1. Home
  2. Archives
  3. Vol 6 (2015) Issue 2
  4. Articles

The Designing of Illustration Book for River Preservational for Children

Abstract

The design project of this illustration book is backgrounded by pollutioned river phenomenon which is happening in Bandung, West Java, Indonesia. The pollution is mainly caused by the people behavior which are likely don

Keywords

1. PENDAHULUAN

Menurut data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Bandung Tahun 2014, pertumbuhan penduduk Bandung yang signifikan menimbulkan permasalahan yang bersumber dari pemukiman, salah satunya adalah pengelolaan limbah rumah tangga. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan teknologi, mengakibatkan volume dan jenis limbah pun akan semakin banyak dan beragam. Dengan terbatasnya fasilitas umum pengelolaan limbah, penduduk cenderung mengambil jalan keluar sendiri dalam penanganan limbah di sekitar mereka yaitu dengan cara membakar, menimbun, maupun membuangnya di aliran sungai.

Tindakan jalan pintas masyarakat dalam pengelolaan limbah ini justru semakin memperparah kerusakan lingkungan yang terjadi. Pencemaran yang jelas terlihat adalah pencemaran daerah aliran sungainya yang hingga saat ini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Mengetahui peran sungai yang sangat vital bagi kehidupan, masyarakat hendaknya mulai sadar akan pentingnya menjaga kelestarian sungai. Solusinya adalah dengan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan daerah aliran sungai. Edukasi dapat dilakukan mulai dari usia dini sehingga diharapkan mampu

membentuk karakter anak untuk memiliki sikap kepedulian terhadap lingkungan.

Saat ini, banyak sekali alternatif media yang dapat menjadi sarana edukasi khususnya untuk target audience anakanak, salah satunya dengan menggunakan buku cerita bergambar. Pemilihan media buku cerita ilustrasi ini dipertimbangkan mengingat karakteristiknya yang lebih banyak memuat komponen visual dibandingkan dengan media verbal, sehingga mampu menstimulus perasaan, pikiran, dan perhatian dari target audience.

Studi kasus dalam perancangan ini adalah Sungai Cikapundung yang mengalir di Kota dan Kabupaten Bandung. Sungai ini dipilih karena letaknya daerah alirannya yang membelah tengah-tengah Kota Bandung dan juga pencemaran yang terjadi dari hulu-hingga hilirnya karena peralihan fungsi menjadi jalan pintas tempat pembuangan limbah oleh penduduk yang tinggal di daerah alirannya. Tercemarnya daerah aliran sungai menimbulkan masalah kesehatan dan sosial bagi penduduk di sekitarnya serta berdampak buruk bagi sisi estetika lingkungan.

Bagaimana membuat buku ilustrasi yang dapat mengedukasi masyarakat terutama anak-anak tentang pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan

daerah aliran sungai menjadi rumusan masalah penelitian ini.

2. KAJIAN TEORI

Menurut Rothlein dan Meinbach (1991) dalam Santoso (2008: 7), buku bergambar adalah buku cerita yang disajikan dengan menggunakan teks dan ilustrasi atau gambar. Buku ini biasanya ditujukan pada anak-anak. Buku bergambar lebih dapat memotivasi mereka untuk belajar. Dengan buku bergambar yang baik, anakanak akan terbantu dalam proses memahami dan memperkaya pengalaman dari cerita [1].

Menurut Mitchel dalam Nurgiyantoro (2005: 159), menjelaskan secara khusus manfaat buku cerita bergambar bagi anak-anak antara lain untuk membantu perkembangan emosi anak, membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya, belajar tentang orang lain, hubungan yang terjadi, pengembangan perasaan, memperoleh kesenangan, mengapresiasi keindahan, serta menstimulasi imajinasi [2].

Menurut Surianto Rustan dalam bukunya "Layout Dasar dan Penerapannya" (2009), Pada dasarnya layout dapat dijabarkan sebagai tata letak elemenelemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep/pesan yang dibawanya. Komposisi yang harmonis dapat diperoleh dengan prinsip yang meliputi urutan

(sequence), penekanan (emphasize), keseimbangan (balance), dan kesatuan (unity) [3].

Buku cerita bergambar merupakan bagian dari media visual storytelling karena menggunakan ilustrasi visual untuk menyampaikan informasi dengan lebih menarik, menghibur, serta informatif. Dari sisi konsep visual storytelling, buku cerita bergambar dapat merujuk pada seni sekuensial seperti komik. Dalam tahap pembuatannya, visualisasi dari ilustrasi sangat dipengaruhi oleh cerita dimana kompleksitas cerita juga mempengaruhi jangkauan visualisasinya, namun pada eksekusinya, komponen ilustrasi pada buku cerita bergambar mempunyai porsi yang berbeda dengan komik.

Pada permulaannya gambar dan penulisan dari sebuah cerita dipengaruhi oleh batasan dari media. Hal tersebut sebenarnya mendikte jangkauan dari sebuah cerita dan kedalaman dari penceritaannya. Ini yang menjadi alasan bahwa cerita dan alur yang sederhana, aksi yang jelas telah lama mendominasi literatur buku komik [4].

3. CARA PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, studi pustaka, dan wawancara. Observasi dilakukan langsung ke lokasi Sungai Cikapundung. Selain itu juga dengan memperhatikan

perilaku masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungainya.

Metode observasi adalah metode yang digunakan untuk mengamati sesuatu, seseorang, suatu lingkungan, atau situasi secara tajam terperinci dan mencatatnya secara akurat dalam beberapa cara [5].

Studi pustaka dilakukan terhadap bukubuku maupun sumber lain yang berkaitan dengan perancangan buku cerita bergambar.

Teknik pengumpulan data dokumen biasanya digunakan untuk memperoleh informasi dari tangan kedua yang berbentuk berbagai catatan (perorangan maupun organisasi), baik resmi maupun catatan yang sangat pribadi dan mengandung kerahasiaan [5].

Wawancara adalah suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang kejadian yang oleh peneliti tidak dapat diamati sendiri secara langsung, baik karena tindakan atau peristiwa yang terjadi di masa lampau ataupun karena peneliti tidak diperbolehkan hadir di tempat kejadian itu [5].

Wawancara dilakukan dengan Ibu Jajah Siti Hodijah dari pihak Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung.

4. DATA DAN ANALISIS

4.1 Data Khalayak Sasaran

a. Segmenting

Buku ini ditujukan untuk anak-anak umur 6-12 tahun, mulai masuk sekolah dasar, termasuk pada kategori tahap masa perkembangan "pertengahan dan akhir anak-anak", dengan studi kasus masyarakat yang tinggal di daerah aliran Sungai Cikapundung, khususnya di Kecamatan Dayeuh Kolot, berasal dari keluarga dengan kelas sosial ekonomi dan pendidikan menengah ke bawah. Secara psikografi, target audience sudah bisa berpikir secara konkrit, rasional, dan objektif, mampu melakukan Interaksi pertemanan sebaya "berkelompok" dalam sebuah aktivitas bersama, memliliki daya ingat kuat dan cecara aktif mengembangkan dan memperbarui pemahaman tentang dirinya (sense of self).

Target audience dibesarkan di lingkungan masyarakat dengan kesadaran menjaga kebersihan daerah lingkungan sungai yang rendah. Target audience cenderung mengikuti pola perilaku yang dianggap sudah menjadi kebiasaan umum dalam lingkungannya.

4.2 Data Hasil Observasi

Dari pengamatan penulis, pencemaran yang terjadi di Sungai Cikapundung sudah begitu mengkhawatirkan. Air sungai yang mengalir berwarna coklat hingga hitam dan mengeluarkan bau yang tidak sedap sehingga tidak layak untuk dimanfaatkan sebagai air konsumsi bagi penduduk.

Gambar 2. Sampah di aliran Sungai Cikapundung (Sumber: Dokumentasi penulis)

Di sepanjang aliran sungainya terdapat banyak sampah-sampah maupun bendabenda yang ikut hanyut, mulai dari sampah yang ukurannya kecil seperti plastik pembungkus makanan hingga benda-benda seperti kasur bekas, sofa, helm bekas, bangkai ternak, dan lain-lain. Dari pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa perilaku penduduk yang tinggal di sepanjang daerah aliran Sungai Cikapundung cenderung menjadikan aliran sungai tersebut sebagai saluran pembuangan benda tak terpakai (limbah) tanpa pengolahan lebih lanjut.

Penduduk yang tinggal di bantaran Sungai Cikapundung memiliki bangunan semi permanen hingga permanen. Dilihat dari bentuk dan desain bangunan, secara garis besar status ekonomi penduduknya berada pada level menengah ke bawah dengan status pendidikan yang juga berada pada level menengah ke bawah.

Gambar 3. Pemukiman semi permanen di pinggir Sungai Cikapundung (Sumber: Dokumentasi penulis)

Bantaran sungai dalam pemanfaatannya juga menjadi area bermain bagi anakanak yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai. Dari pengamatan penulis yang juga berdomisili di bantaran Sungai Cikapundung, banyak permainan anak yang dimainkan di sana. Bantaran sungai menjadi tempat bermain alternatif bagi anak-anak mengingat keterbatasan lahan bermain yang disebabkan oleh padatnya rumah penduduk.

Di sisi lain, adanya sampah yang hanyut di aliran Sungai Cikapundung menjadi mata pencaharian bagi sebagian penduduk. Sampah-sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis seperti sampah plastik botol minuman, dikumpulkan untuk kemudian dijual sebagai barang bakas untuk didaur ulang.

4.4 Data Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara dengan Jajah Siti Hodijah, Kepala Bidang Pusat Penelitian Lingkungan Hidup pada Badan

Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Pemerintah Kota Bandung, sumber pencemar di Sungai Cikapundung berasal dari limbah domestik dan limbah nondomestik. Adapun Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat (solid waste) atau sampah dan limbah cair (waste water).

Sumber pencemar limbah domestik adalah limbah yang dihasilkan oleh masyarakat di sekitar Sungai Cikapundung. Sedangkan sumber pencemar non-domestik berasal dari kegiatan komersial seperti kegiatan industri, rumah sakit, hotel restoran, dan kegiatan lainnya yang langsung membuang sampah dan limbah cairnya ke aliran sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Data dari BPLH menunjukan bahwa sumber pencemar utama di Sungai Cikapundung berasal dari limbah domestik (rumah tangga). Sungai Cikapundung di kanan-kirinya "dikepung" oleh bangunan. Sebagian besar bangunan merupakan pemukiman yang berada langsung di bantaran sungai. Terdapat sekitar 1.058 rumah yang berada dekat dengan bantaran Sungai Cikapundung. Hampir seluruhnya membuang limbah langsung ke sungai. Oleh sebab itu, sungai ini menerima limbah lebih dari 2,5 juta liter setiap harinya yang sebagian besar dari limbah rumah tangga.

Pencemaran di Sungai Cikapundung salah satunya mempunyai dampak pada rendahnya "status mutu air" di aliran sungainya. Status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air yang ditetapkan.

4.5 Analisis Produk Sejenis

Gambar 4. Produk sejenis (Sumber: Dokumentasi penulis)

Dengan pertimbangan bahwa target audience adalah anak usia sekolah dasar usia 6-12 tahun, konten dan elemen visual dalam buku "Pesisir dan Laut Kita 1" dan "Tsunami" lebih sesuai dengan karakteristik dari target audience. Dari sisi konten kedua buku menyajikan edukasi dengan tema alam dengan gaya penyampaian yang sederhana, ceria, informatif (khusus untuk buku "Pesisir

dan Laut Kita 1" terdapat konten interaktif). Dari elemen visual kedua buku, penggunaan ilustrasi, tipografi, warna, serta layout pada dasarnya telah didesain untuk menyesuaikan karakteristik dari target audience, namun dalam eksekusinya, terdapat hal-hal yang masih kurang sesuai dengan kaidah dari disiplin ilmu masing-masing komponen visualnya.

Pada buku "Tsunami", dari sisi konten, buku ini tidak menampilkan tokoh yang tervisualisasi secara kasat mata, yang dapat menjadi guide target audience dalam memahami maksud pesan dan mengingatnya. Dari komponen visual buku, yang perlu diperhatikan adalah elemen layouting dimana penyusunan tata letaknya terkesan kurang rapi yang dapat mengurangi kenyamanan dalam membaca.

Pada buku "Pesisir dan Laut Kita", dari penyajian kontennya cukup menarik karena secara khusus terdapat metode penyusunan materi berdasarkan "Matriks Kompetensi Tematik". Dari komponen visual, yang perlu diperhatikan adalah komponen warna dimana eksekusinya dalam media terlihat kurang cerah dan cenderung kusam. Hal ini dalam kadar tertentu dapat mempengaruhi penilaian anak terhadap menarik-atau tidaknya penampilan buku tersebut dan berujung pada pengaruh minat baca.

5. KONSEP PERANCANGAN

Konsep pesan dalam perancangan buku panduan ini adalah edukasi melalui media terpilih tentang wawasan pelestarian daerah lingkungan sungai kepada target audience anak-anak usia 6-12 tahun (usia sekolah dasar) yang berasal dari keluarga yang tinggal di daerah aliran sungai khususnya Sungai Cikapundung di Kota dan Kabupaten Bandung. Dengan pesan edukasi tentang pelestarian lingkungan sungai tersebut, diharapkan akan menumbuhkan sikap serta perubahan perilaku target audience untuk ikut peduli dalam menjaga kelestarian dan kebersihan daerah lingkungan sungai di sekitarnya.

Konsep "Bersahabat dengan Sungai" adalah tentang bagaimana menjalin sebuah hubungan mutualisme dengan sungai sebagai bagian dari kehidupan. Ketika penduduk di daerah aliran sungai memperlakukan sungai sebagai bagian dari kehidupan dengan menjaga kelestariannya, maka sungai juga akan memberikan manfaatnya bagi kesejahteraan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Dengan target audience anak-anak usia 6-12 tahun, maka kata "sahabat" dipilih untuk mewakili konsep tersebut, dimana pada tahap perkembangan dalam usia tersebut, anak banyak menghabiskan waktu interaksi sosial bersama teman-teman sebayanya.

Penggayaan visual karakter dalam cerita

mengikuti psikologi dari target audience dimana anak lebih menyukai gaya gambar kartun. Penggambaran dengan gaya gambar kartun ini digunakan untuk gambar obyek-obyek yang dekat dengan target audience (obyek sehari-hari) seperti karakter manusia, rumah, pohon, mainan perahu kertas, dan sebagainya.

Warna yang digunakan adalah dominan warna-warna yang cerah karena anak lebih menyukai penggunaan warna yang menyolok. Warna-warna cerah mempunyai sifat ceria dan bersemangat sesuai dengan karakter anak sehingga diharapkan dapat menarik perhatian anak untuk meningkatkan minat baca buku cerita ilustrasi ini.

Tipografi menggunakan tipe font sans serif dengan ukuran huruf antara 24 hingga 72 point. Font yang didesain khusus untuk anak menjadi pilihan mengingat karakteristiknya yang ceria, luwes, serta memiliki tingkat keterbacaan yang baik apabila digunakan pada teks yang singkat.

Elemen layout menggunakan sistem dengan grid dengan sedikit kolom yang dapat memudahkan dalam membaca teks cerita. Pemilihan sequence normal yaitu default dari kiri ke kanan serta terdapat penekanan elemen layout pada halaman yang dapat menjaga fokus pembaca serta estetika keseimbangan yang menimbulkan kesan menarik dan meningkatkan minat baca dari target audience.

6. REKOMENDASI: PERANCANGAN

Buku ini bercerita tentang empat orang anak yang merupakan sahabat yang tak terpisahkan dan membentuk sebuah kelompok bermain yang bernama "Geng Bolang". Geng Bolang suka sekali berpetualang dan menjelajah tempattempat yang baru. Pada suatu hari mereka memutuskan untuk berpetualang menyusuri aliran sungai (Cikapundung). Dari petualangan tersebut mereka melihat tempat-tempat yang baru sekaligus fenomena pencemaran yang terjadi di aliran sungai tersebut.

Konsep cerita adalah dengan menggunakan imajinasi anak tentang dunia bermainnya, untuk itu dipilihlah mainan perahu kertas sebagai media imajinasi anak untuk berpetualang di aliran sungai.

Dalam petualangan tokoh utama, terdapat juga tokoh antagonis yaitu monster sampah dan monster rumah yang menghalangi dan mengganggu jalannya petualangan tokoh utama serta tokoh protagonis yaitu seekor naga sungai yang menyelamatkan tokoh utama dan mengalahkan monster sampah.

Desain Karakter Asep

Gambar 5. Karakter Asep (Sumber: Dokumentasi penulis)

Badu

Gambar 7. Karakter Badu (Sumber: Dokumentasi penulis)

Neneng

Gambar 6. Karakter Neneng (Sumber: Dokumentasi penulis)

Beni

Gambar 8. Karakter Beni (Sumber: Dokumentasi penulis)

Monster Sampah

Gambar 9. Karakter Monster Sampah (Sumber: Dokumentasi penulis)

Monster Rumah

Gambar 10. Karakter Monster Rumah (Sumber: Dokumentasi penulis)

Naga Sungai

Gambar 11. Karakter Naga Sungai (Sumber: Dokumentasi penulis)

Warna

Pemilihan tone warna disesuaikan dengan perubahan suasana yang terjadi dalam cerita. Pada awal dan akhir cerita, suasana yang dihadirkan adalah suasana alam dan ceria. Warna-warna yang dipilih lebih dominan ke warna-warna yang dingin seperti hijau dan biru serta warna hangat seperti kuning dan jingga.

Gambar 12. Tone warna alam (Sumber: www.communications.tas. gov.au)

Gambar 13. Tone warna hangat dan ceria (Sumber: www.communications.tas. gov.au)

Pada pengenalan masalah, warna yang digunakan cenderung menjadi warnawarna panas seperti merah menyala serta warna-warna gelap dan kusam seperti coklat, abu-abu tua dan biru tua untuk menciptakan suasana yang mencekam dan kurang nyaman.

Gambar 14. Tone warna gelap (Sumber: http:// beatsbylex1.blogspot. com)

Tipografi

Jenis tipografi yang digunakan pada perancangan buku ilustrasi ini adalah font KB Planet Earth

Font tersebut digunakan pada bodytext halaman isi, dipilih berdasarkan kriteria pada konsep visual yaitu ceria, memiliki tingkat keterbacaan yang baik apabila digunakan pada teks yang singkat, serta didesain khusus untuk anak-anak.

Gambar 15. Font KB Planet Earth (Sumber: http://www.fontspace.com)

Layout

Penyusunan elemen layout mengikuti konsep visual dimana pemilihan

sequence normal yaitu default dari kiri ke kanan serta terdapat penekanan elemen layout pada halaman yang dapat menjaga fokus pembaca serta estetika keseimbangan yang menimbulkan kesan menarik dan meningkatkan minat baca dari target audience.

Gambar 16. Lay out

Hasil Akhir

Setelah melalui beberapa tahap pengerjaan mulai dari pembuatan storyline dan storyboard, desain karakter, sketsa dan outlining, pewarnaan, serta mengaplikasikan teks dan tipografi, maka diperoleh gambar akhir seperti berikut:

Ilustrasi Sampul

Gambar 17. Ilustrasi Sampul

Ilustrasi Halaman Isi

Gambar 17. Ilustrasi Isi

Gambar 18. Ilustrasi Isi

6. PERNYATAAN PENGHARGAAN

Ucapan terimakasih kepada narasumber Ibu Jajah Siti Hodijah dari BPLH Pemerintah Kota Bandung serta Ketua RSPQ Triadi Nurdiana Sukma.

7. REFERENSI

  • [1] Rothlein, Liz dan Anita Meyer Meinbach. 1991. The Literature Connection: Using Children's Book in The Classroom. dalam Santoso, Hari. 2008. Membangun Minat Baca Anak Usia Dini melalui Penyediaan Buku Bergambar (pdf). Malang: UPT Universitas Negeri Malang (dokumentasi).
    • http://library.um.ac.id. (Cited 15-03- 2014 10:36).
  • [2] Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
  • [3] Rustan, Surianto. 2010. Font dan Tipografi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • [4] Eisner, Will. 1985. Comics and Sequential Art (pdf). Florida: Poorhouse Press.
  • [5] Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2011. Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima Nusantara.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
58th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Java 0.43
level 2
Psychology 0.43
level 0
level 2

Institution Network