PENDAHULUAN
Pengaruh kebudayaan Cina di Indonesia salah satunya berkembang melalui benda-benda buatan Cina seperti porselen, manik-manik, barang-barang logam, kayu dan tekstil. Benda-benda tersebut sebagian besar berasal dari transaksi perdagangan dengan menukar hasil bumi nusantara. Kedinamisan dan keindahan dari ragam hias Cina mempengaruhi corak yang terdapat pada benda pusaka istana kerajaan Cirebon. Benda pusaka tersebut diukir dengan gaya Cina.
Pada awal perkembangan Islam inilah pengaruh kebudayaan Cina sangat kuat, keterlibatan pendatang muslim Cina yang mengembangkan Islam di pesisir utara pulau Jawa dianggap banyak mendorong kemajuan Islam dan ikut bergerak dalam melancarkan perdagangan masyarakat Cirebon dengan mancanegara. Pembauran antara orang Cina dengan penduduk pribumi dilandasi terutama oleh keagamaan dan sifat bangsa Indonesia yang terbuka dan ramah. Akibat dari pembauran tersebut, mereka dapat bekerja sama dalam berbagai hal dengan tujuan untuk kemakmuran bersama.
Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari (Catatan sejarah asal-muasal Cirebon) Laksamana Cheng Ho dianggap sebagai pencetus hubungan baik antara Cirebon dan Cina hingga generasi-generasi setelahnya. Laksamana Cheng Ho selain dalam misi penyebarluasan pengaruh Dinasti Ming ia juga menyebar agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Laksamana Cheng Ho memberikan hadiah kepada Cirebon berupa guci dan piringpiring dengan lafaz tauhid, kenangkenangan tersebut kini disimpan dalam museum benda pusaka Kesultanan Kasepuhan. Awak kapal Laksamana Cheng Ho juga memberikan hadiah yang berupa guci dan piring yang disimpan di beberapa tempat wisata. Namun sayangnya kondisi pemberian tersebut tidak disimpan dengan baik sehingga banyak yang sudah rusak, padahal benda-benda peninggalan tersebut merupakan bukti sejarah ragam hias Cina yang memengaruhi ragam hias batik Cirebon hingga saat ini.
Wilayah-wilayah lain di Indonesia yang dijajaki Laksamana Cheng Ho juga memiliki landmark besar berupa masjid yang mengandung nilai historis dan iconic dengan gaya arsitektur bergaya Cina yang dibangun dan dikelola oleh Ikatan Muslim Tionghoa Indonesia (PITI). Selain itu ada pula beberapa landmark yang dibangun untuk menandakan bahwa Laksamana Cheng Ho pernah ke wilayah tersebut. Bahkan di wilayah penghasil batik seperti Jawa Tengah (Semarang) dan Jawa Timur (Surabaya), keduanya memiliki usaha pelestarian Laksamana Cheng Ho melalui batik.
Gambar 1. Batik Cheng Ho (Semarang) (Sumber: http://www.mediasemarang.com)
Gambar 2. Batik Cheng Ho (Surabaya) (Sumber: https://www.jawapos.com)
Sebagai tokoh yang berpengaruh dalam sejarah perkembangan daerah Cirebon, maka perlu adanya pelestarian sejarah Laksamana Cheng Ho yang bisa dibuat masyarakat Cirebon, mudah
diperkenalkan ke luar Cirebon sekaligus memberi keuntungan secara ekonomi.
Batik digunakan sebagai media dalam menyampaikan sejarah ini, karena Cirebon terkenal dengan kota penghasil batik dengan ragam hias yang populer. Batik akan dirancang dengan susunan ragam hias yang juga memiliki sebuah narasi yang mampu menceritakan kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho selama di Cirebon dengan sistem penggambaran Bahasa Rupa. Demi mempertahankan nilai kultural, suatu pelestarian harus memelihara bentuk atau morfologinya maka, visual batik Laksamana Cheng Ho akan menggunakan pendekatan seni di Cirebon pada masa Laksamana Cheng Ho menjajaki Cirebon (Abad 15 M) berupa ciri visual seni ukir kayu jati pada abad 15 M agar relevan dengan sejarah Laksamana Cheng Ho di Cirebon. Setelah visual didapatkan dan diteliti, seluruh visual akan melalui tahap eksperimen untuk menciptakan visual yang lebih modern namun tidak melupakan ciri dari visual terdahulunya.
LANDASAN TEORI
Morfologi Bentuk
Morfologi estetik dari Munro (1970), adalah kajian secara deskriptif mengenai kesan yang ditampilkan oleh elemen-elemen estetik secara visual (teraga). Korelasi antara morfologi estetik dengan penciptaan ragam hias Laksamana Cheng Ho di Cirebon ini, maka dapat dikaji dengan pendekatan: (a) Aspek tradisional yaitu dengan menggunakan pendekatan seni pada abad 15 M, masa dimana Laksamana Cheng Ho hadir berada di Cirebon, (b) Aspek komposisi yaitu menjabarkan isi dari kesan yang ingin ditampilkan dan komponen estetik yang digunakan, dalam perancangan ini akan menggunakan estetika wimba Bahasa Rupa, (c) Menguraikan setiap komponen estetik yang terkandung pada tampilan corak dan visual yang ada pada Batik Kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon, komponen didapat dari mencari unsur-unsur bentuk yang relevan dengan kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho selama ia berada di Cirebon melalui banyak sumber yaitu, literatur pustaka maupun digital dan hasil dokumentasi. Mengacu pada metode eksperimen terhadap unsur-unsur dan prinsip-prinsip estetik, maka pemahaman ini digunakan sebagai alat untuk melakukan eksperimen ragam hias Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon.
Teori morfologi estetik telah membingkai studi mengenai bentuk. Bentuk dibangun oleh seperangkat
generator bentuk yang disebut unsur atau elemen visual yang tidak dapat dipisahkan dengan material fisik maupun psikis yang membingkai pengertian ciri, karakter atau identitas yang disebut gaya.
Akulturasi dan Enkulturasi Ragam Hias Batik
Akulturasi merupakan sebuah istilah ilmu sosiologi yang berarti proses pergantian unsur-unsur kebudayaan lain oleh sebuah kelompok atau individu. Hal menarik pada proses akulturasi ini ketika kita melihat dan mengamati proses akulturasi tersebut sehingga nantinya secara evolusi menjadi asimilasi atau meleburnya dua kebudayaan atau lebih sehingga menjadi satu kebudayaan, hal ini terjadi pada ragam hias yang dimiliki oleh bati-batik di Cirebon, tampak jelas banyak ditemukannya hasil dari akulturasi budaya berupa paduan dan peleburan ragam hias yang diambil dari berbagai macam unsur budaya pendatang. Contoh akibat dari terjadinya akulturasi pada ragam hias yaitu Paksi Naga Liman yang terdapat pada Keraton Kanoman Cirebon. Bentuk Paksi (burung) dari budaya Mesir (Islam), Naga (ular) dari budaya Tiongkok
(Buddha), serta bentuk Liman (gajah) dari India (Hindu).
Enkulturasi sebagai suatu konsep, secara harfiah dapat diartikan dengan proses pembudayaan (Koentjaraningrat 1986 : 233). Enkulturasi mengacu pada proses dengan kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Enkulturasi adalah suatu proses sosial melalui manusia sebagai makhluk yang bernalar, memiliki daya refleksi dan intelegensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain (Peter-Poole, 2002). Bukti adanya proses enkulturasi yang dilakukan oleh masyarakat Cirebon yang berkaitan dengan penelitian ini adalah wujud pelestarian-pelestarian peninggalan Laksamana Cheng Ho yang tersisa dan menjadikan (mengakui) Laksamana Cheng Ho sebagai pendatang asing yang bersifat damai memiliki andil besar dalam kemajuan Cirebon di sekitar pelabuhan dan kerajaan, penyebar agama Islam, juga faktor yang memengaruhi ragam hias Cirebon dengan ragam hias Cina yang hingga saat ini masih ada.
Bahasa Rupa untuk Perancangan
Perancangan Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho menggunakan sistem penggambaran Bahasa Rupa RWD (Ruang Waktu Datar), karena gambar prasejarah, primitif, tradisional, lebih dekat dengan sistem RWD, dengan aneka arah-jarak-waktu, sehingga sistem penggambaran Bahasa Rupa RWD dianggap sebagai Bahasa Rupa Tradisi. Hal ini diperjelas oleh Primadi (1993 : 3), dalam perupaan seni tradisi di Indonesia tidak ada yang senatural atau seabstrak barat, yang disukai dekoratif dan ragam hias, juga tak ada yang sesimetri atau asimetri barat, yang disukai keseimbangan dinamis. Juga tak disukai berpikir dan berkomunikasi sekongkret atau seabstrak barat, lebih disukai yang magis-simbolis.
Berdasarkan pernyataan tersebut, jelas bahwa pewarisan nilai-nilai seni yang berasal dari masa lalu menggunakan konsep magis simbolis, menyukai unsur-unsur dekoratif yang dilestarikan secara turun-temurun, kemudian berkembang di masyarakat.
Terdapat dua aturan dalam penggunaan Bahasa Rupa yaitu, penggunaan rumus sistem Bahasa Rupa untuk membaca atau meneliti artefak dan berkarya dengan sistem penggambaran
Bahasa Rupa. Pada penelitian ini akan digunakan aturan berkarya dengan sistem penggambaran Bahasa Rupa dengan menggambar mengikuti aturan-aturan sistem atau rumus Bahasa Rupa Tradisi dan memberi kalimat gubahan pada tiap adegan.
METODE
Menurut Emmory dalam Jaedun (2011), penelitian eksperimen merupakan bentuk khusus investigasi yang digunakan untuk menentukan variabel-variabel apa saja dan bagaimana bentuk hubungan antara satu dengan yang lainnya, yaitu terhadap dua golongan variabel lain, yaitu: (1) Aspek kegiatan berupa Laksamana Cheng Ho di Cirebon, visual ragam hias, tematik, fungsi, material, dan teknik produksi; serta (2) Metode berupa: deskripsi dan rekonstruksi.

Gambar 3. Proses Eksperimen Visual Batik Laksamana Cheng Ho (Doc, 2019)
Batik yang dirancang mengacu pada perancangan desain dengan menggunakan metode eksperimen visual (Sachari, 2003 : 1) dengan maksud untuk mengeksplorasi unsur-unsur yang digunakan dan relevan dengan kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon menjadi bentuk-bentuk dasar untuk membuat ragam hias, serta mengomposisikan ragam hias yang dihasilkan dalam produk berupa kain batik. Tahap selanjutnya, mengeksplorasi material dan teknik pewarnaan batik dengan zat pewarna khusus batik untuk mencapai rancangan dengan gaya (tematik) yang diinginkan. Batik ini menggunakan konsep perancangan kain batik dengan pengaplikasian sistem penggambaran Bahasa Rupa pada motifnya sebagai upaya dalam memecahkan masalah berupa pelestarian sejarah Laksamana Cheng Ho di Cirebon melalui media tekstil yang dapat bercerita. Batik yang dihasilkan akan mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek estetik bahasa rupa tradisi dan sejarah Laksamana Cheng Ho di Cirebon.
Metode eksperimen visual yang dilakukan adalah dengan cara penjabaran (deskripsi) unsur-unsur dari kisah Laksamana Cheng Ho di Cirebon
berdasarkan hasil pengumpulan data dengan menggambar kembali unsur-unsur tersebut menjadi bentuk dasar lalu menjadi ragam hias batik dengan melalui tahap stilasi tanpa mengesampingkan nilai-nilai primer yang harus tetap ada dalam membangun kembali sesuatu sesuai kondisi atau sesuai dengan peristiwa masa lalu (rekonstruksi) sebelum dikomposisikan. Kegiatan rekonstruksi ini bertujuan untuk mengembalikan kisah Laksamana Cheng Ho di Cirebon melalui ragam hias baru pada batik yang sudah menjadi potensi dalam mata pencaharian penduduk Cirebon. Eksperimen yang dilakukan melingkupi:
- a. Eksperimen visual ragam hias dalam perancangan bentuk, motif, corak, warna, tekstur, dan komposisi.
- b. Eksperimen tematik atau gaya dalam perancangan, kreativitas, dan identitas yang bersifat dekoratif.
- c. Eksperimen material melalui unsur kain, malam dan campuran berbagai media.
- d. Eksperimen teknik produksi dalam pengembangan, kreativitas, dan identitas yang dilakukan dengan teknik batik tulis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendekatan Perancangan
Pada abad 15 M, pada masa kesultanan Islam, di kota Cirebon dan daerah-daerah di sekitarnya terdapat kegiatan mengukir kayu yang hasilnya sangat baik, memiliki gaya dan corak ragam hias tersendiri. Pengaruh Islam dalam tradisi kebudayaan Cirebon tercermin dalam sejumlah karya seni hias tradisional tersebut. Umumnya ragam hias yang ada pada karya menghindari penggunaan ragam hias fauna, tapi yang digunakan adalah ragam hias flora. Hal ini sangat erat hubungannya dengan syariat Islam, yaitu dilarang menirukan makhluk hidup (manusia dan hewan) dengan bentuk yang sempurna atau sesuai dengan aslinya.
Selain mendapatkan pengaruh Islam, seni ukir kayu Cirebon juga dipengaruhi oleh ragam hias Cina, dimana pada abad-abad tersebut disebutnya sebagai jaman Sino-Javanese Muslim Culture dengan bukti di lapangan seperti: Konstruksi Mesjid Demak (terutama soko tatal penyangga mesjid), ukiran batu padas di Mesjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada mesjid Menara di Kudus, ukiran kayu di daerah Demak, Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik. Sunan Giri
wafat pada tahun 1506, pintu makamnya di Gresik dihiasi dengan ukiran kayu yang sangat indah dengan motif gaya Cina yang kuat sekali (Lombard, 2, 1996:48).
Gambar 4. Seni Ukir Kayu Cirebon Keraton (Sumber: Doc, 2018)
Gambar 5. Tracing Seni Ukir Kayu Cirebon Keraton (Doc, 2019)
Jika diamati dari seni ukir kayu ini, terdapat kesamaan cara penggambarannya dengan lukisan tradisional Cina, dilihat dari bagaimana bukit-bukit yang digambarkan dengan cara yang sama, yaitu: (a) berlapis-lapis, (b) semakin objek jauh semakin digambar lebih tinggi dan (c) setiap objek yang digambarkan tidak digambarkan dengan perspektif sebenarnya, menampakkan semua yang ingin ditampakkan dengan sisi yang paling indah digambar atau dilihat mata.
Gambar 6. Lukisan Cina Kuno (Sumber: paintingvalley.com)
Begitu pula dengan kesamaan batik tradisional Cirebon dengan seni ukir kayu, kesamaan tersebut terletak pada konsep seni hiasnya yang menampakkan komposisi simbol kosmologi asli Cirebon yang berarti tri loka, yaitu simbol dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang juga ikut dipengaruhi oleh kosmologi seni lukis Cina.
Gambar 7. Motif Batik Tradisional Cirebon (Sumber: disparbud.jabarprov.go.id)
Gambar 8. Skema Konsep Tahapan Seni Lukis Cina dan Ilmu Tarekat (Doc, 2019)
Kesamaan ini tampak jelas membuktikan seperti apa yang diungkapkan oleh Hasanudin (2001 : 50) bahwa batik Cirebon diungkapkan dalam suasana cerita, tersusun secara horizontal terbagi dalam tiga sampai empat tahapan yang menyatakan ruang seperti konsep dalam seni lukisan Cina. Meskipun telah terjadinya percampuran dengan berbagai tradisi seni asing melalui proses akulturasi, secara prinsip tetap tidak menghilangkan jati diri budaya aslinya yang mengutamakan aspek keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan.
Gambar 9. Skema Persamaan Sistem Penggambaran pada Seni Ukir Kayu Cirebon dengan Batik Cirebon Keraton (Doc, 2019)
Kesamaan seni ukir kayu Cirebon dengan batik tradisional Cirebon lainnya adalah ciri khas penggambaran ragam hias antara kanan dan kiri hampir menyerupai (mirror) atau seperti berhadap-hadapan.
Studi Visual Ragam Hias Batik Laksamana Cheng Ho
Studi visual yang dilakukan meliputi toko atau karakter, setting, dan properti. Berikut sebagian contoh pengenalan tokoh-tokoh yang ada di Batik kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho:
(1) Laksamana Cheng Ho
Pendatang dari Cina, seorang pengembara yang menjunjung tinggi kedamaian dalam perjalanannya. Ia diutus oleh seorang kaisar untuk memperluas pengaruh Dinasti Ming sekaligus
menyebarkan agama Islam. Laksamana Cheng Ho terkenal dengan kepribadian yang bijaksana, cinta damai dan berani, dalam setiap perjalanannya ia selalu berperan untuk membantu demi kemajuan daerah-daerah yang dikunjunginya. Dari berbagai sumber, ciri fisik Laksamana Cheng Ho selalu digambarkan berwajah penuh wibawa, berbadan tegap, tinggi dan besar.
Gambar 10. Laksamana Cheng Ho dalam mural di kampung halamannya, Kunyang (kiri) dan referensi sumber lain (National Geographic, 2015)
(2) Ki Gedeng Tapa
Merupakan penguasa Muara Jati (Cirebon saat itu). Ia yang berperan dalam pemindahan tanah Cirebon ke Lemangwungkuk (daerah sekitar Cirebon saat ini). Ia pula yang membangun pemukiman yang dinamakan Caruban atau Campuran, karena saat itu di daerah tersebut banyak saudagar dan pedagang asing yang tinggal di sana. Dari berbagai sumber, fisik Ki Gedeng Tapa digambarkan
bertubuh tegap, wajah memiliki kumis dan janggut, berpakaian panjang dan menutup kepala.
Gambar 11. Lukisan Ki Gedeng Tapa (Sumber: sr.rodovic.org)
Morfologi Bentuk Ragam Hias Batik Laksamana Cheng Ho
Berikut merupakan contoh skema penjabaran dan penggambaran ulang (rekonstruksi) unsur-unsur yang akan dijadikan ragam hias batik berdasarkan hasil pengumpulan data studi visual:
Gambar 12. Morfologi Bentuk Ragam Hias Tokoh (Doc, 2019)
Adopsi Sistem Penggambaran Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon
Perancangan ini akan menggunakan pendekatan desain atau karya dari seni ukir kayu Cirebon, karena seni ukir kayu Cirebon merupakan seni yang sudah ada sejak abad 15 M (masa Laksamana Cheng Ho), selain itu seni ukir kayu Cirebon juga memiliki kesamaan cara penggambaran khas lukisan Cina. Hal kesamaan ini juga memengaruhi cara penggambaran pada batik tradisional Cirebon hingga saat ini. Cara penggambaran dari seni ukir kayu Cirebon yang akan diambil sebagian untuk perancangan Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon adalah:
- a. Ciri khas penggambaran dua sisi kanan dan kiri yang hampir menyerupai atau berhadap-hadapan.
- b. Penggambarannya secara horizontal.
Demi mencapai tujuan menceritakan kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho, perancangan menambahkan sistem alur cerita dari kiri ke kanan dan setiap adegan dipisahkan dengan ornamen atau ragam hias.

Gambar 13. Skema Sistem Penggambaran (Doc, 2019)
Berikut merupakan hasil penggabungan sistem penggambaran dari seni ukir kayu Cirebon dan sistem penggambaran tambahan untuk perancangan Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon:

Gambar 14. Skema Gabungan: Adopsi sistem penggambaran seni ukir kayu Cirebon dan tambahan pada karya Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon (Doc, 2019)
Gambar 15. Sketsa Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon (Doc, 2019)
Image Board
Setelah melalui tahap sketsa, batik diwarnai sesuai dengan arahan image board. Warna yang digunakan adalah dominan biru indigo dan putih. Warna yang digunakan dalam perancangan batik ini terinspirasi dari warna guci dan piring peninggalan Laksamana Cheng Ho yang tersisa di Cirebon. Berikut adalah image board dan hasil pewarnaan pada sketsa perancangan. Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon.
Gambar 16. Image board (Doc, 2019)
Gambar 17. Sketsa Final Batik Kisah PerjalananLaksamana Cheng Ho di Cirebon (Doc, 2019)
Bahasa Rupa Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho
Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon dibagi menjadi tiga bagian untuk menceritakan kisah sejarah singkat Laksamana Cheng Ho:
- a. Saat datang ke Cirebon
- b. Saat berada di Cirebon
- c. Hingga Laksamana Cheng Ho pergi dari Cirebon untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.
Arah lihat atau arah membaca Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon ini adalah dengan membacanya dari arah kiri ke kanan. Arah ini ditandai dengan arah ombak yang digambar datang dari kiri berjalan ke arah kanan, menggiring cerita dari Laksamana Cheng Ho datang ke Cirebon hingga pulang meninggalkan Cirebon. Setiap pergantian adegan ditandai oleh ragam hias yang dibentuk seperti batas.
KEJADIAN 1
Gambar 18. Sketsa Batik Kejadian 1 (Doc, 2019)
Cerita Kejadian 1:
Laut tiba-tiba menjadi ramai, deburan ombak pada siang itu menggebu. Terlihat sekelompok kapal besar dari seberang lautan semakin dekat menghampiri bibir pantai. Pasukan armada mulai turun dari kapal bersiap mengisi air bersih untuk kebutuhan armada yang dipimpin oleh seorang penjelajah dari negeri Cina, Laksamana Cheng Ho. Ia bersama pengikutnya menghampiri penguasa yang kala itu memimpin pelabuhan, Ki Gedeng Tapa untuk meminta izin tinggal beberapa hari demi kebutuhan armada. Hasil baik untuk armada Laksamana Cheng Ho. Sang Penguasa mengizinkannya, dengan hati senang Sang Laksamana memberikan buah tangan sebagai hadiah, yaitu barang-barang berharga dari negerinya.
Sistem penggambaran Bahasa Rupa Tradisi yang digunakan:
a. Diperbesar: Kapal Baochuan (Kapal utama dalam armada) diperbesar menunjukkan
kapal utama dan kapal terpenting dalam armada.
- b. Rebahan: Kapal dan pasukan Laksamana Cheng Ho digambar rebahan, untuk memperjelas bentuk kapal dan penampakan barisan pasukan yang sedang mengisi persediaan air bersih untuk kapal.
- c. Sinar X: Digunakan untuk memperlihatkan isi dari wadah air yang diangkut pasukan.
- d. Diperbesar dan diperkecil: Laksamana Cheng Ho dan Ki Gedeng Tapa diperbesar menyatakan penting, sedangkan Ma Huan dan pelayan diperkecil menyatakan peran yang tidak begitu penting.
KEJADIAN 2
Gambar 19. Sketsa Batik Kejadian 2 (Doc, 2019)
Cerita Kejadian 2:
Kesedihan nampak pada raut wajah Laksamana Cheng Ho. Ia semakin masuk dalam kehidupan penduduk pesisir pantai. Melihat sedikitnya kapal pendatang menghampiri tanah yang sedang dijajakinya. Besarnya armada dan pasukan yang ia miliki, membuatnya mengutus siapa saja untuk membangun mercusuar demi kemakmuran tanah itu. Satu purnama terlewati hingga mercusuar berdiri kokoh dan kapal
pendatang dari segala penjuru berlabuh, senyum bahagia Sang Laksamana kembali menghiasi wajahnya.
Sistem penggambaran Bahasa Rupa Tradisi yang digunakan:
- a. Diperbesar dan diperkecil: Laksamana Cheng Ho digambar besar menyatakan penting, sedangkan pasukan yang membangun mercusuar digambar kecil.
- b. Imaji jamak: Digunakan pada rotasi bulan untuk menyatakan waktu.
- c. Rebahan: Pasukan yang membangun mercusuar digambar rebahan untuk memperlihatkan barisan dan alat-alat yang digunakan.
- d. Ombak digambar lebih sedikit pada bagian kiri untuk menyatakan pelabuhan sepi dari kapal pendatang.
- e. Ombak digambar lebih banyak pada bagian kanan untuk menyatakan pelabuhan ramai oleh kapal pendatang.
KEJADIAN 3
Gambar 20. Sketsa Batik Kejadian 3 (Doc, 2019)
Cerita Kejadian 3:
Tugas dan keperluan armada sudah terpenuhi. Saatnya Sang Laksamana kembali memimpin, menjelajahi lautan dan menjajaki tanah lain. Piring besar bertuliskan ayat Al-Quran menjadi persembahan Laksamana Cheng Ho untuk Ki Gedeng Tapa berharap dengan kedatangannya ke tanah Cirebon dapat membangun persahabatan dan kedamaian.
Sistem penggambaran Bahasa Rupa Tradisi yang digunakan:
- a. Diperbesar dan diperkecil: Laksamana Cheng Ho dan Ki Gedeng Tapa diperbesar menyatakan penting, sedangkan Ma Huan dan pelayan diperkecil. Kapal Baochuan diperbesar menyatakan penting.
- b. Diperbesar: Piring peninggalan Laksamana Cheng Ho diperbesar untuk menyatakan penting.
- c. Rebahan: Penduduk sekitar pelabuhan Muara Jati digambar rebahan untuk memperlihatkan wujud.
Proses Pembuatan Batik
Proses produksi Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho dilakukan dengan proses pembuatan batik pada umumnya. Berikut proses pembuatan Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho:
a. Membuat sketsa gambar motif yang telah disusun menjadi ragam hias yang sudah
melalui proses studi visual dan morfologi ragam hias. Sketsa akhir dalam bentuk digital dicetak dengan ukuran sebenarnya di kertas HVS, lalu sketsa digambar ulang di atas kertas bening seperti kertas kalkir atau kertas minyak ukuran A0 dengan teknik menebalkan garis atau menjiplak. Pembuatan sketsa digambar dengan menggunakan pensil atau pena dengan ukuran 0,7 mm.
- b. Bahan baku atau bahan pokok yang digunakan adalah kain sutra ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan lilin atau malam (wax). Kain sutra ATBM diperlukan ukuran panjang 5m dan lebar 50cm, masing-masing sisinya dilebihkan 5cm atau lebih. Hal ini dilakukan karena sifat kain sutra ATBM mudah kusut atau rusak.
- c. Tahap selanjutnya yaitu memindahkan sketsa dari kertas bening ke kain sutra ATBM dengan teknik menjiplak (tracing) menggunakan ballpoint agar garis yang dihasilkan tidak terlalu samar sehingga lebih mudah saat proses penyantingan. Teknik tracing dilakukan dengan alat light box. Setelah kain selesai di tracing, ragam hias batik diberi isén-isén di bagian yang dibutuhkan. Setelah motif selesai di tracing menggunakan ballpoint, motif siap memasuki proses membatik dengan menggunakan canting dan wax.
- d. Selanjutnya ke tahap penembokan latar atau penembokan di bagian-bagian motif yang sudah disesuaikan dengan hasil sketsa
desain yang sudah diberi warna (simulasi desain akhir). Penembokan dilakukan dengan ukuran canting yang lebih besar dibanding canting untuk menebalkan garis agar proses penembokan lebih mudah dan cepat. Pekerjaan penembokan ini melibatkan keahlian teknik mengomposisikan motif-motif yang akan diberi warna. Pembagian komposisi motif akan menghasilkan keharmonisan antara motif dan warna, dengan demikian konsep kesatuan (unity), keseimbangan (balance), irama (rhytm), kontras, dan proporsi bisa tercapai dengan baik.
e. Setelah tahap penembokan selesai, kemudian dilakukan proses pengecekan ulang pada bagian-bagian motif yang kemungkinan belum ditembok diberi isén-isén atau terdapat lilin yang menempel di tempat yang tidak seharusnya dan akan merusak dari keindahan batik yang diinginkan. Lilin diberi suhu tinggi menggunakan besi panas dan diberi air panas yang mengandung soda ash, agar lilin mudah luntur pada saat proses peluruhan. Setelah itu, kain dibilas dengan air dingin yang bersih berulang-ulang pada bagian yang dibersihkan lalu dilanjutkan dengan proses pelilinan ulang (isén-isén maupun penembokan).
f. Langkah selanjutnya kain diberi warna sesuai dengan warna desain yang sudah ditentukan. Zat pewarna yang digunakan pada batik ini adalah pewarna napthol yang diberi
soda coustic. Setelah selesai diwarna dengan cara dicelupkan di bak yang telah diberi larutan pewarna, kain dijemur untuk dikeringkan. Pada batik ini proses pewarnaan dilakukan sekali pencelupan.
g. Setelah kain yang diberi warna kering, dilanjutkan oleh proses lorod. Proses pelorodan yaitu kain dimasukkan ke dalam drum yang berisi air panas yang diberi sedikit soda ash agar lilin mudah terlepas dari kain.
h. Setelah proses pelorodan selesai, kain dibilas dengan air dingin yang bersih. Pencucian dilakukan dengan menggunakan dua wadah besar secukupnya masing-masing 20 liter air, hasil akan lebih bersih jika air dalam wadah terus terisi penuh dan menggunakan air mengalir. Setelah proses pencucian, kain dijemur hingga kering.
Hasil Kain Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon
Berikut adalah hasil perancangan kain batik sejarah perjalanan Laksamana Cheng Ho:
Gambar 21. Hasil Kain Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho di Cirebon (Doc, 2019)
KESIMPULAN
Sistem penggambaran yang diambil dari seni ukir kayu Cirebon pada abad 15 M dilakukan untuk menciptakan karya batik kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho yang relevan dan tidak melupakan nilai budaya daerah Cirebon. Berdasarkan hasil analisis dari studi literatur, observasi dan dokumentasi dari berbagai sumber, didapatkan bahwa seni ukir kayu Cirebon juga memiliki kesamaan cara penggambaran khas lukisan Cina, hal ini juga memengaruhi visual dan cara penggambaran pada batik tradisional Cirebon hingga saat ini. Gaya gambar yang digunakan dalam perancangan ini adalah dengan mengadaptasi cara penggambaran dan ragam hias dari benda peninggalan Laksamana Cheng Ho dan ragam hias batik Cirebon. Peniruan cara penggambaran dan ragam hias telah melalui proses studi visual yang dikaji melalui beberapa sumber dengan menjabarkan proses morfologi bentuk yang digambar dari bentuk dasar hingga menstilasi bentuk tersebut menjadi bentuk yang dekoratif untuk dijadikan ragam hias batik.
Salah satu manfaat dari perancangan Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho ini adalah menciptakan suatu usaha untuk melestarikan sejarah Laksamana Cheng Ho di Cirebon dengan memanfaatkan potensi Cirebon, sesuatu yang masyarakat bisa buat dan memberi keuntungan secara ekonomi. Maka, potensi ragam hias Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho memungkinkan bagi pelaku perancang atau perajin batik Cirebon memproduksi dan mengembangkan ragam hias baru. Batik Kisah Perjalanan Laksamana Cheng Ho dapat menjadi referensi ide desain maupun ide konsep demi pengembangan tekstil baik di Cirebon maupun di luar Cirebon. Penggabungan batik kisah sejarah Laksamana Cheng Ho dan Bahasa Rupa diharapkan dapat menjadi karya seni rupa yang memiliki nilai kebaruan bagi dunia tekstil Indonesia.
Diterima: 21 Maret 2020/ Disetujui: 30 Mei 2020
