1. Sensory Integration (Tactile)
Sehari-hari, anak ditempa oleh berbagai rangsang dari dunia sekitar dalam waktu bersamaan dan diolah di otak. Kekacauan pengolahan rangsang menyebabkan berbagai gangguan belajar maupun tingkah laku. Kebanyakan anak dengan ASD mengalami gangguan dalam mengolah rangsang atau yang disebut dengan sensory integration yang pada tahap awal dapat teramati dari anak yang menghindari rangsangan tactile/indra perasa atau membutuhkan rangsangan tactile yang kuat. Latar belakang masalah ini menjadi dasar perancangan buku seri 1 tactile yang bertujuan memberikan terapi sensoris.
2. Gerakan Stereotip
Gerakan yang muncul sebagai upaya anak ASD untuk memperoleh
rangsang yang dibutuhkan atau menghindari rangsang tertentu yang tidak disukainya. Gerakan stereotip juga sering menandai anak tertekan karena lingkungan atau tugas terlalu berat. Hambatan ini bertitik pada pendamping dalam mengarahkan anak. Kesulitan anak ASD dalam gerakan stereotip ini akan diulas pada buku pelengkap seri rancangan untuk pendamping anak ASD.
3. Kekakuan Berpikir
Anak ASD terpaku dengan urutan kegiatan, tertentu yang menjadi rutinitas yang tak diinginkan untuk berubah. Anak tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi situasi spontan sehingga perubahan akan membuatnya merasa tidak aman dan nyaman. Anak ASD membutuhkan segala sesuatu terstruktur, jelas, teratur, konsisten dan dijelaskan dengan cara yang dipahaminya (pola tertentu). Kesulitan kekakuan berpikir juga akan dibahas pada buku pelengkap seri rancangan untuk pendamping anak ASD.
4. Gangguan Komunikasi (Sosial)
Gangguan komunikasi dalam bicara dan sistem bahasa sangat berpengaruh dalam pemahaman materi pembelajaran juga berinteraksi dengan lingkungan. Aspek ini diangkat menjadi salah satu materi buku mengingat pentingnya anak ASD memahami dirinya yang berbeda dalam perkembangan komunikasi dengan teman-teman sebayanya dengan tujuan berkembangnya kemampuan sosial anak ASD.
Masalah bicara anak ASD muncul dalam bentuk: 1) Echolalia ('membeo')/pengulangan kata-kata secara literal baik langsung setelah mendengar maupun pada waktu yang lain tanpa pemahaman makna. 2) Metaphorical Language (bahasa metafora) adalah pemakaian kata-kata yang bagi anak memiliki arti khusus yang sebenarnya salah asosiasi makna dan sulit diubah. Contohnya menyebut ban berenang dengan 'donat' (karena bentuk ban berenang persis seperti donat). 3) Neologism, yaitu kata-kata baru yang artinya hanya dimengerti oleh anak ASD sendiri dan orang terdekat.
5. Gangguan Sistem Bahasa (Concept)
Gangguan ini terjadi pada bagian fonetik, perbendaharaan kata, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Anak bisa saja mengalami sebagian atau seluruh gangguan sistem bahasa. Masalah pada gangguan sistem bahasa ini dijadikan
dasar perancangan buku concept pada seri perancangan.
Penjelasan lebih rinci mengenai gangguan sistem bahasa dan bagianbagiannya: 1) Fonetik. Fonetik yaitu masalah dengan 'produksi' bunyi saat berbicara, pada anak ASD ditandai dengan intonasi bicara yang cenderung seperti robot (datar). 2) Perbendaharaan Kata. Pada umumnya anak ASD memiliki perbendaharaan yang terbatas atau sangat khusus tergantung minatnya. Paling mudah memahami kata benda, lebih sulit mempelajari kata kerja dan lebih sulit lagi kata sifat. 3) Sintaksis. Sintaksis berhubungan dengan penyusunan kalimat sesuai tata bahasa. Kesulitan dalam urutan berpikir membuat anak juga sulit menyusun kalimat. ASD cenderung berbicara dengan kalimat singkat. Kesulitan utama pada pergeseran makna seperti di sini/ di sana, sekarang/nanti, sebelum/sesudah, saya/kamu, ini/itu. 4) Semantik. Semantik merupakan hubungan kata dengan maknanya. Anak ASD kesulitan memahami makna, terutama yang bukan benda kongkret (abstrak). Anak ASD cenderung memaknai dunia seperti yang terlihat/kongkrit. Kebingungan akan muncul pada kata-kata yang memiliki makna lebih dari satu apalagi pada kata
kiasan. 5) Pragmatik. Pragmatik adalah pemahaman aturan dalam berbicara yang mempertimbangkan konteks pembicaraan, siapa lawan bicara. Kemampuan pragmatik bergantung dari kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain dan hal ini merupakan kesulitan anak ASD.
6. Gangguan Analisa-Sintesa dan Strategi Pemecahan Masalah (Sequence, Sosial)
Gangguan analisa-sintesa dan strategi pemecahan masalah muncul karena cara berpikir anak ASD yang kaku. Anak ASD cenderung memahami informasi secara terpisah-pisah sehingga sulit melihat hubungan sebab akibat, hubungan asosiasi, membuat generalisasi beberapa informasi maupun perencanaan. Diperlukan bimbingan untuk lebih memahami urutan langkah-langkah berpikir untuk memahami materi yang diberikan. Gangguan pada analisa-sintesa berusaha dijadikan materi untuk perancangan buku sequence dan sosial pada penelitian ini (Sulungbudi, 2001).
Metode Floor Time
Masalah anak ASD dapat dihadapi dengan beberapa macam pendekatan metode terapi, salah satu yang terkenal dan dapat mengatasi berbagai spektrum masalah anak ASD adalah Floor-Time. Sulungbudi seorang ahli terapi anak di Bandung telah mempraktekkan metode Floor Time temuan DR. Stanley Greenspan, MD. Metode ini muncul karena mayoritas orang tua/ pengajar berusaha mengajarkan sesuatu kepada anak sebagai stereotip dunia pendidikan yang dipandang bahwa anak harus diajarkan sesuatu hal yang tidak ingin mereka pelajari karena jika keinginan yang diikuti, anak bersenang-senang saja dan tidak belajar apa-apa. Namun Metode Floor Time memiliki pendekatan yang berbeda karena anak tidak harus dibuat tidak nyaman baru bisa dinamakan belajar. Metode ini membawa pengajar diajak untuk mengikuti arahan anak. Pembimbing mengikuti petunjuk dari anak dan bukan anak yang mengikuti instruksi. Minat ataupun arahan yang berasal dari anak adalah sebuah "jendela" untuk masuk ke dalam kehidupan perkembangan emosi. Melalui minat anak, keinginan anak yang alamiah, akan didapatkan gambaran mengenai hal-hal yang menyenangkan, yang disukai oleh anak dari sudut pandang anak. Sehingga ketika arahan anak diikuti, pengajar memasuki dunia anak. Ketika pengajar masuk ke dalam dunia anak maka
pengajar menunjukkan penghargaan pada apapun hal yang menarik/ penting bagi anak dan proses belajar akan memiliki ikatan emosi dan tanpa paksaan (Greenspan, 2006).
Dengan berdasar pada metode ini, perancangan 4 seri buku dibuat mengikuti capaian-capaian yang diusahakan oleh metode Floor-Time untuk perkembangan anak ASD dalam masalah Tactile, Concept, Sequence, dan Sosial.
Tahap Perkembangan Anak Greenspan
Greenspan (2006) dalam temuan metode terapi Floor-Time dilengkapi dengan tahapan perkembangan anak sebagai capaian dari metode terapi.
Seluruh tahapan perkembangan anak Greenspan berjumlah 6 tahap, dimana terhambat melewati satu tahapan akan membuat anak tidak dapat menguasai tahapan selanjutnya. Tahapan tersebut yaitu: 1. Kemampuan ganda untuk menaruh perhatian pada rangsangan visual, bunyi dan rangsanganrangsangan dari dunia dan untuk menenangkan diri sendiri; 2. Kemampuan untuk terlibat dalam hubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman anak yang paling dini bersama orang tua, anak belajar untuk tertarik; 3. Kemampuan untuk terlibat dalam komunikasi dua
arah. Ibu tersenyum kepada anak dan anak membalas dengan senyuman; 4. Kemampuan untuk menciptakan gerakisyarat yang kompleks, merangkai tindakan dalam runut menyusun penyelesaian masalah yang terperinci dan bertujuan; 5. Kemampuan untuk menciptakan gagasan. Permainan sederhana, seperti menumpuk balokbalok, berubah menjadi permainan fantasi yang rumit; 6. Kemampuan untuk membangun jembatan diantara berbagai gagasan untuk menjadikan nya logis dan sesuai kenyataan (Greenspan, 2006).
Melalui tahapan-tahapan perkembangan anak Greenspan sebagai acuan, pendamping/care giver dapat memantau perkembangan anak khususnya anak ASD yang dalam masa terapi.
BUKU CERITA BERGAMABAR ALL MY STRIPES
Sebelum tahap perancangan lebih lanjut, dilakukan kajian pada buku All My Stripes dengan menggunakan teori mengenai cara pandang ASD terhadap ilustrasi berupa: fokus pada center, menghindari kontak mata, fokus pada lurik, dan fokus pada patahan (Wang, S., Jiang, M., Duchesne, X. M., Laugenson, E. A., Kennedy, D. P., Adolphs, R., Zhao, Q., 2015). Pengkajian menghasilkan ciri-ciri ilustrasi yang sesuai dengan anak ASD.
TABEL 1 CARA PENGOLAHAN DATA HASIL OBSERVASI PADA BUKU ALL MY STRIPES
| Hal. | Ilustrasi | Variable | Teori |
| Ralph Adolf | |||
| 6- | Anak | - | |
| 7 | |||
| Anak | Lurik | ||
| ASD | Full bleed |
Langkah pertama pengkajian yang dilakukan adalah menganalisa buku All My Stripes dibagi berdasarkan jenis layout menurut Massey (2016) menjadi 4 jenis: 1. Boxed Illustration adalah ilustrasi dengan tepi/border/bingkai; 2. Vignette adalah ilustrasi dengan tepi pudar. 3. Bleed gambar yang sepenuhnya mengisi halaman dan terpotong oleh pinggiran kertas, 4. Spot illustration, motif kecil yang mengambang bebas.
Kedua, cara pandang ASD: 1. Cenderung melihat pada tepi dan pola pada gambar (cenderung melihat ke arah bentuk-bentuk bersudut) dan berpola; 2. Kecenderungan menghindari (tidak berfokus) pada sosok wajah; 3. Kecenderungan melihat secara central (ke tengah gambar) apabila terlalu banyak
objek berlainan disajikan (Wang, S., Jiang, M., Duchesne, X. M., Laugenson, E. A., Kennedy, D. P., Adolphs, R., Zhao, Q., 2015).
Melalui kajian pada buku All My Stripes didapatkan hasil penggunaan cara pandang anak ASD yang muncul adalah: center (13 ilustrasi), lurik (15 ilustrasiterdapat pada tokoh) dan patahan (7 ilustrasi). Kemudian jenis layout ilustrasi yang muncul: full bleed (7 ilustrasi), halfbleed (6 ilustrasi), vignette (1 ilustrasi) dan boxed illustration (3 ilustrasi dalam 1 halaman).
Jadi layout dominan pada buku adalah bleed. Kemudian terdapat kesamaan antara visual ilustrasi buku 'All My Stripes' dengan cara pandang ASD yaitu gaya melihat center dengan tokoh utama dengan lurik diikuti patahan garis. Lalu untuk layout didominasi bleed, dengan paling banyak full-bleed. Melalui temuan dari kajian buku ini, dilakukan juga observasi lebih lanjut untuk studi kasus ke Hasanah Autism Center agar hasil perancangan dapat diaplikasikan.
ALAT BANTU GRAFIS DI HASANAH AUTISM CENTER BANDUNG
Dilakukan observasi media visual dan metode pengajaran ASD yang dipakai di Hasanah Autism Centre Bandung
sebagai dasar perancangan dan mendapat kesimpulan media buku. Teori utama yang digunakan untuk studi kasus adalah teori Gangguan anak ASD. Gangguan yang dijadikan fokus utama pada perancangan adalah sensory integration (integrasi sensorik), komunikasi (speech dan sistem bahasa), interaksi sosial dan Analisa-Sintesa serta Pemecahan Masalah (Fridiawati, 2001). Metode pengajaran di Hasanah Autism Center menggunakan pendekatan yang menyerupai Floor-time dengan penyampaian materi sambil bermain. Klasifikasi anak-anak berusia 4-7 tahun di Hasanah memiliki kemampuan variatif yang kebanyakan telah sampai pada tahap 2 di perkembangan kemampuan fungsional Greenspan yaitu Kemampuan untuk terlibat dalam hubungan dengan orang lain melalui pengalaman anak bersama teman-teman di Hasanah Autism Center. Sekalipun bebrapa anak dijumpai masih belum melewati tahap 1 Perkembangan Anak Greenspan yaitu kemampuan menaruh perhatian pada stimulus visual, bunyi dan rangsangan lainnya untuk menenangkan diri sendiri.
Hasil data pada Rumah Autis menunjukkan bahwa pengajar kekurangan alternatif media dan menyarankan untuk pembuatan media grafis berupa buku cerita anak, board game dan kartu memori. Media grafis telah digunakan dalam melatih integrasi sensorik dan komunikasi di Hasanah Autism Center sehingga dilakukan analisa terhadap 11 pak kartu memori Rumah Autis Bandung (Kebiasaan Baik, Sebab Akibat, Kartu Cerita Gambar, Profesi, Lawan Kata, Kata Kerja, Klasifikasi Benda-Benda, Rumahku 2, Kartu Emosi, Apa yang Hilang?, Kata Kerja). Kartu-kartu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda ditinjau dari perkembangan anak Greenspan. Data menunjukkan alat bantu kartu memori Rumah Autis mayoritas memilki tingkat kesulitan pada tahap 2 (7 macam kartu) dengan konten tentang benda kongkrit 4 macam, tentang kata kerja 3 macam, tentang kata sifat 1 macam, tentang preposisi 1 macam dan tentang sebab-akibat 2 macam.
HASIL PERANCANGAN DAN PEMBAHASAN
Hasil kajian buku 'All My Stripes' dan studi kasus pada alat bantu grafis di Hasanah Autism Center, ditemukan konsep perancangan alat bantu untuk ASD. Target perancangan adalah anak ASD high function usia 8-12 dan juga melibatkan pendamping/care giver anak ASD
(pengajar, terapis, atau orang tua anak ASD). Landasan metode yang mendasari perancangan adalah metode Floor-Time yang mengajak anak belajar sambil bermain dan akan melibatkan peran orang tua, pendamping anak, dan juga tenaga pengajar (Sulungbudi, 2001).
Konsep Anak dan Binatang
Pemilihan tema binatang didasarkan pada hasil wawancara dan juga studi literatur terapi AAI (Animal Assisted Intervention). HABRI central, sebuah lembaga yang mempelopori ikatan hubungan manusia dengan hewan, mengemukakan hasil penelitian dalam sebuah jurnal bahwa inklusif dari binatang pada ASD diasosiasikan dengan hasil yang positif berhubungan dengan interaksi sosial, mood dan stress (O'Haire 2015).
Tema besar dari seri buku pada perancangan kali ini mengambil tema binatang. Binatang juga merupakan objek dengan texture bulu yang secara natural mudah diasosiasikan. Pada anak dengan ASD, proses yang menyulitkan seperti asosiasi dapat dipelajari dengan mengingat binatang-binatang dalam buku rancangan yang dapat ditemui di Jawa Barat. Buku akan dilengkapi dengan booklet konsep metode dan cara penggunaan buku untuk para pendamping.
Materi Tactile dipilih menjadi konsentrasi pada buku 1 karena berhubungan dengan integrasi sensorik terutama motorik yang menjadi dasar anak belajar (Christ A. R. 2010). Rancangan buku 1 memiliki materi terapi tactile, buku berupa karton dupleks dilapis sticker dengan bagian tekstur pada area
TABEL 2 PENGOLAHAN DATA 11 KARTU MEMORI HASANAH AUTISM CENTER BANDUNG
| Judul Kartu | Gam | Tahap | Gangguan |
| bar Kartu | Per | anak ASD | |
| kem | (Sulungbudi | ||
| bang | 2001) | ||
| an | |||
| (Green | |||
| - span) | |||
| Kebiasa | ||||
|---|---|---|---|---|
| an Baik | ||||
| (Dimensi: 7 | ||||
| cm x 5 cm x | ||||
| 0.05 cm; | ||||
| Bahan: | ||||
| duplex putih; | ||||
| Tinta : Tinta | ||||
| Cetak Offset; | ||||
| Penerbit: IQ | ||||
Dev
2/3 Kom unika si: kosakata kata kerja
Profesi Dimensi: 9 cm x 12 cm x 0.03 cm; Banyak Kartu: 42 kartu (12 profesi); Bahan:
duplex putih; Teknik Cetak: Tinta Cetak Offset; Penerbit: IQ Dev
2 Komunikasi: vocabulary kata benda
tertentu. Pada Buku ke 2 bertujuan untuk belajar concept/berpikir abstrak dengan pengenalan abjad piktogram sesuai nama binatang yang terdapat di wilayah Indonesia. Buku ke 4 memiliki materi sequence/mengurutkan cerita dan buku 5 bertujuan untuk memahami ASD yang sulit dalam bersosialisasi dan mengungkapkan emosi.
Perancangan buku juga didasari pada metode Floor time yaitu belajar sambil bermain mengikuti arahan anak. Pada Tabel 3 dijabarkan fungsi media, materi dan dampaknya pada perkembangan anak ASD berdasarkan Perkembangan Anak Greenspan.
Tipografi dalam buku disarankan memiliki readability tinggi dan menggunakan tipografi san-serif yang ramah untuk anak-anak berdasarkan kajian buku "All My Stripes". Dipilih jenis huruf Berlin Sans FB Demi untuk headline, Andika Basic dan Open Sans untuk body text.
Gambar 1 Berlin Sans FB Demi Typeface untuk Rancangan Buku (sumber: Dokumentasi pribadi)
Gambar 2 Sketsa dan pewarnaan tokoh Abe Sumber: dokumentasi pribadi
Ilustrasi yang disarankan berdasarkan hasil analisa dari kajian All My Stripes dan studi kasus Hasanah Autism Center adalah tokoh utama berwarna cerah, memiliki bentuk garis membulat, latar belakang tidak kompleks dan redup, tidak ada benda detail pada latar belakang, mengutamakan kejelasan benda-benda informatif untuk tema latar belakang.
Desain karakter akan digunakan pada buku 3 dan 4 karena adanya tokoh dan alur cerita. Hasil saran desain karakter adalah memiliki kontak mata yang rendah, proporsi 1:4, menggunakan corak aksen sesekali namun tidak berlebihan, berwarna cukup kontras dengan background menggunakan warna cerah seperti merah.
Materi yang disarankan adalah kemampuan anak ASD dalam komunikasi dan sosialisasi. Studi kasus di Hasanah Autism Center mengungkap masih banyak anak yang berlatih kosakata benda seharihari. Senada dengan hasil observasi di tempat terapi, Suungbudi (2016) menjelaskan gangguan pada anak ASD terletak pada perbendaharaan kata sehingga kesulitan berkomunikasi. Dasar kebutuhan akan pembelajaran kosa kata dimulai dari tingkatan kesulitan awal yaitu kata benda kongkret dalam bentuk macam-maca hewan sesuai abjad. Kemudian di buku 3 dan 4 kesulitan kosa kata akan meningkat ke kata kerja bersamaan dengan kata sifat. Tingkat kesulitan tertinggi terletak pada penguasaan benda abstrak beserta maknya nya (Sulungbudhi, 2014).
Gangguan pengurutan sebab-akibat serta sosialisasi yang menyulitkan anak ASD juga menjadi penting ketika anak masuk di sekolah SD sehingga seri buku 3 dan 4 hadir dengan harapan memenuhi kebutuhan alat bantu terapi bagian sequence dan sosial.
Materi-materi inilah yang dikemas menjadi 4 buah seri buku dengan judul sebagai berikut: Buku 1, Macam-macam binatang berdasarkan abjad dengan judul "Teman-Teman Abe" mengenai benda
kongkret. Buku 2, Piktogram abjad binatang mengenai benda abstrak berbentuk abjad dengan judul "Ayo Menebak Abjad". Buku 3 bercerita Abe ke kebun binatang dan anak dibawa belajar
TABEL 3. PENJABARAN MEDIA, MATERI DAN HUBUNGANNYA DENGAN GANGGUAN ASD SERTA TAHAPAN PERKEMBANGAN GREENSPAN
| Me | Materi | Kemampuan | Taha |
|---|---|---|---|
| dia | fungsional anak | pan | |
| Buku | (fisik) | Tactile, | 1-2 |
| Ceri | Mem | Integrasi | |
| ta | balik | Sensori | |
| Anak | Buku | ||
| ten | Kosa | Vocabulary | 1-2 |
| tang | kata | kata benda, | |
| bina | Bina | Komunikasi | |
| tang | tang | ||
| Kata | Vocabulary | 1-2 | |
| kerja | kata kerja, | ||
| Komunikasi | |||
| Sebab | Analisa-sintesa | 3-4 | |
| akibat | dan | ||
| sederh | pemecahan | ||
| ana | masalah | ||
| Cerita | Analisa-sintesa | 3-4 | |
| sederh | dan | ||
| ana | pemecahan | ||
| masalah | |||
| Cerita | Sosialisasi | 5-6 | |
| ASD |
sebab-akibat dengan judul buku "Abe ke Bon-Bin". Buku 4 mengenai gangguan anak ASD dalam sosialisasi dengan judul "Teropong Abe".
Ke-4 seri buku ini akan dilengkapi juga dengan Booklet Panduan untuk pendamping atau orang tua ASD yang berisikan: 1. Definisi dan ciri-ciri ASD; 2. Penjelasan metode DIR/Floor time; 3. Keterangan materi buku 1-4; 4. Penutupan Pelatihan Pendamping ASD (Sulungbudi 2016).
SIMPULAN
Perancangan Seri Buku Anak untuk Terapi Tactile, Concept, Sequence, Sosial ASD dirancang berdasarkan kajian Buku "All My Stripes" dan studi kasus di Hasanah Autism Center Bandung. Hasil kajian buku memberi saran perancangan pada bagian ciri visual subjek utama: center, lurik, dan memiliki patahan garis. Saran untuk layout berbentuk bleed dengan background tidak kompleks, memiliki benda-benda informatif tema latar belakang dan berwarna redup.
Berdasarkan studi kasus Hasanah Autism Center dihasilkan referensi ilustrasi, materi yang dipelajari anak ASD dan kebutuhan media buku anak untuk terapi tactile, concept, sequence dan sosial ASD dalam 4 buah buku dengan
Gambar 3 Sketsa desain cover Buku 1 Macam-macam Binatang Berdasarkan Abjad (atas kiri), Buku 3 Abe ke Bon-Bin, Urutan Gambar Bercerita (atas kanan), Buku 2 Piktogram Abjad Binatang (bawah kiri), buku 4 Teropong Abe (bawah kanan)
Sumber: dokumentasi pribadi
rincian: 1. Vocabulary benda kongkret-Binatang, untuk masalah komunikasi dan tactile berjudul "Teman-teman Abe"; 2. Benda Abstrak-Abjad untuk masalah komunikasi berjudul "Ayo Menebak Abjad"; 3. Vocabulary kata kerja dan cerita sederhana untuk masalah komunikasi dan analisa-sintesa serta pemecahan masalah berjudul "Abe ke Bon-Bin"; 4. Cerita mengenai gangguangangguan ASD sehari-hari untuk masalah sosialisasi anak dengan judul "Teropong Abe".
Perancangan juga dilengkapi dengan booklet keterangan penggunaan buku dan informasi yang diperlukan pendamping/orang tua anak ASD. Melalui perancangan ini diharapkan memberi referensi pemuatan buku anak untuk ASD dan memenuhi kebutuhan buku anak sebagai media belajar untuk anak ASD.
