PENDAHULUAN
Manusia bergerak di muka bumi untuk mencapai suatu tujuan. Membutuhkan rencana dan kemampuan untuk tetap terorientasi saat bergerak. Dikenal dengan istilah navigasi. Navigasi terdiri dari dua komponen : locomotion dan wayfinding. Locomotion adalah gerak yang merupakan respon sensor motorik terhadap kondisi lingkungan, reaksi menghindari rintangan, dan bergerak maju mengikuti penanda (landmarks) yang terlihat. Sementara wayfinding adalah proses rencana dan pengambilan keputusan yang membantu manusia mencapai tujuan. Bersifat tidak spontan/melalui proses berpikir, seperti memilih rute yang paling efisien, mengatur jadwal sekuensial (berurutan/saling terhubung), orientasi terhadap lingkungan baru, dan menterjemahkan arah dan rute secara verbal (Golledge, 1999).
Kereta api perkotaan (on-ground/ underground) yang dikenal dengan istilah MRT (Mass Rapid Transportation) adalah sistem transportasi modern yang diadopsi banyak kota metropolitan di dunia. Jaringan rute yang rumit (apalagi jalur di bawah tanah tidak terlihat langsung)
membutuhkan perangkat informasi untuk para pengguna/calon pengguna yang berencana menjelajahi sudut-sudut kota sesuai kebutuhannya masing-masing. Adalah seorang Henry Beck (1902-1974) seorang desainer peta yang menciptakan peta informasi London Undergroundpertamakali rilis tahun 1933– yang merupakan tonggak sejarah desain sistem informasi/peta jalur transportasi kereta bawah tanah (Allard, 2009). Peta sebagai produk tanda informasi visual menggunakan sistem diagram dengan 3 unsur garis: vertical, horizontal dan garis diagonal 45' yang terinspirasi dari visualisasi sistem/skema arus listrik. Menghasilkan panduan ke delapan arah mata angin: Utara–Timur Laut–Timur– Tenggara–Selatan–Barat Daya–Barat– Barat Laut, sehingga kemudian dikenal dengan sistem octolinearity. Karyanya tersebut berhasil menaklukan keruwetan sistem jalur London Underground menjadi mudah dipahami. Pada perkembangannya sistem octolinearity juga diadopsi oleh sistem perkeretaan kota on ground sebagai alat bantu komunikasi pengguna dengan transportasi rel.
Jakarta dan kota penyangga sekitarnya (jabodetabek) dihubungkan oleh sistem kereta api listrik KRL di atas permukaan tanah (on ground) milik PT KAI. Armada dilengkapi dengan 1.196 unit gerbong yang beroperasi melayani 80 stasiun di wilayah Jabodetabek dengan jangkauan rute sepanjang 418,5 km.
METODE KAJIAN
Menggunakan metode pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti, dalam hal ini adalah peta versi vertical yang berlaku resmi dan digunakan di banyak stasiun KRL Jabodetabek. Dihubungkan dengan teori dan kriteria Peta diagram menurut Mark Ovenden, untuk kemudian diperbandingkan dengan kondisi spatial nyata dari peta geografis Jabodetabek (google map/peta perkotaan resmianalog), lalu dilanjutkan dengan melakukan mini survey untuk proses konfirmasi kepada pengguna (responden) mengenai mispersepsi yang diasumsikan terjadi.
KRITERIA PETA DIAGRAM RUTE
Sistem rute KRL Jabodetabek yang telah dibahas di atas, diinformasikan oleh peta diagram rute yang mengacu pada sistem octolinearity dan masih berlaku/dipergunakan hingga hari ini, yang dijadikan objek pembahasan oleh penulis.
"Metro lines are to a city what veins or nerves are to our bodies. And a good map design is one that enables information to travel in a cleaner and more efficient from eye to brain" Rafa Sanudo, Spain – map designer (Ovenden, 2015)
Sangat jelas disini bahwa kompleksitas jalur rel pada sebuah kota wajib terkomunikasikan dengan jelas kepada pengguna. Pembahasan peta diagram rute KRL Jabodetabek akan mengacu pada prinsip-prinsip yang dijabarkan oleh Mark Ovenden, seorang desainer asal Inggris, dimana peta diagram (skematik) rute yang baik harus mengikuti beberapa kriteria berikut (Ovenden, 2015):
- (1) Simplicity. Tujuan utama peta adalah menyederhanakan informasi yang rumit. Membuat semua lines/jalur mudah diikuti, dirunut dan dipahami.
- (2) Coherence. Lines harus saling berhubungan dalam bentuk yang baik dan runut, sehingga tampak parallel, simetris, cenderung sejajar demi kerapihan dan kenyamanan visual.
- (3) Balance. Peta harus dapat menterjemahkan luasan jangkauan
rel kota secara seimbang dan proporsional untuk membantu/memudahkan fokus pengguna terhadap navigasi.
- (4) Harmony. Peta yang secara visual menarik dilihat (simple, berimbang, harmonis) akan lebih menarik/lebih besar kemungkinan untuk digunakan oleh pengguna.
- (5) Topographicity. Menyederhanakan rupa muka bumi, termasuk posisi/lokasi stasiun terhadap arah mata angin (U-S-B-T) dalam bentuk satu dimensi membutuhkan penyesuaian agar tidak terjadi mispersepsi spatial.
Kriteria-kriteria tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip desain komunikasi visual secara umum, yang akan membantu pengguna dan calon pengguna dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan moda KRL sesuai dengan arah tujuan nya masing-masing.
Analisa Visual Peta Diagram Rute KRL Jabodetabek

Gambar 1. Peta KRL Jabodetabek 2022 – Objek Pembahasan
Terdapat beberapa versi dari peta diagram rute KRL Jabodetabek yang diterbitkan oleh PT KAI selaku otoritas berwenang. Penulis memilih satu peta diagram di bawah ini (versi 2022) sebagai objek pembahasan.
Masalah utama yang akan didiskusikan pada peta diagram octolinearity KRL (objek kajian) adalah potensi mispersepsi spatial dari pemilihan bentuk peta portrait/vertical. Dimana penyederhanaan - visualisasi titik dari 80 stasiun (72 titik henti dan 8 interchange) yang didominasi tampilan vertikal utara – selatan. menghasilkan posisi stasiun yang diasumsikan saling bersejajar (satu level) dan berdekatan. Visualisasi yang ditampilkan mengutamakan kriteriafaktor simplicity: penyederhanaan informasi yang rumit untuk tujuan komunikasi spontan/keputusan cepat dan coherence : keteraturan/runut antar stasiun dalam satu lines. Walaupun dibantu verbal nama-nama stasiun dengan huruf yang memiliki tingkat readability tinggi. Cukup baik pula bila ditinjau dari kriteria harmony: sederhana, keseimbangan visual, simetris, kenyamanan dilihat, tapi di sisi lainnya mengabaikan faktor balance: luasan jangkauan kereta terhadap kota yang tidak imbang– tidak proporsional. Terakhir faktor topograhicity: peta tidak menggambarkan / mewakili rupa muka bumi, arah U-TL-T-TN-S-BD-B-BL yang menjadikannya rancu/mispersepsi. Sangat jelas pada kenyaatan geografis titik –titik stasiun saling berjauhan/menjauh dan tidak sejajar. Hal lainnya juga pada persepsi arah, seolah hanya dua arah utama: menuju utara dan selatan, padahal pada kondisi geografis sebenarnya jangkauan KRL juga memanjang ke arah barat dan timur. Bagi pengguna sangat lah penting untuk mengetahui posisi terhadap arah pergerakan/navigasi untuk proses memahami titik tujuan dan pengambilan keputusan. Arah dan lokasi stasiun KRL
Jabodetabek dapat dilihat pada ilustrasi peta geografi berikut:
Gambar 2. Jalur KRL pada peta geografis google map
Jalur hijau adalah LIN Tanah Abang–Rangkas Bitung (pusat–barat daya), jalur Merah adalah LIN Kota– Bogor/Nambo (utara–selatan/tenggara), jalur Biru adalah LIN ligkar Jatinegara-Cikarang (pusat–loop ke utara lalu ke timur), jalur coklat adalah LIN Duri-Tangerang (pusat–barat) dan terakhir LIN merah muda adalah Kota–Priok (utara pusat–timur laut). Perbandingan titik lokasi stasiun pada google map yang dicontohkan pada gambar 2 cukup menjelaskan arah tujuan dan posisi-posisi stasiun sebenarnya, dimana arah Utara-Selatan dan Barat-Timur yang menjadi acuan untuk membantu kemampuan kognisi spatial dari pengguna/calon pengguna.
Bagaimana mispersepsi spatial yang sangat mungkin terjadi dari proses pembacaan peta KRL vertikal, dapat
dilihat dari simulasi pemotongan bagian bawah peta sebagai berikut:

Gambar 3. Mispersepsi spatial terhadap posisi dan jarak antar stasiun
Bila diambil contoh dari gambar 3, berupa potongan diagram rute KRL bagian bawah, maka secara logika visual: Stasiun Parung Panjang (A) posisinya bersejajar/segaris dan berdekatan dengan Stasiun Depok Baru (B) dan sejajar pula dengan Stasiun Cibitung (C). Stasiun Maja (1) bersejajar dengan Stasiun Bogor (2) dan Stasiun Nambo (3) dengan posisi sejajar : barat ke timur. Stasiun Cilegon (4) dapat dipersepsikan berada dekat/di bawah stasiun Nambo (3) keduanya seolah di selatan. Padahal pada kenyataan di peta geografis, stasiun Cilegon sangat jauh berada di barat laut-utara (ujung pulau jawa). posisi titik-titik stasiun yang
Tabel 1. Survey konfirmasi responden
| No. | Objek Penelitian : Peta KRL vertical | Sangat setuju | Setuju | Tidak setuju | Sangat Tidak setuju | Tidak jawab |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Biasa menggunakan peta KRL | 38 | 12 | 0 | 0 | 0 |
| 2 | Peta sederhana dan menarik untuk dipelajari | 24 | 26 | 0 | 0 | 0 |
| 3 | Peta Mudah dipahami | 0 | 38 | 12 | 0 | 0 |
| 4 | Peta membantu pengambilan keputusan | 18 | 32 | 0 | 0 | 0 |
| 5 | Huruf / verbal terbaca jelas dan dimengerti | 39 | 11 | 0 | 0 | 0 |
| 6 | Pembedaan warna LIN membantu pemahaman arah tujuan. | 42 | 08 | 0 | 0 | 0 |
| 7 | Peta dapat merepresentasikan luasan JABODETABEK | 0 | 2 | 28 | 18 | 02 |
| 8 | Peta memberi gambaran terhadap lokasi geografis stasiun. | 0 | 0 | 28 | 14 | 08 |
| 9 | Peta sesuai dengan arah mata angin yang ada dalam pikiran | 0 | 0 | 42 | 0 | 08 |
| 10 | Terjadi mispersepsi spasial terhadap titik-titik stasiun | 36 | 10 | 0 | 0 | 04 |
dicontohkan saling berjauhan dan tidak bersejajar/level. Persepsi jarak antar stasiun yang berbeda LIN pun menjadi homogen.
Walaupun yang menjadi patokan tujuan adalah nama stasiun yang akan dituju, mispersepsi spatial yang terjadi dapat mendistraksi proses navigasi pengguna/calon pengguna: locomotion (respon sensor motorik terhadap kondisi lingkungan dan mengikuti penanda yang dikenali) dan wayfinding (pengambilan keputusan yang membantu mencapai tujuan melalui proses berpikir).
SURVEY DAN ANALISA
Dari hasil mini-survey kepada 50 responden (random, penumpang harian KRL Jabodetabek, pria dan wanita dewasa) dihasilkan temuan data (konfirmasi) berikut (Tabel1): peta diagram rute versi vertikal di stasiun, masih dibaca dan dimanfaatkan oleh sebagian besar pengguna. Desain yang sederhana juga menarik perhatian untuk dipelajari, cukup mudah dipahami dan membantu pengambilan keputusan. Verbal (huruf, teks) terbaca jelas dan dimengerti, warnawarna LIN juga sudah dapat terbedakan dengan baik. Namun sebagian besar pengguna menganggap peta tersebut tidak dapat merepresentasikan luasan
jabodetabek sesungguhnya, tidak memberikan gambaran terhadap lokasi geografis sesuai kenyataan. Sebagian besar Pengguna juga tidak bisa menghubungkan arah mata angin dalam pikiran dengan visualisasi Utara-selatan peta, dan terkonfirmasi bahwa terjadi mispersepsi spatial: kesalahan persepsi terhadap jarak dan arah diantara titik-titik stasiun yang ada di peta.
KESIMPULAN
Pemilihan bentuk vertical/portrait (dominan utara–selatan) pada visualisasi diagram rute KRL jabodetabek memang ditujukan untuk penyederhanaan dan kemudahan proses membaca informasi. Mengutamakan identifikasi dari titik-titik stasiun sebagai informasi utama, tetapi mengabaikan lokasi geografis, yang berpengaruh terhadap proses kognisi spatial pengguna/calon pengguna.
Peta diagram rute KRL Jabodetabek sebaiknya memperhatikan kriteria/faktor topographicity sebagai acuan. Visualisasi Peta dengan posisi memanjang/landscape lebih leluasa menyatakan arah delapan mata angin/octolinearity. Sehingga mampu mem-visualkan titik stasiun mendekati kenyataan lokasi geografis yang membantu proses navigasi penumpang/calon penumpang dengan lebih mudah dan akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Allard, J. (2009). The Design of Public Transport Maps–Graphic elements and design operations in the representation of urban navigation systems. Dipartimento INDACO. Milano, Politecnico Di Milano. Doctor.
Golledge, R. G. (1999). Wayfinding behavior: Cognitive mapping and other spatial processes. JHU press.
Ovenden, M. (2015). Transit Maps of the World: Expanded and Updated Edition of the World's First Collection of Every Urban Train Map on Earth. Penguin.
