PENDAHULUAN
Ruang publik yang juga sering kali disebut ruang terbuka publik, yang didefinisikan sebagai ruang di luar ruang privat yang memberikan kebebasan bagi individu dan kelompok masyarakat untuk berinteraksi dan beraktivitas (Hantono & Ariantantrie, 2018) merupakan salah satu area yang sering
menjadi ruang aktivitas anak usia dini bersama orang tua atau komunitasnya. Di era modern ini, melalui adanya taman bermain, ruang publik ramah anak, dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), ruang publik bertransformasi menjadi ruang belajar, bermain, dan bereksplorasi yang menarik untuk anak.
Dengan masuknya ruang publik dalam area aktivitas & interaksi anak, isu keselamatan dan keamanan anak di ruang publik juga berkembang. Meskipun pada masa perkembangan kognitif anak usia dini mereka menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, namun anak masih memiliki keterbatasan dalam mengenali dan memahami risiko yang rumit, sehingga cenderung lebih rentan terhadap situasi berbahaya tanpa menyadarinya (Dwi Herbowo et al., 2025). Berdasarkan Data Pengaduan KPAI (2024), kasus penculikan pada anak mengalami peningkatan dengan total 128 kasus. Sebagai upaya preventif menjaga keselamatan anak di ruang, diperlukan berbagai langkah edukasi inovatif yang bisa dimulai dari keluarga dan sekolah.
Buku ilustrasi anak adalah salah satu media edukasi populer untuk anak usia dini yang menggabungkan antara gambar dan tulisan. Martinez & Harmon (2012) menggabungkan beberapa definisi dari para ahli mengenai buku ilustrasi atau buku cerita bergambar untuk anak-anak yang berarti sebuah buku dengan dominasi peran ilustrasi dalam penceritaan (storytelling) serta memiliki hubungan antara gambar dan teks. Definisi buku ilustrasi anak inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Dari kedua elemen utama buku ilustrasi, gambar dan teks, elemen gambar sering dipandang sebelah mata. Padahal kedua elemen verbal (teks) dan visual (gambar)
dalam buku ilustrasi anak adalah karakteristik unik yang peranan yang penting untuk membentuk pemahaman anak terhadap pesan yang disampaikan (Nikolajeva & Scott, 2006). Sinergi yang baik dan memiliki kompleksitas tertentu antara teks dan ilustrasi pada buku ilustrasi akan menciptakan pengalaman pemaknaan yang lebih mudah dan menyenangkan untuk anak. Untuk itu, penulis dan ilustrator perlu memberikan perhatian khusus terhadap hubungan gambar-teks pada buku ilustrasi untuk anak usia dini.
Relasi gambar-teks pada buku cerita anak dapat dikaji dari makna gambar dan bentuk keterkaitan antara teks dengan gambar. Menurut teori dari tokoh semiotika Ferdinand De Saussure, gambar dan tulisan pada buku cerita anak merupakan bagian dari tanda (siginifier) yang membentuk suatu petanda (signified). Selain itu, menurut Martinez & Harmon (2012) hubungan teks dan ilustrasi juga membentuk serangkaian pola relasi, yaitu: symmetry (menyampaikan pesan yang sama), complementary (saling melengkapi), enhancement (gambar sebagai ekstensi teks), counterpoint (menyampaikan pesan yang berbeda), dan contradiction (saling berlawanan).
Maka dari itu, penelitian ini akan mendiskusikan relasi visual-verbal yang diterapkan pada buku ilustrasi "Ibu di Mana?" yang mendukung upaya perlindungan diri dari orang asing di ruang publik agar dapat
digunakan sebagai media literasi digital untuk anak usia dini.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berdasarkan kajian terhadap objek penelitian buku ilustrasi anak yang berfokus pada buku berjudul "Ibu di Mana?" yang merupakan karangan dari Erawati Heru Wardhani, diilustrasikan oleh Roswita Nerrisa Arviana, dan diterbitkan oleh Media Cendekia Muslim (MCM) pada Agustus 2025. Data yang disajikan berupa informasi buku yang terdiri dari gambar dan teks. Data kemudian dianalisis menggunakan teori semiotika Ferdinand De Saussure dan picture-text framework dari Nikolajeva & Scott.
Teori semiotika Ferdinand De Saussure mengkaji tanda "sign" sebagai sebuah sistem yang memiliki struktur dan cara kerja (Yakin & Totu, 2014). Tanda (sign) merupakan hasil dari gabungan penanda (signifier) dan petanda (signified). Sedangkan picture-text framework dari Nikolajeva & Scott
Teori Semiotika Ferdinand De Saussure
Semiotika adalah studi mengenai tanda (sign) yang merupakan bagian dari proses
berkomunikasi, dimana masing-masing tanda merepresentasikan suatu objek, pemikiran, keadaan, perasaan, dan lainlain (Darma et al., 2022). Menurut Ferdinand De Saussure, tanda (sign) adalah objek fisik yang memiliki makna dan terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah aspek material dari bahasa yang bisa didengar, dibaca, atau dilihat; petanda adalah aspek mental dari bahasa yang diajukan. Pembaca tanda menghubungkan aspek material dan mental dari bahasa yang kemudian membentuk tanda.
Tabel 1 Konsep Tanda dalam Semiotika
| TANDA | |
|---|---|
| Penanda | Petanda |
| Citra-bunyi | Konsep |
Gambar 1 Konsep Semiotika Saussure
Makna pada tanda tidak bersifat mutlak dan dapat mengalami pergeseran makna, bergantung pada bagaimana sistem tanda dibentuk oleh pembaca tanda. Maka dari itu, suatu tanda, misal warna tertentu, bisa memiliki beragam arti, sesuai dengan dimana dan bagaimana kelompok masyarakat mengartikan tanda dengan berbagai konsep bahasa, budaya, dan pengetahuan kolektif yang membentuk makna tanda tersebut. Selain itu, tanda juga bisa memiliki makna konotatif dan denotatif. Makna denotatif adalah makna sebenarnya dari tanda tersebut, sedangkan makna konotatif adalah makna kiasan atau makna lain yang tersembunyi di balik makna sebenarnya dari tanda tersebut.
Picture-text Framework Nikolajeva dan Scott (2006)
Pada buku ilustrasi anak, elemen teks dan ilustrasi saling berhubungan untuk membangun sebuah cerita. Hubungan antara teks-gambar terbagi menjadi dua tipe utama: Kongruen (teks dan gambar selaras, saling melengkapi, atau bergantian menceritakan cerita) dan Deviasi (gambar menyimpang atau menentang teks, bahkan menjadi kontrapoin). Nikolajeva dan Scott (2006) lebih lanjut membagi kompleksitas analisis hubungan teks dan ilustrasi dalam buku ilustrasi anak dan mengidentifikasi 5 jenis hubungan, yaitu:
• Simetri (symmetry): Kata dan ilustrasi menyampaikan makna yang sama.
- Komplementer (complementary): Kata dan ilustrasi memberikan informasi berbeda namun saling melengkapi.
- Peningkatan (Enhancement): Kata dan ilustrasi saling memperluas makna.
- Kontra poin (contrapoint): Kata dan ilustrasi menceritakan kisah berbeda.
- Kontradiksi (contradictory): Kata dan ilustrasi tampak saling bertentangan.
Salah satu dari kelima jenis hubungan gambar-teks ini akan selalu muncul dalam setiap halaman buku ilustrasi anak sesuai dengan kebutuhan penceritaan.
Buku Ilustrasi Anak (Picture Book) dan Perjenjangan
Buku ilustrasi anak (picture book) adalah karya cetak/digital dalam bentuk buku yang menggunakan teknik visualisasi konten dalam bentuk gambar, lukisan, foto, dan teknik visual lain untuk menekankan keterkaitan subjek dengan teks untuk membantu pembaca memahami isi bacaan, membangkitkan imajinasi, serta memperjelas dan memperindah cerita sehingga tulisan lebih mudah dipahami (Puspita & Surabaya, 2024). Buku ilustrasi adalah salah satu media edukasi yang sangat digemari oleh anak-anak usia dini yang memiliki ketertarikan visual tinggi dan baru membangun kebiasaan literasi.
Maka dari itu, penting untuk memberikan buku ilustrasi yang sesuai untuk mendukung pemahaman anak usia dini.
Buku ilustrasi anak menekankan keterkaitan antara teks dan grafis untuk menyampaikan cerita (Ghozalli, 2020). Berbeda dengan buku cerita anak (storybook), ilustrasi pada picture book ikut berperan menyampaikan cerita, sehingga ilustrasi memiliki proporsi yang lebih besar dibanding teks. Bentuk dasar ilustrasi yang dapat dikategorisasikan adalah:
a. Tebaran/spread
Ilustrasi tebaran atau spread adalah gambar yang membentang di dua halaman (satu bukaan buku) untuk menonjolkan satu adegan, biasanya berupa latar atau penjelasan lokasi dan era cerita, sehingga anak dapat mengamati detailnya lebih lama; jika ilustrasi tersebut memenuhi area hingga tepi halaman disebut full bleed, yakni area cetak yang melampaui batas potong kertas.
b. Satu halaman/single
Ilustrasi satu halaman adalah gambar yang memenuhi dan mendominasi satu halaman, baik penuh hingga tepi (full bleed) maupun dibingkai. Pada halaman isi, ilustrasi ini umumnya menampilkan cerita terpisah dalam satu tebaran, sehingga jika terdapat dua ilustrasi single dalam satu
tebaran (double single pages), perbedaan keduanya perlu diperhatikan.
c. Lepasan/spot
Spot adalah ilustrasi berukuran lebih kecil dari satu halaman, sering disusun beberapa dalam satu halaman atau tebaran untuk menampilkan banyak aktivitas dalam satu waktu. Biasanya latarnya sederhana atau dieliminasi agar fokus pada aksi utama yang bersifat dinamis.
d. Variasi
Gabungan dari beberapa kategori ilustrasi yang sudah disebutkan sebelumnya yang disesuaikan dengan kebutuhan situasi, adegan, dan dimensi waktu dalam cerita. Menurut Bunanta (2008) dan Asri (2016) (Wulandari et al., 2024), buku anak sebaiknya layak konsumsi serta mampu memenuhi kebutuhan emosi, intelektual, estetika, dan empati anak sejak interaksi fisik dengan bacaan hingga proses membacanya, dengan pendekatan visual yang selaras dengan imajinasi dan tahap perkembangan usia mereka. Perjenjangan pada buku anak berdasarkan Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemdiksamen RI) (2022) dibagi ke dalam 5 tingkatan, yaitu: Jenjang
Pembaca Dini (A), Jenjang Pembaca Awal (B1, B2, B3), Pembaca Semenjana (C), Pembaca Madya (D), Pembaca Mahir (E). Untuk anak usia dini, buku ilustrasi anak masuk dalam kategori A dan B dengan karakteristik masing-masing jenjang adalah sebagai berikut:
a. Jenjang Pembaca Dini (A)
Umumnya ditujukan untuk anak usia 0–7 tahun. Terdiri atas 2―3 suku kata per kata, 2―5 kata konkret per kalimat, berpola kata repetitif, belum menggunakan aturan ejaan. Ketentuan grafis: Bentuk dan ukuran buku bebas, 8―12 halaman; Proporsi gambar 90%; Warna primer dan sekunder; Jenis font untuk judul tak berkait (sans serif).
b. Jenjang Pembaca Awal (B1, B2, B3) Buku bergambar atau model buku alternatif (seperti buku tegar, buku kain, buku muncul). Terdiri atas 1―3 kata konkret per halaman, belum menggunakan aturan ejaan. Ketentuan grafis: Bentuk dan ukuran buku bebas, 8―16 halaman; Proporsi gambar 90%; Warna primer, sekunder, dan netral; Jenis font untuk judul tak berkait (sans serif) minimal 28 pt.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2 Informasi terkait objek kajian buku ilustrasi anak "Ibu di Mana?"
| Judul | Ibu di Mana? |
|---|---|
| Penulis | Erawati Heru |
| Wardhani | |
| Ilustrator | Roswita Nerrisa |
| Arviana | |
| Jumlah Halaman | 24 |
| Penerbit | Media Cendekia |
| Muslim (MCM) | |
| Bulan & Tahun | Agustus 2025 |
| Terbit | |
| ISBN | 978-634-7154-51-4 |
Berikut adalah hasil analisis dan elaborasi dari hubungan gambar-teks dalam buku ilustrasi anak "Ibu di Mana?" yang meliputi kajian makna berbagai tanda serta hubungan antara teks dan ilustrasi pada setiap halaman buku.
Gambar 2 Cover Depan + Belakang (sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Ibu di Mana?", teks keterangan penulis dan ilustrator, dan teks sinopsis cerita.
Gambar: Di bagian sampul depan, anak laki-laki berdiri di tengah dan di kelilingi berbagai macam kios yang ada di pasar dan beberapa tumbuhan. Di sampul belakang, sebuah pos keamanan dengan beberapa tumbuhan dan pohon.
Petanda (Siginified)
Tulisan "IBU DIMANA?" menunjukkan judul buku dan tema cerita yang menggambarkan usaha tokoh mencari ibunya. Ekspresi anak bernama Titan terlihat bingung dengan mata memandang ke atas dan jari telunjuk menyentuh dagu. Mata Titan melihat ke atas, di mana terdapat kios-kios yang mengelilinginya, menggambarkan lokasi yang sedang ia amati dan berusaha pahami. Titan menggunakan baju & sepatu warna biru yang memiliki makna konotatif ketenangan dan kepercayaan diri Titan dalam menghadapi situasi ini. Pada sampul belakang, terdapat pos keamanan yang berdiri kokoh, berwarna biru juga, yang bermakna konotatif rasa aman dan stabilitas. Teks Sinopsis memberikan gambaran jalan cerita yang akan dilalui pembaca.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Pada cover, kata dan ilustrasi memiliki hubungan perluasan makna (enhancement), di mana gambar memberikan perluasan makna judul "IBU DI MANA?" dengan memberikan konteks lokasi pasar yang identik dengan berbagai kios. Hubungan gambar-teks pada teks keterangan penulis dan ilustrator dengan ilustrasi adalah kontrapoin karena menjelaskan hal yang berbeda. Sedangkan pada cover, terdapat hubungan komplementer (complementary) karena memberikan informasi yang berbeda, namun saling melengkapi terkait usaha Titan mencari Ibu dan keberadaan Pos Keamanan yang akan membantu usaha Titan.
Gambar 3 Halaman 4-5
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan ikut ibu ke pasar. Banyak buah dan sayur segar."
Gambar: Titan sedang bergandengan tangan dengan ibunya sambil berjalan di tengah berbagai kios pasar. Ibu membawa keranjang belanja.
Petanda (Siginified)
Titan terlihat bersemangat menyusuri pasar sambil tersenyum. Ibu menjaga Titan dengan menggandeng tangannya. Ibu menggunakan baju terusan berwarna merah muda yang bermakna konotatif kasih sayang dan menyimbolkan femininitas perempuan. Para pedagang terlihat melambaikan tangan menawarkan dagangannya kepada Ibu dan Titan.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Halaman 4-5 menggunakan hubungan gambar-teks simetri, teks dan ilustrasi menunjukkan makna yang sama dalam menggambarkan Titan dan Ibu di pasar berjalan menyusuri kios-kios yang menjual berbagai sayur dan buah segar.
Gambar 4 Halaman 6-7
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Ada juga penjual kudapan. Wah banyak kue kesukaan Titan." dan "Ada kios daging dan ikan. Ada juga pedagang perabotan. Eh, apa itu di depan? Wah ternyata penjual binatang peliharaan."
Gambar: Titan sedang melihat berbagai kue tradisional yang berwarna-warni bersama Ibu. Ketika ibu sedang melihatlihat di kios perabotan, Titan kemudian tertarik dengan kios hewan peliharaan.
Petanda (Siginified)
Titan terlihat menunjuk kudapan yang ingin ia beli, kue dadar gulung pandan berwarna hijau, di tengah berbagai kue kudapan berwarna-warni. Makna ekspresi Titan terlihat bersemangat. Ibu berdiri di belakang Titan sambil mengusap kepalanya yang menunjukkan gestur kasih sayang dan perlindungan. Ibu kemudian berdiri di samping kios perabotan, sambil memegang panci berwarna putih. Tangan penjual yang terangkat menunjukkan interaksi mereka berdua. Sementara Titan, matanya fokus pada kios hewan peliharaan yang seperti "bersinar" dan menarik perhatiannya. Sehingga tubuhnya terlihat hendak berjalan ke sana.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Halaman 6 menggunakan hubungan gambar-teks simetri, antara teks dan gambar memiliki makna yang sama, sesuai teks, Titan sedang melihat-lihat kudapan. Pada halaman 7, menggunakan hubungan komplementer dengan ilustrasi melengkapi teks dengan tidak hanya menunjukkan berbagai kios, namun juga interaksi tokoh yang terjadi di depan kios tersebut.
Gambar 5 Halaman 8-9
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan suka. Dia ingin melihatnya" dan "Ada kelinci yang lucu. Ada hamster warna abu-abu. Titan bermain dengan asyik dan seru. Tiba-tiba dia teringat ibu." Gambar: Ibu masih melihat-lihat panci di kios perabotan. Titan berjalan menuju kios hewan peliharaan.
Petanda (Siginified)
Makna ekspresi ibu menunjukkan bahwa ia masih tertarik dan fokus pada panci di kios perabotan. Sedangkan Titan, ia sangat bersemangat berjalan menuju kios hewan peliharaan. Sesampainya di kios hewan peliharaan, Titan terlihat berjongkok dan tertawa, ia bersenang-senang di sana.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Pada halaman 8, hubungan teks dan ilustrasi adalah enhancement, dimana ilustrasi meningkatkan makna dengan menunjukkan bahwa Titan sudah berjalan dengan bersemangat menuju kios hewan peliharaan. Sedangkan pada halaman 9, terdapat hubungan kontradiktsi antara ilustrasi dengan teks kalimat terakhir, dimana ekspresi wajah Titan masih larut dalam kesenangan dan belum teringat ibu.
Gambar 6 Halaman 10-11
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Pada saat bersamaan... Ibu juga mencari Titan. Ibu mengira Titan ke kios mainan." dan "Ibu di mana? Di toko perabotan tidak ada. Titan melihat ke kiri dan kanan. Ibu tidak kelihatan."
Gambar: Ibu terlihat menengok dan berjalan ke kios mainan. Titan berdiri di tengah kios-kios di pasar sambil dikelilingi banyak pembeli yang berlalu-lalang dan memenuhi kios-kios tersebut.
Petanda (Siginified)
Ilustrasi spot yang fokus menangkap raut muka ibu yang terlihat panik dan bingung menengok sambil berjalan menuju kios mainan untuk mencari Titan. Sedangkan Titan, terlihat berdiri terpaku di tengah pasar yang ramai dengan ekspresi wajah yang bingung sambil menengok mencari ibu.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Kedua halaman menunjukkan hubungan simetri antara gambar dan ilustrasi yang saling merepresentasikan makna yang sama.
Gambar 7 Halaman 12-13
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan ingat ibu pernah berpesan. Jika terpisah di keramaian, cari petugas keamanan." dan "Titan berjalan ke gerbang depan tempat pos keamanan." Dan keterangan lokasi: Kios hewan, kios daging, kios perabotan, kios mainan, kios ikan, kios sayur, kios kue, kios buah, kios makanan, toilet, dan pos keamanan.
Gambar: Ibu terlihat berdiri di depan kios mainan. Titan berlari dari tengah pasar menuju pintu keluar pasar.
Petanda (Siginified)
Menggambarkan peta sederhana posisi ibu, Titan, dan berbagai kios yang ada di dalam pasar serta pos keamanan yang menjadi tujuan Titan. Berbagai item digunakan untuk menandakan kios yang berbeda. Warna biru dan merah muda digunakan untuk merepresentasikan toilet laki-laki dan perempuan. Ibu masih terlihat
mencari Titan, namun Titan terlihat berlari menuju ke luar pasar untuk mendatangi pos keamanan.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Halaman 12 menunjukkan hubungan komplementer antara teks dan gambar di mana ilustrasi memperluas makna nasihat ibu dengan usaha Titan berlari menuju pos keamanan.
Halaman 13 menunjukkan hubungan simetri antara teks dan gambar yang menunjukkan makna yang serupa.
Gambar 8 Halaman 14-15
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan menyesal tidak jadi bilang kalau mau melihat binatang." dan "Seorang laki-laki mendekat. Dia menawari Titan coklat"
Gambar: Titan berjalan dengan yakin melawati kios, seorang pria berbaju dan bertopi merah memperhatikan Titan dari jauh sambil membawa coklat. Kemudian ia menghampiri Titan untuk menawari coklat.
Petanda (Siginified)
Titan berjalan dengan ekspresi wajah yang penuh keyakinan melewati kios untuk menuju pos keamanan. Namun, seorang pria dengan wajah runcing dan menggunakan baju serta topi berwarna merah terlihat memperhatikan Titan. Atribut merah yang ia kenakan bermakna bahaya dan ancaman, sedangkan bentuk wajahnya yang runcing merepresentasikan karakteristik licik dan jahat. Coklat yang dibawa identik dengan makanan yang disukai anak-anak yang digunakan untuk merayu Titan. Setelah ditawari coklat, ekspresi Titan menunjukkan bahwa ia cukup tertarik dan sedang berpikir untuk mengambil atau menolak tawaran coklat dari pria tersebut.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Gambar & teks pada halaman 14 menunjukkan hubungan kontra poin, ketika penanda teks menceritakan tentang penyesalan Titan tidak memberitahu ibu, gambar menunjukkan bahwa Titan sudah membuat keputusan untuk berjalan menuju pos keamanan sesuai instruksi ibu sebelumnya. Sedangkan halaman 15
menunjukkan hubungan simetri antara teks dan gambar.
Gambar 9 Halaman 16-17
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan ingat pesan ibu. Hati-hati dengan orang baru." dan "Jangan terima pemberian orang tak dikenal. Tolak dengan baik lalu tinggal."
Gambar: Suasana pasar yang ramai dengan pembeli dan penjual di berbagai kios yang menjual beragam kebutuhan. Pria tak dikenal berjongkok menawarkan coklat ke Titan, namun Titan menolaknya.
Petanda (Siginified)
Banyaknya kios, pedagang, dan pembeli yang saling berinteraksi menunjukkan bahwa Titan berada di pasar yang sangat ramai. Tangan Titan menyilang di depan dadanya, artinya ia sedang menolak pemberian coklat dari orang tidak dikenal yang sedang berjongkok di depannya. Ekspresi muka Titan tersenyum, menunjukkan bahwa ia menolak dengan sopan.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Pada halaman 16, hubungan gambar-teks adalah kontrapoin dimana teks dan gambar memiliki makna yang berbeda walaupun saling terkait dalam hal konteks karena di pasar banyak orang-orang baru seperti yang dinasihatkan ibu. Halaman 17 menunjukkan hubungan simetri, teks dan gambar menunjukkan keterikatan makna.
Gambar 10 Halaman 18-19
(sumber: Buku Ilustrasi: Ibu di Mana?)
Penanda (Signifier)
Teks: "Titan terus berjalan. Sampai di pos keamanan Dia menyebutkan namanya. Menceritakan dia terpisah dari ibunya." Dan "Petugas bersiap mengumumkan tentang Titan yang mencari ibu. Namun.. Oh, itu ibu!"
Gambar: Titan sampai di pos keamanan disambut oleh petugas. Petugas hendak mengumumkan Titan yang mencari ibu
menggunakan toa, namun ibu sudah muncul dan memeluk Titan.
Petanda (Siginified)
Ekspresi wajah Titan dan petugas keamanan tersenyum, menunjukkan perasaan lega dan senang. Baju seragam kuning petugas merupakan simbol kehangatan dan kehati-hatian, serta representasi riil dari warna seragam petugas keamanan yang sedang berjaga. Spot ilustrasi petugas keamanan memegang toa menunjukkan aktivitas petugas keamanan yang hendak membuat pengumuman ketika akhirnya ibu datang menjemput Titan. Pelukan dan senyuman ibu menunjukkan gestur kerinduan, kelegaan, dan kebahagiaan bisa bersatu lagi dengan Titan.
Hubungan Gambar-Teks (Picture-Text Relation)
Hubungan gambar teks pada halaman 18 adalah simetri, gambar dan teks menyampaikan makna yang sama. Sedangkan pada halaman 19, terjadi hubungan peningkatan/enhancement dimana teks dan gambar saling memperluas makna, menunjukkan alur peristiwa dan ungkapan kebahagiaan Ibu dan Titan ketika bersatu kembali.
SIMPULAN
Kajian terhadap buku ilustrasi "Ibu di Mana?" menunjukkan bahwa makna semiotik dalam ilustrasi dan teks saling berinteraksi untuk membangun pesan cerita. Analisis dengan teori semiotika Ferdinand de Saussure dan kerangka relasi teks-gambar Nikolajeva & Scott memperlihatkan bahwa variasi relasi mulai dari simetri, komplementer, peningkatan, kontra poin, hingga kontradiksi—dapat menciptakan lapisan makna yang memperkaya pengalaman membaca. Relasi ini menegaskan peran penting ilustrasi tidak hanya sebagai pendukung teks, tetapi juga sebagai pembawa pesan yang mandiri dan sekaligus berfungsi memperluas atau bahkan menggeser makna teks. Dengan demikian, kajian ini menekankan bahwa hubungan visual-verbal dalam buku ilustrasi anak merupakan aspek esensial yang perlu diperhatikan penulis dan ilustrator untuk menghasilkan karya yang komunikatif dan bermakna untuk anakanak.
Penelitian selanjutnya perlu melakukan pengujian langsung terhadap anak-anak sebagai pembaca untuk menilai dampak konkret penggunaan buku ilustrasi berbasis rima dalam pembelajaran terkait
keselamatan anak di ruang publik. Pengujian tersebut akan memperkuat temuan teoritis dengan bukti empiris mengenai efektivitas media ini dalam konteks edukasi anak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
Darma, S., Giovani Sahri, Ms., Asnita Hasibuan, Ms., Wayan Wirta, Mp. I., Immanuel B Silitonga, Ms. D., Vina Merina Br Sianipar, Mp., Miftahul Khoiriah Sri Ayu Rayhaniah, Mp., Nancy Angelia Purba, Ms., Supriadi, Mp., Abwabul Jinan, Mh., Muhammad Hasyim, Sk., Editor, Ms., & Ali Mursid Alfathoni, M. (2022). PENGANTAR TEORI SEMIOTIKA. PENERBIT MEDIA SAINS INDONESIA. www.medsan.co.id Dwi Herbowo, H., Harianto, Y., Utama, C., Mamuaya, C. L., Suud, M., Pujileksono, S., Briliana, M., Widiyanto, A., & Sihaloho, A. (2025). Edukasi Keselamatan Diri Pada Anak Usia Dini Di TK Living Stones Surabaya Self-Safety Education for Early Childhood at Living Stones Kindergarten Surabaya. https://doi.org/https://doi.org/10.47679/i b.2025910
Ghozalli, E. (2020). PANDUAN MENGILUSTRASI DAN MENDESAIN CERITA ANAK UNTUK TENAGA PROFESIONAL. Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.
Hantono, D., & Ariantantrie, N. (2018). Kajian Ruang Publik Dan Isu Yang Berkembang Di Dalamnya. Vitruvian, 8(1), 43.
https://doi.org/10.22441/vitruvian.2018.v 8i1.005
KPAI. (2024). Hari Kedua KPAI Gelar Rakornas Menyoroti Isu Anak Korban Kejahatan Seksual.
https://www.kpai.go.id/publikasi/harikedua-kpai-gelar-rakornas-menyoroti-isuanak-korban-kejahatan-seksual
Martinez, M., & Harmon, J. M. (2012). Picture/Text Relationships: An Investigation of Literary Elements in Picturebooks. Literacy Research and Instruction, 51(4), 323–343. https://doi.org/10.1080/19388071.2012.6 95856
Nikolajeva, M., & Scott, C. (2006). How Picturebooks Work (Vol. 14). Routledge. PUSAT PERBUKUAN BADAN STANDAR, K. D. A. P. K. P. K. R. D. T. (2022). PEDOMAN PERJENJANGAN BUKU.
https://www.ikapi.org/wpcontent/uploads/2022/06/Pedoman-Perjenjangan-Buku-Pusat-Perbukuan-BSKAP.pdf
Puspita, K., & Surabaya, U. N. (2024). PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA KATARSIS UNTUK KOMUNITAS BIPOLAR CARE INDONESIA. Jurnal Barik, 6(3), 96–112. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/JD KV/
Wulandari, D., Husna, I., Hasnan, H., Sukma, M. A., & Alfiana, S. (2024). Kecenderungan Gaya Perancangan Buku Ilustrasi Anak Tahun 2015-2021. AKSA JURNAL KOMUNIKASI VISUAL, 8(1), 10–33.
Yakin, H., & Totu, A. (n.d.). The Semiotic Perspectives of Peirce and Saussure_ A Brief Comparative Study.
Penulisan daftar pustaka mengacu pada APA Style of citation, lihat www.apastyle.org. Gunakan aplikasi Mendeley yang dapat diunduh pada laman https://www.mendeley.com/. Pastikan bahwa setiap referensi yang dikutip di dalam naskah terdapat dalam daftar pustaka dan sebaliknya.
