PENDAHULUAN
Relief adalah ukiran visual yang biasanya memberikan kesan tiga dimensi pada permukaan kayu, logam, atau batu. Relief Candi Borobudur terbuat dari batu andesit yang merupakan jenis relief rendah (bas-relief) dimana relief tersebut digunakan untuk melengkapi unsur-unsur candi sebagai bentuk gaya ragam hias atau naratif. 160 dari 1460 panel relief naratif Karmawibhangga yang menceritakan rangkaian cerita pendek, dimana tema utama cerita memuat seperangkat teori didaktik Buddhis tentang karma (sebab-akibat). Pada tahun 1885 peneliti yang dipimpin oleh I.W. Ijzerman menemukan secara tidak sengaja sebuah relief indah di kaki Borobudur. Pada tahun 1890-1891 setiap panel relief difoto oleh Kassian Cephas dan kemudian ditanam kembali (Miksic John N., 2007).
Relief 021 dan 022 ditemukan dan dibongkar pada tahun 1943 oleh Yasujiro Furuzawa dari tentara pendudukan Jepang, 29 tahun kemudian UNESCO membongkar sebagian undag dan lorong di sudut tenggara dan membuka kembali
dua relief 019, 020 sehingga total di sudut tenggara adalah bantuan 019, 020, 021, 022, (Bloembergen M., Eickhoff M., 2020). Hingga saat ini, pengunjung hanya dapat melihat empat relief Karmawibhangga di sudut tenggara candi.
Karma, karman, kamma (Pāli), kôrmô (Bengali), pinyin (Cina), rōmaji (Jepang), wylie (Tibet), gam (Thailand) adalah istilah Sansekerta yang secara harfiah berarti "tindakan" atau "perbuatan", Encyclopedia Britannica (2012). Karma mengacu pada perbuatan yang didorong oleh niat (cetanā), Gombrich (2009), dilakukan dengan sengaja melalui tubuh, ucapan atau pikiran yang mengarah pada konsekuensi masa depan, dimana niat dan tindakan individu (sebab) mempengaruhi masa depan individu (efek, hasil, buah, akibat). Niat tersebut dianggap sebagai faktor penentu dalam bentuk kehidupan selanjutnya, filsafat karma sangat erat kaitannya dengan gagasan kelahiran kembali (reinkarnasi) dan diyakini oleh sebagian besar aliran agama di India terutama Hinduisme, Buddha, Jainisme,
Sikhisme, (Parvesh Singla, 2011). Karmaphala adalah "buah", "efek" atau "hasil" dari tindakan (karma), sedangkan efek berkepanjangan dari pilihan karma disebut sebagai 'pematangan atau maturisasi' (karmavipaka) adalah sebuah konsep fundamental dalam agama Buddha, (Kragh, 2006:11), (Lamotte, 1987).
Pembacaan cerita masing-masing panel relief oleh Sarana pradaksina juga dikaitkan dengan cara penyelenggaraan upacara keagamaan dengan prosesi yang berputar-putar searah jarum jam. Gaya relief memiliki ciri-ciri sebagai berikut: naturalis, berbagai flora dan fauna, karakter manusia dengan wajah yang diarahkan pada penonton (enface), tema cerita dan sumber cerita relief baik menggunakan cerita India maupun cerita lokal, (Munandar Agus, 2004).
Gestur adalah bentuk komunikasi non-verbal atau komunikasi non-vokal di mana tindakan tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan tertentu, baik sebagai pengganti, atau bersamaan dengan ucapan, (Kendon A., 2012) [6]. Penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan pendekatan struktur teks naratif Chatman, tentang bentuk cerita yang dibangun oleh peristiwa dan keberadaan. Penelitian ini berfokus pada gerak tubuh tokoh utama yang membangun adegan berupa cerita dalam relief tersebut. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menemukan nilai lokalitas melalui gerak tubuh (karakter dan tindakan) dalam relief visual Karmawibhangga. Namun. Untuk mengamati gerak tubuh secara cermat, diperlukan pendekatan bahasa visual, khususnya pada Wimba dan Isi Wimba. Sedangkan klasifikasi estetika Navarasa digunakan untuk mencari kekhasan gerak tubuh pada relief Karmawibhangga. Dengan melakukan tahapan-tahapan proses penelitian tersebut di atas, kita akan mengetahui dan memahami urutan tema cerita, berbagai gerak tubuh tokoh utama, dan nilai-nilai lokalitas Jawa Kuna yang terkandung di dalamnya.
METODE
Penelitian kualitatif deskriptif interpretatif dilakukan berdasarkan fokus penelitian, pengumpulan data, proses analisis melalui penggambaran dan interpretasi data, dimana seluruh kemampuan peneliti menjadi dasar interpretasi untuk melihat dunia dan pengetahuan serta landasan teori yang digunakan. Pendekatan struktural dalam
penelitian ini bertujuan untuk membangun gambaran objektif tentang bentuk cerita dan gerak tubuh tokoh utama yang menjadi simpul bagi seluruh komponen naratif dalam relief tersebut. Data penelitian berupa gerak tubuh tokoh utama dalam kumpulan 160 cerita relief Karmawibhangga, baik secara visual maupun tekstual, dimana data literatur tekstual dikumpulkan dari berbagai sumber untuk melengkapi data narasi relief visual yang menjadi satu kesatuan cerita, Dengan demikian kita bisa mengetahui semua gerak tubuh tokoh utama dalam relief tersebut. Penelitian yang dilakukan memerlukan triangulasi data, metode dan teori. Tahapan penelitian berbasis literatur tekstual dan visual adalah sebagai berikut: pengumpulan dokumentasi 160 foto relief digital dan literatur tekstual; survei lapangan dan observasi empat relief yang tersingkap (dapat dilihat); menggabungkan struktur naratif dengan metode bahasa visual, dan estetika Navarasa untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk cerita (peristiwa dan keberadaan) untuk menentukan gerak tubuh karakter utama untuk setiap relief; mencari persamaan dan kesesuaian ekspresi gestur (karakter dan tindakan)
antara hasil analisis teks naratif relief visual dengan metode estetika klasik Navarasa Jawa Kuno, sehingga kesamaan dan kesesuaian dapat menjadi indikator nilai lokalitas pada relief Karmawibhangga Borobudur.
Struktur naratif
Struktur naratif menurut Seymour Chatman (1980), terbagi menjadi dua, yang pertama adalah "cerita atau isi", dan yang kedua adalah "wacana atau ekspresi". Chatman juga menjelaskan bahwa linguistik dan semiotika (studi tentang tanda), menjelaskan perbedaan antara "isi dan ekspresi", antara "substansi dan bentuk". Struktur naratif juga semiotik, mengkomunikasikan makna dengan sendirinya, mengandung bentuk dan substansi ekspresi (wacana), serta memiliki bentuk dan substansi isi (cerita). Untuk mengeksplorasi gerak tubuh karakter utama, kita akan fokus pada bentuk cerita, Dimana bentuk cerita atau isi dibentuk oleh peristiwa dan eksistensi, urutan peristiwa dibentuk oleh tindakan dan kejadian, sedangkan eksistensi dibentuk oleh karakter dan pengaturan, seperti yang digambarkan pada gambar berikut:
Gambar 1 Bentuk cerita, adaptasi dari Chatman (1980)
Menurut Chatman bahwa perbuatan atau perbuatan, tingkah laku, pikiran, sifat, kebiasaan, emosi, keinginan, naluri manusia; rangkaian peristiwa (plot) atau urutan adalah suatu peristiwa pada waktu dan tempat tertentu; kejadian (adegan) dapat dikatakan sebagai keadaan, fenomena, episode; Setting menempatkan tokoh pada tempatnya dan sifat-sifatnya, dengan kriteria sebagai setting, yaitu: Living object (objek pendukung dan objek pendamping), identity (nominasi), interest. Identitas (nominasi) dan minat sebagai objek latar depan dan latar belakang, properti. Dengan demikian, untuk mengetahui gerak tubuh secara mendalam, kita harus menganalisis semua bentuk cerita (isi), yaitu: peristiwa atau plot atau urutan (aksi dan kejadian/adegan) dan keberadaan (karakter dan latar).
Navarasa Aesthetics
Dalam konsepsi estetika India "rasa" berarti "jus, esensi atau rasa", mengenai rasa estetika dari setiap karya sastra, visual, pahatan, musik yang membangkitkan emosi atau perasaan pada pembaca atau pemirsa. Teori rasa pertama kali dirumuskan oleh seorang resi Bharatamuni di Ndtyahdstra pada abad ke-2, (Thampi G. B. Mohan, 1965) teori estetika rasa kemudian berkembang ke Indonesia, namun mengalami evolusi kreatif daerah yang khas (Patton Laurie L., 2005). Hal ini terlihat pada seni sastra Jawa Kuno ``yang ditulis atas perintah Sri Maharaja Jitendra dari Dinasti Sailendra abad ke-8, memberikan pengaruh untuk menciptakan identitas khas dalam simbol ikonografi arsitektur dan relief indah Borobudur termasuk Karmawibhangga, (Sharma Nirmala, 2008)
Gaya visual
Berdasarkan kanon Sthāpatya Kalā (Art of Fabrication) dan Śilpa Kalā (Seni Patung) India kuna, pembagian utama tata bahasa visual pada patung adalah fleksibilitas (bhaṅgaor) dan tubuh melengkung, pada (āsana) atau postur (mudra) atau gerak tubuh. Kurva dan fleksibilitas tubuh disebut bhaṅga.
Bhaṅga diklasifikasikan menjadi tribhaṅga (tiga jenis), yaitu: ābaṅga menggambarkan ketenangan dan kelembutan; samabhaṅga mencirikan sensualitas (sriṅgāra) dan gairah (rajasa); Atibhaṅga menandakan agresi dan kegagahan vīra (keberanian), (Chatterjee, 2016).
Samapādasthānakam (postur tegak stabil dalam keseimbangan), ketika sebuah figur tegak, tanpa ada tikungan atau perpindahan titik berat dari pusat gravitasi atau garis tegak lurus, lengan dan kaki ditempatkan dalam posisi stabil dengan tatapan langsung. Madhyasūtram, garis tegak lurus atau garis tengah adalah yang lewat dari kepala ke bawah, melalui dahi, hidung, dagu, dada, pusar, alat kelamin, antara paha dan kaki dalam sosok tegak.
Panjang wajah atau mukham (wajah) sama dengan panjang telapak tangan, diadopsi sebagai unit dasar dalam tradisi pahatan, dengan ukuran tāla. Ini adalah ukuran linear yang sangat kuno yang berbicara tentang gambar bentuk tubuh sebagai tinggi navamukham (sembilan wajah untuk India Kuna). Dengan skala navatālaa, tiga ukuran utama menurut kanon Sthāpatya Kalā (Art of Fabrication) dan Śilpa Kalā (Seni
Patung) India kuna, yaitu navatālaa (9) sebagai ukuran ideal, kemudian yang lebih besar disebut daśatāla (daśa = 10), dan yang lebih kecil adalah ashṭatāla (ashta = 8), saptatāla (7), shattāla (6), panchatāla (5), chatustāla (4), tritāla (3), dwitāla (2) dan ekatāla (1) membentuk sepuluh tāla. Pada relief Karmawibhangga dengan merujuk konsep skala navatālaa, ditemukan proporsi tubuh manusia ratarata pada ukuran skala saptatāla (7). Hal tersebut sebagai bentuk asimilasi visual yang besar kemungkinan disesuaikan dengan postur dan gestur manusia Jawa kuna. Sistem ukuran penggambaran patung (relief) merujuk pada deskripsi Chatterjee, (2016), seperti pada bambar berikut:
Gambar 2 Proporsi visual relief dalam ukuran tala, adaptasi dari Chatterjee, (2016).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tahap ini akan dijelaskan tentang: model membaca gerak tubuh tokoh utama; klasifikasi gerakan membaca menggunakan definisi Navarasa; contoh gerak tubuh tokoh utama dalam relief yang khas dan unik; Contoh membaca gerak tubuh tokoh utama; sekaligus akan membahas temuan yang terungkap dan implikasi dari temuan tersebut.
Klasifikasi objek gambar relief
Bahasa rupa pada relief - candi memiliki beberapa pola penggambaran yang khas, pola –pola tersebut terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: objek utama, objek penyerta, dan objek pendukung. Objek utama merupakan objek yang menjadi inti dari adegan dalam satu panil. Objek utama dapat digambar sebagai tokoh tunggal ataupun sebagai tokoh yang berkelompok. Objek sebagai tokoh tunggal ditampilkan secara singkat dalam satu adegan. Objek penyerta merupakan objek yang mengiringi kehadiran objek utama. Objek penyerta lazimnya berupa ilustrasi pendukung suasana dalam satu adegan. Objek-objek penyerta lazimnya berbentuk tdak utuh, misalnya digambarkan hanya sebagian dari tubuh.
Objek pendukung dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu latar depan, latar belakang dan orenamen ilustratif atau gambar simbol. Bagian latar depan lazimnya berbentuk tumbuh-tumbuhan atau figur yang melengkapi objek utama. Latar depan dan belakang pada umumnya berperan sebagai penanda peristiwa, keberadaan dan penanda lokasi.. Fungsi kedua latar ini menandakan periodisasi kejadian yang berkonotasi pada urutan kejadian. Berikut contoh gambaran umum objek visual pada relief, sebagai berikut:

Gambar 3 Klasifikasi objek gambar pada relief, Dok. peneliti (2019).
Model membaca gerak tubuh tokoh utama
Sebelum mengamati relief visual, dengan mengacu pada Chatman dan Tabrani, terlebih dahulu kita harus memahami ketentuan umum bahasa relief visual sebagai berikut: membaca secara pradaksina (dari kanan ke kiri); tokoh utama (objek utama) digambarkan
secara utuh (dari ujung kepala sampai ujung kaki); objek gambar relief terdiri atas: objek utama, objek pendamping, objek pendukung; objek utama adalah objek yang menjadi inti adegan; objek pendamping: mengiringi keberadaan objek utama; objek pendukung terdiri atas: latar depan, latar belakang, ornamen/simbolik; latar depan: flora, fauna, bangunan, penanda lokasi; latar belakang: orang, flora, fauna, bangunan, penanda lokasi untuk periodisasi peristiwa; ornamen/simbol: tanda alam, media ritual; gambar relief mengutamakan gestur & postur.
`Dalam kaitannya dengan gerak tubuh tokoh utama, perlu diuraikan: bentuk cerita, yaitu peristiwa (perbuatan dan kejadian) dan keberadaan (tokoh dan latar); Wimba dan Isi Wimba; kemudian mencari jenis klasifikasi gerak Navarasa pada relief tersebut; serta pencarian literatur yang diperlukan untuk menandai identitas dan ciri relief merupakan bagian akhir dari proses analisis. Dengan demikian dilakukan empat tahapan analisis gerak tokoh utama, sebagai berikut: (1) tahap pertama, dengan pradaksina mengamati keseluruhan gambar relief yang bertujuan untuk menentukan tahapan dan batasan urutan
sehingga dapat ditentukan jumlah urutan (plot) dalam relief. Setelah menentukan jumlah sequence, selanjutnya kita membatasi pengamatan pada bagianbagian scene sesuai sequence yang ditentukan. (2) Tahap kedua, yang merupakan tahap utama dari proses analisis, adalah untuk mengetahui karakter utama dengan mengamati gerakan seluruh tubuh: Sub-Imagi (elemen terkecil dari sebuah gambar), Isi Wimba (objek yang digambar atau dideskripsikan); karakter (Identitas dan Minat), tindakan dan sikap. Kami dengan cermat dan sistematis merekam apa yang kami lihat di tubuh karakter utama, mulai dari kepala, leher, tangan, tubuh, dan kaki, sehingga kami akan mengetahui gerakannya secara detail. (3) Tahap ketiga, adalah tahap untuk menemukan hubungan yang signifikan antara tindakan dan perilaku tokoh utama dengan unsurunsur: kejadian dan peristiwa, suasana, latar (objek pengiring, objek pendukung: latar depan dan latar belakang). Tujuannya untuk memastikan bentuk dan kualitas gerak tubuh pada tokoh utama, terutama dalam hal watak dan sikap. (4) Tahap keempat, indikator utama ekspresi estetis Navarasa melalui gerak visual relief Karmawibhangga adalah membangkitkan
emosi atau perasaan bagi yang melihatnya, sehingga pada tahap ini kita dapat mengidentifikasi makna gerak tubuh tokoh utama secara komprehensif. seperti: pola standar ekspresi ikonografi Hindu-Budha, gerak tubuh dan ekspresi khas. unik dalam interaksi sehari-hari masyarakat yang tergambar dalam relief tersebut. Model membaca gerak tubuh tokoh utama dengan empat tahap analisis, seperti tergambar pada tabel berikut:
TABEL 1 MANIFESTASI GESTUR NAVARASA DALAM LIMA PERAAAN POSITIF
Klasifikasi gerak tubuh tokoh utama menggunakan definisi Navarasa
Berikut ini adalah bentuk-bentuk gestur relief yang menunjukkan konsep estetis nawarasa sebagai manifestasi dari nafsu dan keinginan (rasa).
TABEL 2 MANIFESTASI GESTUR NAVARASA DALAM LIMA PERAAAN POSITIF
| Vira Rasa Pahlawan | Abhuta Rasa Kaguman | Srngara Rasa Cinta | Hasya Rasa Gembira | Santa Rasa Spiritualitas | |
|---|---|---|---|---|---|
| Faktor luar | Ketidakadilan Kemanusiaan Perjuangan Keberadaban | Indah Takjup Kesabaran Kekuatan | Keindahan Erotis Eros Harmoni | Sukacita Senda gurau Lucu Tidur | Damai Tenang Surga Metafisis |
| Faktor dalam | Semangat Antusias Murah hati Bersekutu Kebanggaan Perhatian | Terpukau Terkejut Tercengang Heran Ekstasi | Aroma Kerinduan Dambaan Cinta Fisik | Gembira Riang Abai Tertawa | Ketenang an Spiritual Benar Murah hati Kebajikan Kemur nian |
| Mani festasi Gestur | Derma Belas kasih Perjuangan Perlawanan Keberanian Melindungi Menghibur mulia | Keringat Merinding Suara serak Kebingungan Mata melebar Ekstasi Berandai andai | Bijaksana Sopan Merajut Alis Melirik Kasmaran Kesenangan Kesayangan | Senyum Tawa Canda Tindakan aneh | Pertapaan Tempat suci Sungai Hutan Emosi Ilahi Ekstasi Meditasi Pengeka ngan |
TABEL 3 MANIFESTASI GESTUR NAVARASA DALAM EMPAT PERASAAN NEGATIVE
| Karuna | Bhayanaka | Bibhatsa | Raudra | |
|---|---|---|---|---|
| Rasa | Rasa | Rasa | Rasa | |
| Sedih | Takut | Benci/ | Marah | |
| Menjijikan | ||||
| Faktor luar | Berpisah | Ketidaktahuan | Bau | Sukacita |
| Kesusahan | Kebingungan | Darah | Senda | |
| Kehilangan | Kelelahan | Daging | gurau | |
| harapan | Bangkai | Lucu | ||
| Tidur | ||||
| Faktor | Keadaan | Teror | Rasa jijik | Gembira |
| dalam | Sementara | Ketakutan | Muak | Riang |
| Sentimen | Kecemasan | Abai | ||
| Kegagalan | Tertawa | |||
| Manifestasi | Menangis | Neraka | Muntah | Senyum |
| Gestur | Berkumpul | Pembunuhan | Berpaling | Tawa |
| Tertidur | Hantu | Tutup | Canda | |
| Lemah | Kecurigaan | mata | Tindakan | |
| Sedih | Penindasan | aneh | ||
| Putus Asa | Tak sadar | |||
| Menderita | ||||
| Sakit |
Navarasa adalah sembilan perasaan baik dan buruk yang digambarkan dalam relief Karmawibhangga, berbagai kondisi dan situasi sosial tertentu dalam kesan suasana sosial yang baik atau buruk digambarkan dengan metoda navarasa, sebagai manifestasi dari nafsu dan keinginan, merupakan indikasi ikonografi gestur khas Jawa kuna dalam pengaruh India kuna. Estetika Nawarasa diekspresikan sebagai hasil interaksi faktor eksternal dan faktor internal dalam sosok tokoh utama.
Membaca gerak tubuh tokoh utama Relief Karmawibhangga No. 022, sebagai berikut: (1) tahap pertama: mengamati semua relief dan menentukan jumlah urut serta menentukan tokoh utama. Perhatikan seluruh relief dengan seksama, mulai dari kiri ke kanan. Ada batasan urutan cerita dengan pohon sebagai tanda, artinya relief memiliki dua urutan. Ada tokoh utama (laki-laki) dengan sosok yang digambarkan di seluruh tubuh, posisi tubuh pada tingkat tertinggi. (2) Tahap kedua: membaca Wimba dan Isi Wimba, tokoh, tindakan, kejadian pada gerak tubuh tokoh utama: bentuk dan gerak fisik (kepala, tangan, badan, dan kaki), atribut pakaian yang dikenakan dan sikap terhadap lingkungan sekitar. Kepala, menghadap ke bawah ke kanan, memandangi bayinya dengan penuh kasih; badan, posisi badan sedikit berputar dan miring ke kanan; tangan, posisi tangan kiri memegang beban, tangan kanan memegang kain; kaki, posisi bersila, kaki kanan dilipat ke atas dan kaki kiri dilipat ke samping. Kepala dengan ubun-ubun, posisi duduk dengan kaki kanan ditekuk ke atas dan kaki kiri ditekuk ke samping lalu dililitkan kain melilit punggung hingga lutut, posisi duduk sempurna. (3) Tahap ketiga: membaca gerak tubuh utama dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar, suasana dan setting (objek pendamping, objek pendukung: latar depan, latar belakang). Suasana dalam urutan ini adalah "Sebuah keluarga kaya yang harmonis sedang mengobrol di beranda rumah, dengan enam pelayan laki-laki". Kegiatannya di sekitar luar rumah karena ada pohon dan keluarga duduk di sofa, mungkin beranda, dan pohon sebagai batas urutan, Pengaturan dalam urutan adalah: objek pendamping (istri dan ibu duduk, mengais bayi di pangkuannya); Objek pendukung: latar depan (empat pelayan pria duduk berhadapan), latar belakang (dua pelayan pria membawa sesuatu berdiri
menghadap tuannya). (4) Tahap ketiga: mengidentifikasi makna gerak tubuh secara komprehensif dengan estetika Navarasa: tokoh utama, objek pendamping, objek pendukung. Objek utama dan objek pendamping : Srgara Rasa (Erotis), Faktor Eksternal (keindahan, erotis, eros, harmoni); Faktor Internal (aroma, kerinduan, keinginan, cinta fisik). Objek Pendukung (empat pelayan dan dua pelayan), Adbhuta Rasa (Yang Luar Biasa), Faktor Eksternal (indah, menakjubkan, kesabaran, kekuatan), Faktor Internal (terpesona, heran, takjub, menebaknebak).
Tahap akhir membaca adalah melengkapi gestur utama dengan: Identitas, atribut dan kebiasaan (kode budaya) pada tokoh utama. Pada tokoh utama terdapat kode budaya, pakaian dan perhiasan, antara lain: jatakamakuta (mahkota terdiri dari rambut), jamang (mahkota batas tepi rambut dan dahi), kundala (hiasan telinga) hara (kalung), kankana (gelang bagian atas). lengan). keyura (gelang lengan bawah), patta (kain yang membungkus tubuh dan lutut) udarabandha (ikat pinggang), padasaras (gelang kaki) [13].
Aspek komplementer, memaknai gerak tubuh yang telah dibaca, sebagai penutup proses pembacaan gerak visual tokoh utama pada relief Karmawibhangga. Setelah mengetahui keseluruhan sikap dan gerak tubuh dari tokoh utama, seperti: Wimba dan Isi Wimba, peristiwa (aksi dan kejadian) dan keberadaan (karakter dan latar), semuanya telah dibahas. Namun, pada aspek identitas, penamaan dan istilah, serta atribut dan kebiasaan (kode budaya), diperlukan data literatur pendukung yang memadai, seperti berbagai pakaian dan perhiasan yang dikenakan, gaya duduk yoga patta dan gaya tangan mudra yang sering digambarkan dalam karya tersebut. tokoh utama relief Karmawibhangga. Dalam membaca cerita, khususnya dalam membaca tokoh utama, diperlukan kerjasama dari disiplin ilmu yang bersinggungan dengannya. Dengan demikian, pembacaan gerak tubuh tokoh utama menjadi komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Gambar 4 Empat tahap analisis gerakan karakter utama
SIMPULAN
Pembacaan tokoh utama dalam relief Karmawibhangga merupakan langkah awal untuk penelitian naratif visual: substansi cerita, bentuk wacana, substansi wacana, dan sebenarnya membaca tokoh utama hanyalah kajian tentang "bentuk cerita". Peneliti naratif visual terbuka untuk melakukan penelitian terhadap relief cerita Karmawibhangga, terutama pada aspek substansi cerita, bentuk wacana dan substansi wacana.
Sebagian besar pengunjung Warisan Dunia Borobudur tidak memahami cerita relief Karmawibhangga, sedangkan kemampuan membaca dan menafsirkan warisan cerita relief visual, terutama karakter utama dalam cerita relief, sangat berguna bagi pengunjung untuk membangun pengalaman dan kualitas yang baik. pengetahuan. Pendekatan struktur naratif visual dan bahasa visual merupakan kombinasi metode membaca naratif relief visual yang menitikberatkan pada bentuk cerita (peristiwa dan eksistensi) untuk mengidentifikasi dan memahami tokoh utama (karakter dan tindakan) dalam struktur naratif relief Karmawibhangga. Di sisi lain, nilai lokalitas dalam bentuk visual dan cerita relief dapat didekati dengan metode estetika klasik yang sesuai dengan relief Karmawibhangga. Meskipun karyakarya relief Karmawibhangga dipengaruhi oleh seni Hindu-Budha, pengaruh budaya seni ini dapat ditransformasikan oleh nenek moyang kita ke dalam bentuk relief cerita Jawa kuno yang unik dan khas.
Dengan menitikberatkan pada gerak tubuh tokoh utama, 160 relief visual cerita Karmawibhangga dapat menjadi pusat perhatian pengunjung sebagai sumber ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Borobudur memiliki 1460 relief, sehingga penelitian tentang cerita visual pada relief Borobudur membutuhkan perhatian yang lebih baik dari para peneliti, profesional dan pemerintah untuk membangun pengetahuan yang lebih komprehensif dan akuntabel secara ilmiah tentang cerita relief Borobudur.
DAFTAR PUSTAKA
Chatman, Seymour. (1978). Story and Discourse: Narrative Structure in Fiction and Film. Cornell University Press.
Chatterjee, Partha. (2016). The Art of Spatial Flexion in Ancient Indian Sculpture
- Fabrication. Journal of South Asian Studies, 39(3), 547-565.
- Bloembergen Marieke, Eickhoff Martijn, The Politics of Heritage in Indonesia (A Cultural History). Cambridge: Cambridge University Press; 2020
- Gombrich, R., What the Buddha Thought. Equinox Publishing; 2009
- Kendon Adam, Gesture: Visible Action as Utterance. Cambridge: Cambridge University Press; 2004
- Miksic John N., Historical Dictionary of Ancient Southeast Asia. USA: Scarecrow Press, Inc.; 2007
- Miksic John N., Borobudur Golden Tales of The Buddhas. Periplus Editions (HK) Ltd; 1991
- Munandar Agus Aris, Adegan dan Ajaran Hukum Karma pads Relief Karmawibhangga. Seri Terbitan Candi Borobudur – 4. Balai Konservasi Borobudur; 2012
- Tabrani P., Visual Language. Bandung: ITB Publishing Co.; 1990.
- Monier Williams, Buddhism in its connexion with Brahmanism and Hinduism and in its contrast with Christianity. Publisher: John Murray,Albemarle Street;1889.
- Thampi G. B. Mohan, "Rasa" As Aesthetic Experience. Journal of Aesthetics and Art Criticism; 1965).
- Patton Laurie L., The Indo-Aryan Controversy: Evidence, History, and Politics. London: Routledge/Taylor Francis Press; 2005
- Ramachandra Rao, S. K., Pratima-Kosha Encyclopedia of Indian Iconography Vol I – IX, Bangalore – India: Kalpatharu Research Academy Publication; 1992.
- Sharma Nirmala, Aesthetic Pleasure: Representation of Rasas on the Hidden Base of the Borobudur. Uncovering the Meaning of the Hidden Base of Candi Borobudur. Indonesia: The Natioal Research and Development Centre of Archaeology; 2008.
