5. Pembahasan
5.1 Klasifikasi tanah
Mengacu pada kriteria klasifikasi tanah berdasarkan Unified, maka dapat disimpulkan bahwa jenis tanah dalam penelitian ini termasuk ke dalam kelompok MH. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1, berdasarkan hasil uji gradasi butiran, persentase yang lolos saringan No.200 sebesar 67,592% dalam kriteria klasifikasi tanah berdasarkan Unified menunjukkan bahwa tanah termasuk jenis fine-grained soils. Hasil dari batasbatas konsistensi tanah yaitu batas cair sebesar 53,642% menunjukkan bahwa batas cair sebesar 53,642% menunjukkan bahwa batas cair >50% dan setelah di-plotting ke dalam grafik klasifikasi tanah Unified system dengan nilai indeks plastisitas sebesar 18,563% diperoleh titik pertemuan berada di bawah garis "A-line". Sehingga, mengacu pada kriteria tersebut diperoleh jenis tanah berada dalam kelompok tanah MH yaitu tanah lanau dengan plastisitas tinggi.
5.2 Pengaruh akar vetiver terhadap nilai kohesi
Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan terhadap kohesi tanah seiring dengan bertambahnya umur tanam vetiver. Hal ini disebabkan karena rongga udara yang mungkin terdapat dalam tanah dapat ditutup atau diisi oleh akar dari rumput vetiver yang menembus ke dalam tanah, sehingga dapat mengikat partikel-partikel tanah dengan baik menjadi lebih solid. Hal ini mengakibatkan meningkatnya berat volume tanah karena rongga udara yang terbuka telah tertutup/ diisi oleh akar. Semakin kecil pori atau rongga udara yang terdapat di dalam tanah, maka akan semakin besar berat volume yang dihasilkan tanah. Kenaikan berat volume tanah ini akan diikuti pula dengan kenaikan nilai kohesi tanah. Kekuatan geser tanah mengalami kenaikan seiring bertambahnya berat volume tanah dan umur tanam rumput vetiver. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
Tabel 2. Rekapitulasi nilai kohesi
| Kedalaman | Waktu Tanam — | Kohesi | ||
|---|---|---|---|---|
| Reudidilidii | Waktu Talialii — | Lereng 70° | Lereng 80° | |
| (cm) | (minggu) | (kg/cm2) | (kg/cm2) | |
| 0 | 0,296 | 0,376 | ||
| 4 | 0,209 | 0,429 | ||
| 0 - 30 | 6 | 0,550 | 0,543 | |
| 0 - 30 | 8 | 0,287 | 0,713 | |
| 10 | 1,213 | 0,644 | ||
| 12 | 1,354 | 1,324 | ||
| Kedalaman | Waktu Tanam — | Kohesi | ||
|---|---|---|---|---|
| Reudidilidii | waktu ranam — | Lereng 70° | Lereng 80° | |
| (cm) | (minggu) | (kg/cm2) | (kg/cm2) | |
| 0 | 0,243 | 0,210 | ||
| 4 | 0,746 | 0,572 | ||
| 30 - 60 | 6 | 0,308 | 0,492 | |
| 30 - 60 | 8 | 0,319 | 0,563 | |
| 10 | 0,709 | 0,616 | ||
| 12 | 0,774 | 0,673 | ||

Gambar 5. Grafik distribusi nilai kohesi pada lereng 70°

Gambar 6. Grafik distribusi nilai kohesi pada lereng 80°

Gambar 7. Pengaruh penanaman vetiver terhadap kohesi
besar berat volume tanah, maka kemampuan tanah untuk menahan geser semakin kuat sebab kemampuan daya lekat tanah (kohesi) semakin meningkat. Sehingga, kemampuan tanah untuk menahan terjadinya keruntuhan juga meningkat.
Trend perilaku kenaikan kohesi pada lereng 70° dan 80° mengalami kesamaan yaitu kohesi yang dihasilkan di kedalaman 0 – 30 cm lebih tinggi dibandingkan dengan kohesi yang dihasilkan di kedalaman 30 – 60 cm. Hal ini dikarenakan paparan sinar matahari yang diterima model tidak merata antara lapisan 0 - 30 cm dan 30 - 60 cm. Sehingga, menyebabkan kondisi lereng di lapisan 30 – 60 cm lebih lembab karena mengandung lebih banyak air. Hal ini mengakibatkan pengurangan kuat geser tanah. Oleh sebab itu, nilai kohesi atau kuat geser tanah yang dihasilkan di kedalaman 30 - 60 cm pada lereng 70° maupun lereng 80° lebih rendah dibandingkan nilai kohesi yang dihasilkan di kedalaman 0 - 30 cm.
Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa rumput vetiver memberikan hasil yang cukup baik pada kenaikan kohesi tanah. Nilai kohesi tanah pada kemiringan lereng 70° mengalami kenaikan sebesar 358,037% atau mempunyai selisih sekitar 1,058 kg/cm² dari kohesi awal yaitu \(0,296 \text{ kg/cm}^2\) di kedalaman 0-30 cm. Kedalaman 30 – 60 cm di kemiringan lereng 70° mengalami kenaikan nilai kohesi sebesar 218,182% atau mempunyai selisih sekitar 0,530 kg/cm<sup>2</sup> dari kohesi awal di kedalaman tersebut yaitu 0,243 kg/cm<sup>2</sup>.
Nilai kohesi tanah pada kemiringan lereng 80° mengalami kenaikan sebesar 251,928% atau mempunyai selisih sekitar 0,948 kg/cm<sup>2</sup> dari kohesi awal yaitu 0,376 \(kg/cm^2\) di kedalaman 0-30 cm. Kedalaman 30-60 cm di kemiringan lereng 80° mengalami kenaikan nilai kohesi sebesar 220,514% atau mempunyai selisih sekitar 0,463 kg/cm<sup>2</sup> dari kohesi awal di kedalaman tersebut yaitu 0,210 kg/cm<sup>2</sup>.
6. Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.
- 1. Tanah yang diuji dalam penelitian ini berdasarkan sistem klasifikasi tanah USCS berada dalam kelompok tanah golongan MH (lanau dengan plastisitas tinggi), dengan persentase butiran halus sebesar 67,592% serta konsistensi tanah sebesar 53,642% untuk batas cair dan indeks plastisitas sebesar 18,563%.
- 2. Penanaman 9 tunas rumput vetiver pada lereng dengan kemiringan 70° dan 80° memberikan pengaruh terhadap peningkatan kohesi tanah seiring dengan bertambahnya umur tanam vetiver, yaitu:
- a. Kenaikan kohesi yang terjadi pada lereng dengan kemiringan 70° setelah dilakukan perkuatan dengan 9 tunas rumput Vetiver memiliki persentase sebesar 358,037% di kedalaman 0 – 30 cm dan 218,182% di kedalaman 30 – 60 cm.
- b. Persentase kenaikan kohesi yang dihasilkan pada lereng dengan kemiringan 80° dengan perlakuan
6.2 Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
- 1. Perlu dilakukan peninjuan lebih lanjut terhadap laju pertumbuhan akar Vetiver yang terjadi, baik dari segi kecepatan pertumbuhan, jumlah, maupun diameter akar.
- 2. Posisi letak model perlu diperhatikan agar paparan sinar matahari yang diterima lebih merata.
- 3. Penelitian langsung pada kondisi lapangan dengan perlakuan serupa perlu dilakukan untuk mengetahui perilaku akar Vetiver terhadap peningkatan nilai kohesi untuk ketahanan lereng itu sendiri.
- 4. Penanaman Vetiver untuk lereng pada kondisi lapangan dalam posisi sejajar dengan jumlah titik penanaman yang sama.
