c. $DM Pengelola Muşeum
Masih terbatasnya SDM sebagai pengelola museum di Indonesia juga menjadi tantangan museum di era digital. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksiapan tersebut pada tampak kurananya pengetahuan terhadap produk yang ditampilkan, kemampuan berkomunikasi yang juga kaitannya dalam hal kemampuan interpretasi dan memandu pengunjung serta terbatasnva pemanfaatan informasi dan teknologi.
Menghadapi tantangan ini, tentu diperlukan peningkatan profesionalisme pengelola museum seperti keikutsertaan pelatihan kurator museum, sertifikasi pemandu museum, standar penataan ruangan, serta pelatihan kreativitas dalam mengelola informasi.
d. Fasilitas
Jika kita merujuk pada potensi pasar wisatawan millenial, maka dalam pengelolaan museum sangat diperlukan fasilitas yang mendukung dengan sentuhan menarik berbasis digital, tata letak yang instagramable dan suasana yang
Keterangan: Gedung Sate sebagai landmark Jawa Barat dan Kota Bandung yang memiliki museum berbasis teknologi informasi digital.
tidak membosankan. Tentunya hal tersebut tanpa mengurangi nilai autentik yang ingin disampaikan kepada pengunjung. Salah satu caranya dengan memanfaatkan platform digital dalam mengajak, mengedukasi, serta mempromosikan museum kepada masyarakat karena saat ini, cara konvensional tidak lagi efektif.
Wisatawan millenial saat ini menjadi potensi pasar yang berpengaruh pada jumlah kunjungan, sehingga sangat penting menawarkan daya tarik yang menarik perhatian mereka. Generasi ini memiliki keinginan yang kuat dalam mengeksplorasi sesuatu hal berbasis teknologi informasi yang modern serta pemanfaatan sosial media.
e. Sinergi Lintas Sektor
Membangun sinergi lintas sektor adalah kunci utama kesuksesan dalam pengelolaan museum saat ini. Sangat sulit jika pengelolaan museum hanya berjalan sendiri.
Kehadiran peneliti misalnya dituntut untuk menampilkan kebaruan terhadap aspek tertentu sehingga pengunjung akan merasakan manfaat dan mengetahui hal baru apa yang bisa didapat. Tidak hanya sekadar menambah wawasan, namun juga mampu berpikir secara kritis.
Kerjasama sektor lain misalnya industri biro perjalanan wisata yang bersama-sama dengan pemerintah menjadikan museum sebagai bagian daya tarik wisata kota yang layak dijadikan rujukan kunjungan. Begitu juga dengan swasta, dimana museum-museum buatan dan modern hadir untuk menangkap pasar wisatawan millenial.
Keterlibatan pegiat museum seperti komunitas juga diperlukan untuk mendorong publik menghargai sejarah dan menjadikan museum sebagai sarana edukasi publik.
Harapan Penulis
Dari tantangan yang dijabarkan, tentu ada harapan bahwa museum dapat eksis di segala zaman. Hal ini dibutuhkan kesadaran penyajian koleksi museum sesuai perkembangan zaman.
adanya Dengan keterinformasi dan pebukaan manfaatan teknologi saat ini, pengelola museum semakin terbuka dalam memahami pasar potensial dan tidak saia berpikir kesuksesan museum dilihat hanya pada jumlah kunjungan, melainkan juga memikirkan bagaimana museum dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Tentu diperlukan SDM profesional yang mampu mengemas daya tarik museum lebih menarik dan menghapus stigma lemah tentang museum yang usang, kuno dan menyeramkan.
