1. Home
  2. Archives
  3. Vol 20 (2023) Issue 2
  4. Articles

Analisis Struktur Organisasi Antarlembaga Pada Destinasi Ekowisata Mangrove Wonorejo Kota Surabaya

Abstract

Ekowisata Mangrove Wonorejo merupakan destinasi wisata alam dengan luas kurang lebih 56 hektar pada Kota Surabaya yang mulai dioperasikan pada tahun 2012. Pada pengembangan destinasi Ekowisata Mangrove Wonorejo ini, keterlibatan aktor-aktor dari berbagai lembaga menjadi hal yang tidak terpisahkan, dimana aktor-aktor tersebut memiliki agenda masing-masing, namun saling bekerjasama satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Tulisan ini bertujuan menganalisis hubungan antarlembaga tersebut secara struktural berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi. Untuk menganalisis hubungan antarlembaga tersebut, analisis yang digunakan adalah stakeholder analysis serta analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis tersebut, diketahui bahwa terdapat 10 (sepuluh) stakeholder yang terlibat dalam pengembangan destinasi Ekowisata Mangrove Wonorejo yang berasal dari berbagai latar belakang, serta terdapat stakeholder yang menjadi penanggung jawab pada tujuan kepariwisataan maupun konservasi.

Keywords

1. Struktur Organisasi Dari Perspektif Kepariwisataan

Dari perspektif kepariwisataan, stakeholder Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya memegang peran sebagai pengambil keputusan tertinggi dari bidang pariwisata, sekaligus menjadi penanggung jawab dari pengembangan Ekowisata Mangrove Wonorejo dari sisi kepariwisataan. Stakeholder-stakeholder lain akan terpengaruh oleh keputusan dan kebijakan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, terutama keputusan dan kebijakan terkait kepariwisataan pada Ekowisata Mangrove Wonorejo (Gambar 1).

2. Struktur Organisasi Dari Perspektif Konservasi Lingkungan Hidup

Dari perspektif konservasi lingkungan hidup, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya menjadi aktor kunci dalam pengambilan keputusan di bidang lingkungan hidup pada lokasi Ekowisata Mangrove Wonorejo. Namun, berbeda dengan struktur kelembagaan pada perspektif kepariwisataan dimana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya menjadi aktor tunggal dalam

pengambilan keputusan, pada perspektif konservasi lingkungan hidup, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya sebagai instansi yang membidangi lingkungan hidup di Kota Surabaya, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur yang bertanggung jawab pada bidang pesisir dan kelautan di Provinsi Jawa Timur (Gambar 2).

Dari kedua model struktur organisasi antarlembaga yang berkembang pada Ekowisata Mangrove Wonorejo, kedua struktur tersebut lebih condong berbentuk struktur organisasi fungsional, seperti yang dikemukakan oleh Reksohadiprojo (1983). Adanya satu penanggung jawab dalam masing-masing tujuan, serta pembagian tugas dan fungsi pokok masing-masing lembaga pada kasus Ekowisata Mangrove Wonorejo juga disesuaikan dengan tugas dan fungsi lembaga-lembaga tersebut secara umum.

Kesimpulan

Dari hasil tulisan di atas, kemudian dapat ditarik beberapa poin kesimpulan, yakni:

  • 1. Terdapat 10 (sepuluh) stakeholder yang berperan dalam pengembangan destinasi Ekowisata Mangrove Wonorejo yang memiliki peran, tingkat kepentingan dan tingkat pengaruhnya masing-masing. Stakeholderstakeholder tersebut secara sengaja maupun tidak sengaja membentuk suatu sistem model struktur organisasi antarlembaga untuk mencapai tujuan bersama; dan
  • 2. Model struktur organisasi antarlembaga yang ada pada destinasi Ekowisata Mangrove Wonorejo tersebut lebih condong ke arah struktur organisasi fungsional, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Reksohadiprojo (1983).

Daftar Pustaka

  • Brown, K., Tompkins, E. L., & Adger, W. N. (2001). Tradeoff analysis for participatory coastal zone decision-making. Citeseer.
  • Freeman, R. E. (1984). Strategic Management, A Stakeholder Approach. University of Minnesota, Massachusetts: Pitman Publishing, Inc.
  • Kadir, A. W., Purwanto, R. H., & Poedjirahajoe, E. (2013). Analisis Stakeholder Pengelolaan Taman Nasional

  • Bantimurung Bulusaraung, Propvinsi Sulawesi Selatan (Stakeholder Analysis of Bantimurung Bulusaraung National Park Management, South Sulawesi Province). Jurnal Manusia dan Lingkungan, 20(1), 11–21.
  • Moleong, L. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  • Nazir, M. (2011). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Reksohadiprojo, S. (1983). Manajemen Proyek. Yogyakarta: BPFE.
  • Rencana Induk Pariwisata Kota Surabaya 2017-2037
  • Salam, M. A., & Noguchi, T. (2006). Evaluating capacity development for participatory forest management in Bangladesh's Sal forests based on '4Rs' stakeholder analysis. Forest Policy and Economics, 8(8), 785–796.
  • Sucipto, A. (2019). STRATEGI KELEMBAGAAN DALAM KOMPETISI PARIWISATA : PEMBELAJARAN DARI DESA PENTINGSARI. MAHAKAM: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 8(1), 1–14.
  • Suhatono, I. (2015). Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Yahya, A. (2015). Smart Tourism. In Konferensi Nasional Inovasi TIK untuk Indonesia Cerdas.
  • Badan Perencanaan dan Pengembangan Kota Surabaya. (N.D). Ecobis. https://bappeko.surabaya.go.id/ ecobis/wisata/kategori-detail/42, diakses 01 Desember 2021

Rachmadiarazaq merupakan mahasiswa Magister Perencanaan Kepariwisataan Institut Teknologi Bandung pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan angkatan 2021 yang berasal dari Kota Surabaya. Sebelumnya, Rachmadiarazaq mendapatkan gelar sarjananya dari

Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember di tahun 2020.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

2
Citations
0.79
FWCIfield-weighted
82th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20232

Semantic Profile AI-classified research signals

Forestry 0.45
level 1
Mangrove 0.45
level 2
Geography 0.44
level 0

Institution Network