1. Home
  2. Archives
  3. Vol 12 (2022) Issue 2
  4. Articles

Representasi Karakter Perempuan Jawa pada Film “Tilik”

Abstract

Film dianggap sebagai media yang sempurna untuk merepresentasikan dan mengkonstruksi realitas kehidupan yang bebas dari konflik-konflik ideologis serta berperan dalam pelestarian budaya bangsa. Interpretasi oleh masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga didapat melalui gambaran sebuah film. Film Tilik merupakan salah satu film nasional yang melibatkan sebagian besar tokoh perempuan dengan peran sebagai perempuan Jawa. Film yang rilis pada 17 Agustus 2020 pada kanal YouTube ini dinilai berhasil menggambarkan dengan sangat baik kebiasaan suatu masyarakat melalui perilaku tokoh-tokohnya. Seiring perkembangan zaman, interpretasi oleh masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga didapat melalui gambaran sebuah media seperti film. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perempuan Jawa direpresentasikan dalam film tersebut serta menjelaskan gagasan-gagasan dominan yang ingin disampaikan oleh film Tilik yang berkaitan dengan persoalan ideologi/kepercayaan. Konsep perempuan Jawa menjadi dasar penelitian ini. Dalam kultur Jawa, perempuan Jawa memiliki stereotip lemah lembut, penurut, tidak membantah, dan tidak ‘melebihi’ laki-laki. Namun realitas yang terjadi pada film ini seakan-akan tidak sesuai dengan stereotip yang telah ada. Tak jarang kemudian dalam film ini muncul stereotip baru yang cenderung negatif dan dilekatkan pada perempuan Jawa secara umum. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan teori yang dikemukakan oleh John Fiske yaitu “the codes of television”. Film Tilik diuraikan dengan menggunakan struktur narasi pada level realitas dan level representasi secara sintagmatik. Selanjutnya level ideologi dianalisis secara paradigmatik. Hasil penelitian ini menunjukkan perempuan Jawa direpresentasikan dalam film jauh lebih modern dan beragam namun tidak meninggalkan unsur identitasnya. Disisi lain terdapat kebiasan mengenai ideologi patriarki yang hadir dalam ruang kontradiktif pada setiap adegannya.

Keywords

ABSTRAK

Film dianggap sebagai media yang sempurna untuk merepresentasikan dan mengkonstruksi realitas kehidupan yang bebas dari konflik-konflik ideologis serta berperan dalam pelestarian budaya bangsa. Interpretasi oleh masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga didapat melalui gambaran sebuah film. Film Tilik merupakan salah satu film nasional yang melibatkan sebagian besar tokoh perempuan dengan peran sebagai perempuan Jawa. Film yang rilis pada 17 Agustus 2020 pada kanal YouTube ini dinilai berhasil menggambarkan dengan sangat baik kebiasaan suatu masyarakat melalui perilaku tokoh-tokohnya. Seiring perkembangan zaman, interpretasi oleh masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga didapat melalui gambaran sebuah media seperti film. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perempuan Jawa direpresentasikan dalam film tersebut serta menjelaskan gagasan-gagasan dominan yang ingin disampaikan oleh film Tilik yang berkaitan dengan persoalan ideologi/kepercayaan. Konsep perempuan Jawa menjadi dasar penelitian ini. Dalam kultur Jawa, perempuan Jawa memiliki stereotip lemah lembut, penurut, tidak membantah, dan tidak 'melebihi' laki-laki. Namun realitas yang terjadi pada film ini seakan-akan tidak sesuai dengan stereotip yang telah ada. Tak jarang kemudian dalam film ini muncul stereotip baru yang cenderung negatif dan dilekatkan pada perempuan Jawa secara umum. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan teori yang dikemukakan oleh John Fiske yaitu "the codes of television". Film Tilik diuraikan dengan menggunakan struktur narasi pada level realitas dan level representasi secara sintagmatik. Selanjutnya level ideologi dianalisis secara paradigmatik. Hasil penelitian ini menunjukkan perempuan Jawa direpresentasikan dalam film jauh lebih modern dan beragam namun tidak meninggalkan unsur identitasnya. Disisi lain terdapat kebiasan mengenai ideologi patriarki yang hadir dalam ruang kontradiktif pada setiap adegannya.

kata kunci: representasi, perempuan jawa, film, stereotip, ideologi

PENDAHULUAN

Seiring perkembangan zaman, film tidak hanya menjadi media hiburan semata, tetapi juga dapat sebagai media yang bersifat edukatif, persuasif, dan informatif (Ardianto, Komala, dan Karlinah, 2017). Dengan kata lain, film dapat mentransfer pesan yang terkandung didalamnya menggunakan tanda-tanda dalam wujud audio dan visual untuk menghadirkan sebuah realitas. Namun pada kenyataannya, dunia nyata bisa saja tidak sepenuhnya sama dengan realitas yang ditampilkan dalam film.

Kemampuan film untuk menampilkan kenyataan merupakan persoalan representasi (Darmawan, 2020). Dalam hal ini, representasi merupakan bentuk konstruksi melalui media film terhadap segala aspek realitas, seperti objek, masyarakat, peristiwa, hingga identitas budaya. Film telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Apa yang kita kerjakan, yang kita omongkan, yang menjadi sikap kita, gaya busana yang kita kenakan, bahkan gagasan-gagasan yang sering kita sampaikan acap kali merupakan bentuk turunan atau variasi dari segala hal yang pernah kita lihat dalam film. Film menjadi demikian dekat dengan kehidupan kita. Inilah yang dimaksud Douglas Kellner bahwa film merupakan salah satu produk budaya media yang turut menempa identitas kita (Trianton, 2013). Film sebagai representasi dari realitas masyarakat, berbeda dengan film sebagai refleksi dari realitas (Sobur, 2006).

Representasi mengenai aspek realitas dalam sebuah film juga kerap terjadi pada kaum perempuan. Paradigma masyarakat mengenai perempuan sebagian besar didapat melalui gambaran sebuah film. Sejauh ini film masih menjadikan perempuan sebagai objek utama. Berdasar artikel Sita Aripurnami dengan judul Cengeng, Judes, Kurang Akal, dan Buka-bukaan, pada era 1970-an hingga 1980-an, gambaran perempuan dalam film Indonesia masa itu hanya sebagai pelengkap dalam keseluruhan isi cerita. Saat perempuan sebagai peran utama, peran itu berkaitan dengan pandangan bahwa posisi perempuan ada di lingkup domestik, seperti ibu, istri, kekasih, atau anak perempuan yang penurut (Ibrahim dan Suranto, 1998).

Salah satu film pendek Indonesia yang sempat viral pada pertengahan tahun 2020 karena dianggap mampu merepresentasikan dunia perempuan Jawa (dalam hal ini ibu-ibu Jawa) adalah

Film Tilik. Film ini melibatkan sebagian besar tokoh perempuan dengan peran sebagai perempuan Jawa. Film yang rilis pada 17 Agustus 2020 pada kanal YouTube ini dinilai berhasil menggambarkan dengan sangat baik kebiasaan suatu masyarakat melalui perilaku tokoh-tokohnya. Keseluruhan dialog menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa dengan logat Jawa yang khas. Tilik sendiri diartikan oleh bahasa Jawa yaitu "menjenguk".

Film berdurasi sekitar setengah jam ini menceritakan tentang sebuah kelompok sosial masyarakat suatu desa yang didominasi oleh ibu-ibu hendak menjenguk Bu Lurah yang tengah sakit di sebuah rumah sakit. Dalam upaya menjenguk tersebut mereka menggunakan kendaraan truk pengangkut barang. Perjalanan menuju rumah sakit diwarnai dengan konflik internal yang dimulai oleh Bu Tejo (tokoh utama) yang menyebarkan gosip mengenai Dian (sosok perempuan muda di desa tersebut) sebagai perempuan nakal. Namun ada salah satu sosok pada kelompok tersebut bernama Yu Ning yang tidak serta merta setuju akan hal itu hingga terjadilah sebuah konflik.

Gambar 1. Adegan sekelompok sosial masyarakat dalam bak truk tengah menjenguk Bu Lurah.

Selain itu tokoh Bu Tejo dalam film ini juga digambarkan suka pamer harta. Terlihat dalam film ini sosok Bu Tejo yang memakai banyak perhiasan meski hanya berkunjung ke rumah sakit. Film Tilik menggambarkan situasi masyarakat khususnya sebagian perempuan jika berkumpul tidak jauh-jauh dari gosip. Hal ini pun pada akhirnya rentan memunculkan stereotip pada masyarakat terhadap ibu-ibu Jawa yang cenderung negatif bahkan jauh berbeda dengan stereotip mengenai perempuan Jawa yang selama ini telah ada.

Murdianto, 2019, menyatakan manusia sebagai individu maupun kelompok hidup dalam belantara stereotip. Stereotip merujuk pada keyakinan tentang karakteristik seseorang atau sekelompok orang. Bisa berupa ciri kepribadian, perilaku, atau nilai. Keyakinan itu kemudian diterima sebagai suatu kebenaran kelompok sosial lain.

Dalam kultur Jawa itu sendiri, perempuan haruslah seorang yang lemah lembut, penurut, tidak membantah, dan tidak boleh 'melebihi' laki-laki (Matsumoto, 2003). Perempuan Jawa juga sangat identik dengan tutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol, dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusagrusu, dan dalam mengambil langkah mencari penyelesaian dengan cara halus (Basuki, 2005). Namun dalam Film Tilik terdapat realitas yang kontradiktif dengan stereotip perempuan Jawa yang telah ada itu sendiri.

Menurut Eriyanto, 2001, representasi penting dalam dua hal, pertama apakah individu, kelompok, atau gagasan itu ditampilkan sebagaimana mestinya. Kedua, bagaimana representasi itu ditampilkan. Berdasarkan beberapa hal yang telah diuraikan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perempuan Jawa direpresentasikan dalam Film Tilik serta untuk menjelaskan gagasan-gagasan dominan yang ingin disampaikan oleh film

Tilik yang berkaitan dengan persoalan ideologi

KAJIAN PUSTAKA

Film

Film merupakan karya seni yang lahir dari suatu kreativitas orang-orang yang terlibat dalam proses penciptaannya. Sebagai karya seni, film terbukti mempunyai kemampuan kreatif dan kesanggupan untuk menciptakan suatu realitas rekaan sebagai bandingan terhadap realitas. Realitas rekaan atau imajiner itu dapat menawarkan keindahan, renungan, atau sekadar hiburan (Sumarno, 1996)

Menurut Pratista (2008) film secara umum dapat dibagi menjadi atas dua unsur pembentuk yakni, unsur naratif dan unsur semantik. Dua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain untuk membuat sebuah film. Masing-masing unsur tersebut tidak dapat akan membentuk film jika hanya berdiri sendiri. Bisa dikatakan bahwa unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah atau berhubungan dengan aspek cerita atau tema film, seperti tokoh, masalah yang diangkat dalam film tersebut, konflik, lokasi maupun waktunya.

Film selama ini dianggap lebih sebagai media hiburan ketimbang media persuasi. Namun yang jelas, film sebenarnya memiliki kekuatan bujukan atau persuasi yang sangat besar. Film merupakan salah satu saluran atau media komunikasi massa. Perkembangan film sebagai salah satu media komunikasi massa di Indonesia mengalami pasang surut yang cukup berarti, namun media film di Indonesia tercatat mampu memberikan efek yang signifikan dalam proses penyampaian pesan (Rivers & Peterson, 2008). Film dianggap sebagai media yang sempurna untuk merepresentasikan dan mengkonstruksi realitas kehidupan yang bebas dari konflik-konflik ideologis serta berperan dalam pelestarian budaya bangsa.

Perempuan Jawa

Identik dengan kultur Jawa, perempuan Jawa memiliki sifat tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, bertutur kata halus, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusa-grusu, dan dalam mengambil

langkah 25 mencari penyelesaian dengan cara halus. Dalam konsep budaya Jawa terdapat beberapa istilah tentang wanita, yaitu: wadon, pawèstri, putri, wanodya, retna, kusuma, memanis, juwita, wanita, dan dayita. Masing-masing istilah ini mempunyai arti tersendiri yang menunjukkan bahwa wanita dalam pandangan masyarakat Jawa memiliki peran istimewa (Basuki, 2005).

Secara penampilan, para perempuan Jawa melengkapi busana kebayanya dengan menggelung rambutnya dan menjadi sanggul atau konde. Selain sanggul atau konde adalah tatanan riasan rambut juga memiliki makna dan filosofi tersendiri. Menurut seorang guru besar dari Universitas Indonesia makna yang terkandung dalam sanggul merupakan penggambaran seorang perempuan yang pandai menyimpan rahasia. Dalam kerangka Kluckhohn (Koentjaraningrat, 2000).

Representasi

Representasi mengacu pada bagaimana seseorang, kelompok, gagasan atau pendapat ditampilkan dalam pemberitaan dengan sebagaimana mestinya. Representasi penting dalam dua hal, pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut

ditampilkan sebagaimana mestinya. Kedua, bagaimana representasi itu ditampilkan (Eriyanto 2001).

Dalam proses representasi, ada 3 elemen yang terlibat. Pertama, sesuatu yang direpresentasikan yang disebut sebagai objek, kedua, representasi itu sendiri, yang sebagai tanda, dan yang ketiga adalah seperangkat aturan yang menentukan hubungan tanda dengan pokok persoalan atau yang disebut coding. Dalam peristiwa komunikasi, representasi mengacu pada tanda-tanda yang digunakan dan memiliki makna tertentu.

Kemampuan film untuk menampilkan kenyataan juga merupakan persoalan representasi (Darmawan, 2020). Dalam hal ini, representasi merupakan bentuk konstruksi melalui media film terhadap segala aspek realitas, seperti objek, masyarakat, peristiwa, hingga identitas budaya. Representasi realitas dalam sebuah film tidak dapat disamakan dengan realitas dalam dunia nyata. Hal ini karena representasi berkaitan dengan hal-hal simbolik dari luar teks (film).

Realitas

Hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial

terhadap dunia sosial di sekelilingnya didefinisikan sebagai realitas dalam pandangan sosial. Menurut Hidayat, 2008, realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai dengan konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Pandangan tersebut memandang individu bukanlah korban fakta sosial, namun mesin produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dan mengkonstruksi dunia sosialnya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.

Dalam hal ini, film sebagai representasi dari realitas, berbeda dengan film sebagai refleksi dari realitas. Sebagai refleksi dari realitas, film sekedar memindahkan realitas ke layar tanpa mengubah sedikitpun realitas itu sendiri. Sementara, film sebagai representasi dari realitas membentuk dan menghadirkan kembali realitas 'baru' berdasarkan kodekode, konvensi-konvensi, dan ideologi dari kebudayaan yang ingin dibawakan.

Teori John Fiske

Menurut Fiske, kode-kode yang muncul atau yang digunakan dalam acara televisi saling berhubungan sehingga terbentuk sebuah makna. Sebuah realitas

tidak akan muncul begitu saja melalui kode-kode yang timbul, namun juga diolah melalui alat indera sesuai referensi yang telah dimiliki oleh penonton televisi, sehingga sebuah kode diapresiasi secara berbeda oleh orang yang berbeda (Vera, 2014). Maka dari itu setiap orang bisa secara berbeda menanggapi sebuah makna dalam televisi, sesuai dengan latar belakang, budaya, kelas sosial, dan lain halnya.

John Fiske membagi tiga level peristiwa yang ditayangkan dalam dunia televisi telah dienkode oleh kode-kode sosial. Berikut model semiotika John Fiske yang dikenal The Codes of Television.

3

Gambar 2 Skema The Codes of Television Fiske.

Level realitas dipahami sebagai kode budaya berupa appearance (penampilan), dress (kostum), make-up (riasan), environment (lingkungan), behaviour (tingkah laku), speech (gaya bicara), gesture (bahasa tubuh), expression (ekspresi), sound (suara).

Tahapan representasi berupa tindakan yang menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain diluar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol (Piliang, 2010). Realitas yang terkode harus ditampakkan pada technical codes seperti kamera, pencahayaan, penyuntingan, musik, dan suara. Dalam bahasa tulis yaitu kata, kalimat, foto, grafik sedangkan dalam bahasa gambar ada kamera, tata cahaya, penyuntingan musik, dan lain sebagainya. Elemen-elemen ini kemudian ditransmisikan ke dalam kode representasional yang dapat mengaktualisasikan realitas seperti narrative (penarasian), conflict (konflik), character (karakter), action (aksi), dialogue (dialog), setting (latar), dan casting (pemeran).

Sedangkan tahap ideologi adalah sistem kepercayaan dan sistem nilai yang direpresentasikan dalam berbagai media dan tindakan sosial (Piliang, 2010). Dalam tahap ini semua elemen diorganisasikan dalam kode-kode ideologis, seperti feminisme, patriarki, individualisme, materialisme, kapitalisme, dan lain sebagainya.

METODE

Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian kualitatif deskriptif adalah metode penelitian yang dilaksanakan pada setting tertentu yang terjadi dalam kehidupan nyata dengan fokus untuk menyelidiki dan memahami sebuah fenomena, seperti apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan bagaimana itu terjadi (Chariri, 2009). Sedangkan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis milik John Fiske yang dikenal The Codes of Television. Teknik ini berguna untuk menunjukkan bagaimana representasi perempuan Jawa dalam film Tilik.

Pemilihan adegan menggunakan acuan pendekatan sintagmatik dan paradigmatik. Pendekatan sintagmatik digunakan untuk mengurai satuan-satuan tanda dari objek kajian yang dianggap penting dalam pemaknaan. Sedangkan untuk mengetahui kedalaman makna dari

HASIL DAN PEMBAHASAN

Film dibuka dengan adegan truk yang tengah melaju di sebuah jalan kecil. Terdengar percakapan ramai dari suatu kerumunan kelompok sosial yang berada dalam truk tersebut. Dari nada dan cara berbicaranya penulis mengasumsikan

suatu tanda diperlukan pendekatan paradigmatik untuk membedah lebih lanjut kode-kode tersembunyi di balik berbagai macam tanda dalam sebuah teks.

Penelitian diawali dengan penguraian secara sintagmatik dan paradigmatik beberapa adegan yang menggambarkan karakter perempuan Jawa dalam film. Uraian ini dijabarkan berdasar teori The Codes of Television John Fiske. Setiap satu adegan dibagi menjadi menjadi tiga level peristiwa, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Hasil dari penjabaran tersebut akan dikomparasikan dengan elemen kultur realitas yang telah ada untuk memperoleh gagasan-gagasan dominan yang ingin disampaikan oleh film Tilik yang berkaitan dengan persoalan ideologi.

kelompok tersebut memiliki intimasi satu sama lain atau bisa dibilang sudah saling mengenal satu sama lain.

Gambar 2. Adegan yang memperlihatkan keragaman busana kelompok sosial.

Kelompok sosial yang terdiri dari beberapa ibu-ibu tersebut terlihat mengenakan busana sederhana ala masyarakat rural. Namun tak jarang masih terdapat perbedaan strata sosial antara satu individu dengan yang lain. Hal ini dapat dilihat berdasarkan gaya berpakaian masing-masing individu. Menilik dari kultur perempuan Jawa yang telah ada dimana busana perempuan Jawa identik dengan kebaya dan sanggul, maka dalam film ini perempuan Jawa telah mengalami modernisasi mengenai gaya busana. Hal ini pun dapat terlihat dari hijab yang dikenakan seluruh anggota kelompok sosial menunjukkan telah berkembangnya paham ideologi mengenai kepercayaan individu pada setiap perempuan Jawa masa kini.

Gambar 3. Adegan Bu Tejo sedang berdialog dan secara sengaja memperlihatkan aksesorisnya.

Bu Tejo, sebagai salah satu karakter dalam film yang memiliki gaya berpakaian lebih mencolok dibanding yang lainnya. Hal ini terlihat pada aksesoris mengkilap yang ia kenakan. Baik yang menempel pada kerudungnya (bros) maupun gelang dan cincin yang ia kenakan di kedua pergelangan tangan serta jari jemarinya.

Pada setiap adegan penontoh disuguhkan dengan kegiatan gosip menggosip kelompok sosial ini. Perilaku dan cara berbicara ibu-ibu dalam kelompok sosial ini mencerminkan perempuan pada umumnya, gemar bergosip. Menurut antropolog, Aris Mundayat, 2020, kegiatan membicarakan keburukan orang lain yang dilakukan oleh masyarakat, terpahat dalam relief Candi Borobudur yang diperkirakan telah ada sejak abad ke 8 Masehi. Selama puluhan abad, kegiatan ghibah ini sendiri hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Kontestasi kritik di tengah masyarakat, seolah menunjukkan adanya ruang publik di luar ruang publik yang nyata. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara dulu dan sekarang mengenai kebiasaan gosip pada perempuan secara umum maupun perempuan Jawa itu sendiri.

Gambar 4. Adegan Bu Tejo sedang memprovokasi anggota kelompok sosial lainnya dengan menyebarkan gosip tentang Dian.

Dalam film ini, sosok Bu Tejo digambarkan sebagai pemegang kuasa dan penyulut api yang dapat memprovokasi anggota kelompok sosial lainnya. Gaya bicaranya yang persuasif seakan dapat dengan mudahnya menggiring opini ibu-ibu yang lain untuk memvalidasi pernyataannya. Uniknya, perlakuan ini didukung dengan ekspresi serta gestur Bu Tejo yang khas dan selalu tetap pada argumennya. Dian, sebagai subjek gosip, merupakan seorang perempuan lajang yang terlihat salah di kelompok sosial tersebut karena tidak segera melangsungkan pernikahan. Ia pun mendapat banyak prasangka negatif dari anggota kelompok sosial tersebut terutama Bu Tejo.

Gambar 5. Adegan.

Gambar 6. Adegan ibu-ibu mendorong truk yang mogok.

Penggambaran perilaku Bu Tejo sebagai pemegang kuasa juga digambarkan pada saat adegan truk mogok. Dengan semangat gotong royong, seluruh anggota kelompok sosial tersebut beramai-ramai mendorong truk agar bisa jalan kembali. Namun Bu Tejo dan Bu Tri adalah pengecualian (Gambar 4). Mereka tampak menolak dengan membiarkan ibuibu yang lain mendorong, sedangkan mereka di belakang memilih untuk melihat saja (Gambar 5). Gestur dan ekspresi yang ditorehkan Bu Tejo dan Bu Tri pun mengindikasikan adanya ketidak inginan keras untuk turut membantu. Penulis mengasumsikan adanya relasi kuasa pada kedua karakter ini hingga timbul perasaan "tidak sudi" jika harus melakukan aktivitas diluar seorang pemegang kuasa lakukan.

Dalam beberapa adegan, Bu Tejo mencoba mencari atensi akan posisi politik suaminya. Walaupun secara terus menerus, Bu Tejo mengelak bahwa dirinya

mempromosikan sang suami. Ia mengatakan bahwa sosok Bu Lurah yang saat itu janda dan sedang sakit-sakitan sudah tidak pantas menyandang posisi sebagai lurah. Sudah saatnya ia digantikan dengan sosok yang lebih cekatan seperti suami Bu Tejo.

Sosok Bu Tejo juga digambarkan gemar mempercayai informasi bersumberkan dari internet tanpa memilah-milahnya terlebih dahulu. Hal ini pun juga menjadi kebiasaan anggota kelompok masyarakat lain dalam film itu. Melalui fakta tersebut, direpresentasikan dalam film bahwa perempuan Jawa yang tergolong sebagai masyarakat rural ini memiliki literasi digital yang masih rendah.

Gambar 7. Adegan.

Namun dalam kelompok sosial ini, terdapat sosok perempuan protagonis bernama Yu Ning yang selalu berkali-kali mengingatkan untuk jangan mengambil suatu kesimpulan atau menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenaran dan sumbernya. Sosok Yu Ning mulanya

digambarkan dengan pembawaannya yang tenang tidak mengikuti arus informasi yang disebarkan Bu Tejo. Namun saat adegan menuju klimaks, dimana Yu Ning sudah hilang kesabaran akan Bu Tejo yang asal ceplos, konflik antara keduanya pun terjadi. Truk seketika gaduh akan keduanya yang saling teguh pada argumen masing-masing. Kejadian inilah yang mengakibatkan mereka terkena tilang.

Gambar 8. Adegan.

Terdapat adegan menarik saat kejadian tilang oleh polisi berlangsung. Faktanya truk bukanlah transportasi yang dibenarkan untuk memuat orang-orang banyak di dalamnya, apalagi dengan memanfaatkan baknya. Namun berkat kegigihan atau "the power of emak-emak" akhirnya polisi itu pun kalah. Ocehan demi ocehan keluar oleh masing-masing anggota kelompok sosial itu. Entah bagaimana, namun dalam adegan itu digambarkan polisi yang diserbu ibu-ibu lalu dipotong oleh shot ibu-ibu itu berhasil melanjutkan perjalanan dengan truk

meninggalkan polisi yang diam melongo (Gambar 7). Penulis melihat adanya gotong royong dalam kelompok sosial ini meskipun mereka tengah dipecah oleh suatu konflik.

Hal positif yang terlihat pada film melalui sosok Bu Tejo yaitu pemikirannya yang cekatan dan solutif. Hal ini terlihat pada akhir cerita, rombongan kelompok sosial yang tadinya ingin menjenguk Bu Lurah terpaksa gagal. Bu Lurah diceritakan sedang berada di ruang ICU dimana orang belum diperbolehkan datang menjenguk. Tentunya hal ini membuat seluruh ibu-ibu kecewa mengingat perjalanan mereka yang panjang. Yu Ning, yang mulanya menginisiasi kunjungan ini pun merasa bersalah dan justru meminta simpati dari anggota kelompok sosial lainnya. Dalam kondisi ini Bu Tejo menjelma menjadi sosok pahlawan yang solutif untuk menghindari kekecewaan ibu-ibu lainnya.

Gambar 9. Adegan.

Gambar 10. Adegan.

Pada level representasi, film ini banyak menggunakan teknik pengambilan gambar close up, medium shot, dan long shot. Close up dalam film ini untuk mempertegas sekaligus memperjelas ekspresi serta gestur yang diperagakan karakter. Terlihat pada Gambar 3, ekspresi Bu Tejo dengan tatapan mata yang cenderung melirik kearah samping bawah serta menaikkan sebagian bibir seolah memperlihatkan ekspresi meremehkan lawan bicara. Posisi, gestur, ekspresi antar karakter pada saat berinteraksi satu sama lain pun diperlihatkan dengan baik oleh pengambilan gambar medium shot (Gambar 8). Teknik pengambilan gambar long shot (Gambar 9) sangat membantu penonton dalam menafsirkan latar tempat kejadian berlangsung. Teknik ini pun juga memudahkan penulis mengasumsikan bahwa suatu kelompok sosial tersebut berasal dari suatu desa yang jauh dari kota.

Pada perkembangan zamannya, kebaya dan konde tidak lagi relevan untuk dapat dijadikan identitas perempuan Jawa. Pada masa sekarang pun perempuan Jawa tetap dapat terlihat melalui unggah ungguh atau tata krama yang dimiliki individu tersebut. Bukan berarti yang tidak sesuai lantas disebut bukan perempuan Jawa. Hal ini bersifat subjektif berkenaan dengan penilaian masing-masing individu. Namun secara pasti, unsur identitas pada masyarakat modern tersebut masih dapat dilihat melalui bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari.

Film ini bias terhadap ideologi di dalamnya. Di satu sisi Bu Tejo dan anggota kelompok sosial tersebut terlihat patriarkis terhadap persoalan kelajangan Dian. Mereka memberikan stigma buruk terhadap perempuan yang fokus mengejar karir dan menunda pernikahan, sementara anak laki-laki Bu Lurah yang sama lajangnya tidak mendapat perlakuan serupa. Namun disisi lain, pada saat ditilang kelompok sosial ini menggunakan kekuatannya untuk melawan seorang polisi laki-laki. Hal ini tentunya mendobrak ideologi patriarki itu sendiri.

Keseluruhan alur cerita dalam film menimbulkan stereotip baru dalam masyarakat mengenai perempuan Jawa itu sendiri. Banyak penonton yang akhirnya mengeneralisir kebiasaan

perempuan Jawa bergosip. Padahal tidak semua perempuan seperti yang direpresentasikan dalam film Tilik, Gotrek, seorang laki-laki yang berperan sebagai supir truk pun ikut mendengarkan sambil mengemudi. Kehadiran Yu Ning sebagai tokoh protagonis yang tidak membenarkan ghibah memperlihatkan keberagaman dalam kelompok sosial tersebut, memang tidak semuanya memiliki kebiasaan bergosip. Stereotip mengenai sosok perempuan Jawa yang seharusnya memiliki sifat tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, bertutur kata halus dan lain sebagainya yang telah ada pun juga mengalami pergeseran pandangan.

Perilaku seluruh anggota kelompok sosial ini tidak sesuai dengan kultur Jawa yang telah ada mengenai perempuan Jawa yang seharusnya memiliki sifat tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, bertutur kata halus, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusagrusu, dan dalam mengambil langkah 25 mencari penyelesaian dengan cara halus

(Basuki, 2005). Namun dibalik itu ada beberapa perilaku yang secara implisit mencerminkan perempuan Jawa itu sendiri.

SIMPULAN

Perilaku seluruh anggota kelompok sosial dalam film Tilik direpresentasikan secara kontradiktif dengan kultur Jawa mengenai perempuan Jawa. Mereka seharusnya memiliki sifat tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, bertutur kata halus, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusa-grusu, dan dalam mengambil langkah 25 mencari penyelesaian dengan cara halus (Basuki, 2005). Namun dibalik itu ada beberapa perilaku yang secara implisit mencerminkan perempuan Jawa itu sendiri. Hal ini pun menunjukkan adanya kehidupan masyarakat modern yang berbeda dengan dulu tetapi tetap mampu mempertahankan salah satu unsur identitasnya.

Satu hal mengenai perempuan Jawa yang masih tercipta dalam film tersebut adalah kesederhanaan. Baik

kesederhanaan pikiran, busana, perilaku, dan lain sebagainya setiap anggota kelompok sosial dalam film tersebut memiliki nilai yang berbeda antara satu dengan yang lain. Walaupun terbilang suka pamer harta, Bu Tejo pun memiliki nilai kesederhanaan dalam aspek lain. Hal ini terlihat melalui caranya menyelesaikan masalah yang muncul di akhir cerita. Ia menjadi pribadi yang paling solutif diantara yang lainnya.

Film ini memunculkan sebuah ideologi patriarki pada beberapa adegan yang nampak dekat dengan kehidupan saat ini. Namun, dalam suatu adegan berbeda, ideologi itu dipatahkan demi kepentingan kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur. (2006). Semiotika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis framing, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Ibrahim, Idi Subandy, dan Hanif Suranto. (1998). "Wanita, Media, Mitos, dan Kekuasaan: Mosaik Emansipasi dalam Ruang Publik yang Robek" dalam Wanita dan Media: Konstruksi

  • Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Trianton, T. (2013). Nilai pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam film Indie Banyumas, Vol.2, No.1, p.4. Jurnal Ilmiah Kependidikan. Diperoleh dari Ejournal:http://webcache. googleusercontent.com/h?q=cache:
    • Kzo wWJ4USk0J:jurnalnasional.ump.ac.i d/ index.php/khazanah/article/w/650/

642+&c d=1&hl=en&ct=clnk&gl=id

  • Kurniawan. (2001). Semiologi Roland Barthes. Magelang: Yayasan Indonesiatera
  • Sudaryono. (2018). Metodologi penelitian. Depok: RajaGrafindo Persada.
  • Fakih, M. (2013). Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Fiske, John. (2012). Pengantar Ilmu komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Bungin, B. (2008). Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
  • Piliang,Yasraf A. (2003). Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra

  • Ardianto, Elvinaro dan R. Harun. (2004). Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Rakhmat, J. (2009). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta : PT. Grasindo
  • Pratista. (2008). Memahami Film. Yogyakarta. Homerian Pustaka.
  • Basuki, dan Indah Susilowati. (2005). Dampak Kepemimpinan, dan Lingkungan Kerja terhadap Semangat Kerja. Jurnal Riset Bisnis Indonesia.
  • William L. Rivers, Theodore Peterson, dan Jay W.Jensen (2008). Media Massa dan Masyarakat Modern edisi kedua. Jakarta : Kencana

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.83
FWCIfield-weighted
76th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.51
level 1
Art 0.47
level 0
Theology 0.33
level 1