PENDAHULUAN
Kasus korupsi yang menyangkut tokoh atau figur ternama di Indonesia selalu menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah tokoh politik Setya
Novanto yang tersandung kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) pada tahun 2017 lalu. Kasusnya mencuat di saat perhatian publik sedang banyak tertuju pada dunia politik dan kasus ini pun
terbilang kasus korupsi yang sangat besar, sehingga topik tersebut juga meluas dan menjadi perhatian masyarakat. Hal itu diamplifikasi pula oleh banyaknya media massa yang memberitakan, termasuk Tempo. Media (Tempo), yang terkenal karena reputasinya dan komitmennya terhadap kasus-kasus seperti ini, ikut menyelidiki kasus tersebut secara menyeluruh melalui jurnalisme investigatif yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk majalah. Karena pentingnya kasus tersebut, Setya akhirnya menjadi figur utama pada ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" 16-22 Oktober 2017.
Produk jurnalistik yang diproduksi oleh Tempo, khususnya majalah, memiliki keunikan dibanding media lain, yaitu kelugasan ilustrator Tempo dalam membangun dan menyampaikan opininya melalui ilustrasi digital yang kerap memunculkan signifikasi (Ahdiyat, 2021). Sampul majalah dalam konteks ini tidak hanya menyampaikan isi pesan yang ada di dalamnya, namun memaparkan pula pandangan/perspektif dari majalah tersebut (Kurniawan, 2016).
Hampir setiap rilisan produk media massa yang membahas isu politik memang kerap menghadirkan figur politik sebagai gambar utama sampulnya, semisal majalah
Gatra, Aktual, Tokoh Indonesia, Forum Keadilan, Mimbar Politik, dan lain-lain, termasuk juga Tempo. Media-media tersebut secara konsisten menghadirkan para figur politik dengan jenis sajian gambar sampul yang beragam. Setidaknya terdapat dua kecenderungan yang dapat membedakan karakteristik tiap sampul majalah tadi, yaitu (1) gambar berbasis olah foto dan (2) gambar berbasis ilustrasi/karikatur (walaupun sebetulnya foto pun bisa masuk ke dalam kategori ilustrasi dalam pengertian yang luas). Namun, gambar ilustrasi dalam kategori ini maksudnya adalah gambar yang dibuat dengan keterampilan menggambar menggunakan tangan (hand-drawn) melalui penggayaan tertentu. Biasanya dibuat dari mulai pengolahan ide atau opini terhadap isu tertentu, kemudian diimplementasikan melalui sketsa sampai akhirnya dieksekusi menjadi sebuah gambar baik secara manual (traditionallyhand-drawn) maupun dengan bantuan alat digital (digitally-hand-drawn).
Ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" yang disinggung di atas memiliki indikasi adanya hal-hal implisit tertentu yang hendak disampaikan Tempo termasuk tanda dan makna di dalamnya. Hal tersebut mengindikasikan adanya cukup ruang bagi
publik untuk menginterpretasi dan mengungkap makna-makna yang terkandung dalam ilustrasi sampul majalah tersebut.
Pengungkapan makna atas tandatanda yang hadir pada sebuah 'teks visual' termasuk ilustrasi dalam sampul majalah dimungkinkan menggunakan pendekatan semiotika visual, yaitu bidang semiotika yang khusus mempelajari atau menginvestigasi berbagai makna yang disampaikan melalui penggunaan indera penglihatan (visual sense) (Budiman, 2011). Konsep semiotika dari Roland Barthes dapat menjadi salah satu pendekatan dalam mengungkap struktur tanda visual dan makna yang terkandung dalam sebuah produk jurnalistik, termasuk gambar ilustrasi pada sampul majalah. Semiotika kemudian dipahami Piliang dalam konteks pendekatan dan metode penelitian interpretatif bidang desain sebagai sebuah paradigma (baik dalam pembacaan maupun penciptaan) karena ada diskursus dalam wacana desain yang melihat objekobjek desain sebagai sebuah bahasa. Di dalamnya terdapat tanda, pesan, aturan atau kode, serta orang-orang yang terlibat sebagai subjek bahasa (Piliang, 2003).
Berdasarkan pemaparan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur tanda visual dan mengungkap makna yang terkandung pada ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap". Penelitian ini kemudian dapat bermanfaat dalam memberikan kontribusi pada perkembangan desain komunikasi visual dan jurnalistik, khususnya ilustrasi sampul majalah, baik dalam proses penciptaan objek-objek desain maupun kajian interpretatif atas muatan makna yang terkandung di dalamnya.
Ilustrasi
Ilustrasi berdasarkan bentuk, proses, hingga hasil dapat dipahami sebagai seni yang menyertai proses produksi berupa naskah tercetak, terucap, atau dalam bentuk elektronik. Ilustrasi mampu menjelaskan sebuah maksud tertentu, bisa dengan bentuk karya fotografis, ataupun gambar realistis. Bentuk tersebut dipakai sesuai kebutuhan, namun pada intinya bentuk tersebut dapat dilihat oleh mata (Fleishmen, 2004). Selain itu, ilustrasi dapat menciptakan gaya, sebuah bentuk representasi, maupun penerjemahan suatu objek dari sisi yang bersifat emosional dan fisik, serta mampu mempengaruhi bahkan memprovokasi audiensnya.
Gambar ilustrasi pun dapat berfungsi sebagai penjelas teks atau tulisan. Namun pada perkembangannya, ilustrasi tidak lagi terbatas pada gambar yang mengiringi teks, melainkan telah berkembang ke arah yang lebih luas, gambar tanpa teks pun dapat menjadi sebuah karya yang dikategorikan sebagai ilustrasi (Salam, 2017).
Dalam konteks penelitian ini, ilustrasi pada sampul Majalah Tempo yang dijadikan objek penelitian termasuk ke dalam ilustrasi yang memiliki fungsi penyampaian opini (ilustrasi editorial). Sebab, ilustrasi ini ditempatkan pada produk jurnalistik (majalah) yang di dalamnya berupa kritikan, pandangan, maupun penjelas opini pada persoalanpersoalan kehidupan yang terjadi pada lingkup masyarakat dan kebudayaan tertentu (Salam, 2017).
Majalah dan Perwajahannya
Kata 'majalah' merupakan terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca. Majalah menurut waktu penerbitannya dibedakan menjadi majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan dan lain-lain. Sedangkan menurut isinya, majalah dibedakan menjadi majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu
pengetahuan tertentu dan sebagainya (KBBI Daring).
Majalah memiliki fungsi tertentu yang berbeda satu sama lain. Ada yang fokus pada fungsi sebagai media informasi tentang berbagai peristiwa dalam dan luar negeri, fungsi menghibur, fungsi mendidik, dan fungsi-fungsi khusus lainnya seperti kritik atau opini mengenai peristiwa atau kebijakan tertentu sesuai dengan jenis dan fokus majalahnya (Ardianto dkk., 2007).
Disamping isi majalah (baik verbal maupun nonverbal) perwajahan majalah (sampul) juga merupakan salah satu daya tarik yang ditampilkan oleh majalah. Sampul merupakan tampilan luar dari majalah yang dilihat pertama kali oleh pembaca (Ardianto dkk., 2007). Menarik atau tidaknya suatu majalah sangat bergantung pada jenis majalahnya serta konsistensi majalah tersebut dalam menampilkan karakteristiknya.
Struktur sampul majalah tersusun melalui beberapa elemen, yakni masthead/nameplate (nama, logo, atau identitas majalah), main cover line (topik utama sebagai judul sampul), cover line (judul-judul artikel lain), image cover (visual atau gambar), dateline (tanggal publikasi) (Widyokusumo, 2012).
Gambar 1. Elemen sampul majalah (sumber: Widyokusumo, 2012)
Selain lima elemen di atas, dalam sebuah sampul juga kerap dilengkapi elemen lainnya yang bersifat opsional, seperti selling line (biasanya berupa kalimat singkat sesuai tagline majalah), model credit (nama model yang dipakai sebagai image utama), dan barcode (kode untuk pemindaian).
Menurut Priyanto Sunarto, ada dua hal yang menjadi pertimbangan dalam penentuan gaya visual atau perwajahan media (termasuk sampul majalah), yakni elemen 'konstanta' dan elemen 'variabel'. Elemen konstanta yakni ciri yang tetap dalam perwajahan, agar secara selintas dapat dikenali identitasnya. Sedangkan elemen variabel adalah ciri yang dimungkinkan mencapai variasi untuk mengungkap aktualitas isinya, hingga selalu tampak baru (Sunarto, 2008).
Dalam memilih elemen sampul mana saja yang akan dianalisa dalam penelitian ini, diperlukan landasan mengenai struktur sampul majalah. Setelah diketahui bahwa struktur majalah merupakan unsur-unsur yang membentuk sebuah sistem, maka dilakukan analisa terhadap unsur-unsur yang dapat dikorelasikan dengan konteks yang dimaksud. Dipilihlah tiga unsur yang dianggap dapat menjadi sebuah sistem yang memiliki keterhubungan yakni masthead/nameplate, main cover line, dan image cover. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang termasuk pada elemen 'variabel' yang berubah-ubah dan memungkinkan adanya variasi signifikan pada setiap terbitan edisinya sesuai topik informasi atau pemberitaan yang diangkat.
Semiotika
Menurut Ferdinand de Saussure, secara etimologis istilah 'semiotika' atau 'semiologi' berasal dari bahasa Yunani yaitu semeion yang mengacu pada 'tanda' atau seme yang merujuk pada 'penafsiran tanda'. Semiotika kemudian dapat dipahami sebagai disiplin ilmu yang mempelajari keberadaan dan makna dari tanda-tanda di lingkungan masyarakat (Kurniawan, 2001). Sedangkan menurut Roland Barthes, semiotika merupakan perkawinan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas, kesatuan antara imaji, bunyi, dan konsep (Barthes, 1984).
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa kunci pengertian semiotika adalah pada 'tanda'. Umberto Eco mendefinisikan tanda sebagai suatu dasar konvensi sosial yang telah terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Sobur, 2004). Dengan demikian, tanda adalah sebuah entitas yang memiliki dua sisi, yaitu penanda dan petanda. Penanda dipahami sebagai penghubung yang memerlukan materi, sedangkan petanda adalah konsep dibalik penanda tersebut.
Semiotika Roland Barthes
Pada konsep semiotika struktural Barthes, terdapat beberapa istilah yang menjadi elemen penting dalam membaca tanda, yakni struktur tanda, tingkatan tanda, serta relasi tanda. Struktur tanda terkait dengan penanda dan petanda, tingkatan tanda terkait dengan denotasi dan konotasi, sedangkan relasi tanda terkait dengan metafora dan atau metonimi (Kurniawan, 2001).
Keterkaitan penanda dan petanda disebut signifikasi (signification). Analisis
semiotika berfokus pada operasi dua bagian dalam tanda ini. Antara penanda dan petanda hubungannya bersifat arbitrer (manasuka), atau dengan kata lain, tidak memiliki hubungan yang logis melainkan tergantung pada konvensi pengguna bahasa tersebut (Budiman, 2011).
Denotasi dalam pengertian umum dipahami sebagai makna harfiah atau makna sesungguhnya yang bersifat alamiah (Sobur, 2004). Denotasi dalam konsep semiotika Barthes merupakan sistem signifikasi tingkat pertama. Sementara itu, konotasi dapat didefinisikan sebagai makna yang memiliki 'sejarah budaya di belakangnya', yaitu bahwa konotasi hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan satu tatanan signifikasi tertentu (Danesi, 2010). Konotasi dalam semiotika Barthes disebut juga sebagai sistem signifikasi tahap kedua. Walaupun konotasi merupakan sifat asli tanda, namun konotasi memerlukan keaktifan pembaca agar tanda dapat berfungsi. Konotasi atau makna konotatif mencakup aspek makna yang berkaitan dengan perasaan dan emosi, serta nilainilai kebudayaan dan ideologi (Piliang, 2012).
Metafora merupakan sebuah model interaksi tanda yang padanya
sebuah tanda dari sebuah sistem digunakan untuk menjelaskan makna untuk sebuah sistem yang lainnya. Sedangkan metonimi yaitu interaksi tanda yang di dalamnya sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda yang lain dan terdapat hubungan 'bagian' dengan 'keseluruhan' (Piliang, 2003).
Majalah Tempo
TEMPO Media Grup (PT Tempo Inti Media Tbk.) merupakan perusahaan swasta terbuka, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sahamnya dimiliki beberapa institusi dan sebagian dimiliki masyarakat. Pemegang saham PT Tempo Inti Media Tbk. adalah: PT Grafiti Pers, PT Jaya Raya, Yayasan Jaya Raya, Yayasan Karyawan TEMPO, Yayasan 21 Juni dan Masyarakat. TEMPO Media Grup lebih berfokus pada bisnis jasa informasi, yaitu berupa penerbitan majalah, koran, portal berita, juga televisi (Tempo, 2019b).
Edisi perkenalan majalah Tempo terbit pada Februari 1971 tanpa tanggal dengan sampul berjudul "Tragedi Minarni dan Kongres PBSI". Selanjutnya, 6 Maret 1971 edisi perdananya terbit dengan sampul berjudul "Film Indonesia: Selamat Datang, Sex." Dalam masthead terbitan awal, tertera Yayasan Jaya Raya, Jaya Press sebagai penerbit. Edisi-edisi awal majalah
Tempo mengetengahkan artikel seni, gaya hidup, dan perilaku yang sampai pada taraf tertentu terasa segar dan baru. Meski mulai memiliki pasar, dalam perjalanannya, majalah ini menemui sejumlah tantangan (Tempo, 2019a).
Tempo pernah dibredel oleh pemerintah untuk pertama kalinya pada 1982 dan yang kedua pada 21 Juni 1994 karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim yang berkuasa pada saat itu. Tetapi sejak 12 Oktober 1998, majalah Tempo hadir kembali memerankan fungsi dan tujuannya. Untuk meningkatkan skala dan kemampuan penetrasi ke bisnis dunia media, maka pada tahun 2001, PT. Arsa Raya Perdana go public dan mengubah namanya menjadi PT Tempo Inti Media Tbk. (Perseroan) sebagai penerbit majalah Tempo (yang baru). Dana dari hasil go public dipakai untuk menerbitkan Koran Tempo yang berkompetisi di media harian (Tempo, 2019a).
Setya Novanto dalam Korupsi e-KTP
Setya Novanto merupakan figur politik dari partai Golongan Karya (Golkar) yang pernah terpilih dan menjabat sebagai Ketua DPR RI pada periode 2014-2019. Setahun menjalani sebagai ketua DPR, Setya dilaporkan kasus 'Papa Minta Saham' Freeport ke MKD DPR. Setya pun akhirnya
mengundurkan diri dari jabatan ketua dan digantikan oleh Ade Komarudin. Keduanya dari Fraksi Partai Golkar (FPG). Karir politiknya tidak berhenti di situ, pada Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa) Golkar di Bali, Setya terpilih menjadi Ketua Umum DPP Golkar periode 2016- 2019. Setahun berikutnya, Setya diajukan kembali oleh FPG karena kasus 'Papa Minta Saham' terbukti cacat hukum menurut Mahkamah Konstitusi. Setya pun dilantik kembali menjadi ketua DPR RI 2016-2019 (Viva, t.t.).
Gambar 3. Tampilan sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" (sumber: Tempo, 2017)
Meski sudah menjadi ketua Golkar dan DPR, kasus hukum tetap mengintai Setya Novanto. Kasus korupsi KTP elektronik menyeretnya ke rumah tahanan KPK. Selama proses persidangan sebagai terdakwa, Setya mundur dari jabatannya di Golkar dan DPR RI. Berdasar pada putusan majelis hakim, pada 24 April 2018, Setya akhirnya divonis 15-16 tahun penjara.
Tidak hanya itu, hak politiknya pun dicabut selama lima tahun (Viva, t.t.).
Perjalanan kasus korupsi e-KTP yang menimpa Setya Novanto sebelum dirinya divonis secara kronologis dapat diketahui sebagai berikut bersumber dari Litbang CNN Indonesia.
TABEL 1. KRONOLOGI KASUS KORUPSI E-KTP MENYANGKUT SETYA NOVANTO
| Tgl/Bln/Thn | Peristiwa | |
|---|---|---|
| 9/3/2017 | Sidang perdana kasus korupsi e KTP | |
| 6/4/2017 | Dalam sidang Irman dan | |
| Sugiharto, Setya Novanto | ||
| membantah keterlibatan dirinya | ||
| dalam kasus dugaan korupsi | ||
| pengadaan e-KTP, Setya juga | ||
| membantah menerima | ||
| sejumlah uang dari proyek itu. | ||
| Dalam dakwaan, Setya disebut | ||
| menerima Rp. 574,2 miliar. | ||
| 17/7/2017 | Setya Novanto ditetapkan | |
| sebagai tersangka oleh Komisi | ||
| Pemberantasan Korupsi (KPK). | ||
| 4/9/2017 | Setya Novanto ajukan | |
| Praperadilan. | ||
| 29/9/2017 | Gugatan Praperadilan | |
| dikabulkan, Setya Novanto | ||
| bebas dari status tersangka. | ||
| 31/10/2017 | Setya Novanto kembali | |
| ditetapkan sebagai tersangka | ||
| oleh KPK. | ||
| 15/11/2017 | KPK lakukan jemput paksa. | |
| 16/11/2017 | Setya Novanto alami | |
| kecelakaan, kendaraannya | ||
| ditemukan menabrak tiang | ||
| listrik. | ||
| 19/11/2017 | Setya Novanto resmi ditahan | |
| KPK. | ||
| 30/11/2017 | Sidang Praperadilan kedua | |
| Setya Novanto. | ||
| 13/12/2017 | Setya Novanto jalani sidang | |
| perdana sebagai terdakwa. | ||
| 14/12/2017 | Praperadilan kedua gugur, Setya | |
| tetap berstatus tersangka. | ||
| 4/1/2018 | Hakim tolak eksepsi Setya | |
| Novanto. | ||
| 22/3/2018 | Setya sebut Puan dan Pramono | |
|---|---|---|
| terima aliran dana e-KTP. | ||
| 29/3/2018 | Setya Novanto ditutut 16 tahun | |
| penjara oleh Jaksa Penuntut. | ||
| 13/4/2018 | Sidang Pleidoi Setya Novanto. | |
(Sumber: Litbang CNN Indonesia, 2018)
Sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap"
Edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" merupakan edisi yang terbit 16-22 Oktober 2017 di Majalah Tempo. Konteksnya pada saat itu adalah kasus korupsi e-KTP yang menyeret nama Setya Novanto. Setelah ajuan praperadilan atas Setya dikabulkan, KPK seakan memutar otak untuk kembali menyusun bukti-bukti yang dapat menguatkannya agar Setya Novanto dijadikan sebagai tersangka lagi. Pasalnya, praperadilan dikabulkan bukan karena bukti yang keliru, namun dari segi prosedural penetapan tersangka yang dianggap tak sesuai. KPK "maju-mundur" dalam rangka lebih hati-hati lagi dalam penanganan kasus ini. Setya Novanto seakan dikepung dari berbagai sisi, mulai dari KPK itu sendiri, media, perhatian publik, sampai-sampai pihak Istana (Pemerintah) dikabarkan ikut campur. Menurut pemberitaan media, beberapa jam setelah hakim Cepi Iskandar menggugurkan status tersangka Setya Novanto dalam perkara terkait korupsi e-KTP tersebut, lima komisioner KPK terlihat di Istana Bogor. Seorang pejabat Istana mengatakan kedatangan para komisioner tersebut tidak teragendakan pada hari itu, meski permintaan audiensi dengan Presiden Jokowi sudah lama diajukan. Lima komisioner KPK tersebut menurut pejabat itu, melaporkan perkembangan terbaru pemberantasan korupsi kepada Presiden (Tempo, 2017).
Gambar 3. Tampilan sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" (sumber: Tempo, 2017)
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menurut Kriyantono adalah penelitian yang menggunakan cara berpikir induktif dan berangkat dari hal-hal khusus (fakta empiris) menuju hal-hal yang bersifat umum (Kriyanto, 2006).
Analisis dan pembahasan dalam penelitian ini bersifat deskriptif, sebab pada dasarnya penelitian ini menitikberatkan pada kajian semiotika atau interpretasi tanda dan makna pada ilustrasi figur Setya Novanto di sampul Majalah Tempo yang di dalamnya berupa gambar atau kata-kata bukan angka atau numerik (Bogdan dalam Sugiyono, 2012).
Sumber data primer sekaligus objek kajian pada penelitian ini adalah sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" yang didapatkan melalui situs daring resmi Tempo yakni www.tempo.co. Sedangkan data sekunder yang digunakan pada penelitian ini yakni sumber informasi pendukung berupa data literatur dan dokumentasi dari media digital, media cetak, buku, artikel jurnal, surat kabar, berita, dan segala sesuatu yang dapat membantu proses kegiatan penelitian.
Penelitian ini melalui beberapa tahapan, yakni meliputi:
- 1. Tahap pertama, pengumpulan data, baik data primer maupun sekunder, menggunakan teknik studi literatur dan dokumentasi.
- 2. Tahap kedua, menganalisa struktur tanda visual yang tersusun dalam sampul Majalah Tempo edisi tertentu menggunakan analisa elemen tanda
- dalam teori semiotika Roland Barthes meliputi tingkatan tanda dan makna (penanda-petanda, denotasi-konotasi).
- 3. Tahap ketiga, menyimpulkan hasil penelitian secara deskriptif dan menyeluruh dalam mencapai tujuan penelitian ini.
Karena adanya unsur tanda visual dan verbal pada gambar ilustrasi di sampul Majalah Tempo sebagai objek penelitian, maka metode dan pendekatan yang dipakai untuk mengkaji/mengungkap struktur tanda visual dan maknanya adalah semiotika visual dengan lebih spesifik menggunakan teori semiotika Roland Barthes.
Semiotika Barthes digunakan sebagai metode kajian karena penelitian ini pun memiliki kemiripan dengan produk media massa yang juga dikaji oleh Barthes, seperti halnya film, fotografi, televisi, iklan, dan sebagainya. Selain itu, teori semiotika Barthes berangkat dari teori semiotika struktural Saussure yang memungkinkan pelaksanaan interpretasinya dapat menghasilkan data yang lebih objektif untuk sebuah penelitian interpretatif.
Pada semiotika Barthes, sistem pemaknaan terbagi menjadi dua, yakni tahap pertama disebut denotatif, dan tahap kedua konotatif. Sistem pemaknaan ini kemudian peneliti gunakan dalam
menganalisa struktur tanda dan pengungkapan makna di baliknya.
| 1. Signifier (Penanda) | 2. Signified (Petanda) | |
|---|---|---|
| 3. Denotative sign (tanda denotatif) | ||
| 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF) | 5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF) | |
| 6. CO | NNOTATIVE SIGN | (TANDA KONOTATIF) |
Gambar 4. Peta tanda Roland Barthes (sumber: Cobley & Jansz, 1999 dalam Sobur, 2004)
Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Namun pada saat bersamaan, tanda denotatif juga merupakan penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material: hanya saja jika orang mengenal tanda 'singa', barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Cobley & Jansz, 1999 dalam Sobur, 2004).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian ini merupakan analisa yang berisi semiosis gambar ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap". Semiosis yakni proses suatu tanda menjadi bermakna, bertambah atau berubah maknanya. Hubungan antara sebuah penanda (signifier) dan petanda (signified) tidak terbentuk secara alamiah, tetapi hubungan tersebut terbentuk berdasarkan konvensi, sehingga sebuah penanda pada dasarnya membuka
berbagai kemungkinan peluang dihasilkannya petanda dan makna. Dalam hal ini, semiosis yang dimaksud di atas adalah proses semiotik ilustrasi sampul Majalah Tempo yang dikaji dari yang tadinya hanya berupa penanda denotatif (denotative signifier) bertambah maknanya menjadi petanda konotatif (connotative signified).
Identifikasi Elemen Tanda
Ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" tersusun melalui elemen-elemen tanda berupa visual dan tekstual (verbal) yang menjadi penanda.

Gambar 5. Elemen tanda sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap"
Pada sampul ini terdapat tiga elemen utama, yakni elemen tipografi (verbal/tekstual) bertuliskan "Tempo" sebagai masthead/nameplate yang merujuk pada logo merek Majalah Tempo, elemen visual berupa figur laki-laki berjas sedang bersandar di antara pilar bangunan (image cover), dan elemen verbal bertuliskan "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan "KPK Maju-mundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi
Setya Novanto, Istana Ikut Campur?" yang merujuk pada headline majalah (main cover line).
Analisa Tingkatan Tanda
Elemen-elemen yang menjadi penanda tersebut di atas kemudian dianalisa melalui tingkatan tanda dan maknanya yang mengacu pada peta tanda dalam konsep semiotika Roland Barthes seperti pada Tabel 2 di bawah ini.
TABEL 2. ANALISIS TINGKATAN TANDA
Penanda Denotatif Petanda Denotatif
- (S1) Terdapat tulisan "Tempo" berwarna merah di bagian atas layout sampul menggunakan jenis huruf serif.
- (S2) Figur lelaki memakai pakaian jas kuning kecoklatan, badannya bersandar di antara pilar bangunan bergaya khas klasik/romawi di kedua sisi dengan tumpuan kedua kaki, tangan, dan punggung-nya. Kepala menoleh ke belakang. Ekspresi wajah dengan dahi merengut. Pencahayaan dari bawah. Background ber-warna putih.
- (S3) terdapat elemen tipografi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan "KPK Maju-mundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?"
Tanda (Penanda Konotatif) Petanda Konotatif
- (S1) Melalui elemen tipografi "Tempo" yang berwarna merah dan menggunakan jenis huruf serif, Tempo menampilkan mereknya sebagai merek majalah yang jujur, terpercaya, tegas, dan berani.
- (S2) Figur laki-laki yang digambarkan sedemikian rupa tersebut merujuk pada sosok Setya Novanto. Ilustrasi yang menjadi image cover sampul ini bermakna Setya Novanto sebagai politikus Partai Golkar bersembunyi dari kejaran sesuatu, melibatkan Istana (Pemerintah) dan digambarkan secara dramatis.
- (S3) Elemen tekstual/tipografi bertuliskan "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan "KPK Maju-mundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?" menjadi jangkar pemaknaan ilustrasi terkait. Dalam hal ini, Setya Novanto dikejar oleh KPK untuk ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Diduga ada keterlibatan pihak Istana (Pemerintah).
Tempo sebagai merek majalah yang dicitrakan jujur, terpercaya, tegas, dan berani, mengangkat berita tentang Setya Novanto. Sebagai politikus Golkar, Setya Novanto memiliki indikasi bersembunyi pada Istana (Pemerintah) dari kejaran KPK. Suasana pengejaran dan maju-mundur penetapan tersangka ini pun digambarkan dramatis.
Tanda
Upaya persembunyian dan perlindungan diri Setya Novanto dari kejaran KPK untuk penetapan status tersangka baru dalam kasus korupsinya diduga ikut melibatkan pihak Istana (Pemerintah).
Makna Denotatif
Terdapat tulisan "Tempo" berwarna merah di bagian atas sampul. Figur lelaki yang tampak seperti Setya Novanto memakai pakaian jas kuning kecoklatan, badannya bersandar di antara pilar bangunan bagian atas dengan tumpuan kedua kaki, tangan, dan punggungnya. Kepala menoleh ke belakang. Tiang bangunan bergaya khas klasik/romawi di kedua sisi. Latar berwarna putih. Di bagian bawah terdapat tulisan "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan "KPK Maju-mundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?"
Makna Konotatif
1. Tipografi "Tempo" sebagai penanda merek Majalah Tempo.
Elemen tanda pertama yang muncul dalam Sampul II berdasarkan alur pembacaan yang didasarkan atas sequence maupun emphasis adalah tipografi "Tempo" berwarna merah dengan aksara serif. Tipografi "Tempo" tersebut diletakkan antara latar belakang (background) dan objek di depannya (foreground).
Tipografi "Tempo" memiliki dua dimensi makna tergantung ditempatkan sebagai tanda apa: tanda verbal/tekstual atau tanda visual.
Namun, dalam konteks sampul majalah ini, tipografi "Tempo" merupakan tanda verbal/tekstual sekaligus tanda visual. Sebagai tanda verbal dan tekstual, susunan huruf "T-E-M-P-O" menandakan Tempo sebagai merek majalah. Sementara itu, sebagai tanda visual, ia merupakan logo berbentuk susunan huruf kapital serif (memiliki kait/ekor pada ujungnya) berwarna merah yang menandakan majalah merek Tempo. Lebih jauh, karena tipografi "Tempo" ditulis menggunakan huruf serif, ia menimbulkan makna konotatif.
Gambar 5. Kait di huruf tipografi "TEMPO"
Perbedaan huruf serif dengan sans serif terletak pada ada atau tidaknya kait di ujung huruf, sans serif tidak memiliki kait di ujung huruf, sementara serif memiliki kait di ujung huruf, salah satu contoh huruf serif adalah Bodoni dan Baskerville (Garfield, 2010). Tipografi "Tempo" memiliki kait di ujung huruf T, E, M, dan P, maka ia termasuk huruf serif. Umumnya huruf serif memiliki makna tradisional, selaras, jujur (terpercaya) dan terukur, makna
ini berasal dari inkripsi kerajaan Roma yang menggunakan huruf serif (Garfield, 2010).
Makna jujur dan terpercaya merupakan makna konotasi yang teridentifikasi dalam tipografi "Tempo" yang menampilkan huruf serif. Di samping itu, makna tegas juga muncul sebagai konotasi tipografi ini, makna tegas teridentifikasi karena huruf yang ditampilkan merupakan huruf kapital yang biasanya digunakan untuk menulis sesuatu yang penting seperti halnya judul atau masthead.
Selain dari segi bentuk huruf, tipografi "Tempo" ini menggunkan warna merah. Warna merah sendiri memiliki kecenderungan makna berani (Edwards, 2004). Warna merah juga kerap digunakan dalam desain-desain poster bergaya 'konstruktivisme', sebuah aliran seni yang berkembang luas di Rusia pada awal abad ke-20 (Meggs & Purvis, 2006). Gaya desain konstruktivisme kerap menggunakan elemen desain geometris dengan tipikal pemilihan warna merah dan akromatik (hitam, putih, abu-abu). Desain poster tersebut menjadi representasi dari suara perjuangan dan atau pemberontakan pada masanya.
Baik makna jujur, terpercaya, tegas, maupun berani tersebut kemudian memunculkan semiosis terhadap Tempo sebagai merek majalah. Pada titik ini, Tempo menampilkan mereknya (melalui tipografi logo) sebagai merek majalah yang jujur, terpercaya, tegas, dan berani.
2. Elemen figur laki-laki yang bersandar di antara pilar bangunan sebagai ilustrasi konten berita Tempo.
Dengan ditampilkannya logo Tempo bersamaan dengan ilustrasi Setya Novanto, terbentuk suatu pemaknaan 'berita politik tentang Setya Novanto'. Pemaknaan ini muncul dari kode merek Tempo sebagai majalah sosial-politik. Berbeda misalnya apabila sintagmatik elemen yang muncul adalah logo Trubus dengan ilustrasi Setya Novanto, mungkin akan menghasilkan makna "Setya Novanto dan hobinya mengenai tanaman atau satwa", karena kode merek Trubus adalah majalah pertanian.
Figur dalam ilustrasi bermakna 'subjek Setya Novanto', sebab tampak meniru wajah sosok Setya Novanto dalam realitas. Peniruan tersebut tentu dengan penggambaran yang semirealistik cenderung bergaya karikatur
menggunakan perentangan, pengecilan dan sebagainya di beberapa sisi.
Gambar 6. Referensi wajah Setya Novanto
Penggambaran ini menimbulkan makna bahwa ia merupakan ilustrasi buatan, bukan tangkapan fotografis yang menjiplak realitas dengan pembingkaian.
Ilustrasi wajah Setya Novanto digambarkan dengan alis yang terangkat, gestur kepala yang menengok ke belakang (ke bagian kanan luar sampul majalah) dan pencahayaan yang kuat dari bawah. Alis yang terangkat menimbulkan makna konotatif bahwa Setya Novanto sedang ketakutan, ditambah lagi dengan gestur kepala yang menengok ke belakang. Gestur kepala yang menengok ke belakang itu memberikan indikasi bahwa ada 'sesuatu' (di luar bingkai ilustrasi sampul) yang sedang mengejar subjek di dalam bingkai majalah tersebut. 'Sesuatu' inilah yang membuat Setya Novanto sebagai subjek utama ilustrasi bersembunyi di antara
pilar dengan topangan kaki dan tangannya. Selanjutnya, pencahayaan yang kuat dari bawah menggambarkan keadaan dramatis yang sedang terjadi terhadap subjek tersebut. Pencahayaan kontras seperti ini umum ditampilkan di adegan-adegan maupun poster-poster film horror atau thriller.
Gambar 7. Pencahayaan dalam poster film horror dan thriller
Bagian lain yang perlu diperhatikan dalam elemen visual figur Setya Novanto adalah pakaian yang dikenakannya, bagian ini penting karena pakaian yang dikenakannya dapat bermakna sebagai apa ia ditampilkan dalam ilustrasi sampul tersebut. Dalam ilustrasi sampul ini, Setya Novanto digambarkan mengenakan jas kuning kecoklatan dan sepatu pantofel. Pada dasarnya, jas yang dikenakan tersebut berwarna kuning, tetapi karena efek cahaya dan penurunan saturasi warna jas tersebut sedikit berubah.
Jas berwarna kuning yang dikenakan figur Setya Novanto
berkaitan dengan kedudukannya sebagai politikus dari partai Golongan Karya (Golkar).
Gambar 8. Jas Golkar sebagai referensi elemen pakaian figur Setya Novanto
Jadi, dalam ilustrasi sampul tersebut Setya Novanto ditampilkan sebagai politikus Golkar yang ketakutan dan dalam keadaan dramatis sedang bersembunyi dari 'sesuatu' dengan cara bersandar di antara dua pilar.
Gambar 9. Pilar gedung Istana Merdeka sebagai referensi pilar bangunan pada ilustrasi Gambar IV. 1 Pilar gedung Istana Merdeka sebagai referensi pilar bangunan
Elemen berikutnya yang perlu diperhatikan adalah dua pilar yang menyangga figur tubuh Setya Novanto. Dua pilar tersebut berdasarkan makna konotatif yang telah teridentifikasi (Setya Novanto, politikus Golkar) bermakna Istana Kepresidenan, lebih tepatnya Istana Merdeka. Terdapat kemiripan antara ilustrasi pilar di sampul tersebut dengan pilar di Istana Merdeka.
Lebih lanjut, terdapat elemen tekstual yang bertuliskan "KPK Majumundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?". Dalam hal ini, elemen tekstual "Istana ikut campur?" berperan menjangkarkan makna ilustrasi Istana Kepresidenan yang sebelumnya lebih multitafsir menjadi lebih jelas dan merujuk pada institusi Kepresidenan atau bisa disebut juga Pemerintah Pusat.
Bagian terakhir elemen visual figur Setya Novanto adalah latar belakang putih. Latar ini (yang bercahaya putih) makna konotasinya bisa sangat multitafsir, karena tidak ada jangkar yang membuat makna latar belakang tersebut lebih jelas. Namun, makna latar belakang putih dapat berkaitan dengan pilar putih keabuan yang bermakna Istana Kepresidenan. Dalam konvensi masyarakat Indonesia, putih seringkali dikaitkan dengan makna kesucian. Makna tersebut tercermin dari ucapan Soekarno bahwa merah adalah lambang keberanian dan putih merupakan lambang kesucian, bendera merah-putih sudah ada sejak 6.000 tahun lalu berdasarkan artikel Kenapa
bendera Indonesia Merah-Putih? Ini jawaban Soekarno (merdeka.com, 2017). Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa Istana dalam kasus ini memiliki kesan suci dan makna yang berkaitan dengannya seperti juru selamat, malaikat dan sebagainya.
3. Elemen tekstual bertuliskan "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan "KPK Majumundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?" sebagai jangkar makna.
Elemen terakhir yang tampak adalah elemen tekstual (verbal) yang berukuran relatif lebih kecil dibanding elemen-elemen sebelumnya. Tulisan dalam elemen ini terbagi dua, yang pertama bertuliskan "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" dan yang kedua bertuliskan "KPK Maju-mundur dalam Menetapkan Status Tersangka Baru Bagi Setya Novanto, Istana Ikut Campur?". Tulisan dalam elemen terakhir ini berperan sebagai 'jangkar' yang berfungsi memperkuat makna atas tanda-tanda visual yang sebelumnya bersifat multitafsir (Piliang, 2004).
Tulisan pertama, "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" menjangkarkan keadaan ilustrasi bahwa Setya Novanto
digambarkan sedang bersembunyi. Tulisan tersebut juga menjangkarkan bahwa figur Setya Novanto sedang dikejar oleh 'sesuatu' yang telah dipaparkan dalam analisis elemen sebelumnya. Namun, berdasarkan kalimat yang bertuliskan "KPK Majumundur dalam Menetapkan Status Tersangka…", dalam elemen ini 'sesuatu' tersebut menjadi lebih jelas yakni merujuk pada institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Gambar 10. Keterkaitan (jangkar) tanda tekstual dan visual pada sampul majalah
Selain itu, karena subjek tersebut adalah KPK, maka dapat diindikasikan bahwa ini terkait dengan suatu kasus korupsi, dan kasus yang saat majalah edisi ini dirilis sangat terkait dengan kasus korupsi e-KTP (lihat Tabel 1).
Dari dua kalimat dalam elemen tekstual, dapat diidentifikasi bahwa pada ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi ini memiliki setidaknya tiga subjek. Subjek pertama adalah "daku", yaitu Setya Novanto. Subjek kedua adalah KPK, yang mengejar Setya Novanto dan subjek tersebut berada di luar bingkai sampul. Subjek kedua tersebut yang menarik dituliskan "…kau kubekap" yang diawali "kejarlah daku…". Bagaimana subjek pertama (Setya Novanto) mengancam membekap (bisa berarti 'membungkam') subjek kedua (KPK)? Pada titik inilah terdapat peran subjek ketiga yang dipertanyakan dalam sampul ini, yaitu 'Istana'. Istana yang dimaksud berdasarkan analisa elemen sebelumnya merujuk pada satu institusi, yakni Kepresidenan (pemerintahan pusat). Subjek ketiga disimpulkan melalui ilustrasi dua pilar serta teks yang menjangkarkannya, yaitu "…Istana ikut campur?".
SIMPULAN
Berdasarkan analisis struktur tanda visual dan makna-makna di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sampul Majalah Tempo terdiri dari beberapa elemen utama, di antaranya masthead (nama/logo majalah), main
cover line (topik utama/headline), dan image cover (gambar ilustrasi). Ketiga elemen tersebut menjadi elemen yang diidentifikasi dalam analisa struktur tanda visual. Elemen tersebut menjadi penanda yang kemudian berubah maknanya, dari yang tadinya hanya penanda denotatif (denotative signifier) bertambah menjadi petanda konotatif (connotative signified).
2. Makna yang terkandung dalam ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi "Kejarlah Daku, Kau Kubekap" (konotatif) yaitu: Tempo sebagai merek majalah yang dicitrakan jujur, terpercaya, tegas, dan berani, mengangkat berita tentang indikasi langkah politikus Golkar, Setya Novanto, yang secara dramatis menggunakan pemerintahan pusat sebagai alat persembunyian dirinya dari kejaran KPK terkait penetapan status tersangka baru dalam kasus korupsi KTP elektronik.
Terlepas dari seberapa efektif atau tidaknya fungsi komunikasi sampul Majalah Tempo terhadap pembacanya, dengan terungkapnya makna implisit pada kajian ini menunjukkan bahwa fungsi signifikasi pun menjadi sesuatu yang penting dalam ilustrasi sebuah sampul majalah.
Kajian ini hanya menggunakan perspektif kecil dari banyaknya kajian yang dapat dilakukan terhadap sebuah ilustrasi sampul majalah. Ada banyak aspek, sudut pandang, dan metodologi lainnya yang dapat digunakan. Begitu juga halnya dengan gambar ilustrasi pada sampul majalah, masih banyak ilustrasi terapan lainnya yang dapat dijadikan sebagai objek penelitian desain menggunakan pendekatan semiotika (visual). Peneliti mengharapkan adanya penelitian lanjutan, khususnya yang berkutat di bidang gambar ilustrasi dan semiotika visual, tentu dengan sudut pandang yang lebih beragam, kompleks, mendalam, dan komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
- Ahdiyat, A. N. (2021). Analisis Semiotika Visual Pada Ilustrasi Sampul Majalah Tempo Edisi "Jerat Kedua." Logika: Journal of Multidisciplinary Studies, 12(2), 156–175.
- Ardianto, E., Komala, L., & Karimah, S. (2007). Komunikasi Massa Sebuah Pengantar. Balai Pustaka.
- Barthes, R. (1984). Image – Music – Text. Hill and Wang.
- Budiman, K. (2011). Semiotika Visual. Jalasutra.
- Cobley, P., & Jansz, L. (1999). Intoducing Semiotics. Totem Books.
- Danesi, M. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media (Admiranto (Penerjemah), Ed.). Jalasutra.
- Edwards, B. (2004). Color. Penguin Group (USA) Inc.
- Fleishmen, M. (2004). Exploring Illustration. Thomson Delmar Learning.
- Garfield, S. (2010). Just My Type: A Book About Fonts. Profile Books.
- KBBI Daring. (t.t.). majalah. BPPB Kemendikbud RI. Diambil 7 Mei 2024, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/maja lah
- Kriyanto, R. (2006). Teknik Praktik Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Publik Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Kencana Prenada Media.
- Kurniawan. (2001). Semiologi Roland Barthes. IndonesiaTERA.
- Kurniawan, E. (2016). Kajian Makna di Balik Sampul Majalah Tempo (Studi Kasus "Sampul Rekening Gendut Perwira Polisi" Edisi Senin, 28 Juni 2010). Dimensi DKV, 1(1), 47–56.
- Litbang CNN Indonesia. (2018, April 24). Jelang Sidang Vonis & Perjalanan Kasus e-KTP Setya Novanto. CNN Indonesia. https://www.youtube.com/watch?v=FYn Fs2Dp18o
- Meggs, P. B., & Purvis, A. W. (2006). Meggs' history of graphic design. John Wiley & Sons.
- merdeka.com. (2017). Kenapa bendera Indonesia Merah-Putih? Ini jawaban Soekarno. merdeka.com. https://www.merdeka.com/peristiwa/ke napa-bendera-indonesia-merah-putihini-jawaban-soekarno.html
- Piliang, Y. A. (2003). Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Jalasutra.
- Piliang, Y. A. (2004). Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks. Mediator, 5(2), 189–198.
- Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika: Gaya, Kode dan Matinya Makna. Matahari.
- Salam, S. (2017). Seni Ilustrasi: Esensi, Sang Ilustrator, Lintasan, Penilaian. Badan Penerbit UNM.
- Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Remaja Rosdakarya.
- Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. CV Alfabet.
- Sunarto, P. (2008, Februari 16). Perwajahan Mendukung Isi. dgi.or.id. http://dgi.or.id/read/observation/perwa jahan-mendukung-isi.html
- Tempo. (2017, Oktober 14). Kejarlah Daku, Kau Kubekap. datatempo.co. https://www.datatempo.co/majalah/det ail/MC201710140002/kejarlah-dakukau-kubekap
- Tempo. (2019a). Sejarah Tempo. tempo.id. https://www.tempo.id/corporate.php
- Tempo. (2019b). Tempo Media Group. tempo.id. https://www.tempo.id/corporate.php
- Viva. (t.t.). Siapa-Setya Novanto. viva.co.id. Diambil 9 Mei 2024, dari https://www.viva.co.id/siapa/read/78 setya-novanto
- Widyokusumo, L. (2012). Desain Sampul Majalah Sebagai Ujung Tombak Pemasaran. Humaniora, 3(2), 637–644.
