1. Home
  2. Archives
  3. Vol 20 (2023) Issue 2
  4. Articles

Identifikasi Tahapan Pengembangan Community Based Tourism Dan Kerjasama Antar Komunitas Pada Desa Wisata Kembang Kuning Dan Tetebatu Ntb

Abstract

Lombok is a Super Priority Destination for development by the Ministry of Tourism. The Tourism Village Program is also another priority in developing a destination so that people can have income without migrating to other areas. The Tourism Villages of Kembang Kuning and Tetebatu are pilot villages and both have entrances to Mount Rinjani and Swallow

Keywords

c. Pengakuan dari otoritas terkait

Pelaksanaan community based tourism membutuhkan pengakuan dari otoritas terkait sehingga komunitas dan pengelola memiliki kewenangan dan hak yang jelas untuk kepentingan pengembangan wisata.

d. Peningkatan kesejahteraan sosial

Salah satu manfaat yang diharapkan dari penerapan community based tourism adalah adanya peningkatan kesejahteraan sosial bagi komunitas, peningkatan kesejahteraan ini dapat dilihat dari sisi ekonomi maupun kualitas hidup secara keseluruhan.

e. Pembagian hasil yang adil dan transparan

Manfaat yang dirasakan oleh komunitas dari penerapan community based tourism harus terdistribusikan secara merata kepada seluruh anggota komunitas melalui pembagian hasil yang adil, selain itu juga dibutuhkan transparansi sehingga tidak terjadi konflik yang dapat menghambat pelaksanaan secara jangka panjang.

f. Peningkatan skema hubungan ekonomi dalam skala lokal dan regional

Peningkatan ekonomi yang didapatkan dari penerapan community based tourism dapat dibedakan menjadi dua yaitu dalam skala lokal dan regional. Masing-masing skla ekonomi tersebut memiliki skema tersendiri dan diharapkan adanya community based tourism dapat meningkatkan skema hubungan ekonomi dalam skala lokal dan regional.

g. Penghargaan terhadap tradisi dan budaya lokal Tradisi dan budaya lokal merupakan komponen yang penting dan melekat pada komunitas karena telah ada dan diwariskan secara turun-temurun lintas generasi.

Sehingga untuk keberlanjutan dari potensi komunitas dan pelaksanaan community based tourism diperlukan penghargaan terhadap tradisi dan budaya lokal yang ada dan berkembang dalam komunitas tersebut.

h. Konservasi terhadap sumber daya alam

Komunitas memiliki potensi dan sumberdaya alam yang unik dan berbeda dengan wilayah yang lain. Konservasi yang dilakukan terhadap sumber daya alam akan memberikan keberlanjutan dari segi lingkungan dan dapat memberikan peningkatan kualitas hidup secara tidak langsung dan dalam jangka waktu yang panjang.

i. Peningkatan kualitas melalui interaksi antara pelaku pariwisata dengan wisatawan

Community based tourism bertujuan untuk memberdayakan komunitas dan melestarikan budaya dan tradisi yang dimiliki. Tradisi dan budaya tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang untuk berwisata. Wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang berkesan apabila dapat berinteraksi secara langsung dengan komunitas.

j. Pencapaian terhadap kemandirian finansial Komunitas harus diberdayakan dan mendapatkan manfaat salah satunya dari segi perekonomian, tercapainya kemandirian finansial juga merupakan sebuah indikator kesuksesan dari penerapan CBT.

k. Pencegahan terhadap urbanisasi

Sesuai dengan tujuan dari penerapan konsep community based tourism yang menempatkan komunitas sebagai elemen utama yang ditunjang dengan potensi sumberdaya alam dan budaya, maka diperlukan keberlanjutan dari pengelolaannya. Adanya urbanisasi dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan tersebut karena artinya generasi muda akan meninggalkan tempat asal mereka sehingga tidak ada penerus untuk pengelolaan community based tourism.

Standar Penerapan Community Based Tourism

Community based tourism adalah bentuk pariwisata yang memberdayakan komunitas untuk manajemen pertumbuhan wisata dan jarring aspirasi komunitas yang berkaitan dengan kesejahteraan termasuk dalam aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Community based tourism menyediakan pasar untuk wisata adventure, wisata budaya, ekowisata, agrowisata, dengan pemberdayaan terhadap produk lokal dan pelayanan untuk pemerataan manfaat ekonomi dari wisata tersebut. Berdasarkan handbook yang dikeluarkan oleh (APEC Tourism Working Group, 2009) terdapat ketentuan tentang standar-standar yang harus dipenuhi dalam penerapan community based tourism, berikut ini merupakan dua standar yang dapat diterapkan dan sesuai dengan kajian penelitian yang dilakukan. Standar untuk kemitraan yang efektif dalam community based tourism:

1. Adanya panduan untuk interaksi antara operator tur

  • dengan komunitas
  • 2. Community based tourism menghindari dampak terhadap komunitas sekitar dalam pelaksanaan kegiatan
  • 3. Identifikasi stakeholder terkait beserta kontribusi dan peran
  • 4. Tersedianya prosedur untuk konsultasi dengan stakeholder
  • 5. Koordinasi dengan komunitas sekitar

Selain standar dalam melakukan kemitraan yang efektif, terdapat standar untuk interaksi antara wisatawan dan komunitas, seperti dibawah ini:

  • 1. Informasi lingkungan dan budaya dalam interpretasi komunitas dan sekitarnya
  • 2. Kebijakan dan aksi untuk menjamin keselamatan dan keamanan pengunjung
  • 3. Kode etik komunitas, tuan rumah, dan wisatawan
  • 4. Tata kelola ekspektasi wisatawan melalui penyediaan informasi akurat dalam inisiatif pemasaran
  • 5. Perbaikan dan quality control system termasuk proses pengumpulan feedback setelah kunjungan wisatawan
  • 6. Program komunikasi dan pemahaman lintas budaya
  • 7. Kesempatan bagi wisatawan untuk berkontribusi kepada komunitas
  • 8. Sistem kontrol kualitas dan pengembangan yang dilakukan mingguan dan dilaporkan pada anggota komunitas

Konsep Desa Wisata

Prinsip dasar pariwisata di Indonesia adalah konsep dasar hidup dalam keseimbangan yang masih dilaksanakan di perdesaan dan menjadi ciri ciri kehidupan masyarakat perdesaan. Wisata pedesaan mengutamakan kelestarian budaya dan lingkungan sebagai daya tarik utama, sehingga masyarakat desa tersebut yang paling tepat untuk mengembangkan potensi yang ada pada desa mereka sesuai degan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turuntemurun. Selain itu pengembangan desa wisata juga akan memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Menurut (Ardika, 2018) berikut ini merupakan kriteria dasar pengembangan desa wisata:

  • a. Keberadaan suatu objek dan daya tarik wisata
  • b. Memiliki akses fisik dan pasar yang baik
  • c. Memiliki potensi pengembangan kemitraan yang efektif
  • d. Adanya motivasi dan antusiasme masyarakat
  • e. Tersedianya fasilitas umum dasar

Hasil dan Pembahasan

Desa Kembang Kuning memiliki wilayah seluas 1,93 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 1.633 jiwa (844 jiwa lakilaki dan 789 jiwa perempuan). Ketersediaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di desa wisata tersebut

tersedia dalam bidang gerabah/keramik/batu, anyaman rotan/bambu, logam mulia/bahan logam dan kayu/furnitur. Produk yang telah di publikasikan yaitu Produk Kopi Kembang Kuning baik yang telah diolah menjadi masker wajah kecantikan maupun biji kopi yang bisa diolah menjadi minuman. (sumber : Data Desa 2021)

Modal Desa Kembang Kuning untuk jadi desa wisata antara lain; Air terjun, keindahan alam, hasil perta keramahan masyarakat, kekompakan pemuda, jalur bersepeda, serta aktivitas masyarakat yang mash tradisi. Selain itu, di desa ini memiliki kesenian yang dimanfaatkan untuk menyambut para tamu. Wisatawan yang datang ke Desa Kembang Kuning juga diajak untuk lebih dekat dengan masyarakat dengan mengikuti berbagai kegiatan sehari-hari. Mulai dari pembuatan kopi secara tradisional, juga minyak kelapa yang merupakan bagian dari produk ekonomi kreatif andalan desa wisata ini. Desa Kembang Kuning menjadi Juara I Lomba Kampung Sehat Tingkat Provinsi NTB.

Di bidang pertanian, wisatawan bisa menyaksikan budaya menanam padi, membajak sawah dengan ternak sapi, dan panen padi. Wisatawan juga bisa bersantai di air terjun yang ada di Kembang Kuning. Desa Kembang Kuning baik pemerintah bersama seluruh warga berkomitmen menghadirkan desa wisata yang ramah lingkungan, sehingga bisa menjadi sebuah keberlanjutan yang akan terus terjaga. Kegiatan tersebut melibatan seluruh masyarakat dan pemuda desa, terlihat dengan hadirnya sejumlah unit-unit usaha mandiri hingga unit pengelolaan bantuan bagi warga kurang mampu.

Warung sodaqoh merupakan warung yang menjadi sarana warganya untuk saling berbagi dengan warga lain yang kurang mampu. Warga yang ingin bersodaqoh bisa berupa barang kebutuhan pokok atau bentuk uang, yang dititipkan ke warung sodaqoh tentu saja ini dikelola oleh BUMDes. Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, Desa Kembang Kuning selalu dikunjungi lebih dari 200 orang wisatawan mancanegara (Wisman), belum termasuk wisatawan domestik yang juga banyak berkunjung saat akhir pekan. Banyaknya kunjungan yang berwisata bukan hanya menaikkan pendapatan desa dan warganya, namun juga menumbuhkan jiwa ekonomi kreatif dengan menghasilkan berbagai produk unggulan dari hasil bumi yang ada. Mulai dari kuliner, makanan ringan, hingga kerajinan tangan, termasuk souvenir.

Desa Tete Batu juga berbatasan dengan Desa Kembang Kuning yang luas wilayahnya 24,31 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 7.037 jiwa (3.559 jiwa laki-laki dan 3.478 jiwa perempuan). Ketersediaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di desa wisata tersebut tersedia dalam bidang gerabah/keramik/batu, anyaman rotan/bambu, makanan dan minuman dan kayu/furnitur. Desa Wisata

Tetebatu ini menjadi salah satu tempat untuk menikmati pesona keindahan pemandangan di kaki selatan gunung rinjani, yang memiliki pesona keindahan panorama pegunungan dan persawahan, kontur tanah di Desa Tetebatu seperti anak tangga yang membentuk persawahan subur nan hijau. Dilokasi ini juga sering menjadi buruan para pecinta fotografer khususnya mereka yang ingin mengambil keindahan sunsrise.

Desa wisata tetebatu juga menyuguhkan beberapa fasilitas penunjang bagi para wisatawan seperti, homestay, dan rumah makan yang mudah dijumpai. Selain keindahan persawahan dan pegunungan, di DesaTetebatu juga terdapat beberapa air terjun seperti, Air terjun Ulem – ulem, Air Terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air Terjun Jeruk Manis. Sepanjang perjalanan wisatawan akan melintasi beberapa rumah warga serta persawahan yang berbentuk seperti anak tangga.

Tahapan Community Based Tourism

Peneliti menelurusi hasil wawancara mengurut sesuai dengan tahapan yang ada di tinjauan teori meliputi Standar Penerapan CBT (Community Based Tourism). Maka berikut adalah hasil dari observasi peneliti deskripsikan sebagai berikut :

1. Penerapan di Desa Kembang Kuning

Desa Wisata Kembang Kuning sejak tahun 1992 sudah mengembangkan sektor pariwisata, menurut Kepala Desa Bapak Sujian, cikal bakal pariwisata muncul dari wisama soedjono yang terletak di Tetebatu. Diakuinya masyarakat juga sangat terbuka untuk perkembangan pariwisata di Desa Kembang Kuning ini. Mata pencaharian utama masyarakat sekitar merupakan petani dan mendapatkan tambahan dari sektor pariwisata sebagai pendapatan. Antusias yang di tunjukkan oleh masyarakat Desa Kembang Kuning terhadap pariwisata sangat baik dan juga sikap ramah yang dimiliki warga sangat membuat nyaman pengunjung.

Profesi yang dijalani masyarakat di sektor pariwisata merupakan sebagai pemandu wisata lokal. Masyarakat juga sudah paham cara merencanakan paket wisata, sudah terbentuk paket wisata alam ke Air Terjun Sarang Walet dan juga paket wisata budaya yang mengajak wisatawan ikut beraktifitas bertani di sawah hingga mengolah minyak kelapa dengan cara mereka sendiri. Itu semua merupakan hasil edukasi yang di dapatkan masyarakat dalam sektor pariwisata, bisa di sebut kesiapaannya di sektor pariwisata sudah sangat baik. Masyarakat mengakui bahwa pelatihan demi pelatihan sudah dilakukan dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka, kualitas dari sumber daya manusia di Desa Kembang Kuning sudah tidak perlu di ragukan lagi. Sumber daya manusia di sektor pariwisata ini berkembang dari Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) di Desa Kembang Kuning dengan pemuda pemudi yang sudah sadar wisata. Selain itu juga kesadaran akan teknologi sudah maju di Desa Kembang Kuning, dengan cara bekerja sama dengan online travel agent OTA membuat pasar atau wisatawan Desa Kembang Kuning meluas hingga mancanegara dan mendapatkan kemudahan akses informasi bagi wisatawan yang hendak berkunjung. Selain cara digital, Desa Kembang Kuning juga bekerja sama dengan BUMDes Kembang Kuning sehingga pengembangan desa bisa merata dan saling membantu satu sama lain. Dibuktikan dengan pernyataan Kepala Desa Bapak Sujian, sistem bagi hasil dilakukan selama ini dengan masyarakat sekitar sehingga BUMDes memiliki kemampuan untuk membantu sesasma warga.

2. Penerapan di Desa Tetebatu

Sama halnya dengan Desa Wisata Kembang Kuning, Desa Tetebatu sendiri sudah mengembangkan sektor pariwisata sejak tahun 1992 ujar sekertaris Desa Tetebatu Bapak Sabli. Wisma dr. Soedjono yang memang berlokasi tepat di Desa Tete Batu dan merupakan wisma peninggalan seorang tokoh nasional yang punya peran strategis dalam mengentaskan wabah penyakit kolera di Lombok Timur yakni, dr. Soedjono. Cerita singkatnya, pada saat dr. Soedjono bertugas di Kabupaten Lombok Timur, dia membangun sebuah rumah yang berada di kawasan Tete Batu ini sebagai tempat peristirahatan bersama teman-teman dan para tamu dari luar negeri. Rumah yang dibangun di kawasan obyek wisata ini tidak begitu luas, hanya memiliki empat unit kamar, satu ruang tamu, lobby, dan satu ruang makan. Kini tempat tersebut menjadi komersial sudah banyak review dari situs tripadvisor juga yang menyarankan untuk menginap disana.

Mata pencaharian utama di Desa Tetebatu juga yaitu sebagai petani dan tambahannya dari sektor pariwisata. Antusias dan kesadaran masyarakat terhadap pariwisata patut di acungi jempol, sikap ramah tamah yang dimiliki warga juga sudah membuat wisatawan nyaman dan dapat membuat wisatawan bisa lakukan longstay di Desa Tetebatu.

Pelatihan dan juga pengembangan kepada masyarakat desa dapat diterima dengan baik, sehingga sudah bisa mengatur perjalanan untuk wisatawan dalam bentuk paket wisata. Selain bertani warga sekitar juga berkebun dan mengolah hasil hutan menjadi kerajinan tangan dan bisa menjadi buah tangan untuk wisatawan, contohnya masyarakat mengolah bambu sebagai asbak yang bentuknya khas desa tersebut. Aktifitas wisata yang tersedia yaitu trekking, bersepeda dan juga mengikuti kegiatan masyarakat desa sehari-hari.

Penghargaan Internasional UNWTO kepada Desa Wisata Tetebatu yaitu Best Tourism Village berkat warga sekitarnya juga yang dapat menjaga keaslian alam dan memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Inisiasi awalnya oleh Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang dinamakan

Green Rinjani. Tentu untuk sistem pemasaran Desa Wisata tidak bisa sendiri dan pastinya tidak lepas dari kelompok yang bergelut di bidang wisata lainnya seperti travel agent, Taman Nasional Gunung Rinjani, Non-Government Organization (NGO) yang berasal dari New Zealand berfokus pada Sustainable Tourism, Online Travel Agent (OTA), Komunitas ASITA. Target pasar Desa Tetebatu ini adalah wisatawan mancanegara maka dari itu, kemampuan bahasa kelompok sadar wisata bisa berbagai macam. Mulai dari bahasa perancis, belanda dan inggris.

Implementasi yang dilaksanakan Desa Tetebatu ini sudah sangat baik dan diakui internasional. Sebagai sebuah desa wisata yang sudah sangat maju, Desa Wisata Tetebatu ini selalu melakukan evaluasi terkait pariwisata selama dua tahun sekali agar selalu lebih baik dan selalu menjadi yang terbaik

Bentuk Kerjasama

Dampak kerjasama yang dihasilkan kedua desa terkait produk wisata mulai dari atraksi, amenitas dan aksesibilitas yang berkesinambungan membuat kedua desa ini bersatu dan saling menguntungkan. Latar belakang masing – masing desa dari letak wilayahnya memiliki atraksi wisata yang sama yaitu Gunung Rinjani dan juga Air Terjun Sarang Walet. Stakeholder yang terlibat yaitu Pemerintah Desa, POKDARWIS, Karang taruna dan Pemerintah Provinsi untuk membantu pengembangan kedua desa. Kedua desa ini mulai bekerjasama satu sama lain sejak Tahun 2018. Terbukti dari sumber daya manusia yang dapat dipenuhi oleh Desa Tetebatu dalam kemampuan bahasa asing sangat bisa membantu Desa Kembang Kuning jika kekurangan sumber daya saat wisatawan mancanegara berkunjung ke desanya.

Meskipun fokus pengembangan desa berbeda, namun saling melengkapi. Seperti di Desa Wisata Kembang Kuning llebih mengembangkan wisaata kuliner dan juga mengembangkan pemukiman desa menjadi layak untuk dijadikan homestay. Namun baik kedua desanya selalu memegang teguh asas keberlanjutan agar tidak berhenti hanya di generasi yang saat ini saja namun terus turun temurun. Untuk Desa Wisata Tetebatu sendiri tema pengembangan produk wisatanya berbasis masyarakat. Sehingga kedua desa ini mengakui tidak ada hambatan untuk mengembangkan desa wisata, melainkan mempertahankan agar tetap seperti saat ini yang menjadi tugas generasi berikutnya.

Dampak Kerjasama

Dampak dari hasil kerjasama antara dua desa saling melengkapi dan memberikan keuntungan, koordinasi diantaranya juga sudah terjalin dengan baik. Dampak dari segi ekonomi yang dihasilkan di Desa Kembang Kuning sudah secara signifikan terasa oleh masyarakat desa sendiri semuanya terintegrasi di BUMDes dan terdapat koperasi yang menyediakan kebutuhan pokok gratis bagi warga yang membutuhkan seperti beras, minyak, gula, garam dan lainlain. Untuk Desa Tetebatu sendiri, akan melaksanakan hal ini mulai dari tahun 2022 dan selalu bertukar fikiran dengan Desa Kembang Kuning.

Dampak yang dirasakan dalam bentuk Produk Wisata (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) tentu tidak ada merugikan satu sama lain, kebebasan berkreasi terbuka dan juga komunikasi antar desa sudah sangat baik. Hasilnya berupa paket wisata yang terintegrasi antar desa, apabila wisatawan berkunjung ke Desa Kembang Kuning untuk menginap, lalu berwisata ke Desa Tetebatu misalnya sehingga sinergitas antar desa sudah terasa solid. Dampak lainnya yang paling terasa adalah rasa aman baik warga desa maupun wisatawan karena tertib dan tidak saling mengganggu satu sama lain.

Keefektifan dan Keseimbangan

Pekerjaan utama warga desa setempat merupakan bertani dan berkebun, sehingga diakuinya saat Pandemi Covid-19 tidak terlalu berpengaruh paada penghasilan mereka. Dari sisi pariwisata juga sudah terdapat anggota POKDARWIS yang jumlahnya hampir sama yaitu 80 orang, dari segi kemampuan juga tidak kalah baiknya. Untuk jenis storytelling yang dipahami oleh masing-masing SDM di desa sudah sama baik dari tutur kata, urutan cerita dan bahasa yang digunakan. Hal ini tentu semata-mata untuk membuat wisatawan merasa aman dan nyaman saat berwisata sehingga bisa ada rasa rindu saat kembali ke tempat asal dan ada kunjungan berikutnya.

Untuk itu setiap ada yang membawa tamu berkunjung ke salah satu desa pasti akan berkomunikasi satu sama lain untuk kebersamaan agar seimbang. Kedua desa juga melakukan gotong royong di setiap hari Jumat dan hal tersebut efektif sehingga pemandangan kedua desa samasama bersih dan tidak saling membandingkan. Kesinambungan antara pekerjaan utama dan sampingan sangat baik sehingga tidak ada alih fungsi lahan yang terjadi di kedua desa.

Keefektifan BUMDes terhadap pengembangan homestay baru dirasakan di Desa Kembang Kuning, namun Desa Tetebatu juga akan segera menyerap cara tersebut karena dirasa efektif dan juga seimbang. Tidak perlu mengandalkan investor dari luar maupun bekerja diluar negri, sehingga dari dalam desa juga sudah berkecukupan dan berkembang. Hingga sistem pembagian homestay dilakukan oleh BUMDes agar seimbang dan setiap rumah merasa adil namun, jika rumahnya sudah bekerja sama dengan Online Travel Agent (OTA) itu hanya perlu bagi hasil saja.

Pengrajin bambu terdapat di Desa Tetebatu sehingga bisa dijadikan soevenir saat wisatawan berkunjung ke kedua desa. Namun tergantung jenis wisatawan yang berkunjung, jika wisaatawan nusantara lebih kepada produk sudah jadi, untuk dibeli oleh mereka. Berbeda dengan mancanegara, mereka lebih suka melihat prosesnya dan bahkan mau membayar demi memiliki pengalaman membuat kerajinan tersebut dengan cara warga desa asli.

Kesimpulan

Konsep pengembangan yang sama antara Desa Kembang Kuning dan Tetabatu memang memberikan kesempatan untuk menjalin kerjasama dalam upaya penyediaan daya tarik wisata, akomodasi, dan kuliner. Namun apabila dilihat dalam skala yang lebih luas terdapat beberapa desa lain yang juga memiliki tema pengembangan yang sama sehingga tidak menutup kemungkinan telah dilakukan kerjasama antara desa-desa tersebut dalam artian tidak hanya antara Desa Kembang Kuning dan Tetebatu saja, hal ini dapat mengurangi kepentingan kerjasama antara Desa Kembang Kuning dan Tetebatu khususnya karena apabila terdapat kerjasama dengan desa yang lain dan lebih menguntungkan besar kemungkinan kerjasama yang telah terjalin akan merenggang. Selain itu persamaan konsep pengembangan juga dapat menjadi salah satu faktor yang memicu persaingan antara Desa Kembang Kuning dan Tetebatu, sebagaimana mestinya sebuah desa wisata dikembangkan agar menyediakan daya tarik wisata, akomodasi, kuliner, dan fasilitas penunjang pariwisata lainnya, masing-masing desa akan berusaha untuk memenuhi dan melakukan pembenahan secara internal. Sehingga terdapat kemungkinan bahwa dalam jangka waktu yang lebih panjang kerjasama antara Desa Kembang Kuning dan Tetebatu akan merenggang apabila kedua desa telah dapat memenuhi semua kebutuhan wisatawan.

Daftar Pustaka

  • Ardika, I Gede. 2018. Kepariwisataan Berkelanjutan Rintis Jalan Lewat Komunitas. Kompas Media Nusantara: Jakarta
  • APEC Tourism Working Group. (2009). Handbook on Community Based Tourism "How to Develop and Sustain CBT."
  • Ridwan, "Informasi Desa". https:/ /desawisatakembangkuning.com/. Februari 2022. Diakses Pada 21 Mei 2022.
  • Hardoni. "Kembang Kuning Desa Wisata dan Kampung Sehat terbaik di NTB".2021. Diakses Pada 21 Mei 2022.
  • Ramadhian, Nabila. "Desa Tetebatu jadi perwakilan NTB The Best Village".2021. Diakes Pada 21 Mei 2022..

Annisa Lazuardina lahir di Bandung pada 12 Juli 1995. Saat ini Annisa Lazuardina merupakan mahasiswa Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan

studi DIV-nya pada jurusan Manajemen Destinasi Pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yang saat ini berubah nama menjadi Politeknik Pariwisata NHI Bandung.

Shabrina Amalia Ghassani lahir di Lumajang pada 11 April 1996. Saat ini Shabrina Amalia Ghassani merupakan mahasiswa Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021. Sebelumnya, Shabrina Amalia

Ghassani telah menyelesaikan studi S1-nya pada jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di ITS, Surabaya.

Lalu Syafril Rahmadio lahir di Malang pada 20 Juni 1998. Saat ini Lalu Syafril Rahmadio merupakan mahasiswa Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021. Sebelumnya, Lalu Syafril

Rahmadio telah menyelesaikan studi S1-nya pada jurusan Studi Industri Perjalanan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yang saat ini berubah nama menjadi Politeknik Pariwisata NHI Bandung.

Zaki Alif Ramadhani lahir di Sragen pada 1 Januari 1998. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan magister pada Program Studi Magister Perencanaan Kepariwisataan di Institut Teknologi Bandung. Sebelumnya ia telah menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana di Program Studi Pariwisata, Universitas Brawijaya.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.40
FWCIfield-weighted
75th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.56
level 1
Tourism 0.51
level 2
Geography 0.38
level 0

Institution Network