1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (2025) Issue 1
  4. Articles

Potensi Desa Wisata Budaya Sangkanhurip

Abstract

Kabupaten Bandung merencanakan Desa Sangkanhurip untuk menjadi desa wisata. Untuk itu, diperlukan kajian mengenai potensi wisata sebagai daya tarik utama. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui wawancara terhadap perangkat desa dan masyarakat. Ditemukan kuatnya potensi wisata budaya yang menekankan pada pelibatan masyarakat, pelestarian budaya, serta potensi lokal sebagai daya tarik utama. Potensi tersebut terdiri dari pertunjukan seni budaya, padepokan silat, sanggar seni, produksi alat musik calung dan sangkar burung dari bambu, serta produk pangan lokal lamaya dan produk pangan inovatif lainnya. Kondisi saat ini menunjukkan adanya dukungan dari masyarakat, BUMDes, Karang Taruna, dan PKK di desa sebagai partisipasi masyarakat lokal.

Keywords

1. Memiliki potensi daya tarik wisata

Berdasarkan komponen daya tarik wisata budaya, dapat dilihat bahwa seni pertunjukan merupakan komponen yang paling banyak dimiliki Desa Sangkanhurip. Seni pertunjukan diselenggarakan secara rutin oleh Karang Taruna dan BUMDes melalui kegiatan pentas sederhana, festival, maupun lomba dan kontes. Kegiatan ini dihadiri warga sekitar dan bahkan wisatawan lokal dari Bandung Raya. Desa Sangkanhurip juga aktif memperkenalkan seni pertunjukan melalui situs web @sangkanhuripofficial8404 dan media sosial Instagram @infosangkanhurip. Seni pertunjukan diselenggarakan dalam rangka media keakraban warga setempat, serta memperkenalkan dan mempertahankan budaya lokal. Adanya budaya lokal pada penyelenggaraan acara kebudayaan dipandang sebagai inti dari identitas festival (Maniou, Fotini dan Mitoula, Roιdo, 2025). Penyelenggaraan acara kebudayaan juga memainkan peranan penting dalam mempromosikan budaya lokal, yakni dengan memberikan pengalaman menarik pada wisatawan untuk mengeksplorasi semangat komunitas lokal (Lopez dan Hiray, 2024). Daya tarik wisata budaya seperti ini akan meningkatkan upaya pelestarian budaya setempat (Rohimah dkk, 2024).

Desa Sangkanhurip juga memiliki masakan atau pangan lokal. Salah satu warga desa telah memproduksi produk lamaya selama beberapa generasi. Lamaya merupakan makanan tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari beras

ketan, gula, dan kelapa, dengan tekstur lebih kencang dibandingkan wajit (Alya, 2018). Mempertahankan makanan tradisional artinya melestarikan kebudayaan lokal, yang juga merupakan bagian dari gastronomi. Gastronomi Sunda merupakan salah satu daya tarik di tujuan wisata dan merupakan atribut penting dalam pengembangan tujuan wisata perjalanan (Turgarini, 2018).

Berbagai olahan pangan seperti cincau, aci, opak, dan ulen menunjukkan ciri khas budaya Sunda. Karena mayoritas penduduk merupakan suku asli Sunda. Jika berkeliling desa, wisatawan dapat menemukan masyarakat lokal yang mengolah produk opak seperti pada gambar 2. Opak merupakan produk yang diolah dari singkong. Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomi, singkong kemudian diolah lebih lanjut menjadi keripik singkong atau opak (Kenlarasati, dkk, 2023). Kekayaan dan keragaman kuliner Indonesia adalah bagian esensial dari identitas

budaya bangsa sehingga tradisi memasak, ritual kuliner, dan resep turun-temurun perlu dilestarikan sebagai bagian dari ketahanan budaya (Batubara dkk., 2024). Daya tarik pangan lokal ini dapat ditawarkan kepada wisatawan dengan cara memberikan edukasi proses produksi hingga pengemasan makanan. Memperlihatkan proses seperti ini dapat meningkatkan pengalaman berkesan bagi wisatawan (Tung dan Ritchie, 2011) dan merangsang panca indera sebagai pengalaman sensori wisatawan (Agapito dkk, 2013).

Selain itu, olahan pangan lokal yang unik seperti Es Mamat dan olahan serba lele (puding dan kukis) dapat menjadi produk ciri khas bagi desa ini. Es Mamat merupakan es serut dengan kacang merah dan kinca (gula jawa). Kacang merah sendiri memiliki kandungan serat dan zat besi yang cenderung lebih tinggi dibandingkan jenis kacang lainnya (Hastuti, et al., 2023). Adapun produk olahan dari ikan lele memenuhi kebutuhan nutrisi seperti kalori, protein, karbohidrat, dan mineral. (Hastuti dkk., 2023; lumajangkab.go.id, 2025). Studi menyebutkan bahwa kombinasi produk ikan lele dengan kacang merah berhasil meningkatkan hemoglobin sehingga cocok untuk dijadikan cemilan sekaligus obat bagi remaja wanita yang anemia. Hastuti dkk., 2023).

Bahkan desa ini memiliki seorang pemuda pemilik usaha yang telah mengekspor Keripik Pisang Zanana ke berbagai negara. Produk dapat dilihat pada gambar 3. Inovasi produk pangan yang kuat akan menjadi daya tarik wisata yang menarik, berperan mengembangkan kewirausahaan lokal, memperkuat citra merek lokal, dan semakin meningkatkan minat kunjungan, terutama generasi Z (Fuste-Furne, 2020; Ding, dkk, 2022). Untuk itu diperlukan upaya dalam menjaga kualitas produk makanan tradisional dan inovasi ini sebagai bagian dari daya tarik produk makanan lokal Sangkanhurip.

Daya tarik wisata budaya yang bisa ditawarkan selanjutnya adalah pada aspek kerajinan tangan, yaitu produksi alat musik calung. Calung termasuk salah satu alat musik tertua di Indonesia, yang berasal dari adat Sunda, Jawa Barat (Hayward dan Kartawi, 2023). Terbuat dari bambu, alat musik ini banyak dipergunakan dalam upacara adat, perayaan budaya, dan pertunjukan seni tradisional (Kubarsah, 1994). Selain itu, terdapat pengrajin sangkar burung yang juga terbuat dari bambu. Sangkar burung yang diproduksi di Desa Sangkanhurip seringkali dipasarkan hingga jangkauan se-Bandung Raya. Untuk itu, desa ini juga menggelar kegiatan kontes burung setiap tahunnya.

2. Memiliki komunitas masyarakat yang aktif

Desa Sangkanhurip telah memiliki berbagai organisasi kemasyarakatan yang mendukung kegiatan pariwisata. BUMDes secara aktif mengelola pemasukan bagi desa, UMKM, pasar rakyat, dan perencanaan pariwisata. Selain itu, terdapat para pemuda dalam Karang Taruna yang memiliki semangat dalam setiap pagelaran seni pertunjukan. Bahkan kelompok PKK yang terdiri dari para wanita mulai menggalakkan pemilahan sampah dan mengelola bank sampah di desa. Masyarakat merasa bahwa adanya kegiatan pariwisata akan berdampak pada peningkatan perekonomian di desa. Hal ini mengkonfirmasi pendapat dalam literatur sebelumnya, bahwa manfaat ekonomi yang dirasakan dan keterlibatan masyarakat dapat meningkatkan dukungan masyarakat terhadap pengembangan pariwisata di daerahnya (Nugroho, Prasetyo dan Numata, Shinya, 2020).

3. Ketersediaan sumber daya manusia lokal yang terlibat dalam pengembangan

Pada umumnya, partisipasi masyarakat lokal merupakan salah satu tantangan utama dalam mengembangkan desa wisata (Mukti, A., 2025). Namun adanya perwakilan dari setiap dusun, BUMDes, Karang Taruna, dan PKK menunjukkan sumber daya lokal telah mendukung komponen desa wisata. Dalam rangka menyelaraskan kebutuhan pelestarian tradisi dan peningkatan perekonomian dari sisi pariwisata, perlu melibatkan warga dalam perencanaan dan pelaksanaannya (Rusiawan, Wawan dan Wijayanti, S.C., 2024; Sung, dkk., 2021; Hadi, dkk., 2013).

4. Kelembagaan pengelolaan yang terstruktur

Saat ini perencanaan pariwisata dikelola oleh BUMDes, sehingga kelembagaan pengelolaan desa wisata sudah cukup terstruktur. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penentu kemajuan desa wisata, mengingat pengembangan desa wisata menonjolkan community based tourism, dimana masyarakat desa adalah subjek utama (Nugroho, 2024; Raharjana, 2024).

5. Dukungan fasilitas dan infrastruktur dasar

Desa ini telah memiliki sarana yang cukup untuk menyelenggarakan pertunjukan, diantaranya Kampung Buhun, yang di dalamnya terdapat aula, serta gubuk-gubuk untuk berdiskusi. Desa juga memiliki lapangan yang cukup luas untuk menyelenggarakan festival kebudayaan, kontes burung, dan menjadi

lahan parkir. Selain itu, terdapat warung makan atau restoran, fasilitas belanja, klinik kesehatan, apotek, ATM, dan masjid. Wisatawan dapat menuju desa menggunakan transportasi umum seperti bus dan mobil sewa; bahkan di dalam desa masih terdapat delman yang dapat digunakan untuk berkeliling desa. Namun, layanan wisata seperti pusat informasi pariwisata, pemandu dan operator wisata, serta akomodasi atau penginapan masih belum tersedia di desa ini. Sarana akomodasi merupakan hal yang dapat mendorong wisatawan untuk datang ke suatu tempat untuk menikmati daya tarik dalam waktu yang relatif lebih lama (Sirait, 2015 dalam Supraptini, 2020).

6. Berpotensi menarik pasar wisatawan

Penyelenggaraan pertunjukan seni merupakan penyumbang wisatawan terbesar di desa. Selain itu adanya pasar wisata setiap Minggu menjadi potensi menarik wisatawan di daerah sekitar. Kedepannya potensi ini perlu dikemas dengan memperhatikan keunikan, pengemasan, pengalaman, dan interaksi personal guna memaksimalkan potensi dari acara tersebut (Noor, 2009 dalam Wibowo, 2021).

7. Memenuhi aspek keberlanjutan

Desa Sangkanhurip telah memenuhi aspek-aspek dasar untuk menjadi desa wisata yang berkelanjutan karena telah mempertahankan kearifan lokal sebagai daya tarik, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan, dan mendapat dukungan pemerintah daerah (Hulu, 2018). Kendati demikian, masih ada beberapa faktor lain, seperti lingkungan, ekonomi, dan SDM berkelanjutan yang perlu diperhatikan dan masuk ke dalam rencana pengembangan desa wisata.

Kesimpulan

Desa Sangkanhurip telah memenuhi komponen desa wisata berbasis budaya lokal. Komponen daya tarik yang menonjol yakni dengan adanya pertunjukan seni budaya, padepokan silat, sanggar seni, produksi calung dan sangkar burung, serta produk pangan lokal lamaya dan produk pangan inovatif

lainnya. Sementara itu, keberadaan BUMDes, Karang Taruna, dan PKK sangat berperan aktif dalam kegiatan yang mendukung pariwisata. Terlebih aksesibilitas dan amenitas yang ada juga cukup mendukung Desa Sangkanhurip untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Daftar Pustaka

  • Ab.Hadi, M.Y.; Roddin, R.; Razzaq, A.R.A.; Mustafa, M.Z.; Baser, J.A. (2013). Poverty Eradication through Vocational Education (Tourism) among Indigenous People Communities in Malaysia: Pro-poor Tourism Approach (PPT). Procedia—Soc. Behav. Sci. 2013, 93, 1840–1844.
  • Agapito, Dora; Patricia Pinto; Patricia Pinto; Julio da Costa Mendes. (2013). The Cognitive-Affective-Conative Model of Destination Image: A Confirmatory Analysis. July 2013. Journal of Travel & Tourism Marketing 30(5):471. DOI: 10.1080/10548408.2013.803393?journalCode=wttm20
  • Alya, Raihana Nur. (2018) Lamaya. https://budayaindonesia.org/Lamaya
  • Batubara, Meilati. (2024). Pusaka Rasa Nusantara: The Heritage of Indonesian Flavors. Proyek Pusaka Rasa Nusantara.
  • Chaerunissa, S. F., & Yuniningsih, T. (2020). Analisis komponen pengembangan pariwisata di desa wisata Wonopolo, Kota Semarang. Jurnal Tinjauan Manajemen dan Kebijakan Publik, 9(4), 159–175.
  • Ding, L., Jiang, C. and Qu, H. (2022), "Generation Z domestic food tourists' experienced restaurant innovativeness toward destination cognitive food image and revisit intention", International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 34 No. 11, pp. 4157-4177. DOI:10.1108/IJCHM-07-2021-0903
  • Diyanti, N. A. (2022). Analisis Pengaruh Keberadaan Desa Wisata terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Aceh Besar (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry).
  • Hadiwijoyo, S. S. (2012). Perencanaan pariwisata perdesaan berbasis masyarakat: Sebuah pendekatan konsep. Graha Ilmu.
  • Hastuti, W., Eko Mulyo, G. P., Aminah, M. Widartika, W., Assalam, S., Amelia, S., Nur Aeni, M. (2023). Effect of Crispy Catfish and Red Beans on Increasing the Hemoglobin Level of Young Women with Anemia. Gaceta Médica De Caracas, 131(4S).
  • Hayward, S. & Kartawi, D. (2023). Calung Banyumasan:

  • Borderland identity through the lens of musical technique. Malaysian Journal of Music, 12(2), 61-75. DOI:10.37134//mjm.vol12.2.4.2023
  • Herdiana, D. (2019). Peran Masyarakat dalam Pengembangan. Jumpa, Vol.6 No.1. Pg: 63-86.
  • Hulu, Meitolo. (2018). Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan Studi Kasus: Desa Wisata "Blue Lagoon" Di Kabupaten Sleman, DIY. Journal of Tourism and Economic Vol.1, No.2, Page 73-81.
  • Gumelar, D. (2010). Komponen Utama Desa Wisata. Dalam Skripsi Universitas Semarang.
  • Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. (2021). Pedoman Desa Wisata (Edisi II). Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
  • Kenlarasati, A., Khairunisa, V. L., Nirmalasari, S., & Abadi, M. T. (2023). Pengembangan Produk Kuliner Lokal Untuk Meningkatkan Pariwisata Daerah (Studi Kasus Produk Kuliner Lokal di Wonobodro). JNB: Jurnal Nusantara Berbakti, 1(3), 46-55. DOI:10.59024/jnb.v1i3.159
  • Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kubarsah R., Ubun, Waditra (1994). Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat. CV Sampurna.
  • Lopes, R., & Hiray, A. (2024). Impacts of cultural events and festivals on cultural tourism. Journal of Advanced Zoology, 45, 174-179.
  • Maniou, Fotini and Roιdo Mitoula. (2025). Cultural Entrepreneurship and Literary Festivals - Their Relation to Local and Sustainable Development. International Journal of Science and Research Archive.
  • Mukti, A. (2025). Trends And Research Patterns in The Development of Rural Tourism in Indonesia: A Systematic Literature Analysis. Jurnal Kepariwisataan, 24(1), 102-128.
  • Nugroho, P., & Numata, S. (2020). Resident support of community-based tourism development: Evidence from Gunung Ciremai National Park, Indonesia.

Journal of Sustainable Tourism, 30(11), 2510–2525. DOI:10.1080/09669582.2020.1755675

Nuryanti, W. (1993). Concept, Perspective and Challenges in Cultural Tourism in Indonesia. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies.

Raharjana, Destha Titi Raharjana. (2024). Pentingnya Aktivasi SDM-Kelembagaan di Desa Wisata. Diakses dari https://ugm.ac.id/id/berita/pentingnya-aktivasisdm-kelembagaan-di-desa-wisata/ pada 22 Mei 2025.

Sung, W.; Kim, C. (2021). A Study on the Effect of Change Management on Organizational Innovation: Focusing on the Mediating Effect of Members' Innovative Behavior. Sustainability 2021, 13, 2079.

Supraptini, Nunuk; Supriyadi, Andhi. (2020). Pengaruh Fasilitas, Transportasi Dan Akomodasi Terhadap Kepuasan Wisatawan Dikabupaten Semarang. JMD:

Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara. Vol 3 no 2, Juli 2020.

Tung, Vincent Wing Sun Tung, J.R. Brent Ritchie. (2011). Exploring the essence of memorable tourism experiences. Annals of Tourism Research. Volume 38, Issue 4. Pages 1367-1386. DOI:10.1016/j.annals.2011.03.009.

Turgarini, D. (2018). Gastronomi Sunda Sebagai Daya Tarik Wisata Kota Bandung. Universitas Gajah Mada.

Wibowo, Setiawan; Natalia, Nadia; Rahmadini, Rr. Novi. (2021). Model Pengembangan Desa Wisata Berbasis Festival Budaya di Dusun Giyanti Kabupaten Wonosobo. Dinamika Sosial Budaya, Vol 23, No. 2, Juni 2021, pp 365-375.

Zanana Chips Story. (2021). Diakses dari https://www.zananachips.com/ pada 23 Mei 2025.

Candra Sari Triyana, SST. Par., M.M. merupakan dosen pada program studi S-1 Manajemen Industri Katering, Universitas Pendidikan Indonesia. Mengampu mata kuliah Manajemen MICE dan Event serta Manajemen Hotel, Restoran, dan Katering.

Ilmiati Tsaniah, S.Par., MM.Par. merupakan dosen pada program studi S-1 Manajemen Industri Katering, Universitas Pendidikan Indonesia. Mengampu mata kuliah Teknik Pengolahan Kue (Pastry) dan Teknik Pengolahan Roti (Bakery) dan menjadi Asesor Kompetensi di LSP Pariwisata Bhakti Persada.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., M.Par. merupakan dosen program studi Manajemen Industri Katering dan Magister Universitas Pendidikan Indonesia, program studi Magister Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo di Yogyakarta, dan menjadi promotor disertasi pada program Doktor Pariwisata Trisakti.

Agus Sudono, S.E., M.M. merupakan dosen senior pada program studi S-1 Manajemen Industri Katering. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia pada jurusan Manajemen.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
19th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Geography 0.34
level 0

Institution Network