1. Home
  2. Archives
  3. Vol 19 (2021) Issue 2
  4. Articles

Kampung Adat Cireundeu Tawarkan Quality Tourism Melalui Wisata Pedesaan

Abstract

Wisata perdesaan merupakan bentuk wisata yang sangat mendukung quality tourism. Seperti yang dialami penulis saat mengikuti aktivitas wisata perdesaan ke Kampung Adat Cireundeu yang sarat dengan filosofi leluhur Sunda. Warga adat yang menjadi pemandu perjalanan wisata ini menawarkan pengalaman yang tidak sekedar jalan-jalan, namun dipenuhi pengayaan wawasan.

Keywords

1. Kegiatan di Bale Atikan

Kampung Cireundeu memiliki bangunan unik yang dikenal sebagai 'Bale Atikan Panggung Imah.' Strukturnya adalah struktur bergaya bale semi modern, mengacu pada konstruksi dasar umpak (berbahan beton), sedangkan bagian tengah dan atap tetap mempertahankan aspek tradi-sional Sunda (Maarif & Purnomo, 2019). Wisatawan yang berkunjung ke Cireundeu, umumnya akan dibawa ke Bale Atikan terlebih dahulu. Di sinilah wisatawan diberi pemakondisi masyarakat adat di Circundeu serta cara hidup dan budayanya.

Di sini, wisatawan bisa melihat lihat koleksi gamelan, angklung, serta alat musik tradisional lainnya. Di sekitar kawasan, wisatawan juga bisa melihat aneka olahan makanan berbahan baku singkong dan rasi (beras singkong). Namun, biasanyadari paket wisata, tempat ini didatangi wisatawan sepulangnya dari Puncak Salam.

2. Light Trekking ke Puncak Salam

Selanjutnya setelah puas di Bale Atikan, wisatawan diajak men-daki ke Puncak Salam. Trek yang dilalui merupakan jenis light trekking yang bisa ditempuh oleh hampir semua kalangan. Disepanjang perjalanan, pemandu local vang merupaka masyarakat setempat memberikan berbagai informasi terkait desa yang kental dengan adat sunda. Bahkan beberapa tanaman yang dikunjungi juga diberikan penjelasannya. Saat istirahat di saungsaung yang telah mereka bangun pun, akan ada atraksi kecil dari pemandu tersebut seperti memainkan 'karinding', yakni sejenis alat musik perkusionis tradisional terbuat dari bambu yang dibunyikan dengan mulut. Hal ini sangat memberi suasana yang memperkaya wawasan. Larangan menggunakan alas kaki saat memasuki hutan menjadi kearifan lokal masyarakat. Ini merupakan bentuk penghormatan warga adat terhadap alam di sekitar mereka. Meski pemandangan di Puncak Salam begitu indah dengan pandangan ke arah Kota Cimahi. namun tanpa ditemani pemandu, perjalanan tersebut akan menjadi kurang memiliki makna.

3. Situs Nyi Mas Ende

Masih dalam perjalanan di jalur ke arah Puncak Salam, wisatawan diajak melipir ke atas bukit untuk menuju suatu bersejarah yang dinamai Situs Nyi Mas Ende. Situs ini merupakan suatu titik mata air yang dijaga kesucian dan kesakralannya karena dianggap sebagai mata air yang suci. Pancuran air Nyi Mas Ende kerap digunakan sebagai tempat pelaksanaan Upacara Melasti bagi warga Hindu yang tinggal di sekitar Cimahi dan Bandung.

Aneka Olahan Singkong

Bale Atikan. Setelah bebersih diri, mencuci kaki dan beristirahat sejenak, maka wisatawan akan dibawa menuju tempat penjualan oleh-oleh berupa aneka olahan penganan berbahan dasar Singkong. Mulai dari 'rasi' atau beras singkong yang menjadi andalah warga adat, hingga olahan-olahan cemilan seperti keripik, dendeng kulit singkong, juga egg-roll singkong yang sangat laris.

Selanjutnya, pemandu juga akan mengajak wisatawan untuk melihat bagaimana cara pengolahan singkong menjadi beras singkong, kemudian wisatawan bersantap siang di warung makan warga yang menghidangkan masakan khas kampung. Perlu diketahui bahwa makanan

pokok kampung ini adalah singkong, bukan beras. Ini dipertahankan secara turun menurun. Mes-kipun dari rebusan singkong disajikan sebagai pengganti nasi, namun tidak mengurangi kelezatan masakan tersebut. Selesai santap siang, selesai pula paket wisata yang dihadirkan di kampung ini.

Secara keseluruhan, rute wisata di desa ini cukup baik, dimana mereka memanfaatkan sumber daya desa dari cerita adatnya, keindahan alamnya, serta SDM yang terdiri dari pengelola, pemandu, penjual oleh-oleh, serta warung makan dari masyarakat setempat. Selain itu, Aspek-aspek quality tourism seperti aspek kelestarian, interaksi dengan masyarakat lokal, keuntungan ekonomi, serta kualitas pengalaman wisatawan benar-benar begitu kental dirasakan dalam wisata perdesaan di Kampung Circundeu ini.

Memang, pengunjung di Kampung Cireundeu biasanya bersifat rombongan atau berkelompok. Motivasi mereka datang berkunjung untuk family gathering atau sebagai paket pelatihan suatu instansi. Biasanya mereka memesan jauh-jauh hari untuk kunjungan, sehingga pelayanan berdasarkan quality tourism ini dirasakan oleh wisatawan, dan manfaat ekonominya juga dirasakan masyarakat local.

Namun, tidak sedikit yang wisatawan datang secara mandiri tanpa didampingi pemandu wisata. Umumnya mereka merupakan wisatawan lokal atau kebetulan melewati kampong tersebut. Kegiatan mereka sederhana, yakni hanya ingin menikmati keindahan bangunan dan puncak gunung, dan menggambil foto untuk kebutuhan sosial media. Kegiatan wisata seperti ini memang mengeluarkan biaya yang murah hanya tiket masuk, namun sedikit memberi dampak ekonomi dan lingkungan ke menyejukan

masyarakat.

Dengan demikian, quality tourism yang berdampak di kampung ini dimaknai dengan kebudayaan mereka dihargai, warga yang terlibat semakin banyak, juga dari sisi wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang lebih kaya wawasan.

Daftar Pustaka:

Agoes, A., & Agustiani, I. N. (2021). Kajian Pengalaman Wisatawan Pada Kunjungan

Wisata Perdesaan (Contoh Implementasi di Kampung Tajur Kahuripan, Kabupaten Purwakarta). Deepublish.

Jennings, G., Lee, Y. S., Ayling, A., Lunny, B., Cater, C., & Ollenburg, C. (2009). Quality tourism experiences: Reviews, reflections, research agendas. Journal of Hospitality Marketing & Management, 18(2-3), 294-310. DOI:

https://doi.org/10.1080/1936 8620802594169

Purnomo, A. D., & Maarif, Y. S. (2019). Membaca Kearifan Lokal Imah Panggung Bale Atikan Kampung Adat Cireundeu. Waca Cipta Ruang, 5(2), 357-366. https://doi.org/10.34010/wcr. v5i2.2271

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
37th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Tourism 0.53
level 2
Humanities 0.47
level 1
level 0

Institution Network