1. Home
  2. Archives
  3. Vol 14 (2023) Issue 1
  4. Articles

ANALISIS BENTUK STEREOTIP MASKULINITAS PADA VISUAL TOKOH UTAMA LAKI-LAKI DALAM BUKU CERITA ANAK TERBITAN LET’S READ! INDONESIA

Abstract

Diskriminasi gender dalam bentuk stereotip pada laki-laki merupakan isu yang kurang dibahas. Untuk memenuhi tuntutan menjadi seorang “laki-laki sejati”, mereka digeneralisasi ke dalam stereotip seperti: watak yang kasar, agresif, larangan untuk menunjukkan sifat yang lemah, hingga melakukan pekerjaan dan kegiatan yang mengandalkan kekuatan dan berada di ruang publik. Let’s Read! Indonesia merupakan sebuah organisasi asal Asia dengan perpustakaan digital yang mampu mengangkat isu-isu berat seperti kesetaraan gender, sehingga dapat menjadi media bagi anak untuk belajar, serta menjadi sarana penyampaian rekonstruksi stereotip maskulinitas sejak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visual tokoh utama laki-laki dalam buku-buku Let’s Read! Indonesia dan apabila penggambaran tokoh-tokoh tersebut memiliki stereotip maskulinitas atau tidak. Visual pada tokoh-tokoh dianalisis menggunakan metafungsi ideasional, yang menganalisis visual bentuk karakteristik (ekspresi dan sikap, penampilan), kegiatan yang dilakukan, dan ruang beraktivitas. Dari lima buku yang diteliti, ditemukan adanya bentuk stereotip maskulinitas pada tiga tokoh utama dan pertentangan terhadap stereotip maskulinitas pada dua tokoh utama lainnya.

Keywords

PENDAHULUAN

Isu kesetaraan gender berupa diskriminasi dalam bentuk stereotip tidak hanya terjadi pada kaum perempuan saja yang sering kali direndahkan akibat kebudayan patriarkisme yang mengutamakan kedudukan laki-laki dan mengeneralisasi perempuan sebagai kaum yang lemah-lembut. Diskriminasi akan satu kaum gender tidak hanya merugikan satu pihak tersebut saja, namun juga merugikan semua pihak lainnya, dimana dengan adanya stereotip terhadap feminitas maka secara

tidak langsung terbentuk pula stereotip terhadap maskulinitas, karena maskulinitas dan feminitas merupakan dua hal yang bertentangan dan berkebalikan (Gates dalam Rifai dkk., 2022). Stereotip diartikan sebagai sebuah pemberian sifat tertentu berdasarkan kategori yang bersifat subjektif dan mengeneralisasi, dan menjadi salah satu bentuk diskriminasi gender (Saguni, 2014). Hal ini dikaitkan dengan konsep maskulinitas, dimana kaum laki-laki digeneralisasi dan tidak akan dianggap sepenuhnya sebagai "laki-laki" apabila tidak memenuhi tuntutan yang ada dalam konsep maskulinitas tersebut.

Salah satu cara untuk mendekonstruksi stereotip negatif yang sudah tertanam akibat tuntutan dari generasi-generasi sebelumnya yaitu melalui pemaparan sejak usia dini yang ditujukan kepada generasi yang akan mendatang. Ariyanti (2016: 53) menyatakan, bahwa apa yang diterima anak pada usia dini memberikan kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak , dan berpengaruh besar pada pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Seorang anak akan menerima saja semua informasi yang ia dapatkan tersebut karena belum mampu untuk sepenuhnya menyaring informasi yang mereka dapatkan. Karena hal tersebut juga, sejak usia dini tanpa disadari anak-anak sudah dihadapkan oleh stereotip gender. Saguni (2014) menyatakan bahwa menurut teori skema gender, pengelompokkan gender dilakukan kepada anak secara bertahap untuk mengembangkan skema gender tentang apa yang dianggap pantas untuk masing-masing perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat.

Maka, dibutuhkan suatu pemaparan kepada anak-anak yang bersifat menentang diskriminasi dan stereotip maskulinitas, dengan pengemasan yang sederhana dan mudah dimengerti untuk mereka. Pengemasan tersebut dapat melalui media buku cerita anak, dimana dalam buku cerita anak tersebut disertai dengan visual atau ilustrasi yang bagi anak akan lebih mudah dimengerti dibandingkan hanya teks narasi saja (Kartaatmadja, 2015)

Let's Read! merupakan sebuah lembaga yang didirikan oleh The Asia Foundation yaitu sebuah organisasi Asia yang bersifat nonprofit yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan peluang ke seluruh Asia, termasuk Indonesia, sehingga tidak sedikit pula penulis dan ilustrator buku Let's Read yang berasal dari Indonesia. Mengutip dari laman resmi mereka, Let's Read! dipenuhi oleh buku-buku yang berani mengeksplorasi topik dan isu kompleks seperti kesetaraan gender, aksi lingkungan dan iklim, keragaman atau diversity, rasa empati, hingga sains, teknologi, seni, dan matematika.

Sebagai lembaga penerbit buku anak Indonesia yang berani membawa isu dan topik yang kompleks, Let's Read! Indonesia dapat menjadi media yang memiliki peran yang penting bagi tumbuh kembang serta masa depan generasi bangsa yang akan mendatang.

Dikemas dengan cerita yang mudah dimengerti dan ilustrasi yang menarik untuk anak-anak, buku-buku Let's Read! Indonesia dapat menjadi media yang sangat baik bagi mereka untuk mencari dan mengeksplorasi jati diri mereka tanpa dikekang oleh suatu stereotip atau batasan,serta membantu dalam mulai mendekonstruksi dan rekonstruksi konsep maskulinitas pada masyarakat yang telah tertanam oleh generasi-generasi sebelumnya. Penggambaran tokoh laki-laki dalam buku Let's Read Indonesia dapat menjadi acuan terhadap visual dan penggambaran tokoh dalam buku cerita anak di Indonesia kedepannya, sehingga dari itu didapati tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penggambaran visual tokoh utama laki-laki dalam buku terbitan Let's Read! Indonesia, serta mengetahui apabila visual tokoh-tokoh tersebut mengikuti stereotip maskulinitas atau tidak.

KAJIAN TEORI

Konsep Gender

Puspitawati (2013) menyatakan, bahwa gender dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status, dan tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial budaya yang tertanam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Istilah gender dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan maksud untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan lakilaki yang mempunyai sifat bawaan dan bentukan yang berasal dari budaya. Gender merujuk pada aturan sosial yang telah ditanamkan oleh masyarakat yang berkaitan dengan jenis kelamin manusia: laki-laki dan perempuan.

Konsep Maskulinitas

Kata Maskulin sendiri berasal dari kata muscle atau otot, yang diasosiasikan dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekerasan. Secara sifat dan kepribadian, laki-laki dicirikan dengan watak yang lebih terbuka, kasar, agresif, dan rasional, bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau bersifat lemah lembut jika ingin diakui kelakiannya (Darwin, 1999). Perempuan dianggap bersifat emosional dalam menghadapi perasaan mereka, berbeda dengan laki-laki yang berdasarkan konsep maskulinitas emosi atau kemarahan cenderung mereka luapkan dalam suatu bentuk tindakan kasar atau agresif (Saguni, 2014). Laki-laki sering kali akan menyangkal merasakan bentuk-bentuk perasaan seperti: sedih, malu, dan bersalah karena akan dianggap lemah dan "feminin".

Dalam bidang pekerjaan, laki-laki umumnya digambarkan dengan pekerjaan yang mengandalkan kekuatan dan keberanian seperti: tentara, sopir, petinju, berbeda dengan perempuan yang digambarkan dengan pekerjaan yang bersifat halus, teliti, dan lebih memerlukan perasaan seperti juru masak, menjahit, salon kecantikan, dan lainnya (Darwin, 1999). Pekerjaan dan kegiatan lakilaki juga umumnya digambarkan berada di luar atau di ruang publik, berbeda dengan perempuan yang diidentikan dengan pekerjaan dalam rumah. Selain itu dalam peranan juga, seringkali laki-laki dikatakan harus menjadi seorang figur yang kuat untuk menjadi pelindung atau pengayom (Donaldson dalam Demartoto, 2010). Darwin juga menyatakan, bahwa seringkali dalam hubungan individual laki-laki baru akan diakui maskulinitasnya apabila terlayani dengan perempuan, sebaliknya perempuan akan diakui feminitasnya apabila dapat melayani laki-laki. Adapula tujuh area indikator yang dicetuskan oleh Jane Saltzman Chafetz (dalam Sari dkk., 2019) sebagai indikator penentu maskulinitas seseorang, yang mencakup:

  • 1. Fisik: Atletik, kuat, berani, dan tidak peduli terhadap penampilan ataupun proses penuaan pada diri sendiri
  • 2. Fungsional: Memposisikan diri sebagai tulang punggung keluarga, sebagai pemimpin atau pencari nafkah
  • 3. Seksual: Bersifat agresif dan berpengalaman dalam hubungan dengan lawan jenis.
  • 4. Emosi: Dapat menyembunyikan sifat emosional (sedih, lemah, dan takut) dan dapat terlihat tenang
  • 5. Intelektual: Mampu untuk berpikir logis, rasional, dan objektif
  • 6. Interpersonal: Memiliki sifat pemimpin, mendominasi, disiplin, mandiri, dan individualis

7. Karakteristik personal lainnya: ambisius, egois, kompetitif, dan berjiwa petualang (adventurous)

Seperti pada negara-negara lainnya, maskulinitas di Indonesia dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan. Pencitraan diri dalam kehidupan seorang laki-laki diturunkan dari generasi ke generasi, dimana hal tersebut muncul dari hal atau kebiasaan sehari-hari yang sudah menjadi rutinitas bertahun-tahun dan bersumber dari norma-norma budaya yang ada (Demartoto, 2010). Di Indonesia ada budaya Batak yang menganut patrilineal, kemudian Jawa yang menganut bilateral. Adapula budaya Minang yang menganut sistem keluarga matrilineal, namun pada kenyataannya melalui prakteknya mereka tetap bersifat patriarkis yang ditunjukan melalui pewarisan harta keluarga dari garis keturunan perempuan, tetapi dalam pengambilan keputusan keluarga tetap saja jatuh pada saudara laki-laki ibu (Darwin, 1999). Adapula kepercayaan dalam kebudayaan Jawa bahwa seorang laki-laki baru akan dikatakan sukses apabila memiliki garwo (istri), bondo (harta), turonggo (kendaraan), kukilo (burung peliharaan), dan pusoko (senjata atau kesaktian). Walaupun Indonesia memiliki bentuk dan konsep akan maskulinitasnya sendiri yang tumbuh dari budaya dan normanorma setempat, secara umum pandangan sosial yang dimiliki sama seperti di negaranegara lain dimana kedudukan laki-laki harus utama, kuat, dan tangguh.

Ilustrasi dan Karakter dalam Buku Cerita Anak

Mengutip Maharsi (2016), "Ilustrasi merupakan representasi visual dari sebuah naskah, baik itu konsep cerita dalam bentuk gagasan ide maupun naskah tercetak untuk keperluan tertentu." Dalam memvisualisasikan naskah tersebut, suatu karya harus dapat bercerita atau mengandung suatu cerita atau pesan untuk dapat mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kemudian dalam mengilustrasikan karakter atau tokoh, ilustrator harus mempertimbangkan kepribadian mereka (Pardew dalam Kartaatmadja, 2015).

Ilustrasi memiliki peran yang penting terhadap seorang anak karena ilustrasi mampu menilai sensitivitas anak terhadap gambar atau visual, bahkan sebelum ia dapat berbicara (Kartaatmadja, 2015). Salisbury (dalam Kartaatmadja, 2015) menyatakan bahwa ilustrasi atau gambar menjadi sarana pertama seorang anak dalam melihat dan mengerti dunia yang belum sepenuhnya mereka alami. Ilustrasi dalam buku anak merupakan seni yang secara bersamaan bersifat kompleks dan halus, yang dapat berkomunikasi pada banyak tingkatan dan meninggalkan jejak yang mempengaruhi tumbuh kembang serta persepsi anak.

METODE

Objek yang diteliti yaitu tokoh utama laki-laki dalam buku-buku yang terpilih. Metode penelitian mengikuti teori Visual Social Semiotics oleh Kress Van Leeuwen. Objek penelitian diteliti menggunakan salah satu metafungsi dalam Visual Social Semiotics tersebut yaitu metafungsi ideasional: meneliti visual atau gambar berdasarkan penggambaran karakter (atribut, ekspresi), aktivitas atau kegiatan yang dilakukan, dan latar atau setting (Royce, dalam Hermawan & Sukyadi, 2017). Setelah melakukan analisis visual menggunakan metafungsi ideasional, tokoh utama kemudian analisis berdasarkan landasan teori konsep maskulinitas untuk mengetahui apabila visual tokoh memiliki stereotip maskulinitas atau tidak.

Sumber data dari penelitian yaitu buku-buku digital terbitan Let's Read yang terpilih. Buku yang diteliti memiliki tingkat kesulitan bacaan level 3, dimana level atau tingkat tersebut menggunakan 3-6 kalimat per halamannya dengan banyak menggunakan kosakata yang umum atau familiar bagi anak, bersamaan juga dengan penggunaan sedikit kosakata yang lebih kompleks atau tidak umum bagi anak. Level kesulitan bacaan tersebut cocok untuk pemaparan tema kesetaraan gender kepada anak usia dini (5-6 tahun) yang umumnya sudah memiliki perkembangan bahasa yang baik serta kepekaan terhadap situasi sosial dan kesadaran akan perbedaan kelamin dan status (Mochtar dalam Silfana, 2018).

Menurut batasan yang telah ditentukan, maka buku-buku yang diteliti yaitu:

  • 1. Jojo dan Ukulelenya (2018)
  • 2. Kenapa Kak Risa Menangis? (2019) oleh Dessy Natalia (Penulis) dan Stella Ernes (Ilustrator)
  • 3. Mardu Bisa Terbang (2015) oleh Iwan Yuswandi (Penulis) dan Joy Subarjah (Ilustrator)
  • 4. Hari yang Sibuk (2018) oleh Widyandita Ghiamadhura (Penulis) dan Widyasari Hanaya (Ilustrator)
  • 5. Jam Marah-Marah (2017) oleh Iwan Yuswandi (Penulis) dan Norma Aisyah (Ilustrator)

Sumber data sekunder diambil menggunakan metode kualitatif yaitu studi literatur, yang berasal dari jurnal, artikel, buku, dan penelitian-penelitian terdahulu. Sumber data sekunder yang dipilih berkaitan dengan konsep gender dan maskulinitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN Jojo dan Ukulelenya

Tokoh utama, yaitu Jojo, digambarkan sebagai seorang laki-laki menggunakan pakaian berupa: jaket biru, celana coklat, dan sepatu kets biru. Rambutnya berwarna hitam kecoklatan, dan ditutupi oleh topi atau beanie berwarna merah. Sepanjang cerita, atribut tersebut tidak berganti.

Gambar 1 Penampilan tokoh utama dalam "Jojo dan Ukulelenya"

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Tokoh digambarkan dengan sifat yang ekspresif. Tokoh banyak menunjukkan ekspresi senang, kagum, ceria. Pada saat menunjukkan ekspresi gembira, tokoh juga digambarkan sambil mengangkat tangannya ke atas kepala dan tersenyum lebar. Kemudian pada halaman terakhir, tokoh digambarkan sedang bermain alat musik ukulele, dengan mata yang tertutup riang dan senyuman yang lebar. Kegiatan yang banyak digambarkan pada tokoh sepanjang cerita yaitu kegiatan bermain bermacam-macam alat musik, seperti: gendang, gong, kolintang, rebana, biola, gambus, sampe, serunai, angklung, dan seruling. Tokoh melakukan kegiatan tersebut sambil menunjukkan yang senang dan curious atau penasaran.

Gambar 2 Latar tempat dalam "Jojo dan Ukulelenya"

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Selain ekspresi senang, tokoh juga digambarkan dengan ekspresi menangis yang ditunjukkan dengan alis yang berkerut, mata yang tertutup sambil meneteskan air mata, mulut yang terbuka lebar, serta postur tubuh yang bungkuk dan posisi tokoh yang duduk di lantai. Terdapat juga ekspresi sedih yang digambarkan dengan alis yang berkerut, mulut yang cemberut atau frowning, dan postur tubuh yang bungkuk sambil duduk di lantai.

Ekspresi sedih dan menangis merupakan salah satu bentuk penentangan stereotip maskulinitas. Laki-laki yang ingin dianggap maskulin tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan sisi emosionalnya, istilah "laki-laki tidak boleh menangis" sudah menjadi suatu aturan tidak tertulis dalam konsep maskulinitas (Demartoto, 2010). Ekspresi menangis yang ditunjukkan oleh tokoh utama dalam cerita menunjukkan kesedihannya akan alat musiknya yang rusak, yang dapat terlihat pada gambar adanya alat musik ukulele dalam kedaan patah di depan tokoh utama. Berdasarkan salah satu area indikator maskulinitas oleh Jane Saltzman Chafetz, didapati juga bahwa tokoh utama menentang

aspek emosi yang menyatakan bahwa laki-laki harus dapat menyembunyikan sifat emosional (sedih,takut) mereka dan tetap terlihat tenang.

Gambar 3 (a) Tokoh dengan ekspresi sedih; (b) Tokoh dengan ekspresi menangis; (c) Tokoh dengan ekspresi senang

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Kenapa Kak Risa Menangis?

Tokoh utama dalam cerita digambarkan sebagai seorang anak laki-laki berambut hitam kecoklatan dengan pakaian berupa kaos biru bergaris dan celana merah. Terdapat juga tokoh pendukung yang berperan sebagai kakak dari tokoh utama, digambarkan

sebagai seorang anak perempuan dengan warna rambut yang sama dengan tokoh utama, mengenakan bando dan kaos merah, serta kain bermotif parang rusak.

Gambar 4 Penampilan tokoh utama dan tokoh pendukung dalam "Kenapa Kak Risa Menangis?" (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang polos dan penakut. Hal ini didapati dari penggambarannya bersama tokoh pendukung. Tokoh pendukung banyak diposisikan berada di depan tokoh utama yang terlihat sedang berlindung dan memegang baju atau lengan tokoh pendukung. Ekspresi yang digambarkan pada tokoh utama juga banyak menunjukkan ekspresi tercengang: pandangan mata menghadap ke tokoh pendukung dengan mulut yang sedikit terbuka, dan alis yang berkerut). Terdapat juga ekspresi heran dan takut yang digambarkan pada saat tokoh pendukung menangis.

Gambar 5 Tokoh utama yang digambarkan berlindung dibalik tokoh pendukung (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Dalam segi kegiatan, tokoh utama digambarkan sedang memanjat pohon bersama dengan tokoh pendukung. Adapula adegan yang menunjukkan tokoh utama sedang bermain dengan mainan pesawat. Latar yang digambarkan ada dua: ruang publik yaitu alam berupa pohon-pohon tempat tokoh melakukan aktivitas memanjat dan ruang privat yaitu rumah tokoh, yang diketahui dari objek-objek perabotan rumah seperti meja, lampu, kursi sofa, serta bingkai foto tokoh utama dan tokoh pendukung yang terdapat pada dinding rumah.

Gambar 6 (a) Latar tempat berupa alam; (b) Latar tempat di dalam rumah

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Tokoh yang digambarkan dengan watak yang penakut menunjukkan adanya bentuk penentangan stereotip maskulinitas dalam buku. Dalam stereotip maskulinitas, rasa takut diidentikan dengan kelemahan. Jika ingin dianggap sebagai laki-laki, seorang harus memiliki keberanian dan tidak menunjukkan rasa takut atau panik (Demartoto, 2010). Adapula salah satu indikator maskulinitas oleh Jane Saltzman Chafetz bahwa laki-laki harus menyembunyikan rasa takut mereka (aspek emosi). Dalam buku "Kenapa Kak Risa Menangis?", dapat terlihat bahwa tokoh utama beberapa kali digambarkan sedang mengumpat atau berlindung dibalik tokoh pendukung (terdapat pada gambar 5) dan bukan menjadi pelindung. Dalam segi sifat dan kepribadian serta peran, tokoh utama dalam buku tersebut divisualisasikan tanpa mengikuti stereotip negatif maskulinitas.

Dalam segi kegiatan serta ruang untuk beraktivitas, terdapat adegan dimana tokoh utama digambarkan berada di ruang publik

berupa alam (terdapat pada gambar 6a) dan melakukan aktivitas memanjat pohon. Jika dilihat dari konsep maskulinitas maka hal tersebut masuk ke dalam stereotip maskulinitas, bahwa laki-laki umumnya digambarkan di ruang publik. Namun, hal tersebut dapat ditentang dengan keberadaan tokoh pendukung yang berupa sosok perempuan yang digambarkan melakukan kegiatan dan berada di ruang yang sama. Menurut Puspitawati (2013), kesetaraan gender merupakan kondisi dimana perempuan dan laki-laki dapat menikmati status yang setara dan kondisi yang sama, sehingga menunjukkan bahwa penggambaran kegiatan dan ruang beraktivitas yang sama pada tokoh utama (laki-laki) dengan tokoh pendukung (perempuan) menunjukkan adanya bentuk kesetaraan.

Mardu Bisa Terbang

Tokoh utama dalam cerita yaitu seorang laki-laki bernama Mardu. Mardu digambarkan dengan rambut hitam, atribut pakaian berupa kaos bergaris merah keorenan dengan celana panjang coklat dan sandal jepit biru, dan kedua tangannya yang berupa sepasang sayap burung. Terdapat tokoh-tokoh pendukung yang tokoh utama temui seiring berjalannya cerita berupa karakter-karakter burung seperti burung kenari, kutilang, merpati, dan pipit.

Gambar 7 Penampilan tokoh utama dalam "Mardu Bisa Terbang" (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Ekspresi yang digambarkan oleh tokoh sepanjang cerita yaitu ekspresi kagum dan senang, yang ditunjukkan ketika melihat tangannya yang berupa sayap (terdapat pada gambar 9). Selain itu, ekspresi tersebut juga ditunjukkan kepada tokoh-tokoh pendukung. Tokoh utama terlihat terkesan dan takjub yang ditunjukkan pada raut wajahnya yaitu kedua alis dinaikkan dan mulut yang terbuka sambil tersenyum. Ekspresi-ekspresi tersebut tokoh tunjukkan sambil terbang, digambarkan dari posisi tokoh yang berada di udara, sejajar dengan ranting dan daun pohon, dan tubuh yang tidak menyentuh tanah. Terdapat juga halaman yang tidak memperlihatkan ekspresi wajah pada tokoh, namun menggambarkan tokoh sedang duduk di atas ranting pohon dengan tubuh yang sedikit bungkuk dan kepala yang mendongak mengarah ke burung-burung di langit, sambil melambaikan tangan (sayap) nya.

Gambar 8 (a) Tokoh utama bersama tokoh pendukung "burung kenari", dengan latar alam; (b) Tokoh utama bersama tokoh pendukung "burung kenari", dengan latar perumahan; (c) Tokoh utama bersama tokoh pendukung "burung kutilang", dengan latar alam;

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Latar tempat menunjukkan tokoh berada di ruang publik yaitu alam (di atas pohon-pohon) dan perumahan. Pada awal cerita, sempat digambarkan juga tokoh berada di dalam kamar tidur nya, yang ditunjukkan melalui objek-objek yang terdapat pada gambar yaitu berupa tempat tidur, lampu tidur, meja kecil, serta mainan-mainan berupa bola sepak, baseball bat, mainan dinosaurus, dan pin bowling.

Dari segi ekspresi serta sifat dan kepribadian, tokoh tidak menunjukkan adanya stereotip maskulinitas maupun adanya penentangan terhadap stereotip tersebut. Namun bentuk stereotip dapat ditemukan pada latar kamar tokoh berupa: benda atau mainan yang dimiliki oleh tokoh. Bola sepak, baseball bat, dan pin bowling merupakan alatalat yang digunakan untuk berolahraga. Jika dilihat dari konteks maskulinitas, benda-benda tersebut diidentikan dengan sifat atletik yang menjadi salah satu stereotip maskulinitas.

Gambar 9 Tokoh utama dengan latar tempat kamar tidur, bersama dengan benda atau mainannya yang terletak di depan tempat tidur (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Dalam segi ruang berkegiatan atau latar tempat, tokoh juga lebih banyak digambarkan berada di ruang publik. Tokoh diperlihatkan melakukan suatu "petualangan" yang ditunjukkan oleh macam-macam pergantian latar ruang publik, kehadiran tokoh-tokoh pendukung yang juga berganti pada setiap latarnya, dan aksi tokoh yang diperlihatkan sedang terbang (menggunakan

tangannya yang berupa sayap). Berjiwa petualang menjadi salah satu aspek penentu maskulinitas seseorang berdasarkan indikator oleh Jane Saltzman Chafetz (dalam Sari dkk., 2019)

Hari yang SIbuk!

Tokoh utama pada buku digambarkan sebagaiseorang anak laki-laki berambut pirang. Pakaian atau atribut yang dikenakan bergantiganti seiring berjalannya cerita dan bergantinya latar tempat dan waktu. Terdapat dua tokoh pendukung yang hanya muncul satu kali (pada halaman 6), kedua tokoh tersebut dapat dikenali sebagai ayah dan ibu dari tokoh utama yang dapat diidentifikasi melalui penampilan mereka serta latar yang menggambarkan adanya bingkai foto bersama di dalam rumah.

Gambar 10 Penampilan tokoh utama dalam "Hari yang Sibuk!" (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Tokoh digambarkan dengan ekspresi yang senang dan ceria, yang diperlihatkan ketika tokoh sedang berada di luar ruangan dan bermain layangan. Terdapat juga halaman yang menunjukan tokoh sedang makan sambil tersenyum dan membuka mulut secara lebar

(terdapat pada gambar 10). Ekspresi lain yang digambarkan pada tokoh berupa ekspresi mengantuk dan tenang atau relaxed.

Rangkaian peristiwa yang digambarkan dalam buku menunjukkan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh utama sepanjang hari, dilihat dari adanya gambar jam yang menunjukan waktu yang berbeda-beda pada tiap halamannya. Kegiatan yang dilakukan tokoh mulai dari bangun tidur, mandi, dan sikat gigi di pagi hari, makan di siang hari, bermain di luar, mandi dan bersih-bersih di sore hari, menyambut kepulangan ayah dan makan malam, hingga tidur lagi.

Latar tempat digambarkan bergantiganti. Tokoh digambarkan berada di kedua ruang publik dan ruang privat. Ruang privat tokoh yaitu di dalam rumah yang ditunjukkan melalui keberadaan objek-objek berupa tempat tidur, meja makan, serta ruangan yaitu kamar mandi. Tokoh digambarkan berada di ruang publik ketika tokoh sedang bermain layangan. Latar tempat dapat didentifikasi sebagai sebuah perumahan di daerah kota, dilihat dari bentuk-bentuk rumah yang digambarkan dengan warna krem dan gedung-gedung dengan warna biru.

Gambar 11 (a) Latar tempat berupa perumahan di daerah kota; (b) Latar tempat di dalam rumah (sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Dalam segi kegiatan dan ruang berkegiatan, masih dapat ditemukan adanya bentuk stereotip maskulinitas. Pada salah satu adegan, tokoh sempat digambarkan sedang berkegiatan bermain layangan di luar (terdapat pada gambar 11a). Bermain layangan merupakan kegiatan yang dilakukan di ruang publik atau di luar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nunun, Wirza, dan Noorman (2020) yang menyatakan bahwa laki-laki lebih banyak digambarkan berkegiatan di ruang publik maka penggambaran kegiatan dan ruang kegiatan pada tokoh utama dalam cerita masuk ke dalam stereotip maskulinitas.

Jam Marah-Marah

Tokoh utama pada buku yang bernama Adi digambarkan sebagai seorang anak laki-laki. Sepanjang cerita, tokoh digambarkan dengan atribut berupa pakaian tidur berwarna biru. Adapula atribut lain yang tokoh kenakan, yaitu seragam sekolah tingkat SD.

Gambar 12 Penampilan tokoh utama dalam "Jam Marah-Marah"

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Tokoh banyak digambarkan dengan ekspresi marah dan kesal, yang dilihat dari raut wajah tokoh berupa alis yang berkerut serta bahasa tubuh berupa tangan yang dikepalkan. Ekspresi marah tersebut tokoh utama tujukan pada tokoh-tokoh pendukung, yaitu karakterkarakter jam yang tergambar sepanjang cerita, yang menunjukkan relasi yang dimiliki oleh tokoh utama dengan tokoh-tokoh pendukung tidak baik.

Latar tempat menunjukkan bahwa tokoh berada di ruang privat yaitu di dalam rumah, dilihat dari objek-objek berupa perabotan rumah seperti: tempat tidur, meja makan, dan kulkas. Terdapat juga latar tempat berupa gudang, dimana pada latar tersebut

tokoh digambarkan dengan ekspresi tersenyum riang bersama dengan tokoh pendukung berupa jam tua. Terdapat dua latar waktu, yaitu: pagi dan malam. Latar waktu pagi ditunjukkan pada arah jarum jam, dan latar malam ditunjukkan melalui keadaan gelap di luar jendela rumah.

Gambar 13 (a) Latar tempat berupa Gudang; (b) Latar tempat berupa kamar tidur di waktu malam hari; (c) Latar tempat berupa ruang makan dan latar malam hari; (d) Jarum jam sebagai penunjuk latar waktu

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

Ekspresi dan sikap marah-marah yang ditunjukan oleh tokoh utama sepanjang cerita menjadi salah satu bentuk stereotip

maskulinitas. Menurut stereotip maskulinitas yang dinyatakan oleh Saguni (2014), laki-laki memiliki kecendrungan untuk meluapkan emosinya dan bersikap agresif. Agresif tersebut tidak hanya dalam bentuk tindakan kasar, namun dapat juga melalui tutur kata dan nada berbicara. Dalam buku "Jam Marah-Marah", tokoh digambarkan dengan ekspresi dan postur tubuh yang menunjukkan bahwa tokoh sedang marah dan berteriak. Emosi tersebut tokoh luapkan tidak saja kepada tokoh-tokoh pendukung yang digambarkan sedang marah juga kepada tokoh utama, namun juga kepada tokoh pendukung berupa jam tua yang dilihat menunjukkan ekspresi menangis. Hal ini menunjukkan bahwa sikap marah-marah dan agresif yang ditunjukkan oleh tokoh utama tidak hanya sebagai perlawanan.

Gambar 14 Ekspresi dan interaksi dengan tokoh pendukung yang ditunjukkan oleh tokoh utama

(sumber: https://www.letsreadasia.org/)

SIMPULAN

Dari tokoh-tokoh utama laki-laki dalam lima buku terpilih terbitan Let's Read! Indonesia dengan tingkat kesulitan bacaan level 3, masih dapat ditemukan adanya bentuk stereotip terhadap maskulinitas dari segi visual. Buku-buku tersebut yaitu "Mardu Bisa Terbang" yang menunjukkan kehadiran objek-objek yang mendukung stereotip serta kegiatan yang dilakukan di ruang publik, "Hari yang SIbuk!" yang menunjukkan tokoh utama berkegiatan di ruang publik, serta "Jam Marah-Marah" yang menggambarkan sifat tokoh yang agresif.

Namun pada tokoh dalam dua buku lainnya, yaitu "Jojo dan Ukulelenya" dan "Kenapa Kak Risa Menangis?", dapat ditemukan bentuk penentangan akan stereotip maskulinitas. Hal ini ditunjukkan dari tokoh yang pada kedua buku tersebut divisualisasikan dengan ekspresi menangis, sedih, dan takut. Ekspresi tersebut merupakan sesuatu yang dianggap tabu dalam maskulinitas, bahwa untuk dianggap sebagai seorang laki-laki sejati maka "lemah" tidak boleh ditunjukkan ataupun dilakukan.

Harapan penulis terhadap penelitian ini yaitu untuk dapat menjadi referensi di kemudian hari, dan dapat diteliti secara lebih mendalam menggunakan cakupan yang lebih luas sehingga mendapatkan hasil yang lebih dalam dan menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

  • Demartoto, A. (2010). Konsep Maskulinitas dari Jaman ke Jaman dan Citranya dalam Media. Jurnal Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik UNS Surakarta, 1–11.
  • Hermawan, B., & Sukyadi, D. (2017). IDEATIONAL AND INTERPERSONAL MEANINGS OF CHILDREN. 7(2), 404–412.
  • Kartaatmadja. (2015). Studi Ilustrasi Karakter Anak Indonesia Untuk Rekomendasi Pembuatan Buku Cergam Anak. Seminar Nasional Cendekiawan 2015, 145–159.
  • Muhadjir, & Darwin. (1999). MASKULINITAS: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarkis. Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University, 4, 1–10.
  • Nunun, N., Wirza, Y., & Noorman, R. S. (2020). Analisa Konten Visual dalam Kategori Gender [The Visual Content Analysis in Gender Categories]. Jurnal Penelitian Pendidikan, 20(2), 294–304.
  • Puspitawati, H. (2013). KONSEP , TEORI DAN ANALISIS GENDER. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 4(1), 1–13.

  • Rifai, A., Ahmadi, A., & Rengganis, R. (2022). Laki-Laki Madura dalam Kumpulan Esai Madura Niskala Karya Royyan Julian Studi: Maskulinitas. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 8(3), 1894– 1910. https://doi.org/10.58258/jime.v 8i3.3542
  • Saguni, F. (2014). PEMBERIAN STEREOTYPE GENDER. Musawa, 6(2), 195–224.
  • Sari, D. P., Effendy, C., & Wartiningsih, A. (2019). MASKULINITAS TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK NADIRA KARYA LEILA S. CHUDORI. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 8(2), 1–11.
  • Silfana, E. (2018). Meningkatkan Kosa Kata Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Bermain Tebak Kata. Fip Umj, 127.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
1.17
FWCIfield-weighted
83th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251

Semantic Profile AI-classified research signals

Art 0.73
level 0
Humanities 0.44
level 1

Institution Network