberi pembelajaran terhadap kesadaran dan kesiap-siagaan menghadapi bencana tsunami.

5. DAFTAR PUSTAKA

Avegerinou, Maria. Persentation (2008) : Visual Literacy, Chicago : De Paul University.

Irfan, ------, Desain Grafis, Dasar-dasar Desain Komunikasi Visual.

Kirsch, Irwin. (2001) : The International Adult Literacy Survey (IALS) Understanding What Was Measured. Princeton : Educational Testing Service.

Ramli, Soehatman. (2010) : Manajemen Bencana. Jakarta : DIAN RAKYAT.

Tabrani, Primadi (2005) : Bahasa Rupa. Bandung : Kelir.

Http://www.slideshare.net/nsharoff/ maria-avgerinou-presentation diakses 13/7/2012, 13.00

Http://blog.unmac.id/irfan/files/2010/06/ modul-desain-grafis-untuk-poltek UI.pdf diakses 30/7/2012, 20.00

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
7th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Institution Network