1. Home
  2. Archives
  3. Vol 22 (2024) Issue 1
  4. Articles

Strategi Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba

Abstract

This research aims to identify and formulate development strategies for the Lake Toba Region as a super priority destination in supporting national economic development and equitable distribution of development. The Lake Toba area is a National Strategic Area (KSN) and a National Tourism Destination. The vision and mission of the Lake Toba Region are sustainable development, preservation of diversity, integrated development between districts, increased attractiveness, and sustainable tourism development. The Integrated Tourism Master Plan (ITMP) and the Integrated and Sustainable Tourism Development Program (P3TB) support tourism development in the Lake Toba Region. This research will formulate a comprehensive planning strategy for the Lake Toba Region by considering the territorial integrity and infrastructure supporting tourism. Infrastructure development, including the Tebing Tinggi-Serbelawan toll road, will support the development of the Lake Toba area. This research will contribute to the development of the Lake Toba Region as Indonesia

Keywords

d. Kemusiman (seasonality) Kriteria ini menilai apakah suatu daya tarik dapat dinikmati sepanjang tahun atau hanya pada saat tertentu.

  • e. Aksesibilitas (accessibility) Jarak dari pusat kegiatan/DTW lainnya, waktu tempuh, kondisi jalan, biaya transportasi, dan tarif masuk DTW menggambarkan kemudahan pencapaian suatu daya tarik.
  • f. Peluang pengembangan (development opportunities) Penilaian dilakukan dengan melihat peluang pengembangan suatu daya tarik kedepannya, di mana daya tarik yang memiliki nilai kemenarikan (attractiveness) dan aksesibilitas tinggi namun terletak di kawasan yang tidak aman dari sisi sosial, politik, atau lingkungan (terletak di geosite yang rentan, hutan lindung, dsb), maka nilai peluang pengembangannya akan rendah.
  • g. Komunikasi/pemasaran (brand communication) Kriteria ini menunjukkan bentuk, lingkup, dan target pemasaran yang telah dilakukan oleh daya tarik untuk menarik wisatawan.

Kekuatan (Strength)

Kawasan Danau Toba memiliki sejumlah kekuatan yang dapat menjadi landasan strategi pengembangan kawasan wisata. Pertama, Danau Toba adalah Kaldera Quartery terbesar di dunia dan diakui sebagai warisan dunia. Keberadaannya menawarkan keanekaragaman geologi, biologis, dan budaya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Selain itu, terdapat juga atraksi buatan manusia yang menambah nilai dan keunikan kawasan ini.

Potensi pasar yang ada untuk Danau Toba juga sangat menjanjikan. Malaysia menjadi pasar dengan volume terbesar, sementara Singapura, Cina, Australia, Jerman, Inggris, Prancis, dan India adalah pasar dengan pertumbuhan signifikan. Namun, perlu dicatat bahwa Belanda merupakan pasar yang berisiko, sehingga strategi pemasaran yang tepat perlu dikembangkan untuk mengatasi tantangan tersebut.

Selanjutnya, sektor pertanian, termasuk perikanan, menjadi sektor ekonomi utama masyarakat sekitar Danau Toba. Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian daerah sebelumnya menunjukkan dominasinya. Dalam pengembangan kawasan, perencanaan untuk memperkuat sektor pertanian, terutama kawasan tanaman pangan dan hortikultura, sejalan dengan potensi yang ada dan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.

Dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini, strategi pengembangan Danau Toba sebagai kawasan wisata dapat difokuskan untuk memperkuat daya tarik alam dan budaya yang unik, serta mengembangkan pasar potensial yang ada. Selain itu, pengembangan sektor pertanian dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Kelemahan (Weakness)

Dalam pengembangan Danau Toba sebagai kawasan wisata, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Pertama, perlu dilakukan pengurangan limpasan limbah industri agar tidak mencemari danau, sungai, dan daerah tangkapan air lainnya. Upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan danau perlu menjadi fokus dalam strategi pengelolaan danau yang berkelanjutan.

Selain itu, perhatian juga harus diberikan pada pengelolaan sumber daya seperti makanan, air, dan energi. Pengelolaan emisi udara, limbah, manajemen bahan berbahaya, konservasi keanekaragaman hayati, kebisingan, dan penggunaan pestisida juga harus diutamakan demi menjaga keberlanjutan lingkungan sekitar Danau Toba.

Kualitas air Danau Toba juga menjadi kelemahan yang perlu ditangani. Terdapat penurunan kualitas air di beberapa kabupaten, terutama di kawasan-kawasan budidaya perikanan seperti Keramba Jaring Apung (KJA). Dalam strategi pengembangan kawasan ini, perlu dilakukan upaya pemulihan dan perbaikan kualitas air untuk menjaga keberlanjutan ekosistem danau.

Selain itu, tingginya kepadatan lalu lintas menuju Kawasan Toba menjadi kendala dalam pergerakan wisatawan. Ruas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah wisatawan dapat menghambat mobilitas dan aksesibilitas ke kawasan Danau Toba. Oleh karena itu, peningkatan infrastruktur jalan perlu diperhatikan agar dapat mengakomodasi pertumbuhan pariwisata dengan baik.

Dalam menghadapi kelemahan-kelemahan ini, perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang mengutamakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, perbaikan kualitas air, serta peningkatan infrastruktur transportasi. Dengan melakukan penanganan yang tepat terhadap kelemahan-kelemahan ini, pengembangan Danau Toba sebagai kawasan wisata dapat berjalan dengan lebih baik dan berkelanjutan.

Peluang (Opportunity)

Terdapat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan Danau Toba sebagai kawasan wisata. Pertama, pembangunan prasarana menjadi peluang penting, seperti pembangunan jalan tol, peningkatan jalur kereta api, pelabuhan, dan bandara udara. Infrastruktur yang lebih baik akan meningkatkan aksesibilitas dan memudahkan wisatawan untuk mengunjungi Danau Toba.

Selain itu, terdapat pertumbuhan investasi dalam bidang akomodasi dan sarana lain di berbagai lokasi di Kawasan Danau Toba yang akan selesai tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya minat investasi yang besar dan kesempatan untuk mengembangkan fasilitas akomodasi yang lebih baik untuk meningkatkan pengalaman wisatawan.

Dalam perencanaan pengembangan kawasan wisata unggulan (KWU) dan kawasan prioritas di sekitar Danau Toba, terdapat berbagai peluang yang menarik. KWU Parapat dapat mengusung tema MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan Rekreasi untuk menarik wisatawan dalam acara-acara bisnis dan rekreasi. KWU Simanindo dapat mengembangkan tema kebudayaan dengan memperkuat warisan budaya lokal. KWU Pangururan memiliki peluang untuk mengusung tema geowisata dengan memanfaatkan kekayaan geologi yang ada di sekitar kawasan. KWU Balige dapat menjadi pusat kota dengan tema pusaka perkotaan yang menampilkan keunikan dan sejarah kota tersebut. KWU Muara dapat memanfaatkan tema budaya dan geologi sebagai daya tarik yang unik. Terakhir, KWU Merek dapat mengusung tema Nature-Eco yang menarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman ekowisata.

Dengan memanfaatkan peluang-peluang ini, pengembangan Danau Toba sebagai kawasan wisata dapat menghasilkan diversifikasi produk, meningkatkan daya tarik, dan menarik minat wisatawan dengan berbagai minat dan preferensi. Perencanaan yang matang dalam mengembangkan KWU dan kawasan prioritas akan memberikan dampak positif dalam menghadirkan pengalaman wisata yang beragam dan unik di sekitar Danau Toba.

Ancaman (Threats)

Pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi parwisata juga dihadapkan dengan sejumlah ancaman yang perlu diperhatikan. Pertama, berkembangnya kawasan ini meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata. Namun, masyarakat Batak merasa tidak nyaman bekerja di sektor pariwisata karena sering disalahartikan sebagai pelayan. Hal ini memberikan peluang bagi masyarakat di luar kawasan Toba untuk berkarir di bidang pariwisata, namun juga dapat menimbulkan potensi konflik karena lahan pekerjaan diambil alih oleh warga dari luar Toba. Penting untuk memperhatikan integrasi masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata untuk menghindari ketimpangan sosial dan konflik.

Kedua, keberadaan spesies flora dan fauna yang unik di kawasan Danau Toba menawarkan peluang untuk pengembangan produk ekowisata. Jika kawasan ini dipasarkan sebagai satu-satunya tujuan ekowisata supervolcano di dunia, hal ini dapat menarik minat wisatawan yang peduli lingkungan. Namun, pengembangan kepariwisataan di kawasan ini juga dapat menjadi ancaman terhadap keberlanjutan spesies yang ada. Penting untuk mengambil tindakan perlindungan lingkungan dan pengelolaan yang baik untuk memastikan bahwa eksploitasi wisata tidak merusak ekosistem dan mengancam keberadaan spesies flora dan fauna yang ada.

Ketiga, meningkatnya permintaan kayu dalam pembangunan kawasan Toba dapat meningkatkan penebangan liar di daerah tangkapan air Danau Toba. Hal ini berpotensi menyebabkan dampak negatif seperti estetika yang terganggu, erosi lahan, degradasi lingkungan, dan pencemaran air. Penting untuk mengimplementasikan kebijakan yang ketat terkait pengelolaan hutan dan penebangan kayu yang berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keindahan alam kawasan Toba.

Dalam menghadapi ancaman-ancaman ini, penting bagi pengembangan kawasan Danau Toba sebagai kawasan wisata untuk memperhatikan keberlanjutan sosial, lingkungan, dan ekonomi. Melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata, menjaga keberlanjutan alam dan budaya, serta menerapkan kebijakan yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya adalah langkah-langkah penting untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan pengembangan kawasan wisata Danau Toba.

Keefektifan dan Keseimbangan

Berdasarkan identifikasi potensi wisata yang sudah dilakukan, dapat dikembangkan menjadi strategi pengembangan Wisata Kawasan Danau Toba menggunakan Matriks SWOT. Matriks tersebut berisi tentang strategistrategi yang diperlukan. Setelah faktor-faktor telah diidentifikasi, kemudian dapat dilakukan perumusan strategi pengembangan untuk Kawasan Danau Toba. Strategi pengembangan melalui analisis SWOT menurut Rangkuti

(2015) terbagi menjadi 4 (empat), yakni strategi Strengths-Opportunities (S-O), strategi Strengths-Threats (S-T), strategi Weaknesses-Opportunities (W-O), serta strategi Weaknesses-Threats (W-T).

Kesimpulan

Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan pada Kawasan Danau Toba, didapatkan bahwa Danau Toba memiliki banyak kekuatan dan juga peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang muncul dari kawasan sekitar Danau Toba.

Kawasan Danau Toba merupakan kawasan yang diproyeksikan sebagai Destinasi Parwisata unggulan dari 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang tersebar di Indonesia, dari ke 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas ini Danau Toba memiliki kekuatan antara lain yaitu adanya Kaldera Quartery terbesar di dunia dan menjadi warisan dunia dengan keanekaragaman geologi, biologis, budaya, serta atraksi buatan manusia, serta kekayaan budaya yang dapat menarik kunjungan wisatawan asing dari belahan dunia dengan mengandalkan potensi pasar yang terbentuk, selain itu beberapa sektor yang ada seperti pertanian dan perikanan yang berkontribusi pada pemasukan keuangan daerah Danau Toba.

Kawasan Danau Toba juga memiliki kelemahan dalam pengelolaan limbah belum optimal sehingga mempengaruhi kualitas air di Kawasan Danau Toba, ini berpengaruh kepada kualitas flora dan fauna yang ada di sekitar kawasan. Pengelolaan kemacetan yang masih belum ada solusinya selain pembangunan jalan yang lebih lebar atau pun

penambahan jalan tol masih berjalan perencanaannya, selama pelaksanaannya juga harus benar-benar diawasi agar sesuai dengan rencana.

Kawasan Danau Toba memiliki peluang dalam segi pembangunan infrastruktur yang akan menjamin kemudahan wisatwan dalam berkunjung ke Kawasan Danau Toba, seperti adanya pembangunan jalan Tol, peningkatan jalur kereta api yang akan membantu aksesibilitas darat di daerah, selain itu dari pembangunan akses jalur udara dengan adanya pembangunan bandara udara, selain itu investasi pada bidang akomodasi ini akan selesai di tahun ini di beberapa lokasi di Kawasan Danau Toba, demi mendukung peluang yang ada di setiap KWU di Danau Toba.

Kawasan Danau Toba tidak lepas dari beberapa ancaman diantaranya adalah dari sisi Sumber Daya Manusia yang akan bergerak di bidang pariwisata khsusunya di kawasan Danau Toba, di mana masyarakat setempat merasa tidak nyaman berkerja di sektor pariwisata karena sering adanya salah paham dalam mengartikan mereka sebagai pelayan. Hal tersebut akhir nya membuka peluang bagi masyarakat di luar kawasan Danau Toba untuk berkarir di bidang pariwisata, tetapi hal tersebut mengakibatkan konflik karena lahan pekerjaan masyarakat setempat diambil alih, selain dari segi sumber daya manusia juga keberadaan spesies flora dan fauna juga ikut terancam karena belum adanya pembangunan yang dapat memberikan efek berkelanjutan di daerah tersebut, seperti adanya permintaan kayu yang meningkat di daerah kawasan Danau Toba yang akan berdampak pada estetika, erosi lahan, degradasi, dan pencemaran air.

Daftar Pustaka

Rangkuti, F. (2015). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yoeti, Oka A. (2003). Tours And Travel Marketing Jakarta : Pradnya Paramita.

Yoeti, O. A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.

Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Danau Toba dan sekitarnya.

Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan

Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba.

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Nasional.

WEF. (2028). The Travel and Tourism Competitiveness Report.

Kemenparekraf. (2012). Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional.

Kemenparekraf. (2020). Integrated Tourism Master Plan.

UNWTO. (2018). Profil Indonesia.

Annisa Lazuardina lahir di Bandung pada 12 Juli 1995. Saat ini Annisa Lazuardina merupakan lulusan Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021 dan studi DIV-nya pada jurusan Manajemen Destinasi Pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yang saat ini berubah nama menjadi Politeknik Pariwisata NHI Bandung.

Shabrina Amalia Ghassani lahir di Lumajang pada 11 April 1996. Saat ini Shabrina Amalia Ghassani merupakan lulusan Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021. dan menyelesaikan studi S1-nya pada jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Zaki Alif Ramadhani lahir di Sragen pada 1 Januari 1998. Saat ini merupakan Dosen Universitas Brawijaya dan telah menempuh pendidikan magister pada Program Studi Magister Perencanaan Kepariwisataan di Institut Teknologi Bandung dan jenjang sarjana di Program Studi Pariwisata, Universitas Brawijaya.

Lalu Syafril Rahmadio lahir di Malang pada 20 Juni 1998. Saat ini Lalu Syafril Rahmadio merupakan Dosen Politeknik Pariwisata Lombok Sebelumnya, Lalu Syafril menyelesaikan studinya di Magister Perencanaan Kepariwisataan pada Fakultas Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung angkatan Tahun 2021 dan studi S1-nya pada jurusan Studi Industri Perjalanan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yang saat ini berubah nama menjadi Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
16th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Business 0.44
level 0
Geography 0.38
level 0
level 1