PENDAHULUAN
Camerawork adalah cara kamera digunakan dalam pembuatan film yang mencakup posisi, pergerakan, komposisi dari gambar yang diambil oleh kamera, dan merupakan salah satu aspek terpenting yang ada dalam visual storytelling sebuah film. Sedangkan visual storytelling merupakan teknik menarasikan sebuah cerita dalam bentuk visual (dapat dilihat) (Pimenta & Poovaiah, 2010).
Camerawork yang berkualitas dan unik tidak hanya dapat memberikan visual yang menarik tetapi juga memberikan ciri khas tertentu pada sebuah film, sebuah hal yang tidak dapat diberikan oleh aspek lainnya. Hal ini paling terlihat dalam filmfilm aksi.
Camerawork (terutama dalam film aksi) juga berfungsi sebagai elemen yang membawa cerita sebuah film. Ketika shooting sebuah cerita, semua elemen visual untuk cerita tersebut harus ada dan siap untuk memperlihatkan cerita yang diinginkan (Bernard, 2007).
Sutradara sebagai salah satu peran terpenting dalam pembuatan film harus
memiliki kemampuan untuk mengatur segala hal yang ada di dalam produksi film, mulai dari naskah, audio, visual, termasuk camerawork. Dalam mengimplementasian camerawork, sutradara-sutradara film memiliki metode-metodenya tersendiri. Berdasarkan observasi awal penulis, perbedaan-perbedaan metode tersebut paling terlihat dalam film-film oleh Sutradara Barat dan Asia.
Sudah ada berbagai dokumentasi yang membandingkan film aksi Asia dan Barat dari berbagai aspek. Namun, belum ditemukan yang secara spesifik membandingkan teknik-teknik camerawork dari kedua jenis film.
Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan atara kedua jenis film dengan mengambil salah satu dari masing-masing tipe, yaitu Ip Man yang disutradarai oleh Wilson Yip (Asia) dan The Raid yang disutradarai oleh Gareth Evans (Barat) dan menganalisa camerawork dari masing-masing film. Selanjutnya, penulis mengkaji hal-hal yang membuat kedua teknik sinematografi tersebut efektif dan disukai oleh audiensnya.
METODE
Metode yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, analisi data, dan perbandingan (komparatif).
Untuk kualitatif deskriptif, shot dan teknik yang cenderung digunakan/unik dari masing-masing film akan dicatat dan dikumpulkan. Pada bagian analis data, shot/teknik yang sama dan juga berbeda dari film tersebut akan dikelompokkan ke dalam sebuah daftar yang lengkap. Pada metode perbandingan (komparatif), data yang didapatkan akan dibandingkan dan juga dibahas dari segi fungsi masingmasing.
Berdasarkan teori yang dijabarkan, teknik-teknik camerawork yang ada akan dibagikan menjadi beberapa kategori:
- 1. Shot: angle dan posisi yang diambil saat perekaman
- 2. Movement (gerakan): pergerakan kamera dalam film
Beberapa istilah tentang teknik dasar dalam menggerakkan kamera digunakan dalam pembahasan perbandingan kedua film ini, antara lain:
Tilt
Menggerakkan kamera ke atas ke bawah berdasarkan sumbu horizontal kamera. Teknik ini berguna untuk memperlihatkan dua hal/ kejadian yang berbeda pada waktu yang sangat dekat. Tilt dapat digunakan untuk membuat sebuah subjek terlihat lebih besar dan signifikan (Mc Guinness, 2018). Gerakan ini juga digunakan untuk memperkenalkan sebuah karakter, terutama yang berwibawa (Storyblocks, 2019)
Pan
Seperti teknik Tilting, namun menyamping (sumbu vertikal). Panning berguna untuk menetapkan latar tempat dan juga teknik untuk mengikuti pergerakan subjek (Storyblocks, 2019).
Zoom
Mengubah focal length pada lensa untuk membuat seakan-akan objek terlihat lebih dekat atau lebih jauh dari layar. Teknik ini umumnya digunakan untuk memberikan focus kepada sebuah objek/subjek yang penting dalam sebuah cerita (Storyblocks, 2019). Teknik zoom yang dilakukan dengan cepat dapat memberikan rasa dramatik kepada sebuah kejadian (Mc Guinness, 2018).
Pedestal
Menggerakkan seluruh kamera ke atas atau kebawah. Gerakan ini digunakan untuk menunjukkan tinggi sebuah objek atau subjek (Storyblocks, 2019).
Dolly
Membawa kamera mendekat atau menjau kepada objek rekam (maju/mundur). Teknik ini dapat dilakukan menggunakan alat khusus dengan nama yang sama.
Gambar 1 Alat Dolly (sumber: https://www.indiamart.com)
Teknik ini berguna untuk mengikuti subjek, dan juga dapat memberikan perasaan seakan-akan penonton sedang berjalan mendekati subjek dan juga berguna meningkatkan intimasi antara penonton dan subjek (Mc Guinness, 2018).
Truck
Bekerja seperti dolly, namun teknik ini menggerakkan kamera secara menyamping. Teknik ini dapat dilakukan menggunakan alat seperti dolly, bahkan dilakukan dengan merekam dari jendela truk/diatas pick-up. Teknik ini berguna untuk mengikuti gerakan subjek dan mempertahankan hal-hal yang dilakukan subjek untuk tetap di layar.
Gerakan lain yang dapat digunakan adalah roll, yaitu menggulingkan kamera kesamping. Gerakan ini jarang dilakukan dan biasanya digunakan ketika subjek sedang melakkukan gerakan spesifik (Clark, 2016).
Gambar 2 Teknik Pergerakan Kamera (sumber: https://www.bulbapp.com)
Berdasarkan gambar diatas: 1 adalah dolly, 2 adalah pedestal, 3 adalah truck, 4 adalah pan, 5 adalah tilt, dan 6 adalah roll.
Selain teknik-teknik dasar diatas, ada beberapa teknik lain yang digunakan oleh banyak pembuat film yang dapat memberikan efek yang unik kepada film yang dibuat, contohnya:
Handheld Shooting
Dilakukan dengan cara membawa kamera rekam dengan tangan sendiri dan dibawa seperti kamera biasa. Hasilnya adalah gerakan kamera yang lebih terasa natural dan realistis berkat gerakan yang dihasilkan dibandingkan dengan pergerakan kamera yang lebih mulus dan statis menggunakan alat bantu. Handheld dapat memberikan persaan kepada penonton seperti menonton sebuah berita atau rekaman dokumentasi.
Handheld shooting juga memberikan kejutan (hal yang tidak terduga) pada shot yang menggunakannya. (Stuckmann, 2015)
Floating Cam/Stabilized Shot
Floating cam merupakan alat yang umumnya digunakan saat merekam film secara handheld menggunakan alat bernama steadicam, yang menggunakan pengimbang atau gyroscope bagi yang bertujuan untuk memberikan pergerakan kamera handheld yang lebih mulus.
Gambar 3 Steadicam (sumber: https://www.youtube.com )
Crane (Derek)
Derek dapat digunakan untuk merekam film pada sudut yang tinggi. Alat ini berguna untuk merekam sebuah kejadian di sudut lain yang lebih tinggi sehingga memberikan perspektif yang berbeda pada sebuah adegan.
Gambar 4 Crane (Derek) (sumber: http://www.stvfe.com/)
Menurut Adlorama (2018), teknik sinematografi dasar untuk menggunakan camera dalam perfilman adalah:
Extreme Long Shot
Memperlihatkan area yang luas untuk memperlihatkan skala subjek di bandingkan dengan lingkungan disekitarnya.
Memperlihatkan area yang luas untuk memperlihatkan skala subjek di bandingkan dengan lingkungan di sekitarnya. Shot ini umumnya berfungsi sebagai establishing shot, yaitu shot yang berguna untuk menetapkan/mengganti latar tempat adegan akan terjadi (Maio, 2019).
Bird's Eye View Shot
Sesuai dengan namanya, shot ini diambil untuk memperlihatkan skala yang besar dari sudut yang tinggi seperti burung.
Shot ini memiliki fungsi yang mirip dengan extreme long shot, namun diambil dari tempat yang jauh lebih tinggi sehingga dapat memperlihatkan skala tempat yang jauh lebih besar.
Jenis shot lain yang mengambil perspektif hewan adalah frog's eye view/
worm's eye view, yaitu shot yang mengambil shot dari lantai ke atas/subjek layaknya cacing/kodok yang melihat ke atas (Student resources, 2018).
Worm's eye view sendiri berguna untuk membuat objek sekitar terlihat lebih besar dan secara otomatis, membuat penonton merasa sangat kecil. Hal ini juga membuat subjek dilayar terlihat lebih besar dan berwibawa (Stinson, 1995).
Long Shot
Shot yang sedikit lebih dekat dari extreme long shot. Shot ini berguna agar penonton bisa mengetahui kejadian dengan lebih jelas, namun masih bisa terlibat secara emosional dengan adegan.
Shot yang mirip dengan in adalah full shot yang menunjukkan lingkungan disekitar subjek, namun dengan subjek masih memenuhi frame (telapak kaki sampai kepala subjek menyentuh atau dekat batas frame) (Studiobinder, 2019).
Medium Shot
Lebih dekat daripada long shot. Shot ini umumnya menunjukkan subjek dari pinggang/perut keatas. Shot ini biasanya digunakan untuk percakapan/interaksi
antar subjek dan berfungsi agar penonton bisa melihat subjek lebih dekat tetapi dengan sifat yang lebih informatif daripada emosional.
Shot yang mirip dengan ini adalah medium full-shot, yang menunjukkan subjek dari lutut/paha keatas (Studiobinder, 2019).
Close-Up Shot
Shot ini memperlihatkan hanya seluruh kepala mulai dari leher atau dagu. Shot ini berguna agar penonton lebih terkait/personal kepada subjek secara emosional. Shot yang mirip adalah medium close-up shot, yang memperlihatkan mulai dari dada ke kepala (Studiobinder, 2019).
Extreme Close-Up Shot
Shot yang jauh lebih dekat dan terfokus daripada close-up, biasanya kepada mata subjek. Shot ini sering digunakan untuk mengatur suasana dan menambah drama dari sebuah adegan.
Dutch Angle Shot
Dutch Angle, dutch tilt canted angle, atau oblique angle, merupakan jenis shot yang memiliki kemiringan kamera pada garis horizontal. Umumnya digunakan untuk memberikan rasa ketidaknyamanan atau kegentingan kepada penonton (Lannom, 2019).
Over-The-Shoulder Shot
Shot ini memperlihatkan hanya pundak dan kepala yang tidak fokus di latar depan, sementara orang/ objek didepannya difokuskan. Shot ini berguna untuk membuat sebuah adegan percakapan terasa alami.
Tilt Shot
Shot ini menggunakan pergerakan tilt (berputar pada sumbu horizontal) untuk memperlihatkan sudut yang luas secara vertical atau untuk perlahan-lahan memperlihatkan sesuatu di akhir perputaran, dapat berupa seseorang atau sesuatu yang penting dari cerita.
Panning Shot
Seperti tilt shot, namun menyamping. Teknik ini juga berguna untuk memperlihatkan latar tempat yang ada di adegan.
Zoom Shot
Teknik ini berguna untuk meningkatkan fokus kepada karakter/ subjek tertentu.
Crane Shot
Shot yang menggunakan derek, untuk menggerakkan kamera ke posisi yang tinggi. Shot ini umumnya berguna untuk memberikan perspektif yang tinggi untuk film.
Tracking Shot
Shot yang mengikuti karakter/subjek tertentu yang sedang berkelana secara konstan. Shot ini dapat menggunakan alat-alat tertentu seperti dolly, mesin derek, steadicam, atau alat-alat lainnya.
Shot ini biasa digunakan untuk memamerkan adegan dan kejadian di sekitar subjek tanpa memerlukan potongan (Lannom, 2020)
Point-Of-View Shot
Juga dikenal sebagai subjective shot, shot ini bermaksud untuk membawa mata penonton ke posisi spesifik yang ingin diperlihatkan oleh pembuat film. Shot ini dapat mengambil angle yang membuat kamera tersebut seperti mata dari sebuak objek tertentu, seperti mata manusia

Gambar 5 Contoh Shot Pada Film (sumber: https://www.researchgate.net)/
Shot ini berguna agar penonton dapat merasakan secara langsung hal-hal yang terjadi dalam suatu adegan dan juga yang terjadi terhadap subjek.
HASIL DAN PEMBAHASAN (12pt, bold)
Pembahasan akan diawali dengan deskripsi singkat dari film, diikuti dengan analisis perbandingan teknik camerawork kedua sutradara, dan diakhiri dengan penjelasan mengenai tujuan/fungsi dari teknik-teknik tersebut.
Deskripsi Film The Raid
Film ini bercerita tentang seorang polisi bernama Rama, bersama dengan sekelompok tim SWAT yang terperangkap di dalam sebuah rumah susun milik sebuah pasukan penjahat yang berusaha membasmi mereka. Rama dan rekanrekannya berusaha bertahan hidup dan mengalahkan para penjahat dan pasukannya untuk keluar dari tempat tersebut.
Sebagian besar durasi rekam film ini terjadi didalam rumah susun yang memiliki kamar-kamar yang kecil dan juga lorong-lorong yang panjang yang umumnya memiliki ruang gerak yang terbatas.
Gambar 6 Latar Tempat Lorong Film The Raid (sumber: Film The Raid)
Adegan berkelahi terjadi secara dinamis, yaitu bisa terjadi kapan saja, dan dimana saja. Musuh dapat muncul ditempat manapun dan sulit diprediksi.
Deskripsi Film Ip Man
Film ini bercerita tentang seorang ahli bela diri dari cina bernama Ip Man mengenai kehidupannya sebagai ahli bela diri sebelum dan ditengah okupasi Jepang dimasa perang dunia tahun 1973. Sepanjang film, Ip Man melakukan duel melawan berbagai ahli bela diri lainnya untuk bertahan diri dan mengajarkan ilmu bela dirinya
Kepada masayarakat sekitarnya untuk mempertahankan diri melawan penjahat yang mengancam kemanan mereka. Latar tempat yang diambil beragam mulai dari tempat tinggal Ip Man sampai panggung pertarungan.
Gambar 7 Latar Tempat Panggung Film Ip Man (sumber: Film Ip Man)
Adegan berkelahi sebagian besar terjadi di tempat yang luas dan memiliki banyak ruang gerak dan di perlakukan seperti turnamen, yaitu tempatnya sudah pasti, lawan sudah ditetapkan, dan dapat diketahui waktu kejadiannya.
Analisis Camerawork
Telah dibuat tabel yang membandingkan frekuensi dari penggunaan berbagai teknik camerawork yang ada.
TABEL 1 HASIL ANALISIS CAMERAWORK
| Kategori | Teknik | The Raid | Ip Man |
|---|---|---|---|
| Kategori | TEKITIK | THE KUIU | ip ividii |
| Shot | Extreme | Tidak ada | Tidak |
| long | ada | ||
| Long | Tidak ada | Kadang- kadang | |
| Full | Sering | Sering | |
| Medium | |||
| long-shot | Sering | Sering | |
| Medium | Sering | Sering | |
| Medium | Kadang- | Kadang- | |
| Close-up | kadang | kadang | |
| Close-up | Kadang- | Kadang- | |
| kadang | kadang | ||
| Extreme | Tidak ada | Tidak | |
| Close-up | ada | ||
| Bird's eye | Tidak ada | Tidak | |
| ada | |||
| Worm's | Kadang- | Kadang- | |
| eye view | kadang | kadang | |
| Dutch- | Sering | Kadang- | |
| angle | kadang | ||
| Over-the- | Sering | Kadang- | |
| shoulder | kadang | ||
| Tracking | Tidak ada | Tidak | |
| D : / C | 14 1 | ada | |
| Point-of- | Kadang- | Kadang- | |
| view | kadang | kadang | |
| Movement | Tilt | Kadang- | Kadang- kadang |
| Dan | kadang | ||
| Pan | Sering | Sering Tidak | |
| Zoom | Tidak ada | ada | |
| Pedestal | Tidak ada | Tidak | |
| ada | |||
| Dolly | Sering | Sering | |
| Truck | Sering | Sering | |
| Roll | Kadang- | Tidak | |
| kadang | ada | ||
| Handheld | Sering | Jarang | |
| Floating | Tidak | Tidak | |
| Cam | pasti | pasti | |
| Dolly | Kadang- | Sering | |
| kadang | |||
| Crane | Jarang | Sering |
Berdasarkan table tersebut dapat dilihat bahwa kedua film memiliki
beberapa teknik yang sama (digunakan dengan frekuensi yang berbeda). Kedua film ini memiliki beberapa shot dengan jarak yang sama, yaitu full, medium long, medium, medium close-up, dan sampai close-up. Shot lain, yaitu long shot hanya digunakan film Ip Man. Shot lain yang digunakan oleh kedua film adalah dutchangle, over-the-shoulder, dan point-ofview.
Sedangkan teknik movement yang digunakan oleh kedua film adalah tilt, pan, dolly, handheld, dolly, crane dan truck. Satu teknik yang hanya digunakan oleh film The Raid adalah roll. Untuk teknik floating cam, belum pasti ditemukan teknik ini di film The Raid ataupun Ip Man.
Long Shot
Longshot pada film The Raid dan Ip Man digunakan untuk menetapkan lokasi yang akan digunakan pada adegan-adegan pada film dan juga memperlihatkan kejadian pada sebuah adegan secara keseluruhan.
Gambar 8 Long Shot pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man, 00:46:59)
Akan tetapi, tidak ada penggunaan long shot pada film The Raid dikarenakan sebagian besar adegan terjadi di ruangan yang cenderung kecil dan sempit.
Fullshot
Fullshot digunakan kedua film untuk memberikan gambar yang lebih jelas mengenai apa yang terjadi kepada sang karakter dan juga yang sedang karakter lakukan, namun masih memberikan informasi mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan juga lokasi karakter berada.
Gambar 9 Fullshot pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man 00:19:37)
Medium Shot
Medium-long shot dan medium shot digunakan kedua sutradara untuk memberikan fokus kepada hal yang dilakukan oleh sang karakter utama/subjek, setiap gerakan yang dilakukan oleh subjek akan terlihat lebih jelas dan memberikan pengaruh yang lebih kuat kepada penonton.
Gambar 10 Medium Shot pada Film The Raid (sumber: Film The Raid, 01:18:13)
Seperti full-shot, medium-long dan medium-shot juga memberikan sedikit informasi mengenai lingkungan sekitar karakter, juga untuk adegan percakapan.
Gambar 11 Medium Shot pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man, 00:31:39)
Gambar 12 Adegan Percakapan pada Film The Raid (sumber: Film The Raid, 01:05:50)
Gambar 15 Adegan Percakapan Film Ip Man (sumber: Film Ip Man. 00:11:17)
Close-Up
Medium close-up dan close-up digunakan untuk memberikan rasa yang lebih personal kepada interaksi antara subjek/karakter. Teknik ini sering dimanfaatkan untuk memperlihatkan ekspresi dari subjek secara detail.
Gambar 13 Close-up Shot pada Film The Raid (sumber: Film The Raid, 00:59:11)
Gambar 13 Close-up Shot pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man 00:54:12)
Teknik ini juga digunakan pada film The Raid untuk memberikan fokus kepada aksi tertentu yang dilakukan oleh subjek yang bertujuan memberikan kesan yang lebih kuat pada aksi tersebut.
Gambar 14 Close-Up Tikaman Ke Kaki pada Film The Raid
(sumber: Film The Raid, 00:38:03)
Worm's Eyes View
Worm's eye view digunakan untuk memperlihatkan gerakan spesifik yang dilakukan oleh karakter dalam adegan berkelahi. Shot ini juga dimanfaatkan untuk membuat karakter tertentu terlihat lebih besar, berwibawa, dan menakutkan, terutama ketika melakukan gerakan spesifik tersebut.
Gambar 15 Worm's Eye View pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man, 1:37:29)
Gambar 16 Worm's Eye View pada Film The Raid (sumber: Film The Raid, 01:19:30)
Dutch Angle
Selain frekuensi penggunaan, dutch angle juga memiliki fungsi yang berbeda untu kedua film. Untuk film The Raid, dutch angle digunakan untuk memberikan rasa ketidaknyamanan kepada adegan. Angle ini sering digunakan sebelum dan di tengah pertarungan.
Gambar 17 Penggunaan Dutch Angle Di Tengah Sebuah Adegan berkelahi pada Film The Raid (Sumber: Film The Raid, 00:52:35)
Dutch angle juga digunakan ketika karakter sedang mengalami emotional breakdown/ kelelahan atau ditengah suasana yang genting.
Gambar 18 Adegan Rama (Karakter Utama) yang Kewalahan dan Stress Setelah Berkelahi (sumber: Film The Raid, 00:56:21)
Untuk film Ip Man, dutch angle cenderung digunakan untuk adegan berkelahi. Beberapa digunakan untuk fungsi yang serupa seperti The Raid, seperti ketika seorang karakter merasakan keraguan saat berkelahi atau ketika seorang karakter sedang terluka parah/disiksa oleh lawan.
Gambar 19 Dutch Angle Adegan Berkelahi Ip Man (sumber: Film Ip Man, 00:31:36)
Namun, sebagian besar penggunaan teknik ini digunakan untuk memberikan angle yang unik pada sebuah adegan berkelahi. Terutama ketika seorang karakter akan memberikan serangan yang tidak di antisipasi oleh lawannya dan juga penonton
Gambar 20 Dutch Angle Adegan Berkelahi Ip Man (sumber: Film Ip Man, 00:58:53)
Over-the-shoulder
Pada film The Raid, over-the-shoulder memiliki fungsi yang berbeda pada berbagai situasi
Shot ini sering digunakan sebelum terjadinya adegan berkelahi untuk menetapkan dimana karakter berada dan siapa yang akan dia lawan. Lawan dan karakter utama berhadapan satu sama lain pada shot ini.
Gambar 21 Over-The-Shoulder Shot Sebelum Adegan Berkelahi
(sumber: Film The Raid, 00:52:20)
Over-the-shoulder juga digunakan ditengah adegan berkelahi ketika karakter tertentu memberikan serangan mematikan kepada lawannya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesan dari serangan tersebut.
Gambar 22 Over-The-Shoulder Shot Di Tengah Adegan Berkelahi (sumber: Film The Raid, 01:17:07)
Shot ini juga digunakan untuk adegan percakapan, khususnya percakapan yang bersifat intens.
Gambar 23 Over-The-Shoulder Shot Untuk Percakapan
(sumber: Film The Raid, 01:08:19)
Film Ip Man menggunakan teknik ini cenderung hanya untuk percakapan dan interaksi lain antar karakter yang tidak berhubungan dengan adegan berkelahi.
Gambar 24 Over-The-Shoulder Shot Untuk Percakapan pada Ip Man (sumber: Film Ip Man, 00:22:29)
Dapat dilihat dari tabel bahwa kedua film menggunakan beberapa teknik yang sama seperti tilt, pan, dolly, dan truck. Satu teknik yang hanya digunakan oleh film The Raid adalah roll.
Tilt dan Pan digunakan kedua film untuk mengikuti gerakan subjek dan juga untuk mengubah focus dari satu satu subjek ke subjek yang lain.
Perbedaannya adalah kedua teknik ini digunakan oleh film The Raid menggunakan cara handheld, sedangkan film Ip Man menggunakan alat seperti tripod dan dolly agar terlihat stabil.
Teknik dolly dan truck memiliki fungsi yang mirip antara film The Raid dan Ip Man. Teknik ini digunakan untuk mengikuti pergerakan actor, dan juga untuk menetapkan latar tempat didalam dan diluar adegan berkelahi. Perbedaannya adalah kedua teknik ini dilakukan dengan cara yang berbeda untuk kedua film.
Pada film The Raid, teknik ini sebagian besar dilakukan tidak dengan alat seperti dolly, melainkan handheld, menghasilkan gerakan yang lebih kasar dan natural. Sementara itu, Ip Man melakukan gerakan tersebut menggunakan alat dolly untuk menghasilkan gerakan yang lebih mulus dan stabil.
Teknik roll pada film The Raid memiliki fungsi yang spesifik. Teknik ini hanya digunakan untuk mengikuti gerakan karakter/subjek.
Gambar 25 Teknik Roll pada Film The Raid (sumber: Film The Raid, 01:17:55)
Handheld merupakan teknik utama yang paling banyak digunakan Gareth Evans dalam pembuatan film The Raid, terutama dalam adegan berkelahi. Handheld pada film ini menghasilkan pergerakan kamera yang natural berkat pemegang yang terus bergerak.
Gambar 26 Teknik Handheld Film The Raid (sumber: https://www.youtube.com)
Hal ini sesuai dengan sifat adegan berkelahi dari film The Raid yang dinamis dan bahkan chaotic di beberapa situasinya. teknik ini tetap digunakan Bahkan diluar adegan berkelahi. Sifat teknik handheld yang selalu bergerak
berguna dalam mempertahankan ketegangan.
Pada film sutradara Wilson Yip, dapat dilihat juga penggunaan teknik handheld di beberapa adegan berkelahi, tapi digunakan dengan sangat terbatas. Berdasarkan observasi, teknik ini hanya digunakan disaat subjek melakukan gerakan khusus disaat pertarungan.
Alat Dolly dan Crane digunakan dengan fungsi yang berbeda dalam pembuatan film The Raid dan Ip Man. The Raid menggunakan menggunakan dolly dan crane secara terbatas. Teknik ini hanya digunakan untuk meng-establish latar adegan agar terlihat jelas tempat kejadian berada. Dolly juga digunakan pada beberapa adegan yang memerlukan shot yang mengikuti karakter tertentu.
Gambar 27 Dan 28 Contoh Shot yang Menggunakan Dolly
(sumber: Film The Raid, 00:52:35 dan 1:16:36)
Alat Crane digunakan dengan sangat terbatas pada film The Raid. Berdasarkan observasi, hanya ada 2 shot yang menggunakan alat ini.
Metode ini digabungkan dengan teknik handheld dengan cara mengikatkan cameraman kepada crane tersebut. Hasilnya adalah shot yang diambil dari angle yang tinggi, namun masih memiliki pergerakan natural dari teknik handheld.
Gambar 29 Penggunaan Crane pada Film The Raid (sumber: https://www.youtube.com)
Dibandingkan dengan The Raid, film Ip Man menggunakan alat Dolly dan Crane dengan frekuensi yang lebih tinggi. Dolly pada film Ip Man, crane juga digunakan untuk merekam adegan berkelahi. Penggunaan dolly pada pembuatan film Ip Man menciptakan gambar yang lebih stabil dan mulus, sehingga setiap gerakan yang dilakukan oleh karakter terlihat lebih jelas dan mudah diikuti.
Berbeda dengan The Raid, penggunaan crane Pada film Ip Man bermaksud untuk menciptakan shot yang mulus dan stabil, sama seperti penggunaan dolly pada film.
Gambar 30 Penggunaan Crane pada Film Ip Man (sumber: https://www.youtube.com)
Alat crane cenderung digunakan untuk mengambil shot dari tempat tinggi yang berguna untuk merekam sebuah latar tempat dan juga kejadian/aktivitas secara keseluruhan.
Gambar 31 Penggunaan Crane Sebagai Penetap Latar pada Film Ip Man
(sumber: Film Ip Man 1:10:19)
Gambar 32 Penggunaan Crane dalam Adegan Berkelahi pada Film Ip Man (sumber: Film Ip Man, 1:00:17)
KESIMPULAN
Camerawork memiliiki peran yang sangat penting dalam visual storytelling perfilman. Namun, masing-masing sutradara memiliki preferensi tersendiri dalam menggunakan teknik ini dalam pembuatan film, terutama dalam film aksi.
The Raid dan Ip Man memiliki teknikteknik mirip yang digunakan oleh masingmasing sutradara, namun memiliki tujuan yang berbeda.
Gareth Evans (The Raid) memanfaatkan aspek movement dari camerawork sebagai alat untuk memanupulasi emosi dan suasana yang diinginkan untuk adegan-adegan yang ada, sedangkan Wilson Yip lebih mendorong kejelasan pada setiap adegan berkelahi agar penonton dapat melihat dengan jelas setiap hal-hal yang terjadi di frame.
Diterima: 11 Mei 2020/ Disetujui: 26 Juni 2020
