1. Home
  2. Archives
  3. Vol 13 (2022) Issue 2
  4. Articles

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL UPAYA PELINDUNGAN BAHASA DAERAH UNTUK REMAJA SEBAGAI BAGIAN MASYARAKAT URBAN DI INDONESIA

Abstract

Tidak dapat dimungkiri bahwa kemajuan teknologi dan globalisasi telah membawa banyak perubahan positif dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, munculnya fenomena lintas budaya dan arus informasi yang tidak mengenal batas perlahan menggeser penggarapan budaya Indonesia dalam masyarakatnya. Sebagai negara yang kaya akan alam dan budaya, Indonesia saat ini mengakui 718 bahasa daerah di seluruh nusantara. Namun, penggunaan bahasa daerah di masyarakat umum semakin berkurang dibandingkan bahasa nasional maupun internasional, salah satunya karena fungsi bahasa daerah yang seringkali dianggap kurang menguntungkan pihak yang menggunakannya. Alhasil, hampir semua bahasa daerah berada dalam kondisi kritis atau bahkan punah – Badan Bahasa menyatakan bahwa 11 bahasa daerah di Indonesia telah punah. Badan Bahasa sudah mulai menggiatkan program pelindungan bahasa daerah. Namun, berbagai kegiatannya belum sepenuhnya menjangkau khalayak remaja dan menarik minat mereka pada subjek pelindungan bahasa daerah. Oleh karena itu, dalam rangka menggairahkan kembali bahasa daerah bagi remaja, kampanye sosial yang dapat mempengaruhi kaum muda untuk berpartisipasi dalam program perlindungan penting untuk dilakukan. Dalam prosesnya, metode design thinking dipraktikkan untuk mendefinisikan masalah inti melalui data survei, wawancara dan studi literatur; menemukan wawasan khalayak sasaran; dan menentukan arah hingga membuat prototipe kampanye sosial yang dimaksud. Analisis data dari hasil survei dan wawancara telah membantu memperoleh wawasan tentang khalayak sasaran. Hasilnya membuktikan bahwa hampir setengah dari peserta survei tidak mengetahui tentang situasi memprihatinkan bahasa daerah di Indonesia beserta program pelindungannya. Pada saat yang sama, sebagian dari mereka membutuhkan platform yang tepat untuk mengungkapkan keprihatinan mereka. Oleh karena itu, kampanye sosial diharapkan dapat meyakinkan perubahan cara pandang khalayak sasaran terhadap bahasa daerah dan mendorong partisipasi mereka dalam program pelindungan bahasa daerah di Indonesia.

Keywords

PENDAHULUAN

Hadirnya kemajuan teknologi dan globalisasi di tengah masyarakat Indonesia membawa perubahan dalam aspek sosial budaya. Teknologi memungkinkan terjadinya fenomena informasi tanpa batas kultural (Borderless Information), namun pada saat yang sama menimbulkan konsekuensi terhadap perkembangan bidang kebudayaan (Ismadi, 2018; Suneki; 2012). Perubahan ini turut

mempengaruhi lestarinya bahasa daerah di Indonesia. Terlebih lagi, perubahan ini lebih cepat terjadi pada masyarakat perkotaan akibat akses informasi dan pengaruh budaya global yang kuat.

Sebagai negara kepulauan yang kaya baik secara alam dan budaya, Indonesia kini memiliki 718 bahasa daerah yang telah diinventarisasi dan dideskripsikan, tidak termasuk dialek dan subdialek

(petabahasa.kemdikbud.go.id). Namun, menurut BPS (2010), hanya terdapat 13 (tiga belas) bahasa yang memiliki penutur lebih dari satu juta di antara ratusan bahasa tersebut. Dinamika budaya berbahasa di Indonesia yang kian mengalami perubahan secara langsung mempengaruhi vitalitas bahasa daerah yang dapat berujung pada kepunahan bahasa-bahasa daerah. Nyatanya, UNESCO mencatat bahwa bahasa daerah di Indonesia punah setiap 15 (lima belas) hari sekali, dan Badan Bahasa menyatakan 11 bahasa daerah di Indonesia sudah punah.

Meskipun bahasa daerah termasuk khazanah budaya Indonesia, tingkat penggunaannya menurun akibat tergeser oleh fenomena globalisasi dan teknologi yang mendorong masuknya budaya asing baru dan membentuk gaya komunikasi baru di kalangan generasi muda untuk menggunakan bahasa asing daripada bahasa daerah, serta regulasi pemerintah dan tuntutan akademis yang mendukung penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Terlebih lagi, munculnya fenomena prestise bahasa menentukan tingkat melalui peran dan fungsi sebuah bahasa, penggunaan bahasa (Rahardi, 2006). Dalam segi pragmatis, salah satu faktor lunturnya penggunaan bahasa daerah di tengah masyarakat terutama di daerah kota di Indonesia adalah ketidakefektifan.

Apabila situasi hilangnya penggunaan bahasa daerah terus berlangsung, maka semakin banyak bahasa daerah yang pada akhirnya hilang terkikis zaman (Ismadi, 2018). Maka perlu untuk masyarakat menyadari kelebihan bahasa daerah bagi masyarakat Indonesia atau masyarakat lokal yang menuturnya. Ungkap Hurip Danu Ismadi dalam Ramadani (2020), kelebihan bahasa daerah atau dapat disebut bahasa ibu yakni berupa nilai dan norma dari budaya bersangkutan. Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, mengungkapkan bahwa kelestarian bahasa akan memperkokoh mutu manusia tersendiri. Ismadi (2018) pula menambahkan bahwa kepunahan sebuah bahasa bukan sekadar kepunahan kosakata atau tata bahasa, melainkan hilangnya warisan budaya bangsa yang sangat berharga. Dapat dikatakan bahwa punahnya suatu bahasa dapat berarti hilangnya pengetahuan masyarakat tentang peradaban sebuah suku bangsa, begitu pula nilai-nilai yang dipersembahkan oleh bahasa daerah, seperti menumbuhkan toleransi serta memahami, menghormati, dan menghargai perbedaan. Poinpoin ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat, sehingga menjadi salah satu permasalahan yang menghambat pelindungan bahasa daerah.

Sehubungan dengan situasi bahasa daerah yang membutuhkan pelindungan, aparat pemerintah sudah mulai berpartisipasi dalam

aksi ini. Pertama, tercatat pada amanat Pasal 32 Ayat 2 UUD 1945, bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Begitu pula diberdirikannya Badan Bahasa serta pelaksanaan lima program utama pelindungan bahasa dan sastra, yakni 1) Pemetaan, 2) kajian vitalitas, 3) konservasi, 4) revitalisasi, dan (5) registrasi bahasa. UNESCO secara resmi memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari setiap tahun. Begitu pula sudah ada upaya yang pernah dilakukan stasiun TV swasta seperti menyiarkan acara berbahasa daerah.

Gambar 1. Kampanye Terdahulu Badan Bahasa

Persoalan pelindungan bahasa daerah sudah diinisiasi oleh pihak pemerintah dan swasta, namun perlu diimbangi dengan kepedulian dan usaha oleh masyarakat Indonesia tersendiri (Ewing, 2014) Diperlukannya kombinasi dari inisiatif pihak otoritas, begitu pula inisiatif dari masyarakat umum melalui cara-cara kreatif dalam rangka menarik minat penggunaan bahasa daerah, terutama untuk generasi muda. Dalam kasus ini, sebuah kampanye sosial diperlukan dalam

rangka menggairahkan kembali bahasa daerah bagi generasi muda yang terutama tinggal di wilayah perkotaan. Perancangan ini bertujuan menghasilkan konsep dan strategi kampanye sosial upaya mempromosikan program pelindungan bahasa daerah yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa. Kampanye sosial ini diharapkan untuk membangun insiatif generasi muda terpelajar untuk ingin mempelajari atau mempertahankan penggunaan bahasa daerah yang mereka miliki.

METODE

Penelitian ini menggunakan model design thinking yang dikemukakan oleh David Kelley dari Hasso Plattner Institute. Model ini meliputi 5 (lima) proses, yaitu 1) Empathize, 2) Define, 3) Ideate, 4) Prototype, dan 5) Test. Model ini dipraktikkan dari awal perumusan permasalahan sebagai proses empati tentang bahasa daerah dan pelindungannya, pendefinisian dilakukan dengan menguraikan tujuan, manfaat, batasan sampai dengan landasan teori. Proses ini membantu perancangan strategi komunikasi dan konsep kampanye, diikuti oleh perancangan visualisasi media kampanye sosial. Terakhir adalah ketika dilakukan proses pengujian keberhasilan perancangan kampanye.

Kelima proses ini dilengkapi dengan 3 (tiga) bagian metode perancangan, yakni metode pengumpulan data, metode analisis dan pengolahan data, serta metode perancangan kampanye. Metode pengumpulan data meliputi data primer yang diperoleh melalui survei dan wawancara bersama narasumber ahli; dan data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur. Data yang diperoleh mengalami proses analisis dan pengolahan menggunakan pendekatan kualitatif secara interaktif oleh Miles et al. (2014), melewati proses 1) Data condensation, 2) Data display, dan 3) Drawing and Verifying Conclusion. Berikutnya, proses perancangan kampanye diawali dengan penentuan strategi komunikasi dan konsep kampanye yang dirangkum dalam sebuah creative brief, yakni sebuah dokumen dapat menguraikan strategi kreatif, juga memberikan pemahaman serta wawasan (insight) yang nyata tentang khalayak sasaran dan subjek yang akan dipromosikan. Proses perancangan dilanjutkan dengan penentuan ide besar (big idea), sketsa, perancangan alternatif desain, serta finalisasi perancangan visual media-media yang ditentukan untuk kampanye.

Hasil Analisis Data Wawancara dan Survei

Sesuai dengan hasil analisis data survei dikaitkan dengan bahasa daerah dan responden, bahasa Indonesia, dan bahasa asing lainnya (terutama bahasa Inggris), sesuai dengan hipotesis fenomena prestise bahasa oleh Rahardi (2006), yaitu bahasa asing dan bahasa Indonesia menduduki prestise yang lebih tinggi

daripada bahasa daerah disebabkan oleh fungsinya yang lebih tinggi di tengah masyarakat urban. Buktinya, keterampilan bahasa Indonesia dan berbahasa asing (terutama bahasa Inggris) lebih tinggi daripada keterampilan responden berbahasa daerah apabila responden menilai secara pribadi keterampilan tersebut. Sejalan dengan pendapat narasumber wawancara Bpk. Irvan N. Taofik Djubaidy (Duta Bahasa Terbaik 1 Nasional 2021), beserta observasi yang dilakukan penulis mengenai dinamika penggunaan bahasa di masyarakat Indonesia, bahwa tidak hanya bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional, begitu pula bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang kian memiliki posisi prioritas masyarakat dalam suatu pembelajaran bahasa.

5 6

Gambar 2. Keterampilan Berbahasa Khalayak Sasaran

Sebagian responden telah mengetahui situasi dan kondisi bahasa daerah di Indonesia, namun mereka belum mengetahui adanya pihak-pihak pemerintah ataupun swasta yang tengah berusaha memfasilitasi gerakan pelindungan bahasa daerah. Berarti, dapat dikatakan bahwa gaung Badan Bahasa dan rangkaian kegiatannya, belum cukup terdengar gaungnya di tengah kalangan masyarakat muda.

Keterampilan responden dalam berbahasa daerah belum sepenuhnya hilang, namun berkurang dengan adanya prioritas pada pembelajaran bahasa lainnya. Meskipun begitu, khalayak sasaran masih tertarik atau tergerak untuk mengikuti aksi pelindungan setelah mendengar situasi dan kondisi yang dihadapi oleh bahasa daerah di Indonesia. Sesuai dengan pernyataan oleh Ibu Anita Astriawati Ningrum, M. Hum selaku Kepala Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Pelindungan Bahasa dan Sastra, beliau yakin bahwa generasi muda bukannya tidak peduli atau tidak tertarik, melainkan memang belum tahu atau belum sadar. Belum tahu dalam maksud hal yang menarik dan indah dalam bahasa daerah tersebut. Perspektif yang lebih mudah adalah ketika ketika seseorang cenderung berpikir bahwa 'rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri'. Beliau menyatakan bahwa masyarakat belum merasa bahwa mereka punya kekayaan bahasa daerah. Sementara itu, banyak sekali pihak akademisi dan peneliti asing yang datang ke Indonesia untuk meneliti bahasa daerah, karena menurut mereka hal tersebut menarik, penting, dan bernilai untuk diangkat. Beliau pun yakin bahwa generasi muda yang kelihatannya tidak peduli, sebetulnya memiliki banyak ide tentang pelestarian dan pelindungan bahasa daerah. Maka dari itu, apabila sekarang generasi muda belum mencintai, terlebih dulu berkenalan dengan bahasa daerah di masingmasing daerah,sehingga ketika sudahmencintai, dapat mengetahui apa yang bisa diupayakan untuk melindungi kekayaan bangsa.

4

Gambar 3 Hasil Kuesioner mengenai pengetahuan khalayak sasaran tentang bahasa daerah dan pelindungannya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lembaga Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Gambar 4. Logo Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Badan Bahasa merupakan panggilan singkat dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Disadur dari situs badanbahasa.kemdikbud.go.id, Badan Bahasa merupakan suatu instansi pemerintah yang bertugas menangani segala masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia. Berdasarkan situs badanbahasa.kemdikbud.go.id, visi dari Badan Bahasa merupakan terwujudnya insan berkarakter dan jati diri bangsa melalui bahasa dan sastra Indonesia. Adapun misi dari Badan Bahasa sebagai berikut.

  • 1. meningkatkan mutu kebahasaan dan pemakaiannya,
  • 2. meningkatkan keterlibatan peran bahasa dan sastra dalam membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan,
  • 3. meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra, dan
  • 4. meningkatkan peran aktif dalam internasionalisasi kebahasaan. Fungsi Badan Bahasa sebagai instansi pemerintah yang menangani persoalan bahasa daerah, maka Badan Bahasa ditetapkan sebagai klien perancangan kampanye.

Dikarenakan perancangan kampanye memiliki tujuan yang sejalan dengan visi dan misi dari Badan Bahasa, maka institusi ini menjadi penyelenggara yang tepat untuk kampanye upaya pelindungan bahasa daerah.

Strategi Komunikasi: Model AISAS

Model komunikasi yang digunakan dalam kampanye ini adalah model komunikasi AISAS. Model ini terdiri dari Attention, Interest, Search, Action, dan Share. Secara detail, proses Attention terjadi apabila seorang konsumen memperhatikan produk, layanan, atau ikan tertentu dan menaruh minat padanya (Interest), sehingga dalam kesempatan ini konsumen mengumpulkan informasi (Search) mengenai produk atau layanan yang dimaksud. Ketika konsumen memperoleh informasi dan membuat penilaian berdasarkan informasi (bisa berupa pendapat dan ulasan), apabila konsumen tersebut mendapatkan impresi positif, maka dapat menegaskan keputusan mereka untuk melakukan pembelian (Action). Setelah pembelian, konsumen dapat menyampaikan atau menyebarkan informasi mengenai produk atau layanan tersebut (Share). Sugiyama (2011) menambahkan bahwa model AISAS berbeda dengan model AIDMA yang pada dasarnya bergerak linier. Penting untuk diingat bahwa model AISAS tidak perlu bergerak secara linier, namun langkah-langkah dapat dilewati, atau mungkin diulang (Sugiyama et al., 2011). Secara keseluruhan, model AISAS merupakan model yang komprehensif yang mengantisipasi beragam perilaku konsumen modern, yang dapat beroperasi sesuai dengan aktivitas dunia nyata (Sugiyama, 2011).

Gambar 5. Model Komunikasi AISAS

Konsep Perancangan

Berdasarkan wawasan yang diperoleh melalui analisis data survei dan hasil wawancara bersama narasumber ahli, masyarakat masih melihat bahasa daerah dari kacamata pragmatis. Artinya, seringkali perihal tentang belajar atau melestarikan bahasa daerah dipertimbangkan atau diperhitungkan keuntungan dan kegunaannya bagi penutur atau yang hendak belajar. Sehingga, bahasa daerah kalah prioritas dibandingkan dengan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing sebab kurang digunakan dalam lingkungan sosialsecara umum, serta gaya hidup yang mulai berorientasi pada budaya asing. Bahasa daerah adalah bagian dari identitas bagi budaya yang menggunakannya, sekaligus identitas secara keseluruhan masyarakat Indonesia. Warisan budaya dan identitas seseorang harus menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh masyarakatnya. Melestarikan keragaman budaya tidak hanya membantu penutur yang tradisinya dilindungi, tetapi juga melestarikan filosofi dan cara berpikir yang dapat dipelajari oleh masyarakat lain.

Khalayak sasaran yang ditentukan untuk kampanye ini adalah remaja berumur 16 sampai dengan 21 tahun, terutama yang tinggal di tengah masyarakat urban di Indonesia. Menurut penelitian tentang perkembangan remaja, selain dari perkembangan biologis, ditandai juga dengan perkembangan kognitif yaitu pengertian individu tersebut terhadap sebuah konsep abstrak. Begitu pula, tahap remaja pertengahan sampai akhir mulai memiliki pemikiran yang sistematis, dan mulai memikirkan masalah atau konsep global (Salmela-Aro, 2011). Maka dari itu, usia remaja akhir dinilai sesuai untuk khalayak sasaran kampanye ini.

Ide besar untuk kampanye ini adalah "Ada Asa dalam Bahasa". Rasional dari ide besar ini berasal dari kata 'Asa' yang berarti harapan dan semangat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Adanya komponen 'Asa' dalam kata 'Bahasa' (daerah), dapat dipersepsikan adanya semangat dan harapan ditempatkan pada bahasa daerah dan upaya pelindungannya. Khalayak sasaran diajak untuk menyadari bahwa bahasa daerah memiliki kelebihan dari sekedar jembatan komunikasi seperti bahasa lainnya, melainkan terdapat filosofi kehidupan masyarakat penuturnya. Ide besar ini juga melatarbelakangi nama kampanye sosial "BerbahAsa".

Referensi Visual

Menimbang demografis dan psikografis khalayak sasaran, maka Tone and Manner yang diadaptasi pada gaya kampanye ini bersifat cheerful (ceria), approachable (akrab), dan fun (seru). Tujuan ini adalah untuk menciptakan suasana yang nyaman dalam kampanye tersebut, sehingga informasi tentang bahasa daerah mudah dicerna dan diterima. Tone dan Manner dapat terlihat dari key visual dari kampanye.

Gambar 6. Key Visual Kampanye

Adapun perancangan identitas kampanye seperti warna, gaya ilustrasi, tipografi, disesuaikan dengan Tone and Manner yang ditentukan, mengkombinasikan antara retro, modern, dan collage. Komposisi warna yang digunakan bersifat terang, kontras, dan youthful (berjiwa muda), dipilih seperti demikian sehingga kampanye memiliki kesan mudah didekati oleh khalayak sasaran.

Gambar 7. Warna Kampanye

Logo kampanye menggunakan logotype yang menggunakan konsep gestalt, terlihat pada pada kedua bentuk jajar genjang yang menyerupai chatbox (kolom bicara media sosial). Elemen dekoratif yang akan digunakan dalam visualisasi berwarna-warni dan bervariasi, disengajai sehingga desain menggambarkan bahasa daerah yang begitu bervariasi dan tidak monoton.

Gambar 8. Logo Kampanye

Gambar 9. Elemen dan Bentuk digunakan dalam Kampanye BerbahAsa

Adapun dapat dicermati dua desain karakter yang menjadi kekhasan dari kampanye ini. Penulis mengadopsi konsep ini sebagai salah satu solusi yang dapat mendekatkan bahasa (daerah) yang abstrak, dengan khalayak sasaran. Untuk itu, penulis membuat avatar sebagai maskot Berbahasa yang dapat "mengantarkan" bahasa daerah kepada khalayak sasaran. Konsep desain karakter kedua avatar ini adalah menggunakan busana sehari-hari selayaknya khalayak sasaran, sehingga khalayak dapat berkenaan dengan karakter-karakter ini.

Gambar 10. Desain Avatar (Maskot) BerbahAsa

Tahap Conditioning

Sebagai awal mula Kampanye Berbahasa, penulis akan memperkenalkan kampanye melalui media sosial Instagram. Pertama-tama, penulis ingin memperkenalkan sedikit banyak dampak bahasa daerah yang tanpa disadari telah membentuk Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang kaya sampai saat ini. Maka dari itu, pada Gambar 4.8 terlihat narasi yang memperlihatkan contoh-contoh bagaimana jika bahasa daerah tidak mempengaruhi bahasa Indonesia. Berikutnya adalah introduksi secara resmi kampanye berbahasa, dengan penjelasan tujuan kampanye yang dapat dicermati oleh khalayak.

Gambar 11. Perkenalan Kampanye melalui Instagram

Dalam kesempatan ini Kampanye Berbahasa mendirikan sebuah microsite di bawah domain badanbahasa.kemdikbud.go.id, sehingga dapat langsung diakses melalui website Badan Bahasa tersendiri. Tujuan utama microsite ini adalah untuk menampung informasi-informasi yang berjumlah banyak, sehingga kampanye ini memiliki platform untuk menyampaikan informasi bahasa daerah yang lebih terperinci. Begitu pula, microsite ini bertujuan sebagai sebuah hub untuk berbagai fitur yang akan dibangun atau dikumpulkan dalam microsite ini. Untuk melihat prototype untuk microsite Berbahasa secara interaktif (dapat di-klik), dapat dilihat melalui link https://bit.ly/17418063WebsiteBerbahasa atau melalui QR Code pada Gambar 4.10.

Gambar 12. Landing Page Microsite BerbahAsa

Pada Gambar 4.11 dapat dilihat konten Instagram Story yang dimaksudkan untuk mengajak berkenalan dengan khalayak sasaran, diikuti dengan berpartisipasi di challenge mengisi mini quiz. Media ini dimaksudkan sebagai warming-up antara pihak kampanye dan khalayak sasaran, dengan cara mendeskripsikan suasana hati mereka dengan berbagai emoji, mencari tahu preferensi bahasa daerah mereka serta kata favorit yang mereka ketahui

Gambar 13. Konten Informing Instagram Story BerbahAsa

Tahap Informing

Dalam tahap Informing, khalayak sasaran akan memperoleh berbagai informasi tentang isu yang dihadapi bahasa daerah dan tantangan yang dihadapi Badan Bahasa. Tahap ini bertujuan untuk menyadarkan khalayak sasaran tentang pentingnya pelindungan bahasa daerah, serta memberi pemahaman dasar tentang program pelindungan bahasa daerah oleh Badan Bahasa. Pada tahap ini, media Instagram akan mempublikasikan kontenkonten informatif yang dapat menyampaikan pengetahuan baru kepada khalayak sasaran, konten yang melibatkan para maskot kampanye yang mencerminkan partisipasi generasi muda ke dalam program pelindungan bahasa daerah, serta konten engagement yang dapat meningkatkan engagement antara pihak kampanye dan khalayak.

Gambar 14. Contoh Konten Informing Instagram

Gambar 15. Contoh Konten Engagement Instagram Story

Gambar 16. Contoh Konten Engagement bersama Avatar

Gambar 17. Contoh Konten Intermezzo pada Twitter BerbahAsa

Pada tahap Informing pula media microsite akan dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat informasi bahasa daerah yang lebih terperinci, serta fitur-fitur bahasa daerah yang dirancang meliputi 1) Blog, 2) Penerjemah, 3) Kamus, dan 4) Harian Bahasa Daerah. Pada microsite tersebut terutama pada poin 4 (empat), khalayak diajak untuk menjawab pertanyaan yang terus berubah setiap harinya dan berhubungan dengan bahasa daerah.

Gambar 18. Tentang Kampanye pada Website BerbahAsa

Gambar 19. Fitur Penerjemah dan Kamus Bahasa Daerah Terpadu

Gambar 20. Fitur Blog BerbahAsa

Gambar 21. Fitur Harian Bahasa Daerah

Media sosial Discord diberdayakan sebagai wadah khalayak sasaran untuk berinteraksi secara kasual. Melalui media ini, khalayak dapat bertemu dengan teman-teman baru yang dipertemukan melalui kesamaan bahasa daerah atau bahkan perbedaan. Terakhir, untuk mempromosikan dan menyebarluaskan kampanye ini maka akan digunakan media iklan Double Click Bid Manager (DBM) pada situs-situs tertentu di Indonesia.

8

Gambar 22. Discord BerbahAsa

1

Gambar 23. Contoh DBM Ad BerbahAsa

Tahap Reminding

Dalam tahap Reminding, khalayak sasaran sudah memperoleh banyak informasi mengenai bahasa daerah dan pelindungannya, serta sudah melewati perjalanan panjang bersama dengan kampanye. Khalayak sasaran kembali diingatkan untuk tetap merawat dan melestarikan bahasa daerah, yang akan dipicu dengan adanya aktivitas dan media kampanye tertentu. Tahap ini diawali dengan transisi antara tahap informing menuju reminding dengan kegiatan Brand Activation #SebarAsa.

Gambar 24. GIF SebarAsa Brand Activation

Khalayak diajak untuk mengirimkan pesan melalui web-event pada microsite dengan menulis pesan tersebut di perahu kertas, menggunakan bahasa daerah kemudian dikirimkan kepada orang yang ingin dituju. Aktivasi ini dimeriahkan juga dengan sebuah instalasi kinetic art perahu kertas yang melambangkan pesan-pesan yang sudah disampaikan terbawa arus laut lepas.

9

Gambar 25. Langkah-langkah Event SebarAsa

Gambar 26. Langkah-langkah Event SebarAsa

Gambar 27. Mockup Ambient Installation SebarAsa

Kegiatan Gala Berbahasa "Pusakata" dalam rangka memperingati Hari Raya Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari yang diselenggarakan sebagai acara puncak kampanye Berbahasa. Dalam acara ini,salah satu kegiatan besar berupa challenge akan diselenggarakan, membutuhkan setidaknya 10 orang peserta dengan bahasa daerah yang berbeda-beda untuk membuka sebuah mesin dipenuhi dengan item seperti merchandise atau sponsor secara gratis.

Gambar 28. Poster Gala Berbahasa Pusakata

Gambar 29. Item (Kulkas) untuk kegiatan pada Pusakata

Tahap reminding juga dimeriahkan dengan adanya merchandise berupa buku catatan dan plushie. Uniknya dalam buku ini terdapat bagian yang dapat diikuti khalayak untuk belajar aksara sebuah bahasa daerah. Begitu pula terdapat media LINE sticker yang sengaja dipublikasikan sehingga pada media tersebut dapat mampu memotivasi khalayak sasaran untuk tetap menggunakan bahasa daerah dalam jangka waktu panjang.

Gambar 30. Variasi Notebook BerbahAsa (Merchandise)

Gambar 31 Bagian Belajar Bahasa Daerah pada Notebook

Gambar 32 LINE Sticker BerbahAsa (Merchandise)

Tampilan Kampanye

Kampanye Berbahasa menggunakan beberapa media sosial seperti Instagram, Twitter, Website, dan Discord untuk mengkomunikasikan kampanye secara digital. Ada pula beberapa media Above The Line yang digunakan dalam kampanye ini yang dapat dicermati melalui Gambar (x).

10

Gambar 33 Kampanye Berbahasa menggunakan beberapa media sosial

Linimasa Kampanye

Kampanye akan berlangsung selama 6 (enam) bulan, dimulai pada September dan diakhiri pada bulan Februari, menandai bulan perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional pada tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Tahap Conditioning kampanye berlangsung selama 1 bulan, tahap Informing berlangsung 3 bulan, dan Reminding berlangsung selama 2 bulan. Media sosial kampanye direncanakan tetap aktif walaupun kampanye sudah berakhir.

3

Gambar 34 Linimasa/Timeline Kampanye Berbahasa

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengumpulan data primer dan sekunder beserta pengolahannya, penulis membuktikan bahwa persentase khalayak sasaran yang menggunakan bahasa daerah sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakannya, yang disebabkan oleh berbagai macam hal, terutama penggunaannya dalam lingkungan tempat tinggal atau tempat

gaul khalayak tertentu. Namun, salah satu insight yang diperoleh dari hasil data merupakan media pembelajaran bahasa daerah yang masih terpencar (tidak terpadu), serta ketertarikan yang rendah akibat konotasi bahasa daerah yang dianggap arkais atau kuno. Dengan demikian, kampanye Berbahasa dirancang untuk mengubah sudut pandang khalayak sasaran akan bahasa daerah yang sebetulnya memperkaya bahasa Indonesia; menjadikan bahasa daerah relevan kembali di tengah masyarakat urban dan khalayak remaja.

Mengenai kajian untuk mendukung kampanye ini, diharapkan pengambilan data dilakukan lebih mendalam lagi sehingga dapat memperkaya media-media yang akan digunakan kampanye. Kampanye sudah menyampaikan informasi mengenai Badan Bahasa, perihal bahasa daerah dan program pelindungannya, namun dianjurkan dapat lebih mengeksplorasi media-media interaktif atau lebih mengajak khalayak sasaran untuk berpartisipasi dalam acara atau kegiatan pelindungan bahasa daerah. Bagi lembaga atau institusi terkait yang akan menjalankan kampanye sosial ini, diharapkan dapat membuat dan menjalankan kegiatan kampanye yang relevan untuk khalayak remaja akhir, terutama yang tinggal di masyarakat urban di Indonesia. Sehingga melalui kegiatan tersebut khalayak merasa terjembatani dan terdukung untuk mencintai bahasa daerah dan bersamasama melindunginya.

DAFTAR PUSTAKA

Norman, Donald A. 2004. Emotional Design Why We Love (or Hate) Everyday Things. New York: Basic Book.

Diananda, Amita. 2018. Psikologi Remaja dan Permasalahannya. Vol. 1.

Ewing, Michael C. 2014. Language Endangerment In Indonesia. Vol. 8.

Indrayani, Lia Maulia. 2011. "Language Vitality: A Case on Sundanese Language as A Surviving Indigenous Language." Language Maintenance and Shift.

Ismadi, Hurip Danu. 2018. "Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah Dalam Perubahan Kebudayaan Indonesia." Retrieved November 26, 2021 (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanba hasa/artikel/2542/kebijakan-pelindunganbahasa-daerah-dalam-perubahan-kebudayaanindonesia).

Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, and Johnny Saldana. n.d. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 3rd ed. Thousand Oaks, California: SAGE Publications.

Nacikit, Joleha. 2020. PENTINGNYA MELESTARIKAN BAHASA DAERAH.

Pangestu, Risvi. 2019. "Penerapan Kampanye Sosial Dalam Desain Komunikasi Visual." 4.

Rahardi, R. Kunjana. 2006. Dimensi-Dimensi Kebahasaan : Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini. edited by Y. Sumiharti. Penerbit Erlangga.

Salmela-Aro, K. 2011. Stages of Adolescence. Elsevier/Academic Press.

Setyawan, Aan. 2011. Bahasa Daerah Dalam Perspektif Kebudayaan Dan Sosiolinguistik:

Peran Dan Pengaruhnya Dalam Pergeseran Dan Pemertahanan Bahasa. Semarang.

Silia Wardhani, L. (2016). Local Language in Globalization Era: Can It Survive? https://doi.org/10.217716/ub.icon_laterals.201 6.001.1.27

Steinberg, Laurence. 2016. Adolescence. 11th ed. New York: McGraw-Hill Education.

Sugiharto, S. (2014). The Urgency of Promoting Mother-Tongue Based Education: A Case of Indonesia. The International Journal of Foreign Language Teaching, 10(1).

Suneki, S. 2012. "Dampak Globalisasi Terhadap Eksistensi Budaya Daerah." Jurnal Ilmiah CIVIS. II(1):307–21.

Wibawa, S. (2007). IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH SEBAGAI MUATAN LOKAL.

Widianto, E. (2018). Pemertahanan Bahasa Daerah Melalui Pembelajaran dan Kegiatan di Sekolah. Jurnal Kredo, 1(2).

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
28th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.87
level 1
level 0
Art 0.38
level 0

Institution Network