1. Quality of experiences
Quality of experience dimaksudnya bahwa wisatawan mendapatkan pengalaman dan pelayanan yang berkualitas. Berkualitas ini dapat diartikan sebagai kesesuaian harapan wisatawan berdasarkan informasi media pemasaran dengan kondisi yang sebenarnya terjadi ataupun lama tinggal yang membuat wisatawan betah menghabiskan waktu di destinasi wisata tersebut dan mengeluarkan banyak uang untuk menunjang kebutuhan dasar dan kebutuhan wisatanya.
Dengan demikian, dijelaskan bahwa quality of experience tidak saja mencakup kemenarikan suatu objek wisata, melainkan juga dengan kepuasan tersirat wisatawan dari segi keamanan, kebersihan, aksesibilitas, komunikasi, infrastruktur, serta fasilitas dan layanan publik. Tentunya, sertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) menjadi kebutuhan wajib bagipelaku usaha pariwisata Indonesia dimasa ini dan diperkirakan wisata nature eco wellness adventure (NEWA) akan menjadi tren populer sambil menunggu kondisi yang kondusif secara
menyeluruh. Apalagi, wisata alam dapat memberikan keleluasaan pengunjung untuk menerapkan physical distancing. Umumnya wisata alam berbasis adventure atau petualangan dalam grup kecil dengan aktivitas yang dinamis juga akan digemari, seperti trekking, snorkeling, dan diving.
2. Quality of Profit
Quality of profit dimaksudnya bahwa investor mendapatkan keuntungan yang berkualitas dimana kualitas ini bukan saja keuntungan yang besar, namun juga berkelanjutan. Fakta di lapangan menunjukkan overtourism dari tren pariwisata massal menjadi isu pariwisata yang mengkhawatirkan di dunia sebelum terjadinya pandemi covid-19 dimana terjadinya kesenjangan antara dampak lingkungan yang ditanggung masyarakat lokal tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh.
3. Quality of life
Quality of life dimaksudnya bahwa masyarakat lokal mendapatkan kualitas hidup yang meningkat dengan adanya pembangunan pariwisata. Tentunya, asas keberlanjutan menjadi penting untuk penerapannya. Selain menjaga berbaurnya budaya antara wisatawan dengan tuan rumah, juga menjaga kerusakan alam akibat over capacity pengunjung dapat diminimalisasi.
Tentunya, diharapkan kuatnya peran lembaga adat dalam konservasi dari kegiatan pariwisata. Hakikatnya, masyarakat adat mencintai kehidupan yang bersahabat dengan alam dan lingkungan. Mereka memilih menjaga adat dan lingkungan untuk keberlangsungan mendatang, ketimbang merusak alam demi pundi-pundi uang.
Dari ketiga aspek tolok ukur quality tourism tersebut, menunjukkan bahwa untuk mengatasi kerugian sektor pariwisata selama pandemi Covid-19 dan mengejar pendapatan negara seperti tahun 2019 (nilai maksimum yang dicapai sebelum pandemi), maka pembangunan kepariwisataan Indonesia diharapkan tidak lagi berfokus mengejar banyaknya jumlah wisatawan (quantity) melainkan juga meningkatkan lama tinggal wisatawan (kenyamanan) dan keberlanjutan destinasi wisata itu sendiri.
Daftar Pustaka:
Faqir, A.A. (2020). Menteri Wishnutama: Banyak yang Salah Mengartikan Quality Tourism. dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/4312362/men teri-wishnutama-banyak-yang-salah-mengartikan-quality-tourism
Nurjaya, I. W., Solihin, S., & Kanca, I. N. (2018). Layanan Prima menuju" Quality Tourism" Bali. Jurnal Bali Membangun Bali, 1(1), 53-66.
World Tourism Organization (2017). Practical Guidelines for Integrated Quality Management in Tourism Destinations – Concepts, Implementation and Tools for Destination Management Organizations, UNWTO, Madrid, DOI:
https://doi.org/10.18111/9789284417988
