1. PENDAHULUAN
Budaya manusia berubah seiring dengan perkembangan IPTEKS, ekonomi dan industrialisasi. Saat ini masyarakat memiliki kecenderungan dalam gaya hidup dengan budaya instan dan personalitas. Fenomena ini terlihat juga pada bidang kuliner, dengan hadirnya restoran dengan beragam tematik. Desain berperan dalam hal ini untuk mewujudkan atribut-atribut visual pada restoran tersebut. Adanya atribut visual pada restoran tersebut mampu mengkomunikasikan identitas tersendiri pada restoran yang bersangkutan. Melalui tematik yang dihadirkan, pengunjung dibuat lebih nyaman dan dibawa "larut" dalam suasana dengan pendekatan tematik yang tradisional, modern bahkan postmodern, dengan menghadirkan kesan hiberbolis visualisasinya, yang terkadang justru menjadi sebuah kitsch--lenyap batas seninya-- dalam keseluruhan desainnya. Selain terbentuknya identitas, visualisasi yang dihadirkan akan menghasilkan perbedaan persepsi dari aktivitas makan yang dilakukan oleh masing-masing pengunjung restoran. Persepsi yang dihasilkan akan berlainan karena tiap pengunjung memiliki motivasi dan latar belakang yang berbeda.
Membahas lebih lanjut perihal keterkaitan antara budaya makan dengan desain, makan dan aktivitasnya juga merupakan salah satu budaya manusia yang terus mengalami perubahan, sesuai dengan zaman dan kemajuan teknologi dan berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Pada zaman purba, dengan teknologi yang masih sederhana makan dan aktivitasnya bersifat sederhana, berkembangnya teknologi mengikuti zaman, budaya makan makin berkembang, sehingga makanan dan aktivitas makan menjadi kompleks- -artinya makan dan aktivitasnya tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik namun makan berarti "menyantap" makna yang terkandung dibalik makanan tersebut-- Gastronomi adalah ilmu yang mengkaji
hubungan antara budaya dan makanan, mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya.
Makanan tradisional dan aktivitasnya memiliki nilai budaya yang bermakna, karena dapat menjadi identitas dan ciri khas daerah yang bersangkutan. Saat ini, makanan tradisional dan aktivitasnya dijadikan komoditas gaya hidup yang dikemas dengan menonjolkan identitas lokal sehingga menarik untuk dipasarkan dalam industri kuliner yang dipasarkan dan ditawarkan melalui media-media yang dekat dengan gaya hidup masyarakat masa kini. Makanan tradisional dan aktivitasnya menjadi sebuah pengalaman tersendiri yang kaya akan simbolisasi. Makanan dan tradisi makan bertransformasi dan beradaptasi dengan gaya hidup masa kini untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dan menarik namun tetap beridentitas lokal.
Kuliner lokal dalam kaitannya sebagai komoditas gaya hidup leisure, saat ini diretorikakan dalam dua bagian yaitu kuliner yang Estetik (Miele, Murdoch, 2002) dan kuliner yang Otentik (Welsch, 1996). Kuliner Estetik mewujudkan dirinya dalam bentuk tampilan-tampilan kuliner yang didesain dengan cantik, mewah dan berkelas yang dikerjakan oleh koki ternama, sedangkan kuliner yang Otentik lebih mempresentasikan keotentikan dan tradisi dari makanan serta aktivitasnya. Keduanya disuguhkan dengan media yang dekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini seperti dalam majalah, tayangan televisi, website, buku-buku wisata yang termasuk dalam kategori lifestyle. Dalam Gastronomi kontemporer keotentikan dan kelokalan sebuah produk makanan yang menonjolkan keunikan lokal, merupakan identitas lokal dari sebuah daerah yang menjadi salah satu daya tarik daerah yang fashionable untuk dikunjungi. (Gyimóthy, Mykletun, 2008).
Manusia dengan hasrat yang dimilikinya kerap kali sering dimanfaatkan oleh persaingan pasar yang dengan cerdiknya memasuki berbagai ranah kehidupan manusia, termasuk didalamnya adalah ranah budaya kuliner (culinary culture) yang didalamnya terdapat unsur budaya fisik (material culture) yaitu: makanan, peralatan makan dan tempat makan; juga unsur budaya nonfisik (nonmaterial culture), yang meliputi: Pertama, selera (taste) yang tidak saja pada selera makan, namun juga selera dalam pengertian sosialnya, yaitu klasifikasi dan hirarki sosial selera. Kedua, makna, yaitu bagaimana makanan, tata cara makan dan teknologi makanan mengandung berbagai makna dibaliknya. Ketiga, nilai (Cultural Value), yaitu bagaimana makan dan aktivitas makan bermakna secara sosial, politik, ekonomi, sosial, kultural dan spiritual. (Piliang, 2006: 390)
Waktu berganti, zaman berkembang, gaya hidup masyarakatpun berubah, aktivitas makan sehari-hari tidak hanya dilakukan di rumah masing-masing keluarga saja, namun dilakukan juga di luar sebagai aktivitas primer yaitu memenuhi kebutuhan biologis dan juga aktivitas sekunder. Muncul restoran yang menyajikan berbagai macam menu makanan dengan gaya serta cirikhasnya masing-masing baik dalam rasa maupun suasana, salah satunya adalah restoran khas Sunda yang menghadirkan suasana makan yang bercitarasa khas budaya etnik Sunda.
Masyarakat Sunda merupakan salah satu masyarakat dengan budaya kuliner yang memiliki unsur budaya fisik dan non fisik yang beraneka ragam dan sarat dengan makna. Hal tersebut terlihat dari lebih dari 15 macam teknologi tradisional peralatan untuk mengolah bahan makanan dan cara menghidangkannya. Terdapat lebih dari 250 resep olahan makanan yang memiliki cara pengolahan, cara makan, rasa yang khas dan makna tertentu yang terkandung dalam makanan tersebut. Beberapa jenis makanan tradisional Sunda juga ada yang dihadirkan hanya pada saat-saat tertentu saja seperti upacara-upacara adat yang dapat dipastikan memiliki makna-makna khusus.
Saat ini kuliner Sunda dijadikan salah satu komoditas dalam perekonomian masyarakat. Kreatifitas dan upaya diferensiasi terus dikembangkan pada bidang ini. Dunia kuliner yang awalnya hanya sebagai salah satu pemenuh kebutuhan primer manusia, saat ini telah berfungsi juga sebagai pemenuhan kebutuhan sekunder, sebuah pencitraan yang kuat dan berinovasi perlu dilakukan untuk menghadapi persaingan ketat ini. Mengandalkan kelezatan rasa saja saat ini dirasa masih kurang kreatif dan inovatif. Dalam masyarakat yang telah dijejali dengan berbagai macam iklan serta promosi, sebuah identitas visual yang berciri khas dan berbeda akan memberi nilai tambah pada pencitraan kuliner saat ini. Budaya visual dimunculkan dalam usaha membentuk identitas yang diwujudkan oleh desain dalam visualisasinya. Visualisasi identitas tersebut lebih lanjut akan menggiring konsumennya untuk dapat mengalami sensasi tradisional makan ala Sunda yang menghasilkan persepsi berbeda-beda sesuai pengalaman masing-masing. Persepsi diartikan sebagai tanggapan langsung dari suatu serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (KBBI 1988). Strategi pencitraan tersebut kerap kali dikenal masyarakat dengan istilah branding.
Membahas tentang branding, dahulu berfungsi hanya sebagai alat untuk mengidentitaskan sesuatu, namun saat ini dengan adanya berbagai tayangan iklan dan promosi yang marak tujuannya menjadi berubah. Strategi branding sebagai alat identitas haruslah memiliki kemampuan lebih dalam mengelola identitas yang akan dihasilkan agar memiliki ikatan dengan konsumennya sehingga dapat menumbuhkan loyalitas konsumen pada sebuah brand. Strategi branding bisa dibentuk oleh dua elemen pokok:
Pertama, elemen yang bisa disentuh, diraba dan dilihat disebut Tangible elements, termasuk didalamnya adalah identitas korporat (corporate identity), Kedua adalah Intangible elements. Elemen ini tidak terlihat dan teraba namun akan menghasilkan pengalaman bagi konsumen, dalam sebuah restoran biasanya berhubungan dengan perilaku pegawai, aroma yang tercium dan musik atau bunyi-bunyian yang diperdengarkan dalam restoran.
Fenomena yang terjadi saat ini dalam dunia pemasaran adalah terjadi perpindahan dari area rasionalisme ke tataran keinginan, dari area objektif ke subjektif, semuanya mengacu pada sesuatu yang sifatnya psikologi. Manusia ingin dilayani dengan lebih personal, sehingga aktivitas menjual berfokus pada apa yang diperlukan dan berfungsi untuk mengatasi apa yang menjadi keresahan konsumen, bukan lagi terfokus hanya pada keunggulan dan kebaikan produk yang dijual. Oleh karena itu untuk dapat bersaing dengan kompetitornya saat ini, dalam menjual produk dan jasa diperlukan sebuah strategi branding yang sesuai dengan jamannya. Dalam dunia branding saat ini telah dikembangkan Emotional branding, yaitu strategi branding yang didalamnya terdapat relasi, pengalaman panca indra, imajinasi dan visi yang akan memasarkan produk ataupun jasa dengan cara yang berbeda yang sesuai dengan saat ini. Model pendekatan branding inilah yang akan dipakai sebagai acuan dalam menganalisa branding pada restoran Sunda dengan keistimewaan nilai-nilai budaya Sunda yang terkandung didalamnya.
Pentingnya dilakukan penelitian ini Pertama, adalah untuk membedah lebih dalam strategi branding yang dilakukan oleh kedua objek studi dengan fokus pada identitas korporatnya saja; Kedua, adalah untuk mengetahui penerapan nilai-nilai budaya etnik Sunda pada brand perusahaan secara tangible maupun intangible. Hasil penelitian ini akan menjadi inspirasi bagi
para pemasar, khususnya bidang kuliner untuk menentukan strategi branding yang tepat. Bagi desainer dalam peranannya sebagai penterjemah strategi branding melalui desain, agar mengolah budaya etnik daerah secara inovatif dan benar.
Budaya etnik Sunda telah menjadi salah satu komoditi identitas dalam branding restoran Sunda di Bandung. Produk kuliner yang sama, namun dikemas dan disajikan dengan strategi branding yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda bagi konsumennya. Identitas korporat sebagai elemen brand berperan dalam hal tersebut, melalui pendekatan teori Emotional branding dan budaya etnik Sunda akan dianalisa lebih mendalam mengenai:
- 1. Bagaimana penerapan Emotional branding pada identitas korporat restoran Sunda?
- 2. Bagaimana penerapan budaya etnik Sunda pada identitas korporat restoran Sunda?
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding dari dua restoran Sunda di Bandung yang telah dipilih dengan kriteria tersendiri. Analisa akan difokuskan pada identitas korporatnya saja, dimana didalamnya terdapat nilai-nilai budaya etnik Sunda, yang akan ditinjau dari teori Emotional Branding.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif kualitatif. Proses pengumpulan data yang diperoleh dengan cara mengamati, meninjau dan wawancara berbentuk Focus Group Discussion, selanjutnya dianalisis menggunakan teori Emotional branding dan budaya Sunda. Fokus penelitian adalah Restoran Sunda Sindang Reret dan Bumbu Desa, yang profil lengkapnya akan dikemukakan pada Bab III. Sekilas tentang pemilihan objek penelitian adalah sebagi berikut:
1. Objek penelitian I: Restoran Sindang Reret
Dipilihnya Restoran Sindang Reret karena merupakan restoran Sunda yang terkenal dan menjadi salah satu ikon wisata kuliner Sunda di Bandung, ada sejak tahun 1973 dan saat ini masih eksis, perwujudannya dengan membuka 4 cabang. Dalam penelitian ini objek studi dibatasi pada Restoran Sindang Reret Surapati, Bandung.
Gambar 1. Restoran Sindang Reret Sumber: dok
2. Objek penelitian II: Restoran Bumbu Desa Restoran Bumbu Desa dipilih karena merupakan restoran Sunda yang cukup dikenal di Bandung dan diluar Bandung. Restoran Bumbu Desa berdiri tahun 2004, namun telah memiliki 35 cabang yang tersebar di dalam dan luar negri, dalam hal ini objek studi dibatasi pada Restoran Bumbu Desa Laswi, Bandung.
Gambar 2. Restoran Bumbu Desa Sumber: dok
Kedua restoran ini memiliki kesamaan sebagai berikut, keduanya menggunakan strategi branding untuk menjual produknya, bisnis keduanya bisa dikatakan sukses. Keduanya menjual produk yang serupa yaitu menyajikan hidangan khas Sunda. Perbedaannya terletak pada identitas korporat restoran, yang menghasilkan persepsi berbeda dari pengunjung terhadap brand restoran tersebut.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Melalui Focus Group Discussion didapat hasil yang dapat dirangkum dalam tabel 1 dan 2.
Analisis dengan menggunakan teori Emotional branding dan Budaya Etnik Sunda dapat dirangkum dalam tabel 3.
Pada Tabel III.2 yang merupakan perwakilan dari persepsi konsumen terhadap identitas korporat pada objek studi dan Tabel IV.2 yang merupakan hasil analisa peneliti berdasarkan teori Emotional branding dan budaya etnik Sunda dapat dipaparkan bahwa:
- • Saat ini sudut pandang konsumen terhadap restoran tradisional Sunda sebagian besar telah menghasilkan persepsi yang sama dengan sudut pandang secara Emotional branding. Hal tersebut membuktikan bahwa konsumen telah dapat menilai identitas korporat dari sudut pandang desain yang baik dalam lingkup kriteria empat faktor yang ada pada Emotional branding.
- • Konsumen yang tinggal di Jawa Barat dan beberapa adalah orang Sunda asli mengerti budaya etnik Sunda secara umum saja. Dalam kehidupan seharihari mereka masih menerapkan nilainilai budaya etnik tersebut termasuk yang berhubungan dengan aktivitas makan.
Tabel 1. Tabel FGD Mengenai Identitas Korporat Restoran Sindang Reret dan Restoran Bumbu Desa
| No. | Identitas Korporat | Emotional Branding | Budaya Sunda | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Relasi | Pe n ga l a m a n panca indra | Imajinasi | |||
| 1 | Nama Sindang Reret | • | X | • | • |
| Nama Bumbu Desa | • | • | • | X | |
| 2 | Logo Sindang Reret | • | X | X | • |
| Logo Bumbu Desa | • | • | • | X | |
| 3 | Brand ambassador Sindang Reret | • | • | • | • |
| Brand ambassador Bumbu Desa | • | • | • | • | |
| 4 | Kemasan Sindang Reret | X | X | X | • |
| Kemasan Bumbu Desa | • | X | • | • | |
| 5 | Buku menu Sindang Reret | • | X | X | • |
| Buku menu Bumbu Desa | • | X | X | X | |
| 6 | Brosur Sindang Reret | X | X | X | • |
| Brosur Bumbu Desa | • | • | • | • | |
| 7 | EGD Sindang Reret | • | • | • | • |
| EGD Bumbu Desa | • | • | • | X | |
Tabel 2. Penjelasan Tabel 1
| Emotional Branding | Restoran Sindang Reret | Restoran Bumbu Desa |
|---|---|---|
| Relasi | Sebagian besar identitas korporat Sindang Reret desain nya telah sesuai dengan generasi dan segmentasinya, terkecuali pada desain kemasan dan brosurnya. Pada de sain kemasannya, foto yang ditampilkan tidak sesuai den gan segmentasi Sindang reret yang berkelas. Pada brosur, desainnya terlalu rumit dan tidak berkelas. | Sebagian besar identitas korporat Bumbu Desa telah sesuai dengan generasi dan seg mentasinya, karena sesuai dengan segmentasi konsumen yang menyukai kuliner tradisional yang unik dan modern yang mana tidak terlalu mengerti budaya etnik Sunda. |
| Pengalaman panca indra | Sebagian besar identitas korporat Sindang Reret belum memenuhi faktor imajinasi, terkecuali pada nama dan brand ambassador dan EGD. Pada nama, bahasa yang digunakan termasuk bahasa Sunda buhun, sehingga ke hadiran nama tersebut saat ini bisa dikatakan inovatif. Pada brand ambassador, menyerupai kaum Sunda menak sehingga membawa imajinasi pada kesan jamuan makan sunda yang berkelas. Pada EGD, mendapatkan pengala man baru, yaitu makan ala Sunda dengan suasana Sunda buatan yang dihadirkan di tengah perkotaan. | Sebagian besar identitas korporat Bumbu Desa desainnya telah memenuhi faktor imaji nasi, terkecuali pada buku menu karena war na hitam yang mendominasi bagian muka dan foto yang digunakan tidak memiliki asosiasi dengan makanan. |
| Resume | Menurut konsumen, identitas korporat Sindang Reret yang telah memenuhi faktor-faktor yang ada dalam Emo tional Branding adalah pada brand ambassador dan EGD. | Menurut konsumen, identitas korporat Bum bu Desa yang belum memenuhi faktor-faktor yang ada dalam Emotional Branding adalah pada kemasan dan buku menunya. |
| Budaya et nik Sunda | Menurut konsumen, didalam identitas korporat Sindang Reret menggunakan budaya etnik Sunda secara menyelu ruh. | Menurut konsumen, sebagian besar identitas korporat Bumbu Desa tidak menggunakan bu daya etnik sunda, terkecuali pada brand am bassador, kemasan dan brosur nya. |
Tabel 3. Tabel Analisis Emotional Branding dan Budaya Etnik Sunda pada Identitas Korporat Restoran Sindang Reret dan Bumbu Desa
| No. | Keterangan | Emotional branding | Budaya etnik Sunda | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Relasi | P e n g a l a m a n panca indra | Imajinasi | Visi | Artefak | Warna | Bentuk | Tritangtu | ||
| 1 | Nama Sindang Reret | • | X | • | • | • | - | - | - |
| Nama Bumbu Desa | • | • | • | • | X | - | - | - | |
| 2 | Logo Sindang Reret | • | X | X | • | • | • | - | • |
| Logo Bumbu Desa | • | • | • | • | X | - | • | ||
| 3 | Brand Ambassador Sindang Reret | • | • | • | • | • | • | - | • |
| Brand Ambassador Bumbu Desa | • | • | • | • | • | • | - | • | |
| 4 | Kemasan Sindang Reret | • | X | X | • | • | • | - | • |
| Kemasan Bumbu Desa | • | X | • | • | • | • | - | • | |
| 5 | Buku menu Sindang Reret | X | X | X | • | • | • | - | • |
| Buku menu Bumbu Desa | • | X | X | • | • | • | - | • | |
| 6 | Brosur Sindang Reret | X | X | X | • | • | • | - | • |
| Brosur Bumbu Desa | • | • | • | • | • | • | - | • | |
| 7 | EGD Sindang Reret | • | • | • | • | • | • | • | • |
| EGD Bumbu Desa | • | • | • | • | • | • | • | • | |
Tabel 4. Penjelasan Tabel 3
| E m o t i o n a l Branding | Restoran Sindang Reret | Restoran Bumbu Desa |
|---|---|---|
| Relasi | Sebagian besar identitas korporat Sindang Reret desainnya telah sesuai dengan gen erasi dan segmentasinya, namun terbatas pada generasi yang menjadi segmentasin ya saja, didukung adanya relasi budaya et nik yang kuat. Terkecuali pada Buku menu dan brosurnya. Pada brosur, informasi yang diberikan terlalu banyak sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak terfokus pada restoran saja. Pada buku menu desainnya terlampau sederhana se hingga kesan berkelas tidak tersampaikan. | Semua identitas korporat Bumbu Desa telah sesuai dengan generasi dan segmentasinya, karena desainnya memberikan pengalaman emosional yang diinginkan oleh segmentas inya, baik dari sisi karakteristik generasi dan budaya etnik yang disampaikan. |
| Emotional Branding | Restoran Sindang Reret | Restoran Bumbu Desa |
|---|---|---|
| Pengalaman panca indra | Sebagian besar identitas korporat Sindang Reret desainnya belum mel ibatkan panca indra. Terkecuali pada brand ambassador dan EGD nya. Pada brand ambassador dan EGD, in dra pengelihatan dan pendengaran dilibatkan. Identitas Sindang Reret disampaikan dengan jelas melalui brand ambassador dan EGD. | Sebagian besar identitas korporat Bum bu Desa desainnya telah melibatkan panca indra untuk menciptakan kenan gan manis dan preferensi brand. Terke cuali pada desain kemasan dan buku menunya. Pada desain kemasan warna hitam yang mendominasi desainnya hanya memperkuat brand Bumbu Desa dan tidak terjadi hubungan antara persepsi produk dan kemasan. Pada buku menu, desain buku menu yang terlalu sederhana dan informasi ten tang menu yang dijual pun terbatas pada nama menu dan harganya. |
| Imajinasi | Sebagian besar identitas korporat Sin dang Reret belum memenuhi faktor imajinasi, karena desainnya belum menghidupkan brand sebagai enti tas emosional, lebih mengutamakan fungsionalnya saja. Terkecuali pada nama, brand ambassador dan EGD. Pada nama, maknanya mengandung makna yang mendalam dan memiliki citarasa pasundan yang orisinil. Pada EGD, walaupun desainnya bukanlah merupakan sebuah pemikiran baru dalam bisnis sejenisnya, namun da pat dikatakan ada sentuhan personal pada desainnya yaitu bila dilihat dari sudut pandang budaya etnik yang ada didalamnya. | Sebagian besar identitas korporat Bumbu Desa telah memenuhi faktor imajinasi, karena ditemukan inovasi pada desainnya. Sehingga tidak hanya memenuhi fungsionalnya saja namun juga merangkul psikologi dan emosi. Terkecuali pada buku menu Bumbu Desa desainnya tidak inovatif dan tidak mengundang imajinasi pengun jung untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda saat memilih menu yang ada didalamnya. |
| Visi | Seluruh identitas korporat Sindang Reret desainnya telah mengikuti salah satu trend dalam Emotional branding yaitu trend Nostalgia. | Seluruh identitas korporat Bumbu Desa desainnya telah mengikuti trend dalam Emotional branding yaitu trend Nostal gia dan Kustomisasi masal. |
| Resume | Identitas korporat Sindang Reret yang telah memenuhi faktor-faktor yang ada dalam Emotional Branding adalah pada brand ambassador dan pada EGD nya. | Identitas korporat Bumbu Desa yang belum memenuhi faktor-faktor yang ada dalam Emotional Branding adalah pada kemasan dan buku menunya. |
4. KESIMPULAN
Setelah meneliti kedua objek penelitian dengan menggunakan teori Emotional branding yang juga dilihat dari sudut pandang budaya etnik Sunda dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
• Penerapan Emotional branding pada identitas korporat restoran Sunda
belum sepenuhnya diaplikasikan. Para pemasar kuliner tradisional Indonesia dalam merancang strategi branding restorannya telah memperhatikan dengan cermat segmentasi, karakteristik serta budaya konsumennya, sehingga dari ke empat faktor yang terdapat dalam Emotional branding hanya faktor
| Budaya etnik Sunda | Restoran Sindang Reret | Restoran Bumbu Desa |
|---|---|---|
| Artefak, bentuk, warna | Didalam identitas korporat Sin dang Reret menggunakan ar tefak, bentuk dan wana pada budaya etnik Sunda secara me nyeluruh. | Sebagian besar identitas korporat Bumbu Desa menggunakan artefak, bentuk dan wana pada budaya etnik Sunda, terkecuali pada nama dan logo yang bukan merupakan artefak pada budaya etnik sunda. |
| Tritangtu | Didalam identitas korporat Sin dang Reret dapat dibaca meng gunakan Tritangtu. | Didalam identitas korporat Bumbu Desa da pat dibaca menggunakan Tritangtu. |
| Resume | Keseluruhan identitas korporat Sindang Reret menggunakan bu daya etnik Sunda karena meng gunakan Tritangtu yang menjadi dasar identitas pada masyarakat Sunda. | Belum seluruh identitas korporat Bumbu Desa menggunakan budaya sunda. Namun secara keselurahan identitas yang ditimbul kan adalah identitas budaya etnik Sunda, kar ena menggunakan pola 3 atau Tritangtu yang menjadi dasar identitas pada masyarakat Sunda. |
Relasi dan Visi yang sebagian besar telah diterapkan pada identitas korporatnya. Sedangkan pada faktor pengalaman panca indra dan Imajinasi, penerapan pada identitas korporatnya dipengaruhi oleh periode berdirinya restoran Sunda tersebut. Pada restoran Sunda yang berdiri pada tahun 1973, penerapannya hanya pada brand ambassador dan EGD nya. Pada restoran Sunda yang berdiri pada tahun 2004, telah diterapkan pada sebagian besar identitas korporatnya. Hal tersebut membuktikan bahwa desain berpengaruh besar dalam Emotional branding, karena pengolahan desain yang tepat dapat menciptakan emosi pada sebuah brand, sehingga sebuah brand memiliki diferensiasi identitas yang tidak sekedar dapat memenuhi kebutuhan namun juga keinginan konsumennya.
• Penerapan budaya etnik Sunda pada identitas korporat restoran Sunda ada sejak tahun 1973 dan masih diterapkan sampai saat ini atas dasar yang berbeda. Pada periode 1973, budaya etnik daerah diterapkan pada identitas korporat dengan tujuan menyampaikan nilai kearifan lokal yang ada didalamnya. Sejak tahun 2004 budaya etnik daerah
diterapkan pada identitas korporat sebagai salah satu trend dalam strategi branding.
- • Dijadikannya budaya etnik daerah sebagai salah satu trend branding, melibatkan peran desainer untuk mengolah desainnya dengan baik. Desain yang tidak diolah dengan baik dikhawatirkan akan menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam budaya etnik tersebut, sehingga budaya etnik tersebut hanya menjadi kosmetika identitas sebuah brand.
- • Emotional branding dapat menjadikan kuliner Sunda sebagai sebuah gaya hidup, yaitu dengan mengandalkan keotentikan tradisi kulier yang dimiliki dan didukung 4 faktor yang ada dalam Emotional branding.
- • Dalam penciptaan identitas branding yang berbasis tradisi, perlu diketahui pola budaya etnik daerahnya. Hal tersebut diperlukan karena walaupun visualisasinya beragam sesuai segmentasi, karakteristis generasi dan trend periodenya, namun identitas budaya daerahnya tetap akan dikenali karena memiliki pola yang sama.
5. DAFTAR PUSTAKA
- Adimihardja, K. (2005) : Makanan Dalam Khazanah Budaya, DISBUDPAR JABAR & UPT INRIK UNPAD, Bandung.
- Davis, M. dan Baldwin, J. (2005) : More Than a Name: An Introduction to Branding, AVA Publishing SA, Switzerland.
- Darmaprawira, S. (2002) : Warna: Teori dan Kreativitas Penggunaannya, Penerbit ITB, Bandung.
- Gyimóthy, S. dan Mykletun, R. (2008) : Scary food: Commodifying Culinary Heritage as Meal Adventures in Tourism. Journal of vacation marketing, 15(30), 259-273.
- Herayati, Y., Masnia, N., Haryanti,T. (1986): Makanan: Wujud Variasi dan Fungsi serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda Daerah Jawa Barat, DepDikBud, Bandung.
- Gobe, M. (2001) : Emotional Branding, Paradigma Baru untuk Menghubungkan brand dengan Pelanggan, Erlangga, Jakarta.
- Healey, M. (2008) : What is Branding?, Page One, Singapore.Lukman, C. (2004): Tesis: Hubungan Budaya Korporat dengan Tanda Visual dari Identitas Korporat Bank Mandiri, Bank Niaga, dan BPR Karyajatnika Sadaya, ITB, Bandung.
- Piliang, A., Yasraf dan Saidi. I., Acep. (2009): Image & Gaya Hidup, ITB, Bandung.
- Piliang, A., Yasraf. dalam Aldin, A., (2006) : Aspek-aspek Seni Visual Indonesia, 17p.,Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Perspektif, Jalasutra, Yogyakarta.
- Prawira, G., Nanang. (2008) : Mengenal Budaya Rupa Sunda Wiwitan, (www. file.upi.edu/
