1. Atraksi
Atraksi wisata merupakan berbagai macam kegiatan yang ditampilkan atau ditawarkan kepada wisatawan untuk menarik minat mereka berkunjung ke destinasi wisata. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa terdapat atraksi budaya, atraksi alam, serta atraksi minat khusus yang menarik wisatawan untuk berkunjung.
Atraksi budaya merupakan salah satu atraksi unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pratama et al., 2020). Desa Wisata Bonjeruk merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki berbagai macam atraksi budaya yang dapat dinikmati wisatawan. Atraksi budaya yang terdapat di desa wisata Bonjeruk adalah gedeng beleq (Gapura ini sebagai gerbang menuju rumah bergaya peninggalan Belanda.), Masjid Raden Nunu Unas yang dibangun pada tahun 1800-an, pembuatan kopi sangria khas Bonjeruk, kuliner khas ayam merangkat, serta belajar membuat jamu tradisional.
Selanjutnya Desa wisata Bonjeruk memperkenalkan dan mengajak wisatawan untuk jalan-jalan di hamparan sawah. Wisatawan dapat merasakan keasrian alam dan ketenangan yang di desa wisata Bonjeruk. Wisatawan Bonjeruk yang didominasi oleh wisatawan mancanegara
menjadikan keindahan alam Bonjeruk sebagai salah satu atraksi yang membuat nyaman wisatawan. Selanjutnya atraksi wisata alam berupa hamparan sawah yang dapat dinikmati wisatawan atraksi alam wisata bonjeruk lainnya adalah Tebing Purba. Tebing purba merupakan sebuah bebatuan yang diperkirakan berumur 100 tahun. Pesona alam tebing purba sangat cocok bagi wisatawan yang ingin berswafoto ditambah dengan air terjun yang mengalir menambah keindahan alam Bonjeruk.
Atraksi minat khusus merupakan atraksi yang dirancang untuk memenuhi minat dari suatu kelompok atau individu wisatawan tertentu. Melalui atraksi minat khusus, wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam dan memuaskan. Desa wisata Bonjeruk menyediakan atraksi minat khusus diantaranya walking tour dan cycling tour dengan melewati persawahan yang memiliki view yang masih asri dan alam masih terjaga. Selain itu terdapat kegiatan family gathering untuk wisatawan.
2. Amenitas
Dalam rangka menarik minat wisatawan untuk berkunjung tidak hanya mengoptimalkan atraksi wisata alam dan budaya, para pengelola desa wisata juga membuat suatu atraksi yang menambah kenyamanan wisatawan. Desa wisata Bonjeruk menyediakan fasilitas dasar seperti toilet, tempat parkir, warung makan, dan penginapan. Seluruh fasilitas ini dikelola dengan baik dan terjaga kebersihannya.
Para pengelola desa wisata membuat lapak kuliner untuk menyajikan masakan khas tradisional yang dinamakan pasar Bambu Bonjeruk dan Kantin 21. Paket-paket makanan yang ditawarkan juga diberi nama seunik mungkin seperti paket ayam merangkat dan paket begawe. Salah satu makanan khas yang menjadi daya tarik kuliner Desa Wisata Bonjeruk adalah Ayam Merangkat. Selain karena kulinernya, Pasar Bambu dan Kantin 21 juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sejumlah wisatawan berkunjung ke Pasar Bambu dan Kantin 21 karena penasaran dan ingin mencoba suasana makan di tempat makan tersebut. Hal ini menjadikan Pasar Bambu dan Kantin 21 sebagai amenitas sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung desa wisata Bonjeruk.
Pengelola desa wisata Bonjeruk juga telah menyediakan homestay untuk kebutuhan menginap wisatawan. Terdapat 2 buah homestay dimana setiap homestay memiliki 2 buah kamar. Jika wisatawan ingin menginap di homestay ini, wisatawan dapat menginap selama 2 hari 1 malam dan 3 hari 2 malam.
3. Aksesibilitas
Akses menuju Desa Wisata Bonjeruk sudah sangat baik dan mudah untuk dijangkau. Kondisi jalan dari pusat Kota Mataram menuju Desa Wisata Bonjeruk sudah diaspal. Kondisi jalan juga cukup lebar sehingga dapat
diakses mobil dan bus besar. Jika wisatawan tidak membawa kendaraan pribadi dan ingin menggunakan jasa transportasi melalui pemesanan online, layanan ini juga dapat diakses dari dan menuju Desa Wisata Bonjeruk. Wisatawan juga tidak perlu khawatir terkait kendala seperti kemacetan atau kondisi jalan yang tidak bagus.
Lokasi Desa Wisata Bonjeruk juga dapat dicari oleh wisatawan melalui aplikasi google maps sehingga memudahkan wisatawan yang ingin mengunjungi Desa Wisata Bonjeruk tanpa didampingi pemandu atau orang lokal. Sementara signage berupa papan petunjuk jalan masih sangat terbatas, sehingga jika wisatawan tidak dapat menggunakan telepon genggam untuk mencari petunjuk jalan, mereka akan kesulitan, sehingga signage perlu ditambahkan.
Desa Wisata Bonjeruk dapat diakses kurang lebih 30 menit dari Bandara Internasional Zainudin Abdul Madjid. Sementara waktu tempuh dari Kota Mataram menuju desa wisata Bonjeruk sekitar 45 menit.
4. Ancellery Service
Desa Wisata Bonjeruk dalam pengelolaannya memiliki kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang membantu pengelolaan pariwisata Bonjeruk. Pokdarwis Desa Wisata Bonjeruk terdiri dari 25 orang dimana diketuai oleh Pak Usman. Pokdarwis Bonjeruk memiliki peran yang sangat penting dalam membangun konsep desa wisata. Beberapa peran Pokdarwis Bonjeruk antara lain: (1) membuat berbagai macam konsep atraksi wisata budaya dan alam untuk menarik minat wisatawan; (2) ikut serta dalam membuat paket-paket wisata; (3) mempromosikan Desa Wisata Bonjeruk melalui sosial media; dan (4) ikut dalam berbagai kegiatan atau event pariwisata.
Di dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dari anggota pokdarwis, pengurus pokdarwis mengadakan berbagai pelatihan. Pelatihan tersebut tidak hanya diadakan oleh pihak pengurus, tetapi juga hasil kerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah, universitas, dan industri. Beberapa pelatihan yang telah diadakan antara lain pelatihan penguasaan bahasa inggris, pelatihan pembuatan paket wisata, dan pelatihan manajemen pemasaran pariwisata. Melalui pelatihanpelatihan yang telah diadakan tersebut, terjadi peningkatan kapasitas SDM di Desa Wisata Bonjeruk sehingga lebih siap untuk berperan dalam memajukan pariwisata di Desa Wisata Bonjeruk.
Potensi Desa Wisata Bonjeruk sebagai Destinasi Wellness Tourism dilihat dari Kriteria Ruang Lingkup Wellness Tourism
Desa wisata Bonjeruk yang menawarkan suasana serta kehidupan pedesaan yang tenang dan damai dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin berwisata untuk tujuan memperoleh ketenangan, kenyamanan, dan pengalaman
baru. Hal ini sejalan dengan konsep Wellness Tourism, dimana jenis pariwisata ini memperhatikan aspek pengalaman fisik, pengalaman mental, pengalaman spiritual, dan pengalaman lingkungan.
1. Pengalaman Fisik
Konsep Wellness Tourism merupakan konsep pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan wisatawan, terutama kesehatan secara fisik. Wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Bonjeruk dapat merasakan udara yang bersih dan minim dari paparan polusi. Udara yang bersih dapat membuat tubuh terasa lebih bugar. Selain itu, wisatawan juga dapat mengikuti berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kebugaran fisik seperti walking tour, cycling tour, serta meminum jamuan tradisional.
Berdasarkan hasil wawancara kepada wisatawan Bonjeruk, wisatawan merasa sangat senang dengan adanya kegiatan walking tour dan cycling tour. Melalui kegiatan ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan alam yang asri sekaligus dapat meningkatkan imun mereka. Wisatawan banyak yang memiliki preferensi berwisata yang berubah sejak pandemi Covid-19, yaitu wisata alam atau pedesaan di kawasan terbuka yang menawarkan suasana tenang dan tidak dikunjungi secara massal. Jenis wisata tersebut selaras dengan konsep desa wisata Bonjeruk. Desa wisata Bonjeruk yang menawarkan suasana pedesaan yang asri dengan kondisi kawasan yang cukup luas juga menjadikan wisatawan merasa aman dan tidak merasa khawatir kesehatan mereka akan terganggu.
Konsep wellness tourism selama ini identik dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan yang menungjang kesehatan wisatawan seperti spa dan yoga. Kegiatan spa dan yoga saat ini belum tersedia di Bonjeruk. Menurut pengelola, kegiatan spa dan yoga sudah masuk dalam rencana pengembangan desa wisata Bonjeruk. Aktivitas ini rencananya akan dijadikan daya tarik tambahan.
Selain kegiatan fisik, wisatawan juga disuguhkan dengan berbagai macam wisata kuliner yang dapat menyehatkan badan yaitu minuman jamu tradisional khas Bonjeruk. Minuman jamu tradisional berasal dari tanaman herbal yang berada di desa wisata dimana berkhasiat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran wisatawan (Susanti, 2022). Minuman jamu tradisional ini sudah satu paket dengan kegiatan cycling tour. Penyediaan minuman jamu ini dikolaborasikan dengan Kantin 21. Para penyedia jasa makanan minuman di Desa Wisata Bonjeruk sangat memperhatikan aspek kebersihan. Setiap pegawai menggunakan sarung tangan saat menyediakan makanan dan minuman agar hygiene tetap terjaga. Selain itu, seluruh peralatan untuk memasak maupun peralatan untuk menyajikan makanan dipastikan kebersihannya sehingga kualitas makanan dan minuman terjaga baik.
2. Pengalaman Mental
Wisatawan mengunjungi suatu destinasi ditentukan dengan adanya faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong merupakan faktor yang berasal dari dalam wisatawan. Salah satu faktor pendorong wisatawan melakukan perjalanan wisata adalah ingin refreshing, menghilangkan stress, merasa relax, serta merasakan ketenangan dan kenyamanan (Clarissa et al., 2020). Melalui wellness tourism, kebutuhan wisatawan ini akan dapat terpenuhi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah wisatawan, mereka merasakan ketenangan saat mengunjungi Desa Wisata Bonjeruk. Pemandangan alam yang masih asri membuat mereka melupakan sejenak kepenatan dari aktivitas mereka sehari-hari. Suasana pedesaan juga menjadikan wisatawan merasa relax. Kehidupan khas pedesaan yang identik dengan masyarakatnya yang ramah ikut mendukung kenyamanan wisatawan saat berkunjung ke Bonjeruk. Masyarakat terutama para pengelola Desa Wisata Bonjeruk memberikan pelayanan dengan baik, sehingga wisatawan merasa sangat diterima masyarakat. Wisatawan merasa menyatu dan menjadi bagian dari masyarakat Desa Wisata Bonjeruk.
3. Pengalaman Spiritual
Konsep wellness tourism juga berkaitan dengan pengalaman spiritual yang diperoleh oleh wisatawan. Pengalaman spiritual berkaitan dengan upaya yang terus menerus dalam mencari makna keberadaan manusia dan menghormati kekuatan alam di alam semesta. Pengalaman spiritual dapat diperoleh melalui berbagai upaya, salah satunya dengan melakukan perjalanan ke suatu tempat yang baru. Melalui perjalanan, wisatawan dapat memperoleh pengetahuan dan memori yang baru, merasakan emosi yang baru, memiliki persepsi yang baru, serta mengenali kembali dirinya; meningkatkan semangat; dan berkesempatan untuk berbagi pengalaman dengan orang-orang baru yang ditemui di tempat wisata.
Desa Wisata Bonjeruk dengan kehidupan khas pedesaan dapat menjadi alternatif tempat wisata yang menawarkan suasana asri dan damai. Wisatawan dapat menikmati suasana pedesaan dengan damai dan tentram sehingga memperoleh rasa ketenangan jiwa. Dalam kondisi jiwa yang tenang, wisatawan dapat merasakan berbagai emosiemosi baru di desa wisata Bonjeruk, salah satunya melalui interaksi dengan wisatawan lain dan juga dengan masyarakat setempat.
Wisatawan juga dapat belajar banyak hal baru berupa cara hidup masyarakat setempat, dan bertukar pengalaman dengan wisatawan lain maupun dengan masyarakat setempat. Wisatawan yang sudah merasa memiliki hubungan baik dengan wisatawan lain atau masyarakat
setempat akan merasa sangat diterima dan menjadikan kenangan yang baik. Berbagai aktivitas tersebut mungkin dapat membuat wisatawan memiliki persepsi baru mengenai kehidupan atau suatu hal. Serangkaian pengalaman mental dan spiritual yang dirasakan wisatawan dapat membuat wisatawan merasa lebih bersemangat. Wisatawan juga memperoleh pengalaman dan memori-memori baru yang mungkin bermanfaat meskipun kegiatan perjalanan sudah selesai.
4. Pengalaman Lingkungan
Pengembangan wellness tourism di Bonjeruk tidak hanya fokus pada penyediaan atraksi dan fasilitas yang dibutuhkan wisatawan, tetapi juga perlu memperhatikan pemahaman masyarakat dan pengelola pariwisata terkait konsep wellness tourism agar konsep ini dapat diimplementasikan dengan baik.
Secara umum, para pengeloa desa wisata Bonjeruk telah memahami konsep wellness tourism, tetapi pengelola belum merencanakan secara khusus untuk mengembangkan desa wisata Bonjeruk sebagai destinasi wellness tourism. Meskipun demikian, pengelola telah menerapkan beberapa kegiatan yang sejalan dengan konsep wellness tourism. Hal ini salah satunya dilatar belakangi oleh adanya pandemi Covid-19. Sejak pandemic Covid-19, wisatawan cenderung menghindari tempat wisata yang ramai dan dan tempat wisata yang tidak bersih. Oleh karenanya, pengelola desa wisata Bonjeruk sangat memperhatikan hal ini.
Para pengelola bersama masyarakat berupaya menyediakan tempat wisata nyaman, aman, dan bersih sehingga wisatawan lebih nyaman dan percaya untuk datang berkunjung ke desa wisata Bonjeruk. Kondisi lingkungan Desa Wisata Bonjeruk juga jauh dari keramaian, sehingga wisatawan dapat melepas kepenatan dari aktivitas yang sudah mereka lakukan sehari-hari. Desa Wisata Bonjeruk juga sangat memperhatikan
kelestarian alam dan kebersihan lingkungan untuk menjaga suasana asri Desa Wisata Bonjeruk.
Kesimpulan
Desa wisata Bonjeruk sebagai sebuah destinasi wisata telah dilengkapi komponen destinasi wisata (atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan ancillary services) yang lengkap dan dalam kondisi baik. Desa wisata ini menawarkan atraksi wisata yang cukup beragam yaitu atraksi wisata alam, atraksi wisata budaya, dan atraksi wisata minat khusus. Sementara pada aspek amenitas, desa wisata Bonjeruk didukung amenitas yang cukup lengkap seperti toilet, tempat parkir, warung makan, dan penginapan. Kondisi seluruh fasilitas ini dikelola dengan baik. Desa wisata Bonjeruk juga memiliki aksesibilitas yang baik ditinjau dari kondisi jalan, jarak tempuh, kemudahan mengakses alat transportasi, dan kemudahan mengakses petunjuk menuju lokasi. Akan tetapi signage berupa papan petunjuk jalan masih sangat terbatas. Sementara pada aspek ancillary service, desa wisata Bonjeruk dikelola oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam Pokdarwis desa wisata Bonjeruk.
Desa wisata Bonjeruk juga terbukti mampu memberikan pengalaman pengalaman fisik, pengalaman mental, pengalaman spiritual, dan pengalaman lingkungan bagi wisatawan. Pengalaman fisik diperoleh melalui aktivitas seperti walking tour dan cycling tour. Sementara pengalaman mental diperoleh wisatawan karena perasaan nyaman, tenang dan damai yang dirasakan ketika berkunjung di Desa Bonjeruk yang tenang, asri dan menyatu dengan masyarakat setempat. Pengalaman spiritual juga dirasakan oleh wisatawan yang memperoleh rasa ketenangan jiwa dan pembelajaran hidup baru. Sedangkan pengalaman lingkungan telah diupayakan sebaik mungkin oleh pengelola dan masyarakat Bonjeruk seperti menyediakan tempat wisata nyaman, aman, dan bersih.
Daftar Pustaka
- Aji, R. R., & Faniza, V. (2022). Pemanfaatan Modal Sosial dalam Pengembangan Komponen Pariwisata di Desa Wisata Pentingsari. 9, 47–59. https://doi.org/10.34013/barista.v9i02.703
- Clarissa, N., Eugenia, T., & Sienny, T. (2020). MOTIVASI WISATAWAN DALAM MEMILIH BALI SEBAGAI DESTINASI WELLNESS TOURISM DAN PENGARUHNYA TERHADAP MINAT BERKUNJUNG KEMBALI. Jurnal Hospitaity Dan Manajemen Jasa, 8(2), 100–120.
- Cooper, C. (2016). ESSENTIALS OF TOURISM second edition. Pearson.
- Dewi, I. D. ., & Idajati, H. (2022). Identifikasi Indikator Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Konsep Tourism Resilience di Kecamatan Kuta, Bali. Jurnal Teknik ITS, 11(3). https://doi.org/10.12962/j23373539.v11i3.98014
- Febriana, F., Darmawan, F., & Wibowo, S. T. (2022). Komponen Pariwisata Dan Daya Dukung Kawasan Di Pulau Liwungan. Jurnal Kepariwisataan, 21(1), 27–36. https://doi.org/10.52352/jpar.v21i1.723
- Global Wellness Institute (GWI). (2018). Global wellness tourism economy. Global Wellness Tourism Economy – November 2018, November, 1–102.
- https://globalwellnessinstitute.org/industryresearch/global-wellness-tourismeconomy/%0Ahttps://globalwellnessinstitute.org/wp -
- content/uploads/2018/11/GWI_GlobalWellnessTou rismEconomyReport.pdf
- Kemenparekraf. (2020). Penyusunan Rancangan Peraturan Tentang Pengembangan Bisnis Inklusif Pariwisata Kebugaran di Desa Wisata.
- Kongtaveesawas, N., Prasarnphanich, P., Sinthupinyo, S., & Ashton, A. S. (2022). Attribute Framework Validation for Wellness Tourism within the Context of Thailand.
- Kurniansah, R., Hulfa, I., Rojabi, S. ., Ulya, B. ., Minanda, H., & Budiatiningsih, M. (2023). Potensi Dan Karakteristik Ekowisata Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. MANDALIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 01(01), 10–17.
- Lucky Kurniawan, L. (2018). Promoting Indonesia as a Wellness Tourism Destination. KnE Social Sciences, 3(10), 250–260. https://doi.org/10.18502/kss.v3i10.3378
- Murianto. (2019). Desa Bonjeruk Sebagai Desa Wisata Berbasis Alam Dan Budaya Di Lombok Tengah. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689– 1699.
- Nugroho, R., & Suprapto, F. . (2021). MEMBANGUN DESA WISATA Bagian 3: Pengelolaan Desa Wisata. PT Elex Media Komputindo.
- Pratama, A. A., Busaini, B., & Saufi, A. (2020). Content Analysis in Determining the Sustainability Potential of Lombok Tourism Industry. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 7(8), 216. https://doi.org/10.18415/ijmmu.v7i8.1845
- Shanty, K., Parwati, M., & Amir, F. L. (2022). ANALISIS 4A MOANA FISH EATRY CANGGU PADA ERA NEW NORMAL ANALYSIS 4A MOANA FISH EATRY CANGGU IN THE NEW NORMAL ERA. 1(3), 153–162.
- Simatupang, V., Tarunajaya, W. B., Polytechnic, T., Polytechnic, B. T., Info, A., Tourism, W., & Tourists, S. (2022). HUMAN RESOURCES READINESS IN WELLNESS TOURISM MANAGEMENT IN THE SENIOR TOURIST MARKET SHARE IN. 2(4), 1879–1888.
- Supardi, Lestari, Z. ., & Kurnia, O. (2022). Penerapan analisis swot dan pendekatan 4a sebagai strategi pengembangan destinasi wisata di pulau angso duo pariaman. 1(2), 51–56.
- Susanti, H. (2022). Wellness tourism sebagai Bentuk Adaptasi terhadap Dinamika Pariwisata Bali di Era New Normal. 16, 1–11.
- Widarini, P. S. I., Wijaya, M., & I N, A. M. (2022). Wellness and Herbal Tourism Based on Local Wisdom as an Alternative to 'New Normal' Tourism. Jurnal Komunikasi, 14(2), 299–321. https://doi.org/10.24912/jk.v14i2.17568
- Wijayati, N. (2021). Desa Sebagai Destinasi Wisata. DESA PUSTAKA INDONESIA.
Baiq Nikmatul Ulya merupakan dosen di Program Studi Pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mataram. Pendidikan penulis dimulai pada pendidikan strata 1 di Universitas Mataram pada Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian tahun 2013 dan diselesaikan pada tahun 2017. Pendidikan strata 2 penulis di Universitas Mataram pada Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada tahun 2018 dan diselesaikan pada tahun 2021.
Hasnia Minanda mulai bekerja di bidang pariwisata pada tahun 2017. Pendidikan penulis dimulai pada pendidikan strata 1 di Universitas Airlangga Surabaya, Fakultas Ilmu Budaya Islam tahun 2013 dan diselesaikan pada tahun 2017. Selanjutnya pendidikan strata 2 penulis di Universitas Udayana pada Program Pascasarjana Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata pada tahun 2018 dan diselesaikan pada tahun 2020.
Mahmudah Budiatiningsih merupakan dosen Program Studi Pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mataram. Penulis menempuh pendidikan Strata 1 pada Program Studi S1 Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (2012-2016). Penulis melanjutkan studi Magister pada Program Studi Perencanaan Kepariwisataan di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung (2019-2021).
Rizal Kurniansah merupakan dosen tetap Program Studi Pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram. Pendidikan penulis dimulai pada Pendidikan diploma III di Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram tahun 2017 dan diselesaikan pada tahun 2010, dan melanjutkan Pendidikan pada Diploma IV dan Strata 2 di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana tahun 2011 dan diselesaikan pada tahun 2016.
